Beautiful Monster

Beautiful Monster
Ayo Berhenti



"Bagaimana jalan-jalan sebelum kemari? Jalanan yang kalian lewati indah sekali bukan?" Danita membuka obrolan. Ia sanggah kepala dengan kedua tangan, menatap satu persatu mereka yang duduk di sekitar. "Apalagi udaranya masih segar khas pagi hari. Lain kali kita harus keluar pagi-pagi juga."


Ignacia mengangguk setuju. Matanya tak bisa menetap berlama-lama ketika Danita melanjutkan ucapannya. Beberapa kali Ignacia melirik ke arah Rajendra lewat sudut mata. Perasaan yang ia rasakan ini hanya bualan tak masuk akal sebab lapar kan? Perutnya sudah terasa hampa. Tepat setelahnya makanan akhirnya datang.


Aroma makanan yang nikmat sungguh menggugah selera. Bahri yang tadinya tampak lemas kini sudah bersemangat. Rajendra juga sama bersemangatnya. Pupilnya membesar kala hidangan tersaji tepat di depan mata. Air wajahnya tampak bersinar cerah. "Ada-ada saja kau ini Ignacia. Bukannya bersiap untuk makan, kau malah memikirkan hal yang tidak-tidak."


Keenamnya mulai makan dengan lahap. Bahkan tidak ada jeda untuk membuka obrolan. Makanan disini terlalu enak untuk ditinggalkan mengobrol. Tanpa bicarapun meja ini tetap ramai. Suara sendok dan garpu yang beradu di atas piring juga bahasa tubuh yang ingin pasangannya mencoba makanan enak miliknya. Sama seperti yang tengah Ignacia lakukan.


Gadis berambut panjang itu menyodorkan potongan daging yang masih hangat. Harumnya membuat Rajendra menerima suapan kekasihnya tanpa berpikir panjang. Lalu sebuah acungan jempol diberikan sebagai tanda setuju jika rasanya enak. Ignacia tersenyum tipis lalu melanjutkan makannya. Sebelum suapan berikutnya sempat masuk ke dalam mulut, Rajendra lebih dulu menyodorkan gulungan mie sekali suap. Suapan ini juga diterima tanpa pikir panjang.


Di sisi meja lain, Nesya memindahkan potongan ayamnya pada Farhan agar dicoba laki-laki itu. Kala itu Farhan tengah sibuk mengunyah, jadi agar cepat Nesya letakkan di piring saja. Selanjutnya Farhan juga melakukan hal yang sama. Memberikan sedikit makanannya pada Nesya untuk dicoba. Rasanya terlalu canggung untuk menyuapi satu sama lain. Hal seperti itu masih termasuk baru bagi keduanya.


Lalu di tengah-tengah ada Bahri yang menyodorkan sebuah tisu untuk menghapus noda yang ada di pipi gadisnya berkat potongan makanan yang terlalu besar. Danita berterima kasih lalu membersihkan dirinya sendiri. Si gadis bertanya apakah nodanya sudah menghilang, Bahri mengangguk dan melanjutkan makan. Tak lupa dimintanya Danita agar makan perlahan.


Sarapan pagi ini terasa lebih spesial. Selain karena mereka bisa makan makanan enak dan melakukan aktifitas romantis tanpa gangguan, keenamnya juga menikmati pagi yang indah tanpa perasaan kecewa. Setelah makanan utama, makanan penutup yang manis juga dingin tampak mengiurkan. Jadinya Danita langsung bangkit untuk memesan untuk dirinya juga kedua teman perempuannya.


Sebelum pergi, Ignacia izin pergi ke toilet sebentar. Lagi-lagi perasaan aneh muncul lagi. Kini karena melihat punggung bergetar Rajendra akibat tertawa. Para pria menikmati momen bercanda bersama dua gadis yang ada di hadapan. Seharusnya Ignacia sudah senang. Perutnya sudah terisi dan tak lagi terasa hampa. Lalu sekarang ada apa?


Seorang pramusaji membawa nampan pesanan meja disana. Ignacia menyaksikan bagaimana mata Danita dan Nesya berbinar hanya karena camilan dingin itu. "Ignacia, cepat kemarilah. Es krimnya sudah datang." Gadis yang di panggil mengangguk lalu melanjutkan langkah.


Sebelum duduk, Rajendra sempat bertanya kenapa Ignacia tidak segera kembali hingga harus di panggil oleh teman-temannya. Dengan gugup Ignacia menjawab, "Aku hanya memastikan apakah aku sudah rapi lagi. Tadi rambutku agak berantakan.


Rajendra, kamu mau mencoba es krimnya? Aku punya rasa Rocky road disini. Rasa coklat bercampur dengan marshmellow dan kacang."


Ignacia memberikan suapan pertamanya pada Rajendra. Sengaja Ignacia memilih rasa ini dan Chocolate Chip Cookie Dough agar Rajendra mau mencobanya juga. Tadi kekasihnya bilang sudah kenyang dan tidak ingin es krim. Padahal kencan mereka selalu tentang es krim dan obrolan ringan soal masing-masing. "Tidak afdol jika kita tidak makan es krim ketika sedang bersama," bisik Ignacia pelan.


Laki-laki di hadapannya itu tentu akan menyukai rasa coklat dengan kacang juga marshmellow karena dasarnya adalah rasa es krim kesukaannya. Hanya saja saat ini dirinya sudah kenyang dan tidak ingin makan es krim untuk hari ini. "Nanti sore saja. Kita bisa makan es krim sambil melihat matahari terbenam." Rajendra menolak suapan Ignacia secara halus.


Melihat gadisnya yang seakan kecewa karena suapannya tidak diterima. Sebelum tangan Ignacia kembali ditarik, Rajendra memasang badan seolah siap untuk menerima es krim yang masih berada di udara itu. Dengan senang hati, Ignacia pun memberikan suapan tadi dan diterima dengan baik seperti sebelumnya. "Bagaimana rasanya? Enak?"


"Tentu saja. Jika kamu yang menyuapiku, mana mungkin tidak enak, benar?" Dunia selalu terasa milik berdua.


Mereka masih ingin berjalan-jalan di sekitar sebelum kembali ke penginapan dan bermain air di pantai. Restoran yang ramai tadi sudah mulai menipis antriannya. Danita bertanya pada yang lain apakah mereka ingin pergi kesana jika sudah memesan tempat. Jika memesan, mereka tidak perlu antri sebanyak itu. Ignacia mengangguk cepat, jika antriannya panjang itu artinya makanannya enak bagi gadis itu.


Nesya tidak mendengar pertanyaan Danita saat itu. Ia sibuk mengabadikan momen langit dan orang-orang di sekitar. Ingin saja menggunakan kameranya dengan sebaik mungkin selagi tidak di rumah. Farhan mengawasi dari samping. Ia letakkan tangan di bahu gadisnya agar tidak tertinggal kala berjalan. Tempat ini ramai, laki-laki itu khawatir jika nanti ada hal buruk yang terjadi pada Nesya.


"Kamu terlalu senang hingga ingin mengabadikan semuanya. Bagaimana jika kita mengambil foto ketika bermain juga? Sekarang simpan dulu kameranya."


"Baiklah, akan aku simpan setelah mengambil foto ini." Nesya melihat hasil fotonya, ia tunjukkan pada Farhan. "Lihatlah ini, aku mulai berbakat mengambil gambar kan?" Foto-foto yang ada disana hanya menunjukkan objek yang ingin Nesya abadikan. Tidak mengikuti petunjuk benar tentang cara mengambil gambar. Yang penting hasilnya sesuai dengan keinginan saja sudah sempurna bagi Nesya.


Farhan mengangguk lalu menggandeng tangan kekasihnya agar berjalan mengikuti yang lain. Rencananya mereka akan bermain voli di pantai dan bermain air. Ignacia jadinya sedang memikirkan apakah pakaian panjangnya ini harus diganti dengan pakaian lain yang lebih pendek atau tidak. Rajendra menyarankan agar Ignacia tetap memakai pakaian ini karena bahannya yang tidak tebal. Jika menggunakan pendek, takutnya ada laki-laki yang memata-matai kekasihnya.


"Kamu berjanji untuk-" Ucapan Ignacia terpotong akibat suara dari kantong Rajendra.


"Maaf, tunggu sebentar." Ponsel laki-laki itu berdering samar nan lama, menunjukkan jika ada panggilan yang masuk. Rajendra harus melepas genggaman tangannya dari Ignacia sebentar untuk bisa meraihnya. Begitu ponsel sudah ada di tangan, Rajendra kembali menggandeng tangan kekasihnya. Kalo ini ia tidak memberikan jarak ketika menjawab panggilan. Takut tertinggal atau terjadi sesuatu pada Ignacia tanpa pengawasan.


Siapa yang menelpon Rajendra pagi-pagi begini? Apakah soal urusan yang tidak boleh Ignacia ketahui? Tidak banyak yang Rajendra sampaikan, hanya ada beberapa jawaban pendek sebelum akhirnya panggilan berakhir. Jadinya Ignacia tidak tahu apa yang coba mereka obrolkan tadi. "Kamu tadi ingin bicara apa?" Fokus laki-laki beralis tebal ini kembali pada si gadis.


Sebelum matahari sampai di posisi tertinggi, voli Pantai dimulai. Ignacia tidak tahu banyak soal permainan bola ini namun pernah memainkannya ketika penilaian bidang keolahragaan. Meksipun salah mereka tidak akan menghitung poinnya. Lawannya saja udah tidak adil. Para gadis melawan para pria yang lebih buat. Lagipula mereka tidak mencari kemenangan.


Ignacia berjaga di belakang. Membantu mengembalikan bola jika saja para pria disana memukulnya terlalu keras. Meskipun kakinya tidak lincah, setidaknya Ignacia berhasil beberapa kali membuat bola itu keluar tanpa sengaja. Lupakan saja soal permainannya. Mereka kelelahan dan ingin bermain di sekitar bibir pantai untuk mendinginkan diri.


Keenam teman ini berlarian tanpa alas kaki, membuat riak besar untuk mengenai yang lain juga dengan sengaja menarik pasangannya masuk lebih dalam agar basah. Jika yang lainnya sibuk menjahili gadisnya masing-masing, berbeda dengan Danita yang justru menjahili Bahri. Laki-laki itu basah dari atas sampai bawah berkat riak buatan gadis kesayangannya sendiri.


Beruntung matahari kini tertutup oleh awan. Mereka bisa menikmati air tanpa harus memikirkan kulit yang akan menggelap. Lelah bersenang-senang, keenamnya duduk di atas pasir, merasakan ombak yang datang menyapa kaki berulang kali. Mereka semua sudah basah dan berbau laut.


...*****...


"Aku lelah sekali. Rasanya segar setelah mandi." Nesya menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur. Dengan rambut yang dibalut handuk kecil ia merebahkan diri beberapa detik. Ketika matanya menangkap keberatan Ignacia di depan cermin, Nesya otomatis mendudukkan diri. "Ignacia, hari ini berjalan dengan sangat baik kan? Bagaimana pagimu tadi di pantai."


Gadis itu tampak penasaran. Apalagi ketika Ignacia menunjukkan senyuman penuh arti dari pantulan cermin. "Ayolah, beritahu aku. Aku masih baru dalam hubungan romantis. Dan mungkin aku bisa banyak belajar dari sesepuh sepertimu." Nesya sengaja memancing hingga Ignacia melemparkan handuk yang ada di kepalanya pada gadis itu. Keduanya terkekeh hingga membuat Danita yang baru keluar dari kamar mandi kebingungan.


Masih dengan kepala yang dibalut dengan handuk, ketiga gadis ini duduk di dekat jendela penginapan. Udara segar dari laut langsung masuk, mengganti seluruh udara dalam ruangan. Tidak ada yang mereka lakukan, hanya diam dan menatap lautan luas. Bergulat dengan pikiran masing-masing. Ada beberapa hal yang mengusik Ignacia. Soal perasaan aneh juga Rajendra.


Sore ini akan cerah menurut perkiraan cuaca. Tambahan awam sedikit tidak akan merusak sore nanti. Kira-kira nanti Ignacia akan mendapatkan kejujuran apa dari Rajendra soal pertanyaan pagi tadi. Beberapa kali Ignacia menghembuskan nafas panjang seolah merasa sangat lelah karena memikul beban berat. Nesya dan Danita saling tukar pandang. Penasaran dengan apa yang dipikirkan temannya ini.


Akhirnya sore tiba. Ignacia diajak pergi membeli es krim sebelum melihat matahari terbenam. Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan menuju toko. "Rasanya segar setelah mandi tadi. Bagaimana dengan kamu?" Ignacia menoleh pada kekasihnya. Laki-laki di sampingnya sudah berganti pakaian dan aromanya wangi sekali.


"Airnya segar meksipun berada di dekat pantai. Kamu tidak lelah setelah bermain air tadi, Ignacia? Takutnya kamu lelah dan terpaksa berjalan bersamaku." Awalnya Rajendra ingin pergi sendiri, tapi Ignacia tiba-tiba muncul dan meminta ikut. Katanya ia ingin lebih lama berduaan dengan Rajendra.


Meksipun sudah banyak berlari dan menggunakan kekuatan demi cipratan air besar, Ignacia tidak lelah jika ingin bertemu dengan Rajendra. Siapa yang bisa lelah jika bertemu dengan laki-laki kesayangan di hari jadi? Ignacia justru makin bersemangat. Apalagi Rajendra punya janji yang akan ia ungkapkan sebentar lagi. Ignacia sangat antusias.


Dari genggaman tangannya saja sudah menunjukkan seluruh isi hati gadis ini. Suaranya ketika berbicara, mata berbinar indah, bahasa tubuhnya menunjukkan perasaan suka cita. Perjalanan membeli es krim tidak sejauh restoran yang mereka kunjungi pagi tadi. Tempatnya lebih dekat dan mudah diingat. Mereka sudah melewati tempat ini sebelum sampai di restoran.


Kembali keduanya duduk di atas pasir. Rasanya hangat berkat raja siang. Ignacia membuka es krim miliknya dengan antusias. Matahari sudah hampir tenggelam. Banyak semburat merah keorenan juga beberapa corak ungu di cakrawala. Makan es krim yang dingin bersama orang terkasih menatap pemandangan indah bukan sesuatu yang bisa dinikmati setiap hari.


"Katanya ada yang ingin kamu sampaikan, Rajendra." Ignacia memasang posisi ternyaman di bahu kekasihnya. Sekali ia tatap wajah pria beralis tebal yang tidak menatapnya itu. Rajendra seolah mencoba untuk menyusun kata sebelum bicara. "Santai saja. Kita disini hanya untuk menikmati waktu berdua."


Ada jeda panjang sebelum Rajendra bersuara. "Perlahan aku tahu jika kamu benar-benar serius berpacaran denganku. Kamu tidak menyerah padaku, peduli, dan mau mengerti semua yang kulakukan. Kita pernah bertengkar, tapi tidak pernah menyatakan ingin berpisah. Apa itu menjawab pertanyaanmu tadi pagi?" Satu pertanyaan terjawab. Ignacia tidak tahu jika Rajendra memikirkan hal itu cukup lama.


"Dan hal yang ingin kamu katakan apa?"


Lagi-lagi Rajendra memberi jeda panjang. Kali ini jeda yang menakutkan hingga Ignacia memperbaiki posisi duduknya menghadap Rajendra. Tatapan Ignacia tidak mendapatkan balasan apapun. Ada sesuatu di lautan yang menarik perhatian Rajendra lebih dari apapun.


"Ignacia, ayo kita berhenti."


"Berhenti? Apa maksudnya?" Ignacia sampai harus memicingkan mata karena tak mampu menangkap maksud ucapan Rajendra.


"Aku ingin mengakhiri hubungan ini. Ayo kita berhenti."


Kalimat barusan berhasil membawa sambaran petir amat dahsyat di hati Ignacia. Tangannya yang menggenggam es krim cone rasa vanila bergetar sedikit. Tubuhnya terasa amat lemas. Matanya hampir membulat tidak percaya. Kekehan aneh muncul dari Ignacia, "Rajendra, jangan bercanda dengan kalimat menyeramkan itu."


Sorot mata dalam menyambut indra pengelihatan Ignacia. "Aku lelah, aku ingin berhenti." Rajendra tampak bersungguh-sungguh.