
"Ayah keluar dari kamar kakak? Apa ada sesuatu yang ayah katakan pada kakak? Ayah tidak mungkin membocorkan rencana kita sebelum kakak lulus kan?" Melihat tatapan diam ayahnya, Athira seolah sudah tahu jawabannya. Padahal mereka sudah melakukan banyak pencarian menu makanan untuk mengejutkan Ignacia, malah ayahnya membocorkan rencana.
"Ayah hanya memastikan kakakmu tetap pulang jika hal buruk menimpanya. Sudah, sekarang tidurlah. Jangan ganggu kakakmu. Biar dia bisa bangun pagi." Sang ayah melenggang pergi, masuk ke kamarnya sendiri. Sementara Athira masih berdiri di tempatnya. Urung sudah ia ingin bertanya bagaimana kencan kakaknya dengan sang kekasih.
Ignacia tengah merebahkan diri di kamar begitu ayahnya pergi. Menatap langit-langit berwarna putih yang diterangi oleh lampu utama. Si gadis menarik nafas dalam-dalam, hatinya tiba-tiba merasa tidak tenang. Apa ini efek lain dari salah tingkah? Ignacia rasa tidak. Lebih mirip rasa sesak ketika akan kehilangan sosok Rajendra.
Akibat bersentuhan dengan kasur yang nyaman, lama kelamaan dirinya merasa mengantuk. Anehnya bukannya langsung tertidur, Ignacia justru sulit memejamkan mata. Rencananya akan tidur lebih awal, namun karena reaksi aneh ini, Ignacia tidur satu jam setelah merebahkan diri.
Begitu terlelap, Ignacia mulai menginjakkan kaki di dunia bunga tidur. Disini hanya ada langit putih bersama Padang rumput. Cahaya terang menyelimuti dunia Ignacia, begitu silau hingga pandangannya tidak jelas. Ia mengenakan gaun panjang berwarna coklat. Lengannya mirip dengan gaun yang dipakai putri Belle di dalam film, mengekspos bagian bahu mulus Ignacia. Kemudian terdapat pita besar dengan warna yang sama menutupi seluruh bagian dada. Cantik sekali.
Si gadis mulai melangkah tanpa alas kaki, mencari alasan mengapa dirinya bisa sampai disini. Ia angkat bagian bawah gaun agar tidak terkena noda tanah. Semakin lama melangkah, Ignacia merasa semakin lelah. Kakinya terasa lebih berat. Nafasnya terengah-engah, sudah tidak kuat untuk meneruskan langkah hingga dirinya tersungkur ke rerumputan.
Disaat benar-benar sudah tidak sanggup, Ignacia seperti melihat siluet seseorang bertubuh tinggi. Orang itu berpakaian rapih seolah akan menghadiri sebuah pesta penting. Mirip tuksedo mewah yang biasanya digunakan bintang papan atas untuk menghadiri gala dinner. Perasaannya bilang jika itu Rajendra. Seseorang yang ia pikirkan sebelum tidur. Cepat-cepat ia bangkit, mencoba mengejar bayangan disana.
Bak dalam film fantasi, Ignacia akhirnya mampu kembali bangkit. Dari yang berjalan tertatih-tatih berubah berlari. Semakin dekat, Ignacia dapat melihat dengan jelas siapa yang tengah berdiri disana. Dia merentangkan kedua tangan seolah siap menyambut kedatangan Ignacia.
Ignacia langsung memeluk sosok di hadapannya. Dekapan yang sangat erat, berharap rasa sesak di dadanya hilang. "Akhirnya aku menemukanmu," ucap si gadis. Ia rasakan tangan Rajendra membelai lembut surat panjang yang ia biarkan tergerai. Ignacia juga merasa jika kepala Rajendra berada di atas miliknya, membuat dekapan paling lembut dan hangat.
"Kamu cantik sekali mengenakan gaun itu," puji Rajendra. Suaranya terdengar dalam dan manis. Membuat Ignacia tersipu hingga memilih untuk menyembunyikan wajahnya di dada bidang laki-laki kesayangannya. "Aku minta maaf ya. Aku sangat minta maaf," suara Rajendra lagi.
Dalam seperkian detik berikutnya, hujan tiba-tiba turun sangat deras. Sesuatu seolah mencoba untuk menjauhkan Ignacia dari sang laki-laki. Ketika ia membuka mata, sosok yang baru ia peluk tiba-tiba sudah tiada. Cahaya terang di sekitar berubah mendung, gelap. Sekarang Ignacia ada di dunia apa? Bajunya tetap sama, apa Ignacia masih ada di dunia tadi?
"Rajendra!" panggil Ignacia setengah putus aja. Kegelapan di sekitar terasa sangat mengancam. Ditambah dengan hujan yang tidak bisa ia lihat wujudnya. Kini gaun Ignacia sudah basah kuyup, terasa berat ketika ia mencoba berjalan. Di panggilnya terus nama kekasihnya. Berjalan kesana kemari mencari keberadaannya.
Di sebuah titik, Ignacia merasa kakinya mulai terendam air. Dirinya berdiri di samping sebuah telaga berisi air yang jauh lebih gelap. Si gadis terpeleset, masuk ke dalam telaga itu. Tidak ada daya baginya untuk naik ke permukaan. Gelap semakin membuat Ignacia ketakutan. Jantungnya berdetak semakin lemah. Nafasnya habis.
Ignacia terbangun, matanya terbuka lebar-lebar. Dahinya dipenuhi keringat dingin. Jantungnya berdetak kencang seolah akan keluar dari tempatnya. Dadanya terasa amat sesak, nafasnya terengah-engah seperti dalam mimpi. Ignacia mengepalkan tangannya, dia letakkan di dada sebagai upaya untuk menenangkan diri.
Kenapa Ignacia mendapatkan mimpi aneh itu? Apa karena ia memikirkan hal negatif sebelum tidur?
Waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Kenapa mimpi itu harus datang ketika dirinya seharusnya tidur lebih lama? Dan yang semakin membuat sebal, mimpi kehilangan itu tidak bisa Ignacia lupakan setelah terbangun. Saat akan kembali tidur pun Ignacia seolah masih bisa merasakan tubuh Rajendra yang menghilang. Mimpi tadi muncul karena kecemasan belaka kan? Pasti.
Ignacia turun dari tempat tidurnya, berniat mengambil air di dapur. Tenggorokannya terasa kering setelah bangun dengan emosi tak terkendali. Beruntung dirinya tidak membuat keributan hingga membangunkan orang-orang yang tengah tertidur dengan damai.
Di dapur, Ignacia ingin duduk lebih lama. Matanya menatap kebun diluar lama. Berharap jantungnya berhenti menari-nari. Apa sebaiknya Ignacia menceritakan soal mimpinya pada Rajendra? Untuk melihat reaksi apa yang akan ia dapatkan. Dan bagaimana laki-lakinya menenangkan Ignacia yang tidak nyaman.
Ignacia bingung harus mengajak Rajendra bertemu bagaimana. Ia tidak punya rencana akan pergi kemana dan harus melakukan apa. Apa Rajendra bisa diajak bertemu tanpa rencana? Mungkin hanya pergi keluar sebentar sambil makan es krim. Ignacia ingin cepat-cepat pergi ke kamarnya, mengambil ponsel untuk menghubungi sang kekasih.
Si gadis mengetikkan pesannya di dalam kamar, membiarkan pintunya terbuka sedikit. Nantinya ia ingin mengambil segelas air lagi sebelum kembali tidur. Setelah pesan untuk sang kekasih terkirim, Ignacia kemudian bangkit kembali untuk melakukan niatnya tadi. Ketika kembali, ia terkejut karena mendapati layar ponselnya menyala sekali. Tanda sebuah notifikasi pesan datang.
Betapa terkejutnya Ignacia ketika seseorang yang baru ia kirimi pesan membalas. Katanya ia bersedia jika itu demi sang kekasih. Rajendra mana menolak jika kekasihnya ingin bertemu. Berhubung besok ia juga tidak memiliki rencana, Rajendra juga ingin mengajak Ignacia makan siang.
Ignacia bertanya kenapa Rajendra terbangun di waktu yang belum bisa dikatakan pagi ini. Alasannya sederhana. Ada panggilan alam yang menuntut tubuh Rajendra untuk terjaga dan segera menuntaskannya. Kebetulan sekali ketika itu Rajendra mendengar suara notifikasi dari ponsel miliknya. Laki-laki itu sama terkejutnya dengan Ignacia yang mengirimkan pesan padanya.
Beruntung sekali Ignacia bisa langsung mendapatkan jawaban positif. Nanti siang keduanya akan bertemu lagi. Padahal baru kemarin keduanya mengabiskan malam bersama. Sekarang sudah akan bertemu lagi. Ah mimpi itu membuat Ignacia tidak bisa melepas Rajendra barang sehari.
Di waktu pertemuan, Ignacia ragu untuk memeluk kekasihnya. Takut jika mimpinya kembali dan membuatnya gemetar. Dari spion, Rajendra beberapa kali melirik ke arah belakang. Melihat dengan jelas tangan Ignacia yang disimpan di atas paha. Ignacia biasanya tidak akan melewatkan kesempatan untuk memeluk kekasihnya, lantas kenapa dia menahan diri sekarang?
Sambil menunggu pesanan keduanya datang, Rajendra memulai obrolan, "Kenapa semalam kamu terbangun? Kamu belum memberitahu aku apa yang terjadi. Apa ada sesuatu yang terjadi?" Ia condongkan tubuh pada gadis di hadapannya, memberikan seluruh perhatian malah.
Ignacia memainkan tangannya di atas paha, mimpinya terlalu konyol untuk bisa diceritakan dan mendasari rasa khawatir yang masih ia rasakan. Rajendra membuka suara lagi, bertanya dengan nada yang lebih lembut. "Ignacia, kenapa kamu terlihat gugup? Apa ada masalah? Kamu bisa menceritakan semuanya padaku. Kamu kenapa?"
Lupakan saja soal logika. Si gadis mendongak, menatap Rajendra yang sudah siap untuk mendengarkan ceritanya. Mulai bercerita soal keberadaannya di tempat terang dan berakhir di telaga hitam pekat. Sama sekali tidak ada niat menginterupsi cerita di sisi Rajendra. Laki-laki itu fokus, serius mendengarkan tanpa ada senyuman yang tertahan.
"Mungkin kedengarannya konyol, aku khawatir kamu menghilang secara tiba-tiba. Sebelum tidur, aku sempat merasakan sesak, mungkin karena itu mimpinya datang. Rajendra, kita tidak akan berpisah kan?" Si gadis tampak mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri, berharap Rajendra akan mengangguk mengiyakan.
"Kenapa kamu merasa sesak? Kamu butuh dokter? Kita bisa pergi memeriksa kesehatan kamu sekarang." Ignacia menggeleng, bukan penyakit fisik yang mengganggunya semalam. Ia menjelaskan jika sesak itu datang ketika hatinya merasa sangat lelah dan putus asa. Entah keputusasaan apa yang membuat Ignacia sedih setelah kencan.
Aneh sekali tubuh perempuan satu ini. Sesak tanpa alasan padahal baru selesai berkencan. Ignacia terlalu banyak khawatir dan berpikir yang tidak-tidak. Kasihan Rajendra yang harus datang jauh-jauh membawanya pergi berkencan hanya karena mimpi menyeramkan gadisnya semalam.
"Kamu tidak perlu khawatir, Ignacia. Seperti yang kamu katakan sebelumnya, hubungan kita tidak akan selesai dengan mudah. Kamu pasti ketakutan karena mimpi buruk. Kamu bisa saja menelfon dan membuatku menemani kamu sebelum kembali tidur. Maaf karena aku tidak tahu lebih awal." Bagaimana Rajendra bisa tahu jika Ignacia saja tidak memberitahu. Ignacia hanya bilang jika dia ingin bertemu.
Selama beberapa menit bertatapan tanpa mengatakan apapun dengan sang kekasih, sesuatu di dalam hati Ignacia mulai bergerak kembali. Ada sesuatu di dalam tatapan Rajendra yang tidak bisa Ignacia mengerti. Ada masalah apa lagi sekarang? Ignacia, apa yang salah denganmu? Tidakkah merasa khawatir itu melelahkan? Kesalnya pada diri sendiri.
Rajendra bilang jika Ignacia membutuhkan sesuatu, ia bisa langsung dihubungi. Mungkin tidak akan langsung membalas di beberapa waktu, tapi Rajendra mengusahakan diri agar bisa hadir dan menghibur kekasihnya ini agar tidak merasakan sesak yang tadi ia sebutkan.
Ignacia sudah puas dengan hanya melihat Rajendra yang tidak menertawakan mimpi anehnya. Kini di tambah dengan Rajendra yang mampu hadir, bagaimana Ignacia tidak bisa semakin bahagia di dalam hubungan ini? Pasti ini balasan kesabaran Ignacia selama ditinggalkan sendirian.
"Apa karena mimpi itu kamu tidak memelukku tadi? Ya biasanya kamu akan memelukku jika kita berkendara." Anggukan kecil Ignacia berikan sebagai jawaban. Terdengar konyol tingkahnya dari apa yang Rajendra katakan. "Tidak apa-apa, mimpi itu tidak akan jadi kenyataan. Kecuali ada hal mendesak."
"Mendesak?"
"Ya seperti urusan kuliah dan pekerjaan. Sebelum sibuk, akan kusahakan untuk mengirimkan pesan. Jadi itu tidak bisa disebut menghilang kan?" Rajendra tersenyum tipis, mengetahui bagaimana Ignacia takut kehilangan seseorang hingga terbawa mimpi membuatnya menyadari sesuatu. Semoga hal-hal buruk yang gadisnya mimpikan benar-benar tidak terjadi.
Sebelum membawa Ignacia pulang, Rajendra ingin menghabiskan waktu lebih lama. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan pada kekasihnya juga. Si gadis dibawa ke alun-alun kota, tempat keduanya bisa lebih nyaman untuk mengobrol. Jika berada di tempat makan seperti restoran atau kafe, Rajendra takut membuat udara di sekitarnya berubah canggung.
Keduanya berjalan-jalan sambil bergandengan tangan menelusuri bagian alun-alun yang sudah diperbaharui. Mengobrol sambil berjalan santai di tempat yang jarang orang karena hari ini bukan hari libur. Matahari yang tidak begitu panas akibat payung awan membuat tempat ini terasa berbeda.
Soal pendidikan dan pekerjaannya. Rajendra di tuntut untuk lebih fokus pada keduanya agar bisa mencapai apa yang ia cita-citakan. Menyiapkan masa depan secerah mungkin, tambahnya. Meskipun fokus, Rajendra akan berusaha untuk memberikan kabar dan pesan teks yang bisa membuat Ignacia tidak merasa kesepian.
Ignacia tidak akan protes jika itu untuk masa depan kekasihnya. Ketika mulai mengerjakan skripsi dan tuntutan kuliah lain, Ignacia juga akan sangat sibuk agar bisa lulus tepat waktu. Anggap saja sebagai jeda untuk menyiapkan masa depan juga. Ia menurut ketika Rajendra bilang hanya bisa mengirimkan pesan. Katanya agar Ignacia bisa melihatnya berulang kali.
"Dan Ignacia... kurasa kita tidak bisa bertemu tahun depan. Aku punya proyek besar dan aku kemungkinan besar memiliki waktu liburan yang berbeda denganmu." Yang satu ini Ignacia kurang setuju, ingin protes tapi tidak tahu untuk apa. Kalau begitu mereka bertemu saat Rajendra pulang saja, balas si gadis cepat.
Rajendra tidak bisa, belum mampu membuat keputusan. Nanti jika ia mendapatkan hari libur, sebisa mungkin ia akan menemui Ignacia. Berkencan, makan, dan berjalan-jalan seperti yang biasa mereka lakukan. "Oh ya jika kamu wisuda, hubungi aku. Jika aku punya alibi yang kuat, aku bisa datang."
Ignacia menghentikan langkahnya, membuat seseorang yang ia gandeng juga berhenti. "Kamu akan sibuk di tahun depan saja? Di tahun terakhir kuliah? Setelahnya aku tidak apa-apa menemuimu kan?" Mata Ignacia tampak berbinar menunggu jawaban yang diinginkan.
Butuh beberapa waktu hingga Rajendra akhirnya memberikan jawaban. Harapan dan kenyataan bisa tidak sejalan dengan apa yang ia cita-citakan di masa depan. Baik untuknya dan untuk Ignacia. "Entahlah, kuharap begitu." Disana Rajendra menangkap dengan jelas perubahan air wajah kekasihnya.
"Ah, begitu ya?" Lirih Ignacia putus asa.