Beautiful Monster

Beautiful Monster
Ajakan Datang



Ignacia bangun lebih pagi untuk memilih pakaian. Mengeluarkan beberapa pasang baju untuk dibandingkan. Butuh waktu lama bagi Ignacia memilih jika Athira tidak datang untuk memanggil kakaknya sarapan. Rajendra sebaiknya tidak dibuat menunggu karena Ignacia sulit memilih pakaian. Katanya nanti Rajendra juga ingin membicarakan sesuatu setelah makan siang.


Entah dorongan darimana hingga Ignacia ingin mencoba memakai rok pendek hari ini. Karenanya ia menyiapkan sebuah graphic t-shirt putih dengan outer berupa kemeja putih dan plaid tennis skirt. Tampak seperti perempuan. Sudah lama Ignacia tidak memakai rok. Mungkin Rajendra akan menyukai penampilan Ignacia yang ini.


Ada beberapa pilihan baju juga rok lain namun sepertinya Ignacia akan memilih yang awal tadi ia pikirkan. Athira setuju-setuju saja, segera membawa kakaknya ke meja makan sebelum mamanya datang memanggil. Perutnya sudah keroncongan minta segera diberi makan.


"Mama, hari ini aku akan pergi bertemu teman. Aku berangkat siang dan mungkin pulang agak sore. Boleh?" Ignacia menatap mamanya yang sedang mengoper piring. Si gadis mendekatkan diri agar bisa bicara tanpa perlu berteriak. Sialnya izin yang Ignacia harapkan dari mamanya terdengar oleh sang ayah.


"Kamu akan keluar lagi? Dengan siapa kali ini?"


Ignacia takut-takut untuk menjawab pertanyaan ayahnya. Setelah bertemu Rajendra seperti ada hawa aneh dari pria itu akhir-akhir ini. Memangnya kenapa jika Ignacia sering keluar? Toh sekarang dia bukan anak kecil dan mahasiswa lagi. Apa menjadi dewasa juga berarti harus tetap di rumah seperti hari-hari sebelumnya?


"Aku ingin bertemu teman. Memangnya kenapa?" Si gadis tidak berani menjawab dengan suara lantang. Sebisa mungkin menunjukkan ekspresi natural yang tak menunjukkan penolakan. Di sisi meja lain ayahnya menatap seolah tak suka. Dalam nadanya tidak menunjukkan kekesalan, hanya kalimatnya saja yang sangat menolak.


Ayahnya tidak menjawab, pria disana lebih memilih untuk menyegerakan sarapan lalu pergi ke halaman belakang. Kelihatannya ada yang akan sibuk mengurus tanaman lagi. Beberapa pot dan tanah sudah disiapkan beserta sekop juga kursi kecil khusus berkebun. Mungkin siang nanti sudah selesai jika ayahnya mengerjakan halaman belakang.


Beberapa kali Ignacia melirik ayahnya yang hanya nampak punggungnya saja. Fokusnya terbagi antara cuci piring dan pria disana. Apa yang salah dengan ayahnya? Ignacia kira setelah bertemu dengan Rajendra ayahnya akan lebih melunak dan peduli soal perasaan Ignacia. Menjadi teman yang baik seperti mamanya juga Athira.


"Seharusnya aku tidak memperkenalkan Rajendra kemarin ya? Aku membuat kesalahan," Ignacia berbisik pada mamanya. Ia lupakan ayahnya sebentar dan fokus untuk mencuci. Sementara mamanya sibuk menata isi kulkas setelah selesai memasak tadi.


Mamanya bilang jika Ignacia tidak salah. Wajar jika mengenalkan seseorang pada keluarga, apalagi jika dia adalah orang yang penting. Ayahnya saja yang belum bisa menerima anaknya tumbuh dewasa dan punya pandangan sendiri dalam mencari pasangan. Ignacia tidak perlu khawatir soal ayahnya. Nanti juga akan membaik sendiri.


Selama beberapa jam sebelum bertemu Rajendra, Ignacia enggan keluar kamar. Emosinya tidak stabil saat seolah mendapatkan penolakan dari ayahnya tadi. Ignacia merutuki dirinya sendiri karena tidak mampu mengontrol emosi padahal sudah dewasa. Menyendiri mungkin dapat membuatnya kembali ke keadaan baik-baik saja.


Ignacia mengabiskan waktu hanya untuk berdiam diri di atas tempat tidur, menatap baju yang akan ia gunakan untuk bertemu si kekasih. Penolakan tak langsung tadi benar-benar membuatnya tidak nyaman. Ignacia yang salah, berekspetasi terlalu tinggi hingga jatuh terlalu keras. Meskipun begitu janji yang ia buat dengan Rajendra harus tetap berjalan. Mamanya sudah memberi izin dan itu sudah cukup. Ignacia tidak butuh persetujuan ayahnya hanya untuk bertemu Rajendra.


Raja siang berhasil kembali ke takhta, mencerahkan dunia yang terasa terlalu panas untuk Ignacia. Makan es krim memang pilihan bagus. Beruntung kemarin pendingin udara di kafe bekerja dengan baik. Jadinya tidak ada yang menyangka jika matahari sudah sampai di singgasana tertinggi.


"Mama, aku pamit." Ignacia langsung pergi ke depan rumah untuk menunggu Rajendra tanpa melihat sedikitpun ke arah ayahnya. Mamanya sudah mengizinkan, tidak ingin anaknya pulang setelah jam makan malam. Itu sudah cukup, Ignacia sebaiknya tidak membuat kekasihnya menunggu.


Suara sepeda motor terdengar, suara yang sangat familier bagi Ignacia. Segera gadis itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pagar rumah bersama helm miliknya. Rajendranya sudah sampai, berhenti sempurna di hadapan Ignacia bersama senyuman yang dirindukan si gadis. Suaranya yang hangat meminta Ignacia untuk naik sungguh terdengar berbeda.


Rajendra kelihatannya tengah senang dan bersemangat karena sesuatu. Ignacia harus mendengar semua cerita yang kekasihnya sampaikan nanti. Pasti ada hal seru yang terjadi. Ignacia sabar menunggu, namun jarak tempuh seakan ingin mengajak Ignacia terburu-buru.


"Bagaimana kabarmu? Kita sudah bertemu beberapa hari yang lalu tapi rasanya sudah sangat lama saja." Ignacia setuju dengan dengan ucapan kekasihnya. Mungkin karena rasa rindu itu berasal dari hati, bukan jarak atau waktu. Dan itu artinya seseorang yang sedang dirindukan sudah menetap ke dalam hati? Ignacia suka sekali dengan ungkapan itu.


"Kabarku baik sekali. Bagaimana denganmu?" Ignacia meletakkan dagunya pada bahu Rajendra, mengintip sebelah wajah si kekasih yang ada di depan.


"Seperti yang kamu lihat aku sangat baik dan sangat sehat. Juga aku sangat bahagia karena bisa bertemu denganmu. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bertemu denganku, Ignacia." Rasanya Ignacia salah dengar. Bukankah seharusnya dia yang berterima kasih karena Rajendra mau datang.


Kafe kemarin lagi-lagi terlihat lebih ramai dari sebelumnya. Pasti bukan hanya Ignacia yang ingin mengajak orang kesayangannya datang kemari. Ada lebih banyak pasangan hari ini daripada kemarin. Beruntung meja di ruangan berlangit-langit kaca. Udara di dalam masih sama, sejuk meksipun cuaca diluar sedang terik.


Rajendra terlihat sama kagumnya seperti Ignacia kemarin. Ignacia tidak bisa mendapatkan meja yang tadinya adalah tempat meja reservasi kemarin. Keduanya kalah cepat dengan pasangan yang sibuk mengobrol disana. Hanya tersisa meja di dekat sebuah pohon yang menjadi spot menarik tempat ini. Langsung saja mereka mengambil tempat disana sebelum orang lain mendapatkannya.


Air mancur menyala membuat pelangi kecil di bagian atasnya. Cahaya matahari menembus butiran-butiran air dari benda besar berwarna putih gading itu dengan sempurna. Rajendra masih terpaku dengan pemandangan sekitar, Ignacia yang sudah duduk di hadapannya saja belum bisa mengalihkan perhatiannya. Butuh beberapa saat hingga Rajendra bisa menatap gadisnya.


"Tempatnya bagus, kalian pasti senang menghabiskan banyak waktu bersama disini. Terima kasih sudah mengajakku."


Masih dengan Rajendra yang mengamati sekitar, Ignacia ragu apakah harus bertanya soal pendapat kekasihnya setelah dikenalkan pada kedua orang tuanya. Belum Ignacia membuka mulut untuk bertanya, atensi keduanya teralihkan pada pesanan yang tengah dibawa seorang pramusaji ke meja keduanya. Aroma enak yang tercium dari semangkuk Laksa meminta Ignacia untuk segera memakannya.


"Kenapa menatapku?"


Yang tengah ditanya menggeleng pelan, "Tidak ada, hanya ingin saja." Tangan Rajendra bergerak meraih sendok di sebelah mangkuk untuk segera makan. Sebelum suapan pertama, Rajendra bertanya kapan Ignacia harus pulang. Rencana yang ia siapkan bisa berubah jika jamnya tersisa dua atau tiga jam lagi. Beruntung mamanya minta Ignacia pulang sebelum makan malam. Masih ada banyak waktu untuk bersama.


Beberapa saat kemudian Rajendra bersuara lagi. Penasaran dengan respon ayah Ignacia setelah mengenal dirinya. Rupanya bukan hanya hati mereka saja yang sama untuk satu sama lain, rasa penasaran juga hampir serupa. Hanya sisi yang dipertanyakan sedikit berbeda.


Ignacia menjawab melalui sudut pandangnya sendiri. Ayahnya tidak membahas Rajendra sedikitpun, ya hanya pertanyaan kecil saat makan siang setelah wisuda itu. Ignacia juga menyampaikan soal perubahan ayahnya yang lebih perhatian dan masalah pagi ini. Ayahnya bersikap berbeda, seolah ada emosi yang tidak sengaja terpancarkan.


Rajendra menganggap informasi terakhir yang Ignacia sampaikan tadi adalah ayah si gadis merasa penasaran soal kekasih anak pertamanya. Atau sebaliknya, ayah Ignacia merasa terancam karena anaknya dekat dengan seorang pria. Rajendra menggeleng kuat, menyingkirkan pikiran buruk. Anggap saja ayah Ignacia setuju dengan hubungan keduanya.


Jujur saja Rajendra merasa lega setelah dikenalkan pada ayah Ignacia. Keberanian yang dikumpulkan Rajendra mungkin berhasil. Sikap pengecut dengan membawa Ignacia berkencan diam-diam sebentar lagi akan berakhir. Rajendra sudah mengharapkan izin ayah gadisnya sejak lama.


Mumpung membahas soal perkenalan, Ignacia mengajukan pertanyaan soal hal yang membuatnya penasaran juga. Bagaimana perasaan Rajendra soal itu? Rajendra tentu merasa gugup, mengumpulkan keberanian bukanlah sesuatu yang mudah. Meskipun begitu rasanya tetap menyenangkan.


...*****...


Sebuah es krim rasa vanila Rajendra sodorkan pada kekasihnya, perlahan ia hempaskan diri pada kursi taman. Menatap wajah bahagia Ignacia di sampingnya. Padahal hanya es krim vanila, kenapa Ignacia nampak sangat senang? "Terima kasih sudah membawakannya untukku, Rajendra."


"Tentu, bukan masalah."


Hening. Ignacia sibuk makan es krim sembari menatap pemandangan sekitar puncak bukit. Rajendra juga sama tenangnya, es krim coklat di tangan sementara matanya tidak berhenti melirik Ignacia. Hari sudah mulai sore, waktu yang tersisa tidaklah banyak untuk mengatakan hal penting.


Beberapa kumpulan awan tengah menyelimuti langit, udaranya jadi tidak sepanas sebelumnya. Kelihatannya juga akan hujan. Beberapa kali Rajendra menghembuskan nafas pelan, mencarinya cela untuk bicara. "Apa kamu ingat saat aku bertanya bagaimana pendapatmu jika kuperkenalkan pada ayah dan ibuku, Ignacia?"


Ignacia mengangguk. Mana mungkin lupa soal itu. Diam-diam dirinya menebak-nebak apakah Rajendra akan mengajaknya datang ke rumahnya dalam waktu dekat. Jika benar, Ignacia akan gugup karena sudah lama tidak bertemu dengan ibu Rajendra. Saat wisuda SMA saja Rajendra tidak terlihat membawa ibunya. Mungkin ibunya ada di suatu tempat hingga tidak bisa bertemu dengan Ignacia.


"Jika kuajak datang ke rumahku besok lusa, apakah kamu keberatan?" Si gadis urung memakan suapan kesekian lakss yang sudah ia siapkan. Dia tidak sedang berhalusinasi kan? Yang Ignacia dengar tadi bukan sebagian dari impiannya yang baru ia pikirkan sendiri kan?


Rajendra sudah membicarakan ini dengan orang tuanya semalam. Mereka senang jika Ignacia datang dan ikut makan malam besok lusa. Ibunya akan menyiapkan makanan yang spesial. Kakak laki-laki Rajendra kabarnya juga akan pergi keluar dengan anak gadis teman sang ibu. Rajendra menyebutnya sebagai kencan pertama. Hanya ada ayah dan ibu Rajendra saja nanti.


Tanpa pikir panjang Ignacia langsung setuju. Ia akan menyiapkan diri dengan baik agar tidak mengecewakan Rajendra dan kedua orangtuanya. Sebelum itu Ignacia minta tolong pada Rajendra untuk membantunya tampil baik besok lusa. Ini pertama kalinya Ignacia akan bertamu ke rumah Rajendra, jadi gadis ini merasa gugup.


Pakaian apa yang pantas, rambutnya harus diikat atau tidak, sikap ramah apa yang harus Ignacia tunjukkan, semuanya masih menjadi misteri. Ignacia butuh seseorang untuk belajar soal adab bertamu. Mungkin adab yang Ignacia tahu belum sesuai seperti kesukaan orang tua Rajendra.


Senyuman mengembang di wajah Rajendra, tampak malu-malu namun bahagia. Rajendra tidak sabar mengenalkan gadis kesayangannya pada kedua orangtuanya di rumah. Ignacia betah berlama-lama menatap Rajendra yang makan es krim tanpa menoleh ke arahnya. Wajah laki-lakinya perlahan mulai memerah seperti menahan malu. Pikirannya mungkin tengah penuh dengan sesuatu hingga tidak menyadari sisi lain es krim cone-nya meleleh.


"Rajendra, es krimnya meleleh." Ignacia sampai harus mengingatkan pemuda di sampingnya itu. Dua lembar tissue Ignacia berikan pada kekasihnya untuk membersihkan tangan yang sudah terkena noda es krim. Suhu dingin pun tidak bisa mengalihkan perhatian Rajendra. Omong-omong Rajendra banyak melamun dan terlihat aneh hari ini. "Apa kamu sedang banyak pikiran, Rajendra?"


Laki-laki di sampingnya menggeleng. Dilanjutkannya aktivitas makan es krim agar tidak lagi meleleh. Sesuatu yang dingin seperti mengenai pipi Rajendra. Bagian tissue yang masih bersih langsung ia gunakan untuk menyeka, namun rupanya yang dingin tadi bukanlah es krim yang meleleh. Gerimis mulai turun, keduanya harus segera menemukan tempat berteduh.


Rajendra cepat-cepat menggandeng tangan Ignacia yang tengah lenggang untuk turun gunung. Tidak ada tempat berlindung apapun di atas sini karena konsepnya memang udara terbuka berisi tanaman dan tempat duduk yang nyaman. Jalan satu-satunya untuk menghindar hujan yang semakin deras adalah berlari arah ruko sisi lain bukit.


Keberuntungan berpihak pada sepasang kekasih yang tengah berlari bersama es krim di tangan. Menembus gerimisnya yang entah kapan akan benar-benar menjadi hujan. Beberapa orang juga ikut meneduh. Mereka memberikan sedikit cela agar keduanya bisa bergabung berdiri di depan ruko yang sudah tutup. Dalam seperkian detik hujan akhirnya datang.


Dingin, namun Ignacia tidak ingin mengabaikan es krimnya. Gadis itu masih bisa memakan miliknya ketika orang-orang di sekitar sibuk menghindari tangisan semesta. Di sampingnya Rajendra juga memakan cone es krim yang sudah hampir habis. Ignacia mendekat satu langkah ke samping Rajendra, ia sandarkan dirinya pada lengan laki-laki kesayangannya.