
Baik Ignacia maupun Danita, tidak ada yang mulai bicara. Padahal keduanya sudah membuka bungkusan Fitbar masing-masing sejak sepuluh menit yang lalu. Sibuk dengan suasana hati masing-masing, ribut dengan diri sendiri.
"Aku bersikap kekanak-kanakan," akhirnya Danita berani membuka mulut, "aku bersikap seolah menentang keras kekasihku untuk pergi. Entah apa yang dia pikirkan tentang aku. Aku tidak suka ketika dia bilang tidak bisa menerima pesan."
Ignacia diam, mendengarkan tanpa berniat ikut berbicara. Sebisa mungkin tidak ingin membuat Danita merasa harus menutupi sesuatu yang ingin dia sampaikan tanpa berpikir banyak. Lagipula keduanya sudah saling mengerti karena memiliki status yang sama.
"Kurasa aku sudah banyak bergantung padanya. Dia memberikan banyak perhatian yang tidak pernah kudapatkan, menjagaku dengan baik bahkan ikut memilih universitas di kota yang sama denganku. Kedengarannya mungkin berlebihan, tapi aku tidak memasaknya begitu."
Danita mengigit camilan di tangannya, dikunyah sampai halus sebelum kemudian di telan. Semuanya berlangsung lamban. Memberikan si gadis jeda untuk sedikit melihat ke belakang.
"Mungkin karena aku sudah terbiasa dengan keberadaannya di sekitarku, jadinya aku merasa hampa tanpanya. Seperti sesuatu yang berharga diambil dariku meksipun tidak selamanya," ucapnya setelah mulutnya kembali kosong.
"Jadi seperti ini rasanya sendirian, Ignacia? Sendirian tanpa seseorang yang bisa kau andalkan?" Danita menoleh, melihat temannya yang kini perlahan balik menatap, "rasanya juga hampa untukmu?" lanjut Danita.
Ignacia menyudahi tatapannya, beralih pada Fitbar miliknya yang masih utuh. "Jika aku, rasanya seperti kosong. Orang-orang selalu bilang jika kekasih bukan pusat alam semesta, tapi kurasa mereka tidak tahu bagaimana rasanya memiliki seseorang yang bisa berjalan bersamamu dan kemudian ditinggalkan."
"Mungkin memang sebentar, tapi waktu yang ditemani dengan kesendirian bukanlah waktu yang bisa dilupakan begitu saja seolah-olah bukan masalah besar," keluh Ignacia. Mungkin dia sedang mabuk karena angin malam hingga berbicara asal.
Langit malam yang gelap menyebar ke seluruh kota. Tanpa ada secercah cahaya yang menghiasi. Semua orang seakan bisa melihat kehampaan yang dirasakan oleh dua mahasiswi tahun ajaran baru yang tengah duduk di depan kamar asrama.
Ignacia tidak pernah mendengar cerita tentang Danita dan kekasihnya selain fakta bahwa keduanya berkuliah di kota yang sama. Entah apa yang sudah sepasang kekasih ini lewati hingga bisa sampai di titik ini.
"Tata, aku akan melewatkan hari jadiku dengan kekasihku bulan ini. Katanya dia akan datang beberapa hari setelah urusannya selesai. Apa ajakan double date itu masih berlaku?" Ignacia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
Tata tidak keberatan, dia menjawab, "tentu saja. Jika kekasihku sudah kembali, ayo kita lakukan rencana kita. Tapi sebaiknya kalian menghabiskan waktu bersama dahulu sebelum kita pergi double date. Katanya kalian merayakan hari jadi yang terlambat."
Danita benar. Setelah urusan Rajendra selesai, keduanya akan memiliki banyak waktu untuk bersama daripada sebelumnya tanpa ada peringatan khusus dari orang tua Ignacia. Semoga itu itu cepat datang agar Ignacia tidak kembali merasa kosong.
"Omong-omong kalian hebat karena bisa menjalani hubungan jarak jauh tanpa bertemu sejak pertama masuk kuliah," ungkap Danita sambil tersenyum tipis, "aku penasaran bagaimana kau bisa menahan untuk tidak bertemu dengan kekasihmu."
Ignacia menganggukkan kepalanya pelan, "aku tidak keberatan jika tidak bertemu. Yang kuinginkan hanya kabar lewat pesan singkat darinya. Dengan begitu aku bisa membacanya berulang kali ketika aku merindukannya."
Pembicaraannya jadi lebih sunyi saja. Bahkan suara gigitan pada camilan keduanya hampir terdengar.
"Terima kasih untuk Fitbarnya, Ignacia. Bagaimana jika kita masuk dan beristirahat? Besok akan menjadi hari yang panjang untuk kita berdua." Danita bangkit, mengulurkan tangannya untuk membantu sang teman berdiri.
...*****...
Hari sibuk Rajendra dimulai. Hari besar yang dirayakan oleh restoran tempatnya bekerja mengundang minat para pengunjung yang membaca selebaran tentang adanya menu baru setiap tahunnya. Selain itu masih ada banyak promo yang menarik semakin banyak pengunjung.
Rajendra membenarkan apron miliknya sebelum kembali membawa pesanan ke meja pelanggan. Setelahnya dia harus membawa alat kebersihan untuk membersihkan meja. Para pengunjung harus membersihkan mejanya sendiri, jadi tugas pegawai restoran hanya memastikan mejanya sudah bersih.
"Rajendra, masih ada tempat di nampanmu? Bisakah kau mengantarkan ini ke meja 11? Aku harus pergi ke lantai dua."
Yang dimintai tolong berpikir sebentar, dia mengangguk kemudian membawa menu tambahan ke nampan yang ada di tangannya. Dengan hati-hati Rajendra membawanya ke meja yang memesan dan menatanya dengan baik.
"Selamat menikmati," ucapnya sebelum meninggalkan meja.
Melihat kesibukan yang ada, Rajendra bahkan tidak sempat untuk mengecek ponselnya apakah ada pesan dari Ignacia atau tidak. Hari ini hari jadi keduanya, seharusnya Rajendra datang, namun yang dia lakukan adalah terjebak di kota asing dan tengah berusaha keras mencari uang layaknya pria sejati.
"Rajendra, minumlah sedikit," suruh teman sekamarnya Rajendra, Bagas, sambil menyodorkan minuman dingin. "Aku tidak melihatmu minum sejak datang. Jangan sampai dehidrasi dan merasa pusing. Kita sedang sibuk, jadi jangan sampai sakit."
Temannya menurut. Duduk sebentar dan menerima sodoran minuman dingin dari seniornya. "Terima kasih," ucapnya sebelum menutup kembali minumannya dan kembali mengambil pesanan yang siap diantar. Dia tampak seperti robot saja.
"Ponselmu-" belum sempat temannya bicara, Rajendra sudah pergi meninggalkan bagian dapur. Laki-laki yang ucapannya terpotong tadi menatap ruangan khusus pegawai. Suara nada dering ponsel seseorang terdengar darisana beberapa saat yang lalu sebelum Rajendra datang dan minum.
Bagas sudah hampir menghafalkan suara nada dering semua pegawai di restoran keluarganya sendiri. Jadi dia yakin jika nada dering tadi berasal dari ponsel si pegawai yang terlalu menjadi pekerja keras di tahun pertamanya bekerja.
"Kenapa?" tanya seniornya, "apa kau tadi seperti mendengar nada dering ponsel? Apa kau tau milik siapa itu?"
"Sepertinya milik Rajendra," laki-laki tadi menjawab singkat kemudian kembali pada pekerjaannya untuk mengurus bagian karbohidrat. Dilupakannya perasaan tidak nyaman saat mendengar suara ponsel si teman sekamar. Jika diingat kembali, hari ini adalah hari jadi Rajendra dengan Ignacia. Kemungkinan besar yang menelfon tadi adalah gadis itu.
"Tidak biasanya Rajendra memiliki panggilan telfon ketika sedang bekerja." Bahkan senior yang baru bertanya tadi juga menyadari keanehannya.
...*****...
Nesya menatap teman di hadapannya sambil meminum minuman dingin yang baru datang beberapa saat yang lalu. Seperti dugaannya, Rajendra masih sibuk bekerja hingga tidak bisa mengangkat panggilan dari Ignacia. "Coba kau hubungi lagi nanti, Ignacia," sarannya.
Ignacia mengangguk, menyimpan ponselnya ke dalam tas kemudian memakan kentang goreng yang dipesannya tadi. Tak lama setelahnya satu teman lagi muncul, duduk di samping Ignacia dan mencoba untuk menebak situasi yang ada selama dia pergi ke toilet.
"Tidak diangkat?" tanyanya yang kemudian mendapatkan anggukan dari Nesya. Gadis berkacamata itu kemungkinan menggeser camilan di hadapannya sebagai kode agar Danita makan saja dan tidak banyak bertanya.
Ignacia memperbaiki posisi duduknya sebelum mengubah suasana, "bagaimana jika kita keluar sampai sore? Aku tidak ingin berada di asrama sendirian."
Danita tidak keberatan, lagipula dia juga merasa kesepian karena kekasihnya belum kembali. Sementara Nesya malah lebih senang jika diajak berkumpul seperti ini hingga sore. Karena dia bosan berada di kos yang isinya orang itu-itu saja.
"Kemana kita akan pergi?" Nesya bertanya. Dia tidak membuat rencana karena tidak tahu Ignacia ingin lebih lama berada diluar.
"Sebenarnya aku berencana untuk membeli bunga kecil untuk dirawat di asrama. Bagaimana dengan kalian?" Danita menatap kedua temannya bergantian. Rencananya dia akan membelinya sendiri, namun jika kedua temannya ingin ikut, mereka bisa pergi bersama dan membantu Danita memilih.
Ignacia setuju saja, begitu juga Nesya. Langsung diputuskan jika ketiganya akan pergi bersama Danita untuk membeli tanaman. Ignacia juga ingin mencob merawat tanaman sebagai selingan membaca novel.
"Setelah membeli tanaman, bagaimana jika membeli mentimun? Kantung mataku muncul. Kurasa aku terlalu banyak menatap layar laptop dan begadang untuk mengerjakan tugas," ajak Nesya. Teman-temannya setuju saja. Ignacia sepertinya juga membutuhkan beberapa sayuran untuk membuat makanan yang lebih sehat di asrama.
Ignacia berencana untuk tidak menyalakan kembali ponselnya hingga setibanya di rumah. Biarkan Rajendra sibuk dengan pekerjaannya sementara dia juga menyibukkan diri dengan bersenang-senang bersama teman dekatnya. Beruntungnya kedua teman Ignacia sama-sama senggang hari ini.
Mereka menaiki bus untuk sampai ke tempat yang menjual tanaman seperti yang dicari Danita. Dia langsung menemui seorang pegawai begitu sampai untuk menanyakan apakah tanaman yang di carinya tersedia. Berbeda sekali dengan Ignacia yang lebih suka mencari sesuatu sendiri.
Nesya dan Ignacia mengikuti teman berambut pendek yang tengah melihat-lihat tanaman yang sudah dicarinya. Sambil mengikuti, Ignacia juga melihat-lihat apakah ada tanaman yang menarik perhatiannya. Namun bahkan setelah Danita selesai dengan urusannya, Ignacia belum menemukannya.
Sampai Danita meminta kedua temannya menunggu sembari dirinya membayar, Ignacia sudah kehilangan minatnya. Kesempatan berdua ini digunakan Nesya untuk menanyakan sesuatu yang sejak tadi menganggunya.
"Ignacia, apa kamu sedang melakukan diet? Kamu terlihat lebih kurus daripada terakhir kali kita bertemu di halte bus." Nesya menatap temannya dari atas hingga bawah, "berat badanmu menurun karena sibuk? Kamu harus menjaga pola makan agar tetap sehat, Ignacia."
Yang sedang di ajak bicara hanya mengangguk dan tersenyum. Sudut matanya menangkap bayangan seseorang yang berjalan mendekat. "Bagaimana jika memutari tempat ini sekali lagi?" tawar Danita, "katanya kau akan mencari tanaman juga, Ignacia. Aku akan membantumu memilih."
Ignacia menolak dengan dalih dirinya sudah tidak berminat. Tidak ada tanaman yang menarik perhatiannya saat pertama kali melihatnya. Jadi jika berputar sekali lagi, rasanya akan membosankan. Mungkin minatnya memang hanya pada buku dan camilan ringan. Dan Rajendra.
Selanjutnya pergi ke pasar tradisional. Tempatnya luas dan bersih juga udaranya terasa segar ketika memasuki tempat sayur mayur. Berbeda sekali dengan pasar-pasar yang pernah Ignacia kunjungi dahulu. Dipikirnya mungkin karena dia sudah bertahun-tahun tidak ikut dengan mamanya pergi ke pasar.
"Aku beberapa kali kemari jika ingin membeli sayuran. Tempat ini stoknya selalu banyak dan sayurannya selalu segar," jelas Nesya sambil memimpin jalan di depan. Sekarang gantian Ignacia dan Danita yang mengikutinya.
Nesya berhenti di sebuah lapak penjual sayuran dominan berwarna hijau. Gadis berkacamata itu seolah sudah kenal lama dengan sang penjual hingga ibu-ibu yang menjaga lapak menyapa Nesya dengan senyuman. Nesya pasti lebih sering mampir dari yang Ignacia kira.
"Bu, saya ingin membeli mentimun," ucap Nesya ramah.
"Mentimun? Iya saya ambilkan dahulu."
Sambil menunggu Nesya dilayani, Ignacia melihat-lihat sayuran yang ada. Mungkin sebaiknya dia membeli beberapa agar bisa cepat dimasak sebelum busuk di kulkasnya. Sebelum kesibukan semakin menyerangnya sebelum hari besar kampusnya.
Membeli tanaman Danita sudah, mentimun untuk Nesya juga sudah didapatkan. Kemudian Ignacia kembali dengan kantong plastik berisi sayuran hijau. Ketiganya tidak pulang dengan tangan kosong. Setidaknya ada yang mengisi salah satu tangan ketiganya sebelum kembali pulang.
Hari sudah semakin sore. Siapa kira jika mereka bisa menghabiskan waktu cukup lama hingga tidak menyadari perubahan langit yang begitu kentara? Mungkin karena terlalu sibuk memilik tanaman dan sayuran.
"Aku akan pergi ke halte ini. Kalian berhati-hatilah. Hubungi aku jika kalian sudah sampai di asrama," pesan Nesya kemudian berlari kecil ke arah halte setelah melihat anggukan kedua temannya. Busnya akan segera datang.
Ignacia dan Danita melanjutkan perjalanan. Menuju halte bus yang akan membawa keduanya pulang. Seharian ini Ignacia irit bicara. Sekalinya bicara hanya ketika ditanyai. Selain itu dia mungkin akan tersenyum kecil saat Danita mencoba untuk mencairkan suasana.
"Kamu masih memikirkan kekasihmu?" Danita bertanya. Dia merasa tidak nyaman jika temannya menjadi pendiam meksipun dia sendiri juga tahu alasannya. Hanya saja Danita merasakan sakit jika Ignacia tidak bahagia.
"Kurasa aku masih kecewa karena melewatkan hari jadi tanpa kekasihku. Tapi setidaknya dia bilang jika nantinya dia akan datang ke acara double date kita." Ignacia tersenyum kecil, menoleh pada Danita yang juga membalas senyumannya.
"Aku sudah tidak sabar dengan acara kita, Ignacia. Aku sudah membuat rencana dan akan mengirimkannya padamu setelah sampai di rumah. Biar kita saja yang merencanakan hari bersama sementara kekasih kita menikmatinya."
Ignacia setuju saja dengan temannya. Selama tinggal disana hanya Danita yang sudah mengelilingi banyak tempat untuk berkencan dengan kekasihnya. Jadi dia pasti tahu tempat sempurna untuk melakukan double date.
Melihat Danita yang bersemangat karena kekasihnya akan segera kembali ke kota membuat Ignacia juga merasakan hal yang sama. Ignacia juga bersemangat untuk bertemu dengan kekasihnya sesuai janji temu. Sebentar lagi perasaan rindunya terhadap laki-laki tampannya akan sirna.
Sesampainya di asrama, Ignacia mengucapkan selamat malam pada tetangganya dan langsung masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Seharian pergi bersama membuatnya merasa lelah dan membutuhkan tidur yang panjang.
Langsung menuju kulkas, menyimpan sayuran yang baru saja dibeli segera sebelum kesegarannya berkurang. Kulkasnya cukup kosong karena Ignacia lebih sering makan Fitbar daripada nasi ketika ada di asrama. Hanya saat makan siang saja dia akan pergi ke kantin untuk makan sumber karbohidrat lain.
Ignacia bangkit, meletakkan tasnya di sisi tempat tidur. Tangannya bergerak cepat untuk mengisi daya ponsel sebelum memulai ritual sore.
Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ
Aku akan menelfon nanti malam
Untuk membahas rencana date kita