
"Tu-Tunggu sebentar."
Ignacia menghentikan langkahnya. Membuat Rajendra yang menggandeng tangannya ikut berhenti. "Ada apa?" Tanyanya khawatir. Tangan kekasihnya terasa melemah. Wajahnya yang tadinya cerah berubah muram.
"Apa dua orang yang berbau tadi sudah di amankan? Tidak akan ada apapun di dalam sana kan?" Acaranya belum benar-benar berakhir. Ada penampilan terakhir. Rajendra memaksa Ignacia pulang karena sudah cukup larut. Takut sesuatu akan terjadi padanya jika pulang sangat terlambat.
"Aku melihat tiga panitia mengamankan mereka tadi. Kamu jangan khawatir. Tidak akan ada masalah. Semuanya terkendali karena aku sudah membicarakan dengan panitia tadi."
Ignacia menunduk, masih ada rasa khawatir dalam dirinya. Kini tentang keluarganya. "Bagaimana jika aku kena marah karena pulang larut? Sekarang sudah pukul 10 malam. Aku takut akan pulang. Ayah bisa sangat marah padaku."
"Tidak akan," Rajendra meyakinkan, "ini pertama kalinya kamu pulang larut. Tidak akan ada yang marah padamu, Ignacia. Lagipula ayahmu akan mengerti kenapa kamu pulang larut. Sebentar lagi kamu akan jadi mahasiswa. Ayahmu pasti tidak akan melarang kamu menikmati waktu terakhir SMA."
Tangan Rajendra bergerak untuk menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Ignacia. "Lalu kamu ingin bagaimana? Cepat atau lambat, kamu tetap harus pulang. Jika ada masalah, katakan saja padaku. Akan kubantu sebisaku."
Apa yang laki-laki ini katakan? Dengan dirinya yang menawarkan diri untuk mengantarkan Ignacia pulang saja sudah membuat si gadis merasa tidak enak. Sudah merasa sangat merepotkan. Apalagi jika dibantu untuk menyelesaikan masalah. Ignacia akan semakin merepotkan.
"Jadi, kita pulang sekarang?"
Sebaiknya begitu. Ignacia akan membuat Rajendra kerepotan karena ulahnya sendiri. Salah siapa Ignacia jadi pulang selarut ini? Jika bukan karena tekadnya untuk bertahan hingga acara berakhir, Ignacia tidak akan khawatir dengan sikap ayahnya yang tiba-tiba marah nanti.
Sepanjang perjalanan, yang dipikirkan Ignacia hanya kemungkinan ayahnya akan marah. Tapi meskipun begitu, Ignacia tidak merasa bahwa dirinya akan dimarahi begitu sampai di rumah. Yang dia rasakan hanya perasaan tenang. Tidak ada rasa cemas. Namun logikanya bilang jika dirinya akan kena masalah.
"Ignacia," panggil Rajendra untuk kesekian kalinya.
"Oh ya, ada apa?"
"Berpeganganlah dengan benar. Berpegangan di belakang sepeda motor bukan pilihan yang bagus." Rajendra bisa melihat gadis itu dari kaca spion. Menatap khawatir karena Ignacia tidak fokus. Dia dapat merasakan keberadaan tangan Ignacia yang berpegangan pada ujung jaketnya.
"Sudah kukatakan untuk tidak khawatir," gumam Rajendra pelan, "ayahmu tidak akan marah hanya karena ini. Kuharap begitu. Ayahmu mungkin akan mengerti."
Hingga hampir sampai di rumah pun nyawa Ignacia seakan melayang entah pergi kemana. Pikirannya sibuk dengan pikiran buruk soal ayahnya. Memang mama Ignacia mengirimkan pesan sekitar setengah jam yang lalu. Dan katanya ayahnya juga tidak akan marah karena Ignacia tidak pernah pulang larut.
"Terima kasih sudah mengantarku," Ignacia mengulurkan helm milik Rajendra.
Rajendra membawa dua helm karena berniat mengantarkan gadisnya pulang sejak awal. Sejujurnya Ignacia bisa saja pulang dengan keluarganya setelah mereka makan malam. Tapi karena dia ingin disana hingga akhir, Ignacia bisa meyakinkan ayahnya dan pulang bersama Rajendra.
"Terima kasih juga sudah menjagaku malam ini."
"Aku harus memastikan kamu baik-baik saja. Memang yang membawamu pergi kesana bukan aku, tapi aku merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga kekasihku." Ada senyuman kecil di wajah Rajendra.
Ignacia yang melihatnya tidak sanggup menatap mata si laki-laki lagi. Wajahnya memanas. Entah jika sudah malam wajah merahnya terlihat atau tidak. "Sekali lagi terima kasih atas bantuanmu, Rajendra. Maaf merepotkanmu untuk mengantarkan aku pulang. Maaf membuatmu pulang lebih larut."
"Hei jangan minta maaf untuk kesalahan yang tidak kamu lakukan. Yang penting aku bisa memastikan kamu pulang dengan selamat. Sekarang masuklah. Istirahat. Kamu pasti lelah setelah datang ke acara yang ramai tadi."
Ignacia mengangguk. Akan berbalik masuk ke rumah namun urung. "Hubungi aku begitu kamu sampai di rumah, Rajendra. Aku ingin memastikan kamu pulang dengan selamat. Terima kasih untuk malam ini." Buru-buru gadis itu masuk.
"Kamu begitu berani hari ini, Ignacia," batinnya.
...*****...
Ignacia menemukan seseorang di ruang tamu. Seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan wajah yang damai. Orang ini kelihatannya tertidur tanpa sengaja. Tapi posisinya terlihat nyaman untuk tidur singkat. Dengan bantuan bantal sofa empuk disana tentunya.
Sejak kapan ayahnya tertidur disini? Bukankah kamar orang tuanya tidak memiliki masalah apapun? Lalu seseorang muncul dari dapur. Membawa segelas air hangat dan kemudian duduk di sofa ruang tamu.
"Ayah menunggumu pulang tadi. Ayah tidak marah, hanya ingin memastikan anak perempuannya pulang dengan selamat. Kamu pulang dengan temanku kan?" Mamanya bertanya. Ignacia tahu siapa yang disebut mamanya sebagai teman itu. Anak gadisnya mengangguk sebagai jawaban.
"Aku minta maaf karena pulang terlambat."
"Tidak apa-apa. Tetaplah disini. Mama akan membangunkan ayah. Ayah sudah menunggu, jadi lebih baik ayah bisa melihatmu sebentar." Mamanya meletakkan segelas airnya di atas meja. Bergerak perlahan untuk membangunkan sang suami.
"Yah, Ignacia sudah pulang." Wanita ini berkata pelan, namun ayahnya terlihat sangat terkejut. Seolah seseorang melemparnya ke sofa begitu saja. Tapi memang begini kebiasaan sang ayah. "Ignacia pulang dengan temannya tadi," jelas mamanya. Sang suami duduk, berdehem ringan.
"Istirahatlah. Ayah akan masuk ke kamar." Ucapan ayahnya terdengar hangat, namun air wajahnya tidak menunjukkan demikian. Terlihat tidak peduli, namun kata-katanya seperti menunjukkan perhatian.
Untuk pertama kalinya sang ayah mengatakan sesuatu yang membuat Ignacia merasa seperti anak yang baik. Orang tuanya terus masuk kerja di sore hari hingga Ignacia lupa rasanya di sambut ketika baru kembali. Ketika dia selesai berkencan dengan Rajendra malam-malam.
"Lihat? Ayahmu tidak marah. Masuklah ke kamar dan bersih-bersih sebelum tidur, Ignacia. Besok kamu tetap harus bangun pagi."
Ignacia mengangguk. Masuk ke kamarnya mengendap-endap. Adik-adiknya pasti sudah tidur. Ignacia tidak ingin membuat adiknya terbangun hanya karena suara kedatangannya. Omong-omong, ayahnya sudah tidur sejak tadi kan? Ayahnya tidak melihat Rajendra bukan?
Sepertinya tidak.
Ignacia meletakkan ponselnya di atas nakas. Mengisi dayanya sebelum pergi bersih-bersih. Hatinya berbunga-bunga karena Rajendra akan segera mengirimkan kabar padanya. Sebaiknya Ignacia segera bersih-bersih agar bisa berkirim pesan dengan sang kekasih. Haha, dia sudah tidak sabar.
Dibawanya serta kapas untuk membersihkan wajah. Mengecek apakah Rajendra sudah mengirimkan pesan. Tapi bahkan sampai Ignacia sudah menyelesaikan segala aktivitas bersih-bersih pun Rajendra masih belum muncul. Apa dia belum sampai di rumah?
"Dia mungkin masih bersih-bersih. Dia baru saja kembali dari luar rumah," ambil sisi positifnya saja. Meksipun Ignacia agak khawatir.
New Message from Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ
Aku sudah sampai di rumah
Maaf membuatmu menunggu
Aku diminta melakukan sesuatu tadi
Ignacia buru-buru membuka roomchat dari kekasihnya. Membalas dengan senyuman yang mengembang.
...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...
^^^Tidak apa-apa |^^^
| Bagaimana? Kamu dimarahi?
^^^Tidak, syukurlah |^^^
| Ayahmu tidak mungkin marah
^^^Tapi tetap saja aku merasa aneh |^^^
^^^Ayah bahkan menungguku di ruang tamu |^^^
^^^Sampai tertidur di sofa |^^^
| Ayahmu orang yang perhatian
| Bahkan sampai menunggumu begitu
^^^Aku senang mengetahuinya |^^^
| Kamu hanya terlalu khawatir, Ignacia
^^^Iya, kamu benar |^^^
...*****...
Tok tok tok
Suara ketukan terdengar di pintu kamar Ignacia pagi itu. Pemilik kamar belum terbangun karena tidur larut. Dan yang mengetuk masih tidak putus asa. Bahkan dia membuka pintu kamar karena yang pemilik tidak kunjung menampakkan diri. Itu Rafka, dia diminta mamanya membangunkan sang kakak untuk sarapan.
Tapi melihat kakaknya yang masih tidur, Rafka pun kembali. Butuh usaha untuk menghentikan video menarik yang dia lihat di ponsel. Tapi yang Rafka dapatkan adalah kakaknya masih tertidur pulas dan bahkan tidak mendengarnya saat mengetuk pintu selama bermenit-menit.
"Kakak masih tidur," ucap Rafka pada mamanya.
"Yasudah, mama akan menggoreng lauknya untuk kakakmu nanti. Terima kasih, Rafka." Wanita yang ada di dekat kompor itu kembali mengarahkan perhatiannya pada wajan. Membalik lauk yang ditujukan untuk Ignacia yang masih tertidur.
"Kakak pulang jam berapa kemarin?" Arvin bertanya.
"Kakak pulang ketika kalian sudah tidur."
"Karena itu kakak belum bangun? Ayah biasanya akan marah jika kita bangun terlambat. Tapi kenapa kakak tidak kena marah juga? Ini tidak adil." Rafka protes karena dia yang selalu bangun terlambat ketika liburan.
"Kakak akan wisuda besok. Jadinya harus banyak istirahat agar tidak lelah. Kakak begitu bukan tanpa alasan." Sahut Athira yang berjalan keluar kamar. Membawa piring sisa makannya untuk diletakkan di tempat cuci piring. "Kak Ignacia bukan pemalas sepertimu, Rafka."
Athira pergi setelah berhasil membuat adik pertamanya kesal. Rafka tidak ambil pusing dan kembali menonton video. Kakak keduanya itu tidak akan melewatkan saat untuk mengatakan hal buruk soal dirinya. Rafka sudah kebal.
...*****...
"Ignacia masih belum bangun juga? Anak itu melewatkan sarapannya." Ayah bicara dengan sang istri namun fokusnya hanya pada tanaman-tanaman yang di halaman dekat dapur. Memindahkannya ke pot yang baru. Agar terlihat lebih indah.
"Dia belum pernah pulang selarut itu. Mungkin dia kelelahan juga setelah datang ke acara malam-malam. Ignacia akan baik-baik saja jika nanti makan siang tepat waktu." Sementara sang istri juga fokus dengan kegiatannya sendiri. Memotong-motong kangkung untuk sayur makan siang.
"Ignacia itu..." ayahnya memberikan jeda pada kalimatnya. Terlihat ragu, namun juga ingin tahu. "...punya pacar?"
Sang istri terkejut dengan apa yang didengarnya. Beruntung saja suaminya tengah memunggungi dirinya hingga tidak melihat wajahnya yang berkeringat dingin. "Pacar? Apa maksudnya? Kenapa bertanya seperti itu?"
"Aku mendengar sesuatu dari temanku kemarin. Dia bercerita tentang anak perempuan yang mengalami masalah karena pacarnya. Mereka berbuat tidak baik dan memiliki buah hati sekarang. Katanya sudah 7 bulan. Ignacia tidak punya pacar kan? Anak laki-laki zaman sekarang tidak bisa diandalkan!"
Sang suami bicara dengan nada kesal di akhir. Jika mama Ignacia melihat wajahnya, mungkin akan langsung ketakutan. Wajah yang serius dan kalimat yang tajam adalah kombinasi yang paling menakutkan dari suaminya.
"Meskipun Ignacia punya pacar, mana mungkin mereka sampai melakukan itu. Ayah tahu sendiri jika Ignacia lebih tertarik pada tokoh fiksi daripada manusia yang ada di dunia. Aku mengerti tentang kekhawatiran ayah. Aku sangat mengerti. Memiliki anak membuat orang tua selalu khawatir."
Ayahnya selesai mengurus tanaman. Kini bangkit untuk mencuci tangan di kran dan duduk di samping istrinya di pintu dapur menuju halaman ini. "Aku tidak keberatan jika Ignacia ketahuan menyukai laki-laki sungguhan. Tapi kuharap mereka tidak akan melakukan hal diluar batas."
"Kita memiliki anak-anak yang pandai. Mereka semua tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari."
"Tapi hal-hal diluar batas biasanya dilakukan bukan dengan akal sehat. Aku memang sangat percaya pada Ignacia, Athira, dan adik-adiknya. Aku sangat percaya mereka tidak akan melakukan hal buruk diluar sana. Tapi rasa khawatir pasti selalu ada kan?" Suaminya menatap langit-langit dapur.
"Kuharap laki-laki yang disukai Ignacia itu memperlakukan anakku seperti putri. Tidak menyentuhnya hanya karena nafsu atau apapun. Jika ada yang membuatnya menangis, aku akan membuatnya menyesal."
Ini pertama kalinya sang ayah bicara panjang lebar soal rasa khawatirnya tentang sang anak. Pertama kalinya pula Mama Ignacia mendengar tekad suaminya untuk membalas orang yang menyakiti anaknya.
"Ma," seseorang memanggil dengan suara mengantuk. "Aku lapar. Apa masih ada makanan?"
Itu Ignacia. Sang ayah pura-pura tidak tahu. Tidak menoleh dan hanya memandangi sekitar taman. Sementara sang istri meletakkan kangkung di pangkuannya dan bangkit untuk mengambilkan Ignacia camilan. Makan siang akan segera siap, jadi Ignacia bisa makan camilan sambil menunggu.
"Kenapa kamu bangun sangat terlambat, Ignacia?" Ayahnya menginterupsi ketika istrinya kembali untuk mengambil kangkung yang sudah dipotong-potong untuk dimasak. Tapi ayahnya tidak menyalahkan anak perempuannya yang pulang larut dengan seorang 'temannya'.
"Aku bermimpi bagus. Jadi badanku tidak bisa bangun begitu saja. Aku hampir sampai di akhir cerita. Tapi ada hantu yang membuatku terbangun." Ignacia terlihat kesal. Tangannya bergerak untuk meraih pisang goreng di atas meja.
"Jika sudah kuliah nanti, tidak akan ada yang membangunkan. Jadi jangan sampai pulang terlambat dan tidur terlalu malam jika bukan karena urusan mendadak, mengerti?"
"Tentu saja aku mengerti. Kenapa ayah begitu khawatir? Toh aku tidak selalu bangun siang. Oh ya, mama, aku harus bangun sangat pagi sebelum wisuda kan? Aku harus bangun pukul berapa? Sebelum matahari terbit?"
"Kakak akan pergi kemana?" Arvin datang. Membawa ponsel sang mama yang tengah memutar video kartun bis kecil. "Ma, kakak mau pergi kemana lagi?" Dia belum puas bertanya sekali.
"Wisuda. Kakak akan lulus sekolah dan diwisuda," mamanya menjawab. "Mama akan memanggil teman mama yang bisa merias untuk datang kesini. Jadi kamu tidak harus terburu-buru."
"Baiklah, aku mengerti."
Ayahnya bangkit. Pergi ke kamar dan menutup pintunya pelan.
"Mama, ayah terlihat aneh. Apa sesuatu terjadi?" Ignacia bertanya dengan suara berbisik.
"Ayah hanya khawatir pada anaknya yang akan pergi jauh untuk berkuliah. Mungkin ayah akan merindukanmu." Mamanya terkekeh pelan.
"Kami saja jarang berbicara. Omong-omong kenapa ayah harus khawatir? Aku pasti bisa menjaga diri."
"Namanya juga orang tua, Ignacia. Mereka pasti akan sangat khawatir dengan anaknya."