
Ignacia berjanji ada adiknya untuk bertemu di pagi hari setelah sarapan. Berjalan-jalan dan menikmati hari berdua sebelum sore tiba. Keduanya berjanji untuk bertemu di tempat yang akan Ignacia lewati dengan motornya. Athira tidak ingin merepotkan kakaknya yang datang sendirian. Ketika melihat keberadaan si kakak, Athira langsung berlari ke arahnya. "Akhirnya kakak sampai juga. Aku tidak menyangka kakak bisa berkendara sejauh ini sendirian."
Kakaknya melepas helm ya ia pakai, mengibaskan rambutnya seperti wanita cantik dalam film. Ditatapnya di adik dengan tatapan dibuat-buat lalu berkata, "Memangnya apa yang tidak bisa kakakmu lakukan? Kakakmu ini serba bisa, Athira." Si adik melayangkan tatapan tidak suka. Kakaknya terlalu berlebihan karena berhasil sampai di kota ini.
Athira melipat kedua tangan di depan dada, menunjukkan senyum aneh sebelum membalas ucapan kakaknya. "Kakak tidak bisa bilang pada Kak Rajendra jika Kakak kesepian dan membutuhkan pesan Kak Rajendra agar tidak bersedih lagi. Apa aku salah?" Dan ya, Athira berhasil membuat kakaknya menyadari hal itu.
Ignacia lelah setelah perjalanan jauh, jadi dia membiarkan Athira yang menyetir. Layaknya pemandu wisata, si adik akan menjelaskan tempat-tempat yang mereka lewati. Contohnya kosan yang ia tempati, jalan pintas menuju universitasnya, tempat dia membeli peralatan untuk kuliah, dan lain-lain sebagainya. Ignacia hanya perlu mendengarkan dan mengangguk-angguk paham saja.
Kota ini sama luasnya dengan kota Ignacia. Hanya saja pembedanya adalah tempat ini tidak sesejuk kotanya. Dan jalan disini masih asing seperti saat Ignacia baru menjadi mahasiswa. Ignacia sempat melihat asrama ketika memutari universitas adiknya. Athira enggan masuk kesana karena adanya jam makan juga larangan untuk memasak makanan berat.
Aneh memang larangan yang kedua itu. Mungkin maksudnya agar dapurnya tidak kotor. Siapa yang akan membereskannya jika ada banyak yang membuat makanan dari sana. Juga asrama disini berbeda dengan asrama kakaknya yang setiap orang punya satu ruangan. Asrama disini wajib diisi tiga atau empat orang untuk asrama perempuan. Athira enggan berbagi ruangan dengan orang asing.
Berjalan-jalan sampai siang tidak membuat Ignacia lelah. Tentu saja sedari tadi ia hanya duduk di belakang sambil melihat pemandangan. Tangan Athira yang lelah mengatur kecepatan. Jadinya setiap ada waktu untuk berhenti, dia mengibaskan tangan untuk mengurangi rasa pegal. Sesekalo juga mengecek keadaan kakaknya yang tanpa suara.
"Tidak ada cerita seru di rumah? Mama dan ayah tidak mengatakan sesuatu soal rumah saat berkunjung. Apa semuanya baik-baik saja?" Athira bertanya. Kebetulan mereka berada di lampu merah yang kesekian. Masih ada beberapa tempat yang ingin Athira tunjukkan sekalian mencari makan siang. Waktu berjalan cukup cepat ketika sedang berkendara santai.
"Nanti akan aku ceritakan saat makan. Kau tahu seharusnya kita membeli beberapa jajanan yang bisa dimakan sambil berkendara. Sejak tadi kita melewati beragam makanan padahal." Rupanya keheningan dari kakaknya ini berasal dari rasa lapar. Athira mana tahu jika kakaknya ingin makan sesuatu jika tidak mengatakannya lebih dulu. Athira berpikir jika berkencan dengan kakaknya pasti sesuatu yang berat bagi Rajendra.
Motor kakaknya kembali melaju, membela kepadatan jalan raya yang ramai. Mungkin Athira harus langsung menuju ke tempat makan saja daripada kakaknya pingsan nanti. Juga ia penasaran dengan cerita yang katanya kakaknya katakan nanti. Sampailah keduanya di blok yang memiliki banyak jenis makanan. Jangan tanyakan kelengkapannya, hampir semua macam makanan ada disini. Konsepnya memang begitu di tempat ini.
Ignacia malas memilih, jadi ia ikut saja kemana Athira ingin membawanya. Ada tempat olahan mi yang tidak mungkin ditolak oleh semua orang. Tempat paling ramai namun pelayanannya cepat dan meja makannya banyak. Kebetulan belum banyak yang terisi, jadi Athira meminta kakaknya menunggu selagi ia memesan. Hal yang seharusnya dilakukan oleh yang lebih tua seakan tidak berlaku lagi bagi kakak beradik ini.
Makanan akan datang sebentar lagi. Athira duduk manis menghadap kakaknya. Sementara yang di tatap seolah sedang menunggu sesuatu di ponselnya. Athira mengira itu adalah pesan dari Rajendra. Siapa lagi yang akan ditunggu kakaknya selain si pujaan hati? Tidak ada yang bisa mengguncang seisi dunia kakaknya sleiaj laki-laki itu.
"Jadi apa cerita yang akan kakak ceritakan padaku?" Athira sabar menunggu hingga kakaknya mematikan layar ponselnya sementara. "Kakak bilang akan mengatakannya ketika makan. Sekarang makanannya tengah di proses. Mau ceritakan sekarang saja?" Tambah gadis di hadapan Ignacia itu.
Ignacia memberitahu soal penantiannya tentang lamaran pekerjaan yang masih belum dibalas. Ignacia mulai bimbang apakah dirinya gagal. Nesya sudah mendapatkan surat penerimaan, sementara dirinya belum. Pasti ini bagian dari penerimaannya. Menunggu dengan sabar. Rupanya kali ini bukan Rajendra yang tengah ditunggu kakaknya.
Disana kakaknya menjelaskan bagaimana dirinya bisa tahu soal pekerjaan ini dan respon orang tuanya. Ignacia juga membahas soal keinginan ayahnya yang meminta dirinya untuk menggunakan keahlian diperoleh dari kuliah. Hingga makanan datang, keduanya masih membahas soal itu. Rupanya ada banyak yang ingin Ignacia keluhkan selain penantian.
Ada keheningan ketika keduanya sedang mencoba beberapa makanan pendamping. Lalu Ignacia menghentikannya dengan sebuah informasi lain. "Ayah tahu jika aku berkencan dengan Rajendra karena Rafka." Dan Athira berhasil hampir menelan potongan makanan di dalam mulutnya. Dia terbatuk, cepat-cepat meraih air untuk melegakan tenggorokan.
Tentu saja Athira penasaran dengan kejelasan cerita kakaknya. Bagaimana bisa kakaknya baru ketahuan setelah bertahun-tahun berkencan? Dan bagaimana bisa Rafka yang memberitahu ayahnya? Athira khawatir. Air wajah kakaknya tidak berubah bahagia. Justru terlihat makin murung. Bahkan makanan di hadapannya tidak merubah apapun.
Mulailah Ignacia menceritakan bagaimana awalnya. Jika saja keduanya tidak buru-buru keluar, Ignacia tidak akan mendapatkan pertanyaan dari ayahnya. Athira menutup mulutnya tidak percaya. Kakaknya akhirnya didapati berkencan dengan seseorang meksipun tidak lewat mata kepala ayahnya sendiri. Tapi beruntung ayahnya tidak marah.
"Lalu apa yang ayah katakan pada kakak?"
Ignacia masih belum bercerita sampai sana. Athia menunggu dengan cemas. Beberapa detik setelahnya si kakak baru menjawab. Sesuai dengan apa yang ia dengar. "Ayah bertanya apakah Rajendra benar akan menikahi ku dan bukan hanya bermain-main. Kami belum pernah membahas soal itu, jadi aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya yakin jika Rajendra akan menikahi ku apapun yang terjadi."
Athira bisa melihat keyakinan di wajah kakaknya. Air wajah murung seakan sedikit terangkat. Athira juga sama yakinnya dengan sang kakak. Selama ini Rajendra memperlakukan kakaknya dengan baik, menjaga perasaan kakaknya sebisa mungkin. Athira juga tahu jika Rajendra lebih sering memberikan waktu pulangnya pada sang kakak dari cerita mamanya. Rajendra sudah semakin baik.
"Kakak coba bahas saja dengan Kak Rajendra. Kita tidak tahu kapan Kak Rajendra akan melamar kakak jika tidak ada yang memulainya." Ide Athira bagus, hanya saja Ignacia tidak bisa melakukannya. Mungkin menunggu setelah ia punya keinginan untuk membahas lebih dulu. Atau menunggu Rajendra tidak membicarakannya di beberapa pertemuan mendatang.
Sesuatu yang muncul di ponsel membuat mata Ignacia membelalak. Athira tentu langsung bertanya, namun tidak kunjung mendapatkan jawaban dari sang kakak. Beberapa kali ditanya kakaknya masih tidak menjawab. Tangan kakaknya gemetar, kebahagiaan terpancar sangat terang dari wajah yang semula kusut itu.
Athira meraih ponsel yang coba kakaknya tunjukan. Si adik tersenyum bahagia lantas memeluk kakaknya. "Kakak berhasil. Selamat kak. Ayah dan mama harus tahu soal ini." Ignacia tidak berteriak bahagia. Ia justru menangis dalam pelukan adiknya. Keduanya begitu tenang tanpa suara, tidak ada yang memperhatikan luapan emosi si gadis berambut terurai.
Sekolah itu menerima lamaran pekerjaan Ignacia. Gadis ini bisa mulai bekerja pekan depan. Ia masih belum bisa mengatakan apapun saking senangnya. Seolah mulutnya tidak punya kuasa untuk bersuara lagi. Karenanya Athira yang harus menghubungi orang tuanya mengenai kabar baik ini sementara kakaknya pergi ke toilet. Riasan di wajahnya perlu diperbaki.
Ayah dan mamanya tentu sangat bahagia. Akhirnya anak mereka akan mulai menghasilkan uang setelah lulus. Sesuai janjinya Ignacia juga akan mengambil dua pekerjaan sekaligus. Pekerjaan di perpustakaan dan sebagai Proofreader. Athira diminta menyampaikan perasaan bangga kedua orangtuanya pada si kakak setelah kembali.
Sebelum panggilan berakhir, Athira ingin menanyakan sesuatu pada mamanya. Karenanya ayahnya yang ikut dalam panggilan sejak tadi menepi sebentar. Athira ingin memastikan cerita kakaknya. Memastikan ayahnya tidak mengatakan sesuatu yang bisa menyakiti hati kakaknya. Cerita Ignacia sesuai dengan ucapan mamanya. Kakaknya tidak menutupi apapun.
Athira buru-buru mengakhiri panggilan ketika kakaknya kembali. Ia tidak boleh tampak meragukan cerita kakaknya. Ignacia mendekati meja tempat adiknya duduk dengan wajah segar. "Setelah ini kita akan jalan-jalan kemana? Energiku sudah terisi lagi. Aku yakin bisa jalan-jalan lebih lama setelah ini." Ignacia sengaja menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, kakaknya tampak sangat bangga.
Di tempat parkir, Ignacia mendapatkan pesan dari Rajendra. Si laki-laki menanyakan apakah kekasihnya ini sudah makan. Rajendra tentu tahu jika Ignacia ada di luar kota untuk menemui adiknya. Jadi ia ingin memastikan Ignacia sudah makan di tengah-tengah kesenangannya. Ignacia memeluk helmnya sebentar untuk membalas pesan Rajendra.
"Tunggu sebentar, aku ingin menyampaikan berita ini pada Rajendra juga." Ignacia membawa ponselnya menjauh beberapa langkah. Ia sambungkan ponselnya dengan panggilan suara dengan si kekasih. Rajendra masih berada di dalam ruang obrolan, jadinya panggilannya bisa langsung tersambung. Adiknya bisa menunggu agar kakaknya tidak perlu membalas pesan di atas motor yang melaju.
Lihatlah wajah yang berseri-seri itu tersenyum. Sudut bibir kakaknya seakan tidak lelah terus terangkat. Sepanjang obrolan yang berlangsung kurang lebih lima menit itu Ignacia terus menahan senyum padahal Rajendra tidak bisa melihatnya. Entah bagaimana bahagianya si kakak jika Rajendra juga ada disini, menyaksikan dirinya yang sangat bahagia.
Sekembalinya sang kakak, ia memberitahu adiknya jika Rajendra sangat bangga pada Ignacia. Rajendra tidak percaya jika kekasihnya ini bisa menyimpan rahasia yang besar. Tapi tidak apa, Rajendra tidak akan marah. Kejutan yang Ignacia berikan berhasil membuat Rajendra berdiri dari kursi makan. Perut yang tadinya terus berbunyi karena lapar sudah tidak terdengar.
"Sekali lagi selamat, Ignacia. Jika kita bertemu lagi, apa ada tempat yang ingin kamu datangi? Akan aku kabulkan karena kamu berhasil mendapatkan pekerjaan. Kita harus rayakan agar kamu semangat bekerja." Tawaran Rajendra terdengar menarik. Ignacia berpikir sebentar. Kesempatan ini tidak boleh terlewat.
"Bagaimana jika aku hubungi lagi nanti? Akan kuberitahu setelah menemukan keinginan yang sesuai." Tidak ada yang Ignacia inginkan sebenarnya. Jika ia menolak, pertemuan keduanya bisa saja tidak akan segera datang. "Aku senang kamu meluangkan waktu untuk menjawab teleponku, Rajendra."
Perasaan Ignacia saja atau langit terasa lebih cerah? Cakrawala yang tadinya menyimpan beberapa gumpalan awan kini sudah lebih sedikit. Anginnya menjadi lebih sejuk disertai suara gesekan daun di atas pohon. Jika saja ada pelangi, semesta jadi seolah turut bahagia atas keberhasilan Ignacia.
"Aku sangat bahagia hari ini, Athira. Aku bisa berjalan-jalan di kota yang belum aku kenal, mendapatkan pekerjaan, dan mendengar kekasihku sangat bangga padaku. Apa yang bisa lebih baik dari ini?" Ignacia melepaskan pegangannya pada adiknya. Ia angkat kedua tangannya seakan mengajak tos angin yang keduanya lewati.
Athira terkekeh kecil, kakaknya mirip gadis kecil ketika mendapatkan hadiah. Kakaknya pantas merayakan keberhasilannya sesuka hati. Bahkan jika kakaknya ingin diberikan balon untuk merayakan hari ini, Athira bisa membawa kakaknya mencari itu. Tapi untuk saat ini kakaknya harus kembali berpegangan agar tetap aman.
Acara jalan-jalan terus berlanjut. Athira membawa kakaknya menuju sisi lain kota. Ada taman cantik yang bisa membuat hari kakaknya menjadi lebih bahagia. Ada beberapa pohon yang bisa menghalau panas. Keduanya tidak perlu khawatir akan tersengat matahari siang hari. Menghabiskan beberapa lama disana hingga kakaknya harus pulang bukan sesuatu yang buruk.
Langkah Ignacia berubah sangat ringan. Tampak seolah berloncatan malah. Ada senyuman manis yang seolah terukir permanen di wajah si kakak. Tidak ada yang membuatnya turun untuk sementara ini. Athira berjalan dengan tenang di sebelah kakaknya. Ia mengedarkan pandangan, mencari tempat yang bisa keduanya tempat sementara hingga waktu berlalu.
"Kak, ayo duduk disana."
Athira mengajak kakaknya duduk ke sebuah bangku di bawah pohon besar, ia gandeng agar lebih cepat. Ignacia mendahului adiknya, ia lepaskan gandengan Athira segera lalu duduk di bangku yang ditunjuk tadi. Tidak ada yang sedang berkompetisi namun kakaknya ingin sampai lebih dulu. Ignacia terkekeh, "Aku sampai lebih dulu."
"Kakak terlampau bahagia," balas Athira lalu ikut duduk di samping kakaknya. Belum juga Athira benar-benar duduk, Ignacia sudah ingin bersandar pada adiknya. "Kakak ini sedang apa?" Protesnya tidak didengar oleh si kakak. Ignacia sudah menaikkan kakinya ke tempat tangan tanpa menyadari posisi tidak nyaman adiknya.
Athira tidak peduli, percuma berbicara dengan kakaknya jika terlalu bahagia. Jadilah ia memperbaiki posisi duduknya tanpa membuat kakaknya terjatuh. Wajah kakaknya mendongak ke atas, matanya tertutup dengan senyuman yang sama.