
Cup!
Rajendra mencium singkat puncak kepala Ignacia. Keduanya bersitatap sebentar lalu tertawa kecil bersama. Konser musik masih berlangsung. Berganti pada lagu-lagu persahabatan dan jatuh cinta lain yang dikenal orang-orang. Semuanya kembali bernyanyi, membantu bintang tamu laki-laki dan perempuan di atas panggung.
"Bagaimana kamu bisa menyiapkan hal seperti ini?" Rajendra bertanya. Rajendra pasti tidak melihat di sekitarnya. Apa dia tidak menyadari jika orang-orang di sekitarnya juga melakukan apa yang Ignacia lakukan?
"Ini ide panitia acara. Mereka memperbolehkan orang luar datang bukan tanpa alasan. Semua tamu undangan mendapatkan kue dan surat tulisan tangan masing-masing." Rajendra menganggukkan paham. Dia akan membuka surat dan makan muffinnya nanti. Sekarang waktunya menonton konser dengan kesayangannya.
Konser musik ini bukan akhir dari acara. Masih ada pemberian hadiah untuk pemenang lomba yang ditampilkan di panggung hari ini. Ketika itu, Ignacia diminta Danita untuk datang ke tempat lapang yang ada di dekat perpustakaan. Sisi lain kampus yang memiliki tanaman bagus untuk di ajak berfoto.
Danita dan Bahri sudah bersama dengan Nesya, jadi sebaiknya Ignacia dan Rajendra cepat-cepat agar merasa tidak menunggu lama. Ignacia yang memimpin jalan, tangannya tidak lupa menggandeng Rajendra agar tetap mengikuti.
Sesampainya disana, Ignacia melihat Danita dan yang lainnya sudah menunggu. Dari banyaknya orang yang berlalu lalang disana, siapa yang sedang mengobrol akrab dengan Nesya? Laki-laki berjaket hitam yang tengah memunggungi arah datangnya Ignacia dan Rajendra.
"Ignacia!" panggil Danita. Panggilan itu menarik perhatian Nesya, Bahri, dan laki-laki misterius itu.
Ignacia bertemu tatap dengan laki-laki berjaket hitam itu. Langkahnya terhenti, mendadak mematung. Bagaimana bisa laki-laki itu sampai disini? Bagaimana dia mengobrol begitu dekat dengan teman masa kecilnya? Dan kenapa harus dia yang muncul setelah menghilang entah kemana?
"Ayo," ajak Rajendra. Kekasih Ignacia itu menarik lembut tangan si gadis ke arah Danita dan Bahri.
Laki-laki yang membuat Ignacia muak itu tersenyum tipis seolah tidak melakukan kesalahan apapun. Kehadirannya disini saja sudah salah, apalagi tadi dia mengobrol dengan Nesya seolah sudah mengenalnya. Dan--Rajendra tidak mengingat siapa laki-laki berjaket hitam itu?
Laki-laki berjaket hitam itu bertegur sapa dengan Rajendra, apa mereka teman? Lalu hal yang ditakutkan Ignacia terjadi. Rajendra mengenalkan laki-laki itu pada Ignacia seolah bukan masalah besar. "Ini teman sekamarku, namanya Bagas."
Baik Ignacia maupun Bagas hanya mengangguk seperti memberikan salam tanpa saling bertatapan. Ignacia mengeratkan genggaman pada Rajendra lalu dibawa mendekati Danita yang lebih aman. Di samping gadis itu ada Nesya yang tengah mencarikan konsep foto ramai-ramai.
"Kenapa orang itu ada disini?" Ignacia mencoba bertanya setenang mungkin pada Rajendra. Yang di tanyai hanya menjawab jika Bagas memiliki urusan di kota ini, jadi dia ikut kemari di hari yang sama. Maksudnya urusan itu bukan untuk bertemu dengan Nesya kan?
Sesi foto dibantu dengan Bagas. Nesya memintanya untuk membantu memotret dia bersama teman-teman. Agak kejam memang karena yang memotret tidak di ajak berfoto pula. Tapi memang sebaiknya tidak daripada merusak seluruh fotonya. Jika Bagas harus berfoto juga, sebaiknya Ignacia yang mengambil gambarnya.
...*****...
Rajendra mengajak Ignacia makan siang berdua. Si laki-laki akan kembali sore nanti, jadi dia ingin memaksimalkan waktu dengan yang terkasih sebelum kembali terpisah. Ignacia tidak pernah ingin melepaskan genggamannya pada Rajendra, bahkan ketika dia terlihat sendu menatap jalan diluar restoran, Ignacia masih ingin menggenggam tangan orang di sebelahnya.
"Kamu kenapa? Kamu lelah?" Rajendra bertanya. Ignacia tampak begitu lemas, siapa yang tidak khawatir?
"Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin tetap bersamamu. Aku boleh menggenggam tanganmu lebih lama kan?" Ignacia menyentuh kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Mungkin dia hanya sedang lapar, makanya agak lemas.
"Kamu memikirkan soal Bagas?" Ucapan Rajendra mengambil atensi Ignacia. Si gadis menajamkan pendengaran tanpa berniat menoleh. Kini pandangannya tertuju pada tangan hangat yang sedang digenggamnya. "Aku tahu siapa dia sejak pertama bertemu. Dia laki-laki yang bermain peran bersamamu. Dia pangeran Cinderella."
"Tidak apa-apa," Rajendra mengangkat dagu Ignacia agar menatap matanya, "selama ini aku sudah belajar untuk lebih percaya diri. Aku yakin kamu akan tetap bersamaku meskipun orang-orang dari masa lalumu datang. Kamu tidak perlu khawatir aku marah lagi."
Meskipun begitu, melihat Bagas pasti membuat Rajendra tersiksa setiap harinya. Bahkan mereka adalah teman sekamar. Ignacia mengangguk, dia juga hanya ingin bersama Rajendra. Tidak akan ada orang lain dihatinya selain laki-laki yang tengah tersenyum sambil menatapnya ini.
Ignacia jadi ingat bagaimana kemarahan Rajendra setiap Ignacia berlatih drama ketika SMP. Wajah marah dengan tatapan muak yang selalu menyakiti hati Ignacia setiap harinya. Bahkan ketika dramanya berakhir, Ignacia masih sangat merasa bersalah. Padahal bermain drama itu tidak salah. Hanya saja di dalam drama itu Ignacia harus menyentuh laki-laki lain.
Dan karena kecemburuan dari drama itu, Rajendra berhasil mengambil ciuman pertama Ignacia.
"Bagas tidak tahu jika aku tahu bahwa dia adalah mantanmu. Biarkan saja dia tidak tahu, aku akan pura-pura tidak peduli dengan masa lalunya. Kamu tidak perlu terlibat dengannya lagi. Kamu mengerti?" Ignacia mengangguk patuh. Jika harus pun Ignacia tidak ingin terlibat.
Jika Rajendra bisa berdamai dengan masa lalu Ignacia, kenapa dia masih meledak ketika bertemu Bahri? Apa kekasih temannya itu masih sulit untuk dilupakan?
"Apa aku sebaiknya juga melakukan hal yang sama? Pura-pura tidak tahu di hadapan Nesya," Ignacia tersenyum kecut, "aku tidak suka membicarakan b*d*b*h itu."
"Tentu, kamu bisa melakukannya. Yang penting buat kamu nyaman. Lalu jika Nesya ingin membicarakan tentang Bagas, entahlah mungkin mengevaluasi atau semacamnya. Biasanya seorang teman yang didekati lawan jenis akan bertanya pada temannya bagaimana orang itu. Terima saja apa yang akan Nesya katakan. Aku tidak merasakan hal buruk."
Andai Ignacia bisa melakukan seperti yang Rajendra katakan. Bagas sudah masuk ke daftar hitam Ignacia. Tempatnya bukan lagi di sekitar dunianya yang semakin sempit. Dari sekian banyaknya perempuan, kenapa harus kawan baiknya?
"Ah dia membuatku muak. Awas saja jika dia membuat Nesya sedih. Akan kubalas dia," geram Ignacia.
Selesai dari restoran, kini keduanya berjalan-jalan di jalanan ramai yang biasanya menjadi tempat anak muda hang out. Sebuah gang besar yang memiliki segalanya layaknya mall. Deretan toko dan restoran lengkap disini. Tempatnya sudah sejuk ditambah lagi dengan awan mendung.
Ignacia mengedarkan pandangan, tempat ini mirip dengan jalan-jalan yang biasanya ada di dalam novel musim semi. Jalanan dengan bebungaan di pot-pot besar bunga Begonia berwarna merah muda sepanjang jalan menambah keindahan. Jika sedang diluar negeri, pasti bunga sakura yang terlihat.
"Tunggu sebentar." Rajendra melepaskan tangannya dari genggaman Ignacia, ditinggalkannya gadis itu di depan sebuah toko bunga. Ignacia kebingungan melihat Rajendra yang memasuki toko berwarna dominan warna pastel itu.
"Wah kamu membeli bunga?"
Air wajah Ignacia langsung kembali berseri. Siapa yang tidak akan senang jika tiba-tiba orang yang kau sayang memberikan sebuket bunga yang mewakili cinta, pesona, dan kepekaan? Bahkan, bunga aster berwarna merah muda ini merupakan lambang Venus, sang dewi cinta.
"Ini sebagai ucapan selamat sudah menjadi sutradara yang baik dan terima kasih untuk muffin dan suratnya. Akan kubuka di kereta nanti."
Ignacia menerima buket cantik yang Rajendra sodorkan, dipeluknya singkat dia yang tengah tersenyum salah tingkah. Dia yang memberikan bunga namun dia juga yang salah tingkah. Lihatlah tatapan mata yang sedang tidak fokus itu. Ignacia jadi gemas sendiri dibuatnya.
Cup!
Ignacia berjinjit sedikit untuk mencium pipi kekasihnya, "terima kasih banyak, Rajendra," ucapnya tanpa memutuskan kontak mata dari Rajendra. Wajah Rajendra menjadi agak memerah karenanya. Bahkan dirinya tengah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal tanpa sadar.
Siang sudah berakhir. Ignacia mengantarkan Rajendra ke stasiun masih dengan membawa buket bunga aster tadi. Keduanya duduk di sebuah bangku untuk menunggu kereta yang akan datang sekitar dua puluh menit lagi. Masih ada waktu untuk mengobrol singkat sambil menunggu. Tak lupa Ignacia menggandeng tangan kekasihnya lagi.
Ada perasaan aneh yang tiba-tiba datang menghampiri Ignacia. Mirip dengan perasaan saat dirinya ditinggalkan sendirian dan mengetahui Rajendra pergi ke suatu tempat yang jauh. Perasaan kesepian itu tiba-tiba datang entah darimana. Padahal seharian ini Ignacia sudah bertemu dengan yang tersayang.
"Ignacia, mungkin semester selanjutnya aku tidak bisa selalu ada untukmu. Tapi aku akan mengirimkan pesan sebisaku. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, langsung katakan saja padaku. Aku akan kabulkan, tapi dari jauh." Apa perasaan Ignacia sudah menyadari akan kejujuran Rajendra sore ini?
Ignacia mengangguk paham. Dia tidak keberatan jika Rajendra harus selalu sibuk. Sudah tidak ada yang Ignacia takutkan. Rajendra saja bisa berdamai dengan masa lalu Ignacia. Lantas Ignacia juga harus berdamai dengan perasannya sendiri. Percaya saja pada Rajendra.
"Tidak apa. Yang penting kamu tetap bersamaku," balas Ignacia.
Meksipun begitu, Ignacia tidak pernah suka merasa sendirian. Dari banyaknya kegiatan, Ignacia paling tidak suka ditinggalkan. Meskipun sibuk, perasaan kesepian bisa datang. Bagaimana caranya Ignacia bisa membiarkan Rajendra melakukan apa yang diinginkannya? Membaca buku? Semoga saja stoknya tidak cepat habis.
"Terima kasih karena sudah mengerti." Rajendra tersenyum, menyingkirkan anak rambut yang menghalangi dirinya untuk melihat wajah cantik yang akan dirindukannya ini. "Aku janji, kita akan memiliki waktu berkualitas setiap hari jadi. Akan kuberikan hari spesial untukmu setiap tahun."
"Tidak perlu berjanji. Jika bisa, kita akan bertemu. Tidak perlu membuat janji."
Kereta datang sesuai jadwal, Ignacia ikut hingga batas yang diperbolehkan. Setelahnya, genggaman tangan keduanya terpaksa usai. Rajendra berdiri di hadapan Ignacia, berkata bahwa dirinya akan mengirimkan kabar setibanya di kos.
Rajendra mengucapkan salam perpisahan. Melambaikan tangan sambil tersenyum cerah untuk perpisahan yang bahagia. Tidak apa. Mereka masih bisa bertemu di waktu yang belum ditentukan. Mereka masih akan merayakan anniversary yang ke-6. Si gadis berambut panjang ini membalas lambaian tangan kekasihnya, ikut tersenyum pula.
Ignacia terus menatap punggung Rajendra yang perlahan menghilang. Begitu laki-laki itu masuk ke dalam kereta, pandangan Ignacia terhalang. Ignacia masih tetap disana, berdiri di pembatas hingga kereta Rajendra melesat pergi.
"Kita bertemu lagi di kesempatan berikutnya ya," batinnya.
...*****...
Rajendra dapat melihat Ignacia masih berdiri di pembatas, gadis cantik itu bahkan tidak pergi hingga Rajendra benar-benar hilang. Membuat dirinya kembali merasakan kehangatan cinta. Membuatnya memantapkan hati jika Ignacia memang orang yang dia idam-idamkan.
Kalau begitu Rajendra harus berusaha sangat keras kan?
Rajendra mendapatkan pesan dari Bagas. Katanya Bagas dalam perjalanan pulang lewat stasiun yang lain. Entah apa tujuannya dia mengirimkan pesan polos itu. Bagas bahkan berpesan pada Rajendra jika besok keduanya harus kembali bekerja lebih keras untuk membalas cuti hari ini. Rajendra tahu itu.
Sebuah aroma manis memanggil Rajendra. Oh ya, muffin dan surat dari Ignacia belum ia buka. Apa sebaiknya Rajendra membukanya sekarang? Dia sudah sangat penasaran namun takut salah tingkah karena masih bersama Ignacia seharian.
Muffin rasa coklat dengan choco chips. Rasa yang selalu disukai Rajendra selain es krim. Rasanya enak, manis, choco chips-nya membawa sensasi lain yang membuatnya semakin enak. Apalagi dengan penambahan lapisan gula di atasnya. Panitia acara itu pandai sekali memilih muffin yang enak.
Selanjutnya surat kecil dari Ignacia. Rajendra meletakkan sebentar muffin yang sudah digigit kecil olehnya di atas meja yang ada di kereta. Dibukanya amplop kecil berwarna merah muda pastel dan mengeluarkan secarik kertas dengan motif menggemaskan. Gaya Ignacia sekali.
I owl you day and night, Rajendra.
"Owl? Maksudnya Love?" Rajendra hampir tidak bisa memahami apa yang coba gadisnya sampaikan. Di atas tulisan terdapat sebuah gambar burung hantu kecil yang dibuat dengan satu garis. Tidakkah Ignacia terlebih kreatif? Atau apa dia bingung bagaimana mengungkapkan perasaannya?
"Sesuka itu kamu pada burung hantu?" Rajendra bergumam. Menatap gantungan kunci tas yang dia letakkan di samping muffin. "Haruskah aku memenangkan boneka burung hantu lain untukmu lain kali?"
Rajendra mengambil ponselnya dari dalam tas. Berniat mengambil gambar surat dan muffin pemberian gadisnya untuk disimpan. "Day and Night, hm?" Rajendra terkekeh kecil. Beruntung gerbong yang dia naiki terbilang cukup sepi. Jadinya dia bisa puas salah tingkah di kursinya.
Pemandangan diluar kereta semakin gelap. Rajendra berharap kekasihnya pulang dengan selamat. Mungkin Rajendra harus menelfonnya saja untuk memastikan. Ketenangan yang ada di sekitar Ignacia ketika panggilan berlangsung menjelaskan semuanya. "Kamu sudah di asrama ya?"
"Bagaimana kamu tahu?" Bingung si gadis. Pasalnya tadi dia baru saja menyapa.
"Apa kamu lupa jika sudah mengencani laki-laki hebat seperti aku? Jangan lupa makan malam, Ignacia."