
"Mama, ayo bangun."
Suara riang Ignacia terdengar dari balik pintu. Menunggu mamanya keluar kamar dengan harap mamanya tidak akan membuatnya terlambat datang ke stasiun. Ini sudah harinya. Mereka akan keluar kota untuk acara yang sangat diidam-idamkan Ignacia.
"Mama," panggil Ignacia lagi.
Yang keluar dari kamar beberapa detik kemudian bukannya pemilik kamar. Justru anak kecil yang seharusnya tidur di kamar sebelah. Dari wajahnya, seperti ada yang salah.
"Rafka, apa yang kau lakukan di kamar mama dan ayah?" bingung kakaknya. Pasalnya baik Rafka atau Arvin sudah tidak diperbolehkan untuk tidur dengan orang tuanya.
"Semalam aku tidak sengaja menumpahkan air di dapur. Aku pergi tengah malam karena-" Rafka tampak takut untuk melanjutkan kalimatnya, "-aku merasa haus dan- mama tidak sengaja menginjaknya saat aku pergi mencari kain pel."
Buru-buru Ignacia membuka pintu di belakang Rafka, melihat mamanya merintih kesakitan pada bagian kakinya. Di samping tempat tidur ada ayah yang tampak khawatir. Menatap dengan cemas. Keduanya sama-sama tidak menyadari keberadaan Ignacia yang tiba-tiba tanpa mengetuk.
Keduanya bahkan terlalu banyak pikiran hingga tidak mendengar panggilan Ignacia sedari tadi. Beberapa detik kemudian, barulah sang mama menyadari keberadaan anak perempuannya.
"Maafkan mama, Ignacia. Sepertinya mama tidak bisa pergi. Adikmu menumpahkan air dan- dia tidak sengaja. Tapi maaf mama tidak bisa mengantarkan kamu keluar kota."
Ignacia kecewa. Sungguh.
Dia tidak menyalahkan Rafka atau mamanya. Juga bukan pada takdir yang membuat keluarganya dalam situasi seperti ini. Dia menyalahkan dirinya sendiri. Seharusnya dia tidak banyak berharap agar harinya menyenangkan.
"Ayah sebenarnya tidak ingin memberikan izin, Ignacia. Tapi sayangnya uang yang kamu keluarkan tidak akan kembali jika begini jadinya. Ayah perbolehkan pergi, tapi tetap aktifkan ponselmu untuk menjawab panggilan kami," ayah Ignacia menyela. Tatapannya tampak berbeda.
"Tidak masalah. Aku- entahlah. Aku akan berangkat ke stasiun sebentar lagi. Akan kubeli sarapan diluar."
Ignacia menggenggam tali tas selempangnya erat sebelum kembali ke kamar untuk mengambil sepatunya. Dengan langkah cepat menuju pintu depan dan menghilang tanpa mengatakan apapun. Sebaiknya dia cepat pergi sebelum semakin kecewa.
"Seharusnya aku sudah tahu ujungnya. Semuanya tidak pernah sama seperti yang kuinginkan," gumam Ignacia.
Langkahnya yang bersemangat sudah berubah. Dia bahkan sengaja pura-pura tidak mendengarkan teriakan ayahnya yang akan mengantarnya ke stasiun. Lupakan saja.
Ignacia naik bus ke stasiun. Begitu sampai, matanya menatap nanar dan kecewa ke arah bangunan yang menjadi tempat penumpang menunggu kereta.
"Padahal aku sudah membayangkan hari yang menyenangkan. Tapi sepertinya kesempatan itu terlalu mahal untukku."
"Kamu membawa dua tiket, tapi kenapa datang sendirian?"
Ignacia takut, namun mencoba untuk bersuara dan menjawab. Daripada membuat kebingungan. "Saya seharusnya datang dengan seseorang. Tapi saya tetap ingin mendapatkan dua tempat ini, tolong."
Wanita yang berjaga di hadapannya itu menatap aneh, tapi memperbolehkan Ignacia mendapatkan dua kursi yang sudah dipesannya. Toh dia menggunakan uang untuk memiliki dua tempat itu. Wanita ini tidak ada hak untuk menolaknya.
Tiketnya ada dua, jadi Ignacia mendapatkan dua tempat kosong untuk perjalanannya kali ini. Dia beruntung, namun orang-orang menatapnya dengan aneh. Mengira Ignacia sengaja membeli dua tempat agar dapat duduk sendirian. Sungguh Ignacia ingin berteriak kepada semua orang di dalam gerbong dan mengatakan bahwa dia tidak seperti yang mereka pikirkan.
Perjalanannya sekitar satu jam. Lebih beberapa menit mungkin.
Keadaan stasiun pagi hari tidaklah ramai. Padahal ini sudah akhir pekan. Waktu bagi orang-orang untuk berlibur. Apa karena bukan awal liburan? Apa karena orang-orang sudah berada di tempat yang diinginkan dan membiarkan kota asal mereka sepi?
Bagus untuk Ignacia. Dia tidak perlu berdesakan.
...*****...
Toko buku yang akan dia kunjungi sedikit jauh dari stasiun. Jadi harus naik taksi atau bus untuk bisa sampai. Katakan saja akan pergi ke toko buku apa, dan pengemudinya tahu kamu harus turun dimana. Kota ini dikenal dengan kota pelajar, jadi semua orang tahu dimana letak toko buku.
Ignacia naik taksi saja agar tidak perlu bertemu dengan banyak orang. Dilihatnya sekeliling, orang-orang dengan wajah cerah menikmati hari yang tidak begitu panas. Tanpa dia sadari jika air wajahnya sendiri terlalu kentara jika sedang tidak baik-baik saja.
Satu hal yang dapat dilihat Ignacia begitu sampai di depan toko buku yang di maksud. Para penggemar sudah berkumpul, menunggu acaranya dimulai sekitar sepuluh menit lagi. Ignacia meneguhkan hati dan melangkah mendekati antrian terakhir. Tidak ada yang dia kenal, rasanya amat sangat canggung.
"Kamu juga penggemar?" Tapi hanya sampai suara itu datang.
Ada seorang perempuan yang kelihatannya seumuran dengan Ignacia. Perempuan dengan rambut pendek, bermata hitam, dan suaranya terdengar bahagia. "Kamu juga menunggu acara penandatanganan buku di toko buku ini?" Tanya perempuan ini lagi pada Ignacia yang masih canggung.
Ignacia mengangguk sebagai jawaban.
"Wah senang sekali aku bisa bertemu dengan sesama penggemar penulis Cream. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan seseorang yang memiliki selera sama."
Gadis ini terlihat sangat bersinar dengan aura yang sangat bahagia. Ignacia merasa nyaman secara tiba-tiba. Ada seseorang yang mau bicara dengannya.
Gadis itu lanjut berbicara, "omong-omong namaku Tata."
...*****...
"Yang mengantarmu kemarin itu kakakmu, Athira? Ini pertama kalinya aku melihat kakakmu." Seorang teman di samping Athira berbisik. Masih dengan fokusnya pada kanvas ukuran kecil yang ada di hadapannya. "Kalian terlihat mirip. Tapi kakakmu kelihatan memiliki aura yang berbeda."
"Tentu saja, karena kami saudara kandung. Kakakku jarang keluar rumah. Lebih sering membaca novel daripada keluar kamar. Aura apa yang kau maksud?" Bingung Athira kemudian menghentikan aktifitasnya. Dia akan mengganti warna pada kuasya. Dicelupkan pada air hingga bersih.
"Kakakmu memiliki aura berwarna biru. Hah bagaimana aku mengatakannya ya? Kakakmu tampak sedih meskipun bisa kulihat senyuman kecilnya saat menyapaku di rumah kemarin."
"Kakakku memiliki banyak emosi batin, mungkin itu alasannya. Oh hei aku akan membuat warna ungu lain. Dimana warna putihku?" Athira mengedarkan pandangan mencari warna putih yang dicari. Teman-temannya juga ikut mencari.
...*****...
Acaranya berjalan lancar. Si novelis menjelaskan sedikit tentang buku barunya sebelum memulai acara penandatanganan buku secara personal. Giliran Ignacia sebelum teman yang tadi mengajaknya bicara. Kebetulan nomor urutnya berdekatan dengan gadis itu. Jadi dia tidak terlalu canggung.
"Kamu akan langsung pulang setelah ini?" Temannya bertanya. Gadis yang mengenalkan dirinya sebagai Tata tadi.
"Tidak, aku tidak berasal dari kota ini. Jadi aku akan pulang dengan kereta sore. Bagaimana denganmu?"
"Aku ingin bermain-main sebentar. Bagaimana jika berjalan-jalan sebentar, Ignacia? Aku tahu tempat makan yang enak tapi harganya tidak begitu mahal. Aku membaca banyak tentang tempat-tempat bagus di daerah ini."
Kelihatannya Tata adalah tipe orang yang tidak ragu untuk mengajak teman yang baru dikenal pergi dengannya. Yang dia lakukan ini bisa berbahaya jika teman yang di ajaknya memiliki niat yang buruk.
"Tentu. Ayo berjalan-jalan bersama." Ignacia tidak berniat buruk.
"Halo, senang bertemu denganmu. Jadi dengan siapa ini?" Tanya si novelis dengan ramah.
"Ignacia."
"Nama yang unik," puji novelis perempuan di hadapannya dengan senyuman cerah. Mirip dengan senyuman yang selalu datang dari tokoh utama dari salah satu buku kesukaan Ignacia. Rasanya dia bisa melihat senyuman itu secara nyata sekarang.
"Kak, aku sangat menyukai novelmu. Bagaimana kakak melakukan riset untuk setiap bukunya? Aku penasaran berapa halaman buku yang kakak gunakan untuk mencatat semua hasil risetnya. Karenanya semuanya terasa sangat nyata."
Ignacia bicara panjang sambil menunggu bukunya selesai di tandatangani. Bahkan sempat bertemu mata dengan si novelis.
"Kamu orang pertama yang bertanya soal hasil risetku. Terima kasih untuk perhatianmu pada detail kecilnya. Aku tidak yakin berapa lembar yang kugunakan. Pikiranku cukup sibuk dan aku langsung menulis apa yang kudapatkan." Penulis Cream tersenyum lagi. Ignacia ingin terbang rasanya.
"Terima kasih sudah datang. Kamu bisa ambil cindera matanya di sebelah sana," arah si penulis dengan begitu ramahnya. Tidak heran jika para penggemarnya juga ramah pada orang lain. Sifat baik dari idola pasti menurun ke penggemarnya ya kan?
"Mama tidak akan percaya dengan apa yang kulakukan hari ini. Aku berhasil bicara dengan idolaku, mendapat tandatangan, dan cindera mata dari novel terbarunya."
Ignacia kembali duduk di tempatnya sambil menunggu Tata selesai mendapatkan tandatangannya. Dia mengambil ponsel, memotret apa yang dia dapatkan untuk dikirimkan pada sang mama. Ada niatan untuk membagikannya dengan Rajendra juga, tapi laki-laki itu mungkin tidak akan sempat melihatnya karena lelah.
Respon mamanya tentu senang. Bahkan katanya ayahnya tidak percaya jika anak pertamanya bisa sampai dengan selamat dan mendapatkan apa yang dia inginkan. Tapi katanya jangan mengurung diri lagi dikamar setelah mendapatkan tandatangan jauh-jauh ke kota lain ini.
Iya-iya, Ignacia akan mulai bergaul.
Jika ingin.
"Ignacia," Tata berjalan mendengar sambil menunjukkan benda yang sama persis seperti yang didapatkan Ignacia dari si penulis. Wajahnya memerah karena senang.
"Setelah ini kita akan jalan-jalan bersama, kan? Wah hari ini pasti akan menjadi lebih baik." Baru berkenalan, namun rasanya sudah akrab seperti teman lama.
...*****...
"Kau tidak akan menghubungi Ignacia seperti semalam?"
Nesya kebetulan duduk di dekat Rajendra yang sibuk membaca sesuatu di sebuah lembar kertas. Gadis berkacamata itu membuka botol minumannya sendiri dan meneguknya hingga setengah. Sungguh tidak nyaman tenggorokannya setelah berusaha keras berteriak.
"Hari ini Ignacia datang ke acara penandatanganan buku yang kukatakan padanya. Kau tidak bertanya sesuatu padanya?" Lanjut Nesya setelah minum.
"Tanya apa?" Respon Rajendra singkat. Meletakkan kertas yang di bawanya dan membuka botol minumannya sendiri.
"Bertanya bagaimana perjalanannya dan apakah dia baik-baik saja sampai di tujuan. Kau tahu sendiri jika ini adalah pertama kalinya dia keluar kota sendirian. Bahkan pertama kalinya dia keluar rumah sendirian."
Nesya menutup botol minumannya, masih duduk di dekat ketua MPK yang menelan sisa air di dalam mulut perlahan.
"Dia pergi dengan mamanya."
"Jadi Ignacia tidak mengatakannya padamu?" Rajendra menatap bingung. "Ignacia tidak bilang jika mamanya jatuh tengah malam tadi dan kesulitan berjalan?"
...*****...
Ada Mall yang memiliki segalanya di kota ini. Hampir sama seperti mall di kota Ignacia. Tata memilih mall yang ramai dan memiliki segalanya karena juga sedang mencari sesuatu. Mungkin keduanya bisa mendapatkan barang yang diinginkan masing-masing di tempat ini.
"Bagaimana jika makan dahulu? Kita membutuhkan banyak energi untuk memutari tempat ini, Ignacia."
Tempat makan yang mereka lihat pertama kali adalah yang mereka pilih. Mumpung masih sepi, tidak banyak mengantri, dan bisa memilih tempat yang bagus. Keanehan tiba-tiba muncul ketika makanan keduanya datang. Tempat makan itu tiba-tiba menjadi ramai secara mendadak. Tata dan Ignacia melempar pandang dan tiba-tiba terkekeh sendiri.
"Sepertinya kita membawa keberuntungan," bisik Tata sepelan mungkin agar tidak ada yang mendengarkan.
Tapi karena ramainya pengunjung, keduanya tidak bisa memakai meja terlalu lama agar bisa bergantian dengan pengunjung yang lain. Bahkan kesannya seperti buru-buru karena keduanya mendapatkan tatapan dari orang-orang di sekitarnya. Ada saja stereotip dari pengunjung yang datang.
Melewati sebuah toko buku di dalam mall, Ignacia yang pertama melihat buku terbaru novelis kesukaannya terpajang di kacanya. Tata yang melihatnya juga kemudian menoleh pada Ignacia, mengirimkan kode yang sama.
"Kita memiliki sesuatu yang lebih berharga daripada buku yang dipajang itu."
"Tandatangan penulisnya," kompak Tata dan Ignacia berbisik.
Berkeliling ke lantai selanjutnya. Tempat banyak toko baju, sepatu, dan barang-barang mode lainnya berada. Sepanjang mata memandang terlihat para gadis yang sedang berburu pakaian baru untuk acara akhir tahun. Ya tahulah bagaimana orang-orang untuk merayakan akhir tahun.
Akan mendekati ekskavator, ponsel Tata berbunyi. "Ignacia, tunggu sebentar."
Dia mengambil ponsel dari dalam tas, mengambil beberapa langkah menjauhi Ignacia. Sementara itu yang diberikan jarak hanya bisa mengangguk patuh dan benar-benar tidak mencoba untuk mendengarkan.
Tata tidak terlalu lama dalam panggilannya. Setelahnya dia kembali dan menyimpan ponselnya lagi. "Dari kekasihku, dia bertanya apa aku baik-baik saja," ucap Tata memberitahu. Dia orang yang cukup terbuka pada orang baru.
Keduanya akan beralih ke lantai berikutnya menggunakan ekskavator, berdiri bersebelahan tanpa mengatakan apapun.
"Ignacia, kamu punya kekasih?" Tata bertanya.
"Punya," jawab Ignacia singkat.
"Wah benarkah? Laki-laki itu pasti beruntung memiliki kamu. Sudah berapa lama kalian berkencan?"
"Tidak terlalu lama." Ignacia menolak untuk membahas soal kekasihnya lebih lanjut. Merasa tidak nyaman jika ada yang tahu soal Rajendra. Membuatnya ingat jika Rajendra belum mengirimkan pesan setelah obrolan semalam.
"Ignacia, aku melihat camilan enak. Masih ada ruang di dalam perutmu?" Tatapan Tata tampak memberikan kode yang dipahami Ignacia. Gadis bermata coklat di depan Tata itu mengangguk, tersenyum kecil dan mengikuti dengan paruh saat Tata menarik tangannya ke sebuah stand camilan.
"Ignacia," panggil Tata dikala menunggu camilan keduanya siap diambil, "aku ingin bertemu denganmu lagi suatu hari nanti. Entahlah, aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh. Kamu orang yang menarik meskipun tidak banyak bicara. Aku seperti memiliki ketertarikan padamu."
Ignacia tersenyum kecil. Baru pertama kali ini dia mendapatkan kata-kata semacam itu dari orang lain. "Tentu. Ayo bertemu lagi suatu hari nanti, Tata. Terima kasih sudah membantuku hari ini."
Bersamaan dengan itu, sesuatu dari dalam tas Ignacia terasa bergetar. Ignacia membuka tas dan melihat jika layar ponselnya menyala. Sebuah nama muncul disana.