Beautiful Monster

Beautiful Monster
Ditinggal Sendiri



"Kapan kita akan membuatnya?"


Ignacia yang lebih dahulu ingin tahu rencana kedepannya. Orang-orang berpikir-pikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan Ignacia. Ada tugas membuat video yang datang. Lebih baik segera selesaikan agar bisa segera diedit dan dikumpulkan.


Akhir-akhir tugas akan semakin menumpuk jika dibiarkan barang sedetik. Seharusnya kelas dua belas itu memang sesibuk ini, tapi kenapa di garis awal saja sudah melelahkan?


"Kita kerjakan besok saja. Toh ini hanya video singkat. Apa kalian setuju?" Yang baru bicara itu menatap teman-temannya, memastikan semuanya setuju. Ignacia termasuk di dalamnya. Besok hari Sabtu, sekolah libur. Mereka akan menggunakan sedikit hari libur untuk mengerjakan tugas.


Selanjutnya membahas soal adegan yang akan dilakukan di dalam video. Untungnya hanya harus ada beberapa adegan mudah dan dialognya bisa dibuat secara refleks. Bukan kesukaan Ignacia, tapi tidak apa-apa.


Nesya sudah menunggu Ignacia di tempatnya untuk menyelesaikan obrolan kelompok. Kebetulan Nesya dan Ignacia tidak satu kelompok, jadi masing-masing hanya bisa menunggu satu sama lain. Nesya sudah selesai dengan kelompoknya, sekarang tinggal menunggu Ignacia saja.


"Sudah selesai?" Tanya Nesya memastikan. Ignacia menarik kursi, mengangguk sebagai jawaban. "Kalau begitu ayo ikut aku ke koperasi sebentar. Aku harus mengeprint beberapa lembar kertas untuk OSIS."


Belum sampai di koperasi, tiba-tiba ada seseorang yang mengajak Nesya bicara. Jika didengar dari obrolannya dengan teman Ignacia, sepertinya juga anak OSIS. Sementara Ignacia sebaiknya menepi dan tidak menghalangi keduanya untuk mengobrol. Tidak apa-apa, hanya sebentar.


"Iya, akan aku berikan nanti," ucap Nesya mengakhiri panggilan, "ayo ke koperasi," memanggil Ignacia yang diam termenung di belakangnya. Melanjutkan kembali langkah menuju koperasi.


Sekembalinya dari koperasi pun masih ada saja yang mengajak Nesya berbicara. Jika bukan teman Nesya, mungkin anak OSIS yang ingin menyampaikan sesuatu. Lagi-lagi dan terus Ignacia harus menepi agar tidak menganggu. Mencoba untuk tidak membuat mereka waspada dan pura-pura tidak dengar apapun.


"Maaf karena membuatmu menunggu, Ignacia," sesal Nesya pada temannya. Dan gadis di sampingnya hanya mampu menggeleng dan berkata bahwa dia tidak apa-apa.


...*****...


"Besok ayah dan mama akan pergi ke rumah saudara yang ada diluar kota. Kamu mau ikut?" Sang mama menawarkan. Karena ya biasanya Ignacia menolak dan hanya ingin berada di rumah untuk bersantai dan membaca novel seharian. Tapi kenapa sangat kebetulan dengan hari take video Ignacia?


"Besok aku harus mengerjakan tugas membuat video dengan teman-teman. Kalian akan pergi lama?" Ignacia melipat lengan bajunya yang sempat turun. Tidak ada yang suka lengan bajunya basah saat mencuci piring.


"Sepertinya begitu. Ayahmu tidak akan suka jika cepat-cepat pulang jika sudah ada acara berkunjung ke rumah saudara. Sayang sekali kamu tidak bisa ikut, Ignacia. Saudara mama ini baru saja melahirkan seminggu yang lalu."


"Iya, sayang sekali."


Jika pengambilan video besok berlangsung cepat, mungkin Ignacia akan sendirian di rumah. Mungkin menikmati hari seperti yang biasa dia lakukan bukanlah hal buruk. Tapi entah dorongan darimana, Ignacia ingin menghabiskan waktu dengan seseorang.


"Apa yang dikatakan Rajendra hari ini?" Iseng mamanya bertanya. Mungkin ada hal menarik yang dilakukan pasangan kekasih yang akhirnya pernah menghabiskan waktu bersama. Tapi yang mamanya dapatkan hanya gelengan kecil yang dapat dilihat dengan jelas olehnya.


"Kenapa mama selalu bertanya tentang Kak Rajendra?" Athira tiba-tiba datang dan menyela percakapan.


"Karena mamamu menyukai laki-laki itu," jawab Ignacia cepat sambil mengeringkan tangannya. "Ma, aku akan berada di kamar untuk mengerjakan tugas. Jangan ganggu aku."


...*****...


Seperti yang sudah Ignacia duga. Teman-temannya akan datang terlambat dengan banyak alasan. Menyengir tanpa alasan agar Ignacia tidak marah. Ya tentu gadis itu hanya akan ikut terkekeh kecil dan berkata bahwa tidak apa-apa. Padahal sudah sekitar dua puluh menit dia sampai.


Janjinya pukul delapan pagi, tapi pengambilan video baru dimulai pukul sembilan. Satu jam setelah Ignacia sampai. Hah, sungguh orang-orang ini tidak punya rasa bersalah karena sudah datang terlambat. Tapi beruntungnya pengambilan video memang tidak membutuhkan waktu yang lama.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Kamu ada dimana?


Oh tumben sekali Rajendra mengirimkan pesan. Pesan singkat, namun mampu membangun kembali mood Ignacia yang sempat hancur karena teman-temannya.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


^^^Aku di sekolah |^^^


^^^Pengambilan video PPKn |^^^


| Oh benarkah?


| Kamu sudah akan pulang?


^^^Iya, tapi masih ada di dekat taman baru |^^^


^^^Kenapa? Sesuatu terjadi? |^^^


| Setelah ini aku juga akan ke sekolah


| Tugas ketua MPK menanti


| Kamu mau sesuatu?


| Aku akan membawanya untukmu


^^^Kamu yakin? Kamu ada tugas |^^^


| Tentu saja, kenapa tidak?


| Atau mau kuantar setelah aku selesai ke rumahmu?


^^^Lain kali saja, Rajendra |^^^


| Yasudah aku akan datang sore ini


| Hati-hati di jalan, Ignacia


Jika sudah begini, Rajendra tidak akan bisa ditolak. Ignacia menyimpan ponselnya ke dalam tas dan melanjutkan langkah menuju tempat parkir. Di dekat kelas 11 Mipa 1, Ignacia dapat melihat para anak OSIS dan MPK yang datang satu persatu. Apa yang selalu mereka bahas hingga jadi sibuk?


Tapi Ignacia tidak melihat Nesya disana.


"Ignacia!" Teriak seseorang yang bermaksud untuk menyapa. Rupanya Utari dengan Maharani. Mereka memang cocok menjadi kakak beradik. Mereka selalu terlihat bersama.


"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau mengerjakan tugas dan semacamnya? Wah hari liburmuharus terpotong karenanya."


"Iya, seperti yang sudah kau duga. Omong-omong apa hari ini Nesya tidak ada rapat dengan kalian?"


"Tidak. Hanya beberapa nama yang disebutkan saja yang datang. Ini juga bukan rapat yang penting. Mungkin kami sudah bisa pulang sebelum sore."


Tapi sebelum sore itu bukanlah terlalu lama? Ini saja baru pukul sepuluh pagi. "Kau sudah akan pulang, Ignacia? Sudah bertemu dengan Rajendra?" Maharani bertanya.


"Belum. Sepertinya masih akan sampai nanti. Aku pulang dulu. Semoga harimu menyenangkan." Utari memandangin temannya yang perlahan menjauh. Ada sesuatu yang dia rasakan saat bicara dengan Ignacia tadi. Gadis itu tampak tidak baik-baik saja dan nada bicaranya terdengar lemas.


...*****...


Kosong.


Datu kata yang dapat menggambarkan keadaan rumah yang biasanya berisi enam orang kepala untuk melepaskan penat setelah hari yang panjang.


Orang-orang penghuni rumah tengah sibuk berbincang dan tertawa di rumah saudara yang jauh disana. Sepertinya tidak ingat dengan Ignacia yang tengah termenung sendiri di pintu masuk.


Mamanya sempat menelfon di siang hari. Meminta Ignacia untuk membeli makanan diluar atau memasak sendiri. Yang penting tidak boleh memakan makanan instan yang biasanya disimpan sang ayah untuk hari hujan. Dan yang di pilih Ignacia tentu bukan salah satu opsi yang dikatakan mamanya.


Nafsu makannya belum datang. Dikiranya nanti akan datang.


Tapi hingga sore pun selera makannya belum datang. Gadis itu malah terhanyut dalam dunia lain yang ada dalam buku fisik. Bahkan saking asiknya, dia tidak menyadari ketukan lama di pintu depan. Padahal dia sendiri ada di ruang tamu dan hanya ditemani buku juga secangkir teh yang sudah dingin.


"Ignacia, kamu ada di rumah?"


Setelah di panggil beberapa kali, akhirnya sang pemilik rumah meletakkan novelnya dan bangkit untuk membukakan pintu. Wajah kesal Rajendra terlihat jelas, laki-laki itu sudah ada disana sekitar sepuluh menit yang lalu tapi Ignacia tidak menyadarinya sama sekali.


"Maafkan aku. Tadi aku-" Kalimat Ignacia terpotong karena satu tangan Rajendra kini berada di atas puncak kepalanya. Mengelusnya pelan dengan sorot mata yang sungguh menenangkan. Tidak ada lagi jantung yang berdetak terlalu kencang dan seakan keluar dari tempatnya.


Ignacia merasa nyaman. Sangat nyaman.


"Mama bilang jika kamu sedang malas makan. Aku membelikan kamu makanan. Kenapa kamu tidak berselera makan? Apa ada sesuatu yang menganggumu?"


Pandangan Ignacia tiba-tiba berubah samar. Ada embun di matanya. Segera dia mengusap kedua matanya agar tidak ketahuan Rajendra. Namun aksinya tentu terlihat sangat jelas hingga membuat si kekasih khawatir.


"Hei kenapa kamu sedih? Kamu bisa bercerita padaku jika ada yang menganggumu. Kenapa?"


Ignacia tidak mendengarkan pertanyaan Rajendra. Tanpa sadar dirinya maju satu langkah dan memeluk tubuh tinggi Rajendra yang ada di hadapannya. Ignacia tidak menangis, dia hanya membutuhkan sesuatu untuk melampiaskan perasaan yang tidak dia ketahui apa namanya.


Rajendra akan bertanya lagi, namun Ignacia yang semakin memeluknya erat seakan menjadi pertanda jika gadis ini tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mungkin dia takut.


Di balasnya pelukan si gadis, meletakkan kepalanya di atas kepala Ignacia. Tangan Rajendra perlahan menepuk-nepuk pelan punggung si gadis, menenangkannya.


"Keluargaku pergi keluar kota untuk menemui saudara yang baru melahirkan. Aku harus berada di rumah sendirian karena ada tugas membuat video. Padahal biasanya aku suka dengan situasi sepi di rumah. Tapi sekarang aku tidak menyukainya."


Rajendra tersenyum kecil di sudut bibirnya. Di kecupnya puncak kepala Ignacia singkat. "Sebentar lagi keluargamu akan datang, Ignacia. Makanlah sebelum ayahmu marah. Kubelikan makanan yang tidak pedas. Rasanya enak. Habiskan semuanya."


"Mama membuatku terlihat seperti anak kecil."


Ignacia menyembunyikan wajahnya agar Rajendra tidak dapat melihat wajahnya yang mulai memanas. Mamanya akan meminta tolong Rajendra jika sesuatu terjadi. Dikiranya Ignacia akan memiliki selera makan jika bertemu dengan Rajendra.


Rajendra melepaskan pelukannya perlahan, "sekarang masuklah dan makan. Aku akan pulang." Tidak lupa Rajendra menangkup wajah kemerahan Ignacia dengan kedua tangannya. Memberikan kecupan singkat di bibir manis Ignacia.


"Berjanjilah padaku untuk menghabiskannya."


"Jika kamu pulang, aku akan sendirian lagi." Manja Ignacia sambil menggenggam tangan kekasihnya. Sejak kapan gadis ini mulai bertingkah manja?


"Sebentar lagi keluargamu akan datang, Ignacia. Sebaiknya ayahmu tidak tahu jika kamu belum makan. Dan sebaiknya tidak melihatku disini." Tangan Ignacia masih menggenggam tangan Rajendra saat laki-laki itu sudah akan pulang. Rasanya berat membiarkan laki-lakinya pergi.


"Ignacia, sampai jumpa hari Senin," salam Rajendra sebelum pergi. Mau tidak mau Ignacia akan melepaskan genggamannya.


"Aku tidak suka ditinggalkan sendirian," Ignacia berbisik.


...*****...


"Nesya hari ini tidak masuk," seorang sekretaris kelas memberitahu Ignacia.


Katanya teman dekatnya itu sakit setelah berpergian jauh. Dia mungkin kelelahan dan membutuhkan waktu untuk kembali pulih. Jadilah hari itu Ignacia tidak melakukan percakapan apapun selain yang berhubungan dengan pelajaran dengan teman-temannya.


Siapa yang bisa mengerti Ignacia selain teman berkacamatanya itu? Hari ini menjadi sangat berat.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


^^^Hari ini Nesya tidak masuk, dia sakit |^^^


Ignacia iseng saja mengirimkan pesan. Tidak mengharapkan balasan yang cepat. Hadiahnya sekarang jarang hadir, jadi Ignacia harus terbiasa dengan itu. Setidaknya dia bisa sedikit mengeluh pada kekasihnya.


Hari sekolah berlalu begitu saja. Ignacia merasa sangat kosong tanpa kehadiran orang-orang yang dia kenal. Dan selama itu Rajendra tidak sekalipun membalas pesannya. Sesibuk itu laki-laki yang kemarin datang untuk membawakan makan sore untuknya.


Ketua MPK workaholic.


"Mungkin dia malas meladeni keluhanku," gumam Ignacia. Dia lebih memilih untuk tidur di atas meja sambil menunggu jam pelajaran terakhir. Kelihatannya guru jam terakhir ini tidak datang. Guru sibuk. Ya begitulah guru-guru.


"Ignacia," ganggu seseorang di depannya. Si teman yang banyak bicara dan bersuara keras. Panggilannya itu membuat Ignacia terbangun saja. Dia menunjuk ke arah luar kelas. Mengarah pada seseorang yang ditunggu balasannya oleh Ignacia sejak pagi.


Rajendra tengah berbicara dengan ketua kelas Ignacia yang adalah anggota MPK. Rajendra yang sedang dalam mode serius terlihat tampan. Sorot matanya yang menunjukkan ketegasan membuat Ignacia jatuh cinta. Tapi kenapa laki-laki sempurna miliknya harus begitu sibuk?


"Mengabaikan pesan kekasihmu bukanlah hal yang bagus, Pak Ketua. Meksipun sibuk, tidak bisakah kau sempatkan untuk membalas?" Batin Ignacia.


Selesai bicara dengan ketua kelas, Rajendra menatap lurus ke arah Ignacia. Laki-laki itu sudah tahu keberadaan dan tatapan Ignacia sebelumnya? Ignacia mengangkat tangannya, melambaikan tangan pelan untuk menyapa. Rajendra melakukan hal yang sama. Sebelum akhirnya seseorang mendatanginya dan keduanya pergi ke suatu arah.


"Aku selalu ditinggalkan sendirian," keluh Ignacia.


...*****...


"Kenapa kamu belum pulang?"


Rajendra melangkah masuk ke dalam kelas Ignacia. Menatap gadis yang tengah tertidur di atas mejanya. Kelas sudah sepi. Menyisakan mereka-mereka yang masih berkeliaran di sekitar kelas. "Ignacia, apa kamu tertidur sejak tadi? Kamu sebaiknya tidur di rumah."


"Mau di rumah, mau di sekolah, aku tetap akan sendirian. Kenapa aku harus memilih tempat untuk tidur?" Rupanya Ignacia tidak benar-benar tidur. Rajendra duduk di samping kekasihnya, memintanya untuk segera pulang.


"Hari ini kamu akan ada tugas di sekolah?" Ignacia menatap penuh harap agar Rajendra bisa pulang bersamanya. Tapi sayangnya itu tidak bisa terjadi. Rajendra masih harus melakukan sesuatu di sekolah hingga menjelang malam nanti. Mungkin pulang pukul enam sore katanya.


"Ayo aku antar sampai tempat parkir," ajak Rajendra sambil menawarkan tangannya. Niatnya untuk bergandengan tangan. Lagipula guru-guru sudah pulang. Tersisa anak-anak ekstrakurikuler dan organisasi lain yang lembur.


"Kurasa aku tahu kenapa aku sangat tidak suka ditinggalkan sendirian," batin Ignacia. "Karena jika ada seseorang yang datang padaku, aku akan berharap mereka menetap lebih lama bersama ku. Aku jadi tampak menyedihkan."


Ignacia menatap uluran tangan Rajendra. "Tapi setelah aku menyentuhmu, kamu tetap akan meninggalkan aku sendirian." Jujurnya tanpa mengubah arah pandang.