Beautiful Monster

Beautiful Monster
Kenangan Buruk



"Ibu hanya menyukai Rajendra! Apa Ibu tidak lihat jika aku selalu berusaha untuk membanggakan Ibu? Kenapa hanya Rajendra yang mendapatkan pujian tulus?! Kenapa hanya Ayah yang mencintai aku?! Aku benci pada Ibu!" Suara seorang gadis muda itu bak Sambaran petir bagi semua yang mendengarkan, terutama ibu yang sedang ia ajak bicara. Gadis muda itu sungguh kecewa. Menilai ibunya kurang adil memperlakukan dia dan adik bungsunya.


Sementara suasana semakin memanas, ada seorang ayah paruh baya yang akan menenangkan anak gadisnya. Belum juga bahunya disentuh oleh sang ayah, si anak sudah lebih dulu memeluk sang ayah. Dia sangat membenci ibunya malam ini. Dia sudah mengusahakan yang terbaik. Bukan hanya Rajendra yang berusaha keras untuk membuat orang tuanya bangga. Amira juga!


Amira sudah berusaha masuk ke sekolah menengah atas yang orang tuanya harapkan. Sayangnya ada anak yang lebih baik untuk masuk. Amira menangis sesenggukan. Dia kesal karena Ibunya seolah lebih menyayangi Rajendra yang mengundurkan diri dari tawaran bersekolah di luar kota untuk sekolah menengah pertamanya. Rajendra dipeluk dan sangat disayangi, sementara dirinya hanya diminta untuk bersabar.


Konteksnya memang berbeda, tapi Amira tetap saja sakit hati. Perhatian ibunya terhadap si anak bungsu membuat Amira kelewat kesal. Sudah lama ia pendam semua rasa cemburu terhadap adiknya. Amira juga ingin mendapatkan perhatian ibunya. Bukan hanya Rajendra yang butuh ibunya.


"Ibu hanya memikirkan Rajendra. Ibu tidak pernah sayang padaku! Selalu Rajendra yang bisa mendapatkan semua perhatian Ibu. Aku tidak menyukai Ibu! Aku sangat benci." Amira terus menangis, bahunya bergetar. Suara isakannya terdengar sangat tersiksa. Gadis muda ini pasti merasa sangat terluka.


Selama ini hanya ayahnya yang tahu jika Amira tidak menyukai hubungan ibunya dengan Rajendra. Meskipun sudah sebesar ini, Amira masih saja berharap ibunya memperlakukan dirinya sebaik Rajendra. Ayahnya membawa Amira ke dalam kamar anaknya. Memisahkan dengan istrinya yang tampak sangat tertekan. Anak perempuannya berkata jika ia membenci ibunya. Ibu mana yang tidak terluka mendengar itu?


Wanita di tengah ruangan itu merasa lemas. Gafar yang kebetulan berada di dekat wanita itu sampai berlari agar sang ibu tidak jatuh. Wanita muda ini menangis sambil menahan isakan. Gafar memeluk ibunya, berupaya memberikan dukungan. Bagaimana dengan Rajendra? Anak yang sejak tadi disebut-sebut oleh kakaknya.


Anak itu masih bersembunyi di balik pintu kamarnya. Melihat dengan jelas tangisan menyakitkan ibunya dan suara isakan sang kakak dari ruangan lain. Kondisi rumah hari ini sangat berat bagi semuanya. Rajendra kecil merasa kesakitan. Setiap butiran air yang jatuh dari pelupuk mata sang ibu bagaikan ratusan pisau yang menyayat hati.


Rajendra teramat sangat menyayangi ibunya. Manusia manapun tidak boleh menyakiti wanita yang sudah melahirkannya bertahun-tahun lalu. Rajendra masih terlalu kecil, yang ia tangkap hanya ibunya harus dapat jauhkan dari semua ucapan buruk kakaknya. Rajendra akan membuat ibunya bangga dan lupa dengan semua sakit hatinya.


Gafar mendapati sepasang mata yang tengah menatapnya dari kejauhan. Ia memberikan kode untuk membantu ibunya pulih kembali. Rajendra kecil takut-takut untuk keluar dari tempat persembunyian. Dirinya yang membuat ibunya merasa kesakitan. Bagaimana jika kakak perempuannya kembali dan membuat keadaan semakin menegangkan?


Kakak laki-lakinya meyakinkan agar Rajendra tidak takut dan membantunya menenangkan sang ibu. Suaminya tengah menenangkan anak pertamanya, dan tugas anak laki-laki adalah menjaga ibunya sementara. Akhirnya Rajendra keluar, langsung berlari memeluk ibunya dari sisi lain. Rajendra tidak boleh ikut menangis meksipun hatinya sudah tersayat.


Ini bukan yang pertama kali bagi Rajendra melihat ibunya menangis karena tingkah kakaknya. Amira gagal dalam ujian masuknya dan menangis lama di kamarnya. Di ruangan lain, ibunya juga ikut menangis karena tidak bisa menenangkan anak pertamanya. Semua motivasi dan harapan agar Amira menerima takdir ini sudah diberikan. Namun tak ada satu pun yang berhasil memenangkan.


Begitu ayahnya pulang kerja, Amira keluar dari kamar hanya untuk memeluk ayahnya dan mengadu. Sang ibu merasa tersisihkan. Amira seolah tidak menganggap semua dukungan yang ibunya berikan. Ibunya juga sadar jika keberadaan sang suami lebih membantu daripada dirinya di mata Amira. Rajendra menemani ibunya bersedih pada malam hari ketika sang ayah memilih tidur dengan kakaknya.


"Kak Amira sekarang sedang sangat sedih, jadi ayah harap kamu bisa menemani ibu malam ini." Rajendra tidak akan menolak permintaan ayahnya. Tidur dengan ibu selalu yang terbaik. Rajendra bisa dengan leluasa memeluk ibunya sampai keesokan paginya. Namun bukannya tertidur, ibunya malah pergi meninggalkan Rajendra di kamar orang tuanya sendirian.


Ketika di cari, rupanya sang ibu tengah menemui suaminya di kamar lain. Amira sudah tidur, jadi keduanya mengobrol. Rajendra tidak paham dengan pembicaraan orang tuanya. Yang ia lihat hanya tak lama setelah ayahnya bicara, istrinya menangis pelan. Ibunya pasti punya hati selembut kapas hingga mudah merasa sedih.


"Aku sedih melihat Amira menangis. Aku sudah mengusahakan untuk jadi ibu terbaik, tapi rasanya kurang cukup. Aku pasti terlalu sibuk mengurus Gafar dan Rajendra hingga tidak punya banyak perhatian untuk Amira." Wanita itu menatap Amira iba. Anak gadisnya ini adalah anak baik.


Rajendra urung tidur di kamar ibunya. Ia kembali ke kamarnya bersama sang kakak laki-laki. Rajendra masih terlalu kecil. Ia tidak bisa tidur sendirian. Bayangan ibu dan kakaknya selalu terputar di kepala Rajendra. Pikiran untuk memisahkan kakaknya dengan sang ibu tumbuh mulai malam itu.


Banyak hal Rajendra lakukan untuk mengambil perhatian ibunya agar tidak sedih. Ia belajar dengan keras hingga mendapatkan rekomendasi diluar kota. Sayangnya harus Rajendra tolak meksipun sangat bahagia. Setelah dipikir-pikir, ia masih belum dewasa untuk pergi jauh dari rumah. Dan jika dirinya pergi jauh, bagaimana dengan nasib ibunya di rumah? Rajendra akan khawatir dengan kondisi sang ibu nantinya.


"Ibu, aku berhasil masuk ke kelas unggulan." Rajendra muncul di hadapan ibunya dengan rasa bangga. Pembagian kelas di hari pertama menuju kelas delapan tadi membuat Rajendra benar-benar bahagia. Apalagi dengan kehadiran seseorang yang menarik minatnya dalam pandangan pertama. "Aku bertemu dengan perempuan yang sangat cantik juga, Bu."


Ibunya langsung menangkap sinyal anaknya. Ada yang sedang jatuh cinta. Untuk pertama kalinya anak laki-lakinya tertarik dengan seorang gadis. Biasanya Rajendra hanya melihat gadis cantik dengan tatapan biasa saja. Sepertinya gadis ini berbeda dengan perempuan lain yang pernah ia temui. "Bagaimana gadis ini? Apakah dia baik?"


Gadis ini baik, namun sedikit pemalu. Ia punya sifat yang tenang dan mudah gugup. Itu yang Rajendra tangkap ketika beberapa teman perempuan mendatangi gadis ini untuk mengajak berkenalan. Dia hanya dekat dengan dua orang teman saja di kelas. Mungkin karena masih baru. Juga kebanyakan orang yang ada di kelas adalah teman Rajendra sendiri dari kelas sebelumnya.


"Lalu kamu ingin mencoba untuk mendekati gadis ini? Kapan-kapan kenalkan pada Ibu jika kalian sudah berteman baik. Nanti kita mengobrol sambil makan camilan."


Amira kebetulan tengah berlalu untuk mengambil minuman dingin di kulkas. Tadinya ia kira dapur tengah kosong. Rupanya ada dua manusia yang saling berbagi senyuman. Sungguh memuakkan melihat mereka bersama. Amira berharap bisa cepat menikah dan pergi jauh darisini.


Gadis itu hanya berjalan seolah tidak melihat apa-apa. Bahkan ketika ibunya mencoba untuk basa-basi saja Amira seolah tidak dengar. Rajendra kesal sekali melihat kakaknya itu. Ibunya jadi sedih lagi. Meksipun sudah lama berlalu, tapi sikapnya masih sama saja. Jika tidak ingin bertemu dengan ibu, seharusnya dia pergi sejauh mungkin.


Setelah kepergian Amira, sang ayah datang ke dapur. "Apa yang kalian obrolkan sejak tadi hm? Kelihatannya seru sekali." Pria paruh baya ini jelas tahu jika sedari tadi istri dan anak bungsunya terus duduk disini ditemani teh. Ibu Rajendra berencara mengatakan sedikit cerita Rajendra nanti malam. Agar anak laki-lakinya tidak mendengarkan.


Suaminya terkekeh pelan, rupanya anaknya sedang jatuh cinta. Ikut penasaran juga bagaimana gadis cantik yang anaknya sebutkan. Beberapa kali setelahnya Rajendra menunjukkan foto gadis yang ia sukai pada kedua orangtuanya. Keduanya langsung mengizinkan Rajendra jika ingin berkencan dengan gadis ini. Alasannya karena gadis ini cantik, jadi tidak masalah.


Rajendra tidak mengira respon positif juga singkat orang tuanya. Ketika ditanya kenapa mereka setuju secepat itu, ibunya hanya menjawab jika Rajendra menyukai gadis itu tentu mereka akan mengizinkan. Tidak ada alasan untuk melarang keinginan seorang anak terhadap sesuatu. Ibunya membebaskan anak-anaknya. Lakukan sesuka mereka.


Kabar baik sekali lagi datang. Rajendra berhasil mendekati gadis yang ia sukai. Ignacia, gadis itu menerima perasaan anak laki-lakinya semalam. Segera Rajendra menunjukkan foto Ignacia yang sudah berfoto dengannya pagi ini. Gadis ini sedikit lebih pendek dari Rajendra, keduanya tidak punya tinggi yang jauh berbeda. Anak yang menggemaskan.


"Karena kalian sekarang sudah punya hubungan, perlakuan Ignacia dengan baik. Tidak boleh membentak apalagi memukul ketika bertengkar, mengerti?" Tentu saja mereka masih anak-anak yang baru beranjak dewasa. Hanya saja lebih baik menanamkan pesan yang harus diikuti setiap manusia ketika menjalani hubungan. Kesal bukan berarti bisa menyerang secara fisik. Rajendra mengangguk, dia jelas mengerti.


Sekali lagi Amira harus mendapati perhatian ibunya hanya pada Rajendra. Gadis ini bersembunyi dari balik dinding, menyembunyikan kepulangannya dari toko. Sudahlah, Amira menyerah. Setidaknya ia masih punya sang ayah yang akan membuatnya merasa lebih baik. Biarkan saja Rajendra dekat-dekat dengan ibunya. Amira sudah tidak peduli.


Kenapa kehidupan Rajendra selalu tampak lebih hangat dari dirinya? Beberapa kali Amira berpikir kenapa seakan hanya Rajendra yang mendapatkan semua kebahagiaan ini. Tidakkah dirinya juga perlu disayangi oleh ibunya? Amira berpikir jika dirinya terlalu emosional jika dekat dengan ibunya. Terlebih lagi hati ibunya mudah terluka.


Malam harinya Amira menemui ayahnya yang duduk sendirian di rumah tamu. Mengobrol tentang harinya dan rasa penasaran yang selalu menghantui. "Kenapa ibu selalu tampak lebih menyayangi Rajendra daripada aku? Padahal aku adalah anak pertama yang Ibu lahirkan." Jauh di dalam dirinya, Amira menyayangi ibunya. Bahkan ia memikirkan pertanyaan ini.


"Ibu bukan hanya sayang pada Rajendra. Kamu mungkin menganggapnya berbeda, padahal sejujurnya kasih sayang yang diberikan orang tua pada setiap anaknya pasti sama-sama besar. Kamu jangan khawatir. Jika kamu membutuhkan kasih sayang lebih, kamu bisa menemui ayah kapanpun."


Bahkan Amira mendapatkan pelukan hangat dari ayahnya seperti yang ibunya berikan untuk Rajendra. Ayah muda ini mengelus surai lembut anaknya, berikan beberapa pengertian soal anak yang lebih muda. Rajendra masih kecil, dia butuh banyak bantuan karena masih belum sebesar Amira. Amira bukannya tidak disayang, hanya saja ia dinilai terlalu mandiri hingga ibunya bingung harus mendekati Amira dengan cara apa.


Ketika Amira sudah akan menikah dengan Qabil, kebebasan seolah sudah menanti. Bagaimana tidak? Qabil memberikan beberapa saran tempat keduanya akan tinggal setelah acara pernikahan. Ada tempat yang sedikit dekat dari rumah ini dan ada yang jauh namun memiliki suasana yang damai. Qabil sendiri sudah mengajak Amira kesana. Dan tentu saja yang dipilih adalah tempat yang jauh.


Ibu Amira ingin menolak, rasanya aneh jika berjauhan dengan anaknya. Usia ibu dan ayahnya juga tidak lagi muda. Akan sulit menemui anaknya jika Gafar dan Rajendra tidak bisa mengantarkan. "Bagaimana jika kamu pilih tempat yang dekat saja? Nanti jika ada sesuatu, biar Ibu bantu." Senyuman kemenangan terukir samar di wajah Amira. Jadi dia berhasil menarik perhatian ibunya sekarang?


"Tidak, aku akan tetap memilih rumah kedua agar bisa jauh dari Ibu. Aku tidak membutuhkan bantuan apapun. Aku sudah punya Qabil di sisiku." Amira lalu beranjak dari tempat duduk. Langsung menuju kamar untuk beristirahat. Benar-benar wanita ini akhirnya berhasil keluar dari tempat ini. Selamat tinggal pemandangan tidak menyenangkan.


Di tempat duduknya, Rajendra mendapati ibunya terduduk dengan tatapan seolah penuh pikiran. Rajendra sedikit mendengar soal permintaan soal rumah. Orang tua memang seharusnya membiarkan anaknya mengurus rumahnya sendiri jika sudah menikah. Ibunya sudah menyiapkan diri padahal. Tapi kenapa sekarang rasanya tidak benar?


Rajendra berjalan mendekati ibunya, membawakan segelas teh. Ada cerita soal Ignacia yang ingin Rajendra sampaikan, jadi ia biarkan suguhan agar ibunya mau mendengarkan hingga selesai. Kemunculan Rajendra membuat ibunya menunjukkan senyum. Ada perasaan yang coba ibunya sembunyikan.


"Terima kasih," Ibunya menerima segelas tes yang diberikan.


Rajendra mengambil tempat di samping ibunya. "Ibu, jika aku mengajak Ignacia datang kemari, aku tidak ingin dia bertemu dengan kakak. Aku takut Ignacia tidak nyaman. Jadi biarkan saja kakak pergi jauh, agar aku bisa leluasa membawa kekasihku kemari. Aku ingin Ignacia bertemu dengan Ayah dan Ibu saja."


Ada perasaan lain yang tidak sengaja lolos dari tatapan ibunya pada Rajendra. "Kakakmu itu adalah anak baik, Ignacia pasti akan senang bertemu dengannya juga."


"Tidak, aku tidak ingin Ignacia bertemu dengan kakak."