
"Ini temanku, Danita dan ini Ibunya dan ini-" Ignacia tidak berani melanjutkan ucapannya. Takut Bahri menolak untuk dikenalkan. Apalagi terlihat jika kedua orang tuanya temannya ini tidak mampu mengenali dirinya. Bertahun-tahun berlalu tanpa mereka bisa saling bertemu. Banyak perubahan terjadi pada Bahri.
Danita dengan bangga mengatakan bahwa laki-laki yang berdiri di sampingnya ini adalah kekasihnya. Bahri akhirnya berjabat tangan dengan kedua orang tua Ignacia seolah memang baru pertama kali bertemu. Bahri bahkan sudah mengucapkan namanya namun masih belum diingat oleh mantan tetangganya.
Mama Ignacia berjabat tangan dengan wanita yang umurnya mirip dengan beliau, berkenalan dengan ramah saling lempar senyum. Sementara ayah Ignacia nampak agak canggung. Mungkin karena bertemu dengan seorang ibu yang justru datang dengan pacar anaknya alih-alih suami.
Danita balik mengenalkan Ignacia pada sang ibu. Katanya Ignacia adalah teman yang selalu Danita ceritakan pada ibunya. Tetangga asrama yang baik dan teman kampus yang menyenangkan katanya. Ignacia jadi malu jika dipuji begitu. Apalagi Bahri yang mendengarnya seolah tersenyum mengejek.
Selanjutnya Nesya yang dikenalkan. Raut wajah Bahri yang semua tengah mengejek langsung berubah ketika mendengar teman kekasihnya ini belum pernah berkencan. Mungkin terdengar wajar, hanya saja Bahri agak terkejut. Teman pendiam seperti Ignacia saja sudah memiliki kekasih, sedangkan temannya tidak.
Lucu rasanya melihat teman anaknya ini tengah menjelaskan banyak pada ibunya ini. Mama Ignacia tersenyum lama mendengar Danita. Anak yang manis dan pandai bicara. Kelihatannya dia juga dekat dengan orang tuanya. Sayang ayahnya tidak bisa datang ke acara wisudanya.
Wajah dan suara wanita ini seperti dikenal oleh sang ayah, mirip dengan seseorang yang membuatnya takut Ignacia memiliki kekasih. Tapi bagaimana bisa dunia sesempit ini? Dunia tidak sedang membuat dirinya mengingat masa lalu yang seharusnya hanya diingat untuk pembelajaran kan? Mungkin ingatannya salah, pikir laki-laki yang di panggil ayah oleh Ignacia ini.
Bukan hanya si suami yang berpikiran demikian, istrinya juga, mama Ignacia merasakan sesuatu yang aneh. Ingatannya tidak setajam dahulu namun rasanya pernah bertemu dengan ibu dari teman anaknya ini. Genggaman tangan yang ia rasakan tampak mirip dengan wanita yang pernah ia temukan sangat kacau untuk pertama kalinya.
Daripada terus menebak-nebak, mama Ignacia bertanya tentang asal dan beberapa hal lain yang dirasa tidak sensitif. Obrolan ringan yang bisa menambah relasi pertemanan dan semacamnya. Pikiran bercabang tidak bisa dihindari, sebanyak apapun mereka berbagi informasi perasaan kembali ke masa lalu selalu datang silih berganti.
Sudah dibuat bingung dengan perasaan aneh sekarang malah dikenalkan dengan laki-laki yang tidak dikenal. Perasaan ayah Ignacia semakin bercabang. Siapa anak laki-laki yang dikenalkan dengan sebutan laki-laki baik ini? Anaknya tampak senang mendapatkan buket bunga darinya dan begitu berani dibawa ke hadapan ayahnya.
Pikiran pria yang lebih tua ini seakan menolak bertemu dengan laki-laki yang diperkenalkan oleh si anak sulung. Hatinya belum siap mengetahui jika Rajendra ini orang yang dicintai putrinya. Bertahun-tahun dia jaga agar Ignacia tidak berkencan dan memiliki laki-laki yang lebih ia sayangi. Apa sudah waktunya untuk menerima anggota keluarga baru?
Memang masih dalam tahap perkenalan sekarang, entah siapa yang tahu apa Rajendra ini akan serius dengan putrinya lalu membawa serta orang tuanya untuk bertemu. Si ayah tidak bisa seramah istrinya. Mungkin karena belum terbiasa. Ignacia sudah dewasa, wajar jika jatuh cinta.
Rajendra ini tidak terlihat mengancam, sikapnya sopan, ramah, dan terlihat tulus kala bertatapan dengan Ignacia. Tidakkah hari ini datang terlalu cepat? Ayahnya ini bahkan belum membuat Ignacia sangat bahagia menjadi anggota keluarga ini. Belum bisa membuat Ignacia tidak menangis diam-diam.
Ignacia menyimpan ponselnya ke dalam tas setelah diminta oleh ayahnya. Ia langsung mengambil sendok miliknya untuk memakan suapan pertama. Ayahnya jelas melihat senyuman Ignacia ketika membuka foto yang katanya dikirim oleh Nesya. Siapa yang bisa membuat anaknya tersenyum tadi? Rajendra lagi? Laki-laki baik itu?
Acara makan masih belum selesai disana. Sebelum pulang ayahnya ingin agar semua anggota keluarga menuntaskan panggilan alam agar selama perjalanan pulang yang panjang nanti tidak harus berhenti di pom bensin atau minimarket. Agar bisa cepat sampai di rumah dan beristirahat.
Ignacia pergi lebih dahulu sebelum keluarganya selesai makan. Perutnya pasti sudah lapar hingga bisa makan dengan cepat. Karenanya ia tetap di meja selagi yang lainnya pergi ke toilet. Ayahnya juga menyelesaikan makan lebih dahulu, berakhir duduk berdua dengan anak perempuannya ini.
Gadis di hadapannya masih sibuk bermain ponsel, mungkin melihat-lihat foto. Lagi-lagi ada senyuman yang muncul entah karena melihat apa. "Dimana kalian bertemu? Rajendra itu berkuliah dimana? Rumahnya ada di kota ini?" Beberapa pertanyaan langsung meluncur sempurna dari bibir sang ayah. Seakan menyerang Ignacia hingga terdiam.
Ignacia tidak akan berbohong pada ayahnya jika mereka bertemu dari kelas dua SMP. Tanpa membawa fakta bahwa keduanya berkencan setelah beberapa Minggu saling mengenal. Soal Rajendra berkuliah dimana Ignacia jawab setahu dia. Universitas mana ia tidak tahu kadang Rajendra juga tidak mengatakannya. Ignacia tidak ingin tahu selain dari Rajendra sendiri sebenarnya, jadi tidak mengecek data sekolah.
Untuk dimana Rajendra tinggal, pasti bisa terjawab dari fakta bahwa keduanya bertemu semasa SMP. Rumahnya dekat dengan sekolah menengah pertama dan menengah atas. Anggap saja salah satu rumah di daerah sana. Ignacia cukup terkejut melihat ayahnya yang tidak marah, ayahnya sudah bisa mengerti soal kehidupan pribadi Ignacia?
"Anak itu memperlakukan kamu dengan baik?" Pertanyaan ini semakin membuat Ignacia membeku. Saat menjawab pertanyaan tadi saja Ignacia sekaan tidak bisa menggerakkan anggota badan lain selain mulut. "Anak itu tidak pernah mengecewakan kamu, Ignacia? Bagaimana sikapnya padamu?"
"Dia anak yang baik, berprestasi juga, kecewa pada manusia itu wajar. Tapi bukan kecewa yang hampir membuatku berhenti untuk berhubungan baik dengannya." Kemampuan Ignacia untuk mengatasi kegugupan rasanya mulai berkembang. Dengan nada acuh Ignacia tadi menjelaskan seolah memang bukan masalah besar. Ayahnya mungkin hanya ingin tahu.
Ayahnya manggut-manggut saja, mengalihkan perhatian dengan bermain ponsel. Pikiran pria ini semakin bercabang jadi lebih baik dialihkan dengan kegiatan lain. Mungkin melihat media sosial atau pesan-pesan yang masuk dari beberapa teman dan kerabat dekat.
Selang beberapa lama, keluarga ini kembali berkumpul di meja. Sang supir masih ingin menikmati waktu istirahat, berikan waktu dua puluh menit katanya. Ignacia gunakan saja waktu yang tersisa sebelum pulang untuk menghubungi seseorang. Meksipun tidak menatap secara langsung, sang ayah bisa melihat putrinya beranjak dari kursi. Mendekatkan ponselnpada telinga.
Si ayah tidak bisa memberikan jawaban. Perasaan familier yang ia rasakan tidak punya bukti apapun untuk membenarkan atau menyanggah ungkapan istrinya. Dirinya juga sedang tertarik dengan kegiatan si anak perempuan diluar restoran itu. Senyuman dan tawa yang tampak kala berbincang dengan ponselnya itu tampak memuakkan.
Mama Ignacia bukannya tidak menyadari tatapan yang suaminya arahnya pada anak sulungnya sejak tadi. Ungkapan tadi pun sebenarnya untuk mengalihkan pandangannya. "Ignacia sekarang sudah dewasa. Untuk pertama kalinya ia mengenalkan seseorang pada kita. Rasa penasaran ayah sekarang sudah berakhir kan? Itu laki-laki baik versi Ignacia."
Rasa penasaran berakhir, tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Hanya saja sekarang rasa khawatir yang muncul. Laki-laki tadi benar-benar bersikap baik kan? Laki-laki itu sudah menemani Ignacia berapa lama? Ignacia tidak mudah bergaul dan tadi ia tampak dekat dengan Rajendra. Lebih dekat dari hubungan anaknya dengan kedua temannya tadi malah.
Kurang lebih mereka mengobrol selama sepuluh menit. Ignacia bertanya apakah Rajendra sudah hampir sampai dengan stasiun tempat tujuan dan apakah mereka bisa bertemu lagi dalam waktu dekat. Bertemu sekilas dengan Rajendra membuat rasa rindunya semakin menggebu-gebu. Meskipun pertemuan lainnya hanya akan membuat Ignacia semakin rindu.
Ignacia juga memberitahu Rajendra soal rencananya dengan teman-temannya akhir pekan ini. Memastikan kekasihnya tidak mengajak bertemu di hari itu. Rajendra bingung akan mengajak Ignacia melakukan apa jika bertemu dalam waktu dekat, si gadis juga sama bingungnya. Tidak ada salahnya pergi berkencan untuk makan es krim. Seperti ciri khas pacaran keduanya. Yang penting mereka bertemu.
"Akan aku hubungi jika sudah mendapatkan hari libur. Kamu tidak keberatan kan?" Rajendra harus segera bersiap-siap untuk turun. Sebentar lagi ia sampai di kota tempatnya tinggal selama ini. Kembali ke perantauan dengan seribu kesibukan hingga jarang pulang.
"Mana mungkin aku keberatan. Hati-hati di jalan, Rajendra." Panggilan berakhir, Ignacia menjauhkan ponsel dari teling sambil berjalan masuk ke restoran. Disana ayahnya langsung mengalihkan pandangan agar tidak ketahuan memata-matai. Akhirnya panggilan yang entah dari siapa itu berakhir.
...*****...
"Ibu, bagaimana makanannya?" Danita memastikan ibunya menyukai menu yang ia pesankan. "Apa Ibu menyukainya? Kudengar makanan ini cukup populer di restoran ini, jadi aku ingin mencobanya dengan Ibu." Beberapa lauk terpisah Danita letakkan di piring ibunya, kode agar wanita di hadapannya mencoba yang lainnya.
Bahri tersenyum senang melihat kehangatan keluarga kecil di sampingnya ini. Wanita yang sangat Bahri hormati ini akhirnya bisa terlihat lebih bernyawa. Tatapan mata sendu dan bibir datar kala menatap Danita sudah tidak terlihat lagi. "Tante harus makan yang banyak. Danita sudah menabung banyak uang untuk membelikan semua makanan yang Tante inginkan."
Wanita itu semakin melebarkan senyumnya, bergerak menggenggam tangan anak perempuannya lembut. Melihat Danita berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana saja sudah membuatnya sangat bangga. Apalagi melihat putrinya kini seakan sudah sembuh dari trauma. Benar-benar beruntung mereka bisa bertemu dengan Bahri.
Danita yang dahulu pemurung dan sulit di ajak bicara kini sudah kembali ke sikap aslinya. Pandai bergaul dan mudah bersosialisasi, bahkan berhasil mengenalkan sang ibu pada teman dan orangtua mereka. Ibunya berkata jika makanan ini saja sudah lebih dari cukup, enak, tidak perlu membelikan apapun lagi. Seharusnya ibunya yang menjamu anaknya karena sedang wisuda, bukan sebaliknya.
Anaknya tentu tidak setuju. Menganggap dirinya sudah dewasa dan sepantasnya membuat orang tuanya bahagia dan tidak merasa sendiri. Dia bahkan berjanji untuk mencari pekerjaan yang dekat dengan rumah agar bisa menemani ibunya. Setelah mendapatkan yang yang cukup, Danita ingin pindah dari tempat yang membawa trauma terburuknya itu. Pergi ke rumah yang aman dari hewan buas.
Ibunya menyerkitkan dahi bingung, apa Danita bis meninggalkan Bahri di rumah lamanya hanya untuk menjauhi tempat penuh kesengsaraan itu? Ibunya tidak yakin jika si gadis mampir berjauhan dengan Bahri. Secara bahkan berkuliah saja Bahri merelakan diri untuk mencari jurusan yang ia inginkan di kota pilihan Danita. Mereka tidak mungkin bisa dipisahkan.
"Omong-omong, orang tua temanmu yang bernama Ignacia itu tampak tidak asing. Apa kita bertemu sebelumnya?" Topik berbeda yang dibawa tiba-tiba menghentikan aktivitas Danita untuk minum. Bibirnya yang akan bersentuhan dengan pinggiran gelas jadi urung.
Melihat dari jarak rumah, tidak mungkin mereka pernah bertemu. Rumah mereka terlalu jauh dari Ignacia. Bahkan jika tidak sengaja bertemu saja rasanya tidak mungkin. Danita tidak begitu yakin, perasaan aneh yang selalu ia rasakan setiap bersama dengan Ignacia terasa lebih kuat setelah bertemu dengan orang tua gadis itu.
"Mungkin Tante hanya merasa Dejavu. Orang-orang biasa merasakan itu padahal belum pernah berada di keadaan atau waktu yang tengah berjalan," Bahri menyahut setelah sedari tadi menyimak pembicaraan. "Tante tidak perlu khawatir, itu semua normal."
Wanita di seberang meja mengangguk paham, mungkin yang dikatakan Bahri itu benar. Mana mungkin mereka bisa bertemu dengan jarak sejauh itu. Kejadian waktu itu juga sudah bertahun-tahun yang lalu. Waktunya tepat sekali untuk melupakan wajah orang-orang yang membantu mereka. Ingatan ibu Danita sedikit tidak karuan.
Jika diingat-ingat, mereka yang membantu Danita di malam mengerikan itu masih muda, kemungkinan besar mereka seumuran dengan dirinya saat ini. Wajah orang tua Ignacia seolah mengisyaratkan sesuatu. Tatapan mata si ayah seolah membawa ingatan masa lalu. Sementara si ibu punya suara yang mirip dengan wanita muda waktu itu.
"Ibu, jangan memikirkan hal yang sulit. Lebih baik kita menikmati waktu yang sudah ada. Tidak perlu melihat sesuatu yang jauh ke belakang." Kini tangan Danita yang berada di atas tangan ibunya. Ibu jarinya perlahan mengelus tangan milik sang ibu, menyalurkan emosi positif.
Danita tidak akan menyangkal jika perasaan ingin melindungi Ignacia semakin kuat di acara perkenalan orang tua tadi. Namun juga tidak percaya jika sebelumnya kedua keluarga ini pernah bertemu. Jika begitu baik Ignacia maupun Danita pasti bisa mengingatnya. Ingatan anak-anak selalu lebih kuat jika menyangkut momen penting.
"Bagaimana jika kita pesan makanan penutup juga?" Bahri menginterupsi, mengusir emosi aneh di meja. Danita mengangguk, makanan manis dan dingin pasti bisa membantu perasaan bimbang. "Kalau begitu biarkan aku yang memesan. Tante dan kamu tunggu disini ya."