Beautiful Monster

Beautiful Monster
Berubah Hati



Rupanya ada acara semacam arisan di rumah teman ibu Rajendra. Mendengar itu, awalnya Rajendra akan menolak. Tidak mungkin anak setua dia akan ikut ke acara semacam itu. Apalagi nanti yang ada urusan bukan dirinya. Atau jika ibunya bersikeras agar Rajendra ikut, dia akan menunggu di tempat lain hingga acaranya selesai.


Sebelum berangkat, Rajendra menunggu di mobil dengan sabar. Di tangannya ada sebuah ponsel yang ia gunakan untuk berkomunikasi dengan Ignacia. Kebetulan kekasihnya ini sudah bangun dan baru selesai sarapan. Rajendra memberitahu Ignacia jika nanti dia akan mengantar ibu dan kakaknya ke acara. Mungkin Ignacia ingin bertemu dengan Rajendra sembari menunggu acaranya selesai.


Ignacia tentu tidak keberatan jika di ajak bertemu. Meskipun keberadaannya hanya digunakan untuk menemani Rajendra. Oh ya mereka bisa berdiskusi soal kencan selanjutnya nanti. Jika Ignacia benar setuju, Rajendra bisa menjemputnya. Pergi ke suatu tempat yang menarik namun tidak jauh dari tempat arisan ibunya berlangsung.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya ibu dan kakak laki-laki Rajendra berjalan keluar rumah. Rupanya ibunya sibuk membuat si anak laki-laki pertamanya tampak lebih tampan dari biasanya. Rambutnya ditata dengan rapi, dipakaikan parfum yang jarang digunakan oleh anaknya itu, dan dipilihkan baju yang membuat kakaknya lebih kharismatik.


Harapannya hanya agar anak gadis teman sang ibu juga menyukai perjodohan ini. Empat pihak termasuk Rajendra sudah tahu soal rencana ini, hanya kakaknya saja yang belum. Takutnya akan ditolak mentah-mentah jika tahu. Lebih baik biarkan keajaiban melakukan tugasnya.


"Ibu, aku akan bertemu dengan Ignacia sambil menunggu kalian selesai. Boleh kan?" Rajendra harus minta izin dulu agar ibunya mengerti. Dari kursi belakang, wanita yang di ajak bicara itu mengangguk. Yang penting nanti jemput ibu dan kakaknya ini setelah mengantarkan Ignacia pulang. Kasihan anak perempuan itu jika berangkat dan pulang sendiri.


Kakak Rajendra duduk di sebelah si adik, melirik dia yang lebih muda dengan tatapan menggoda. "Curiga setelah ini Ignacia akan dibawa ke rumah untuk diperkenalkan pada keluarga. Kalian lebih sering berkencan dari biasanya." Rajendra sampai tertawa mendengar ungkapan kakaknya.


Semuanya tepat sasaran.


"Aku masih tidak mengerti kenapa aku harus ikut," ungkap laki-laki di sebelah Rajendra, "Ibu sudah diantar Rajendra, dia juga akan menunggu ibu sampai selesai. Lalu aku harus masuk juga ke acaranya. Aku bukan anak kecil lagi, Ibu." Nada bicara kakaknya terdengar sangat terpaksa. Rajendra tidak tahu kenapa kakaknya tidak menolak.


Ibunya hanya menegaskan bahwa si kakak harus berkenalan dengan anak dari teman-teman ibu. Mungkin nanti akan mempermudah si anak untuk memiliki pandangan yang lebih luas. Mungkin membantu dalam masalah pekerjaan yang sekarang. Yang jelas relasi itu penting sekali. Didapat dari manapun itu, tetap saja penting.


Sementara kakak dan ibunya mengobrol, Rajendra sudah tidak sabar akan menjemput Ignacia menggunakan mobil. Untuk pertama kalinya, Rajendra akan terlihat lebih keren. Rajendra harus siap mendapatkan tatapan ketika Ignacia jatuh cinta pada pembawaannya ketika mengemudi.


Keadaan rumah yang akan digunakan untuk kumpul-kumpul tampak ramai. Tentu saja, namanya juga perkumpulan ibu-ibu. Pasti ramai dan penuh canda tawa. Rajendra jadi ingat reuni kecil ketika Ignacia datang untuk mengambil baju adat di rumahnya. Untuk keperluan acara sekolah ketika masih SMP. Sayangnya Rajendra tengah tidak ada di rumah kala itu hingga tidak bisa menemui Ignacia.


Terlihat ada beberapa perkumpulan bapak-bapak dan anak muda disana. Karena para istri punya geng sendiri, para suami jadi ikut punya teman baru. Keliatannya seru, tapi bukan tempat untuk Rajendra. Sekarang dia sebaiknya cepat-cepat menjemput kekasihnya dan pergi berkencan.


Kakak Rajendra sudah turun, menyisakan dia yang lebih muda bersama ibunya. Wanita di kursi belakang itu memajukan tubuhnya sedikit, berniat mengobrol dengan anak bungsunya sebelum pergi. Bertanya apa Rajendra hanya akan bertemu sebentar dengan Ignacia. Memastikan apa anaknya punya janji kencan lain setelah acara arisan selesai.


Rencananya hanya sebentar karena hanya membahas rencana kencan selanjutnya. Entah jika Ignacia ingin bertemu lebih lama. Rajendra akan memberitahu ibunya jika ada perubahan rencana. Ponselnya akan selalu menyala jika ibunya juga ingin menghubungi.


"Hati-hati ketika berkendara, Rajendra." Akhirnya sang ibu turun, membawa anak yang lebih tua masuk ke area rumah. Semoga kakaknya bisa menyesuaikan diri dengan cepat pada rencana ibu Rajendra. Sambil menahan senyum, Rajendra melakukan mobilnya kembali ke jalanan.


Tujuan selanjutnya rumah Ignacia.


Sementara sang kekasih dalam perjalanan menjemputnya, Ignacia sudah menunggu dengan sabar di teras. Dia duduk di kursi teras sambil melihat jalanan sepi depan rumahnya. Si gadis menajamkan pendengaran jika saja suara motor Rajendra hampir sampai. Laki-laki itu tidak bilang jika ia akan membawa mobil, jadi suara motornya yang ditunggu-tunggu Ignacia.


Selang sepuluh menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah Ignacia. Gadis cantik yang sedari tadi menunggu itu menatap bingung, tidak ingat jika ada teman atau saudara orang tuanya yang akan berkunjung hari ini. Ignacia akan bangkit untuk memanggil orang tuanya jadi urung. Seseorang yang keluar dari mobil itu menghentikan langkah si gadis.


Rajendra melambaikan tangan, menyapa kekasihnya. Ignacia buru-buru pamit lalu menutup pintu rumahnya. Langkahnya begitu ringan ketika akan membuka pagar. "Aku kira siapa yang datang. Rupanya kamu." Ignacia tersenyum senang, siapa sangka ia bisa bertemu dengan Rajendra lebih cepat dari dugaan awal.


Dengan sopan Rajendra menuntun kekasihnya menuju pintu lain di sebelah tempat kemudi. Pintunya dibuka oleh si laki-laki, mempersilahkan Ignacia duduk seperti tuan putri. Ignacia yang mendapatkan perlakuan manis itu pun makin sulit menahan senyum. Rasanya seperti menjadi salah satu tokoh di dalam novel-novel yang pernah ia baca.


Mungkin terlihat remeh, namun rasanya istimewa jika Rajendra yang melakukannya untuk Ignacia. Apapun yang dilakukan laki-laki itu pasti akan sangat spesial bagi Ignacia. Bahkan sekedar duduk di balik kemudi saja sudah membuat Rajendra terlihat sangat keren. Gadis berambut panjang itu tidak pernah membayangkan akan di jemput menggunakan mobil pribadi keluarga Rajendra seperti ini.


Rajendra melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Lihat begitu lihainya kekasihnya ini berkendara dan melewati banyak kendaraan tanpa membahayakan siapapun. Kemampuan mengemudi Rajendra sudah meningkat daripada saat keduanya dalam acara kencan ganda.


"Rajendra, terima kasih sudah mengajakku pergi hari ini. Kuharap aku tidak merepotkan siapapun," Ignacia bersuara. Matanya tampak berbinar tanpa bisa Rajendra lihat.


"Kamu tidak pernah merepotkan, Ignacia. Aku justru senang bisa menjemput kamu. Nanti aku antarkan pulang juga. Ibu berpesan agar aku memastikan kamu tetap aman."


Jantung si gadis yang mendengar ucapan Rajendra tadi meledak-ledak bagai kembang api. Hampir tidak percaya jika ibu Rajendra meminta anaknya untuk menjaga dirinya. Tanda-tanda untuk terus maju terlihat semakin jelas bagi Ignacia. Meksipun ia tidak bisa melihat itu dari Rajendra. Mungkin belum saatnya.


Lagi-lagi Ignacia menatap Rajendra cukup lama, membuat yang di tatap sadar dan mulai salah tingkah. Kali ini biarkan saja Ignacia fokus pada setiap inci wajah kekasihnya melalui sudut pandang samping, Rajendra juga harus menaruh fokus pada jalanan agar keduanya selamat sampai tujuan. Jadinya tidak ada pembicaraan apapun, keduanya sibuk dalam urusan masing-masing.


Saat sampai di sebuah kafe tempat keduanya akan mengobrol, Rajendra lagi-lagi memperlakukan Ignacia dengan manis. Ia lebih dahulu turun untuk membukakan pintu bagi kekasihnya, tangannya langsung ia gandeng masuk ke dalam kafe. Sekarang belum terlalu siang, jadi ada banyak meja yang tersedia.


"Jadi, apa yang akan kita lakukan di kencan selanjutnya?" Rajendra yang pertama memulai pembicaraan. Diaduknya minuman yang ia pesan sebelum duduk berhadapan dengan kekasihnya sambil menatap wajah si gadis. "Jika bisa, kita lakukan kencan yang belum pernah kita lakukan sebelumnya."


Ignacia terdiam, mencari akal. Kencan yang belum mereka lakukan mungkin berlibur ke tempat yang jauh. Untuk saat ini, rencana itu tidak akan pernah bisa dilakukan. Tidak bisa jika Ignacia belum berterus terang pada orang tuanya. Lama kelamaan berbohong jika akan pergi dengan seorang teman membuat hati kecilnya lelah.


Terlalu sering berkencan membuat keduanya akhirnya kehabisan ide. Tidak heran kenapa ada banyak yang membuat list kegiatan untuk berkencan sesuai musim dan waktu. Ignacia menyarankan untuk mencari melalui media sosial atau internet aja. Mungkin nanti ada satu atau dua ide yang menarik minat. Yang bisa dilakukan tanpa menghabiskan waktu yang terlalu lama.


"Kamu tahu, dengan duduk berdua seperti ini saja aku sudah bahagia. Aku menyukai semua kebersamaan kita. Aku tidak tahu apa yang harus kita lakukan." Ignacia menutup ponselnya, beralih meraih gelas minuman miliknya. Ia menatap Rajendra yang masih sibuk mencari ide. Dia pasti tidak ingin hanya duduk dan berdiam diri.


Ignacia juga suka saat-saat dirinya bisa leluasa menatap Rajendra. Tidak ada bosan-bosannya menatap wajah serius laki-laki pemilik alis tebal menawan Rajendra. Saking seriusnya Rajendra tidak menyadari tatapan jatuh cinta Ignacia sejak dua puluh menit lalu. Terlalu sibuk menyelam di internet.


"Bagaimana jika pergi berenang lalu piknik?" Kepala Rajendra yang tadinya tertunduk kini terangkat, menangkap basah tatapan Ignacia. "Apa kamu menyukainya? Kita bisa bermain air lalu piknik. Kita siapkan makanan yang enak dan kamu bisa membaca buku juga nanti."


Memang hanya Rajendra yang paling mengenalnya. Kemungkinan besar Ignacia akan menyukai piknik kali ini. Dirinya tidak terlalu jago berenang, Rajendra pasti bisa membantunya. Ignacia akan setuju saja jika kekasihnya juga menginginkan itu. Mungkin berganti pakaian setelah berenang agak merepotkan, tapi tak apa.


Baiklah, sudah di putuskan mereka akan melakukan apa di lain kencan. Selanjutnya kapan mereka akan menjalankan rencana. Baik Ignacia maupun Rajendra tidak punya rencana apapun ke depannya. Entah akan ada rencana mendadak apa nanti.


Oh tunggu, tempat piknik yang bagus tidak ada di kota mereka. Tidak ada tempat sebagus tempat kencan ganda waktu itu untuk berpiknik. Apa merasa akan pergi jauh-jauh ke kota lain untuk berenang dan berpiknik? Ignacia harus meminta izin pada kedua orangtuanya kalau begitu. Entah nanti akan mendapatkan izin atau tidak. Terlalu berisiko.


"Kalau begitu kita berenang saja. Aku tahu tempat yang bagus. Tidak masalah kan? Akan aku jemput kamu."


"Tentu, mana mungkin aku keberatan jika bisa bertemu denganmu." Sayang sekali Ignacia tidak bisa berpiknik berdua dengan Rajendra. Lain kali Ignacia pasti bisa melakukannya tanpa perlu khawatir soal perizinan orang tuanya. Terutama sang ayah yang terlihat semakin berubah.


Rajendra kira arisan ibunya tidak akan berlangsung lama. Rupanya berlangsung hingga setelah makan siang. Kalau begitu Rajendra harus membawa Ignacia makan ke tempat yang bagus. Setelahnya mengantarnya pulang dan menjemput kakak juga ibunya di rumah tadi. Senang bisa berlama-lama dengan Ignacia.


"Terima kasih sudah mengajakku keluar, Rajendra. Hati-hati di jalan." Rajendra mengangguk lalu berjalan masuk kembali ke dalam mobil. Ignacia melambaikan tangan sampai mobil yang dikendarai kekasihnya menghilang di tikungan. Sebaiknya setelah ini ia menyiapkan baju renang dan gantinya.


Sesampainya di tempat reuni tadi, Rajendra mendapati kakak dan ibunya sudah menunggu di depan. Melihat dari air wajah kakaknya yang tidak lagi kelewat santai, Rajendra seolah tahu apa yang sudah terjadi. Kemungkinan besar rencana ibunya berhasil atau malah sebaliknya.


"Rajendra, ayo pergi ke pasar. Ada yang harus Ibu beli."


Tanpa banyak bincang, Rajendra kembali mengarahkan mobil ini ke jalanan. Kali ini jalannya agak lebih padat hingga memakan lebih banyak waktu. Sepanjang perjalanan ibunya bercerita soal apa yang terjadi di reuni. Sebisa mungkin tidak menunjukkan kesengajaan soal perjodohan.


Ada beberapa yang ibunya ceritakan soal momen kebersamaan ibunya dengan teman yang berniat ja jadikan besan. Membahas soal anak gadisnya juga siapa tahu anak keduanya semakin tertarik. Dari nada suara sang ibu, Rajendra yakin jika rencananya berhasil.


Pasar tampak ramai, ibu Rajendra meminta kedua anaknya tetap di mobil agar tidak semakin ramai. Dan sekarang hanya ada Rajendra dengan kakaknya. Mungkin sekarang waktu yang tepat untuk bertanya soal gadis yang disebut-sebut ibunya tadi. Baru saja Rajendra ingin membuka suara, kakaknya sudah Lenin dahulu bercerita.


"Kurasa aku menyukai anak teman ibu itu. Ketika makan siang tadi aku dan dia duduk bersebelahan. Kebetulan sekali hanya itu tempat yang tersisa. Ada begitu banyak orang. Dia banyak mengajakku bicara, beberapa hal yang ia sukai dan yang menarik minatku."


"Dengan kata lain kakak mulai membuka hati untuk perempuan itu? Kedengarannya kalian bisa akrab dalam waktu singkat." Rajendra melihat dengan jelas anggukan kecil dari kakaknya yang mulai salah tingkah. Rencana ibunya jelas berhasil. "Ehem, kelihatannya aku akan datang ke acara pernikahan."


"Hei itu terlalu cepat!"


Rajendra terkekeh bersama kakaknya. Jika sudah mendapatkan restu, siapa sangka hati seseorang bisa dengan mudahnya berubah. Jika tidak ada yang dipaksakan oleh kedua belah pihak pada masing-masing manusia yang di jodohkan ini, pasti hati keduanya yang bekerja, benar?