Beautiful Monster

Beautiful Monster
Sepuluh Tahun



Suara berisik membangunkan Ignacia. Buru-buru ia angkat sebelum Danita dan Nesya juga terganggu. Beruntung mereka tidak sampai membuka mata di pagi hari yang masih gelap ini. Di ujung panggilan, Rajendra bilang jika dirinya sudah siap pergi keluar. Jadinya Ignacia beranjak dari tempat tidur, meneguk air dari botol miliknya, membasuh wajah juga menyikat giginya. Bisa saja Ignacia mandi pagi itu, tapi takut membuat Rajendra menunggu. Jadi ia semprotkan parfum untuk menutupi aroma tubuh khas pagi harinya.


"Apa aku boleh mandi dulu?" Ignacia bertanya agar tidak menyesal sudah tampil dengan penampilan tidak baik di hadapan Rajendra. Waktu matahari terbit masih lama. Rajendra sengaja menelpon lebih awal agar Ignacia tidak terburu-buru. "Tunggu aku di bawah saja nanti aku akan menyusul. Aku akan bersiap-siap sebentar."


Daripada menggunakan parfum, selain saja membersihkan diri. Tidak ada salahnya tampak lebih cantik meskipun hari belum dimulai. Ignacia menatap dirinya sendiri di cermin, memperhatikan wajahnya agar tidak tampak aneh ketika sudah diluar. Tak lupa ia memeriksa rambut yang ia biarkan terurai dan pakaian panjangnya untuk menghindari angin pagi. Hari ini pasti menyenangkan. Ignacia meraih ponselnya dan pergi menemui Rajendra.


Awalnya Ignacia tidak melihat sosok laki-laki kesayangannya di hamparan pasir panjang yang panjang. Hingga setelah beberapa orang yang memutuskan untuk berolahraga pada pagi itu membiarkan Ignacia melihat sekitar. Rajendra duduk di atas pasir, memandangi langit yang masih belum bercahaya. Air wajahnya menunjukkan ketenangan seperti suara ombak di kejauhan.


Ignacia melangkah dengan tenang menuju Rajendra. Ia langsung mengambil tempat di sebelah kekasihnya sambil tersenyum. Meskipun matanya sedari tadi tertutup untuk menyembunyikan perasaan tak karuan, Rajendra tahu pasti siapa orang yang duduk di sebelahnya. Aroma rambut dan parfum yang gadis itu gunakan sangat Rajendra kenal.


"Aku senang kita akhirnya bisa bertemu di hari jadi setelah sekian lama. Bagaimana tidurmu semalam, Rajendra?" Ignacia masih mengarahkan wajahnya pada sang kekasi yang juga membalas tatapannya. "Kamu nyaman semalam disini? Maaf jika aku menganggumu sepagi ini." Semalam mereka tidur cukup larut, Ignacia khawatir menganggu istirahat Rajendra.


Laki-laki itu menggeleng, Rajendra malah senang bisa bertemu dengan Ignacia sepagi ini. Melihat wajah yang ia rindukan tepat sebelum hari dimulai bukanlah sesuatu yang bisa sering dilakukan. Ignacia tidak ingin terlalu jatuh pada tatapan memabukkan Rajendra. Bisa-bisa dirinya tidak bisa mengalihkan perhatian pada matahari terbit nanti.


Bahu Rajendra digunakan gadis itu sebagai tempat bersandar. Angin dingin berubah hangat, namun tidak lebih hangat dari hati Ignacia saat ini. Ignacia bangun masih dengan mata mengantuk. Jika ia tidak segera bicara, bisa-bisanya dirinya tertidur di posisi ini cukup lama. "Rajendra, apa aku boleh bertanya?"


Rajendra mengangguk sebagai jawaban. Sebelum kembali bicara, Ignacia mengambil nafas lalu menghembuskannya perlahan. "Apa kamu pernah berpikir jika aku hanya main-main dengan hubungan kita? Apa aku pernah membuatmu tidak merasa dicintai seperti sepasang kekasih?" Rajendra mengerjapkan matanya beberapa kali mendengar pertanyaan asing yang baru pertama kali ia dengar.


Ignacia merasa dirinya kurang sebagai seorang kekasih di masa lalu. Sikapnya yang pernah disebut seolah ingin menjatuhkan Rajendra dari kehidupan pertemanan membuat Ignacia tiba-tiba merasa bersalah. Kelihatannya waktu sepuluh tahun yang sudah berlalu bisa diperbaiki di masa depan. Melakukan evaluasi kecil soal yang sudah lalu bisa sangat membantu kan?


Ada jeda cukup lama. Rajendra membuat Ignacia menerka-nerka kalimat apa yang coba kekasihnya sampaikan hingga begitu lama. "Aku lupa bahagia perasaan di masa lalu. Yang penting adalah perasaanku saat ini. Dan sepertinya aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu sekarang. Aku sulit menyimpulkannya." Satu rahasia kembali bertambah. Rajendra punya banyak rahasia untuk diungkapkan.


Berpindah dari pertanyaan tadi, Ignacia memeluk lutut sambil terus menatap ke depan. "Aku ingin bersamamu lagi ketika matahari terbit nanti. Apa kamu mau melakukannya?" Mungkin akan menyenangkan jika mengawali dan mengakhiri hari bersama-sama. Liburan kali ini harus dinikmati seolah hanya ada mereka berdua di dunia ini.


Laki-laki di sampingnya mengangguk, "Ada yang ingin kukatakan padamu juga nanti. Jika bisa, akan aku jawab pertanyaan yang tadi kamu tanyakan." Ignacia langsung memperbaiki posisi duduknya sambil menatap si kekasih. Rajendra dapat melihat tatapan mata yang meminta dirinya untuk berjanji. Seolah kesempatan ini sangat ditunggu-tunggu oleh Ignacia.


"Aku akan berusaha untuk memberitahu kamu semua yang ingin kamu ketahui." Kata 'berusaha' sudah lebih dari cukup bagi Ignacia. Rajendra pasti akan berusaha sangat keras jika sudah bertekad. Semangatnya dari SMA untuk menjadi ketua yang baik saja sudah terlihat hingga saat ini. Ada kesungguhan dari mata yang membalas tatapan Ignacia.


Ignacia kembal menyandarkan kepalanya pada si laki-laki. Akhirnya sebentar lagi rasa penasarannya terpenuhi. Perlahan cahaya matahari menunjukkan tanda-tandanya. Perasaan hangat menyelimuti tubuh melihat sang raja akhirnya kembali akan bertahta. Dunia akan segera kembali bergerak setelah jeda berkat adanya sinar yang membawa banyak manfaat ini.


Tidakkah ini menarik? Mereka menatap hal yang sama di tempat yang belum pernah terbayangkan bisa mereka datangi bersama. Melihat ujung mahkota raja siang, Ignacia memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman. Sementara itu tangan kanan Rajendra melingkar di pinggang si gadis dengan lembut. Seolah ingin mendekatkan raga keduanya.


Raja siang seolah tersenyum setelah berhasil kembali naik setelah beristirahat sejak sore kemarin. Senyuman yang membawa merekah membawa warna kekuningan juga menular ke wajah Ignacia. Ia berharap akan ada waktu seperti ini lagi di masa depan. Bersama orang yang sama, bersama kenangan yang semakin bertambah.


Ignacia mengubah duduknya sebentar, menatap wajah Rajendra yang perlahan terlihat jelas akibat cahaya mentari. Satu kecupan yang ingin Ignacia berikan di pipi Rajendra justru mengenai bibir. Rajendra menoleh tepat ketika Ignacia memajukan wajahnya. Tampak semburat merah di wajah si gadis. Sementara kekasihnya tersenyum kecil. Hadiah tadi diterima dengan sangat baik.


Si gadis berambut panjang itu mencoba untuk mengalihkan pandangan agar tidak kembali bertemu mata dengan Rajendra. Berharap wajannya yang memerah tidak nampak jelas. Sayangnya gelagat gugup dapat dilihat dengan jelas. Karenanya kini giliran Rajendra yang memberikan hadiah. Pipi yang semula memerah kini menjadi semakin terasa panas.


Rajendra memberikan kecupan singkat seperti rencana Ignacia sebelumnya. "Kenapa malu begitu? Bukankah biasanya kita juga bertukar hadiah seperti ini?" Rajendra berbisik sebelum menarik tubuhnya ke posisi semula. Meskipun sudah biasa, Ignacia tetap saja mereka salah tingkah. Wajah ini jadi tampak semakin lucu saja bagi Rajendra.


Tubuh Ignacia dihadapkan pada Rajendra tanpa paksaan. Mata keduanya kembali bertemu, begitu pula wajah memerah Ignacia yang sudah makin padam. Ada sesuatu dari tatapan Rajendra yang sulit diartikan oleh Ignacia. Sesuatu yang tampak dalam dan- nafas Ignacia terhenti sebentar kala tubuhnya masuk ke dalam dekapan lembut Rajendra.


Laki-laki itu tidak mengatakan apapun, hanya memeluk kekasihnya cukup lama. Butuh waktu untuk membalas pelukan yang tiba-tiba ini. Ignacia melupakan tatapan tadi dan hanya ingin fokus merasakan kenyamanan dari Rajendra. Seluruh dunia terasa hening, bahkan suara ombak disana tak mampu ditangkap indra pendengar. Ignacia hanyut dalam debaran penuh suka cita.


Bukan hanya mereka yang merasa hangat rupanya. Beberapa orang yang akan pergi berolahraga di dekat pantai melihat dua anak muda yang sedang memadu kasih. Mereka hanya bisa tersenyum tipis sambil melewati jalan lain agar mereka tidak menyadari. Salah satunya mengabadikan momen ini lewat kamera sebelum mengikuti kekasihnya berlari kecil.


"Ternyata mereka disini. Pantas saja aku tidak melihat Ignacia ketika terbangun." Si gadis berambut pendek berbisik pada laki-laki di sebelahnya. Yang diajak bicara juga mengangguk. Ia gandeng tangan kekasihnya agar mengikuti langkahnya. Kode agar mereka segera meninggalkan tempat ini untuk berkeliling kota mencari tempat makan enak.


Pesan sudah ditinggalkan untuk ponsel Ignacia. Mereka pasti bisa menyusul setelah mendapatkan arah kemana harus pergi. Gadis berambut pendek tadi tersenyum senang, dia juga bis menikmati awal hari dengan kekasihnya seperti temannya disana. "Hanya aku, atau tempat ini menjadi semakin hangat dari sebelumnya?"


"Akan lebih hangat jika kamu berlari kecil dan bukannya berjalan cepat." Bahri menggandeng tangan Danita lembut. Lari mereka memang bisa ditempuh dengan jalan cepat. Hanya saja temanya sekarang berlari. Danita tidak kuat berlari sungguhan, jadi hanya lari kecil saja. "Ayo, kita jarang berolahraga berdua. Jadi kita gunakan kesempatan ini sebaik mungkin ya."


Di belakang, Farhan mengambil alih kamera Nesya. Membiarkan gadis itu merapikan rambutnya sebentar. "Ignacia pasti senang sekali hari ini. Meskipun kemarin ada banyak gangguan dari ponsel Rajendra, sekarang mereka sudah bersama." Tangan Nesya terulur untuk mengambil kembali kamera dari tangan Farhan. Namun laki-laki itu justru menggandeng tangan Nesya dan melanjutkan jalan cepat.


...*****...


Ignacia mengecek ponselnya sembari berjalan. Memastikan dia dan Rajendra tidak salah jalan. Sementara itu tangan kanannya masih digandeng oleh Rajendra. Sesekali tatapannya terarah pada ponsel Ignacia, penasaran. "Simpan dulu ponselmu. Kita bisa melihatnya lagi setelah persimpangan disana. Kita nikmati saja jalan-jalan pagi kita." Rajendra mengambil alih ponsel kekasihnya, ia simpan ke dalam saku.


Teman-teman sudah menghubungi tadi. Mereka juga sudah lapar ketika deringan terdengar samar. Tempatnya tidak begitu jauh. Ada beberapa pepohonan rindang dan angin lembut yang menerpa. Ignacia suka sekali pemandangan disini. Laut dan pepohonan melengkapi keindahan jalanan rata ini. Ditambah dengan keberadaan Rajendra, semuanya sempurna.


"Semoga sore nanti tidak hujan. Aku ingin melihat langit yang cerah dengan matahari tenggelam." Ignacia menetap langit di sekitar. Pagi ini banyak awan yang berkumpul. Untungnya ketika mereka masih berada di pantai tidak ada yang mengganggu. "Rajendra, aku ingin memeriksa perkiraan cuaca sore nanti. Kembalikan ponselku sebentar. Janji setelahnya akan aku simpan." Ignacia mengulurkan tangannya untuk menerima ponselnya kembali.


Rajendra menyerahkan tangan kosong, ia genggam tangan Ignacia lalu menarik gadisnya agar semakin dekat. Ada hadiah kecil untuk puncak kepala gadisnya lalu kembali berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Ignacia akan mulai terbiasa dengan kejutan ini. Senyuman mengembang penuh arti. Biarlah ponselnya tetap di saku Rajendra. Nanti pasti kembali.


Kira-kira kenapa genggaman tangan Rajendra menjadi semakin erat setelah kejadian barusan? Apa sesuatu yang aneh juga menjalar hingga ke dalam diri? Ignacia terkekeh pelan melihat senyuman Rajendra sari sebelah wajah. Pasti bukan hanya Ignacia yang mencoba untuk tidak salah tingkah.


Sampai di persimpangan, kini Rajendra yang mengecek peta. Hanya dilihat sekali dengan teliti lalu kembali melanjutkan perjalanan. Ignacia khawatir teman-temannya menunggu jadi ingin berjalan cepat-cepat. Hanya saja Rajendra terlalu malas untuk segera sampai di tempat mereka. Menurutnya berjalan dengan Ignacia seperti ini harus benar-benar dinikmati.


Masih butuh waktu agar bisa sampai ke restoran. Jadinya Ignacia mencoba untuk mengamati segala yang berhubungan dengan perjalanan kecil mereka. Agar bisa ia ingat kala merindukan laki-laki di sebelahnya. Tidakkah Rajendra terlalu memamerkan aroma tubuhnya yang candu? Sejak tadi hanya aroma menarik itu yang mengisi atmosfer sekitar. Ignacia tidak bisa membayangkan bagaimana jika aroma ini tiba-tiba lewat di sebelahnya tanpa adanya raga Rajendra.


"Aku masih tidak menyangka kita bisa sampai sejauh ini. Dari semua sikapku yang memuakkan, kamu tetap ada bersamaku. Terima kasih sudah mau menjadi bagian hidupku dalam sepuluh tahun terakhir, Rajendra." Ignacia menoleh, bermaksud bersitatap dengan laki-laki itu. Namun yang ia lihat hanya senyuman kecil dan anggukan.


Ketika hampir sampai, ponsel Ignacia bergerak dalam saku Rajendra. Panggilan dari Danita muncul di layarnya. Rupanya mereka bertanya pasangan kekasih ini ingin makan apa. Bahkan foto-foto menunya saja sudah Dianti kirimkan setelah bertanya. Katanya agar tidak lama menunggu makanan tiba.


Pasangan kekasih ini juga bisa sampai dalam waktu lima atau tujuh menit. Pas sekali dengan waktu kedatangan makanan sesuai informasi dari seorang kasir yang melayani tadi.


Yang tampak setelah berjalan lumayan jauh adalah jajaran restoran ramai. Masih pagi tapi sudah ramai saja. Tempat ini pasti menyediakan banyak makanan enak. Pantas saja ada salah satu restoran yang antrinya luar biasa panjang. Beruntung bukan tempat itu yang akan mereka tuju. Tempatnya maish agak jauh dari restoran tadi.


Dari sebuah jendela besar, tampak seseorang sedang melambaikan tangan penuh antusias. Karenanya Ignacia dan kekasihnya mudah menemukan meja yang sudah teman-teman lain tempati. Ada dua kursi berhadapan untuk keduanya duduk. Sayang sekali Ignacia tidak bisa menggandeng tangan Rajendra selama mereka makan.


Rajendra mendapatkan sapaan dari para laki-laki yang duduk di sederet sana. Menyenangkan sekali bisa melihat kekasihnya berteman dengan mereka secepat ini. Pasangan ini masih menjaga genggaman tangan sebelum duduk di tempat kosong disana. Ada obrolan kecil sebelum mereka akhirnya harus melepaskan satu sama lain.


Ada rasa berat kala tautan tadi terlepas. Rajendra tampak tak merasakan apapun, hanya sekedar melepaskan genggaman. Sementara Ignacia, tangannya terasa tak ingin dilepaskan. Mungkin Ignacia terlalu hanyut dalam kebersamaan hingga bertingkah kekanak-kanakan.


"Ada apa? Ini hanya makan biasa. Apa yang salah?"