Beautiful Monster

Beautiful Monster
Tidak Sengaja



"Ah tidak, tidak."


Ignacia menggelengkan kepalanya beberapa kali, mencoba untuk menghilangkan ingatan tentang kejadian yang tidak dia sukai. Hari peresmian saat kelas 8 itu bukan hari yang bagus meksipun ada seseorang yang menatap mereka seperti kakak beradik.


"Masih memikirkan soal mimpi itu?" Bisik Rajendra tepat di samping telinga Ignacia. Membuat si gadis tersentak dan sontak memukul lengan Rajendra pelan.


"Jangan mengangguku, Rajendra." Ignacia pasrah.


"Haha baiklah. Apa salahnya jika kamu menciumku lebih dahulu? Itu juga hanya mimpi." Katanya baiklah, tapi masih membahas soal mimpi Ignacia. Memang laki-laki tinggi ini tidak bisa dipercaya.


Rajendra masih ingin membawa Ignacia berjalan-jalan sebelum mengantarkannya pulang. Katanya untuk menikmati hari di mall yang kebetulan sedang ramai. Rasanya tidak membosankan jika ada banyak orang yang tengah beraktivitas.


"Kemana kita akan pergi?" Ignacia bertanya, menoleh pada Rajendra yang tengah berjalan di sampingnya.


Sedari tadi tangan keduanya bertautan. Berjaga-jaga jika Ignacia kemudian berlari meninggalkan Rajendra ke sesuatu yang menarik perhatiannya.


"Kita berjalan-jalan saja sambil mencari sesuatu yang menarik. Kenapa kamu buru-buru? Toh keluargamu akan pulang nanti sore kan?"


Mama Ignacia tadi menelfon, katanya memang akan pulang sore dan meminta Ignacia benar-benar makan. Rajendra bisa memastikannya. Mama Ignacia lebih percaya pada Rajendra daripada anaknya sendiri jika menyangkut soal maka. Ignacia kadang memiliki mood buruk yang membuatnya tak ingin makan.


"Oh suara apa ini?" Ignacia menajamkan pendengarannya, dia yakin mendengar suara lagu yang dikenalnya dari sisi mall sebelah sana. Keduanya semakin mendekati bagian dimana sebuah acara diselenggarakan. Mereka berada di kota ini setiap waktu, namun belum melihat acara seperti ini sebelumnya.


"Wah kontes," gumam Ignacia setelah sampai di pembatas lantai. Di lantai satu, di gedung kedua mall, suasananya lebih ramai dan bersahabat. Disana ada seorang laki-laki dengan pakaian yang didominasi dengan warna-warna bumi tengah menyanyikan lagu bernada catchy, vibes-nya ceria dan penuh nostalgia.


"Kamu tahu lagu ini Ignacia?" Rajendra bertanya, menatap ke arah gadis yang tatapannya hanya tertuju pada laki-laki di bawah sana.


"Ignacia," panggil Rajendra lagi karena tidak segera mendapatkan jawaban. Dan rasanya tidak nyaman jika Ignacia menatap laki-laki lain di hadapannya.


"Iya, aku tahu lagu ini. Judulnya Car Crash."


Chase me out of your bed just to tell me, “come back”


And the singles don’t mix so they crash you


Bloodshot eyes will be wet


All the worry descendin’


It was beautiful, beautiful


Ignacia begitu menikmati lagu yang tengah dinyanyikan laki-laki itu dengan baik. Rasanya seperti melihat penyanyi aslinya-eaJ tampil di panggung. Salah satu idola Ignacia sejak setahun yang lalu.


"Lagu kesukaanmu?" Rajendra kembali bertanya.


Ignacia hanya mengangguk sebagai jawaban. Mulutnya ikut bernyanyi tanpa suara seperti para penonton yang ada di lantai bawah sana. Hah, pasti sangat menyenangkan jika eaJ benar-benar datang ke kotanya dan menyapa para penggemar.


"Tentang apa lagu ini?" Suara Rajendra lagi.


"Tentang masa-masa manis di hubungan dengan orang tersayang. Pertemuan yang tidak terduga jadi momen yang manis."


Rasanya Ignacia seperti melihat dirinya sendiri dari lagu itu. Pertemuan yang tidak terduga yang kemudian menjadi momen yang manis.


Gemuruh tepuk tangan mengisi seluruh lantai, bahkan hingga sampai di lantai 3, tempat Ignacia dan Rajendra menonton. Gadis berambut hitam itu ikut bertepuk tangan, melepaskan genggaman tangan keheranan Rajendra. Laki-laki itu tidak paham kenapa Ignacia terlihat senang dan sedih secara bersamaan.


"Setelah ini, kita pergi kemana? Aku ingin makan es krim."


Ignacia mengembalikan seluruh fokusnya pada Rajendra, kembali menggandeng tangan laki-laki tinggi di sampingnya untuk menyadarkan. Rajendra mungkin ikut terbawa suasana hingga hanya menatap lurus ke arah panggung disana.


"Rajendra," dan Ignacia mengulang panggilannya.


"Oh apa?"


"Kemana kita pergi? Aku ingin makan eskrim."


"Kalau begitu kita cari es krim saja."


...*****...


Ignacia menatap Rajendra yang ada di hadapannya. Sedari tadi sepertinya ada yang sedang laki-laki ini pikirkan. Perlahan tangan Ignacia bergerak untuk menyentuh tangan Rajendra yang tengah senggang, "ada sesuatu yang menganggumu? Apa soal organisasi di sekolah?"


Mata Rajendra kini terfokus pada Ignacia, dia menggeleng pelan. Tapi jelas dia tengah berbohong. Jika tidak, kenapa dia tampak memiliki rencana di kepalanya? Hanya Ignacia, atau memang Rajendra seperti menimbang-nimbang sesuatu?


"Ignacia, setelah ini apa kita tidak bisa berjalan-jalan lebih lama? Aku tidak ingin memulangkan kamu lebih cepat." Ada apa dengan tatapan yang diberikan Rajendra itu? Kenapa juga tidak ingin memulangkan Ignacia dengan cepat?


"Memangnya kita akan pergi kemana?"


"Kamu ingin pergi kemana?"


Bukannya menjawab, Rajendra justru balik bertanya. Seharusnya dia jujur saja jika tidak memiliki ide apapun. Yang di inginkan hanya Ignacia berada lebih lama bersamanya. Siapa yang tahu jika dirinya akan menjadi sangat sibuk setelah ini. Untuk berjaga-jaga saja. Ada yang Rajendra takutkan.


"Mau mampir sebentar ke rumahku? Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu."


"Itu artinya aku tetap akan memulangkan kamu tepat waktu. Sama saja, Ignacia." Benar juga, Ignacia tidak menyadarinya. Keduanya tertawa, hampir lupa jika es krim yang ada di tangan keduanya bukanlah es krim yang akan bertahan selamanya.


Ignacia menyudahi bertatapan dengan Rajendra, es krimnya butuh perhatian. "Sudahlah, ayo kita makan es krim kemudian pulang. Aku yakin kamu sedang sibuk hari ini, Rajendra."


"Tidak, aku tidak sibuk."


"Jangan begitu, kamu ketua MPK. Mana mungkin tidak sibuk. Sekarang saja kamu sudah mulai kembali sibuk."


"Sepertinya aku tidak sengaja menjadi sibuk." Rajendra terkekeh, disusul dengan suara tawa kecil dari Ignacia.


...*****...


Sampai di rumah, keluarga Ignacia masih belum kembali. Mungkin sore yang di maksudkan adalah sore yang menjelang malam. Bukan sore yang datang setelah siang. Suasana rumah yang sangat sepi, tenang, dan dingin adalah kesukaan Ignacia. Suasana yang bisa membuat dunianya terlihat lebih nyata.


"Rasanya berbeda dengan rumahmu?" Ucap Ignacia saat mendapati Rajendra menatap sekitar ruang tamunya beberapa kali, "disini lebih dingin dari rumahmu yang hangat. Orang-orang disini lebih sering pergi dan terbagi dua daripada rumahmu."


"Orang tuamu keduanya bekerja, Ignacia. Tentu saja akan terbagi dua. Di rumah hanya ada kamu dan ketiga adikmu pada akhirnya." Rajendra menyudahi kegiatannya, beralih mendekati Ignacia yang berdiri di sebelah single sofa.


"Di suasana seperti ini, kamu biasanya pergi ke dunia novelmu."


"Seperti kamu tahu saja bagaimana kegiatanku saat membaca novel." Ignacia mengambil langkah menuju kamarnya, namun sebelum masuk dia meminta Rajendra untuk duduk dan menunggunya sebentar. Dia hanya harus meletakkan barang-barang yang dia bawa dan mengambil sesuatu.


Rajendra ditinggalkan sendirian selama beberapa detik. Dalam beberapa detik, dia dapat melihat seluruh dinding yang ada di ruangan dekat pintu keluar. Foto keluarga Ignacia ada di salah satu dindingnya. Terlihat seperti keluarga yang sangat nyaman dengan kebersamaan.


"Kenapa? Aneh ya jika memajang foto keluarga di ruang tamu?" Suara Ignacia menginterupsi, menahan keheningan yang mengambang di dalam seluruh rumah.


Rajendra menggeleng, katanya apa salahnya memajang foto keluarga. Selagi mereka masih ada, kenapa tidak?


"Tapi kesannya selalu aneh bagiku," gumam Ignacia disertai senyuman kecil di sudut bibirnya. "Tunggu sebentar, akan kuambil sesuatu yang kukatakan tadi. Kamu mau minum apa? Mama membuat sirup sendiri kemarin. Mau mencobanya?" Ignacia sedang dalam mode bersemangat.


Rajendra mengangguk.


"Kalau begitu tunggu sebentar."


Rajendra tidak ingin menurut. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan lebih pelan dari Ignacia. Berjalan mengikuti ke arah dapur yang terang karena pencahayaan dari kaca besar di salah satu sisinya. Menampakkan taman damai dengan sebuah pohon mangga dengan beberapa jenis bunga yang diyakini sebagai milik ibu negara di rumah ini.


"Bunganya menjadi lebih hidup, kan?"


Kini pandangan Rajendra beralih pada gadisnya yang sibuk dengan gelas berisi es batu juga sirup.


"Mama memutuskan untuk mengikuti jadwal ayah yang masuk kerja di sore hari. Mereka akan kembali keesokan paginya, sekitar pukul dua pagi. Setelah semua anaknya pergi sekolah, mama memiliki waktu untuk berkebun."


"Benarkah? Kamu belum pernah bercerita padaku." Langkah Rajendra mengarah pada kaca dengan pemandangan taman, tangannya menyentuh kaca seolah dapat merasakan kesegaran udara diluar.


"Kurasa aku tidak ingin membicarakannya dengan siapapun. Karena yang kuinginkan hanya pulang ke rumah sebelum ayah dan mama berangkat bekerja. Karena mereka kadang sekali bangun sebelum aku berangkat sekolah. Bekerja itu melelahkan. Dan aku yang seharusnya berusaha lebih."


Ada nada tertahan di seluruh penjelasan Ignacia. Ini pertama kalinya dia membahas soal waktu bekerja orang tuanya pada seseorang yang dipercaya. Rajendra adalah orang pertama yang tahu jika Ignacia selalu ingin bertemu dengan orang tuanya meksipun hanya sebentar.


"Di akhir pekan kalian masih bisa bertemu."


"Tentu saja. Tapi ayah dan mama biasanya memiliki kegiatan di akhir pekan. Mengantarkan Rafka dan Arvin ke ekstrakurikuler renang atau pergi ke rumah ibunya ayah." Ignacia meletakkan gelas kaca berisi sirup di atas meja makan, "minumlah, Rajendra. Duduk dan bersantailah sebentar. Kita sudah berkeliling cukup lama tadi."


"Terima kasih."


Rajendra duduk, minum beberapa teguk. Pandangan matanya tertuju pada Ignacia tanpa alasan. Sudah lama sekali dia tidak melihat gadis berurai panjang ini sibuk. Sudah lama sekali dia tidak melihatnya memunggungi dirinya seperti ini. Biasanya dia yang melangkah pergi, tidak memikirkan dia yang berjalan mengekor dengan langkah berat.


"Kamu tahu, saat tangan kiri Arvin patah tahun lalu, mama dan ayah harus menetap lama di rumah sakit. Karenanya hanya aku dan kedua adikku yang ada di rumah. Rasanya sangat sepi dan sunyi. Bahkan aku sampai bisa mendengar suara nafasku sendiri di dalam ruangan sepanjang hari."


"Karena itu, akhirnya mama memutuskan terus masuk sore bersama ayah. Agar bisa memperhatikan Arvin dengan lebih baik dan mencegah hal buruk terjadi. Aku jadi tidak merasa sendirian saat itu. Aku sangat menyukainya. Saat bisa melihat ayah dan mama yang tidak buru-buru pergi."


"Karena itu juga aku dan Athira menjadi lebih dekat. Kami jadi lebih sering berkomunikasi dari biasanya. Aku sudah tidak kesepian lagi. Dahulu aku dan Athira hanya sibuk dengan sekolah yang melelahkan. Kami hanya fokus dan tidak memikirkan apapun. Hingga tragedi Arvin datang dan membuat kami berhenti sejenak untuk saling memikirkan."


Rajendra bangkit, meninggalkan gelasnya yang tersisa setengah. Ada perasaan bersalah dalam dirinya. Dia tidak pernah tahu jika Ignacia merasa kesepian akhir-akhir ini. Dan yang dia lakukan hanya menjadi sibuk. Secara tidak sengaja, membuat Ignacia semakin merasa kesepian.


"Lihatlah," Ignacia berbalik, membawa piring saji dengan kue manis dengan hiasan dominan coklat, "aku membuat kue coklat untukmu. Sebenarnya aku ingin membuatnya saat kamu sakit, tapi aku tidak diperbolehkan datang. Juga kue manis bukanlah obat yang baik untuk orang sakit."


Rajendra tersenyum, "dalam rangka apa ini?"


"Kamu akan berulang tahun. Aku membuatnya lebih awal saat masih bisa bertemu denganmu. Kita sudah kelas dua belas, kudengar kamu juga akan merekrut anggota baru, kamu pasti akan sangat sibuk. Jadi aku memajukan tanggalnya."


Senyuman cerah terlihat jelas di wajah Ignacia. Kali ini dia benar-benar mengekpresikan dirinya dengan baik. Ditambah dengan matanya coklat cantik berbinar. Suasana hatinya benar-benar baik. Kejutannya untuk Rajendra berhasil.


"Kamu menyukainya?"


Rajendra tidak menjawab, dia mengambil alih kue dari tangan Ignacia dan meletakkannya di atas meja makan. Hal itu tentu membuat Ignacia kebingungan. Air wajahnya berubah, dikiranya kejutan yang dia buat tidak akan berhasil.


"Kamu tidak menyukai kue yang manis? Tapi aku memilih coklat karena kamu sangat menyukai es krim coklat."


Satu langkah diambil dengan pelan, mengikis jarak diantara keduanya. Kesunyian ini membingungkan. Mata Rajendra terpaku pada kedua manik mata coklat kesayangannya, sudut bibirnya terangkat. Dia sudah membuat keputusan.


Satu tangan Rajendra bersandar pada meja dapur di belakang Ignacia, jarak keduanya menjadi sangat dekat. Ignacia mulai gugup. Tubuh tinggi Rajendra semakin tertunduk untuk sampai di wajahnya. Ignacia tidak bisa bergerak. Kedua tangan Rajendra sudah sampai untuk mengekangnya.


Satu.


Dua.


Bibir keduanya bertemu.


Rajendra memejamkan matanya, melakukan aksinya tanpa merasa canggung sama sekali. Padahal di hadapannya, gadis yang tengah terpojok karena aksinya, tengah menahan detak jantungnya agar tidak mengisi kesunyian ruangan. Menahan rasa gugup yang menjalar ke seluruh tubuh.


Laki-laki ini mengambil kendali, tapi tidak mencoba untuk membuka mulut Ignacia sedikitpun. Tak berselang lama, sentuhan lembut pada bibir Ignacia pun perlahan menjauh. Keduanya kembali bertatapan, masih dengan jarak yang sangat dekat. Ignacia dapat merasakan hembusan nafas lembut Rajendra.


"Aku minta maaf karena membuatmu kesepian. Maafkan aku karena tidak bisa selalu ada untukmu," lirih Rajendra. Entah mengapa suaranya berubah berat, terdengar sangat berbeda.


"Tapi kamu tetap menerima kue yang kubuat, kan?"


Rajendra tersenyum kecil, tidak percaya jika gadis ini masih memikirkan soal kue yang tentu akan dia terima dengan senang hati. Perlahan kembali memajukan tubuhnya, menyatukan bibirnya dengan milik si gadis manis.