
Ignacia tidak lagi berjinjit. Gadis itu masih memakan es krimnya dan tidak bicara apapun. Meskipun begitu, dia merutuki dirinya yang mengintip lewat bahu dan menunjukkan wajahnya pada tiga tamu yang datang ini. Hah, seharusnya dia bersembunyi saja. Atau bahkan seharusnya tidak sampai di ruang tamu.
"Ka-Kalian akan mengambil Manila bukan? Kalian ingin masuk sebentar?" Rajendra menawarkan. Tangannya berubah dingin seperti es krim yang dibawanya.
"Tidak, kami akan menunggu di teras saja." Teman laki-laki Rajendra menolak. Jelas ada maksud di balik senyumannya diiringi dengan kedua teman lainnya.
Karena Rajendra sudah menyelesaikan bagiannya, biarkan ketiga teman lainnya yang menambahkan sedikit detail. Mereka akan membawanya ke sekolah Senin besok. Jadinya Rajendra tidak perlu melakukan apapun.
"Ka-Kalau begitu tunggu sebentar," gugup Rajendra.
Ignacia dibawa ke dapur. Menghindari teman-temannya yang mungkin akan bertanya macam-macam. Senang sekali Ignacia saat mendapati dirinya dibawa pergi masuk ke dalam. Dia tidak perlu berhadapan dengan ketiga teman kekasihnya.
"Mereka tidak akan lama kan?" Ignacia bertanya.
"Tidak. Hanya mengambil Manila saja. Kamu tetaplah disini hingga mereka pulang. Aku akan mengambil kertas Manila di kamar." Rajendra menitipkan es krimnya pada Ignacia. Gadis itu masih merasa kebingungan namun menurut saja saat diminta memegang es krim.
Rajendra keluar membawa kertas Manila berwarna biru miliknya. Diberikannya pada ketiga teman yang menunggu dengan obrolan yang sedikit nyeleneh. Namanya juga teman dekat. Bahkan ketika Rajendra muncul, masih ada sedikit percakapan yang mereka lakukan.
"Orang tuamu tidak di rumah Kelihatannya, Rajendra." Ketiga temannya mendapati mobil yang seharusnya ada di garasi menghilang. Suasana rumah yang sangat sunyi dan tenang seakan menjelaskan semuanya.
Rajendra akan menjawab, namun seseorang memotong ucapannya.
"Jadi kalian yang katanya tidak berkencan itu artinya bukan berkencan diluar rumah hm?" Goda seorang teman perempuan. Melihat wajah Rajendra yang sedikit memerah dan salah tingkah membuatnya terus menggoda. "Rupanya mantan ketua MPK kita ini lebih suka berkencan ala rumahan," lanjutnya.
"Rajendra mungkin ingin memastikan Ignacia tetap aman, jadinya mereka berkencan di rumah. Bahkan Rajendra membelikan es krim untuk gadisnya," goda teman lainnya.
"Sudah, kembali masuk saja dan nikmati kencan kalian. Kami akan menjaga rahasia ini dan membiarkan kalian berdua."
Kertas Manila tadi sudah berpindah tangan. Teman laki-laki Rajendra itu mendorong punggung si pemilik rumah untuk kembali masuk ke dalam rumah. Menutup pintunya secara sepihak dan membawa kedua temannya keluar area rumah.
Rajendra bahkan belum mengatakan apapun. Mereka sudah pergi begitu saja. Hah, Rajendra merasa malu sekaligus salah tingkah karena teman-temannya menggoda tadi.
"Kenapa?" Ignacia mengintip dari dinding menuju ruang tamu, di tangannya masih ada dua es krim yang salah satunya kemudian diambil Rajendra.
"Tidak apa-apa. Ayo duduk."
Jantung Ignacia masih berdetak kencang. Sama seperti yang dirasakan Rajendra. Keduanya sibuk menghabiskan es krim tanpa berbicara. Menetralkan detak jantung masing-masing agar tidak terdengar.
"Mereka tidak akan mengatakannya pada siapapun kan? Orang-orang bisa saja salah paham dan menganggapnya dengan negatif." Ignacia tampak khawatir. Mungkin ini alasan kenapa dirinya merasa gugup sejak semalam hingga tidur saja lumayan sulit. Rupanya takdir mempersiapkan Ignacia untuk ini.
"Semoga saja tidak. Aku juga agak khawatir."
...*****...
Berita tersebar entah oleh siapa.
Ignacia hanya mendapati dirinya mendapatkan godaan dari teman-teman perempuan dari kelas Rajendra ketika dia berada diluar kelas. Dan karenanya teman-teman di kelas Ignacia juga ikut menggoda si gadis. Temanya tentu tentang kencan ala rumahan Ignacia dan Rajendra.
...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...
^^^Rajendra, orang-orang kacau |^^^
| Maafkan aku, mereka memang begitu
| Maaf membuatmu digoda seharian
^^^Aku menjadi sedikit takut sekarang |^^^
| Ada apa? Mereka keterlaluan?
^^^Tidak, mereka hanya terus mengangguku |^^^
^^^Aku merasa tidak nyaman dengan itu |^^^
| Aku akan menemuimu nanti
Ignacia lelah menghadapi orang-orang yang terus menganggunya. Jika hanya berupa candaan ringan saja tidak masalah. Tapi mereka justru terus menganggunya ketika Rajendra lewat di depan kelas atau semacamnya. Itu sudah cukup menganggu, meresahkan.
Nesya tidak tahu kenapa orang-orang terus menganggu teman dekatnya, namun yang jelas ada hubungannya dengan Rajendra. Ignacia sengaja tidak bercerita karena dirinya sendiri pun enggan membaginya dengan siapapun meskipun sudah banyak orang yang tahu.
Nesya hanya mengira jika teman-temannya menangkap basah Ignacia dan Rajendra yang pulang sekolah bersama hingga sampai di depan rumah atau semacamnya. Orang-orang tidak menggoda Ignacia dengan jelas hingga hanya itu yang Nesya dapatkan. Dia juga tidak bermaksud mencari kejelasan dari yang bersangkutan.
Ignacia tampak tidak senang.
"Mau?" Nesya menyodorkan permen pada yang duduk di sampingnya. Dari balik novel tebalnya Ignacia menatap. "Makan ini agar tidak cemberut. Orang-orang memang begitu jika ada yang menarik. Jadi pura-pura tidak dengar saja."
"Terima kasih." Ignacia meletakkan bukunya terbalik agar halamannya tidak tertutup. Membuka bungkus permennya dan sampahnya diambil oleh Nesya.
"Duduk saja. Aku juga akan membuang bungkus permen milikku," ucap si gadis berkacamata sambil berjalan menjauh.
Tatapan Ignacia terpaku pada pemandangan diluar. Rasanya dia sudah terlalu lama membuka buku hingga tidak menyadari perubahan cuaca diluar. Sejak pagi mendung dan sekarang sudah cerah saja. Rasanya menyegarkan seperti hujan yang datang di sore hari dengan sinar matahari.
"Oh, dia keluar," gumam Ignacia saat melihat seseorang keluar dari kelas Mipa tiga. Dia seseorang yang mengundang Ignacia untuk belajar namun justru dia gunakan untuk tidur kemarin. Hah, sayangnya Ignacia tidak bisa menjadi lebih baik saat di ajak belajar sambil berkencan.
"Aku merasa sangat buruk. Padamu dan teman-teman yang mengetahui kencan kita."
...*****...
Rajendra menemui Ignacia di kelasnya sepulang sekolah. Sebagian orang sudah meninggalkan kelas karena bel pulang sudah berbunyi sekitar dua puluh menit yang lalu. Di kelas hanya bersisa mereka-mereka yang memiliki tanggungjawab membersihkan kelas. Nesya juga.
"Wah kelasnya menjadi makin panas saja," ucap seorang teman Ignacia yang sedang menyapu. Dia iseng menyindir Ignacia dan kekasihnya yang baru datang. Dengan perginya banyak orang, tidak ada yang mengganggu pasangan di depan kelas.
Ignacia mengecek ponselnya ketika merasakan sesuatu yang bergetar di dalam saku. Rupanya pesan dari seseorang yang berdiri di dekatnya. Sepertinya Ignacia tidak menyadari jika kekasihnya mengetikkan sesuatu di ponselnya tadi.
...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...
| Ayo bertemu nanti malam
| Kamu terlihat lelah
| Bagaimana? Ayo bertemu nanti malam
^^^Dimana? |^^^
| Taman dekat rumahmu?
| Mungkin kamu butuh udara segar
^^^Kenapa harus disana? |^^^
| Agar aku tidak terlambat memulangkan kamu
^^^Tentu, boleh |^^^
"Kalian saling bertukar pesan?" Tegur Nesya yang entah sejak kapan sudah berada di dekat Ignacia. Dia memperbaiki posisi kacamatanya dan masih menatap Ignacia datar. Bukannya mengintip, tapi keduanya terlihat seperti bertukar pesan.
Ignacia hanya menggeleng, pura-pura menekan sesuatu di ponselnya sementara Rajendra baru saja menyimpan ponselnya ke saku. Ignacia tidak ingin berbohong. Hanya tidak ingin berterus terang saja.
Gangguan hari itu tidak hanya sampai disana. Ketika Ignacia, Nesya, dan Rajendra harus berhenti sebentar di dekat perpustakaan untuk membiarkan Nesya mengirimkan pesan pada teman kelas lain, sesuatu terjadi.
Pagar parkiran sudah ditutup karena sudah lewat jam bukanya. Jadinya orang-orang harus melewati jalan di samping perpustakaan kemudian berbelok untuk lewat pagar depan. Cukup banyak orang yang lewat menggunakan sepeda motor. Jadinya Rajendra memastikan Ignacia agar lebih ke pinggir.
Suara klakson terdengar bergantian. Banyak orang yang notabenenya adalah teman sekelas Rajendra yang menyalakan klakson keras-keras ketika akan melewati tempat dimana Ignacia dan Rajendra berada.
Ignacia tahu kenapa mereka melakukannya. Pasti karena ada Rajendra di sekitarnya. Pasti mereka ingin menggoda kekasihnya yang merespon tindakan heboh mereka. Kenapa Rajendra harus merespon mereka?
"Kekanak-kanakan," bisik Ignacia pelan.
...*****...
"Kakak mau pergi kemana?" Rafka bertanya. Matanya fokus dengan ponsel, namun masih bisa melihat pergerakan kakaknya yang mendekati pintu depan dengan pakaian rapi. Kakaknya tidak akan berapi itu jika hanya di dalam rumah.
"Menemui orang sebentar," jawab Ignacia pelan kemudian menutup pintu di belakangnya.
Tepat beberapa detik setelahnya, Athira datang mencari. Dia tahu dari Rafka jika kakaknya pergi untuk menemui seseorang entah dimana. Katanya hanya sebentar. Buru-buru saja Athira akan mengejar. Ada yang ingin dia tanyakan untuk makan malam. Tapi mungkin sebaiknya Athira tidak pergi.
"Jika Kak Ignacia datang, katakan padanya untuk menemuiku di kamar jika ingin makan malam," pesan Athira yang kemudian diangguki oleh adiknya.
...*****...
"Ignacia," seseorang memanggil. Mengangkat satu tangannya untuk memberikan tanda. Taman malam itu memang terang dan ada beberapa anak kecil yang bermain dengan riang.
Ignacia mengubah arah langkahnya, mendekati ayunan kosong yang ada di samping Rajendra. Duduk disana dsn menghembuskan nafas panjang. "Aku lelah dengan orang-orang yang banyak bicara soal hubungan kita. Bukankah hal seperti itu bukan sesuatu yang penting?" Dia mengeluh.
"Maksudku memangnya kenapa jika kita berkencan di rumah? Tidak berkencan saja mereka bicarakan. Dan berkencan di rumah juga mereka bicarakan. Aku tidak suka menjadi bahan pembicaraan orang lain."
Rajendra hanya menyimak, tidak berniat menginterupsi kalimat penuh rasa kesal kekasihnya. Matanya dis tujukan hanya untuk merespon cerita Ignacia.
"Ini alasan kenapa aku selalu ingin menutupi hubungan kita, Rajendra," Ignacia menetap Rajendra dalam, "alasan kenapa aku menutupi fakta bahwa kita pernah berkencan dan pergi berdua. Aku tidak suka ketika orang-orang terlalu heboh dengan apa yang kita lakukan. Ini membuatku tidak nyaman."
"Mungkin jika hanya candaan biasa, aku bisa menerimanya. Tapi jika ada banyak orang yang menyerang... aku tidak begitu menyukainya. Jangan katakan apapun pada mereka soal apa yang kukatakan malam ini, Rajendra. Aku hanya ingin kamu yang tahu apa yang kurasakan."
"Aku mengerti," Rajendra menjawab, "aku minta maaf karena menjadi penyebab tingkah kekanak-kanakan teman-temanku hari ini, Ignacia. Seharusnya aku tidak lupa jika mereka akan datang untuk tugas kelompok kami."
Ignacia menggeleng pelan. Melepaskan kontak mata. Beralih pada kakinya yang menapak tanah. "Aku tidak ingin permintaan maaf. Aku hanya ingin mengatakan apa yang kurasakan. Aku tidak butuh permintaan maaf dari siapapun. Ini bukan sesuatu yang membutuhkan kata maaf."
"Tapi aku membuatmu tidak nyaman, Ignacia."
"Sudah kubilang aku tidak butuh!" Kalimat Ignacia menajam. Tatapan matanya terlihat sangat tidak suka. Namun segera si gadis merentalkan air wajah, membuang wajah ke segala arah yang penting tidak bertemu mata dengan Rajendra.
"Maafkan aku. Mungkin aku sensitif karena merasa lelah. Maafkan aku."
Rajendra mengerti. Laki-laki berhoodie biru dongker ini hanya mengangguk. Perlahan dia meraih sesuatu dari dalam kantong dan menyodorkannya pada Ignacia. "Kudengar kamu suka Fitbar. Jadi aku membelikannya untuk mengembalikan moodmu. Juga-"
Ada satu hal lagi yang diambil Rajendra dari dalam sakunya. Membiarkan Ignacia mengambil Fitbar yang dia sodorkan agar bisa mengambil apa yang akan diberikan selanjutnya. Ada dua lembar kertas ditangannya.
"Aku ingin mengajakmu pergi akhir pekan ini. Menonton film. Ini film yang santai, namun memiliki makna yang dalam. Aku membacanya di ulasan internet. Katanya film ini bagus bagi seseorang yang menyukai genre drama."
Apa Rajendra serius? Ignacia sedang kesal dan ingin banyak mengeluh. Tapi dia justru mengajak Ignacia pergi? Ada rasa kecewa di wajah Ignacia. Bukan ini yang dia inginkan untuk meredakan rasa lelah akibat orang-orang itu.
"Iya, ini bukan saat yang tepat. Tapi kukira ini bisa sedikit meringankan rasa lelahmu, Ignacia."
Hening. Ignacia tidak tahu harus merespon apa.
Tidak ada salahnya menerima ajakan Rajendra. Toh laki-laki ini bahkan memeriksa ulasan dan membeli tiket hanya dengan genre yang disukainya.
Si gadis menatap kekasihnya, "tentu. Ayo pergi. Tapi kuharap tidak ada masalah lain setelah ini."
...*****...
Ignacia tidak datang ke kamar Athira meskipun perutnya tengah meronta-ronta ingin diberi makan. Suasana hatinya terlalu buruk hingga ingin melewatkan jam makan malam. Katakan saja dia sama kekanak-kanakannya dengan orang-orang yang terus menggodanya hari ini. Tapi siapa yang suka jika diganggu seharian?
Suara ketukan terdengar. Juga suara memanggil dari Rafka untuk kakak tertuanya. Dia diminta Athira yang kebetulan tahu jika kakaknya sudah kembali untuk diberikan makan malam. Athira bisa kena marah ayah dan ibunya jika tidak melakukan ini. Dia juga bertanggung jawab untuk menjaga kakaknya yang memiliki emosi tidak stabil.
Yang di dalam ruangan tentu tidak menjawab. Energinya sudah habis karena candaan yang memekakkan telinga. Gadis itu masih di tempatnya. Merebahkan diri sambil melihat langit-langit kamar yang berpencahayaan samar-samar. Hanya lampu meja belajar yang di nyalakan.
Rafka menyerah setelah beberapa kali mencoba. Berganti Arvin yang kebetulan mendekat untuk bertanya sesuatu. Arvin juga tidak dapat membuat kakaknya membukakan pintu hingga Athira yang jengah datang. Langsung saja dibuka pintu yang kebetulan tidak terkunci itu.
Ketiganya melihat sang kakak tertua seakan kehilangan sebagian nyawanya. Ignacia terduduk di atas tempat tidurnya. Menatap tanpa ekspresi. Wajahnya tampak sangat lemah namun tidak pucat. Tapi sungguh gerakannya selamban orang yang sedang sakit.
"Hariku buruk," jelas Ignacia pada Athira. Bahkan sebelum adik pertamanya bertanya kenapa.
"Orang-orang tahu jika aku berkencan dengan Rajendra di rumahnya dan itu menyebar ke dua kelas. Orang-orang terus mengangguku setiap Rajendra datang. Aku muak!" Lanjut Ignacia tanpa peduli tentang keberadaan dua adik kecil di sekitar Athira.