
Kaki Miho terus berlari menyusuri hutan untuk menghindari harimau yang masih mengejarnya dari belakang. Ia berusaha mencari Rin dan Yosuke yang pergi entah ke mana.
Beberapa kali Miho jatuh, tapi saat mendengar geraman harimau itu membuatnya tetap berlari tak peduli dengan lutut yang sudah terluka.
"Ah, sial!" desis Miho karena dirinya sudah berdiri di ujung tebing.
Harimau itu berjalan santai mendekati Miho seakan tahu jika manusia di depannya tak akan bisa ke mana-mana lagi. Hanya harus memutuskan pilihan untuk mati terjatuh dari tebing atau mati disantap olehnya.
Aum!
Harimau itu berlari kencang dan melompat, tapi Miho yang takut tak sengaja mundur lalu menjatuhkan dirinya.
Miho berusaha menerima takdir untuk segera menyusul sang ayah ke akhirat, karena merasa tak mungkin tetap hidup ketika seorang manusia jatuh dari tebing yang tinggi seperti dirinya.
Tiba-tiba Miho merasa tubuhnya ditangkap oleh sesuatu. Ia membuka mata, terkejut bukan main mendapati wajah Yujiro.
"Yu-Yujiro?" Miho menengok ke sana kemari dan menyadari jika Yujiro terbang menggunakan kepakan sayap di punggungnya.
Yujiro terus naik ke atas lalu mendarat di dekat danau yang Miho datangi tadi. Ia menurunkan tubuh Miho dengan hati-hati ketika sayap di punggungnya perlahan menyusut lalu hilang.
"K-kau...?" Miho masih melongo, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Yujiro tak mempedulikan keterkejutan Miho sekarang. Ia hanya merapikan rambut Miho dan membuang beberapa lembar daun kering yang menempel di baju serta kepalanya.
"Apa ini?" celetuk Rin yang baru saja datang bersama Yosuke.
Miho tergagap melihat Rin yang sedang menatap Yujiro dengan meneliti karena dia baru melihatnya.
"Dia kekasihmu?" tanya Rin seraya menunjuk Yujiro.
"A-ah, itu... Dia..."
"Astaga! Dia mengikutimu sampai ke sini? Apa dia sekhawatir itu padamu?" goda Rin sambil merangkul mesra Yosuke.
"Tapi apa yang terjadi padamu? Kenapa kau berantakan sekali dan wajahmu pucat, Miho?" lanjutnya mulai khawatir.
Miho berusaha mengatur wajah agar tak terlihat syok lagi setelah mendapatkan hal aneh dari Yujiro tadi.
"Sepertinya dia harus segera pergi," kata Miho mendorong Yujiro sebagai isyarat agar lelaki itu pergi saja dari sana.
Yujiro menoleh menatap Miho, memastikan keadaan perempuan itu untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar pergi karena tuntutan.
"Kenapa kau tak membiarkannya saja di sini?" protes Rin kecewa.
"Ti-tidak perlu. Dia memang harus segera pergi," sahut Miho mengulas senyum kaku.
"Baiklah. Ayo kita pergi dari sini," ajak Rin.
Miho pun berjalan mengikuti dari belakang dengan kaki sedikit pincang. Ia merasa lututnya nyeri karena bekas jatuh tadi.
Apa itu tadi?
Baru kali ini Miho melihat manusia bisa terbang dan memiliki sayap. Miho juga selama ini tak tahu jika Yujiro ternyata bisa melakukan hal itu.
Siapa sebenarnya Yujiro?
Batin Miho mulai bertanya-tanya dan menduga jika mungkin monster yang Senzo dan Koyo bicarakan tadi adalah Yujiro.
Jika benar itu terjadi, nyawa Yujiro sedang ada dalam bahaya. Apalagi Miho sempat mendengar jika mereka menyewa pembunuh bayaran untuk menangkapnya.
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Kepalanya sibuk memikirkan hal itu dan baru sadar jika mereka sudah sampai di kediaman Aihara Rin.
"Kau sudah pulang?" sambut Senzo yang membuat Miho membuyarkan lamunan ketika mendengar suara itu.
Miho mengangguk. "Y-ya. Kami pergi... jalan-jalan."
...****************...
Setelah pekerjaannya selesai, Miho pun pamit pulang. Ia buru-buru mencari Yujiro yang ternyata tak ada di rumah. Miho mulai panik, berpikir negatif jika sekarang Yujiro sudah tertangkap oleh Senzo dan yang lain.
"Yujiro!" panggil Miho datang mendekat sambil mengamati keadaan lelaki itu yang baru saja kembali.
"Kita... Kita harus segera pergi dari sini! Kita tidak boleh tinggal lagi di sini," ajak Miho. "Kita harus pergi ke tempat yang sangat jauh."
Yujiro melihat keanehan dari diri Miho. Ia menahan tangan gadis itu agar tak menariknya pergi dari sana.
"Kita harus pergi," kata Miho lagi dengan tatapan yang mulai sendu saat menoleh pada Yujiro. Menyiratkan ketakutan akan sesuatu yang membuat Yujiro bersingkap diri mencari tahu ketakutan itu.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Miho setelah mereka terdiam selama cukup lama dengan pikirannya masing-masing.
Yujiro tak menjawab. Sejujurnya, dia juga tidak tahu dirinya yang sebenarnya itu apa. Namun Yujiro teringat dengan perkataan Naho dalam mimpinya, agar dia tetap menjadi dirinya saat ini.
"Ushioda Yujiro," sahutnya mencoba buka suara.
"Tidak. Maksudku... Kenapa kau memiliki sayap? Kenapa kau bisa terbang? Apa kau... selama ini menyembunyikan semua itu dariku dan Papa?"
Yujiro mengelus kecil genggamannya pada tangan Miho yang masih terhubung. "Ushioda Yujiro. Manusia."
Miho tertunduk seraya melepaskan genggaman itu dengan lembut. Yujiro mengamati wajah surut Miho dan merasa kosong ketika genggaman mereka berdua terlepas.
"Yujiro," panggil Miho mengangkat wajah, membalas tatapan mata biru di depannya. "Kau harus pergi dari sini. Ada yang mengincarmu untuk dibawa dan di--"
"Monster?" tanya Yujiro untuk pertama kalinya selain nama dan kata manusia.
"Monster?" tanya Yujiro lagi yang kini menepuk dadanya tiga kali karena dirinya merasa sedih.
Ah, Miho merasa bodoh karena meyakini jika monster yang dicari Senzo dan Koyo adalah Yujiro. Secara tidak langsung, Miho menganggap jika Yujiro benarlah monster.
"Ushioda Yujiro, manusia," katanya seakan ingin menegaskan tentang identitas dirinya.
Miho berbalik membelakangi Yujiro dengan penuh dilema. Dia benar-benar khawatir jika nanti orang-orang itu akan mengambil Yujiro, cepat atau lambat, meski hatinya berusaha mengelak jika mereka bukanlah Yujiro.
Di tengah pikiran itu, Miho kaget karena tiba-tiba Yujiro memeluknya dari belakang. Tak hanya itu, Miho melihat sayap hitam besar miliknya juga ikut menutupi tubuh mereka berdua.
Yujiro melakukan ini karena dirinya merasa takut, terlebih melihat tatapan Miho yang mulai panik dan berbeda seakan Yujiro benarlah monster yang menakutkan yang akan diincar oleh orang lain.
"Yuji..." lirih Miho memanggilnya. Dia perlahan berbalik, berhadapan dengan Yujiro yang mulai merentangkan sayap itu.
Kedua mata Miho juga melebar saat tanduk rusa sedikit bercahaya mulai muncul dari kepalanya. Tak hanya itu, kedua tangan Yujiro mulai ditumbuhi cakar, giginya tumbuh taring, dan tubuhnya mulai ditumbuhi bulu hitam berkilau seperti seekor serigala.
"Yujiro..." panggil Miho menangkup wajah Yujiro sambil mengamatinya setiap perubahan itu.
Yujiro mundur untuk menjauhi Miho, merasa jika perempuan itu akan takut setelah melihat perubahan mengerikannya ini yang memang seperti monster.
Miho menatap sendu lelaki itu. Kakinya melangkah maju lalu berhambur memeluk tubuh Yujiro dengan begitu hangat, seakan tak ingin ada perbedaan dari sebelumnya.
"Aku tidak peduli kau akan berubah jadi apa dan bagaimana. Aku hanya ingin tidak ada bahaya apapun datang padamu. Aku tidak ingin kehilangan seseorang lagi karena kau adalah bagian dari keluargaku bersama Papa. Jadi, tetaplah hidup bersamaku, Yujiro."
Mendengar hal itu, tubuh Yujiro perlahan berubah kembali menjadi wujud manusianya. Kedua tangan yang tak bercakar itu kini bergerak membalas peluk pada tubuh Miho.
Yujiro menyadari jika perasaan hangat itu berasal dari sudut terdalam hatinya. Perasaan yang membuat Yujiro tenang dan merasa menjadi manusia seutuhnya setiap berada di dekat Miho.
Manusia memiliki semua rasa dan emosi. Yujiro pun menyadari jika yang dirasakannya saat ini adalah cinta.
Cinta murni sesama manusia untuk saling melindungi dan enggan kehilangan.
Cinta yang menurutnya membuat bertahan agar tetap hidup dan memiliki tujuan yang jelas sebagai Ushioda Yujiro.