Beautiful Monster

Beautiful Monster
Tentang Danita



Riris tidak ikut ketiga gadis yang ia antarkan ini berkeliling bazar. Katanya dia lebih baik menunggu di mobil karena tidak suka berada di keramaian. Juga katanya Riris harus menghubungi perusahaan penyewaan travel untuk membuat laporan tentang liburan ini.


Sebelum berpisah dengan Riris, Ignacia sempat bertanya apa Riris mungkin menitip sesuatu. Gadis itu ingin memastikan dirinya memperlakukan Riris dengan baik. Timbak balik untuk sikap ramah Riris sejak pagi. Yang di tawari menggeleng, hanya berpesan agar ketiganya tidak tersesat.


Bazar semakin ramai di sore hari. Kedua tangan Ignacia sampai di gandeng oleh kedua temannya agar tidak hilang. Rajendra tidak ada disini, jadi Nesya dan Danita yang akan memastikan teman pendiam mereka ini tetap baik-baik saja. Ignacia yang mendapatkan perlakuan istimewa ini juga tidak mengatakan apa-apa. Lagipula mereka tidak menyeret Ignacia dengan terburu-buru.


Bazar terlalu ramai untuk mengambil foto, jadinya Nesya tidak bisa mendokumentasikan apapun. Takutnya nanti kewaspadaannya menurun dan terjadilah aksi yang tidak diinginkan. Riris tadi juga mengingatkan untuk menjaga tas tetap di bawah pengawasan masing-masing ketika di keramaian.


"Makanan itu kelihatan enak."


"Aku ingin mencoba makanan di kedai itu."


Ignacia yang sedari tadi berada di tengah mendengarkan Danita dan Nesya berbicara jadi terus menoleh ke kanan dan ke kiri. Kedua temannya yang ada di kedua sisi ini tidak lupa membaca masing-masing menu yang menurut mereka menarik, jadinya Ignacia penasaran meskipun harus merasa pegal karena terus menoleh.


Aroma masing-masing makanan yang dijajakan mengisi udara sekitar. Mulai dari yang pedas, manis, gurih, berkuah, garing, dan lain-lain macam menarik minat semua pengunjung. Keramaian oleh para pedagang yang menjajakan barang dagangan terdengar bersahutan, suasana ramai yang menyenangkan.


"Sebenarnya aku masih kenyang. Bagaimana jika cari makanan ringan saja? Besok kita kembali kemari lagi sebelum pulang." Ide Danita bagus, mereka jadi bisa melihat-lihat menu dan menimbang-nimbang akan beli apa besok. Kebetulan sekali di ujung bazar juga terdapat minimarket, ketiganya jadi bisa melihat-lihat isi bazar sebelum membeli camilan ringan.


Di dalam minimarket yang lenggang, Ignacia menunggu kedua temannya selesai di dekat kasir. Camilan yang ia inginkan sudah ia dapatkan semuanya. Sambil menunggu, si gadis berambut panjang ini mengeluarkan ponsel, mengirimkan pesan dan foto camilan yang akan dia bayar pada Rajendra.


Sejak tadi Ignacia terlalu sibuk dengan dunia di hadapannya hingga tidak mengirimkan kabar apapun. Kebetulan sekali Rajendra tengah lenggang hingga bisa merespon lebih cepat. Dia meminta Ignacia berhati-hati dan mengirimkan kabar sesampainya di penginapan. Ignacia tersenyum kecil membaca pesan kekasihnya, hati kecilnya bahagia.


"Ignacia!" panggil Danita dari ujung minimarket. Si empunya nama pun langsung bergegas mendatangi temannya sambil menyimpan ponselnya kembali. Disana sudah terlihat Nesya yang tengah memperhatikan sesuatu. "Nanti malam perkiraan cuacanya cerah. Bagaimana jika bermain di pantai lagi nanti malam?"


Ignacia kira ada yang penting di sisi ini. Rupanya hanya untuk menyampaikan informasi itu. "Kenapa kalian tidak mendatangi aku disana saja daripada kita berada jauh dari kasir." Danita memegang tangan Ignacia, bisa gadis itu rasakan sesuatu yang aneh dari genggaman tangan gadis berambut pendek itu.


"Pria disana itu sejak tadi menatapmu," Danita menunjuk seorang pria yang berdiri tak jauh dari tempat Ignacia berada tadi. "Orang itu tampak mencurigakan. Aku takut kau kenapa-napa, jadi kubawa kemari." Sesuatu yang aneh tampak jelas dari sorot mata Danita.


Ignacia yakin jika pria disana hanya sedang mencari sesuatu di rak belakang kasir dan bukannya dirinya. Tapi entah bagaimana Danita melihatnya dari sudut pandang ini. Jika Ignacia yang menjadi objek tatapan pria itu, seharusnya pria itu masih mencuri-curi pandang padanya sekarang. Bukan itu yang Ignacia lihat saat ini.


Apa Danita tanpa sengaja menunjukkan rasa khawatirnya ketika melihat pria yang benar-benar asing? Pikir Ignacia. Gadis itu mengangguk guna menenangkan Danita yang masih memegang tangannya. Nesya terlihat tidak ambil pusing ketika tangannya juga diambil alih oleh Danita. Dia lebih sibuk dengan ponselnya.


Gadis berambut panjang itu penasaran apa yang terjadi pada Danita jauh sebelum keduanya bertemu. Dia gadis yang sungguh bersinar dan berani ketika acara penandatanganan buku pertama Ignacia. Bagaimana bisa Danita bertahan dan berhasil sampai di rumah? Apa Bahri menunggunya di suatu tempat untuk memastikan Danita baik-baik saja?


Jadi selama ini Bahri adalah tempat ternyaman Danita, benar? Gadis itu tampak selalu bahagia bersama kekasihnya. Tak heran jika Bahri juga sangat menyayangi gadisnya. Egonya sebagai laki-laki yang selalu ingin dibutuhkan oleh pasangannya selalu terpenuhi oleh Danita. Mereka pasangan yang saling menjaga.


Ketiganya berdiri disana hingga pria di dekat kasir sana menyelesaikan pembayaran barang yang ada di belakang kasir. Seperti dugaan Ignacia, pria itu bukan sedang memperhatikan dirinya. Ignacia langsung membawa Danita yang sudah lebih terkendali untuk menyelesaikan urusan dan pergi menemui Riris di tempat parkir.


Jujur saja Ignacia agak khawatir tentang Danita sepanjang jalan kembali. Sedari tadi Danita tidak bereaksi apapun soal orang-orang di sekitar bazar. Kenapa ketika melihat pria di minimarket tadi berbeda? Kini giliran Ignacia yang menggandeng tangan gadis itu, membuatnya berjalan di tengah-tengah antara dirinya dan Nesya.


"Kalian mau bermain kembang api?" Nesya menghentikan langkah kedua temannya, menunjuk ke arah sebuah kedai yang menjual berbagai macam kembang api. "Kita nyalakan di pantai nanti malam. Kita bisa membuat video dan foto yang cantik dengan kembang api."


Akibat ajakan Nesya, mungkin tidak ada salahnya bermain kembang api di usia yang sudah akan dewasa. Semangat Danita kembali. Langkahnya langsung mengikuti Nesya, seakan lupa jika dirinya baru saja merasa tidak nyaman. Ignacia melepaskan tangannya dari Danita, tidak ingin mencegah temannya.


"Selamat datang," Si penjual menyambut, "Kakak-kakak ini ingin kembang api seperti apa?"


"Kami mencari tiga kembang api kecil dan satu kembang api ukuran sedang, tolong." Dengan percaya diri Nesya memilih kembang api yang di tunjukkan, tidak segan-segan bertanya juga reaksi ketika diledakkan untuk beberapa kembang api yang tidak ia kenal.


Ketika kembali, langkah ketiga gadis ini menjadi semakin ringan. Sudah lama mereka tidak keluar malam, apalagi ditambah dengan acara main kembang api. Riris tersenyum melihat tiga gadis yang berpisah dengannya tadi kembali membawa camilan dan kembang api. Wajah bahagia mereka tampak jelas hingga menular pada yang melihatnya.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


^^^Kami membeli beberapa kembang api |^^^


^^^Akan kami mainkan nanti malam |^^^


^^^Kami akan bermain di pantai lagi |^^^


Matahari terbenam sempurna, meninggalkan semburat keungunan menghiasi cakrawala. Takhta sang dewa siang kini diisi oleh dewi malam. Lamgit yang kosong berubah terang akibat kedatangan sang Dewi beserta pengikutnya. Semakin jauh dari penginapan yang terang, langit jadi semakin bercahaya.


Ignacia terdiam menatap pemandangan yang tidak bisa dia lihat setiap hari. Kapan lagi dia akan melihat langit dan laut yang terasa menyatu? Ditambah dengan angin sepoi-sepoi beraroma laut menerpa wajah pelan. Ditambah suara deburan ombak membuat Ignacia enggan berpaling.


"Ignacia!" Panggilan seseorang membuat si gadis terpaksa memutuskan kontak mata dengan lautan. Begitu wajahnya terlihat sempurna oleh kamera, Nesya buru-buru mengabadikan wajah temannya itu dalam sebuah foto yang diambil menggunakan flash.


Meksipun Ignacia tidak siap untuk diambil fotonya, wajah gadis itu tetap saja tampak cantik. Sorot matanya tampak teduh, tampak jelas warna netra berwarna coklat miliknya, juga senyuman tipis Ignacia mirip lukisan Monalisa. Posisi rambutnya pas sekali, angin sedikit membuatnya terangkat bak dalam studio foto produk shampoo.


"Hei kenapa hasilnya bagus sekali? Lihatlah hasilnya ketika aku tidak siap tadi." Danita menunjukkan layar kamera milik Nesya, menunjukkan wajah tidak siapnya yang sangat kentara. Bahkan bisa dibilang cukup lucu hingga Nesya sejak tadi tidak bisa berhenti menahan tawa di belakang kedua temannya.


Riris masih bersama mereka, menawarkan diri untuk membantu ketiganya mengambil foto. Nesya tentu menerima bantuan Riris tanpa tapi. Karena dirinya kebetulan membawa tripod, bantuan Riris akan lebih membantu. Nesya hanya perlu sedikit mengarahkan dan sisanya akan dikerjakan oleh Riris.


Nesya berpesan agar Riris membuat banyak foto agar nanti bisa dipilih. Ambil saja foto secara asal dengan banyak pengambilan. Kembang api besar di nyalakan, ketiganya sama-sama melihat ke tempat kembang api itu terbakar di udara. Cepat-cepat Riris mengabadikan momen, tak lupa menunjukkan bibir pantai yang menjadi latar foto.


Selanjutnya mereka akan pura-pura tertawa sambil menoleh pada satu sama lain. Jika dilihat di belakang layar, tawa mereka tampak hambar. Tapi karena melihat masing-masing tertawa, ketiganya malah jadi tertawa lepas seperti baru menceritakan guyonan seru.


Nesya mengarahkan kembang api ke tiga arah agar cahayanya menyebar lebih banyak. Sekali lagi Riris harus cepat mengambil gambar. Ingat dengan pesan Nesya tadi, sepertinya Riris sudah mengambil lebih dari 20 foto untuk tiga momen yang tengah berlangsung. Tidak apa, harap-harap ada yang bagus.


Selesai dengan kembang api besar, selanjutnya Nesya dan Riris membicarakan soal posisi kamera terbaik. Sementara keduanya berdiskusi, Ignacia dan Danita berdiri diam di bibir pantai. Karena agak bosan, Danita iseng mengambil sebuah kayu dan menuliskan sesuatu di pasir yang rata.


Ignacia berdiri di sampingnya, melihat apa yang akan gadis itu tulis. Danita menggunakan imajinasinya untuk menggambar tiga gadis bertema kartun. Yang pertama berambut panjang, yang lainnya berambut pendek, dan sisanya berkacamata. Tampak jelas jika Danita hanya ingin menggambar ketiga temannya tanpa diberikan nama.


"Nesya," selanjutnya ia panggil Nesya untuk menunjukkan hasil karyanya. "Apa menurutmu ini bisa diambil gambarnya juga?"


Nesya membawa kameranya mendekat. Tidak ingin membuat Danita kecewa, ia mengambil gambar ketiga gadis yang Danita buat. "Nanti semua foto bagus yang kita ambil hari ini akan aku kirimkan pada kalian. Kita lanjutkan bermain kembang apinya?"


Kali ini Nesya tidak ingin berpose. Dia minta tolong agar foto kali ini diambil apa adanya agar mereka masih bisa bersenang-senang. Riris pasti paham maksudnya. Foto yang diambil asal namun hasilnya harus tetap bagus. Nanti akan ada foto individu dan kelompok seperti model. Dan hal paling penting yang harus dilakukan selama pengambilan foto ini adalah tersenyum secara natural.


Mengajak Nesya dan Danita berlibur memang sangat menyenangkan. Ada satu orang yang akan mengabadikan momen dan ada yang menghidupkan suasana yang hampir mati. Senyuman mereka terpatri sempurna berkat gadis berambut pendek itu.


Setelah kembang api pertama habis, kembang api lainnya akan dinyalakan. Selain foto, Nesya akan mengambil kameranya kembali untuk membuat video bersama. Riris harus pergi karena mendapatkan panggilan dari perusahaan travel. Jadinya ketiga gadis ini pergi ke sisi pantai yang lebih bagus dan agak jauh dari tempat Riris menelfon.


"Mau membuat video sambil berjalan?"


"Maksudnya bagaimana?" Ignacia bertanya.


Nesya meletakkan tripod miliknya di sisi lain pantai. Sama seperti foto pertama, pantai akan menjadi latar belakang video. Nanti akan diberikan musik latar bercampur dengan suara langkah kaki di atas pasir dan ombak. Nesya yang berjalan lebih dahulu, lalu disusul Ignacia dan Danita.


Gadis berkacamata itu menunjukkan contoh video yang dia inginkan pada kedua temannya lewat ponsel. Melihat itu, Danita bersemangat sekali. "Lucu sekali, ayo kita membuatnya juga. Apa kita harus membuat video untuk trend lain juga?" Dia lalu menunjukkan beberapa video trending yang ingin dia coba.


"Anak-anak," suara berat seseorang seolah menegur ketiganya.


Danita yang membelakangi datangnya suara itu tentu saja terkejut dan langsung bersembunyi di balik kedua temannya. Wajahnya memucat, bibirnya bergetar, sorot matanya menunjukkan rasa takut yang sungguh jelas, nafasnya memburu. Tangannya juga dingin, tubuhnya gemetar.


Ignacia dan Nesya tersentak kaget karena teguran dan gerak cepat Danita. Mereka memposisikan diri untuk saling melindungi satu sama lain. Bagaimana tidak? Dari dalam kegelapan pepohonan rindang di belakang kamera muncul seorang pria tua membawa lentera. Wajahnya tertutup kumis dan jenggot yang cukup lebat. Tampak menyeramkan.


"Kalian pendatang? Sebaiknya jangan pergi terlalu jauh dari penginapan. Takutnya ada hal buruk yang terjadi." Pria itu berlalu pergi setelah bicara. Kembali menghilang ke kegelapan membawa lentera yang menyala dengan api kecil.


Ignacia menoleh cepat pada Danita yang ada di belakangnya, tubuh gadis itu semakin lemas akibat kemunculan pria tadi. Danita semakin pucat, kedua temannya berubah panik. Di tengah kepanikan, Danita menangis, tubuhnya ambruk ke pasir pantai. Isakannya tidak lagi tertahankan. Tubuhnya bergetar hebat.


Baik Ignacia maupun Nesya tidak ada yang membuka suara. Mereka memeluk gadis itu lembut agar bisa mencurahkan isi hati yang entah sudah ia pendam berapa lama. Ini jelas bukan hanya reaksi terkejutnya akibat kejadian diluar dugaan. Ketakutan Danita diluar batas normal.


"Sebaiknya kita segera kembali ke penginapan," ajak Nesya ragu.


Tubuh Danita diberdirikan, dibantu berjalan tempat Riris berada. Perlahan tangisannya berhenti, menyisakan wajah yang basah dan pucat pasi. Melihat kedatangan ketiganya yang tanpa tawa, Riris otomatis berjalan mendekat, mendapati kondisi Danita yang kacau.