Beautiful Monster

Beautiful Monster
Makin Ganjil



Rajendra mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong, ada nama penting di layar hingga Rajendra tidak bisa mengindahkan permintaan Ignacia untuk saat ini. Laki-laki itu bangkit, mengambil jarak beberapa langkah agar suaranya tidak menganggu yang lain. Danita menyadari perginya pasangan temannya dengan perasaan penuh tanda tanya.


"Kenapa Rajendra lebih memilih untuk mengobrol dengan orang lain padahal Ignacia sangat mengidam-idamkan liburan ini."


Danita menepuk bahu temannya agar tidak berpikiran negatif. Meksipun tidak terlihat, tatapan Ignacia terus terpaku pada Rajendra. Hingga laki-laki itu kembali, si gadis langsung menyandarkan tubuhnya tanpa peduli jika Rajendra masih memperbaiki posisi duduknya. "Hei tunggu sebentar." Ucapannya seolah sengaja tidak didengarkan akibat kesal.


"Orang yang menelpon tadi lebih penting dariku ya?" Pertanyaan tajam Ignacia membuat Danita dan Bahri menoleh. Disusul dengan Nesya dan Farhan yang buru-buru mengalihkan pandangan karena kode pasangan di sebelahnya. "Jika mereka lebih penting, kenapa tidak bertemu dengan mereka saja sekarang? Kenapa kamu harus menjauh dariku ketika mengangkat panggilan tadi?"


Ignacia tahu dirinya tidak berhak kesal karena menjawab panggilan merupakan privasi. Hanya saja kenapa harus diangkat? Apa orang itu tidak tahu jika Rajendra sedang berlibur? Mengesalkan sekali. Apalagi Rajendra terus memunggungi dirinya sekaan Ignacia tidak perting sama sekali. Rasanya tidak adil. Raga Rajendra bersamanya, namun perhatiannya selalu diambil oleh seseorang yang tak nampak di depan mata.


Kekasihnya hanya bisa meminta maaf, membiarkan Ignacia berat di posisi paling nyaman tanpa menyanggah sedikitpun. Rajendra sudah mematikan data di ponselnya, jadi tidak akan ada gangguan hingga hari ini berlalu. Ignacia diam, mendengar seribu permintaan maaf agar si gadis merespon. "Besok akan menjadi waktu kita berdua, aku janji."


Langit mulai semakin gelap. Dari bawah lautan di sisi langit yang lain, Dewi malam sudah akan muncul ke permukaan. Bersiap bersama ribuan pengawal mengisi kekosongan tahta. Waktu berjalan begitu lamban bagi Ignacia. Seakan dirinya bisa merasakan setiap detik sebelum matahari benar-benar menghilang. Agak mengecewakan.


Siapa orang tadi? Kenapa menghubungi Rajendra? Ada berapa orang yang menginginkan perhatian orang yang tengah berlibur? Jika Rajendra bisa sibuk, nanti malam Ignacia juga bisa mulai mengecek naskah yang dikirimkan padanya. Ignacia juga bisa mengalihkan perhatiannya dari pasangan ketika sedang bersama seperti yang Rajendra lakukan.


"Kamu sudah berjanji," gumam Ignacia pelan. Ia perbaiki posisi duduk agar tidak lagi terlalu dekat dengan Rajendra. Tangan Rajendra yang ada di lengannya saja juga Ignacia lepaskan perlahan. "Aku tidak ingin kamu menjawab panggilan dari siapapun lagi besok. Kamu sudah berjanji untuk fokus pada kita berdua."


Egois, satu kata yang Ignacia rasakan saat mengatakan keinginan barusan. Apa tidak boleh egois karena ingin merasakan kehangatan dari pasangan yang jarang ditemui? Untuk ini Ignacia tidak akan menyesal sudah menjadi egois. Jika Rajendra serius dengan ucapannya, dia tidak akan melanggar.


Keadaan jadi hening akibat nada bicara tajam Ignacia ketika di pantai. Dua pasangan di sampingnya bingung harus bagaimana. Mereka belum pernah melihat Ignacia kecewa begitu. Danita yang ingin angkat suara terus merasa enggan. Dirinya tidak bisa membela siapapun. Ignacia punya perasaan dan Rajendra punya urusan yang kelihatannya penting.


Lampu-lampu di sekitar pantai mulai menyala. Sudah waktunya untuk makan malam, Bahri dan Danita bangkit lebih dulu. Mencoba untuk menggerakkan roda yang sempat terhenti. Rajendra bangkit setelahnya, mengulurkan tangan agar Ignacia bisa berdiri dengan mudah. Tidak ada alasan untuk menolak. Jika terus bersikap kesal, Rajendra juga bisa jenggah.


Sebelum pergi, Rajendra izin kembali ke kamarnya untuk mengambil sesuatu. Angin tiba-tiba datang lebih kencang, Ignacia merasakan dingin tidak nyaman di lengannya yang polos. Apa dirinya harus ikut masuk ke dalam dan mengambil jaket dari kamarnya? Ketika akan melangkah, Ignacia sudah melihat Rajendra kembali memakai jaket yang menutupi kaus berlengan panjangnya. Sepertinya Ignacia tidak perlu masuk.


"Maaf sudah membuatmu kecewa," sekali lagi Rajendra mengungkapkan penyesalan. "Aku bersalah, aku minta maaf."


Di dalam mobil, kini giliran Farhan dan Nesya yang duduk di depan. Nesya akan memandu mobil ini ke tempat makan enak yang pernah ketiganya kunjungi dulu. Ingin membiarkan ketiga laki-laki yang baru bergabung ini hidangan laut yang menggugah selera. Dengan kerja keras, perjalanan menuju restoran itu tidak terasa dingin.


Ignacia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Merespon ucapan dan pertanyaan teman-temannya seperti biasa. Sesampainya di restoran, Danita punya ide agar mereka memilih tempat yang berbeda untuk makan. Jadi meskipun tema hari ini adalah kencan bertiga, masing-masing dari mereka bisa menikmati malam yang tenang berdua. "Selamat bersenang-senang kalian semua."


Rajendra ingin makan di lantai kedua, menjauh dari dua pasangan lain. Coba ia gandengan tangan Ignacia namun si gadis sedikit menepis. "Kamu masih kesal padaku? Tadi aku punya panggilan mendadak dan aku tidak bisa langsung mematikannya. Tadi kerabat ibuku yang menelpon." Rajendra berbicara pelan sambil berjalan beriringan dengan sang kekasih.


Tanpa menjawab, tangan lenggang Ignacia bergerak untuk menggandeng balik kekasihnya. Anggap saja Rajendra sudah dimaafkan tanpa perlu balasan verbal. Pesanan mereka akan datang lima menit lagi, jadi ada sedikit waktu untuk mengobrol. Ignacia ingin tahu kenapa Rajendra terus ditelpon, pasti ada alasan khusus.


"Kenapa harus hari ini? Kamu punya tugas di tempat lain? Tadi kenalan, lalu yang terakhir kerabat. Sebenarnya ada tanggung jawab yang kamu tinggalkan untuk sampai kesini?" Ignacia tidak ingin menatap Rajendra. Takut merasa luluh dan menghancurkan perasannya sendiri. Dari sudut matanya, Rajendra tampak menghembuskan nafas pelan.


Laki-laki itu kembali meminta maaf karena tidak bisa menjelaskan alasannya pada Ignacia. Ada privasi yang tidak ingin ia katakan pada siapapun untuk saat ini. Nanti jika Rajendra sudah siap, Ignacia pasti bisa mendapatkan penjelasan rincinya. Dia punya banyak rahasia. Ignacia belum pernah mendapatkan penjelasan apapun.


"Wah makanannya datang. Kamu harus mencoba ini, Rajendra." Asap mengepul dari sepiring besar hidangan laut berisi Kerang dan kepiting asam manis. Aroma khas seakan mengisi ruangan yang setengah ramai ini. "Pakai sarung tangan plastik ini agar tanganmu tidak kotor."


Rasanya aneh bagi Rajendra karena harus akan menghabiskan hidangan laut ini. Karenanya selesai memakai sarung tangan plastik, Rajendra masih terdiam, tatapannya terpaku pada makanan. Sesuap kerang disodorkan di depan mulut, Ignacia ingin kekasihnya mencoba lebih dulu. "Cobalah, ini enak. Atau jika kamu ingin makan yang lain, akan aku pesankan."


Ignacia mencoba kerang dan kepiting untuk dirinya sendiri. Rasanya sama enaknya seperti terakhir kali. "Aku melihat ada yang memesan hidangan laut kukus dengan cocolan saus. Aku ingin mencobanya kapan-kapan." Mendengar itu, Rajendra lalu mengalihkan pandangan untuk mencari makanan kukus yang kekasihnya maksud.


"Ada di lantai bawah sebelum kita masuk. Kamu tidak suka makanan ini? Kamu sejak tadi tidak menyentuh makanannya." Ignacia jadi merasa bersalah karena memesan atas keinginannya sendiri. "Mau kupesankan makanan yang lain? Kalau begitu akan aku ambilkan menunya dan-"


"Maaf sudah membuatmu gelisah." Suara Rajendra berhasil memotong rasa cemas Ignacia. Gadis yang awalnya akan bangkit dan melepas sarung tangan plastiknya itu kembali duduk di hadapannya. Menatap dengan aneh laki-laki itu. "Aku suka makanannya, aku hanya senang bisa berduaan denganmu disini. Apalagi kamu tadi menyuapi aku makanan hingga jadi salah tingkah. Makanannya enak kok."


Jika enak, kenapa Rajendra diam saja seakan tidak tertarik? Sejak tadi tangannya ada di atas meja, enggan bergerak untuk ikut makan. Tidak apa-apa jika Rajendra ingin makan menu lain, Ignacia bisa mencari menu dan memesankan dalam waktu singkat. Dengan keheningan yang ada, Rajendra bergerak untuk balik menyuapi kekasihnya.


Ada apa dengan kencan mereka hari ini? Ignacia merasa semakin ganjil. Ia biarkan beberapa detik suapan kerang di depan mulutnya. Mata Ignacia mencoba untuk mencari-cari maksud enggan Rajendra diawal lewat kontak mata. Meskipun begitu Ignacia menerima suapan itu dan tersenyum bahagia. Menunjukkan jika dirinya senang.


"Besok kita bangun lebih awal dan melihat matahari terbit. Kira-kira kita akan bangun pukul berapa?" Ignacia bicara setelah mulutnya kosong. Sementara laki-laki di hadapannya butuh waktu beberapa saat untuk menelan. Satu jam sebelum matahari terbit kedengarannya bagus. Mereka punya waktu bersama hingga waktunya sarapan. "Tolong bangunkan aku besok pagi, Rajendra. Aku takut terlambat bangun."


Kekasihnya mengangguk, "Akan aku telpon saja kamu. Kamu harus tidur lebih awal agar bisa bangun ketika aku menelpon." Lagi-lagi Rajendra ingin memberikan suapan pada kekasihnya. Karena kurang sabar, jadinya ada saus di sebelah bibir Ignacia. Gadis itu tidak menyangka jika kerang yang disodorkan tidak tepat berada di depan mulutnya. "Maaf, akan aku ambilkan tisu sebentar." Ignacia yang tidak fokus malah Rajendra yang meminta maaf.


Rajendra itu laki-laki yang perhatian, berhati baik, dan selalu senang menghabiskan waktu atau direpotkan oleh Ignacia. Tapi kenapa sikapnya kadang tampak seperti bosan dengan hubungan ini? Apa sebaiknya mereka harus membicarakan ini besok pagi? Orang-orang akan menjadi jujur ketika lelah. Ignacia tidak ingin membuat Rajendra lebih lelah malam ini.


Angin yang datang dari jendela membuat Ignacia menggigil sekilas. Rajendra benar, seharusnya Ignacia memakai kaus yang lengannya lebih panjang. Sekembalinya Rajendra mengambil tidur dari meja di belakangnya, tanpa sengaja Ignacia menunjukkan wajahnya yang menyerkit seolah menahan sesuatu. Rajendra juga merasakan hawa dingin yang baru saja datang. Punggung tangannya jadi dingin.


Laki-laki itu urung memakai kembali sarung tangan plastik. Ia lepas jaket yang ia kenakan untuk berikan pada gadisnya. Jaket itu Rajendra sematkan pada bahu Ignacia tanpa harus memasukkan lengannya. "Kamu bisa bilang padaku jika kedinginan. Aku memakai ini agar bisa aku pinjamkan untukmu. Cocok sekali dengan bajumu juga kan?" Warna coklat gelap jaket ini senada dengan kaus yang dipakai Ignacia.


"Terima kasih, maaf merepotkan."


"Kamu tidak pernah merepotkan untukku." Saus di sebelah bibir Ignacia kembali bersih karena sapuan lembut Rajendra. Laki-laki itu lalu duduk di hadapan Ignacia seolah yang ia lakukan tadi bukan hal besar. Omong-omong Rajendra juga banyak menahan untuk tidak bicara. Padahal sebelumnya Rajendra banyak membawakan cerita. Antara menahan atau sudah tidak punya bahan obrolan sebenarnya.


Ignacia memberitahu rencananya untuk membaca sedikit naskah yang masuk. Menyicil pekerjaan agar tidak terlalu menumpuk setelah liburan. Rajendra mendengarkan dengan seksama, menawarkan diri untuk membantu Ignacia mengerjakan pekerjaan itu jika boleh. Mungkin sambil duduk di dekat pantai, menikmati makan berdua tanpa gangguan.


Tentu saja Ignacia akan senang jika ditemani. Dengan begitu Rajendra akan berada di sisinya hingga menyelesaikan setidaknya satu bab. "Terima kasih sudah menawarkan diri, Rajendra. Aku pasti bisa menyelesaikannya dengan baik berkat kamu." Keduanya saling menukar senyum, saling menulari tanpa ingin berhenti menatap.


Sementara pasangan ini menikmati makan malam dengan damai, ada seseorang bermata empat yang mencoba untuk mengambil foto sebaik mungkin dari kejauhan. Tempatnya yang tersembunyi namun sempurna pasti bisa menghasilkan foto yang diinginkan. Foto bentuk potrait dan lanskap sudah berhasil didapatkan. Sekarang dia masih ingin mengambil momen lain.


"Apa kita harus melakukan ini? Kamu bisa jatuh jika memotret disini." Farhan terus berjaga-jaga di samping Nesya. Beruntung tangganya sepi hingga mereka tidak menganggu jalam siapapun. Ada sedikit keterlambatan dalam pesanan keduanya, jadi ada waktu sebentar untuk mengabadikan momen temannya. "Nesya, kamu sudah mendapatkan banyak foto. Kita turun sekarang saja. Makanannya sudah akan sampai."


Nesya menurunkan kameranya, melihat-lihat hasil perlahan. Farhan menuntun kekasihnya untuk turun, memperingatkan jika masih ada beberapa anak tangga di bawah. "Lihat, makanannya sudah datang," ucap Farhan memberitahu. Benar saja makanan yang sama seperti yang dipesan kedua teman lainnya akhirnya sampai. "Apa kita bisa menghabiskan semuanya?"


"Tentu saja. Ini porsi untuk dua orang."


Di meja, Farhan sudah siap untuk menyantap makanan di hadapannya. Ia kupas sebuah kerang untuk diberikan pada Nesya. Agar kekasihnya berhenti melihat kamera sambil tersenyum. "Ayo makan dulu, Nesya. Setelah ini kamu bisa mengambil foto sebanyak yang kamu mau." Nesya menurut, ia simpan kameranya lalu memakai sarung tangan seperti Farhan.


Di sisi lantai satu yang lain, Danita dan Bahri tengah mengobrol seru soal beberapa orang yang berlalu lalang di depan restoran. Menghitung ada berapa orang yang memakai jaket sesuai warna baju yang mereka pakai. Canda tawa yang tercipta semata-mata hanya digunakan Bahri untuk mengalihkan perhatiannya dari Ignacia dan Rajendra di lantai kedua. Bahri berharap apa yang ia bayangkan soal hubungan temannya itu tidak terjadi.


"Mereka sudah berkencan cukup lama. Yang Rajendra tunjukkan itu pasti bukan rasa bosan. Laki-laki itu hanya sibuk." Beberapa kali Bahri melirik ke atas atas, penasaran bagaimana kondisi di meja kedua temannya sekarang. "Meksipun sibuk, kenapa Rajendra harus berlalu pergi begitu? Semoga Ignacia tidak apa-apa."