Beautiful Monster

Beautiful Monster
Penuh Semangat



"Cepat sekali makanmu," ucap Bagas terkejut. Dia saja baru datang sambil membawa sebungkus nasi Padang sementara Rajendra sudah membersihkan makanannya. "Apa ada jadwal untuk menelfon Ignacia?" goda Bagas sambil duduk di sisi tempat tidurnya, menatap Rajendra dengan iseng.


"Ya begitulah. Jangan lupa untuk membersihkan bekas minyak di lantai setelah makan," pesan Rajendra kemudian keluar kamar dengan membawa ponsel dan sampah makanannya. Rencananya dia akan menelfon Ignacia diluar agar tidak ada yang bisa mendengar pembicaraannya.


Bagas yang menganggukkan kepala sibuk dengan bungkusan nasinya, membiarkan Rajendra pergi sesuka hati. Dia paham betul suasana yang terasa aneh di kamarnya saat pertama masuk. "Teman sekamarku sedang jatuh cinta lagi," bisiknya sambil menahan tawa. Mengingat wajah Rajendra yang salah tingkah saat digoda tadi.


Bagas melihat dengan jelas tatapan mata Rajendra yang tidak fokus dengan nada bicara aneh seolah ingin cepat-cepat pergi. Lalu itu namanya apa jika bukan salah tingkah? Ataukah dia hanya terlalu bersemangat hingga tampak seperti bukan dirinya?


Ponsel di atas nakas Bagas berbunyi sekali. Tanda sebuah pesan atau pemberitahuan masuk. Sebenarnya laki-laki yang tengah berpindah duduk dari sisi tempat tidur ke lantai ini ingin mengabaikan ponselnya karena sedang makan, tapi suara yang sama masuk dan membuatnya penasaran. Jika diingat-ingat suaranya seperti sebuah pesan.


"Dia mengirimkan pesan," semangat Bagas hingga tersenyum lebar, "wah tapi aku sedang makan. Apa aku harus membalasnya sekarang? Ah nanti saja."


Ponsel Bagas kembali diletakkan. Bagas menyegerakan makan agar bisa mengobrol panjang dengan seseorang yang baru mengirimkan pesan setelah siang tadi tanpa kabar. Fokus makannya jadi agak terbagi karena memikirkan topik yang bisa keduanya bahas nanti.


Sementara itu, Rajendra sudah menemukan tempat yang pas untuk mengobrol. Tak jauh dari tempat kosnya ada sebuah taman yang lumayan ramai. Tapi karena bukan hari libur, jadinya tidak penuh dan begitu berisik.


Rajendra mengambil tempat di sebuah ayunan. Anak-anak lebih tertarik pada perosotan daripada ayunan yang ada di bawah pohon rindang. Jadilah Rajendra duduk disana, mencari roomchat Ignacia kemudian memulai panggilan.


Tak butuh waktu lama hingga panggilannya tersambung.


...*****...


Ignacia sudah bersiap-siap menunggu telfon dari Rajendra. Dia bahkan sudah berjaga-jaga di samping ponselnya yang masih mengisi daya dengan memakai handuk di kepalanya. Si gadis duduk di depan nakas, menatap layar ponselnya yang masih belum menunjukkan tanda-tanda adanya panggilan telfon.


"Apa Rajendra belum pulang?" gumam Ignacia.


Rajendra mengirimkan pesan beberapa hari yang lalu, berkata jika dia akan pulang terlambat karena jam kerjanya diperpanjang. Karena adanya bonus gaji, jadinya Rajendra tidak akan menyia-nyiakannya. Siapa yang akan menolak bonus?


Perlahan tangannya meraih Fitbar yang ada di dalam laci nakas. Mungkin sebaiknya dia mengganjal perut sambil menunggu daripada membiarkan dirinya sendiri kelaparan. Seharusnya Ignacia memasak malam ini, tapi rasa malas datang dan hanya ingin makan Fitbar saja.


"Oh ya, sebaiknya aku membersihkan kamarku agar bisa menerima tamu," gumam si gadis. Tumpukan buku di meja dan beberapa novel yang tidak kembali ke tempatnya menjadi perhatian khusus bagi Ignacia. Hari-hari ujian membuat Ignacia tidak memikirkan hal lain selain nilai sempurna.


Ponsel Ignacia bergetar, sebuah panggilan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Buru-buru Ignacia melepaskan kabel pengisi dayanya dan langsung menggeser tombol hijau di layar ponselnya. Sesegera mungkin memanggil nama kekasihnya lebih dahulu sebelum seseorang di ujung sana.


"Rajendra, bagaimana harimu?" sapa Ignacia bersemangat, dia bahkan mengubah posisi duduknya secara tiba-tiba agar merasa lebih nyaman. Begitu Rajendra menjawab, jiwanya langsung terasa kembali hangat. "Aku merindukanmu," ungkapnya tanpa rasa malu. Biarkan saja Rajendra tahu.


Yang di ujung panggilan terkekeh pelan, "aku juga merindukanmu. Aku akan segera menemuimu, Ignacia. Tunggu aku sedikit lagi ya. Dan juga aku akan langsung pergi ke hotel sebelum bertemu denganmu sesuai jadwal."


"Iya, aku mengerti. Aku dan Danita sudah merencanakan banyak hal untuk double date kita. Untuk pertama kalinya kita pergi berkencan tanpa takut ketahuan, Rajendra." Ignacia tidak bisa menutupi rasa bahagianya.


"Ignacia, kamu tadi menelepon? Ada apa?"


Gadis dengan handuk di kepalanya itu tertawa gugup, "karena aku ingin menghubungi kekasihku di hari jadi kita?" Ignacia bertanya dengan ragu namun tidak malu.


"Kamu ini ada-ada saja. Aku kan sudah bilang jika ada urusan penting di restoran. Maaf membuatmu merasa terabaikan hari ini. Untuk menebusnya, ayo mengobrol sedikit lebih lama."


Wah, apa lagi yang bisa membuat Ignacia bersemangat selain ajakan kecil dari Rajendra? Keduanya akan bertemu sebentar lagi, dan sekarang dirinya di ajak untuk mengobrol sedikit lebih lama. Diam-diam Ignacia berharap jika kekasihnya segera datang saat itu juga.


"Bagaimana pekerjaanmu hari ini, Rajendra? Apa semuanya terkendali? Apa kamu memiliki cerita menarik untuk dibagikan denganku?" Masih dengan memakai Fitbarnya Ignacia berbicara.


"Cerita menarik? Sepertinya tidak ada. Hari ini cukup sibuk, apalagi ketika jam makan siang. Orang-orang seperti tidak ada habis-habisnya datang dan pergi. Bahkan aku tidak sempat mendengar suara ponselku ketika kamu menelfon. Maaf."


Kenapa jadi Rajendra yang minta maaf? Padahal Ignacia yang iseng ingin tahu apakah panggilannya akan terjawab. Dengan nada ringan Ignacia menjawab, "tidak apa-apa. Aku mengerti sekali bagaimana keadaannya. Kamu sudah melakukan yang terbaik, Rajendra."


"Bagaimana denganmu? Apa ada sesuatu yang menarik?" Rajendra balik bertanya.


Ignacia bergumam, memikirkan cerita apa yang bisa dia sampaikan setelah hari panjang bersama kedua teman dekat. Jika diceritakan semuanya, Rajendra mungkin akan merasa bosan dan hanya merespon singkat.


"Aku pergi dengan Danita dan Nesya ke kafe, membeli tanaman kecil, dan berbelanja sayuran." Ignacia melirik kulkasnya, sayuran yang dibelinya sebaiknya segera diolah mumpung belum lupa dan masih segar.


"Kamu membeli tanaman juga? Lalu kamu memasak apa untuk makan malam?"


"Hanya Danita yang membeli tanaman. Aku tidak begitu tertarik. Dan soal sayuran, aku akan memasaknya nanti. Malam ini rasanya perutku masih penuh."


"Begitukah? Tapi kamu tetap harus makan, Ignacia. Jangam pernah melewatkan makan agar tidak sakit. Kamu berada jauh dari rumah. Sebaiknya kamu menjaga tubuhmu dengan baik."


Ignacia sepertinya memang membutuhkan nasehat. Beberapa kali dia mengganti makan hanya dengan sepotong Fitbar. Berat badannya menurun sedikit demi sedikit hingga Nesya pun menyadarinya. Entah dengan Rajendra. Apa dia mungkin akan marah jika tahu Ignacia tidak menjaga dirinya?


"Iya, aku akan mengingatnya."


...*****...


Danita menunggu dengan harap. Di tangan kanannya membawa kue dan tangan lainnya memperhatikan ponsel, menunggu pesan bahwa seseorang yang ditunggunya sudah datang. Jika melihat jadwal kereta, seharusnya kekasihnya sudah datang. Jadinya Danita mengedarkan pandangan pada seluruh penumpang yang keluar dari stasiun.


"Apa di dalam terlalu sesak hingga dia kesulitan keluar? Apa yang dia lakukan selama ini?" Dilihatnya jam yang ada di tangan kiri, sudah lima menit sejak kereta yang ditunggu datang. Apa Danita kurang bersabar?


"Danita," panggil seseorang di sampingnya. Begitu menoleh, Danita langsung berjalan mendekat dan memberikan pelukan hangat pada yang memanggilnya. "Wow lihatlah siapa yang begitu merindukan aku," goda laki-lakinya sambil membalas pelukan Danita.


"Rasanya sangat menyiksa karena aku tidak bisa menghubungimu. Jadi bagaimana perjalananmu? Apa semuanya lancar disana? Sekarang kamu tidak akan pergi dariku lagi kan? Ayo ceritakan semuanya padaku," serang Danita dalam satu tarikan nafas.


"Tidakkah seharusnya aku mengantarkan kamu pulang? Aku akan ceritakan semua yang kamu tanyakan besok. Kita akan berkencan seharian, bagaimana?" Tawar si laki-laki kemudian melepaskan pelukannya perlahan.


Danita mengangguk bersemangat, senyuman lebar tetap ditunjukkan seolah wajahnya tidak bisa merasa lelah. "Oh ya, aku membeli ini untukmu," si gadis menyodorkan bingkisan, "untuk merayakan kembalinya kamu ke kota ini."


"Padahal aku hanya kembali dari perjalanan bisnis, kamu bahkan membelikan aku kue," ucap si laki-laki pura-pura terharu. Diambilnya kue itu dari tangan Danita kemudian mencium pipi si gadis singkat. "Terima kasih," bisiknya.


Wajah Danita memanas, mungkin terlihat memerah seperti udang matang. Dia bahkan tidak bisa mengucapkan kata 'sama-sama' dengan benar. Danita lebih memilih mengalihkan pandangan karena salah tingkah.


...*****...


Bagas sudah selesai dengan makanan dua menit yang lalu. Sekarang waktunya untuk membersihkan bungkusan nasi tadi dan mencuci tangan sebelum malam yang menyenangkan. Rekomendasi temannya memang bukan hal yang buruk. Setidaknya sekarang Bagas memiliki kesibukan.


Sekembalinya dari wastafel, Bagas menatap jam di atas meja belajarnya. Sudah waktunya bagi seseorang yang mengirimkan pesan beberapa saat yang lalu untuk menjadi produktif. Padahal biasanya orang-orang akan bersantai di jam segini. Tapi orang itu berbeda. Dan perbedaan itu berhasil memikat Bagas.


Dibawanya ponsel ke atas tempat tidur. Mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan. Jika orang yang ditujunya masih memegang ponsel, biasanya responnya akan sedikit cepat. Sekitar dua atau tidak menit setelah pesan dikirim.


"Kenapa jantungku berdetak sangat cepat begini? Padahal sudah berjalan satu bulan," gumam Bagas sambil mendramatisir keadaan jantungnya yang sedang berdisko. "Padahal aku hanya berkomunikasi dengannya lewat online, bagaimana jika aku berhasil menemuinya di dunia nyata?"


Samar-samar Bagas mendengar suara seseorang yang tengah berbicara. Sepertinya itu Rajendra dengan seorang teman kos lain. Dengan segera Bagas menyembunyikan air wajahnya, berusaha bersikap senormal mungkin agar teman sekamarnya tidak mengetahui aksinya.


Dan benar saja, seperkian detik kemudian pintu kamar terbuka. Menampilkan wajah berseri-seri Rajendra dengan ponsel di tangannya. Sepertinya kencan onlinenya dengan Ignacia berhasil. Rajendra masuk setelah menyelesaikan obrolan dengan teman sebelah kamar. Mnedapati Bagas di atas tempat tidur dengan ponsel yang digunakan.


"Jika sudah di posisi begitu, sepertinya kau akan begadang sambil memainkan ponselmu lagi. Tidakkah sebaiknya kau tidur dengan jam yang sesuai?" omel Rajendra. Bukan tanpa alasan temannya ini mengomel. Pasalnya Bagas yang memainkan posnel membutuhkan cahaya yang lebih dan membuat lampu utama di kamar tidak bisa segera dimatikan.


"Ya ya baiklah. Aku hanya akan mengurus diriku dengan baik. Sekarang aku sedang dalam misi menyelamatkan dunia," balas Bagas tak peduli.


Rajendra menghembuskan nafas pasrah, meletakkan ponsel di meja kemudian pergi ke kamar mandi. Sebaiknya dia segera bersih-bersih dan bersiap untuk tidur. Tubuhnya harus tetap sehat agar bisa menemui sang pujaan hati.


Sementara itu, Bagas masih sibuk dengan ponselnya. Beberapa kali dia membuka aplikasi pesan singkat dan video untuk mengulur waktu. Jadinya tidak terlihat jika dia sangat menunggu-nunggu balasan seseorang disana.


...*****...


"Omong-omong kamu belum meminta hadiah ulang tahun dariku. Ulang tahunmu bahkan sudah lewat. Apa kamu yakin tidak ingin apapun?"


Ignacia tidur terlentang, menatap langit-langit asrama yang redup karena lampu utama sudah dimatikan. Ignacia saja lupa tidak membeli apapun untuk ulang tahunnya tahun ini. Dia terlalu sibuk dengan ujian semester hingga lupa dengan hari spesialnya sendiri.


"Bagaimana jika aku meminta hadiah ulang tahunku ketika bukan hari ulang tahunku tapi tetap ada di tahun yang sama? Apa kamu akan tetap mengabulkannya?"


"Jika bisa kulakukan, maka akan kukabulkan. Lantas apa sekarang kamu sudah punya ide?"


"Akan kusimpan untuk nanti. Aku masih belum punya ide."


Ignacia menutup matanya, menghembuskan nafas panjang. "Apa yang bisa kudapatkan untuk hadiah ulang tahunku? Memintanya datang ketika hari jadi saja dia sesibuk itu. Bagaimana jika kugunakan untuk memanggilnya di hari tertentu?" Ignacia bergumam sepelan mungkin.


"Sepertinya aku terlalu berlebihan," ucap Ignacia kemudian bangkit. Diraihnya Fitbar di sebuah kotak dan memakannya sambil berjalan kembali ke tempat tidur. Semangat membuat perutnya kembali lapar.


"Seharusnya aku makan nasi," koreksinya.


Untuk seperkian detik ruangan Ignacia menjadi sangat hening. Bahkan suara mengunyahnya di dalam mulut hampir tidak terdengar. Dan di tengah keheningan, ponselnya bergetar. Mengejutkan si pemilik ruangan hingga hampir tersedak.


New Message from Nesya


Aku merasa lapar dan


Aku bisa mencari makanan denganmu?


Makanan tengah malam


Ajakan yang menarik. Ignacia langsung meletakkan Fitbarnya dan mengetikkan pesan balasan bahwa di akan menemui Nesya di tempat temannya ingin membeli makanan. Langsung saja si gadis bergegas merapikan penampilan dan tidak lupa memakai jaket agar tetap hangat.


Ignacia selesai mengunci pintu asrama dan kini tengah mengetikkan sesuatu di ponselnya. Berkata pada Nesya jika dia sedang dalam perjalanan menemuinya. Selama berada di bus, Ignacia hanya diam dan menatap jalanan yang lenggang. Ini pertama kalinya dia pergi keluar di jam tidur. Ignacia tidak menyesalinya, karena ini sesuatu yang baru.


Di depan sebuah minimarket, tempat tujuan Ignacia, dapat dilihatnya seseorang dengan kacamata yang sangat dikenalnya. Tidak ada yang dilakukan gadis dengan kepala yang ditutupi dengan tudung Hoodie itu. Hanya menatap makanan instan di hadapannya kemudian memperhatikan sekitar.


Menunggu dirinya.


Ignacia tersenyum kecil, mendekati sebuah meja yang sudah ditempati Nesya dengan dua makanan instan yang masih panas. Yang baru datang itu langsung mendapatkan perhatian dari Neysa kemudian keduanya tersenyum tanpa alasan.


"Padahal tadi kita sudah bertemu, tapi kamu mengajakku bertemu lagi. Apa kamu merindukan aku hm?"


Nesya membuka makanan instannya sebelum menjawab, "apa yang baru kamu lakukan hingga bicara seperti itu? Aku hanya ingin ada seseorang yang menemaniku makan camilan larut malam. Sudah matang."


Mendengar itu, Ignacia membuka makanan miliknya yang sudah disiapkan Nesya sejak tadi. Uap panas langsung menyembul keluar, menyapa wajah Ignacia dengan hangat. Aroma bumbu halus yang sudah tercampur dengan kuah membuat Ignacia tidak sabar untuk memakannya.


Hening. Keduanya fokus pada makanan masing-masing. Tidak saling menganggu, menatap sekitar dengan tenang. Hanya begini saja sudah membuat keduanya merasa damai.