
Di kelas, Ignacia melakukan kegiatannya seperti biasa. Mencatat materi lalu merangkumnya agar lebih singkat. Tujuannya sekarang adalah lulus tepat waktu dan segera mencari pekerjaan. Biarkan saja Rajendra berkutat dengan dunianya yang seramai jalan raya ibu kota. Ignacia akan menunggu, memberikan respon terbaik, dan tetap berpikir positif.
Setelah kuliah selesai di siang hari, Ignacia seperti enggan untuk makan. Dirinya terlalu lelah akibat tugas yang datang bertubi-tubi. Mungkin dirinya saja yang kurang rajin hingga merasa terbebani. Bagian bagusnya, tugas-tugas yang datang ini membuat Ignacia lupa jika Rajendra tidak membalas pesannya.
Semakin kesini Ignacia sudah terbiasa dengan sikap Rajendra . Hatinya mulai memberikan kehangatan untuk dirinya sendiri dengan di bantu buku fiksi yang ia baca untuk menunjang tugas kampus. Berbulan-bulan sudah berlalu begitu cepat akibat perasaan yang perlahan meringan. Bahkan sekarang hampir hari-hari ujian dan liburan lagi. Ignacia menata kembali dunianya seolah semuanya sudah tepat di tempatnya.
Ignacia mampir ke kantin untuk membeli roti dan susu. Kantin terlalu ramai, Ignacia butuh ketenangan. Dengan menenteng tas kuliahnya, Ignacia melihat-lihat isi etalase. Menimbang-nimbang roti apa yang akan dia pilih. Selanjutnya mendekati kulkas, mengambil susu rasa vanila.
Ignacia sepertinya merindukan Rajendra.
"Hei," tegur seseorang dari arah belakang. Jika dari suaranya, Ignacia yakin jika itu adalah teman semasa kecilnya. "Kamu tidak makan siang? Ayo temani aku makan siang," imbuhnya begitu Ignacia menutup kulkas dan berbalik menghadap dirinya.
"Aku tidak berselera makan, Nesya." Jawaban Ignacia membuat air wajah temannya berubah. Yang tadinya tampak bersinar berubah masam. "Ya baiklah akan aku temani." Ignacia tahu arti tatapan memohon di balik kacamata minus dan perubahan air wajah itu digunakan untuk apa.
Ignacia terlalu malas berdebat.
Nesya menggandeng lengan Ignacia, membawanya ke tempat untuk mengambil makan siang. Dia mulai menceritakan soal komik yang dia baca beberapa bulan terakhir. Keduanya sudah lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Bahkan setelah lama tidak bertemu Ignacia hampir lupa kapan terakhir kali keduanya makan siang bersama.
Selama makan, Ignacia terus mendengarkan, memberikan respon yang sama antusiasnya seperti yang Nesya lakukan sepanjang cerita. Bukan hanya untuk formalitas belaka, tapi keduanya sudah biasa berbagi minat dan segalanya. Bahkan karena cerita Nesya hari ini, Ignacia seperti tertarik untuk membaca komik.
"Wah keren sekali," kagum Ignacia sungguh-sungguh, "lalu update selanjutnya kapan?"
"Entahlah. Mungkin akan memakan waktu lama. Aku tidak sabar menunggu season selanjutnya. Oh ya, ada yang ingin kutanyakan. Mumpung aku mengingatnya," air wajah Nesya sedikit berubah. Seperti akan mengatakan sesuatu yang penting. "Apa kamu ingat teman laki-laki yang kubawa ketika acara Bulan Bahasa?"
"Teman laki-laki?" Ignacia harus berakting sebentar untuk tahu apa yang Nesya pikirkan. Dia hanya ingin lebih berhati-hati. Mungkin yang Nesya pikirkan berbeda dengan apa yang Ignacia sangka. Sejujurnya Ignacia tidak menyangka jika pikirannya langsung menyahut kepada Bagas.
Dan kenapa Nesya menunggu begitu lama untuk membahas soal temannya padaku? Ignacia bertanya-tanya pada dirinya sendiri tanpa suara. Dirinya merasa bahwa mungkin Nesya membutuhkan banyak kekuatan untuk terbuka. Mungkin ada sesuatu dalam dirinya yang terus perang batin hingga akhirnya bisa menanyakan pendapat Ignacia.
Nesya tersenyum kaku, sesi cerita singkat dimulai. Nesya tidak bercerita secara detail seperti yang dilakukannya pada kakaknya. Hanya bagian besar ketika laki-laki bernama Bagas itu mengirimkan pesan untuk pertama kali. Dan bagaimana Nesya iseng mengajak teman barunya pergi ke acara kampus.
Si gadis berkacamata ini menjelaskan jika dia hanya senang memiliki teman baru dan menekankan bahwa tidak ada ikatan apapun selain teman. Nesya bukan orang yang akan berbohong pada teman dekatnya, jadi Ignacia bisa percaya. Meskipun hatinya merasa janggal ketika Nesya bercerita tentang mantan menyebalkannya itu.
Sebisa mungkin Ignacia bertingkah seolah tidak mengenal laki-laki yang datang bersama Nesya waktu itu. Aksinya didukung dengan kenyataan bahwa Nesya tidak melihat reaksi Ignacia begitu melihat Bagas. Semuanya sempurna sampai disini. Harap-harap Bagas berpura-pura seperti Bahri.
Bagas sepertinya tidak bercerita jika dia adalah teman Rajendra karena Nesya tidak membawa nama kekasihnya sama sekali. Mungkin hanya Bahri yang tahu soal ini karena dia berhadapan dengan Bagas ketika akan menjemput Rajendra.
"Menurutmu dia bagaimana? Kamu sudah berhubungan lama dengan Rajendra, jadi kamu pasti lebih bisa menilai laki-laki mana yang baik dan tidak. Beberapa bulan terakhir, saat aku mengenalnya, dia bukan laki-laki jahat. Maksudku dia terlihat seperti laki-laki baik."
Ignacia tampak berpikir sebentar, sebisa mungkin membuat jawaban yang sekiranya bisa diterima. Meksipun asalnya ia ingin menunjukkan larangan besar untuk berteman dengan Bagas. Takut jika Nesya tertarik dengan laki-laki payah itu. Bisa bahaya jika Nesya mendapatkan pengalaman pertama yang buruk akibat menyukai seseorang yang salah.
"Berhati-hatilah dengan orang baru, Nesya. Kita tidak pernah mengenalnya, jadi jangan terlalu buka tentang dirimu. Dan jika ada yang menganggumu tentang dia, katakan padaku." Ignacia menambahkan senyuman untuk mencairkan suasana, "tidak apa-apa berteman dengan banyak orang, tapi tetaplah berhati-hati."
Gadis di hadapan Ignacia mengangguk. Merasa lega karena sudah terbuka dengan teman dekatnya. Yang dikatakan Ignacia benar, dia harus berhati-hati. "Terima kasih untuk saranmu, Ignacia. Aku menghargainya."
Makan kembali dilanjutkan. Setelahnya keduanya akan berpisah. Ignacia kembali ke asrama sementara Nesya masih ada mata kuliah lain. "Liburan kali ini kamu akan pulang kapan? Mungkin kita bisa pulang bersama. Kakakku juga akan pulang, jadi nanti bisa bertemu di rumah."
Pertanyaan Nesya membuat Ignacia tersenyum malu-malu. Ada rencana besar yang ingin di jalankan Ignacia sebelum pulang ke rumah asalnya. Nesya yang melihat ekspresi aneh temannya itu pun menghentikan langkah. Berhenti di lobi tempat keduanya akan beda arah.
"Aku akan menemui Rajendra di kotanya. Doakan aku berhasil menemukan kosannya."
Gadis di hadapan Ignacia menutup mulutnya refleks. Ini tanda bahwa kali ini Nesya tidak bisa menikmati perjalanan menggunakan kereta bersama teman baiknya. Ia mengacungkan dua jempol pada Ignacia sebagai tanpa mendukung. Melihat dukungan yang diberikan, Ignacia semakin salah tingkah.
"Kamu sudah pernah ke kota itu kan?" Salah tingkah temannya membuat Nesya bertanya demikian. Respon yang ia dapatkan membuat dia jempol dukungan tadi turun. "Apa kamu yakin akan pergi kesana? Kamu bahkan belum pernah mengunjungi tempat itu. Bagaimana jika berbahaya?"
"Tenang saja. Aku punya teman disana," Ignacia menyimpan rambut di sisi kanannya ke belakang telinga, bangga dengan informasi yang ia berikan, "dia akan membantuku mencari alamat Rajendra. Karena ibu temanku ini punya hubungan dengan ibu Rajendra."
Nesya refleks menutup mulutnya lagi, selanjutnya dua jempol kembali diberikan. Apa yang menjadi kebanggaan Ignacia saat ini adalah wujud dari pentingnya bersosialisasi dan berteman dengan banyak orang. Apalagi teman yang ingin Ignacia mintai bantuan ini dekat dengannya ketika masih sekolah dulu.
Flashback On
"Dia menangis lagi semalam. Asrama di sebelah sedang kosong karena pemiliknya pindah ke kos-kosan. Mungkin karenanya Ignacia tidak keberatan mengeluarkan sedikit suara." Danita menyandarkan tubuh pada sandaran kursi kantin, "Aku merasa bersalah karena tidak melakukan banyak hal ketika Ignacia merasa kesakitan."
Nada bicara bergetar Danita membuat Nesya buru-buru menggenggam tangan si gadis, takut-takut jika Danita menyalahkan dirinya lagi. Keduanya sudah berusaha untuk membuat Ignacia tidak merasa kesakitan selama dua bulan terakhir. Nesya tidak bisa membiarkan teman lain merasa bersalah.
Nesya menjelaskan jika yang dibutuhkan Ignacia sekarang hanyalah dorongan dan kebutuhan batin yang bisa membuatnya tidak kesepian. "Kita hanya akan mengawasi Ignacia dan membantunya keluar dari keterpurukan," tekan Nesya, meyakinkan Danita dengan tatapan di balik kacamatanya.
"Sebenarnya kenapa Ignacia sangat sedih? Aku tahu dia pasti punya masa lalu yang dirahasiakan, tapi setidaknya dia bisa menjelaskan ada apa ini sebenarnya. Aku takut jika sesuatu terjadi padanya karena terlalu sering menangis." Danita menarik tangannya lemas, meneguk minuman dingin yang es batunya sudah mengecil miliknya.
Sebenarnya gadis di hadapan Danita ini tahu apa alasannya, hanya saja Nesya tidak berhak menjelaskan tanpa persetujuan si empunya cerita. Setelah menerobos masuk ke asrama dan mendapati Ignacia menangis malam itu, Nesya menghubungi Athira untuk bertanya. Dan adik Ignacia memiliki sesuatu yang Nesya butuhkan.
"Kak Ignacia itu sering ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya. Bahkan keluargaku sendiri jarang hadir untuk kakak. Putusnya kakak dengan mantannya juga memperparah kondisi Kak Ignacia. Dia akan menangis jika setiap kali merasa ditinggalkan. Dunianya serasa hancur."
Danita mengatur nafasnya agar tidak terbawa suasana, "bagaimana jika membuat janji? Jika salah satu dari kita melihat Ignacia ketika jam makan, kita akan membuatnya makan bersama kita dan menceritakan banyak hal? Agar Ignacia tidak sedih dan tetap makan. Kulihat banyak sampah Fitbar di tempat sampahnya ketika berkunjung."
Ignacia masih belum berubah sejak Nesya mengenalnya di bangku SMA. Masih gadis berhati lembut yang kehilangan selera makan jika emosinya tengah memuncak. Beruntung keduanya memiliki Danita yang begitu perhatian, penuh rasa empati yang mungkin melebihi manusia-manusia yang pernah Nesya termui.
"Terima kasih karena sudah menjaga temanku, Danita," bisik Nesya tanpa diketahui lawan bicaranya yang kembali meneguk minuman dinginnya.
Flashback Off
Nesya masih diam di tempat, memandangi Ignacia yang melangkah dengan langkah ringan. Padahal tadi Nesya mendapati temannya ini seperti tidak memiliki semangat. Baguslah jika dirinya bisa mengembalikan sedikit energi dalam diri teman lamanya.
Si gadis berkacamata ini merogoh saku, mengeluarkan ponsel yang sedari tadi dia matikan. Grup komik yang ia masuki biasanya akan ramai ketika jam-jam makan atau jam sebelum tidur. Nesya tidak ingin teman dekatnya merasa terganggu karena Nesya mengaktifkan ponselnya seperti waktu itu.
Tujuannya adalah mencari roomchat Danita untuk memberitahu jika Ignacia sudah makan siang dengannya. Selanjutnya untuk makan malam bisa diurus Danita. Begitulah cara kerja mereka selama beberapa bulan terakhir. Ignacia tidak pernah menyadarinya karena kadang Danita yang banyak berkontribusi dengan mengajak Ignacia memasak atau makan diluar.
Sementara itu, Danita tengah dalam kencan bersama Bahri karena kebetulan keduanya akan menyambut hari jadi hubungan. Bahri menunjukkan tempat-tempat luar kota yang bisa dia dan kekasihnya datangi untuk menikmati waktu bersama. Hari jadinya bulan depan, namun rencana ini akan direalisasikan di liburan kuliah.
"Melihat semua tempat menarik yang kamu tunjukkan, aku jadi ingin mengajak Ignacia dan kekasihnya untuk ikut bersama kita. Seperti kencan ganda bagian dua," usul Danita iseng.
Bahri yang mendengar usulan kekasihnya jadi tersedak air liurnya sendiri. Bagaimanapun Bahri harus menghindari Ignacia ketika sedang bersama pawangnya. Bisa-bisa Bahri merasa gugup karena terua ditatap tajam oleh si alis tebal itu. Liburannya hanya akan menjadi menyeramkan nanti.
"Aku yakin Ignacia mungkin lebih suka berlibur sendiri dengan kekasihnya. Apalagi dia dan kekasihnya menjalani hubungan jarak jauh." Bahri tidak mungkin akan menunjukkan penolakannya dengan begitu jelas. Itu akan menyakiti perasaan Danita jika ada yang mengatakan hal buruk soal temannya.
Bahri menarik kembali ponselnya dari hadapan Danita untuk mencari tempat referensi lain. Sementara itu si gadis berambut pendek di sebelahnya seperti mendengar ponselnya berbunyi sekali. Karena penasaran, Danita mengecek pesan siapa itu. Dan setelah dibaca, senyuman mengembang di wajahnya.
"Kamu membaca apa?" tanya Bahri penasaran. Apa yang bisa membuat kekasihnya tersenyum begitu manis padahal Bahri sudah ada di sisinya? "Apa dari Nesya?" tebaknya karena Danita sibuk mengetikkan sesuatu di ponselnya. Bahri sudah dengar kabar jika Danita dan Nesya merencanakan sesuatu.
Danita mengangguk, ia mengembalikan ponsel ke dalam tas lalu balik fokus kepada Bahri. "Ignacia dalam keadaan emosi yang baik saat ini, dan dia sudah selesai makan siang. Kuharap dia juga berselera makan nanti malam," ucap Danita memberitahu.
"Kamu melakukan ini karena masih merasa harus melindungi Ignacia? Kamu tidak berpikir bahwa ini terlalu berlebihan? Kamu bahkan batu mengenalnya." Niat Bahri baik. Tidak ingin membuat gadisnya kewalahan mengurus teman lamanya. Meksipun Bahri hanya bisa tahu soal Ignacia lewat Danita.
"Bahri, jangan berkata begitu. Ignacia itu temanku yang paling berharga. Suatu hari nanti aku pasti akan tahu kenapa aku harus melindungi Ignacia," balas si gadis, kekeuh dengan pendiriannya. Dia tidak akan melewatkan momen apapun hingga mendapatkan jawaban yang ia cari.
...*****...
Ignacia tersenyum bahagia begitu Dianti mengirimkan detail alamat Rajendra dari sumber paling terpercaya. Dengan bekal mendatangi kota asing ketika acara penandatanganan buku, Ignacia merasa siap untuk mendatangi Rajendra. Ini akan menjadi kejutan yang sangat seru jika Ignacia bisa sampai tepat waktu sebelum kekasihnya pulang bekerja.
Jadwal lebih lanjut soal jam kerja Rajendra juga sudah diterima. Kembali lagi, sumber terpercaya Dianti benar-benar membantu. Selanjutnya Ignacia hanya perlu memastikan Rajendra bekerja seperti biasa dan datang ketika jam kerjanya habis. Wah Ignacia benar-benar tidak sabar. Berharap hari ujian segera berlalu dan digantikan dengan liburan semester.
Sekarang Ignacia merebahkan dirinya di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar. "Rajendra akan senang jika aku tidak merepotkannya lagi kan? Dia pasti senang ketika aku datang menemuinya kan?" tanyanya pada diri sendiri.