Beautiful Monster

Beautiful Monster
Datang Padamu



"Kenapa kau masih disini?" Rasanya tidak nyaman karena Bagas masih berada di dalam ruangan selagi Ignacia makan. Pandangannya memang tidak mengarah pada gadis itu, namun rasanya tetap tidak nyaman saja. Apalagi Ignacia belum benar-benar memaafkan kelakuan Bagas dimasa lalu. Sungguh memalukan jika diingat-ingat.


"Bagaimana kau akan mengejutkan Rajendra? Jika kau keluar dari sini, dia pasti akan merasa aneh." Bukannya menjawab, Bagas malah balik bertanya. Benar juga apa yang Bagas katakan sebenarnya.


Awalnya Ignacia ingin menunggu diluar lalu memanggil Rajendra, berlari ke arahnya lalu memeluk laki-laki hebatnya. Hanya saja sekarang dirinya terjebak di dalam ruangan bersama Bagas. Apa Ignacia bisa menyelinap keluar selagi Rajendra berada di dapur dan bersiap-siap untuk pulang?


"Bagaimana jika aku mendatangi dia ketika di dapur? Apa dia tidak mencuci piring atau sesuatu? Aku akan mengejutkannya saat itu." Bagas menggeleng. Menjelaskan jika Ignacia melakukan itu, Rajendra mungkin akan menjatuhkan alat makan yang dia bersihkan. Apalagi semua yang bekerja disini adalah laki-laki. Bagaimana jika Rajendra salah mengira Ignacia adalah temannya karena kaget?


Bagas benar lagi. Lali bagaimana Ignacia bisa menemui Rajendra nanti? Oh Bagas bisa membantunya kembali ke rencana awal. Ignacia langsung menatap mantan kekasihnya penuh harap, meminta tolong untuk dibantu keluar dan kembali ke rencana awalnya untuk menjemput Rajendra.


Laki-laki yang mendapatkan tatapan aneh itu tentu bisa melakukannya, tapi masalahnya bagaimana jika Rajendra curiga? Bagas tidak ingin terlibat dengan hubungan romantis mantannya dengan teman sekamarnya. Bagas tidak tahu jika Rajendra sudah menyadari siapa dirinya yang sebenarnya.


Rencana awal Ignacia lebih aman untuk keduanya. Sebaiknya Bahss menyetujui dan membantu Ignacia keluar setelah makannya selesai. Bagas juga akan memberikan kode agar Ignacia bisa keluar ketika Rajendra masih sibuk di dalam. Yang Ignacia lakukan ini tidak akan menyakiti Rajendra kan? Karena Ignacia berhubungan dengan mantannya.


"Omong-omong bagaimana kau bisa ada disini?" Ignacia bertanya penasaran. Ignacia tidak pernah tahu jika Bagas berasal dari kota ini. Dahulu mereka satu sekolah padahal.


"Keluargaku pindah kemari ketika aku SMA. Kakekku yang adalah pemilik restoran ini meninggal dan mewariskan tempat ini pada ayahku. Jadilah kami pindah kemari. Namun kadang kamu kembali ke rumah lama dan tinggal disana beberapa waktu."


"Aku akan kembali bekerja. Makanlah dengan nyaman. Tinggalkan saja piring dan gelasnya disana, aku akan mengurusnya nanti." Bagas menutup pintu ruangan dengan sempurna. Menyisakan Ignacia dengan keheningan sembari makan. Sekarang Ignacia tahu kenapa restoran ini bahkan bisa diwariskan. Makanannya seenak ini. Resep yang digunakan pasti dari turun-temurun.


Omong-omong kenapa Bagas harus baik padanya? Dia membuat Ignacia ingat bagaimana dahulu tingkahnya yang baik dan perhatian mampu membuat hatinya jatuh. Meskipun pada akhirnya harga diri Ignacia seakan diinjak-injak. Laki-laki payah seperti dia kenapa harus memiliki kemampuan perhatian pada gadis yang ada di sekitarnya?


Ignacia yang sedang makan bisa merasakan aura Rajendra meksipun tidak melihatnya secara langsung. Bahkan ketika berdiri di depan kasir sana saja Ignacia bisa langsung melihat Rajendra yang keluar dari dapur untuk mengantarkan makanan. Mengantarkan makanan saja Rajendra bisa sekeren itu.


Kini ia penasaran apakah ada keluarga yang berniat menikahkan Rajendra dengan putrinya yang masih lajang. Rajendra sempurna dimata Ignacia, jadi mungkin seseorang bisa melihat kesempurnaan yang Ignacia lihat. Apalagi keramahan yang Rajendra berikan pada pelanggan membuat Ignacia semakin jatuh cinta padanya.


Si gadis menyegerakan makan sebelum Bagas kembali. Ignacia tahu jika dua jam lagi restoran akan tutup dan sebaiknya dia keluar sebelum itu. Ignacia berulang kali mencoba menahan senyum yang membuat makannya terasa aneh. Bagaimana reaksi Rajendra saat melihatnya nanti?


Ketika restoran terasa sedikit lenggang, Rajendra duduk di dapur lalu meneguk segelas air. Perasannya merasakan sesuatu yang familier. Rasanya begitu aneh dan tidak masuk akal. Bagas datang tak lama setelah gelas Rajendra kosong, ikut duduk dan meneguk air ingin dari dalam kulkas.


Rajendra bangkit, meletakkan gelas yang ia gunakan di tempat pencucian. Laki-laki itu berjalan ke arah jendela besar yang menghubungkan dapur dengan meja kasir. Perasaannya yang tidak tenang membuat Rajendra tidak ingin diam. Bahkan melihat meja yang baru ditanggalkan saja dia langsung berniat membantu teman yang bertugas membersihkan meja.


"Dia kenapa?" seseorang bertanya pada Bagas. Yang ditanyai hanya mengangkat bahu tidak tahu, enggan menjawab. Sudah cukup ia ikut campur dalam rencana kenalannya.


Dua jam berlalu tanpa Rajendra sadari. Sekarang waktunya untuk bersiap-siap pulang. Sebelum ia sempat mengambil tas dan melepas apron yang ia kenakan, Bagas berjalan mendekat. Temannya itu meminta Rajendra untuk membantunya memasukkan sampah botol kaca, memindahkan stok bahan makanan, lalu membereskan kardus-kardusnya. Dua teman ikut membantu juga menyortir sampah sebelum diikat dan dibuang ke tempat yang seharusnya.


Bagas punya dua motif di balik permintaan tolongnya pada si teman yang dirinya sendiri tahu jika Rajendra harus memesan tiket kereta dan sesegera mungkin pergi ke stasiun. Yang pertama adalah untuk membuat Ignacia bersiap menyambut kekasihnya, dan yang kedua tentu memang ingin dibantu membereskan dapur agar rapi.


Tidak ada yang memulai obrolan, semuanya sibuk dengan tugas masing-masing di dekat tempat sampah. Sementara keempat manusia berada di luar ruangan, yang lainnya berinisiatif untuk menata bahan makanan dan membereskan kardusnya seperti yang akan dilakukan Bagas. Mereka juga ingin Rajendra cepat pulang dan menemui keluarganya.


Begitu semuanya selesai, Rajendra mengambil tasnya di ruangan khusu pegawai lalu pergi meninggalkan restoran. Aura yang kuat menghentikan langkah Rajendra untuk meninggalkan restoran. Seseorang tengah berdiri diluar, tersenyum ke arahnya. Wajah cantiknya tampak bersinar, tatapan memikatnya seolah menarik Rajendra untuk mendekatinya.


"Bagaimana bisa kamu ada disini?" Langkah Rajendra mendekat pada kekasihnya, masih bingung dengan keberadaan seseorang yang seharusnya tidak ada. Bahkan Rajendra mengerjapkan matanya beberapa kali, berpikir jika pengelihatannya mungkin salah. Tapi bagaimanapun juga, gadis itu benar adalah Ignacia.


Ignacia merentangkan kedua tangannya, memberikan kode agar si laki-laki memeluk dirinya. Bukti bahwa Ignacia berhasil sampai di hadapannya dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Rajendra terpaku di tempat, tidak mampu melanjutkan langkah dan memilih untuk tertawa canggung.


Si gadis menurunkan kedua tangannya, berganti melangkah lebih dekat pada Rajendra lalu memeluknya lembut. "Aku sangat merindukanmu, Rajendra," bisik si gadis. Kepalanya ia sandarkan pada dada Rajendra, suara detak jantung si laki-laki terdengar jelas. Bahkan kedengarannya berdetak lebih cepat.


Rajendra masih mematung, bahkan tangannya tidak sanggup untuk membalas pelukan kekasihnya. Ternyata ini maksud dari pertanyaan Ignacia mengenai kapan dirinya akan pulang. Ada banyak yang harus dijelaskan Ignacia sebelum sampai disini. Rajendra harus mengetahui setiap detailnya agar bisa memastikan kekasihnya baik-baik saja.


Ignacia mendongakkan kepalanya, menatap manik mata kekasihnya, "Kamu tidak merindukan aku juga?"


Pertanyaan itu menarik Rajendra kembali ke dunia nyata. Ia langsung memeluk kekasihnya lebih erat, rupanya ini alasan kenapa perasannya sangat aneh malam ini. Rupanya karena aura Ignacia yang berada di sekitarnya. Bagaimana Rajendra tidak merindukan Ignacia? Keduanya sudah lama tidak bertemu.


Sejujurnya pelukan Rajendra dirasa terlalu kuat bagi Ignacia. Namun anehnya gadis berambut terurai ini menyukainya. Itu artinya Rajendra masih menjadikan dirinya satu-satunya kan? Apa yang bisa membuat Ignacia lebih bahagia dari fakta yang ia rangkum sendiri itu?


Perlahan pelukan keduanya mengendur, memberikan keduanya jarak untuk menatap satu sama lain. Memandang wajah yang begitu keduanya rindukan. Menatap manik mata yang berbinar karena melihay satu sama lain. Rasanya Ignacia ingin mengecup singkat bibir kekasihnya karena rasa bahagia yang memuncak.


"Rajendra terlihat berbeda ketika bersama dengan kekasihnya," bisik salah satu dari mereka, "Mereka terlihat sangat nyaman."


Mereka saling tatap lalu terkekeh geli melihat momen Rajendra dipeluk oleh sang kekasih yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Bagas juga ikut keluar, wajahnya tidak secerah teman lainnya. Ia bergerak mengunci restoran keluarganya laku bergabung dengan rekan kerja lain yang akan berpamitan pada Rajendra. Sementara yang mereka tatap beramai-ramai ini masih fokus pada Ignacia.


Jika saja gadis di dalam pelukan tipisnya itu tidak memberikan kode, Rajendra pasti tidak akan tahu tatapan teman-temannya di belakang. Sebelum mereka pamit, ada acara perkenalan. Rajendra menggandeng tangan Ignacia, tanpa ragu langsung mengenalkan kekasihnya pada semua rekan kerjanya.


"Semuanya, perkenalkan ini kekasihku, Ignacia."


"Dan Ignacia, beliau-beliau ini adalah rekanku di restoran. Mereka membantuku selama bekerja paruh waktu disini."


Ignacia tersenyum ramah, "Salam kenal, saya Ignacia." Rasanya canggung karena untuk pertama kalinya Rajendra mengenalkan dirinya pada seseorang.


Ignacia tentu mendapatkan respon positif. Tidak ada yang mengulurkan tangan untuk berkenalan, mereka berpikir jika Rajendra tidak ingin melihat kekasihnya bersentuhan dengan laki-laki lain juga. "Kalau begitu kami pulang dulu ya. Kalian juga cepatlah pulang," pamit mereka bergantian.


Setelah kepergian semua rekan kerja Rajendra, Ignacia iseng mencium pipi sebelah kiri kekasihnya tanpa aba-aba. Membuat yang dicium barusan terkesiap. "Terima kasih sudah mengenalkan aku pada rekan kerjamu, Rajendra."


Rajendra menoleh, menahan senyuman lebar. Tanpa aba-aba langsung membalas Ignacia dengan ciuman singkat di pipi kanan si gadis. "Terima kasih juga karena sudah jauh-jauh mendatangi aku. Kamu pasti menunggu lama. Tadi ada sesuatu yang harus kulakukan sebelum pulang. Kamu sudah makan malam?"


"Tentu saja sudah."


Sepanjang perjalanan menuju stasiun, keduanya bergandengan tangan, enggan melepaskan bahkan setelah berhasil naik ke kereta. Ya beginilah sepasang kekasih yang sudah lama memadu kasih ketika menahan rindu. Begitu bertemu, rasanya enggan melepaskan tautan.


Sepasang kekasih ingin saling bertukar cerita. Rajendra lebih dahulu bertanya bagaimana Ignacia bisa sampai di restoran tempat kerjanya. Disana Ignacia menjelaskan secara garis besar tanpa menyebutkan sumber terpercayanya. Ignacia bisa kehilangan informasi penting jika mengungkapkan identitas Dianti dengan mudah.


Selanjutnya Rajendra bercerita soal perasaan anehnya. Yang datang ke pikirannya memang Ignacia. Kepalanya berkata jika Ignacia kemungkinan besar berada di sekitarnya. Rajendra bisa merasakan keberadaan kekasihnya. Berulang kali Rajendra mencoba menyangkal, padahal kepalanya berkata jujur.


Perjalanan kereta keduanya penuh dengan cerita juga canda tawa. Tanpa mereka sadari jika perjalanan ini merupakan perjalanan pertama keduanya menggunakan kereta. Momen berharga keduanya bertambah.


Malam semakin larut, percakapan mulai menipis, rasa kantuk datang kepada Ignacia. Rasa nyaman ketika berada di samping si kekasih membuatnya tidak bisa lagi membuka mata. Dengan lembut Rajendra menyandarkan kepala Ignacia pada bahunya, masih dengan tautan tangan yang belum juga usai.


Rajendra mencoba untuk tetap terjaga, menjaga kekasihnya jika ada hal buruk yang mungkin terjadi. Sembari menunggu kereta sampai tujuan, Rajendra membuka ponselnya. Melihat pesan dari beberapa orang yang dikenalnya, Rajendra langsung membuka ruang pesan.


Rupanya orang ini menanyakan soal Ignacia. Kekasihnya ini pasti belum mengirimkan pesan pada Nesya dan Athira sampai-sampai Rajendra yang dikirimi pesan. Langsung saja ia membalas satu persatu, tak butuh waktu lama hingga pesan Rajendra dibaca oleh si penerima. Rupanya mereka masih belum tidur larut malam begini.


Athira merespon senang karena kakaknya berhasil, sementara Nesya meminta Rajendra untuk waspada dan menjaga teman baiknya. Senang melihat Ignacia mendapatkan perhatian yang pantas dia dapatkan ketika Rajendra sedang tidak ada.


Gadis cantik di samping Rajendra bergerak, mencoba menyamankan posisi kepalanya di bahu Rajendra. Rambut yang ia biarkan tergerai pun jatuh, menutupi wajah cantik kesukaan Rajendra. Perlahan rambut indah itu disimpan di belakang bahu Ignacia, tak lupa dilakukan setenang mungkin agar gadisnya tetap merasa nyaman.


"Hm?" Kedua mata Ignacia terbuka sedikit. Menyadari Rajendra membalas tatapannya, kelopak mata si gadis terbuka semakin lebar begitu pula senyumannya. Tidur sebentar membuatnya lupa jika sekarang tengah bersama laki-laki terkasihnya. "Kamu tidak mengantuk, Rajendra?" ia bertanya.


Rajendra menggeleng, tangannya menarik Ignacia ke dalam dekapan hangatnya. Katanya Rajendra tidak ingin tidur karena sedang bersama Ignacia. Takut waktu kebersamaan keduanya terpotong karena tidur. Kecupan singkat mendarat di puncak kepala Rajendra, "Nanti aku antar pulang ya?"


Yang di ajak bicara enggan menjawab. Lebih memilih untuk membalas pelukan Rajendra dengan posisi masih menyandarkan kepala di bahu si laki-laki. "Jika seperti ini aku tidak ingin pulang. Tidak bisakah perjalannya diperpanjang?"


"Kamu ini ada-ada saja. Kalau begitu nanti aku bangunkan."


Setelah hening beberapa lama, Ignacia membuka suara dengan mata terpejam. "Lain kali, apa aku boleh datang padamu lagi, Rajendra? Aku berjanji akan menunggu kamu selesai dengan semua urusan agar tidak menganggu. Jika kamu tidak bisa mendatangiku, biar aku saja yang datang."


Mendengar itu, Rajendra tidak menjawab. Membiarkan Ignacia mendatanginya bukan sesuatu yang bagus. Khawatir jika ada hal buruk terjadi. Namun di sisi lain, Rajendra juga mengharapkan gadisnya datang setelah hari panjang yang memuakkan. Setelah berpikir beberapa menit, Rajendra menggeleng, "biar aku saja yang datang padamu lain kali."


"Tapi tidak apa-apa kan jika aku lain kali datang lagi?" tanya Ignacia berbisik akibat rasa kantuk yang kembali.


"Tidak apa-apa, tapi hubungi aku lebih dahulu."