
"Siapa orang yang terus menganggu kamu?" Ignacia menahan lidah untuk tidak kesal. Namun Rajendra sudah lebih dulu tahu maksudnya tujuan pertanyaan yang baru dilontarkan. Laki-laki itu kembali menjawab jika orang itu adalah kenalannya. Apakah dia orang yang sama atau bukan, Rajendra tidak menjelaskan dengan rinci. "Kenapa dia menganggumu?" Ignacia bertanya lagi. Dan Rajendra tidak menjawab.
Rajendra sudah menyediakan tangan untuk membawa koper kecil gadisnya, hanya saja Ignacia terus menepis tangan itu karana ingin fokus dengan pertanyaan sebelumnya. Sampai di lantai dimana mereka akan menginap, Rajendra hanya bisa mengantar hingga depan pintu. "Aku ada di kamar sebelah jika kamu butuh aku. Istirahatlah, nanti sore kita akan bersenang-senang lagi."
Mereka sudah memesan makan siang untuk diantar ke penginapan. Farhan dan Nesya menawarkan diri untuk mengambil di bawah sementara teman-temannya beristirahat. Mereka menunggu di lobi tanpa mengatakan apapun. Topik obrolan mereka sudah habis. Meskipun begitu Farhan masih beberapa kali melirik kekasihnya yang fokusnya hanya pada lobi.
Begitu makanan sampai, Farhan yang bangkit lebih dulu lalu disusul oleh gadis berkacamata di belakangnya. "Kamu bisa membawanya?" Farhan bertanya dengan khawatir. Mereka memang tidak memesan makanan berkuah, hanya saja Farhan takut kekasihnya tanpa sengaja menjatuhkan makanan teman-temannya. Di mobil tadi Nesya mengeluh pusing dan merasa sedikit mual.
"Tenang saja, udara segar tadi sudah membuatku baik lagi. Tidak perlu khawatir begitu." Nesya menoleh, menatap sekilas wajah perhatian Farhan sambil tersenyum kecil. "Sepertinya aku pernah berbuat kebaikan di masa lalu hingga aku bisa mendapatkan perhatian yang jauh lebih besar daripada keluargaku sendiri."
Tepat di depan pintu, Farhan ikut menghentikan langkah. Berpesan pada Nesya untuk segera menghubungi dirinya atau mengadu pada teman-temannya jika merasa tidak enak badan lagi. Barulah setelah Nesya menghilang ke balik pintu, Farhan bisa melangkah terus ke arah kamarnya.
Suasana di dalam jauh berbeda dengan sambutan hangat di kamar sebelah. Farhan hanya mampu meletakkan makanan di atas meja dan membiarkan yang lainnya mengambil. Bahri sedang berada di kamar mandi sementara Rajendra menelpon seseorang di dekat jendela. "Rajendra, makanannya sudah datang," ucap Farhan memberitahu.
Yang di panggil menoleh laiu mengangguk. Dia akhiri panggilan dengan seseorang disana lalu mengambil makanan yang sudah tersedia. Rajendra tidak canggung saat bersama dengan Farhan, berbeda sekali dengan aura di sekitar Bahri. Berbeda dengan Rajendra, Farhan senang bisa bergaul dengan dua teman barunya tanpa perasaan canggung.
Tak lama kemudian Bahri bergabung untuk makan. "Apa kalian sudah bersiap untuk melamar pasangan masing-masing?" Baru saja duduk, Bahri sudah melontarkan pertanyaan yang cukup berat. Rajendra dan Farhan yang akan memakan sesuap nasi untuk yang kesekian jadi enggan. "Kenapa reaksi kalian begitu? Kalian serius dengan hubungan ini kan?"
Kedua laki-laki di hadapannya tidak mungkin hanya main-main. Di usia yang sudah dewasa dan kegiatan yang semakin bertambah sudah waktunya untuk membicarakan hal serius. Terlebih karena mereka bertiga sudah memiliki pasangan hingga saat ini. Sudah waktunya untuk memberikan kepastian pada para gadis di ruangan sebelah.
"Tentu saja aku punya rencana. Tapi aku masih membicarakannya dengan orang tuaku lebih dulu. Bagaimana denganmu sendiri, Bahri?" Farhan akhirnya bisa memasukkan sendok yang sudah berisi nasi juga lauk ke dalam mulutnya setelah bicara.
Bahri juga punya rencana. Hanya saja tidak memberitahu detail rencana yang akan ia lakukan. Tatapan kedua teman ini beralih pada dia yang masih belum bisa memakan suapan yang sudah ia siapkan. Tanpa mengulang pertanyaan pun, laki-laki yang sudah menginjak rekor paling lama berkencan dengan seorang gadis itu sudah tahu harus mengatakan apa.
"Aku tidak ingin membahasnya." Setelahnya Rajendra bisa makan dengan tenang. Meksipun tatapan empat pasang mata tadi masih tertuju ke arahnya. "Kalian akan mengetahuinya seiring waktu. Aku akan membiarkan kalian melihat jawabanku secara langsung."
Tidak ada tatapan tanda semangat atau tekad yang kuat ketika Rajendra berbicara. Bahri agak khawatir melihat respon yang jauh dari perkiraan. Tidak tahu kenapa rasanya Rajendra punya rencana yang tidak terbayangkan. Harap-harap saja itu bukan perpisahan yang tidak mungkin disukai Ignacia. Suasana tidak kembali canggung, hanya saja mereka sibuk makan tanpa memperdulikan aura sekitar.
Sementara itu di kamar sebelah, Nesya dan kedua temannya sedang membuat video selang sambil makan. Pembicaraan dan suara tawa mereka tidak akan terdengar. Mereka berencana untuk mengabadikan momen ini dan melihatnya lagi setelah berkeluarga dan memiliki anak. Anggap saja sebagai kapsul waktu yang tersimpan di dalam sebuah flashdisk.
"Nanti kita harus membuat konten dengan pasangan masing-masing juga. Kalian edit semampunya saja biar aku nanti yang mengurus sisanya." Nesya memperbaiki posisi kacamatanya dengan bangga. Idenya untuk membuat kenangan memang yang terbaik. Ignacia dan Danita bahkan mengakui.
Nanti akan ada satu folder berisi ketiga gadis ini dan berteman bersama pasangan masing-masing. Untuk dokumentasi pribadi dengan pasangan akan mereka urus secara mandiri. Yang penting kenangan bersama ini akan diurus oleh Nesya dan Farhan jika laki-laki itu ingin membantu. Farhan masih belum tahu soal ini karena Nesya ingin merekam mulai sore nanti ketika melihat matahari terbenam.
Makanan mereka lama habis karena masih ada sesi bercerita. Jika mereka hanya merekam biasa obrolan yang tengah berlangsung, memori di dalam ponsel Nesya pasti sudah meledak. Apapun yang mereka lihat, apa yang mereka bayangkan, semuanya akan menjadi cerita yang membangkitkan memori hingga stoknya seakan tidak habis.
"Kira-kira apa yang dilakukan kekasih kita di sebelah?" Danita bertanya dengan senyuman nakal. Kedua temannya tahu maksud gadis berambut pendek ini. Ketiga laki-laki disana tidak begitu saling mengenal namun sudah harus tinggal dalam satu kamar. "Kita beruntung karena laki-laki kadang lebih sering akrab daripada perempuan."
Ignacia memikirkan Rajendra, dia bisa akrab dengan Farhan namun entah dengan Bahri. Semoga tidak ada pertengkaran atau permusuhan. Si gadis meraih air mineral miliknya, ia tegak hingga tersisa setengah. Makanannya sudah habis, sekarang tinggal membuang sampahnya. "Teman-teman, sebaiknya kita segera makan dan beristirahat. Merebahkan diri di kasur adalah ide yang bagus, kalian tahu?"
Ketiganya duduk di atas tempat tidur masing-masing, mensejajarkan kaki dengan harapan rasa pegal disana menghilang dengan instan. Dari tempatnya, Ignacia mengirimkan pada sang kekasih. Bertanya apakah semuanya baik-baik saja disana. Jika tidak merasa nyaman, Ignacia bisa membawa kekasihnya keluar sebentar.
Si gadis bangkit dari tempat tidur. Sisa-sisa kesadarannya mulai berkumpul hingga langkahnya bisa mendekati pintu. Tidak ada siapapun di lorong. Ignacia berinisiatif untuk mengecek lantai bawah, penasaran siapa yang baru saja turun. Jika itu dua teman Rajendra, mungkin ia bisa bertanya bagaimana keadaan di sebelah. Ignacia sampai di lobi, disana hanya ada resepsionis beserta seorang tamu yang akan menginap.
"Apakah diluar?" Ada seorang pekerja yang tengah mengepel bagian depan pintu lobi hingga Ignacia harus menunda langkahnya hingga orang tiu selesai. Sekitar dua menit kemudian barulah Ignacia berhasil keluar. Disana ada beberapa kursi yang menghadap ke tempat parkir. Di sisi lain penginapan akan ada pemandangan pantai. Mungkin orang itu ada disana.
Benar saja, disana berdiri laki-laki bertubuh tinggi dengan punggung yah sangat Ignacia kenal. "Rajendra, kenapa kamu ada disini?" Si gadis berjalan mendekat. Si empunya nama menoleh, ia mengeluarkan tangan dari dalam saku. "Aku mengirimkan pesan tadi siang. Apakah kamu tidak melihatnya?" Ignacia berdiri di samping Rajendra. Rambutnya langsung diterpa angin beraroma laut disini.
"Aku baru saja bangun tidur. Kelihatannya kamu juga begitu." Rajendra sedikit merapikan rambut kekasihnya yang agak berantakan. "Maaf aku tidak mengecek pesanmu, Ignacia. Aku kemari karena merasa ingin menghirup udara segar saja. Bagaimana dengan kamu? Kenapa kamu bisa sampai disini dan menemukan aku?"
Ignacia langsung jujur saja. Penasaran dengan suasana di kamar sebelah yang seakan tanpa suara. Rajendra terkekeh geli, rupanya Ignacia khawatir pada dirinya. "Terima kasih sudah khawatir padaku. Kami baik-baik saja. Kami mengobrol dan makan bersama lalu tidur. Bagaimana jika kembali dan membersihkan diri? Kita punya agenda sore ini."
Si laki-laki mendahului seakan tidak ingin menunggu Ignacia. Bahkan tangan yang ingin si gadis gandeng saja seakan tidak bisa disentuh. Kenapa Rajendra seperti ini? Belum pernah Rajendra meninggalkan dirinya seperti ini. Aneh, Rajendra juga tidak akan melewatkan kesempatan untuk menggandeng tangan Ignacia. "Apa aku melakukan kesalahan?"
Mungkin Ignacia seharusnya tidak menganggu kesendirian Rajendra disini. Laki-laki itu mungkin merasa tidak nyaman dan memilih untuk meninggalkannya. Ignacia terpaku di tempatnya, hatinya merasa janggal yang luar biasa. Di dalam lobi, rupanya Rajendra masih belum benar-benar pergi. Dia berdiri di dinding sebelah tangga, menunggu namun tidak ingin berjalan bersama.
Ignacia mendahului turun ke pantai. Rok motif bunga-bunga kecil si gadis sesekali terangkat sebab angin. Tangannya ditautkan di belakang tubuh, badannya berdiri tegap mengharap lautan dengan sejuta aroma menenangkan. Suara deburan angin yang didengar sembari mata tertutup terasa seperti sesuatu. Senyuman kecil terbit di sudut bibir, senang bisa menikmati hari ini dengan Rajendra.
"Kenapa kamu memakai kaus? Kamu yakin tidak akan kedinginan?" Laki-laki itu berdiri tepat di belakang gadisnya. Kedua tangannya diletakkan pada lengan gadisnya yang tidak ikut tertutup oleh lengan kaus polosnya. "Jika kedinginan, akan aku ambilkan jaket di kamar. Apa mau aku ambilkan sekarang saja?" Rajendra yang perhatian kembali lagi.
Si gadis menggeleng, berkata jika dirinya akan baik-baik saja. Hari masih sore, matahari masih ada di atas permukaan air. Mendengar itu, Rajendra tidak jadi meninggalkan tempatnya. Ia letakkan kepalanya di atas milik gadisnya dengan tangan yang tidak berpindah sedikitpun. Bisa ia rasakan angin sepoi-sepoi yang melewati lengan mulus gadisnya.
Teman-teman lain sampai beberapa detik setelahnya. Ignacia dan Rajendra sudah menyiapkan alas dan membawa beberapa camilan. Setelah menikmati sore disini mereka akan mengemudi ke tempat makan enak. Ignacia dibawa duduk ke samping Rajendra. Di sampingnya ada Danita dan Bahri lalu Farhan dan Nesya. Bukan ini formasi yang Nesya inginkan, namun apa boleh buat. Para laki-laki ini terlalu serakah hingga tidak ingin gadisnya berdekatan dengan pria lain.
Camilan satu persatu dibuka sebagai teman mengobrol. Ignacia bisa merasakan kehangatan di lengannya berkat keberadaan tangan Rajendra disana. Lengan panjang yang Rajendra gunakan juga menyalurkan kehangatan yang sama. Ia letakkan kepalanya pada bahu Rajendra. Aroma lautan di sekitar jadi berubah menjadi wangi khas laki-laki itu. Saking nyamannya dalam posisi ini, Ignacia berharap dirinya tidak tertidur.
"Besok ayo melihat matahari terbit, Rajendra. Besok hari jadi kita yang kesepuluh." Ignacia bergumam agar kekasihnya saja yang mendengarkan. Rajendra menganggukkan kepalanya patuh, sekarang yang ia pikirkan hanya agar Ignacia tidak kedinginan. Soal rencana yang diinginkan Ignacia, Rajendra akan mengurusnya sebelum membawa gadisnya keluar.
Ignacia duduk memeluk lututnya, menyandarkan diri pada Rajendra membuatnya betah berlama-lama. Sementara itu di sebelahnya Bahri juga membiarkan Danita bersandar padanya bahunya, lalu di sisi lainnya ada Nesya yang senang bergandengan tangan dengan Farhan. Mereka beberapa kali saling tatap dan terkekeh kecil.
Obrolan kian meredup, hanya suara ombak dan burung pantai yang terdengar. Keenam teman ini disiram sinar keorenan dari cakrawala. Dengan tatapan penuh kagum melihat ciptaan Tuhan Yang Maha Esa di sekitar raja siang, tidak ada yang bisa membuat mereka berpaling. Ignacia juga tidak ingin melewatkan pemandangan menakjubkan ini tanpa melihat reaksi Rajendra.
Laki-laki di sampingnya tampak menakjubkan. Senyuman kembali terbit di sudut bibirnya, pemandangan menakjubkan tidak hanya dari cakrawala. Rajendra tampak bersinar, wajahnya yang juga terkagum-kagum hanya bisa menatap ke arah lautan. Iseng Ignacia bergerak untuk memberikan hadiah yang ia miliki tepat ke pipi dingin Rajendra.
Sontak Rajendra menoleh, rasa terkejut tergambar jelas di wajahnya. Takutnya ada orang lain yang melihat Ignacia mencium pipinya, Rajendra akan merasa canggung jika dua laki-laki di samping mereka tidak sengaja melihatnya. Rajendra bertemu mata dengan Ignacia, seperkian detik kemudian hadiah yang tadi ada di pipi Rajendra berikan pada bibir kekasihnya.
Lupakan saja orang-orang yang mungkin melihatnya. Mereka mungkin juga tidak akan sadar dengan kegiatan pasangan yang sedang kasmaran disini. Tidakkah langit terlalu memikat dan menghangatkan hati daripada kegiatan dua manusia disini? Meskipun perpaduan kebersamaan dan matahari terbenam juga pemandangan yang menyenangkan.
Untuk sesaat Rajendra suka ide Ignacia, menatap satu sama lain di bawah hujan semburat malu-malu cakrawala. Hingga suara getaran dari dalam saku sebelah kiri Rajendra mengirimkan sinyal panjang. Lagi-lagi ada yang menganggu liburan kekasihnya. "Bisakah kita matikan ponsel sebentar, Rajendra? Aku ingin membuatmu terus fokus padaku." Tatapan cinta di mata Ignacia berubah memohon.