Beautiful Monster

Beautiful Monster
Datang Pergi



...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


^^^Ada semacam hari khusus |^^^


^^^Setiap akhir pekan |^^^


^^^Aku ingin pergi kesana lain kali |^^^


| Aku ingin pergi juga


| Kota itu terdengar bagus


^^^Kota ini juga cocok untuk berkencan |^^^


| Hah? Apa ini kode?


^^^Haha begitulah |^^^


Ignacia mengalihkan perhatian dari ponsel saat mendengar suara ketukan di depan pintu. Kelihatannya dia tidak sedang menunggu siapapun. Ignacia tidak ingat jika ada janji dengan seseorang atau apapun.


Ketukan kembali terdengar, membuatnya bangkit untuk melihat siapa yang mengetuk. Oh rupanya penjaga asrama. Wanita berumur sekitar 40 tahunan awal yang mengetuk tadi membawa semacam paket dengan bubble wrap berwarna hitam.


"Nona, ada paket. Langsung saya antar kemari setelah kurirnya pergi."


"Tapi saya tidak menunggu paket apapun," bisik Ignacia.


"Disini ada nama pengirimnya, Nona." Wanita itu menunjukkan sebuah nama di identitas paket.


Ignacia langsung menerimanya setelah tahu siapa yang mengirim. Berterima kasih pada wanita penjaga asrama kemudian menutup pintunya. Paket itu dibawa ke meja tengah ruangan, mengambil gunting dan segera membukanya.


Senyuman terukir di wajah Ignacia begitu paketnya sudah selesai dibuka. Muncul sebuah album dari balik bungkusan yang dibuat sangat rapi. Seseorang yang mengirim ini pasti tidak ingin paketnya memiliki kerusakan apapun.


Album foto.


Kenangannya dengan teman-teman ada di dalam sana. Ketika di acara ulang tahun malam Rananta, acara piknik di danau, foto-foto yang entah kapan diambil, dan bahkan foto wisuda yang teman-temannya abadikan. Fotonya dengan Rajendra dengan dua buket bunga itu juga ada.


"Rananta menyiapkan banyak waktu untuk ini. Aku ragu dia hanya mengirimkannya padaku."


Ignacia meraih ponselnya yang ditinggalkan di atas tempat tidur karena membuka pintu tadi. Dibukanya roomchat Rananta untuk mengucapkan terima kasih. Rananta pasti sibuk. Namun pesannya pasti akan dibaca nanti.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Ignacia, kamu pergi kemana?


Bahkan Ignacia hampir lupa dengan janjinya dengan Rajendra untuk berkirim pesan. Melihat foto-foto lama bersama teman-teman mengalihkan pikirannya sesaat.


Ignacia mengambil gambar album foto kecil yang dia dapatkan dari Rananta. Mengirimkannya pada Rajendra. Yang di ujung sana ikut senang dengan hadiah yang diterima Ignacia dari sahabat baiknya. Apalagi setelah tahu jika dirinya juga dicetak dalam album manis ini.


...*****...


"Ignacia, ayo makan siang di kantin. Kau tidak ada janji temu dengan temanmu, kan? Ayo kita pergi sekarang sebelum kantin semakin ramai. Aku sudah lapar." Danita menunggu Ignacia yang masih memasukkan semua bukunya ke dalam tas.


Dilihatnya samar anggukan dari kepala si gadis pendiam di hadapannya, membuat Danita bersemangat.


Orang-orang yang tinggal di asrama akan suka jam makan siang di kantin kampus. Lebih baik daripada makan sendirian di asrama atau pantry yang ada di setiap lantai. Ignacia juga tidak ingin melewatkan melihat para mahasiswa lain mengobrol dan tertawa bersama teman-temannya. Itu sedikit menghiburnya.


Danita yang memilih meja. Mengambil meja yang berada di tengah ruangan karena meja di tempat lain sudah penuh. Juga disini tidak seramai kantin sekolah. Para mahasiswa sudah cukup umur untuk tahu batasan ketika berada di tempat umum.


"Ignacia, kamu suka susu coklat?" Pendamping makan siang hari ini adalah susu kotak. Ada rasa yang berbeda, namun tadi penjaga kantin bilang hanya ada rasa coklat yang tersisa.


"Aku tidak begitu menyukai rasa coklat," lanjut Danita sambil memberikan susu kotak miliknya pada di teman.


Ignacia mengangguk saja. Dia tidak keberatan dengan rasa susu apapun. Meskipun rasa coklat agak mengingatkannya pada seseorang yang dikenalnya sebagai maniak es krim coklat. Ada senyuman kecil di wajah Ignacia, namun buru-buru dia hilangkan agar Danita tidak bertanya.


"Temanmu itu, jurusan apa dia?" Danita bertanya sebagai obrolan di tengah makan.


"Pendidikan bahasa."


"Oh berarti gedungnya dekat dengan kantin. Dia tidak datang makan siang? Mungkin ingin bergabung bersama kita?"


"Dia makan siang di tempat temannya hari ini."


"Lain kali kenalkan aku dengannya, Ignacia. Mungkin nanti kita bertiga bisa menjadi teman yang baik." Ignacia mengangguk saja. Soal itu nanti akan Ignacia tanyakan pada temannya mau tidaknya. Temannya ini sedang sibuk dengan kehidupan baru.


"Omong-omong aku ingat jika kamu memiliki kekasih. Kekasihmu berkuliah dimana? Bagaimana jika lain kali kita double date? Aku akan mengajak kalian berjalan-jalan mengelilingi kota ini. Pasti menyenangkan. Bagaimana menurutmu?"


Danita mudah sekali mencari bahan pembicaraan. Entah karena Ignacia yang cenderung diam dan membosankan atau Danita yang memiliki banyak pembicaraan di kepalanya. Mungkin keduanya. Ignacia tidak tahu harus membicarakan apa. Dia hanya tahu jika Danita adalah penggemar sama sepertinya.


Hanya itu.


"Kekasihku berada jauh darisini. Kurasa akan sulit untuk mendapatkan waktunya," Ignacia tersenyum kecut, melirik dua kotak susu coklat di dekat nampannya.


"Begitukah? Kalau begitu, jika dia mengunjungimu disini, ayo kita pergi bersama. Kekasihku tinggal di kota ini, jadi mudah untuk bertemu dengannya."


Makan siang mereka hampir habis karena banyaknya pembicaraan yang dibawa Danita. Di dalamnya pun tidak ada yang membahas gosip tentang orang lain. Setelah membahas soal kekasih, dia memberikan rekomendasi tempat makan, tempat nongkrong, dan tempat untuk mengerjakan tugas.


Setelah meletakkan nampan di tempatnya, ponsel Danita berdering. "Ignacia, kamu duluan saja. Aku akan mengangkat panggilan kekasihku sebentar." Dia pamit menepi, menggeser tombol di layar ponsel sambil berjalan menjauh. Ignacia juga akan pergi, namun sesuatu menahannya.


"Hai Bahri, kamu sudah makan siang?" Ucapan Danita pada seseorang di ujung panggilan membuat Ignacia menoleh. Nama Bahri itu bukan hanya seseorang yang dikenalnya kan?


...*****...


New Message from Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ


Ignacia, bagaimana harimu?


Kamu sudah makan siang bukan?


Kamu harus makan dengan baik


Ignacia menatap lama layar ponselnya. Mengecek berkali-kali jam tangan, ponsel, bahkan jam yang ada di kelas untuk yakin jika sekarang bukan malam. Tapi kenapa Rajendra bisa mengirimkan pesan? Tepat sebelum Ignacia memasuki kelas selanjutnya pula.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


^^^Tentu saja sudah |^^^


Ignacia membalas dengan hati berbunga-bunga. Rajendra katanya ada waktu sekitar lima menit untuk berkirim pesan. Bukan waktu yang lama, namun setidaknya Ignacia mendapatkan balasan dengan cepat. Andai ini terjadi setiap hari, senang Ignacia sambil masih membalas.


Gadis berambut cokelat terurai ini masih sibuk dengan ponselnya. Bahkan tidak sadar jika Danita sudah duduk di sampingnya dan menatap. Rajendra sudah pergi, Ignacia senang sibuk membaca ulang pesannya barusan.


"Kamu tahu," Danita bersuara, "aku belum pernah melihatmu tersenyum sangat senang. Pesan dari kekasihmu?"


"Oh. Iya, dari kekasihku." Ignacia menyimpan ponselnya, beralih mengeluarkan buku catatan karena dosennya akan segera datang. Tapi senyuman tadi tentu tidak bisa disimpan untuk nanti. Rasanya senang sekali setiap pesan dari Rajendra masuk ke ponselnya.


"Wah kamu pasti ada di tahap jatuh cinta lagi pada orang yang sama. Masa-masa yang menyenangkan."


"Bicara apa kamu ini hm?" Ignacia terkekeh, "jatuh cinta dengan orang yang sama berulang lagi itu sangat mendebarkan. Menyenangkan namun tetap saja mendebarkan."


...*****...


Malam ini Ignacia tidak akan berkirim pesan dengan Rajendra. Laki-laki di ujung sana ingin mendengar suara Ignacia secara mendadak.


"Aku merindukan suaramu. Kamu tidak banyak bicara, jadi aku merindukannya," begitu katanya di awal panggilan ketika ditanya alasannya.


"Aku juga merindukanmu. Kita sudah lama tidak bertemu. Rajendra, aku mendapatkan tawaran untuk double date. Tata mengajak kita jika kamu bisa. Tapi kupikir itu akan merepotkan kamu. Kamu tidak berada di dekat sini."


"Double date? Aku tidak keberatan. Selama aku bisa bertemu denganmu, apa yang bisa membuatku merasa terbebani? Kamu kelihatannya sudah sangat dekat dengan perempuan bernama Tata ini. Kalian bahkan merencanakan double date."


Ignacia bangkit dari duduknya di dekat meja belajar. Mendekati rak buku di sisi lain ruangan. "Tata yang ingin. Aku belum pernah memikirkan soal itu sebelumnya. Kamu tahu sendiri jika temanku yang paling dekat, belum memiliki pasangan."


"Ini tentang Nesya? Apa Nesya belum menemukan orang yang tepat hingga saat ini?"


"Entahlah. Nesya hanya pernah bercerita jika dahulu dia menyukai seseorang dalam kelas kami. Tapi kemudian dia sudah tidak menyukainya. Sekarang dia mungkin sudah tidak memikirkan soal itu karena kuliahnya."


Tangannya meraih album foto yang diberikan Rananta. Ada beberapa tempat kosong hingga Ignacia bisa menggunakannya untuk foto-foto yang ingin dia cetak.


"Ignacia, jika ajakan double date itu benar datang, kamu tidak akan menolakku untuk datang bukan?"


Ignacia terkejut dengan pertanyaan yang diajukan kekasihnya dari ujung panggilan. Bahkan tangannya hingga berhenti membuka lembaran foto. "Apa maksudnya itu? Sekarang saja aku sangat ingin bertemu denganmu sesegera mungkin. Apa yang membuatku harus menolaknya?"


"Dahulu kamu menolakku jika ada di tengah teman-teman. Aku hanya khawatir kamu masih memegang prinsip yang sama seperti dahulu. Dan kamu juga baru bertemu dengan Tata baru-baru ini setelah acara penandatanganan buku."


Nada bicara Rajendra terdengar kecut. Mungkin mengingat masa-masa yang tidak disukainya ketika Ignacia terlihat menolaknya ketika berada di tengah teman-temannya.


"Maafkan aku, Rajendra. Tapi kali ini aku sudah percaya diri. Kamu laki-laki yang aku yakin tidak akan pernah meninggalkan aku setelah orang-orang tahu tentang hubungan kita. Aku sudah melupakan masa laluku. Jadi jangan khawatir. Aku bahkan bisa memelukmu di depan Tata nanti."


Rajendra terkekeh cukup lama, "kamu yakin akan memelukku di depan temanmu, hm?"


"Kurasa tidak benar-benar di depannya," koreksi Ignacia. Dia juga terkekeh. "Tapi tenang saja. Aku tidak akan melepaskan kamu ketika double date nanti. Jangan lupa hubungi aku soal hari liburanmu, Rajendra."


"Tentu saja. Aku jadi bersemangat sekarang."


"Tapi aku merasa tidak enak jika kamu yang datang. Bagaimana jika lain kali aku yang datang ke tempatmu? Agar kita impas."


"Hei seharusnya aku saja yang datang padamu. Laki-laki apa yang membiarkan kekasihnya datang ke tempatnya? Yang ada aku yang merasa tidak enak dan khawatir. Biar aku saja yang datang. Kamu hanya perlu menungguku datang saja, hehe."


Mereka masih mengobrol hingga hampir melupakan jadwal seperti saat mengirimkan pesan. Sekarang sudah larut. Ignacia asik mengobrol padahal dahulu dia tidak begitu sering bicara. Apa karena mereka sudah lama tidak bertemu? Ada banyak hal yang bisa mereka bicarakan.


"Baiklah, kita akhiri sampai disini saja. Kamu harus bangun pagi untuk kelas besok. Sampai jumpa besok, Ignacia."


...*****...


Seseorang berlari ke arah seorang gadis yang rambutnya diikat kuncir kuda. Rencananya dia akan mengagetkan Ignacia. Namun gadis itu harus berbalik karena tidak sengaja menjatuhkan bulpoin yang tidak sempat dia masukkan ke dalam tas. Jadinya Ignacia memergoki seseorang di belakangnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Ignacia padanya.


"Aku akan mengejutkanmu. Kenapa kamu berbalik lebih dahulu? Aku membawa ini." Nesya menyodorkan permen. Hanya ingin memberikannya tanpa konteks. "Kebetulan aku lewat sini dan melihatmu. Jadi ingin kuberikan," lanjutnya.


"Terima kasih."


"Ayo makan malam bersama diluar, Ignacia. Aku akan mengirimkan padamu alamatnya. Tempatnya dekat darisini. Kamu bisa kembali ke asrama sebelum jam malam."


Ignacia setuju saja. Lagipula ini akan menjadi pertama kalinya dia makan malam diluar selain di asrama.


"Permen ini sebagai undangan makan malam rupanya." Ignacia tersenyum kecil, menunjukkan permennya sambil menatap si teman. Nesya mengangguk, membenarkan ucapan Ignacia kemudian menentukan jam temu.


"Kamu masih ada kelas setelah jam makan siang?" Yang berkacamata bertanya. Berjalan beriringan dengan Ignacia.


"Iya, kelas terakhirku setelah ini. Bagaimana denganmu? Apa kelasmu sudah selesai? Jika berjalan ke arah ini, kamu bisa sampai keluar gedung."


"Ya, begitulah. Aku sudah terbebas hari ini," canda Nesya.


...*****...


Malam harinya Ignacia sudah siap dengan dandanan sebelum pergi makan malam dengan temannya. Gadis itu sibuk mengikat tali sepatu saat jam sudah menunjukkan waktu sebelum janji temu. Seharusnya Ignacia tidak terlambat karena temannya yang mengajak. Jadinya dia buru-buru pergi, menyambar tas yang ada di dekatnya kemudian mengunci pintu asrama.


Sambil menggunakan ponsel sebagai petunjuk, Ignacia bejalan cepat-cepat. Tidak perlu menggunakan bus atau taksi karena jaraknya memang cukup dekat. Ignacia belum terlambat. Teman yang mengajaknya belum datang.


Ignacia mencari tempat duduk. Mengedarkan pandangan hingga menemukan sebuah meja yang ada di sudut ruangan. Tempatnya cukup mudah terlihat. Temannya akan mudah menemukannya.


Sambil menunggu, Ignacia membuka ponselnya. Memberitahu bahwa dirinya sudah sampai di tempat pada si teman. Tak lama setelah pesannya terkirim, seseorang mengirimkan pesan di roomchat lain. Ignacia menyerkitkan dahinya ketika membaca pesan pertama yang terkirim.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Ignacia, aku minta maaf


| Aku pergi dengan teman-teman malam ini


| Apa kita bisa berkirim pesan besok saja?


Jelas terlihat jika Ignacia sedang kecewa sekarang. Mereka belum berkirim pesan apapun hari ini. Mengatakan 'tidak' bukanlah sesuatu yang akan dilakukan Ignacia. Rajendra juga butuh teman. Sebaiknya Ignacia tidak ikut campur.


"Ignacia," seseorang memanggil. Rupanya yang membuat janji sudah datang. Buru-buru dihilangkannya wajah kecewa yang tergambar sangat jelas tadi. Memberikan senyuman pada orang yang baru saja berdiri di hadapannya.


"Aku mengirimkan pesan padamu tadi."


"Benarkah? Aku tidak mengecek pesan karena buru-buru. Maaf aku terlambat." Nesya mengambil tempat di depan Ignacia.


"Tidak apa-apa. Yang penting kamu datang."