
Bahri menunggu dengan antusias. Siapa yang tidak suka berlibur bersama orang yang disukai? Meksipun nantinya dia harus bertemu dengan laki-laki beralis tebal yang pernah menuduhnya dahulu. Waktu sudah lama berlalu namun perasaan tidak nyaman masih membekas diingatan. Untuk mengalihkannya, Bahri mengecek barang bawaan di bagasi sambil menunggu yang lain datang.
Di sampingnya, Danita mengirimkan pesan pada Ignacia juga Nesya. Memastikan keduanya tidak terlambat agar perjalanan hari ini berlangsung lebih lama. Dia duduk di samping barang-barang yang dicek oleh kekasihnya. Matanya terus fokus pada ponsel ketika temannya mulai mengetik. Nesya bilang dirinya akan sampai lima menit lagi. Tak berselang lama Ignacia pun membalas jika dirinya hampir sampai.
"Kamu masih tidak nyaman karena ada Rajendra?" Danita iseng bertanya. Ia simpan ponselnya ke dalam tas kecil lalu menatap Bahri. Laki-laki itu tampak terkejut. "Aku asal menebak saja. Terakhir kali kita bertemu dengan Rajendra, kamu tampak tidak nyaman. Apa kalian pernah bertemu sebelum itu atau yang lainnya? Kalian tampak aneh."
Bahri tidak mungkin berkata jujur dengan berdalih jika dia bukannya merasa tidak nyaman saat ini. Dia hanya ingin memastikan semua yang ia siapkan ini sesuai. Tidak ada barang tidak berguna yang terbawa dan barang penting yang tertinggal. "Aku hanya memikirkan soal kita sekarang, jangan berpikiran macam-macam."
Danita mengangguk paham saja, meskipun dirinya masih merasa ada yang janggal. Entah bagaimana kemampuannya untuk merasakan aura dan hawa yang dikeluarkan seseorang seakan semakin berkembang. Atau mungkin ini yang disebut insting saja. Ia sandarkan tubuh pada sandaran kursi belakang mobil, menatap langit yang sudah terang.
Sesuai janji, kedua temannya datang di waktu yang hampir bersamaan. Ignacia dan Rajendra datang lebih dulu lalu di belakangnya muncul Nesya bersama Farhan. Ignacia langsung menghampiri Danita tanpa menunggu Rajendra turun dari taksi. Begitu pula Nesya. Mereka seakan lupa jika tadi datang dengan seseorang.
Rajendra tersenyum kecil, menyusul langkah gadisnya mendekat ke arah mobil yang terparkir di tepi jalan itu. Ketiga gadis disana saling menyapa dengan wajah bahagia, membiarkan para pria menyapa tanpa emosi. Rajendra seperti langsung menyadari wajah yang digadang-gadang sebagai kekasih Nesya. Rupanya Rajendra juga seakan menyadari sesuatu. Beberapa kali Ignacia melirik Rajendra, mencoba untuk menyalurkan pikiran.
"Akhirnya kita bisa bertemu juga," Danita tersenyum bahagia, menggandeng tangan kedua temannya dengan tangan hangat. Energinya semakin terpancar sempurna. "Wah lihatlah kalian membawa banyak barang. Terima kasih, semuanya. Rajendra, Farhan, terima kasih."
Yang disebut namanya mengangguk ringan, membantu Bahri memasukkan barang ke bagasi. Biarkan para gadis ini bercengkrama. Selanjutnya Farhan duduk di belakang dengan Rajendra sementara Ignacia juga Nesya di tengah. Bahri dan Danita tidak mungkin dipisahkan di depan sana.
Danita menceritakan cerita menarik begitu kendaraan yang ia sewa bersama-sama ini melaju. Danita menghubungi Kak Riris, hanya iseng saja mengabari. Rupa-rupanya mereka beberapa kali berkirim pesan dengan Danita atau Kak Riris yang memulai. Dari belakang, Rajendra menyentuh pundak kekasihnya, bertanya siapa Kak Riris yang disebutkan.
"Kak Riris orang yang menyenangkan, jadi aku senang bisa mengobrol dengannya beberapa kali," jelas Danita.
Dalam perjalanan, ketiga gadis ini saling bertukar cerita. Meskipun berada di tempat kerja yang sama, Ignacia dan Nesya masih punya cerita untuk disampaikan. Mereka mengisi kekosongan bersama dengan penyiar radio yang tengah didengarkan Bahri. Di belakang, Rajendra berkenalan dengan teman barunya. Farhan yang memulai dengan bertanya apakah yang ada di sampingnya ini benar Rajendra SMA.
Ignacia ikut mendengarkan pembicaraan di belakang punggungnya meskipun kini Nesya sedang berbicara. Farhan tidak mengungkap bahwa dirinya adalah mantan dari teman baik Rajendra di masa lalu. Rajendra juga tidak seharusnya tahu. Pembicaraan mereka berubah membahas perkuliahan dan rencana masa depan, Ignacia sebaiknya berhenti mendengarkan diam-diam.
Perjalanan berlangsung lebih lama karena tidak berasal dari kota perantauan. Sekitar dua jam lebih lama. Nanti mereka akan beristirahat jika Bahri sudah merasa lelah. "Mau aku ambilkan permen?" Danita menawari kekasihnya. Ia oper sebungkus permen rasa buah kepada mereka yang duduk di belakang setelah mengambil beberapa untuknya.
Di belakang, Ignacia membuka bungkusan permen di tangannya lalu beralih pada ponsel di dalam tas kecilnya. Ada sebuah email masuk, dari seseorang yang ingin menggunakan jasanya. "Apa soal urusan Proofreader?" Nesya bertanya. Temannya tampak serius membaca sesuatu di layar ponselnya.
"Ya, ada yang memintaku mengecek naskahnya."
"Bukankah seharusnya kamu memberikan hari libur pada dirimu sendiri? Apa keperluannya mendadak? Jika tidak, kita nikmati dulu liburan ini." Rajendra mendekatkan tubuhnya ke depan, memberikan masukan pada gadis di hadapannya. Ucapannya benar, Ignacia setuju. "Letakkan dulu ponselmu, kita nikmati perjalanannya."
Hari ini memang seharusnya menjadi hari libur untuk Ignacia. Ia sudah memberikan tanda tutup pada media sosialnya kemarin malam, dan seharusnya tidak ada yang menghubungi. Ignacia akan membalas ini nanti untuk urusan lebih lanjut. Liburan ini tidak bisa terulang untuk kedua kalinya. "Ya, aku akan menyimpannya. Lihat?"
Perhatian semua orang lalu teralihkan pada fakta soal jalanan macet yang diberitakan oleh penyiar radio. Katanya ada kecelakaan di tol yang akan mereka lewati untuk sampai di kota perantauan. Sebuah truk menabrak pembatas jalan dan menutupi sebagian jalan. Mobil besar masih belum bisa datang untuk menyingkirkan truk itu karena jalanan yang padat merambat.
Sayang sekali jika mereka harus terjebak macet. Jika menggunakan jalan lain, ada titik yang biasanya selalu dipadati oleh kendaraan. Apalagi jika ada di hari libur panjang seperti sekarang. Semua orang butuh liburan ke tempat yang menenangkan seperti pantai. "Kita gunakan jalan lain saja daripada mendapatkan macet di tol." Buru-buru Bahri melajukan mobil ke arah lain. Menjauhi bibir tol yang masih terasa sepi.
Meskipun sedikit memiliki hambatan, setidaknya kemacetan ini tidak sepanjang jalan tol. Danita terus memeriksa kemacetan di sekitar, sebentar lagi mereka akan bisa merasakan mobil yang melaju dengan bebas lagi. Setelah sekitar empat jam perjalanan, Bahri ingin istirahat sebentar. Dari arah belakang, Rajendra mengajukan diri untuk mengambil alih kemudi. Setelah mereka beristirahat sebentar, tentu saja.
Pintu mobil dibuka, penumpang di dalam langsung keluar satu persatu guna merenggangkan diri. Perjalanan di depan masih sekitar satu setengah jam lagi. Semua orang sudah terlanjur lelah, Bahri tidak ingin berhenti sebelum benar-benar lelah. Sekarang kaki dan tangannya kram sebab mengemudi.
Danita membeli minuman dingin di area peristirahatan untuk teman-temannya terutama Bahri. Mereka sudah mengambil masing-masing sebotol minuman juga camilan dari bagasi. Mereka tidak akan bisa membawa apa-apa jika mereka mengambil barang dari sana lagi. Ignacia mengikuti dari belakang tanpa mengatakan apapun. Ingin membantu Danita yang juga sama kelelahannya.
"Setelah ini kamu dan Rajendra yang duduk di depan. Biar aku di belakang nanti." Ignacia mengangguki ucapan temannya dengan posisinya yang berjongkok untuk meraih beberapa air mineral di bagian bawah pendingin. "Omong-omong aku senang kita bisa berlibur bersama. Jauh dari kota dan pekerjaan. Oh ya, bagaimana pelangganmu tadi?"
Ignacia baru ingat jika dirinya punya pelanggan. Danita mendahului pergi ke kasir sementara dirinya berdiri di depan pendingin. Ignacia memutuskan untuk memeriksa naskah yang sudah masuk sesuai waktu yang ditentukan bersama dengan si pelanggan. Untuk sementara ia tidak akan bekerja dan hanya meluangkan waktu untuk Rajendra juga teman-temannya.
Sebelum langkahnya mengikuti Danita yang sudah mengantri, Ignacia melihat kekasihnya menelfon seseorang di belakang mobil. Teman-teman lain berada di pelataran minimarket, duduk-duduk sambil berbincang tanpa Rajendra. Lagi-lagi laki-laki itu tersenyum bahagia. Dengan siapa dia berbicara? Apakah ibunya?
Danita duduk di sebelah kekasihnya, memberikan minuman dingin yang sudah ia buka tutupnya. Disana Bahri tersenyum kecil, "Seharusnya aku yang melakukan hal keren itu padamu, Tata. Kenapa malah sebaliknya?" Gadis di sampingnya hanya mengangkat bahu lalu membuka minuman untuk dirinya sendiri. Danita hanya ingin melayani Bahri yang sudah kelelahan saja.
Ignacia membagi air dingin pada yang lain lalu mengambil dua botol lain untuk dirinya dengan si kekasih. Sayangnya panggilan sudah akan ditutup ketika Ignacia sampai. "Siapa yang menelepon? Apa Ibu sudah merindukan kamu?" Salah satu botol yang dibawa Ignacia diambil oleh kekasihnya, ia bukakan tutupnya padahal Ignacia tentu bisa melakukannya sendiri.
"Kenalanku," Rajendra menjawab singkat. Gadisnya dibawa ke pintu mobil yang belum ia tutup. "Duduklah, kamu pasti lelah. Setelah ini aku akan tampak keren dengan mengemudi mobil." Rajendra sengaja membuat lelucon agar kekasihnya tidak merasa terluka setelah pertanyaan tadi ia jawab dengan singkat. Air wajah Ignacia tidak pernah bisa berbohong.
Si gadis tersenyum tipis, diteguknya air dingin miliknya tanpa mengatakan apapun. Dia mungkin bisa lelah karena terus melihat kekasihnya bersikap keren. "Kamu tidak lelah? Kakimu panjang, pasti rasanya tidak nyaman duduk di belakang." Rajendra merasa lebih baik jika berdiri alih-alih duduk. Katanya ia lelah duduk.
Jika Rajendra bisa melihat air wajah kekasihnya, berbeda dengan Ignacia yang tidak bisa menebak kenalan mana yang menghubungi Rajendra hingga kekasihnya tersenyum. Apakah teman laki-lakinya? Jika begitu kenapa disebut kenalan? Lalu apakah ada perempuan yang ia kenal? Kenapa harus tersenyum dan menelpon di hari libur?
Tidak mungkin ibunya, Rajendra tidak akan menyebut orang tuanya dengan sebutan tadi. Tatapan Ignacia terur tertuju pada kekasihnya yang berjongkok sebentar untuk meneguk airnya. Bahkan sorot matanya masih mengikuti arah gerak Rajendra yang kemabki berdiri bersandar pada bagian mobil sebelah Ignacia. Rajendra tampak bahagia namun tidak sepenuhnya bahagia. "Ada yang membebani kamu?"
Sontak kekasihnya menoleh cepat, "Membebani apa? Kita sedang liburan, mana mungkin aku merasa terbebani." Rajendra sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya pada wajah Ignacia. "Aku sudah bilang jika aku akan menggunakan waktu sebaik mungkin bersamamu, Ignacia. Mana mungkin aku merasa tertekan atau apapun. Aku malah bahagia."
Mata Ignacia mungkin salah. Senyuman Rajendra menunjukkan perasaan positif. Sebaiknya Ignacia mulai melupakan soal penelpon tadi dan hanya fokus untuk berlibur. Begitu semua orang tidak kelelahan, perjalanan kembali dilanjutkan. Rajendra membukakan pintu untuk kekasihnya disertai senyuman manis. Hatinya benar-benar bahagia rupanya.
Tidak ada yang bisa mengalihkan perhatian Ignacia dari laki-laki yang duduk di sampingnya. Rajendra menolak ketika Ignacia menawarkan diri untuk membacakan peta. "Kamu terima jadi saja, biar aku yang mengemudi dan melihat peta." Selain tampan dan keren, Rajendra juga membuat Ignacia semakin jatuh cinta.
"Aku juga tidak ingin kamu menatap ponsel alih-alih pemandangan sekitar. Jalanan disini bagus dengan banyak pepohonan dan udaranya juga segar. Kamu nikmati saja seperti mereka yang di belakang." Jendela mobil terbuka lebar. Semua orang bisa menghirup udara segar diluar tanpa takut ada ya polusi. Tidak banyak kendaraan yang ada meskipun musim liburan.
Rajendra juga menambahkan jika Ignacia berhak mendapatkan liburan dan hasil yang sempurna setelah mendapatkan dua pekerjaan sekaligus. Katanya Rajendra bangga dan ingin berganti melayani Ignacia selama liburan berlangsung. Hanya dengan Rajendra berada di sekitarnya saja Ignacia sudah bahagia. Tanpa harus melakukan apapun, bersama Rajendra rasanya sudah seperti liburan.
Sebentar lagi sampai. Para pendatang baru ini dapat melihat sekitar air laut dari balik perbukitan sebelah pantai. Di depan sana, sebuah penginapan dengan pemandangan pantai yang menakjubkan akan membawa keenam teman ini bersantai selama tiga hari dua malam. Memang hanya sebentar, jadi harus dinikmati sebisa mungkin.
"Tidak cukup menikmati dua hari disini. Kita harus mendapatkan setidaknya dua Matahari terbenam," ucap Danita atas perubahan jadwal menginap mereka Minggu lalu. Dia benar, Ignacia dan Nesya setuju sekali.
Matahari masih bersinar di atas sana, memberikan kesempatan pada Nesya untuk memotret pemandangan sekitar dengan kemera miliknya. Di belakang, Farhan diam-diam mengambil beberapa foto dan video gadisnya yang tengah mengoperasikan benda wajibnya ketika berlibur. Danita yang melihatnya hanya bisa tersenyum kecil dan melirik Bahri.
Rajendra berhasil membawa mereka ke depan penginapan dengan aman. Mereka akan menurunkan barang-barang sebelum mobilnya diparkiran dengan benar. "Ignacia, apa kamu bisa membawa semuanya? Jika tidak, tunggu saja aku. Nanti akan aku bantu membawanya."
Ignacia menetap di tempatnya dengan barang miliknya dan Rajendra bukan karena tawaran dari kekasihnya barusan. Ignacia hanya ingin masuk dengan Rajendra ke dalam agar sama seperti teman yang lainnya. Ignacia bisa membawa barang-barangnya sendiri. Langkah Rajendra berhenti di tengah-tengah sebelum berhasil mendatangi Ignacia. Seseorang menelpon kekasihnya lagi.
"Siapa orang yang tega menganggu liburan kekasihku?" Ignacia bergumam. Dengan jarak sekitar tiga meter, Ignacia hanya bisa mendengar samar-samar pembicaraan mereka. "Semoga tidak ada yang menganggu kami besok. Aku sangat membutuhkan momen ini agar merasa diperhatikan."
Sorot mata Ignacia yang tadinya berbinar kini berubah sendu. Rasa khawatir menyelimuti diri. Ignacia berharap tidak ada panggilan yang mengharuskan Rajendra untuk meninggalkan dirinya seperti tahun-tahun sebelumnya.