Beautiful Monster

Beautiful Monster
Buket Bunga



"Sudah selesai?" mamanya mengecek apakah anaknya sudah siap pergi untuk acara wisuda. Ignacia sudah berdiri dekat jendela dan mengambil beberapa foto dengan pakaian wisudanya. "Jika sudah selesai, kenapa tidak segera keluar? Kami semua sudah menunggu di depan."


"Apa kalian semua akan datang?" Ignacia menurunkan ponselnya, "kenapa bukan ayah dan mama saja yang datang? Nanti hanya aku yang membawa seluruh keluarga."


Gedung wisudanya sudah ramai ketika Ignacia datang. Bahkan teman-teman Ignacia, Rananta dan yang lainnya sudah datang dan menunggunya di depan gedung. Lebih baik berfoto ketika mereka semua masih dalam keadaan segar. Karena jika berfoto setelah acara, mereka pasti sudah kelelahan karena terlalu lama duduk selama acara berlangsung.


Seorang teman yang Dinanti ajak yang membantu kesepuluh teman ini berfoto. Karena hanya dia yang berbeda sekolah, jadinya dia yang datang dengan seorang teman. Dia juga sudah menyiapkan buket bunga kecil untuk teman-temannya setelah acaranya selesai nanti.


"Terima kasih sudah datang," Aruna bicara.


"Tentu. Aku senang melihat kalian wisuda." Dianti menepi sebentar, mengecek hasil foto di samping Aruna. Akan dia kirimkan setelah sampai di rumah nanti. "Omong-omong aku belum melihat Rajendra. Dia tidak ingin menemui Ignacia?" Aruna mengangkat bahu tidak tahu.


"Kenapa bertanya soal itu?"


"Aku melihat ayah Rajendra kembali dari luar cukup pagi. Kukira setelah mengantar Rajendra kemari."


"Begitukah? Jika dipikir-pikir, Kemala dan teman-teman sekelasnya sudah banyak yang datang. Tapi mungkin kau salah paham, Dianti. Bisa saja bukan mengantar Rajendra. Akhir-akhir ini Rajendra pasti akan datang jika ada Ignacia."


Aruna terkekeh mendengar ucapannya sendiri. "Mereka benar-benar jatuh cinta akhir-akhir ini. Kau tahu Nesya, teman Ignacia yang berkacamata itu? Dia selalu menjadi nyamuk di tengah-tengah pasangan kasmaran itu. Kadang aku melihatnya seperti tidak suka pada orang yang kasmaran. Tapi tidak punya pilihan karena yang sedang kasmaran itu temannya sendiri."


"Kita juga pernah merasakannya ketika SMP, Aruna. Kau ingat? Kadang Rajendra datang ketika kita tengah berkumpul di depan kelasku. Rajendra seperti selalu memastikan Ignacia baik-baik saja dan sebagainya."


"Mungkin karena itu mereka bisa sampai di usia empat tahun hubungan. Mereka belum pernah putus nyambung sebelumnya. Beberapa dengan pasangan-pasangan yang kutahu."


"Kalian membahas apa?" Maharani datang, "Aruna, kita harus segera menempati tempat duduk kita agar tidak berdesakan nanti." Maharani langsung dijemput Utari setelah menyampaikan pesan dan pergi ke tempat mereka seharusnya duduk. Meninggalkan Aruna dan Dianti yang belum bergerak.


Di sisi lain, Nesya tengah menunggu Ignacia. Tempat duduk mereka tidak bersebelahan karena nomor absen yang lumayan jauh. Tapi setidaknya duduk Nesya berada di belakang Ignacia. Keduanya masih bisa berkomunikasi meksipun tidak sesering jika duduk bersebelahan.


"Ignacia," Nesya mengangkat satu tangannya sebagai tanda. Ignacia langsung berjalan ke arah itu.


"Sudah datang sejak tadi?" Ignacia bertanya. Duduk di depan sang teman. Tubuhnya dia hadapkan ke belakang.


"Tidak, aku baru saja sampai dan duduk disini. Kulihat kamu sedang bersama teman-temanmu tadi."


"Iya, kami banyak berfoto."


Pandangan Ignacia tidak terfokus pada Nesya saja. Beberapa kali dia mengambil kesempatan untuk memperhatikan sekitar mencari keberadaan seseorang. Nesya tidak heran ataupun protes. Itu namanya menyelam sambil minum air.


...*****...


"Kamu melihat Kak Rajendra?" Sang mama bertanya. Berbisik pada anak perempuan yang ada di sampingnya ini. Dan jawaban yang didapatkannya hanya angkatan bahu tidak tahu. Athira mana memperhatikan kekasih kakaknya di tengah keramaian gedung wisuda. Yang lebih dia perhatikan adalah rambutnya yang belum sempat dia cek sebelum pergi.


"Kamu ini sibuk dengan rambut saja sejak tadi. Kenapa tidak membantu mama mencari keberadaan Kak Rajendra saja?"


"Kenapa mama tidak bertanya pada kakak saja? Kakak yang paling tahu dimana Kak Rajendra berada," Athira menurunkan layar ponselnya yang berfungsi sebagai cermin tadi, "lagipula kenapa mama mencari Kak Rajendra? Barisan kelas kak Rajendra berada jauh dari kelas kakak."


"Kelas kakak di depan sana dan di belakangnya masih ada kelas Mipa 1 dan 2. Mama terlalu jauh jika melihatnya darisini."


"Mama hanya ingin melihatnya saja. Mama suka melihat orang wisuda." Alasan mamanya memang agak sulit untuk dipercaya.


Tak jauh dari sana, Athira melihat ayahnya berjalan mendekat. Baru kembali dari toilet. Athira buru-buru menyenggol lengan mamanya sebagai kode. Jangan sampai ayahnya menaruh curiga pada mamanya yang seolah mencari-cari keberadaan seseorang. Apalagi ini acara kelulusan kakaknya yang harus sempurna.


...*****...


Ignacia memandangi layar ponselnya beberapa kali. Mengecek apa mungkin ada pesan dari Rajendra. Namun sayangnya tidak ada yang terjadi hingga Ignacia memutuskan untuk mematikan ponselnya sementara hingga acara selesai. Lebih baik dia sibuk dengan acaranya daripada menunggu laki-laki yang entah ada dimana dan sedang apa itu.


Seperti acara-acara wisuda biasanya, akan ada beberapa rangkaian acara yang harus dilewati. Sekarang sudah sampai di


penyampaian sambutan-sambutan oleh kepala sekolah. Ignacia tidak begitu mendengarkan. Dia tidak punya atensi apapun tentang ucapan panjang sang kepala sekolah.


"Ignacia, kau mau?" Seorang teman menawarkan permen rasa buah untuknya. "Kau terlihat lemas padahal ini masih belum puncak acaranya. Kau baik-baik saja?"


"Kamu kenapa?" Nesya mencondongkan tubuhnya pada Ignacia agar bisa memperhatikan wajah kelelahan Ignacia dengan lebih jelas. "Kamu baik-baik saja, Ignacia? Mau kupanggilkan orang tuamu sekarang?"


"Jangan membuat keributan. Aku hanya sedang tidak bersemangat saja sekarang. Aku baik-baik saja," cegah Ignacia sungguh-sungguh. Hatinya sedang lemah dan itu berpengaruh pada kondisi tubuhnya saat ini.


Ignacia cukup terkesan dengan seseorang yang memberikan sambutan setelah kepala sekolah. Ada seorang perwakilan wali murid yang akan menyampaikan sambutan-sambutan. Dan perwakilan wali murid itu adalah Ibu seorang teman di kelasnya.


...*****...


"Itu foto diluar tadi?" Seseorang di belakang Kemala bertanya. Membuat yang sedang melihat-lihat hasil foto di kamera miliknya. Kemala yang merasa ditanyai pun mengangguk tanpa menoleh. Seseorang di belakangnya ini kepo sekali.


"Kenapa aku tidak melihat kalian tadi diluar? Apa aku melewatkannya?" Kembali orang itu bertanya.


"Ya, kau melewatkannya karena sibuk dengan buket bungamu sendiri. Omong-omong tadi kau kelihatannya dicari olehnya. Kenapa kau tidak menghubungi agar dia tidak mencari? Kau tega sekali padanya."


"Jika aku mengatakannya, nanti aku tidak bisa memberikan kejutan untuknya."


"Kau dan kejutanmu, anak muda?" Kemala tertawa mendekat ucapannya sendiri. Dan itu membuat seseorang yang tadinya mendekatkan diri untuk melihat foto-foto di kameranya mulai menatap aneh.


...*****...


Sesi selanjutnya dalah penyampaian kesan pesan oleh perwakilan wisudawan. Yang di panggil kali ini... Maharani. Sahabat Ignacia yang satu kelas dengan Utari. Tidak heran jika Maharani yang di panggil. Dia murid pintar dari kelas Mipa 2 yang tidak pernah membuat masalah dan berprestasi.


"Aku ingin seperti Maharani di hari kelulusan kuliahku nanti. Menjadi perwakilan itu sesuatu yang membanggakan." Nesya berbisik di sebelah telinga Ignacia. Belum masuk perkuliahan saja Nesya sudah berencana menjadi perwakilan di wisuda.


"Setelah acara selesai, kamu akan menemui Rajendra? Kamu sudah berfoto dengannya? Hari seperti ini hanya ada sekali seumur hidup, Ignacia. Karena kita hanya akan wisuda SMA setelah selesai SMA saja."


"Ya, seharusnya begitu."


"Aku membawa kemera ayahku. Akan kufoto kalian nanti. Kuharap kalian bisa menikmati waktu terakhir dengan baik." Kenapa Nesya bersikap seperti ini sekarang? Seolah-olah dia tahu jika Ignacia dan Rajendra akan berada cukup jauh.


...*****...


Prosesi wisuda purna siswa berlangsung setelah pembacaan ikrar pelajar. Kelas Aruna yang pertama kemudian disusul oleh kelas Ignacia. Matanya terlalu takut untuk melihat ke kelas Mipa yang ada di belakang. Padahal tidak akan ada seseorang yang bisa menghalanginya mencari keberadaan Rajendra.


"Ignacia," tegur teman yang berdiri di belakang Ignacia. Gadis itu terlalu sibuk menatap ke bawah hingga tidak menyadari jika barisan di depannya hampir menghilang. Rasa malu datang, Ignacia tersenyum canggung hingga selesai gilirannya.


"Kenapa kau melamun tadi?" Nesya bertanya.


"Aku ingin menoleh ke belakang untuk mencari Rajendra. Aku terus memikirkannya hingga tidak sadar." Jelas Ignacia dengan malu-malu. Seharusnya tadi dia ingat jika tempat ini didatangi oleh lebih dari 500 orang.


Ignacia menyalakan ponselnya lagi. Mengalihkan perhatian dari rasa malunya yang sangat dalam. Beruntung tidak ada yang melihat wajah memerah khas Ignacia. Orang-orang memang tidak membahasnya, namun Ignacia yakin teman-temannya melihat apa yang dilakukannya.


New Message from Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ


Ignacia, ayo bertemu setelah acara selesai


Apa kamu bisa? Aku ingin berfoto denganmu


Rupanya laki-laki ini ingat untuk mengirimkan pesan padanya. Ignacia membalas singkat kemudian mengacuhkan ponselnya lagi. Sekarang yang harus dilakukan adalah membuat penampilan Ignacia tetap menawan agar tetap bagus ketika berfoto dengan Rajendra nanti.


Mulai dari rambut, pakaian, hiasan kepalanya juga. Lalu kedua orang tuanya akan memberikan buket bunga nanti. Ah itu akan menjadi properti foto yang bagus. Apa Ignacia harus mencari pose yang bagus untuk nanti? Setidaknya dia akan memiliki persiapan sebelum berfoto.


...*****...


"Ini bunga untuk kakak." Athira memberikan satu buket bunga besar untuk kakaknya. Ini hasil dari sebagian harta yang dia miliki selain cat, kuas, dan kanvas.


"Ayo ayah foto kalian." Keempat anaknya memposisikan diri untuk difoto. Arvin ikut memegang buket bunga kakaknya, Rafka memposisikan diri di depan Athira yang ada di samping yang sedang wisuda. Hasil fotonya terlihat menggemaskan.


"Terima kasih untuk buket bunganya," ucap Ignacia malu-malu.


"Tentu saja. Omong-omong Ignacia..."


Mama Ignacia merangkul bahu yang sedang wisuda. Seperti ada kode untuk Athira dari sang mama. Athira tiba-tiba meminta ayahnya menemani membeli minum. Kebetulan minum yang mereka dapat dari acara hari ini sudah habis. Kemudian setelahnya Arvin dan Rafka minta ditemani pergi ke toilet.


"...apa kamu tidak ingin berfoto dengan Rajendra? Mama akan mengambil foto kalian bersama. Kapan lagi mama bisa mengambil gambar kalian dengan baju wisuda. Ayo panggil dia dan akan mama foto."


Wajah Ignacia memanas seketika. Jantungnya berdetak sangat kencang seolah baru saja lari maraton. Mamanya gemar sekali membuatnya merasa aneh. Ignacia sudah mengirimkan pesan tentang posisinya pada Rajendra. Tapi laki-laki itu hanya membaca tanpa membalas.


"Rajendra mungkin tidak akan datang jika mama masih ada disini. Aku bisa menunjukkan hasilnya setelah berfoto nanti. Kenapa mama juga ingin melihatnya?"


"Kenapa tidak? Mama juga pernah berpacaran, jadi mama tahu apa yang dilakukan kekasih seperti kalian. Apa mama harus menjauh sebentar dan melihat kalian dari kejauhan saja?"


"Aku suka ide itu. Bagaimana jika mama memastikan agar ayah tidak segera kembali? Aku akan segera menyelesaikan ini dan mencari kalian nanti," Ignacia menatap memohon, "tolong jangan membuat Rajendra gugup."


Mama Ignacia setuju. Menatap menggoda pada sang anak pertama sebelum benar-benar pergi. Mengirimkan pesan pada sang suami tentang posisinya dan sebisa mungkin menahan agar tidak mendapati Ignacia sedang berfoto dengan seorang laki-laki kesukaannya.


Ignacia mengecek ponsel, tidak menemukan apapun selain pesannya yang hanya dibaca. Apa Rajendra sedang sibuk dengan teman-temannya hingga tidak sempat menemuinya? Nesya juga sedang bersama dengan teman-temannya yang berasal dari sekolah lain.


Gadis dengan mata coklat ini belum bisa menemukan seseorang yang di cari. Hatinya menjadi berat hingga tanpa sadar menghembuskan nafas panjang. Masih dengan membawa buket bunga miliknya, Ignacia menatap sepatunya sendiri. Menendang kerikil kecil untuk menghilangkan rasa bosan.


"Ada dimana dia? Kenapa dia tidak membalas pesanku? Apa dia lupa sudah mengajakku bertemu?" Gumam Ignacia.


Si gadis melihat seseorang yang seakan berjalan mendekat lewat sudut matanya. Saat akan menoleh, tiba-tiba saja ada buket bunga yang menghalangi pandangan Ignacia untuk melihat siapa yang datang. Ignacia hampir terhuyung ke belakang karena terkejut.


Meskipun tidak tahu siapa ini, Ignacia memiliki satu orang yang dia pikirkan. Pakaiannya seperti laki-laki. Tubuhnya setinggi orang yang dia pikirkan. Dan sepertinya Rajendra memiliki kesempatan untuk melakukan ini.


"Rajendra, itu kamu?" Ignacia akan memastikan, namun orang itu mencoba untuk menutupi pandangan Ignacia agar tidak melihat wajahnya. "Hei ayolah, aku tahu jika ini kamu. Mana mungkin aku salah mengenali kekasihku sendiri."


"Hehe, aku ketahuan." Rajendra menampakkan diri. Tersenyum lebar sambil menyodorkan buket bunga. "Ini untukmu, Ignacia. Selamat atas kelulusanmu, cantik."


"Hei apa yang kamu katakan?" Ignacia gelagapan ketika Rajendra memujinya. Tangannya diambil agar menerima buket bunga yang dibawa. Jadinya Ignacia membawa dua buket bunga sekarang. Sementara itu Rajendra juga membawa buket bunga untuk dirinya sendiri. "Terima kasih untuk bunganya."


"Ignacia!" Beberapa orang menyerukan namanya. Kesembilan temannya membuat perhatian orang-orang kini tertuju padanya. Ignacia harus menyembunyikan wajahnya dengan buket bunga karena keributan ini.


"Kami membawa kamera," Aruna promosi. Kebetulan saja banyak dari mereka yang membawa kamera. Sambil mengangkat kamera masing-masing mereka menatap Ignacia bermaksud menggoda si gadis.


Rajendra menarik pinggang si gadis agar lebih dekat. Kode untuk teman-temannya segera mengambil gambar sepasang kekasih ini. "Tersenyumlah, ini hari kelulusan kita," bisik Rajendra tepat di sebelah telinga si gadis.


Dengan menutupi wajahnya Ignacia menoleh, "orang tuaku masih ada disini, Rajendra. Bagaimana jika mereka mendapati kita berada di posisi seperti ini? Bukankah ini terlalu dekat?"


Rajendra mendekatkan wajahnya, sama-sama berada di balik buket bunga. "Kalau begitu sebaiknya kita cepat menyelesaikan ini dan memberikan jarak yang tepat. Benar begitu?" Rajendra mengumbar senyuman terbaik.


Membuat wajah Ignacia memerah seketika.