Beautiful Monster

Beautiful Monster
Agak Menyebalkan



...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


^^^Aku sudah sampai di stasiun |^^^


^^^Sebentar lagi keretanya datang |^^^


| Hati-hati di jalan, Ignacia


| Tetap awasi sekitar, oke?


| Setelah kamu sampai di stasiun


| Jangan lupa untuk menghubungi aku


^^^Baiklah, aku mengerti |^^^


^^^Akan aku hubungi lagi nanti |^^^


^^^Keretanya sudah datang |^^^


| Baiklah aku tunggu kabarmu nanti


Ignacia cepat-cepat menyimpan ponselnya ke dalam tas, segera mengambil posisi sebelum keretanya berhenti sempurna. Hari ini stasiun cukup ramai, Ignacia sebaiknya lebih cepat mencari tempat duduknya sebelum lebih banyak orang masuk. Berdesakan ketika malam hari bukan sesuatu yang disukai semua orang, benar?


Si gadis akhirnya bisa bernafas lega ketika bangku yang ada di sekitar tempat dirinya harus berada masih kosong. Harap-harap tidak ada yang mengisi. Ignacia terlalu malas berada di dekat seseorang yang tidak ia kenal. Perasannya tengah berbunga-bunga, bahagia, sebaiknya tidak ada orang yang tanpa sengaja merusaknya.


Sebelum kereta berjalan, Ignacia merogoh kantong, mengeluarkan airpods bluetooth miliknya untuk mendengarkan musik. Kali ini Ignacia akan mendengarkan musik yang pernah membuatnya tanpa sengaja bertemu dengan Rajendra setelah acara penandatanganan buku. Sudah lama namun Ignacia masih mengingat perasaan anehnya waktu itu dengan sangat jelas.


Mungkin dengan mendengarkan lagu itu sekali lagi bisa membuat Ignacia lebih mudah bertemu dengan Rajendra. Kereta mulai berjalan, bersamaan dengan dimulainya lagu dari StayC. "Apa aku sebaiknya memutar lagu ini di akhir agar bekerja lebih baik? Ah akan aku dengarkannya lagi sebelum sampai nanti," bisik si gadis pada dirinya sendiri.


Seperti tokoh dalam film, Ignacia meletakkan ponselnya di atas pangkuan, tangan ia gunakan untuk menyangga kepala agar matanya bisa terus menatap keluar jendela. Ditambah dengan musik latar yang hanya bisa ia dengar sendiri membuatnya merasa sangat keren. Langit sudah gelap, pemandangan diluar tidak dapat dilihat dengan jelas kecuali memiliki pencahayaan.


Ignacia menghembuskan nafasnya pelan, padahal lagu yang ia dengarkan bukanlah lagu sedih yang bisa menyayat hati. Ignacia masih tetap berada pada posisinya hingga beberapa lagu bergantian ia dengar. Omong-omong Ignacia baru menyadari kosongnya bangku yang ada di sekitarnya setelah melewati beberapa stasiun. Sedari tadi tidak ada orang di sampingnya.


Masih ada dua stasiun lagi, Ignacia harus bersiap-siap mendengarkan lagu Beautiful Monster. Dengan senyuman yang tertahan, Ignacia mencoba untuk menetralkan air wajahnya. Orang-orang bisa salah paham jika melihat seorang gadis asing berjalan dengan senyuman yang terus mengembang. Juga energi bahagia ini lebih baik disimpan agar tidak kelelahan.


Ignacia melihat kembali barang-barang yang sempat ia keluarkan. Sebentar lagi dia akan sampai di stasiun tujuan. Kini hanya lagu Beautiful Monster yang akan menemani Ignacia sampai bertemu dengan sang kekasih. Begitu semua barang bawaannya sudah disimpan dengan baik, barulah Ignacia bangkit mendekati pintu keluar.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


^^^Rajendra, aku sudah sampai di stasiun |^^^


^^^Sekarang aku akan menunggu bus |^^^


^^^Aku akan sampai di restoran sebentar lagi |^^^


Tidak ada balasan dari sang kekasih, laki-laki beralis tebal itu pasti masih sibuk bekerja. Ignacia sudah datang lebih lambat dari sebelumnya, jadi hanya perlu menunggu Rajendra menyelesaikan pekerjaannya satu jam kedepan. Penantian Ignacia jadi lebih singkat dari sebelumnya.


"Ya, aku tahu, yeah, kau adalah monster yang cantik,"


"Kau menyakitiku dan kemudian kau menyembuhkanku,"


"Ya, aku tahu, ya, kau adalah monster yang cantik,"


"Love is ooh-ooh, love is ooh-ooh,"


Mulut gadis berambut panjang ini beberapa kali melantunkan lagu yang didengarnya dengan suara kecil. Tangannya menggenggam tas selempang di atas paha sementara kakinya terus berayun karena kursi haltenya tengah kosong. Bus yang akan datang akan terlihat seperti hanya menjemput Ignacia jika masih tidak ada yang naik dari halte ini.


Sepuluh menit berlalu, pesan balasan dari Rajendra belum juga muncul. Bus yang gadis itu tunggu juga masih belum datang. Waktu berjalan begitu lamban padahal hanya sepuluh menit. Lima menit setelahnya, barulah transportasi umum yang ditunggu-tunggu sudah datang. Dan kebetulan tidak ada yang naik dari halte tempat Ignacia duduk.


Bus jadi lenggang sebab beberapa orang turun sebelum bus kembali berjalan. Ignacia memilih kursi yang dekat dengan pintu keluar. Bus berhenti di halte selanjutnya, disana ada banyak orang yang naik tanpa ada yang turun. Bus yang awalnya lenggang berubah ramai seperti akan pergi study tour. Tidak masalah, perjalanan Ignacia akan segera berakhir.


Perjalanan Ignacia malam ini agak terganggu dengan adanya lampu merah. Sejujurnya Ignacia bukannya takut terlambat karena jam kerja Rajendra juga belum berakhir. Ignacia agak tidak nyaman dengan keberadaan bayi yang ada di sampingnya. Sejak tadi dia menangis dan ibunya agak kewalahan.


Kasihan wanita muda yang kelihatannya baru menjadi ibu itu, namun di sisi lain Ignacia tidak menyukai kebisingannya. Belum lagi beberapa anak SMA yang berdiri di hadapannya sambil berpegangan pada tiang bus. Mereka mengobrol dan tertawa cukup keras. Rasa-rasanya Ignacia ingin mendorong mereka agar tertawa di tempat lain.


Bus ini berbeda dengan bus yang pernah Ignacia naiki terakhir kali. Posisi tempat duduknya berhadapan antara pengumpan di bagian kanan dan kiri bus. Seharusnya Ignacia mencari bus lain saja agar tidak ada yang berdiri di hadapannya. Entah mengapa pembicaraan soal teman mereka sangat menarik hingga tertawa begitu. Ignacia yang mendengarkan jadi lelah.


"Oh, maaf!" Perhatian beberapa orang teralihkan oleh seruan wanita di samping Ignacia. Susu formula yang akan dia berikan pada sang anak terjatuh tanpa sengaja. Bukan karena kelalaian sang ibu, melainkan anaknya yang akan diberi makan. Tangannya menolak hingga akhirnya Ignacia yang terkena imbasnya.


Jika dilihat-lihat, tutup botolnya pasti ditutup kurang rapat hingga isinya bisa tumpah. Buru-buru Ignacia bangkit, susu formula hangat itu berhasil membuat pleated skirt berwarna putih panjang yang ia pakai berbau. Padahal Ignacia sangat ingin menunjukkan gabungan warna olive dan putih pada Rajendra.


Dua anak SMA yang berdiri tepat di depan Ignacia juga sama terkejutnya. Mereka cepat-cepat memberikan tissue, sama seperti yang dilakukan oleh ibu muda di samping Ignacia. Meksipun menyebalkan, tiga orang di sekitarnya cukup membantu. Ibu si bayi terus meminta maaf, dua gadis lainnya terus mengeluarkan tissue. Ignacia tidak bisa berkata-kata, sibuk mengurus roknya.


Begitu bus berhenti di halte yang dituju Ignacia, langsung saja dia bangkit. Sebelum sempat turun, dua anak SMA tadi memberikan beberapa lembar tissue lagi. Ignacia berterima kasih pada mereka lalu segera pergi. Ah sekarang rasanya lengket sekali. Bagaimana Ignacia bisa menunjukkan diri di depan Rajendra jika begini.


Keadaan di kereta tadi sudah bagus meskipun berdesakan, sementara di tranportasi umum lain Ignacia malah tertimpa kesialan. Apa lagu yang sedari tadi ia putar mulai membawa pengaruh negatif alih-alih seperti yang Ignacia harapkan? Dia bahkan belum menemui Rajendra sama sekali.


Belum habis dengan bau susu, sekarang muncul noda. Ignacia harus merendam rok ini dan memberikan beberapa bahan tambahan untuk menghilangkan noda ini. "Seharusnya hari ini menjadi hari yang baik. Kenapa malah ada banyak cobaan yang datang? Ah bagaimana aku akan mengatakannya pada Rajendra? Aku tidak membawa pakaian lagi."


Apa Ignacia harus membeli rok dahulu agar Rajendra tidak tahu? Tapi apakah tidak terlalu terlambat? Ignacia tidak menghafal rute lain selain cara untuk pergi ke restoran tempat Rajendra bekerja. Seingatnya juga tidak.ada mall di sepanjang jalan untuk pergi kesana. Dalam waktu kurang dari satu jam, apakah Ignacia dapat pergi berbelanja sebentar?


Banyak pertanyaan dan rencana muncul tanpa henti, menyerang kepala Ignacia yang pusing. Ignacia membutuhkan makanan untuk berpikir. Rajendra ingin keduanya makan bersama sebelum pergi ke stasiun. Sebelum sampai di tempat Rajendra, Ignacia menyempatkan diri untuk datang ke minimarket membeli susu, lumayan untuk mengganjal perut.


"Padahal aku sudah makan camilan tadi." Danita memberikan makanan ringan pada Ignacia sebelum berangkat ke stasiun tadi. Perut Ignacia cepat terasa kosong karena menahan amarah pada ibu muda tadi. Iya Ignacia tahu merawat anak tidaklah muda. Tapi kenapa harus dirinya yang terkena imbas? Menyebalkan.


Dengan banyak pertimbangan, akhirnya Ignacia memutuskan untuk langsung menemui Rajendra begitu jam pulang si laki-laki sudah dekat. Dirinya duduk sebentar di depan minimarket untuk menikmati sekotak susu rasa vanila. Gadis berambut panjang ini melepas airpods miliknya lalu disimpan ke dalam tas. Ignacia tidak lagi membutuhkan mantra untuk menemui Rajendra.


Si gadis menatap jalanan padat di hadapannya. Beberapa orang berlalu lalang, menuju suatu tempat dengan air wajah dominan datar dan bahagia. Mereka semua memakai baju beraroma wangi dan bukannya susu. Sepertinya hanya Ignacia yang berbau susu formula. Hingga ketika mengantri tadi ada ibu-ibu di hadapannya yang kebingungan darimana asal bau yang ia hirup.


Ignacia membuang kotak susu yang telah kosong ke tempat sampah sebelum menemui Rajendra. Siapa sangka jika Ignacia menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengabiskan sekolah susu berukuran sedang. Suasana hatinya tengah kacau, pasti itu alasannya. Sesuatu yang buruk sepertinya akan kembali membuat Ignacia kesal.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Aku sudah selesai bekerja


| Kamu sudah sampai dimana?


| Aku bisa menemui kamu


^^^Aku hampir sampai |^^^


^^^Tunggu sebentar |^^^


Ignacia menggenggam ponselnya kuat, dibawanya berlari agar segera sampai. Lupakan soal orang-orang yang menatapnya karena mencoba untuk berlari di trotoar. Ignacia sudah tidak peduli dengan apapun. Di ujung jalan sana, Ignacia akan menemui Rajendra yang akan segera meninggalkan restoran.


Belum sampai di pintu restoran, langkah Ignacia berhenti begitu mendapati seseorang tengah mengobrol dengan seorang perempuan yang Ignacia ingat dengan jelas. Perempuan itu teman Kemala, gadis yang tinggal di depan rumah Rajendra ketika mereka berada di kelas dua belas.


"Kenapa aku harus melihat mereka mengobrol akrab begitu? Tidakkah ketumpahan sisi formula saja sudah cukup?" Ignacia enggan semakin mendekat. Enggan menganggu keakraban dua orang yang menjadi tetangga selama tiga tahun terakhir. Apa sebaiknya Ignacia mengirimkan pesan saja?


"Kau sudah sampai." Suara muncul dari arah belakang. Ignacia buru-buru menoleh, seseorang sudah berdiri di sebelahnya dalam waktu singkat. "Kenapa tidak masuk dan menemui Rajendra? Dia sudah menunggumu sejak tadi. Kau tahu, dia tersenyum sepanjang hari karena akan bertemu denganmu."


Jikalau ucapan Bagas itu benar, seharusnya Rajendra tidak mengobrol lama dengan perempuan itu kan? Bagas menegur gadis di sebelahnya sekali lagi, ucapannya barusan seolah tidak didengar karena Ignacia hanya diam membeku. "Langsung rangkul saja Rajendra agar gadis itu pergi," usul Bagas berbisik.


Kedengarannya saran dari Bagas akan bekerja. Dengan begitu Ignacia bisa sekalian mengadu soal rok berbau susu ini. Ignacia meninggalkan tempat Bagas tanpa mengatakan apapun. Sementara yang ditinggalkan itu hanya menatap Ignacia sambil melipat tangan di depan dada. Bagas berlalu bersama tas yang sudah ia pakai di punggung. Waktunya membiarkan kedua temannya berkencan.


Suara pintu yang dibuat Ignacia berhasil membuat dua orang di dalam restoran itu menoleh. Baik Rajendra maupun Feby keduanya menyunggingkan senyum pada Ignacia, menyambut kedatangan dia yang baru datang itu dengan ramah. Ignacia langsung berlari kecil ke arah Rajendra, menggelayut pada lengan sang kekasih.


"Siapa perempuan ini? Temanmu?"


Ignacia belum pernah bertemu dengan Feby sebelumnya. Ia hanya mendapatkan informasi dari Kemala tanpa berkenalan. Mensnehar pertanyaan yang diajukan Ignacia, Feby pun langsung mengulurkan tangan niat berjabat tangan. Untungnya dia tahu jika Ignacia adalah kekasih Rajendra hingga tak butuh waktu lama untuknya meninggalkan restoran.


"Senang bertemu denganmu, Ignacia. Aku pamit, Sarah sebaiknya segera beristirahat. Sampai jumpa, Ignacia, Rajendra." Sesuatu tampak mengganjal dari ungkapan Feby sebelum pergi. Sarah yang ia sebutkan tadi adalah Sarah yang satu kelas dengan Rananta?


Begitu Feby meninggalkan restoran, Rajendra langsung menarik tangan Ignacia ke dalam dekapannya. "Aku khawatir karena kamu belum sampai. Kenapa kamu lama sekali? Aku sudah sangat merindukanmu." Apa Ignacia yakin laki-laki yang memeluknya ini benar-benar Rajendra?


Meskipun begitu Ignacia tetap membalas pelukan kekasihnya tak kalah hangat. Inilah alasan kenapa ia menggunakan lagu Beautiful Monster sebagai mantra sebelum bertemu dengan Rajendra. Harapannya untuk langsung menemui Rajendra mungkin tidak berhasil, namun setidaknya ia bisa memeluk kekasihnya setelah lama tak jumpa.


Rajendra izin sebentar untuk mengambil tas yang ia letakkan di dapur. Tak lupa dengan alat pembersih meja ia bawa untuk diletakkan pada tempat seharusnya. Kesempatan itu Ignacia pergunakan untuk memperhatikan sebuah mobil yang terparkir di depan restoran. Di dalam sana terlihat keberadaan seorang wanita yang menyandarkan kepalanya pada kaca mobil.


Jika Sarah ada disana, Rajendra tadi menemuinya juga? Baguslah takdir tidak menguji kesabaran Ignacia lebih dalam lagi dengan menyaksikan dua gadis mengobrol seru dengan kekasihnya. Setelah mobil itu pergi, Rajendra keluar dari dapur dengan tas miliknya. "Ayo kita pergi makan. Kamu pasti sudah lapar," ajak laki-laki itu sambil menggandeng tangan Ignacia.


Rajendra bilang jika seorang temannya masih ada di dalam hingga pintunya tidak perlu dikunci. Ignacia sebaiknya menghentikan Rajendra sebelum keduanya meninggalkan restoran. "Rokku terkena tumpahan susu formula. Aku ingin berganti pakaian sebelum kita pergi makan."


Laki-laki ini pasti terlalu merindukan wajah Ignacia hingga tidak menyadari kehadiran noda yang di maksud kekasihnya ini. "Kita makan di mall saja kalau begitu. Agar kamu bisa mencari rok baru dan segera makan."