
Ignacia terbangun ketika menyadari sesuatu yang berat tengah menindih tangan kanannya. Ketika kedua matanya terbuka sempurna, ia mendapati kepala seseorang tengah berada sangat dekat dengan dirinya. Kala ingin menarik tangan yang tertahan, hal aneh lainnya ia rasakan di belakang punggung.
Sejak kapan Danita berada di tangannya? Lalu kapan Nesya pindah ke belakang tubuhnya? Apa semalam Ignacia salah tidur di tempat tidur salah satu temannya? Ah sepertinya tidak. Ignacia sepenuhnya sadar dan menempati tempat tidurnya sendiri. Semalam juga dia melihat dengan jelas Nesya yang masuk bersamanya pergi ke tempatnya sendiri dan Danita sudah tertidur pulas di tempat yang berbeda.
Terpaksa Ignacia harus menunda bangunnya agar tidak menganggu mereka yang berada di sekitar dirinya. Matanya kembali terpejam beberapa detik setelahnya. Ignacia kembali melewati taman bunga yang ia lihat di mimpi sebelumnya. Karena tidak bergerak, jadi mimpi yang tadi seolah melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.
Sekarang berganti Danita yang terbangun, kepalanya tidak nyaman jika terus menggunakan tangan Ignacia sebagai bantal. Perlahan tangan temannya itu ia singkirkan tanpa membuat di empunya terbangun. Begitu urusannya selesai, mata Danita kembali terpejam. Matahari belum terbit, jadi sebaiknya dilakukan kembali tidur.
Lalu seperti sudah ditakdirkan, Nesya membuka matanya akibat merasakan beberapa gerakan di tempat tidur. Karena tidak dilihatnya apapun selain jendela di sebelahnya yang masih gelap, ia melanjutkan tidur tanpa mengubah posisi tidurnya. Semalam tidurnya kurang nyenyak, sekarang waktunya membalas waktu tidur yang masih kurang.
Tiga puluh menit berlalu, jendela yang tidak tertutup tirai mengusik tidur para gadis. Cahaya hangat dari luar begitu menganggu hingga ketiganya pun bangun bergantian. Ignacia langsung bertanya kenapa kedua temannya bisa ada di tempat tidurnya padahal mereka tidur berjejer di ranjang yang berbeda. Tidak ada sesuatu yang berbeda selain posisinya.
"Kalian punya kebiasaan berjalan dalam tidur?" tanya Ignacia penasaran. Gadis itu bangkit, mengambil sebotol air mineral yang sudah di sediakan penginapan. Tangannya terasa pegal karena sehabis digunakan sebagai bantal oleh Danita. "Sudah berapa lama kalian pindah ke tempat tidurku?"
Danita merenggangkan tubuhnya sambil masih di posisi merebahkan diri. Tangannya menepuk paha Nesya yang duduk di belakangnya sebagai kode untuk gadis itu yang menjawab pertanyaan Ignacia. Entah terlalu malas atau masih ingin tidur lagi. Nesya tidak ambil pusing dan segera menjawab.
Semalam ada hujan deras yang datang setelah Ignacia terlelap.
Hujan deras yang airnya seperti disiramkan oleh langit saking derasnya. Akibat hujan, benda-benda yang ada dikuar jadi bersuara. Berbeda dengan suara merdu yang biasa dihasilkan hujan, semalam suaranya begitu menakutkan hingga Nesya dan Danita bisa terbangun dari tidur nyenyak.
Malam sudah larut, diluar suasananya mencekam karena suara-suara aneh dan kenyataan bahwa hanya mereka berdua yang terjaga. Danita akhirnya cepat-cepat pindah dari tempat tidurnya yang dekat dengan jendela ke ranjang Ignacia yang berada di tengah-tengah. Hal yang sama dilakukan Nesya juga karena refleks.
Tempat tidur kecil itu beruntungnya muat untuk ketiga gadis ini karena tubuh mereka terbilang ramping. Hanya saja mereka sudah dewasa dan melewati umur kepala dua hingga rasanya tidak leluasa. Mereka mempertahankan posisi tidak nyaman semalaman karena hujan deras yang menakutkan.
Ignacia mengangguk-angguk paham. "Siapa yang ingin mandi lebih dahulu?" Kedua temannya menggeleng, masih enggan meninggalkan tempat tidur yang nyaman. Karenanya Ignacia akhirnya menjadi orang pertama yang memulai kehidupan di kamar dengan melakukan ritual pagi.
Setelah urusannya selesai, Ignacia masih mendapati kedua temannya masih berada di posisi yang sama. Liburan memang bagus untuk bersantai, namun mumpung ada disini, tidakkah mereka sebaiknya bangun lebih pagi agar bisa menikmati berkeliling di sekitar sini sebelum liburan berakhir?
"Teman-teman, ayo bersihkan diri kalian. Setelah ini kita berkeliling dan mencari sarapan," tegur Ignacia. Dia menepuk-nepuk kaki Danita dan bahu Nesya agar keduanya terbangun. Ignacia mendekati jendela dan menggantung handuk basahnya disana agar kering.
Mendengar teguran Ignacia, Danita mulai mengumpulkan niat untuk duduk. Tubuhnya sengaja ia jatuhkan ke sisi tempat tidur agar bisa terduduk di lantai. Matanya menangkap keberadaan beberapa kantung plastik berukuran sedang yang disandarkan pada malas sebelah tempat tidur.
"Jika semalam pria menyeramkan itu tidak muncul, kita pasti sudah berpesta semalaman." Danita menyandarkan tubuhnya pada ranjang, menghembuskan nafas panjang agar tidak kembali terpancing.
"Kalau begitu kita gunakan untuk piknik saja. Kita bisa duduk-duduk di pantai sambil mengobrol sebelum pulang." Ide Ignacia menarik perhatian kedua temannya. Mereka setuju-setuju saja. Lagipula kemarin sore mereka tidak menghabiskan waktu di pantai.
Nesya sudah lebih dahulu menyambar handuk miliknya sebelum sebuah ingatan muncul. Kemarin mereka katanya akan kembali ke bazar untuk mencoba camilan di sore hari. Kalau begitu piknik yang diusulkan Ignacia akan dikerjakan sebelum makan siang. Bertepatan dengan waktu keduanya check out.
Belum sempat Nesya menjadi orang kedua yang melakukan ritual pagi, suara ketukan di pintu lebih dahulu ia sambangi. Rupanya Riris yang berniat membangunkan. Semalam dia berpapasan dengan Ignacia dan Nesya dan berpikir jika ketiga teman ini masih tertidur. Melihat ketiganya yang sudah terbangun, Riris pun pergi melakukan aktifitasnya sendiri.
"Jkka butuh sesuatu, kirimkan pesan saja," pesannya sebelum meninggalkan pintu.
Sekitar tiga puluh menit kemudian Riris dihubungi oleh Danita, mengantarkan keduanya untuk pergi mencari sarapan. Riris sudah sarapan saat itu, jadinya ia akan menunggu di mobil hingga ketiganya selesai. Di perjalanan menuju tempat makan, Ignacia bertanya apa mungkin mereka bisa diantar ke bazar kemarin untuk membeli jajanan sebelum pulang. Memastikan Riris setuju atau tidak.
"Tentu, tidak masalah." Jawaban Riris membuat ketiga gadis itu tersenyum kecil. Setidaknya rencana mereka akan berhasil.
Ketika akan memasuki tempat makan, Ignacia tiba-tiba mendapatkan panggilan dari Athira. Memastikan kapan kakaknya akan pulang. Nantinya akan dia sampaikan pada mamanya yang bertanya. Juga Athira tidak lupa bertanya apa kakaknya akan pulang ke rumah lusa seperti rencana.
"Aku akan menemui Rajendra dahulu lalu pulang. Aku akan sampai di rumah malam hari."
Begitu panggilan selesai, berganti pesan Rajendra yang sampai di ponsel Ignacia. Laki-laki kesayangannya ingin tahu apah Ignacia tetap bangun pagi meskipun sedang liburan. Dia menyampaikan beberapa pesan untuk hari ini, hampir sama seperti hari pertama si gadis sebelum pergi. Rajendra juga berkata jika dirinya akan menunggu kedatangan Ignacia lusa.
Piknik diselenggarakan sesuai rencana. Sekitar tiga jam sebelum jam makan siang, langit berubah mendung. Menambah kegembiraan tiga gadis yang tengah memasukkan koper ke dalam bagasi setelah mengurus check out. Diam-diam seseorang beranjak tanpa diketahui kedua teman lainnya. Dia mengambil sesuatu yang sudah disiapkan di sisi mobil.
"Ignacia, selamat ulang tahun!" Danita menyodorkan sebuah kotak. Wajahnya tampak berseri-seri seolah dirinya yang mendapatkan hadiah.
Dia yang masih dalam proses memasukkan kopernya tentu agak kebingungan. Tangannya meraih sesuatu yang ada di dalam kantungnya, dia sodorkan pada Danita. "Selamat ulang tahun juga, Danita." Selesai mengatakan itu, Ignacia terkekeh kecil bersama dengan Danita yang kebingungan. Jadinya mereka seperti bertukar kado.
Di samping keduanya ada Nesya yang rupanya mengabadikan momen berbagi kado ini dengan kameranya. Begitu Ignacia dan Danita mendapatkan hadiah yang sudah mereka siapkan untuk satu sama lain, mereka mengeluarkan sebuah kado lain untuk diberikan pada si fotografer. Sekarang giliran Nesya yang bingung.
Masing-masing sudah mendapatkan kadonya. Sekarang waktunya berpiknik sambil membuka hadiah yang mereka dapatkan. Ignacia mendapatkan beberapa novel dari penulis lain yang bergenre mirip dengan buku-buku Nona Cream. Danita dan Nesya berusaha mencari buku yang mirip karena Nona Cream belum mengeluarkan buku terbarunya. Danita diberikan sebuah kalung yang Ignacia dan Nesya beli bersama setelah bertanya soal selera Danita pada kekasih si gadis.
Selanjutnya Nesya mendapatkan buku komik. Ignacia melakukan observasi tentang komik online yang sedang dibaca gadis berkacamata itu dan kemudian membeli bersama Danita. Mereka langsung memakai kado yang baru diberikan. Duduk bertiga di atas tikar, Ignacia dan Nesya membaca buku baru mereka dan Danita sangat senang mendapatkan kalung berliontin kecil yang menggemaskan.
"Kalian yang terbaik." Danita memeluk kedua temannya, masih tidak percaya jika mereka bertukar kado di hari yang bukan ulang tahun ketiganya. "Kalian sungguh-sungguh yang terbaik. Aku sangat menyukai hadiah dari kalian." Saling berterima kasih, merasa terharu bersama-sama dan pelukan bahagia itu.
Sekali lagi Ignacia mendapatkan hadiah di ulang tahunnya padahal sudah bukan anak kecil lagi. Hadiah buku yang berarti seperti buket dari Athira waktu itu. Perhatian yang Ignacia dapatkan hari ini sungguh berarti untuknya. Jika di masa lalu dia belum pernah merasakan kehangatan dari teman-temannya, sekarang Ignacia puas sekali.
Ignacia duduk bersila, fokus membaca buku. Nesya bersandar di belakangnya, saling menopang. Di tangannya juga ada buku komik baru. Sementara Danita merebahkan diri di paha Ignacia, sibuk berkirim pesan dengan Bahri. Memamerkan hadiah ulang tahun cantik yang sebenarnya Bahri sendiri sudah tahu.
"Teman-teman, apa kalian sudah memutuskan akan beli apa di bazar nanti?" Danita bertanya, memecah keheningan diantara kedua temannya. "Aku ingin membeli banyak makanan namun kurasa aku tidak akan bisa memakan semuanya." Si gadis terduduk sebentar untuk membuka camilan miliknya. Ia tawarkan pula pada kedua temannya sebagai teman membaca.
"Aku juga ingin membeli semuanya. Makanan disana terlihat enak. Nanti kita coba putari bazar sekali lagi," usul Nesya. Ia menerima tawaran Danita dengan senang hati lalu kembali membalikkan halaman buku komiknya. Ignacia setuju dengan Nesya. Dia mengangguk-angguk tanpa berniat bicara. Takut membuyarkan imajinasi yang tengah berjalan di kepalanya.
Sampai di akhir sebuah bab, Ignacia menghentikan aktivitasnya sebentar. Sekarang sudah tahun ketiganya di kota ini sebagai mahasiswa. Tahun depan, tahun terakhir dirinya bisa berada disini dan mulai mencari pekerjaan setelah berhasil lulus tepat waktu. Ignacia akan sulit menemui teman-temannya. Berlaku pula dengan para sahabatnya yang kini terpisah-pisah.
Ignacia mengambil nafas dalam-dalam, ingin mengingat semua kejadian menyenangkan bersama kesembilan teman di rumah dan dua teman baiknya di kota ini. Mengingat bagaimana orang-orang di sekitarnya hampir membuat Ignacia lupa jika dirinya pernah kesepian.
Rajendra, tiba-tiba Ignacia merindukan kekasihnya itu. Danita lanjut mengobrol dengan kekasihnya lewat ponsel, menggunakan paha Ignacia sebagai bantal sekali lagi. Ignacia ingin mengobrol dengan Rajendra lagi, memberitahu laki-laki itu jika dirinya mendapatkan koleksi buku baru. Iseng saja, untuk melihat bagaimana respon kekasihnya.
"Teman-teman, setelah liburan ini selesai, apa kita bisa menikmati waktu bersama lagi?" Danita menatap kedua temannya. Nesya muncul dari belakang Ignacia, katanya mereka masih bisa bertemu ketika jam makan siang. Tapi entah apa bisa sering bertemu karena gedung kampus yang berbeda.
Mendung yang datang membuat ketiganya tidak menyadari waktu yang telah berlalu. Jam makan siang bisa terlewat begitu saja jika saja Riris tidak mendatangi ketiganya dan mengajak makan siang akibat sudah merasa lapar. Piknik segera berakhir, buku dan komik akan dibaca lagi nanti. Danita berjalan dengan langkah ringan merasakan kalung yang melingkar indah di lehernya. "Wah aku bahagia sekali," gumamnya.
"Tunggu sebentar. Ayo abadikan momen ini. Sebagai kenang-kenangan liburan pertama kita." Nesya cepat-cepat memasang tripod, meminta pada Riris untuk menunggu di mobil sebentar. Gadis berkacamata itu langsung membuka kembali kopernya, menyesuaikan arah kamera lalu mengatur posisi temannya. "Sambil tunjukkan hadiah yang kalian dapatkan."
Kamera segera di setting menggunakan waktu agar Nesya bisa berlari ke tempat teman-temannya sebelum foto diambil. Beberapa foto diambil dalam satu waktu. Berbagai pose ketiganya lakukan untuk menunjukkan kado seperti yang diminta Nesya tadi.
"Akan aku kirimkan hasilnya ketika sampai di kos."
Mereka kembali ke jajaran restoran yang didatangi kemarin. Ada restoran lain yang direkomendasikan Nesya. Kali ini Riris juga ikut pergi kesana, namun ia berada di lantai dasar. Terlalu malas untuk menaiki tangga meskipun pemandangan di atas lebih menawan.
Jam makan siang sudah berlalu beberapa jam yang lalu, ketiganya jadi bisa menikmati waktu sebelum sore ketika bazar perlahan dipenuhi orang. Nesya mengambil video yang menunjukkan bazar sepi yang mulai ramai dengan kameranya. Tidak lupa memakai fitur mempercepat video agar durasinya tidak berlangsung terlalu lama.
Selesai makan, mereka akan pergi ke bawah sana sesuai jadwal. Ketiganya berhasil mengukir kenangan indah meksipun malam sebelumnya sempat ada kejadian tak mengenakkan. Danita seperti sudah lupa soal pria menyeramkan itu jika dilihat dari wajah bahagianya saat membeli berbagai makanan. Tapi entah jika gadis itu memakai topeng tebak hingga kedua temannya sulit merasakan perasaan yang sesungguhnya.
"Ignacia, ayo pergi kesana." Danita dan Nesya menggandeng kedua tangan temannya sekali lagi. Ignacia jadi tidak bisa leluasa membawa makanan miliknya yang ada di dalam sebuah kantong plastik. "Kasihan Kak Riris sudah menunggu. Kita harus cepat, waktu adalah makanan."
Ignacia yakin jika pepatah yang diucapkan Danita itu kurang benar. Tapi jika tidak memanfaatkan waktu dengan baik, mereka mungkin bisa terjebak di antrian makanan yang panjang.