
"Oh ya, aku punya sesuatu untukmu," Rajendra mengambil paperbag yang ada di samping kursi, memberikannya pada Ignacia yang sudah tidak menatapnya khawatir. "Anggap saja ini sebagai hadiah awal. Kamu belum meminta apapun padaku untuk hadiah ulang tahunmu."
Ignacia heran kenapa Rajendra tidak bisa melupakan saja hadiah ulang tahunnya. Ignacia bukan anak kecil yang selalu ingin hadiah di ulang tahunnya.
"Wah terima kasih banyak. Jadi aku masih bisa meminta sesuatu untuk hadiah ulang tahunku kan?" Tanya Ignacia memastikan. Melihat Rajendra yang mengangguk pasti membuatnya senang. Meskipun bukan anak kecil lagi, ada sesuatu yang membuat Ignacia yakin jika kupon hadiahnya akan membuatnya sangat senang di masa mendatang.
Sebaiknya dia gunakan sebelum tahun berganti.
"Wah rasanya sedikit berat. Apa aku boleh membukanya sekarang?" Rajendra menggeleng, memberikan saran untuk Ignacia membukanya di rumah. Alasannya tentu karena Rajendra malu jika hadiahnya harus dibuka Ignacia di hadapannya secara langsung.
Ignacia menyimpan pemberian Rajendra ke sampingnya. Lanjut makan es krim yang tersisa setengah. Kira-kira hadiah apa yang diberikan Rajendra untuknya?
Keheningan tiba-tiba datang. Seolah sudah direncanakan, keduanya hanya menatap cahaya kota yang mirip kunang-kunang. Apalagi untuk lampu mobil yang tampak berlalu lalang di jalanan utama. Kini giliran Ignacia yang membuat gerakan. Perlahan dia bersandar pada bahu Rajendra, tidak mengatakan apapun.
"Jika kuminta hadiahku secara mendadak, kamu bisa mengabulkannya seusai waktu yang kuminta?" Ignacia menatap memohon, "ayolah kabulkan saja. Siapa tahu aku benar-benar membutuhkan kupon hadiah itu. Ya ya ayolah kabulkan kali ini saja."
"Memangnya apa yang kamu inginkan?"
"Aku juga tidak tahu, tapi kumohon kabulkan sesegera mungkin. Bagaimana? Tahun ini saja, untuk satu kupon ini saja."
Rajendra berpikir sebentar. Jika dia asal menyetujui, kemudian besar Rajendra akan membuat kekasihnya kecewa jika tidak bisa memenuhi apa yang Ignacia inginkan. Di sisi lain, jika Rajendra tidak menyetujui, Ignacia mungkin akan melupakan hadiah ulang tahun yang ingin digunakan Rajendra sebagai simbol perhatian.
"Aku akan mengatakan keinginanku dengan batas waktu. Akan kuberikan jeda sebelum aku ingin kamu mengabulkannya. Bagaimana?" Ignacia melingkarkan tangannya ke lengan si laki-laki, memberikan tatapan yang tidak bisa ditolak. Entah akan berhasil atau tidak. Ini pertama kalinya Ignacia-
"Baiklah kita lihat saja nanti," putus Rajendra.
Ignacia tersenyum senang, mengangkat jari kelingking untuk membuat janji. Rajendra hanya bisa berharap kekasihnya tidak meminta sesuatu yang terlalu besar dan tidak bisa dilakukan Rajendra. Tapi selama mengenal Ignacia, gadis ini tidak pernah meminta sesuatu yang terlalu besar darinya. Ignacia gadis baik yang sederhana.
Keduanya menghabiskan banyak waktu untuk membahas tentang reuni dengan teman-teman dekat. Ignacia dengan sembilan temannya sementara Rajendra dengan orang-orang yang menangkap basah dirinya tengah berkencan di rumah pacarnya. Hari itu tidak akan pernah Ignacia lupakan.
Keduanya membuat kontak mata, bercerita dengan canda tawa ceria. Mungkin bukan karena ceritanya, tapi karena udara kota yang akrab hingga membuat keduanya benar-benar menikmati waktu. Bahkan saking serunya, mereka tidak menyadari bahwa malam sudah berjalan begitu cepat.
Ignacia mendapatkan panggilan dari mamanya di tengah cerita. Si gadis bangkit, meminta izin untuk mengangkat panggilan. Rupanya sang mama meminta anak pertamanya pulang. Sudah larut, tidak baik anak perempuan main hingga lewat jam tidur.
"Rajendra, kita pulang sekarang? Kita bisa bertemu lagi lain kali," ajak Ignacia yang kemudian langsung disetujui si laki-laki. Rajendra bangkit, menggandeng tangan kekasihnya tanpa persetujuan. Ignacia tidak keberatan, tapi gerakan Rajendra yang tiba-tiba membuatnya sedikit terkejut.
Sampai di tempat keduanya meninggalkan sepeda motor, Rajendra masih enggan melepaskan tangan gadisnya. "Ayo bertemu lagi jika kamu sempat. Tapi aku yang akan datang menjemput. Aku khawatir jika kamu berkendara di malam hari. Apalagi jalan utama tidaklah sepi," ucapnya.
"Kalau begitu tunggu hingga orang tuaku pergi bekerja."
Si laki-laki tersenyum, mengelus surai coklat Ignacia yang masih di kepang sempurna. Jika ini bukan tempat umum yang ramai, mungkin Rajendra akan membawa kekasihnya ke dalam dekapan hangat yang selalu disukai Ignacia. Hanya saja Rajendra tahu batasan dan etika yang harus dijaga di tempat umum. Tidak masalah. Rajendra akan menahannya.
"Akan kuantar kamu sampai di rumah."
Bertemu dengan Rajendra itu sesuatu yang sangat tidak berbayangkan. Ignacia tidak pernah tahu jika di kelas asing yang dimasukinya di tahun kedua SMP akan membuatnya bertemu dengan seseorang yang akan menemaninya hingga di titik ini. Seseorang yang pernah membuatnya kesakitan namun juga bisa menyembuhkan.
Laki-laki itu tengah mengendarai sepeda motornya di depan Ignacia, seolah mengawal kekasihnya hingga sampai di rumah. Rumah Rajendra ada di arah jalan lain, namun dia tidak keberatan mengantarkan Ignacia. Yang penting gadisnya tidak terluka setelah bertemu dengannya.
Beberapa kali Ignacia mendapati Rajendra menatapnya lewat spion. Meskipun tertangkap basah, Rajendra masih melakukannya. Salah satu upaya untuk memastikan Ignacia masih berada di belakangnya. Memastikan Ignacia tidak tertinggal atau mengubah arah.
Di lampu merah, Ignacia berhenti di samping kekasihnya. "Kamu terlihat keren dari belakang," ucapnya tanpa merasa bersalah. Rajendra tidak salah tingkah, dia hanya tertawa atas apa yang Ignacia katakan. Siapa yang bisa terlihat keren hanya dari punggungnya saja? Ignacia pasti sedang mengantuk.
Ketika lampu tengah berganti warna, Rajendra kembali memimpin. Jalannya tidak bisa sepi karena masih berada di jalanan utama. Begitu memasuki jalan menuju rumah Ignacia, semua kendaraan bising dan ramai sudah menghilang. Rasanya menjadi senyap secara tiba-tiba.
"Kamu bisa mengantarku sampai disini. Aku bisa melanjutkannya sendiri," ucap Ignacia ketika berhasil mensejajarkan laju dengan Rajendra. Dan laki-laki itu menolak. Jika sudah memutuskan sesuatu, dia akan tetap mengikuti keinginannya hingga akhir. Dan jika itu adalah mengantarkan Ignacia, mana mungkin Rajendra akan pergi begitu saja.
"Bagaimana jika ayahmu melihatmu? Sampai disini saja."
Rajendra pura-pura tidak mendengar. Ignacia mengulang kalimatnya beberapa kali hingga hampir sampai di rumahnya. Mungkin sudah tidak berbahaya jika sudah lebih larut. Para tetangganya pasti sudah tidur karena besok waktunya bekerja.
"Kita sudah sampai," senang Rajendra lalu mematikan mesin motornya. "ayo masuklah. Setelahnya aku akan pulang."
"Kenapa begitu?"
"Apa ada larangan juga untuk itu?" Rajendra menaik turunkan alisnya untuk menggoda Ignacia. Wajahnya tampak lucu.
Ignacia menurut saja, membuka pagar perlahan lalu memasukkan sepeda motor. Baru saja Rajendra akan berpamitan dan pergi, Ignacia malah menemuinya diluar. Rajendra harus menunda kepulangannya sebentar.
"Terima kasih sudah mengantarku sampai rumah. Hubungi aku jika kamu sudah sampai nanti. Dan..." Ignacia membuat kontak mata nakal, mencium pipi Rajendra secara tiba-tiba hingga yang dicium terkejut dan refleks melihat sekitar, "...terima kasih untuk hadiahnya."
"Hei kamu ini berani sekali. Padahal tadi kamu yang ingin agar aku langsung pulang." Wajah Rajendra sedikit memerah, menahan malu, panik, dan yang lainnya. "Sekarang masuklah. Istirahat. Akan aku hubungi lagi nanti."
...*****...
Pintu dibuka, rumah Rajendra sudah sepi. Diraihnya ponsel dari dalam tas, mengetikkan kabar untuk Ignacia yang kemungkinan besar masih menunggu. Dan benar saja, balasan langsung datang dari dia yang dikirimi pesan. Rajendra tersenyum kecil, masih menatap ponselnya setelah menutup pintu di belakangnya.
"Kakak yang paling tahu," balas Rajendra, dia akan berlalu jika saja tidak melihat seseorang yang rupanya juga ikut acara camilan malam kakak laki-lakinya.
"Kau masih berkencan dengan gadis bernama Ignacia itu? Wah hubungan kalian langgeng sekali," puji kakak perempuan Rajendra. "Kau juga mau mi instan dengan telur? Akan ku buatkan jika mau."
Rajendra menggeleng, "aku akan istirahat saja." Lalu berlalu begitu saja tanpa menunjukkan ramah tamah. Ditutupnya pintu kamar perlahan agar tidak membangunkan orang yang sedang tidur di kamar sebelah. Jika anak kecil terbangun di malam hari karena suara gaduh, bisa-bisa dia menangis karena kesal.
Di ruang keluarga, dua saudara yang tengah makan camilan malam sambil menonton berita malam. "Rajendra tidak putus nyambung dengan pacarnya sejauh ini?" Si kakak perempuan bertanya. Hanya penasaran saja.
"Yang kutahu tidak. Mereka banyak bertengkar di tahun-tahun pertama, dan sekarang malah semakin dekat. Hubungan mereka awet." Mendengar itu kakak perempuan Rajendra hanya mengangguk-angguk paham. Adiknya hebat juga.
Rajendra merasa jika matanya berkedut. Seperti ada yang sedang membicarakannya. Si laki-laki yang sudah mengganti pakaiannya dengan baju tidur itu tidak ambil pusing. Diraihnya ponsel untuk sekedar mengecek pesan baru dan kemudian pergi tidur. Besok dia harus bangun pagi.
...*****...
"Kakak," panggil seseorang yang kedengarannya seperti Athira. Entah apa yang dilakukannya malam-malam begini. Begitu dipersilahkan masuk, Ignacia mendapati adiknya tengah memeluk boneka wortel dengan wajah mengantuk. "Aku hanya ingin memastikan apa kakak sudah pulang. Ayah tadi menunggu."
"Ayah?" beo Ignacia.
Athira bicara sambil berjalan masuk, "ayah khawatir karena kakak tidak segera pulang. Tapi pada akhirnya ayah bisa tidur setelah mama menelfon tadi." Athira duduk di ujung tempat tidur sang kakak, memperhatikan kakaknya yang duduk di kursi meja belajar.
Sesuatu di atas meja menarik perhatiannya. "Kakak membeli mug? Apa karena itu kakak pulang agak terlambat?"
"Rajendra memberikannya padaku."
"Hadiah ulang tahun?"
"Ya semacam itu."
Athira mengangguk paham, dia bangkit lalu meninggalkan kamar kakaknya. Tidak lupa ia menutup pintu kamar sang kakak. Padahal Athira bisa mengirimkan pesan saja daripada harus mendatangi kamar kakaknya. Atau jika dia masih bangun, dia bisa mendengar suara sepeda motor Ignacia memasuki garasi.
Ignacia kembali menatap mug yang adalah isi dari paperbag yang diberikan Rajendra tadi. Rupanya ini alasan kenapa paperbag itu terasa sedikit berat. Ignacia tersenyum kecil, bahagia. Siapa sangka Rajendra bisa menyiapkan hadiah seperti ini? Hadiah yang tidak terpikirkan.
Jika dilihat dari gambar yang ada di sekitar, kelihatannya bukan gambar yang dicetak. Tidakkah gambarnya lucu sekali? Ada perempuan yang menggunakan topi ulang tahun dan seorang laki-laki yang memegang kue dengan lilin yang menyala. Lalu di sekeliling mereka ada confetti yang beterbangan. Semuanya digambar dengan tema kartun. Menggemaskan.
Apa mungkin Rajendra yang menggambarnya? Sebaiknya Ignacia tanyakan saja daripada menebak-nebak. Lalu jika benar dilukis oleh Rajendra, apa mungkin gambar perempuan yang memakai topi ini apakah Ignacia yang tengah berulang tahun?
...*****...
Seperti yang dijanjikan. Kencan selanjutnya digelar. Rajendra datang menjemput. Dengan raut wajah bahagia, Ignacia keluar rumah dengan buru-buru. Takut kekasihnya menunggu terlalu lama. Berbeda dengan waktu itu, Ignacia tidak lagi mengepang rambutnya. Dibiarkan tergerai seperti biasa.
Tujuan kencan malam ini adalah pergi berkendara tanpa tujuan. Keduanya tidak memiliki ide untuk menghabiskan waktu dimana. Kata Rajendra, "yang penting kita keluar dulu." Yang penting bertemu dulu, berduaan dulu, lalu menikmati malam tanpa gangguan apapun.
Ignacia memanjangkan lengan jaketnya sebelum kembali memeluk Rajendra yang tengah berkendara. Udara malam jadi lebih dingin karena hujan tadi sore. Jalanannya juga masih menyimpan sedikit sisa tangisan langit. Jadinya harus ekstra hati-hati agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Berhenti di lampu merah, tangan Rajendra mengambil salah satu tangan kekasihnya, memastikan apakah kekasihnya masih kedinginan. "Masukkan saja tanganmu ke saku jaketku jika masih terasa dingin," titahnya.
Kedengarannya lebih baik daripada membiarkan tangannya semakin dingin. Tapi jika dimasukkan ke dalam saku, Ignacia tidak melingkarkan tangannya di pinggang Rajendra lagi. Tidak akan seru jika nanti Ignacia kehilangan momen untuk jadi sangat dekat dengan kekasihnya.
Rajendra melajukan sepeda motornya dengan kecepatan rata-rata, pergi ke sisi paling Utara, Selatan, dan Timur kotanya. Sambil mencari sesuatu yang menarik, sesekali keduanya mengobrol. Dan ketika sampai di lampu merah selanjutnya, Ignacia bertanya soal mug hadiah dari Rajendra.
"Bagaimana kamu mendapatkan mug itu? Gambarnya lucu sekali. Terima kasih sudah memberikannya padaku."
"Aku yang menggambarnya."
Ignacia mencoba melihat wajah Rajendra yang tertutup kaca helm, "wah kamu keren sekali bisa menggambar kartun. Kamu melukisnya langsung di mug?"
Rajendra menggeleng. Katanya dia menggambar di kertas dahulu sebelum dipindahkan ke mug. Dan sebagai informasi, Rajendra tidak menggambarnya seratus persen. Ada seseorang yang membenarkan gambar kasar yang dibuat Rajendra agar sesuai dengan imajinasinya.
"Siapa?" tanya Ignacia penasaran.
"Rahasia." Lampu berubah warna, sepeda motor Rajendra kembali melaju. Membela jalanan kota yang ramai. Di keheningan, Ignacia menebak-nebak kiranya siapa yang bisa menggambar kartun selucu itu.
"Apa Athira yang membantumu?" Ignacia harus bertanya dengan nada tinggi agar terdengar. Diulangnya pertanyaan tadi berkali-kali hingga Rajendra bisa mendengarnya dengan baik.
"Apa dia memberitahumu?" Rajendra balik bertanya.
"Jadi kalian bekerja sama?"
"Hah?!" Ignacia menganggap jawaban itu iya. Jadi kekasihnya bekerja sama dengan sang adik yang pandai menggambar. Apa mereka bertemu di suatu tempat tanpa sepengetahuan Ignacia?
Keduanya sampai sampai di sisi barat kota. Ada keramaian di sekitar tempat yang diingat Ignacia sebagai lapangan. Rajendra bertanya apa mungkin Ignacia mau melihat ada keramaian apa yang ada disana.
"Wah pasar malam."