Beautiful Monster

Beautiful Monster
Habis Sudah



"Mama, kami boleh makan diluar? Nanti kamu akan belikan makanan juga untuk mama." Rafka membawa ponsel ayahnya sambil menatap ke arah kamar mandi. Ayah dan adiknya belum kembali. "Aku sudah lapar. Kata ayah lebih baik membali makanan diluar daripada di kolam renang. Aku ingin makan ayam krispi. Disini tidak ada itu."


Rafka merengek, sudah besar namun masih merengek saja dia. Memang jika urusan perut rasanya pasti darudat sekali. Padahal tadi mamanya menelpon agar suami dan kedua anaknya cepat kembali membawa makanan, kenapa Rafka justru ingin makan lebih dulu? Rafka berjanji akan makan dengan cepat lalu pulang.


Baiklah, tidak ada gunanya melarang anak laki-lakinya ini. Nanti dia pasti merengek pada ayahnya untuk dibelikan makanan sebelum pulang. Lalu di ayah akan menuruti karena beliau sendiri juga belum makan siang. Arvin jelas setuju jika diajak makan diluar. Anak itu juga sudah kelaparan setelah kelas renang. Padahal tadi dia sarapan lumayan banyak.


Panggilan suara dengan sang mama selesai begitu ayah dan Arvin selesai membersihkan diri. Rafka memberitahu ayahnya jika mama memberikan izin makan diluar. Rencana anak itu pun berhasil. Ayahnya tidak mengarahkan sepeda motor mereka ke arah rumah, melainkan ke sebuah tempat makan yang mengandung protein ayam seperti yang Rafka inginkan.


Sebelum berangkat, sang ayah mengecek pesan yang berasal dari nomor istrinya. Dia diminta segera pulang setelah makan diluar. Selain karena alasan lapar, istrinya juga khawatir pada mereka jika terpapar sinar matahari terlalu lama. Apalagi mereka semua memakai celana pendek.


Di jok belakang Rafka sudah bersemangat meksipun tampak dari luarnya dia merasa lelah. Ayahnya meminta anak laki-laki pertamanya ini untuk berenang bolak balik di kolam renang yang lumayan dalam untuk olahraga. Semenjak masuk sekolah menengah pertama Rafka jarang sekali bergerak. Yang ia lakukan hanya mengerjakan tugas lalu bermain ponsel.


Rafka menyandarkan kepalanya pada punggung ayahnya. Tidak ada suara apapun dari belakang. Berbeda sekali dengan Arvin yang rajin membawa bahan obrolan. Dia duduk di depan meksipun tubuhnya sudah semakin tinggi. Sepanjang jalan banyak yang membuatnya tertarik untuk ditanyakan, jadi tidak ada habis-habisnya bertanya.


"Tutup," satu kata itu mampu membuat Rafka mengubah posisi. Sayang sekali tempat makan ayam yang enak tutup karena alasan yang tidak diketahui. Katanya akan buka kembali lima hari lagi. "Kita cari di tempat lain saja. Pasti ada banyak makanan enak sekalin disini," sahut Arvin.


Rafka sudah terlanjur ingin makan ayam krispi. Baiklah tidak masalah jika mencari tempat makan ayam lain. Yang penting ia ingin ayam. Entah bagaimana bisa Rafka punya tekad sebesar ini. Mungkin karena jiwa mudanya akan terasah. Sepeda motor sang ayah kembali dilakukan menuju jalan raya. Mencari olahan ayam lain yang buka.


Setelah berkeliling, ada kedai yang menjual ayam krispi yang diinginkan Rafka. Hanya saja disini tidak bisa makan di tempat. Daripada mencari lagi, ayahnya memutusnya untuk membeli beberapa untuk dibawa pulang. Ignacia katanya sedang keluar bersama teman, jadi ayahnya hanya membeli sedikit. Rafka lagi-lagi kecewa. Jarak rumahnya tidak dekat dan dirinya sudah terlanjur lapar.


"Tahan sebentar lagi. Kamu ini laki-laki, jangan mudah merengek seperti itu," ucap sang ayah. Bekiau tidak suka wajah kusut yang anaknya tunjukkan hanya karena tidak bisa makan di tempat. "Kasihan mama jika menunggu lama di rumah. Sebaiknya kita makan bersama-sama saja."


Rafka kembali dalam posisi lemas. Sepanjang perjalanan ia hanya menatap gedung dan tempat makan yang mereka lewati. Jalanan disini punya banyak tempat makan. Aneh sekali sekarang lumayan sepi. Apa karena cuacanya panas? Jadinya orang-orang malas meninggalkan rumah. Padahal biasanya tempat ini ramai oleh pengunjung yang lapar.


Di sebuah lampu merah, Rafka mendapati sebuah kedai es krim. Dari yang tadinya ingin segera makan ayam kini berubah ingin es krim. "Ayah, apa kita bisa membeli es krim disana? Teman-temanku bilang es krim disana enak. Aku ingin mencobanya juga." Rafka menunjuk sebuah bangunan berlantai dua dengan warna pastel disana.


Aneh-aneh saja anaknya ini. Sepeda motor yang terparkir di depan tempat itu memang tidak banyak, tapi istrinya sudah menunggu makanan di rumah. Ayahnya bilang lain kali mereka akan mampir. Sekarang sebaiknya makan siang dahulu lalu beristirahat. Mereka bertiga butuh itu.


Lampu kembali hijau, kendaraan di depan sepeda motor keluarga ini mulai bergerak maju. Rafka tidak kecewa kali ini. Setidaknya ayahnya sudah memberikan janji yang sewaktu-waktu bisa ia tagih. Masih dengan tatapannya tertuju pada tempat es krim, ada seorang gadis yang baru saja keluar dari sana. Bersama seorang lelaki yang wajahnya tidak bisa ia lihat dengan jelas.


"Ayah, apa itu kakak?" Sekali lagi Rafka menunjuk, sayangnya ayahnya harus fokus mengemudi dan tidak bisa melihat ke arah yang ditunjuk anaknya "Aku lihat akak bergandengan tangan dengan laki-laki. Apa ayah ingat teman laki-laki kakak yang datang ke wisuda waktu itu? Yang menghentikan Arvin saat menyebrang. Laki-laki itu mirip dengannya."


Ayahnya berharap Rafka salah lihat sementara motor ini semakin melaju cepat. Si ayah tidak ingin mengingat hari dimana posisinya terancam dengan keberadaan laki-laki lain. Perasaan kurang baik menjadi ayah kembali lagi. Jika pengelihatan muda Rafka benar, Ignacia pasti berkencan dengan seseorang bernama Rajendra itu. Jika tidak, mana mungkin mereka bergandengan tangan seperti kata Rafka.


Sesampainya di rumah, sang ayah tampak sedikit gusar. Anaknya kini bisa berbohong rupanya. Katanya pergi dengan teman ketika minta izin pagi tadi, lalu kenapa mereka bergandengan tangan? Beruntung ia tidak melihat dengan mata kepala sendiri. Bisa heboh dirinya sepanjang perjalanan pulang tadi. Pria ini makan dengan lamban, seolah sambil menunggu sesuatu.


Ignacia tentu tidak menyadari keberadaan ayahnya ketika akan meninggalkan kedai es krim. Si gadis hanya menatap ke arah kekasihnya, sesekali melirik tangan yang sedang laki-laki itu gandeng dengan lembut. Rajendra ingin mengajak kekasihnya berkeliling sebentar lagi sebelum mengantar pulang. Ia memberikan helm pada Ignacia lalu membawa sepeda motornya melaju ke jalanan utama.


"Jadi kamu bilang sibuk malam itu karena mencari gantungan kunci ini?" Ignacia ingin memastikan. Laki-laki di depannya lalu mengangguk. Meminta maaf sekali lagi karena menyembunyikan sesuatu. Rajendra bermaksud menemukan hadiahnya tanpa membuat Ignacia kecewa. "Tidak apa-apa, aku mengerti. Aku khawatir karena kamu tidak mengabari waktu itu."


Langit sudah tidak begitu panas. Tiba-tiba ada banyak awan berjalan menutupi cakrawala kota. Beruntung sekali mereka bisa berjalan-jalan tanpa matahari untuk sementara. Angin sejuk menerpa wajah, sedikit panas namun semakin lama panasnya semakin berkurang. Kelihatannya akan ada hujan nanti malam.


Ketika sampai di depan rumah, Ignacia mengintip ke dalam pagar. Mencari tahu apakah ayahnya sudah kembali. Dan benar saja, sepeda motor yang tadi dipakai ayahnya untuk mengantarkan kedua adiknya sudah terparkir di dalam. Ignacia melepas helmnya, "Ayah sudah datang. Sebaiknya kamu segera pulang, Rajendra. Sampai jumpa lagi."


Ada aura berbeda ketika Ignacia sudah menginjakkan kaki ke dalam rumah. Si gadis langsung menuju dapur, berniat menyapa mamanya sebelum ke kamar. Di dapur keluarganya sudah berkumpul lengkap kecuali Rafka. Kelihatannya anak itu sudah menyelesaikan makan lebih cepat. Aura yang Ignacia rasakan sejak berada di dekat pintu masuk semakin kuat disini.


"Ignacia, kamu mau jus? Ayah akan membuat jus setelah ini." Ayah Ignacia bangkit untuk meletakkan piring kotor di tempat cuci piring. Ignacia tentu tidak akan menolak. Si gadis akan mengambil miliknya setelah meletakkan barang-barangnya di kamar. Dia berbalik langsung kembali ke kamar, beberapa menit kemudian Ignacia sudah berada di dapur.


Mamanya bertanya sedikit apa tentang apa yang anak gadisnya lakukan diluar bersama teman tadi. Meksipun sudah mencoba untuk tidak penasaran, mamanya tetap saja ingin tahu. Setidaknya informasi kecil seperti dimana mereka paling lama menghabiskan waktu. Ignacia melirik ayahnya diam-diam, takut pria yang tengah memunggungi kedua wanita yang duduk di meja makan ini ikut mendengarkan.


Blender dinyalakan, waktu itulah Ignacia bisa menjawab. Mamanya membalas dengan senyuman jahil, anaknya sering berkencan di tempat itu rupanya. Kedai es krim warna pastel tepi jalan itu. Pembicaraan langsung selesai bersamaan dengan buah jambu merah yang sudah berubah menjadi jus. Ayahnya berpindah tempat, sedikit lebih jauh untuk mengambil saringan. Biji-biji buah itu sebaiknya tidak diikutkan.


"Ayah aku mau gula yang banyak," pinta Arvin.


Makannya sudah selesai, jadi ia mendekati ayahnya untuk ikut memasukkan gula. Anak kecil ini selalu menyukai makanan manis. Mamanya melarang penggunaan gula yang terlalu banyak karena alasan kesehatan. Menbuat anak bungsunya kecewa dan kesal. Diam-diam ayahnya memberikan sedikit gula tambahan untuk gelas yang akan diberikan pada Arvin.


Ignacia tentu menyadari persengkongkolan antara ayah dan anak itu. Berbeda dengan mamanya yang masih sibuk memisahkan ayam dari tulangnya. Arvin langsung membawa gelas miliknya beserta satu gelas lain untuk Rafka di kamar. Tersisa ayah, mama, dan Ignacia di dapur. Si anak gadis menerima segelas jus yang ayahnya berikan. Tak lama setelahnya fokusnya teralihkan dengan pesan di ponselnya.


Ada pesan masuk dari Nesya.


"Ignacia, ada yang ingin ayah tanyakan padamu. Bisa letakkan ponselnya sebentar?" Ignacia tidak bisa mendengarkan ucapan ayahnya dengan jelas. Matanya kini tengah membaca sebuah berita bagus yang bisa ia coba demi masa depannya. "Ignacia, bisa dengarkan ayah sebentar?" Sejujurnya pria ini sudah kehilangan kesabaran. Hanya saja hatinya tidak tega jika harus menggunakan nada tinggi pada Ignacia.


Kini mamanya ikut membantu, di panggilnya Ignacia beberapa kali hingga akhirnya perhatian gadis itu teralihkan. "Maaf, Nesya mengirimkan kabar baik. Katanya di sekolah yang ia kirimkan surat lamaran kerja tengah membutuhkan staff di perpustakaan. Aku ingin mencoba melakukan pekerjaan itu."


Mendengar itu, ayah dan mama Ignacia saling pandang sebentar. Mamanya setuju-setuju saja selagi Ignacia tidak keberadaan melakukannya. Lagipula anaknya suka sekali membaca. Staff perpustakaan pasti berurusan dengan buku dan penataannya. Sementara ayahnya masih belum memberikan jawaban. Butuh beberapa menit untuk ayahnya memutuskan.


"Kamu boleh melamar untuk pekerjaan itu, namun cobalah untuk menjadi proofreader seperti yang kamu inginkan di awal. Sayang sekali jika kemampuan di perkuliahan yang kamu pelajari tidak dipakai." Tidak masalah, Ignacia pasti bisa melakukan keduanya sekaligus. Lagipula yang Ignacia tahu pekerjaan di perpustakaan sekolah menengah atas tidaklah sesibuk itu.


"Ada yang ingin ayah tanyakan, Ignacia. Apa kamu bisa fokus sebentar dan sampingkan ponselmu?"


Ignacia langsung menurut. Ia mengunci layar ponselnya tanpa keluar dari ruang obrolan Nesya. Ia teguk jus miliknya, menunggu ayahnya memulai pembicaraan. Kelihatannya serius hingga Ignacia harus fokus. Sang mama akhirnya menyelesaikan makan siang. Piring kotor tadi langsung dicuci bersama dengan piring lainnya.


"Kapan Rajendra akan menikahi kamu?" Pertanyaan ayahnya berhasil membuat nafas Ignacia terhenti. Mamanya yang ikut mendengarkan dari jauh jadi menoleh. Tubuh kedua wanita ini membeku. Sementara ayahnya menatap ke arah anak pertamanya. "Rafka tadi melihat kamu bergandengan tangan dengan Rajendra di kedai es krim. Sampai kapak kalian akan bertahan di status pacaran?"


Gadis yang ditatap tajam itu ketakutan. Ayahnya tampak benar-benar marak meskipun tanpa sorot mata menghakimi dan nada bicara tinggi. "Kamu tidak perlu takut, Ignacia. Ayah hanya ingin tahu apakah laki-laki yang kamu kencani ini adalah pria yang sungguh-sungguh akan menikahi kamu dan bukannya hanya ingin main-main dengan perempuan."


Kenapa harus bertanya begitu? Ignacia tentu tidak tahu jawabannya. Mereka belum pernah membahas soal pernikahan. Ignacia terlalu takut dinilai terlalu terburu-buru. Dirinya sendiri saja belum punya pekerjaan, bagaimana dia bisa menikah jika uang saja masih meminta dari orang tua? Lalu untuk Rajendra, Ignacia takut memberatkan kekasihnya itu.


Ignacia tidak mampu mengatakan apapun. Dirinya hanya menggenggam erat gelas kaca berisi jus dinginnya tanpa berani menatap sang ayah. Rafka membuat Ignacia dalam masalah besar. Habis sudah riwayatnya. "Aku akan coba bertanya pada Rajendra soal itu. Tapi aku tidak janji bisa membawa jawabannya dalam waktu dekat. Setidaknya aku harus bekerja dulu."


Mama Ignacia mempercepat cuci piringnya agar bisa mendekati Ignacia. Wanita itu tahu pasti jika Ignacia hampir menangis dari nada bicaranya barusan. "Ayah tidak marah, Ignacia. Ayah hanya bertanya," jelas sang mama lembut. Diusapnya bahu Ignacia sebagai penenang. Satu tatapan tajam wanita ini layangkan untuk suaminya.


Bukan begitu caranya bertanya pada anak perempuan. Ayahnya tahu jika Ignacia pasti menyembunyikan hubungan romantis dengan seorang pria karena dirinya sendiri melarang keras. Lalu jika ditanya seperti ini, apalagi dengan bukti yang dikatakan tadi, Ignacia bukan main takutnya.


"Ignacia harap pria yang kamu kencani itu bukan bocah yang hanya ingin berpacaran denganmu selamanya, Ignacia." Ayahnya berniat meninggalkan dapur, membawa segelas jus yang belum diminum sama sekali. Setelah hanya tersisa berdua dengan sang mama, Ignacia merasa lemas.