Beautiful Monster

Beautiful Monster
Kabar Baik



Indri menangis, memeluk Maharani tanpa bisa mengendalikan emosi. Perasaan bahagia membuatnya menolak percaya bahwa dirinya berhasil. Hanasta sampai harus menunjukkan bukti bahwa Indri benar-benar lulus. Suara tepuk tangan dan selamat teman-temannya ucapkan pada si gadis pemalu.


"Kau tidak bilang jika masih menunggu hasil sidang. Kukira kita semua sudah akan diwisuda," ucap Widia sambil meminum es miliknya. "Kami tunggu kabar wisudamu, Indri. Jangan lupa mengundang kami semua."


Gadis yang tengah di ajak bicara masih belum kembali normal sepenuhnya. Rambutnya sampai berantakan disertai wajah yang basah. Maharani harus ekstra sabar hingga Indri mengendalikan diri. Tatapan senang tertuju padanya tanpa diketahui. Kesepuluh teman ini senang bisa bertemu hari ini. Dengan banyak kabar baik dan juga tawa akrab.


Indri izin ke toilet bersama Maharani, memperbaiki wajah yang tidak berseri lagi. "Aku tidak percaya bisa menjadi satu-satunya mahasiswi yang lulus," ungkap Indri, ditatapnya wajah basah di cermin toilet. "Aku bisa memberitahu orang tuaku tanpa merasa khawatir sekarang."


"Kau mengagumkan, Indri." Maharani bersandar pada dinding sebelah kaca, memandangi temannya yang tengah membasuh wajah dengan air. Setidaknya butuh sendikitnya sepuluh menit agar keduanya bisa kembali. Indri harus memakai kembali riasan tipisnya agar tidak terlihat sehabis menangis.


Di sisi lain, meja yang ditinggalkan dua teman tadi menjadi ramai dengan camilan yang kembali datang. Ada banyak camilan yang bisa dicoba jadi mereka berencana membeli semuanya satu-satu. Mereka tidak tahu kapan lagi bisa berkumpul dalam formasi lengkap seperti ini, jadi anggap saja setiap pertemuan ini akan menjadi yang terakhir agar tidak menyesal.


Utari menggeser camilan di depannya agar Ignacia bisa ikut merasakannya juga. Karena sedari tadi temannya ini terlihat agak muram seperti Indri. "Apa ada masalah?" Utari berbisik di tengah ramainya teman-teman yang membahas soal pacar Widia. Utari ingin memastikan temannya ini tidak menyimpan sesuatu yang menyakitkan sendiri.


Ignacia menggeleng, dia hanya merasa rileks. Tangannya kosong, Utari mengira jika Ignacia mungkin lupa membawa ponsel dan berniat untuk meminjamkan miliknya. Si gadis menunjuk tas yang ada di belakangnya sebagai kode. Mana mungkin dia melupakan benda paling berharganya itu. Ignacia hanya ingin menikmati waktu tanpa memegang ponsel.


"Bagaimana jika bermain truth or dare lagi?" Ignacia menoleh pada Hanasta yang mengusulkan sebuah permainan. Langsung saja Widia menatap tajam, menyilangkan kedua tangan membuat huruf X besar tanpa menolakan. Dia menolak jika botol yang digunakan rusak lagi atau teman-temannya memberikan tantangan yang sulit seperti terakhir kali.


Sekembalinya Maharani juga Indri, Hanasta yang berada di sebelah keduanya langsung menawarkan sepiring camilan. Berniat mengisi energi Indri yang sempat menguap sehabis menangis. Hidungnya masih memerah, matanya sedikit sembab. Make up tipisnya tidak begitu berpengaruh. Jadi mungkin camilan bisa membantu.


"Dianti, bagaimana pekerjaanmu menjadi resepsionis hotel?" Aruna tiba-tiba penasaran. Mereka dekat namun jarang berbagi kabar. "Pekerjaan paruh waktumu juga, apa ada sesuatu yang menarik?" Si teman menyandarkan tubuh pada kursi, menoleh sepenuhnya pada yang ditanyai.


"Tidak ada yang menarik. Aku berencana untuk berhenti dari pekerjaanku di hotel." Aruna memperbaiki posisi duduknya, tatapan matanya seolah bertanya kenapa Dianti harus berhenti dari pekerjaan yang menjanjikan itu. "Pernah satu hari aku melayani seorang pria yang tengah mabuk. Orang itu memakiku dengan ucapan buruk karena tidak bisa memberikan kamar yang biasa ia pesan. Orang lain lebih dahulu memilikinya."


Dianti tersebut kaku, perasannya hancur karena tidak hanya sekali pria itu datang dan memakinya. Kadang ketika tidak sedang mabuk pun pria itu mengucapkan kalimat tidak pantas sambil membawa seorang gadis yang berbeda-beda. Kabarnya orang itu punya kekuasaan besar hingga pihak hotel hanya bisa memberikan apa yang dia mau agar tidak terlibat masalah. Jika berurusan dengan polisi, maka pihak hotel akan bekerja sama dengan pihak berwajib.


Masalahnya sederhana, hanya Dianti saja yang tidak kuat selalu mencium aroma alkohol dan ucapan tidak mengenakkan itu. Aruna benar, pekerjaan di hotel sangat menjanjikan apalagi hotelnya besar dan mewah. Sayangnya Dianti harus menjaga hatinya agar tidak terluka akibat pria tidak tahu malu yang menghamburkan uangnya hanya untuk bersenang-senang dengan gadis j*lang demi kepuasan diri.


Ignacia sedari tadi menyimak pembicaraan kedua temannya. Sama sekali tidak ada niat untuk berkomentar atau memberikan dukungan seperti yang Aruna berikan. Dianti hanya bilang jika dia bosan berada di hotel dan lebih suka berada di kafe pada orang tuanya. Meskipun tidak terdengar jelas apa yang Aruna dan Dianti bahas setelah topik pria tadi, Ignacia masih bisa merasakan rasa tidak nyaman Dianti. Pasti berat untuknya.


Ignacia penasaran pria mana yang tega melakukan hal seperti itu pada gadis malang yang baru ditemuinya beberapa kali. Pria gila mana yang punya kekuasaan tinggi tanpa nurani? Geram sekali Ignacia mengetahui hal itu.


Obrolan antarteman masih berlanjut. Membahas segala topik bersama. Indri yang sedari tadi diam jadi ikut bersuara. Sekarang dia pasti percaya jika pengumuman yang dilihatnya lagi bukan rekayasa. Senyuman beberapa kali mengembang sempurna di wajahnya mendengar guyonan aneh Widia. Kemala hanya kebagian membuat video yang nanti akan dia kirimkan ke grup persahabatan mereka.


Matahari mulai meninggi, hawa dingin yang dibawa pendingin udara masih belum kalah kuat dengan energi luar biasa sang dewa siang. Akibatnya pemilik meja panjang di pojok ruangan ini tidak sadar sudah waktunya untuk pulang. Rananta lupa jika ia hanya bisa menyewa meja ini hingga siang. Namun kesembilan temannya masih enggan untuk pulang. Sudah lama tidak berkumpul jadinya masih ingin bermain bersama.


Selepas makan siang di kafe tadi, kesepuluh teman ini berencana untuk pergi mencari studio foto yang ada di mall. Aruna bilang jika tempat itu baru saja buka sebulan yang lalu. Ada banyak aksesoris yang bisa dipilih selain keuntungan dapat melakukan sesi foto tanpa bantuan siapapun. Dengan begitu para pengunjung bisa bebas berfoto tanpa merasa canggung.


Karena tempatnya baru dibuka, Aruna tidak tahu bahwa tempatnya akan sangat ramai. Ditambah dengan pasukan yang ia bawa, rasanya akan memakan waktu lama. Sambil menunggu, Utari menggandeng lengan Ignacia untuk mengatakan sesuatu. Barusan Ilham mengirimkan pesan, bertanya kenapa Utari kenapa si gadis belum online di permainan hari ini.


Setidaknya ada bahan obrolan yang bisa Ignacia bahas dengan Utari. Gadis bermata bulat ini sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak terlalu bersemangat kala mendapatkan pesan dari Ilham. Pikirnya dengan begitu laki-laki yang dia sukai bisa penasaran padanya. Jika hanya iseng, Ilham tidak perlu sampai memperhatikan kapan Utari akan muncul kan?


"Daripada aku bersikap bodoh seperti dulu, aku ingin melihat apakah Ilham bisa lebih dekat denganku. Kau tahu, mantan kekasihnya itu sempurna di mataku, aku takut mereka kembali bersama dan aku hanya digunakan sebagai objek mengobati rasa bosan." Utari mengambil nafas dalam-dalam lalu dihembuskan perlahan. "Aku siap jika saja Ilham ingin mengajakku berkencan."


Ignacia terkekeh, mengangguki ucapan Utari tanpa tapi. Di depan mereka, Kemala sedang asik menelfon kekasihnya yang bertanya di mana keberadaan sang pujaan hati ini. "Kapan aku bisa mendapatkan panggilan dari Ilham seperti Kemala?" Utari bertanya entah pada siapa. Melihat Kemala yang begitu diperhatikan membuatnya ingin merasakan hal yang sama.


Tiga puluh menit akhirnya berlalu. Kesepuluh teman ini sudah lelah menunggu. Widia dan Hanasta yang memimpin jalan paling depan sudah tidak sabar untuk masuk. Begitu pengunjung sebelumnya keluar, gerombolan anak muda ini langsung ikut menyerbu. Di dalam ruangan terdapat banyak aksesoris penunjang foto yang bisa langsung digunakan.


Ignacia bingung harus memilih apa karena semua yang ada disana tampak lucu. Utari sudah siap dengan bando telinga kucingnya, mendekati Ignacia untuk memberikan penemuannya. Langsung ia kenapa pada si teman tanpa meminta persetujuan. Sebuah kacamata alien Hijau tersemat di atas hidung Ignacia. "Pakai ini saja, haha terlihat cocok untukmu." Utari menggeser temannya untuk melihat kearah kaca.


Tampak mengundang tawa.


Kacamata itu Ignacia lepas sebentar, mengedarkan pandangan mencari aksesoris lain. "Bagaimana jika aku pakai ini?" Ignacia meraih topi berbentuk kepiting besar, menenggelamkan kepalanya ke dalam topi itu hingga hanya terlihat wajahnya. Utari tidak setuju, tetap memakaikan kacamata tadi pada si teman. Wajah Ignacia tidak terlihat sama lagi sekarang.


"Wajahmu tidak terlihat," tegur Kemala. Di tangannya ada ponsel yang dia gunakan untuk membuat video untuk belakang layar foto yang akan diambil. "Gunakan salah satu saja agar wajahmu terlihat, Ignacia." Setelahnya Kemala berlalu, merekam teman lainnya di sisi lain tempat aksesoris.


Ignacia mengalah saja. Ia lepaskan topi kepiting tadi dan hanya memakai kacamata alien. "Ignacia, ini cocok untukmu." Widia muncul, membawa bandana bunga. Katanya bagus dikenakan Ignacia karena serasi dengan rambutnya yang panjang. Tidak serasi dengan kacamata yang ia pakai namun tetap Ignacia pakai saja agar kepalanya tidak kosong.


"Tidak ingin tukar kacamata saja?" Indri bertanya. Di tangannya sudah ada kacamata berbentuk love warna merah mudah pastel. Lebih cocok dengan bandana yang Widia bawakan tadi. Ignacia mengambil kacamata lain yang di sodorkan, nanti akan dia pakai untuk sisa foto lainnya. Jadi tidak ada pilihan temannya yang tidak dipentingkan.


"Kalian sudah selesai? Ayo masuk." Aruna membuka pintu menuju studio foto, disana sudah tersedia alat untuk mengambil gambar dari jauh. "Siapa yang akan melakukannya?" Aruna bertanya setelah pintu kembali ditutup. Yang lainnya meminta Aruna saja yang melakukannya karena dikira lebih tahu. Padahal Aruna juga pertama kali masuk kesini.


Satu menit untuk satu foto, sepuluh foto untuk sepuluh menit. Foto-foto itu nantinya bisa dicetak atau dikirimkan langsung ke email. Berfoto di ruangan yang cukup lenggang bersama sepuluh orang bukan hal yang biasa. Banyak yang harus dilakukan sebelum sepuluh menit sesi foto dimulai. Bergaya apa saja yang penting lucu dan bisa dilihat selamanya, saran Kemala cepat.


Dari banyaknya foto hanya bisa dipilih sepuluh. Butuh beberapa menit untuk memastikan sepuluh foto yang diambil benar-benar bagus. Sayang jika ada salah sedikit. Widia yang paling aktif memeriksa. Ia ingin memamerkannya pada si pacar sesampainya di rumah.


Rananta memberikan akun email miliknya untuk mentransfer foto-foto yang sudah diambil tadi. Sayang sekali mereka datang tanpa persiapan. Mungkin membawa almamater dan seragam kerja bisa menjadi kostum yang bagus. Mungkin foto dengan seragam sedari SMP juga bukan pilihan buruk. Anggap saja selang waktu dari pertama bertemu hingga saat ini.


Ignacia mengirim satu foto pada Rajendra, hitung-hitungan sebagai kabar setelah kebersamaannya dengan teman-teman terbaiknya. Sebagai pembuka obrolan juga untuk kegiatan berkirim pesan mereka. Rajendra membuka foto yang dikirimkan lalu tiba-tiba menelfon. Rasanya aneh tiba-tiba Rajendra melakukan panggilan. Biasanya ketika sibuk dia tidak akan melakukan ini.


"Aku pulang malam ini, apa kamu mau bertemu besok?"


Si gadis yang tadinya setengah tertidur sambil memegang novel di salah satu tangan jadi memperbaiki posisi duduknya. Menjawab dengan lantang, "Tentu saja. Ayo bertemu. Bagaimana jika kita pergi ke tempatku dengan teman-teman pergi tadi? Kamu pasti akan menyukainya."


Rajendra setuju-setuju saja selagi Ignacia merasa nyaman disana. Besok ia akan menjemput menjelang makan siang. Bahan obrolan yang ingin Ignacia sampaikan terpaksa ditunda dahulu untuk besok. Rajendra sedang dalam perjalanan pulang, dia harus mengemas beberapa barang lalu pergi ke stasiun. Tidak ada waktu mengobrol, sebentar lagi juga jam tidur Ignacia.


Panggilan berakhir, ponsel Rajendra tidak aktif.


Buru-buru Ignacia menyegerakan ritual sebelum tidur yang sempat tertunda karena bab novel yang bagus. Besok ia akan bertemu dengan Rajendra, kencan setelah perkenalan dengan orang tua Ignacia tempo hari. Dia bisa bertanya sedikit soal perasaan Rajendra setelah hari itu. Mungkin setelahnya Rajendra mengajaknya bermain di rumah juga.


Satu pesan mengambil ponsel Ignacia tepat sebelum dirinya mematikan data. Pesan dari Rananta, berbunyi dia ingin mengajak Ignacia pergi ke tempat kerja Dianti diam-diam akhir bulan ini. Rananta sudah mengirimkan pesan pada masing-masing temannya tanpa memberitahu Dianti. Sebagai kejutan saja karena Dianti tidak wisuda.


Rananta sudah merencanakan banyak hal sendirian karena takut tiba-tiba bocor pada yang orang yang ingin dia berikan kejutan. Rananta mengaku pada Ignacia jika ia tidak sengaja mendengar cerita yang Dianti sampaikan pada Aruna. Ia bersimpati dan ingin memberikan dukungan.


Ignacia tidak tahu apakah bisa datang. Nanti dia akan menghubungi Rananta lagi beberapa hari sebelum hari keberangkatan. Teman-temannya tidak akan kemana-mana hingga akhir bulan ini kecuali Dianti, nanti mereka akan berangkat bersama-sama ke kota Dianti.


Apa Ignacia sebaiknya menyampaikan kabar ini pada Rajendra besok? Tapi tidak akan jadi kejutan nanti. Ignacia ingin menemui Rajendra melalui Dianti. Mungkin gadis itu tahu dimana kekasih temannya berada. Membuat kejutan untuk si teman dan kekasih di waktu yang sama. Ide bagus.