
Tidak ada yang memulai obrolan kecuali Danita. Dia membawa banyak obrolan yang dikiranga dapat mencairkan suasana dibantu dengan Bahri di sampingnya. Namun bukannya suasana yang semakin hangat, Ignacia justru merasa semakin takut untuk merespon.
Beberapa kali dia mendapati Bahri melirik ke arah spion tengah untuk mengirimkan kode permintaan tolong karena Rajendra duduk di belakangnya. Juga beberapa kali Ignacia melihat Rajendra membalas permintaan tolong itu dengan aura yang lebih dingin. Dari gerak-gerik Bahri sudah terlihat jika dia ingin segera turun dari mobil.
"Jadi kalian bertemu ketika datang ke acara penandatanganan buku? Bagaimana bisa dunia begitu sempit ya? Haha," Bahri berusaha agar tampak normal. Tapi sepertinya kalimat terakhirnya itu merujuk pada dirinya sendiri yang bisa terjebak dalam situasi tidak baik ini.
"Entahlah, duniaku belum pernah sesempit dunia Ignacia. Dia bahkan masih bisa bertemu dengan teman baiknya yang dulu pernah menjadi tetangga sebelum pindah." Ignacia yakin jika yang sedang dibahasnya adalah Nesya. Setelah bertemu dengan Bahri, dunia Ignacia menjadi semakin sempit saja.
"Aku penasaran kenapa bisa dunia menjadi begitu sempit semakin harinya," hembus Rajendra tanpa melihat ke arah siapapun yang ada di dalam mobil. Untuk menutupi air wajah yang terlalu kentara, Rajendra harus menatap ke arah lain untuk menenangkan diri.
Obrolan soal sempitnya dunia masih berlanjut tanpa Ignacia ikut ke dalamnya. Dia menyandarkan tubuh pada kursi mobil dan hanya menatap jalanan yang mereka lalui. Diam-diam berharap Danita tidak akan pernah menyadari atmosfer dingin yang datang dari laki-laki yang duduk di sebelahnya.
"Bagaimana jika kita mendengarkan musik? Radio tertentu biasanya memutar lagu-lagu yang bagus." Tangan Danita bergerak untuk menyalakan radio. "Ternyata ada ulasan tentang film baru." Si gadis berambut pendek ini tampak sedikit kecewa jika didengar dari nada suaranya.
"...Menceritakan tentang kehidupan seorang anak kedua yang berkuliah diluar negeri dan harus menghadapi berbagai masalah sendirian..."
"Kau mendengarkan ulasannya juga, Ignacia?" Danita bertanya, sedikit menoleh pada yang duduk di belakangnya, "apa kau mau menonton filmnya? Genrenya mirip dengan genre santai yang biasanya ada di buku Nona Cream."
"...Para penonton akan seolah diajak berpetualang di kota penuh harapan dan berjuta kemungkinan untuk wujudkan impian, hingga menemukan tambatan hati yang memiliki visi yang sejalan dengannya..."
Jika didengar-dengar, sepertinya film yang sedang diulas ini memiliki cerita yang menarik. Pendapat Ignacia sama dengan Danita. "Kau akan mengubah rencana kita setelah piknik? Kau ingin menonton filmnya bersama?" Ignacia menebak-nebak.
"Apa kalian mau?" Danita beralih bertanya pada Rajendra dan juga Bahri. Dari caranya bertanya pendapat pada yang lain menunjukkan atensinya untuk menonton film. Soal tiket kan masih bisa dipesan lewat online agar cepat. Jadi sekarang bertanya dulu apakah partner kencan ganda mereka mau.
"Tentu, aku akan mengikuti keinginanmu," jawab Bahri cepat. Dia tidak lagi melirik ke arah belakang karena harus fokus pada jalanan yang entah sejak kapan mulai padat. "Bagaimana denganmu, Rajendra? Mau menonton setelah piknik?" Sungguh berani Bahri bertanya pada seorang di belakangnya.
Ignacia menoleh, menunggu respon yang agak terlambat. Rajendra berpikir sebentar dan akhirnya setuju. Lagipula yang dia inginkan hanya hari menyenangkan dengan Ignacia. Jika Ignacia pergi, dirinya juga akan pergi. Dan tugasnya adalah memastikan Ignacia tidak terluka.
"... Selanjutnya lagu sempat populer di kalangan remaja yang sedang kembali bernostalgia tentang hambatan dari sebuah hubungan cintanya. Tanpa menyebut judul lagunya, kita semua mungkin sudah tahu lewat intronya berikut ini."
Ignacia akan mengembalikan perhatiannya pada jalanan hingga telinganya menangkap sebuah intro lagu yang sangat dikenalnya. Dia langsung menajamkan pendengaran hingga akhirnya bait pertama lagu dari radio terdengar.
"We got it started in the worst way,"
"Just by the way you looked at me,"
Si gadis tampak bersemangat kemudian menoleh pada Rajendra untuk memberikan kode. 'Apa kamu ingat lagu ini? Ini lagu yang kita dengarkan ketika di mall dan malam puncak sekolah. Apa kamu mengingatnya?' Kira-kira begitu maksud dari tatapan mata penuh makna Ignacia.
Rajendra kelihatannya bahkan tidak menyadari datangnya lagu ini dari radio. Rajendra pasti sudah melupakannya karena menganggap lagunya tidak penting. Ignacia hanya terlalu naif dan berpikir bahwa Rajendra akan mengingat semua detail kecil yang terjadi diantara keduanya.
Sesuatu yang hangat seperti tengah membalut tangan kanan Ignacia. Akrab dan nyaman sekali. Ketika diperiksa, rupanya itu tangan Rajendra. Laki-laki itu menggenggam tangan Ignacia tanpa menoleh. Ignacia tidak bisa bertanya. Sebaiknya nanti ketika keduanya sudah sendirian.
Tidakkah situasi ini terlihat familier? Ignacia seperti bisa melihat kembali sosok Rajendra yang melindunginya ketika berada di aula saat malam puncak. Sosok Rajendra yang menjaganya dari orang-orang yang bisa melukainya.
...*****...
"Disini saja," usul Ignacia. Segera dia menyiapkan alas untuk duduk, menunggu Danita dan kedua tamunya datang membawa barang lain. Ignacia akan kembali untuk membantu Danita membawa keranjang piknik, tapi si gadis berambut pendek itu berkata jika dia bisa membawanya sendiri.
Rajendra yang membawa kotak pendingin sementara Bahri masih memarkirkan mobil. Tidak ada sesuatu yang bisa dilakukan Ignacia untuk membantu selain membawa alas dan menemukan tempat yang tepat untuk piknik. Kebun Raya memang yang terbaik.
Beruntung tempat di bawah pohon rindang berpemandangan danau yang tenang masih belum ditempati orang. Dan setelah Ignacia menggelar alasnya, sepasang kekasih sepertinya juga ingin mendapatkan teman yang sama. Namun sayangnya Ignacia tidak bisa berbagi karena tidak cukup bayangan.
Ignacia akan mengambil alih kotak pendingin dari Rajendra namun si laki-laki tinggi ini akan melakukannya. "Hafus kuletakkan dimana benda ini?" dia justru bertanya harus diletakkan dimana agar bisa mengurusnya sendiri. Ignacia hanya ingin membantu teman-temannya padahal.
Ignacia menunjuk sebuah sudut, "letakkan saja disana agar mudah diambil nanti." Ketiganya mulai duduk. Danita meletakkan keranjang piknik di tengah alas kemudian mulai mengeluarkan camilan darisana.
"Kami membuat fruit sandwich, buah-buahan, dan kimbab. Tidak masalah untukmu?" Danita bertanya pada Rajendra. Yang ditanyai mengangguk saja. Yang penting sekarang mereka sudah bebas dari mobil yang membuatnya muak tadi. Meskipun seseorang yang tidak dia inginkan akan segera datang.
"Maaf membuat kalian menunggu," Bahri datang. Dia tidak berani menatap ke arah Rajendra maupun Ignacia.
"Tidak apa-apa," sahut Ignacia ramah. Ya kan memang harus begitu agar Danita tidak curiga.
Acara piknik dimulai. Danita membuka makanan yang sudah ditata rapi bersama Ignacia. Ignacia mengeluarkan sumpit sementara Danita memindahkan beberapa potong sandwich ke piring yang lebih baik. "Kalian, cobalah makanan yang kubuat dengan Ignacia," suruh Danita sembari tersenyum ramah.
Rajendra yang pertama pemasaran dengan sandwich berisi Whipped cream dan buah segar. Isiannya yang terlihat menarik membuatnya ingin mencoba. Dalam satu gigitan Rajendra bisa merasakan sensasi seperti manis dan segar selain bentuknya yang memang cantik.
Bahri mengambil sumpit yang diberikan Ignacia kemudian memulai makannya dengan kimbab. "Hm kalian membuatnya dengan baik," puji si laki-laki yang duduk di samping Danita, "kalian juga menggulungnya dengan rapi."
"Sandwich nya enak. Ini pertama kalinya kalian membuat sandwich buah?" Kini Rajendra yang memuji. Ignacia mengangguk sebagai jawaban, berkata jika dia berhasil membuat sandwich itu begitu cantik setelah beberapa kali melihat tutorial membuatnya.
Di samping makanan yang berhasil disajikan dengan sempurna, ada beberapa obrolan yang dibawa Danita. Gadis berambut pendek ini memang hobinya berbicara, berbagai macam topik dia bawa dengan energinya yang seolah semakin bertambah setelah mengobrol dengan orang. Hampir sama seperti Rajendra jika bersama teman-temannya dahulu.
Sementara itu Ignacia lebih banyak mendengarkan. Dia senang Rajendra bisa berteman dengan Danita tanpa menunjukkan ketidaksukaan karena Bahri. Dan ketika kekasih Danita itu menimpali ucapannya, Rajendra sudah tidak lagi bersikap dingin.
Suasananya sudah lebih hangat. Keempatnya menyandarkan diri pada batang pohon besar yang menjadi payung mereka sejak tadi. Ignacia perlahan menyandarkan kepalanya pada bahu Rajendra, rasanya lebih nyaman seperti ini. Pembicaraan sudah menipis dan hanya tersisa perasaan senang menikmati sisa waktu.
"Apa aku perlu mengecek jadwal film yang akan kita tonton nanti?" Rajendra bersuara. Yang lainnya sudah lama bersantai disini hingga hampir lupa dengan jadwal menonton.
Ignacia mengangguk, Danita juga setuju. Jangan tanya bagaimana dengan Bahri. Laki-laki itu tengah tertidur di bahu Danita. Wajahnya benar-benar tampak damai.
Rajendra mengetikkan sesuatu di ponselnya. Karenanya Ignacia menarik dirinya agar kekasihnya bisa lebih leluasa mengetik. Lalu tiba-tiba satu tangan Rajendra membawa kepala Ignacia kembali ke pundaknya.
"Aku tidak keberatan kamu bersandar padaku," bisiknya masih dengan tatapan penuh pada ponsel di tangannya. Ignacia menurut saja. Kembali dalam posisi nyamannya di samping Rajendra.
Rajendra memberitahu Danita soal jadwal film sore ini. Mereka masih memiliki waktu sekitar satu jam untuk sampai di mall tempat bioskop yang di cek tadi. Jaraknya tidak begitu dekat, jadi lebih baik berangkat sekarang.
Bahri masih belum sadar sepenuhnya. Sekarang biarkan Rajendra yang menunjukkan kemampuannya dalam mengemudi. Tidak mengherankan jika dia sudah diajarkan bagaimana caranya mengemudi di umur ini. Katanya dia pernah ikut kursus Tampa memberitahu Ignacia. Untuk kejutan katanya.
Ignacia duduk di depan, di sebelah Rajendra. Sangat ingin Ignacia mengabadikan momen saat laki-laki di sampingnya ini mengemudi. Tatapannya yang tertuju pada jalanan benar-benar keren. Wajah serius yang dirindukan Ignacia kembali.
Tatapan kagum terus datang dari Ignacia hingga membuat Rajendra agak gugup. Bahkan Rajendra sempat menoleh ke arah Ignacia yang masih ingin menatapnya lama ketika ada lampu merah. "Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanyanya.
"Kamu terlihat keren," jawab Ignacia cepat.
Danita yang duduk di kursi belakang tersenyum lebar, ingin tertawa namun tidak bisa. Selain untuk menjaga perasaan temannya, dia juga harus tetap diam agar tidur Bahri tidak terganggu.
Rajendra tidak habis pikir dengan jawaban Ignacia yang terlalu jujur. Tapi bukankah memang seseorang yang mengemudi biasanya terlihat keren? Entah laki-laki atau perempuan. Karena tidak bisa merekam, jadilah Ignacia terus menatap Rajendra saja hingga puas.
...*****...
"Aku sepertinya harus menggunakan toilet sebentar," ucap Ignacia pada Rajendra ketika akan naik ke lantai dimana bioskop berada. "Kalian masuk duluan saja, aku akan menyusul nanti." Rajendra menolak, dia tidak ingin meninggalkan Ignacia sendirian di mall yang bisa dibilang ramai ini. Takut jika sesuatu terjadi dan Rajendra tidak ada disana untuk membantu.
Jadilah Danita dan Bahri yang lebih dahulu memesan tiket sambil menunggu Ignacia dan Rajendra datang. Masih ada waktu, jadi tidak masalah jika menunggu sebentar.
Setelah dari toilet, Rajendra mendapati Ignacia tengah mengetikkan sesuatu di ponselnya sambil berjalan ke arah Rajendra. "Bahri bertanya apa kamu mau popcorn atau tidak, lalu minuman apa yang kamu inginkan," ucap Ignacia memberitahu.
"Kamu masih berkomunikasi dengan dia?" respon Rajendra dingin, "kenapa kamu mengirimkan pesan? Kita bisa memesannya sendiri nanti." Rajendra terlihat sebal. Seharian ini dia sudah menahan diri, namun melihat Ignacia yang masih berdekatan dengan laki-laki lain membuatnya tidak suka.
"Maafkan aku."
"Kita pesan sendiri saja." Rajendra menggandeng tangan Ignacia kemudian langsung pergi ke bioskopnya. Ignacia yang salah lagi kali ini? Padahal hanya ingin menitip sesuatu saja. Apa Rajendra sebegitu kesalnya dengan Bahri setelah malam yang menegangkan waktu itu?
Di lobi bioskop, Ignacia dan Rajendra mendapati sepasang kekasih yang sedang kencan ganda dengannya sudah membawa tiket. Danita memberikan dua tiket yang dibawanya pada Ignacia. Bersamaan dengan itu, Bahri tiba-tiba mengajak Rajendra untuk memesan minuman.
"Biarkan mereka disini, ayo ikut aku membeli minuman."
Keduanya masuk ke dalam antrian. Melihat-lihat menu sebelum memutuskan. Tidak ada pembicaraan, hanya diam sampai akhirnya keduanya sampai untuk memesan. Bahri yang lebih dahulu memesan. "Tolong satu Thai Tea original, satu Taro Milk Tea, dan satu Lychee Tea. Kau ingin apa Rajendra?"
Laki-laki di sampingnya menghembuskan nafas panjang, "satu Java Tea, tolong."
Rajendra menoleh pada Ignacia, dibalas senyuman dari gadis berambut panjang itu. Namun tatapan Rajendra yang terasa aneh membuat senyumannya menghilang perlahan. Dia membuat kode seperti bertanya apa dia harus kesana. Rajendra menggeleng kemudian berhenti menetapnya.
"Apa aku membuat kesalahan lagi? Sepertinya aku benar-benar merusak harinya." batin Ignacia.
"Ignacia, apa kalian berfoto sebelum piknik tadi? Aku melihat foto di belakang ponselmu." Danita memerhatikan foto Ignacia dan Rajendra di ponsel temannya, "kalian terlihat sangat serasi. Dimana kalian mengambil foto ini? Studio mana?"
Berkat Danita, Ignacia bisa kembali ke dunia nyata. Lamunanya langsung buyar begitu diserang oleh beberapa pertanyaan. Mereka akhirnya membicarakan soal foto itu hingga kekasih keduanya datang. Bahri membawa pesanan Danita sementara Rajendra membawa milik Ignacia bersamanya.
"Sebaiknya kita cepat masuk. Filmnya akan segera dimulai," ajak Rajendra kemudian membawa Ignacia pergi diikuti Bahri dan Danita di belakang.
Sepanjang film, Ignacia hanya fokus pada apa yang ada di layar. Tangannya diletakkan di atas paha, menyandarkan diri dengan nyaman agar tetap bisa menikmati film yang ditayangkan. Dan di tengah fokusnya, Rajendra tanpa aba-aba mengambil tangan kiri Ignacia, menggenggamnya lembut.
"Kenapa?" Ignacia berbisik. Rajendra menggeleng. Si gadis kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu Rajendra. "Aku minta maaf karena sudah membuat hari ini tidak sesuai dengan harapanmu, Rajendra."