Beautiful Monster

Beautiful Monster
Reuni Kecil



Ayah Ignacia terus menawarkan diri untuk mengantar. Tidak tahu kenapa keinginan untuk mengantar anak perempuannya ini tiba-tiba muncul. Hari masih belum siang, jalanan kota ini selalu aman meskipun tengah malam karena keramaiannya. Banyak kendaraan umum yang beroperasi setelah pengecekan yang luar biasa ketat, tidak ada yang perlu di khawatirkan.


Ignacia tidak ingin merepotkan ayahnya. Beberapa hari lalu ayahnya sudah mengemudi jauh untuk datang ke acara wisudanya. Biarkan pria itu beristirahat di akhir pekan. Ayahnya sudah tidak muda lagi, seharusnya Ignacia bisa menggantikan ayahnya membawa mobil jika saja diizinkan. Ayahnya tidak pernah memberikan tanda-tanda ingin Ignacia pandai mengendarai mobil selama ini.


Jika tidak bisa mengantar, ayahnya ingin mengingatkan agar anaknya berhati-hati di jalan. Nanti jika Ignacia ingin di jemput, ayahnya bersedia. Kebetulan hari ini tidak ada rencana apa-apa dan nanti malam libur bekerja. Sikap ayahnya semakin aneh sejak bertemu dengan Rajendra. Apa yang ayahnya khawatirkan?


Di jalan, Utari menanyakan keberadaan Ignacia. Dikihat dari pesannya yang tidak biasa, gadis ini mungkin punya cerita yang ingin dia bagikan. Selama ini Ignacia belum dengar soal perkembangan Utari dengan laki-laki yang disukainya. Ignacia sudah hampir sampai, Utari kabarnya sudah menunggu di temoat janjian. Baru ada Utari saja.


Beberapa waktu setelahnya Ignacia sampai di depan sebuah bangunan keren yang cukup megah. Dengan mengusung desain ala restoran eropa. Tampak depannya saja sudah bagus, bagaimana dengan isinya? Satu kata yang bisa mendeskripsikan semuanya adalah luxury, mewah. Berbagai fasilitas yang tersedia dapat memanjakan siapapun yang berkunjung. Mulai dari berbagai area yang bisa dijadikan untuk spot foto, tempat duduk yang empuk dan nyaman, pendingin udara, internet gratis, dan colokan listrik yang terjangkau jaraknya.


Saat akan menelusuri kafe--mencari tempat yang sudah dipesan Rananta, Maharani muncul. Menepuk punggung temannya yang baru melaksanakan wisuda beberapa waktu lalu.


Tak lama kemudian Dianti dan Aruna datang. Ketiganya mengucapkan selamat dan maaf karena tidak bisa datang.


Tidak masalah, lagipula Ignacia tidak bisa menganggu teman-temannya yang sibuk melakukan kegiatan di kota lain. Kebetulan mereka semua ada urusan yang tidak bisa ditinggal. Jadi hanya beberapa ucapan selamat saja yang datang ke ponsel Ignacia seharian. Semuanya dari teman-teman dekatnya ini.


"Katanya ada yang mengenalkan pacarnya pada sang ayah. Kau berani sekali." Dianti menyenggol pelan lengan Ignacia dengan tubuhnya. Dianti akui temannya ini cukup berani. Setelah berkencan cukup lama akhirnya Rajendra dikenalkan pada ayah Ignacia. Mungkin setelah ini akan ada yang menyebar undangan. Secara temannya sudah memasuki usia yang cukup.


Sementara itu di sampingnya, Aruna dan Maharani terkejut. Temannya sudah sangat berani. Akhirnya hubungan temannya ini sudah mendapatkan restu. Dianti pasti mendapatkan informasi ini dari ibu Rajendra. Anak itu tidak mungkin mendatangi Ignacia tanpa meminta izin. Ignacia penasaran bagaimana reaksi orang tua Rajendra setelah tahu berita ini.


Di tengah obrolan, Utari muncul dengan wajah cerah dari arah lain. Tampaknya ia sudah menemukan tempat yang disewa Rananta. "Kenapa kalian ada disini? Kalian tidak akan masuk?" Karena terlalu asik membicarakan Rajendra, keempat teman ini tidak sadar jika sedang berdiri di dekat pintu.


Si gadis bermata bulat yang baru muncul ini membawa keempat temannya ke area yang berkonsep mirip rumah kaca. Atapnya menggunakan kaca, tembus pandang, langit biru jadi tampak jelas di siang hari. Dan ketika malam, bulan dan bintang-bintang. Ada beberapa tanaman hijau di dalam sana hingga suasananya asri dan menyegarkan. Di tengah-tengah ruangan yang luas terdapat air mancur berwarna putih keruh.


Tidak perlu banyak alasan untuk tidak menyewa meja di kafe ini. Jika isinya saja sudah sebagus ini, Rananta pasti tidak akan berpikir dua kali. Di pojok ruangan tersedia meja panjang dengan sepuluh kursi yang ditata rapi. Terdapat tulisan reservasi, pasti itu tempatnya. Di samping tempat itu juga terdapat tanaman hias yang diletakkan di sebuah dinding. Di bawahnya diletakkan rerumputan untuk menambah suasana alam. Lalu di bagian atas ada beberapa tanaman gantung juga.


"Rananta selalu bisa menemukan tempat bagus. Aku heran bagaimana dia bisa menemukan tempat ini di kota kita." Aruna memotret beberapa sudut sebelum mengikuti teman-teman masuk. Area ini cukup ramai. Meja panjang disana pasti akan ditempati seseorang juga tidak disewa.


Utari sudah selesai memanjangkan mata sebelum teman-temannya datang. Jadi yang ia lakukan sekarang adalah menculik Ignacia sebentar untuk di ajak bercerita. Ada meja di ruangan lain yang masih kosong. Tidak di reservasi hingga bisa dipinjam keduanya sebentar sambil menunggu yang lainnya datang.


Tempat itu masih berhawa eropa khas. Mirip-mirip ruangan yang ada di film detektif dengan penuh benda-benda kuno abad pertengahan. Lemari kayu yang tampak berat di sisi ruangan, meja besar di samping sebuah meja dan kursi untuk pengunjung, lalu beberapa surat kabar dan telfon yang tampak tua.


Langkah gadis yang menyeret Ignacia ini tampak ringan, pasti ada berita bagus yang ingin di sampaikan. Ilham putus dengan pacarnya kemarin, katanya. Mata Utari tampak berbinar cerah. Dia pasti kembali menumbuhkan harap pada Ilham. Laki-laki itu muncul kembali ke dunia game lalu mengirimkan pesan pada Utari ketika tidak sengaja menjadi partner untuk naik level.


"Katanya mereka merasa kurang cocok. Ada prinsip yang tidak bisa mereka paksakan untuk bergabung, jadi lebih baik berpisah agar tidak saling menyakiti." Pandangan Utari tidak lagi pada Ignacia, ada rasa bersalah karena menyampaikan berita buruk orang lain dengan riang. Meksipun itu semua bukanlah salahnya.


Utari juga sudah tidak ada niat untuk berkencan dengan Ilham. Berteman dengan laki-laki itu saja rasanya sudah menyenangkan. Di saat-saat terakhir sebelum wisuda, Utari berharap ia bisa berfoto dengan Ilham sebagai kenang-kenangan. Ada kabar jika dia juga berhasil menyelesaikan studinya tahun ini.


Kabar yang Utari bawakan ini tidak tahu burukkah atau baik. Dia hanya senang teman bermainnya bisa menghubungi lagi setelah lama tidak saling kontak. Ilham juga mengaku senang bisa bermain lagi tanpa merasa bersalah. Tipe orang yang sangat menjaga perasaan pasangannya sekali.


"Lantas sekarang bagaimana hubungan kalian? Kalian akan berteman saja?" Ignacia bertanya.


Anggukan kecil Utari berikan sebagai jawaban. Ada perasaan takut akan komitmen. Hati seseorang bisa berubah seketika, seperti yang dialami Ilham dengan mantan kekasihnya. Mereka putus baik-baik jadi tidak ada perasaan sakit hati. Mereka sama-sama mengerti meskipun Ilham bilang dia agak merindukan sosok gadisnya.


Utari tidak ingin tiba-tiba ditinggalkan karena ada sesuatu darinya yang tidak cocok bagi Ilham. Pilihan untuk mengakhiri hubungan ketika sedang jatuh cinta bukan perkara gampang. Utari sudah menyukai Ilham sejak lama, mengamati, dan begitu terpesona dengan kebaikannya. Sekarang tugasnya hanya menahan diri agar tidak jatuh ke lubang yang salah.


"Hei, bukan meja ini yang kupesan." Rananta muncul, meletakkan tangan di bahu Utari menatap ke arah kedua temannya. Tidak tahu jika kedua temannya ini tengah mengobrol. "Yang lainnya sudah datang, kalian bergabunglah dengan kami. Kita berfoto-foto sebentar."


Selain tempatnya yang keren dan memiliki pemandangan cantik, menu-menu yang tersedia juga variatif dan istimewa. Sebagian besar merupakan menu western, namun juga ada makanan dari Asia beserta minuman yang beraneka ragam. Rananta sudah duduk di tempatnya, menyisakan dua kursi untuk kedua temannya yang baru bergabung.


Satu persatu mulai memesan, berbagai camilan dan minuman dingin bergantian selagi para gadis mengobrol. Yang pertama mereka lakukan adalah mengucapkan selamat untuk wisuda Ignacia dan ada yang memberikan buket bunga juga. Kemala, Rananta, dan Indri. Tiga buket tadi anggap saja dari kesembilan temannya. Kasihan Ignacia jika membawa sembilan sekaligus.


Ignacia adalah anggota pertama yang sudah diwisuda dan berhasil lulus tepat waktu. Teman-teman lainnya ada yang wisuda di pertengahan tahun dan akhir. Pertemanan mereka sungguh luar biasa hingga bis wisuda di tahun yang sama. Ignacia ingin mendatangi semua wisuda teman-temannya, membawakan buket bunga dan berfoto di akhir acara.


"Rajendra datang ke wisudamu kemarin?" Widia meletakkan tangannya di atas meja sebagai penopang dagu, seperti biasa matanya yang khas membuat tatapannya begitu mengundang tawa. Dianti langsung menyahut jika Rajendra bahkan dikenalkan pada ayah Ignacia. Seluruh keluarga Ignacia kini mengenal sosok laki-laki bertubuh tinggi itu.


Bagi mereka yang belum mendengar soal ini sontak menutup mulut, teman pemalu nan pendiamnya berhasil membawa Rajendra selangkah lebih dekat dengan hubungan serius. Maharani yang ada di samping teman berambut panjang tergerainya asik memakan camilannya tanpa mengikuti tren sekitar. Dia sudah mendengar itu tadi.


Aruna mengusik tangan teman berkacamatanya--Maharani agar ikut menutup mulut. Bahkan berbisik-bisik agar temannya itu mau mengikuti. Sekitar lebih dari 10 detik mereka seolah menahan nafas. Memangnya apa yang mengejutkan dari itu? Bukan berarti Ignacia akan segera menikah. Ia bahkan belum mencari pekerjaan untuk membeli rumah.


"Kenapa kebetulan sekali? Kemala juga mengenalkan kekasihnya pada orang tuanya setelah sidang kemarin," suara Widia, mengalihkan perhatian teman-temannya pada si mata sipit di ujung lain meja. Kini Ignacia yang menutup mulutnya menggantikan Kemala. Betapa lucunya wajah memerah Kemala ketika merasa malu.


Tangannya yang tadi menutup mulut kini bergerak untuk memukul lengan Widia. Padahal tadinya ia sudah berencana untuk memberitahu teman-temannya secara langsung. Widia pasti sudah tidak sabar menggoda temannya ini. Tidak di kampus, tidak disini, Widia senang sekali mengganggu teman baiknya. "Sudahlah, jangan menatapku begitu," kesal Kemala.


Teman-temannya terkekeh. Pasti seru mendapatkan undangan dari Kemala dan Ignacia setelah ini. Widia bangkit, menarik perhatian semua gadis di meja. "Ada yang perlu aku katakan pada kalian." Air wajahnya yang tadi terhibur jadi sedikit murung. "Aku punya pacar!" seruan Widi mengalihkan sebagian pengunjung kafe.


Gadis itu tidak malu mengakui dirinya punya pacar. Langsung ia tunjukkan layar kunci di ponselnya yang bergambar seorang pria yang kabarnya baik hati dan tampan. Aruna akui jika kekasih Widia ini lebih tampan dari mantannya dahulu. Ponsel Widia digilir bergantian agar yang lainnya bisa melihat wajah si kekasih. Untuk sementara Widia akan menyembunyikan nama kekasihnya, sama seperti Kemala.


Widia bertemu dengan kekasihnya ini ketika berada di kantin. Seharusnya Kemala makan bersamanya siang itu namun tiba-tiba ada janji dengan kekasihnya untuk melakukan sesuatu. Jadinya Widia mengalah dan makan sendirian. Seperti cerita dalam drama, Widia berkenalan dengan laki-laki baik ini ketika akan mengambil jus di dalam pendingin. Mereka akan minum jus yang sama hingga tangan mereka hampir bersentuhan.


Sepanjang cerita Widia masih berdiri seolah tengah berpidato. Banyak ekspresi tidak jelas ia berikan sebagai wujud penghayatan. Ignacia yang murni mempelajari sastra jadi malu sendiri melihat aksi Widia. Dia bahkan tidak pernah berakting seperti itu. Ignacia ters tersenyum kaku.


Rananta tidak membawa permainan apapun dalam reuni kali ini. Yang ia inginkan hanya bersama dengan kesembilan temannya duduk di bawah atap yang sama, saling melempar guyonan atau menyampaikan berita yang tidak sempat dikirim lewat pesan. Kesempatan untuk bercengkrama setelah sekian lama sibuk dengan pendidikan masing-masing.


Utari tidak tahan untuk meminga Widia duduk agar pengunjung lain berhenti menatapnya. Bagaimana tidak? Sedari tadi pengunjung yang ada di meja sebelah ikut mendengarkan ceritanya. Sementara itu Widia terlalu bahagia hingga urat malunya sedikit bermasalah. Katanya tidak apa-apa karena Widia juga tidak mengenal mereka.


"Kenapa diam saja?" Hanasta menyenggol lengan Indi yang duduk di sebelahnya.


"Dia sedang menunggu hasil sidang. Katanya akan diumumkan hari ini," Matahari menjelaskan. Indri terlalu lemah untuk menjawab. Jantungnya berdebar tak karuan. Takut bila hasilnya akan tidak sesuai harapan. Di sampingnya Maharani menepuk-nepuk punggung si teman menguatkan. "Tidak perlu tegang begitu. Kau pasti lolos," ucap Maharani.


"Wah kamu pasti sangat tegang." Ucapan Hanasta barusan menarik minat teman di sebelahnya. Jadilah satu meja mendengar jika Indri tengah menunggu pengumuman. Suasananya mulai tegang, berharap Indri lolos dan segera masuk ke fase yudisium. Pantas saja temannya ini sejak tadi terdiam.


"Pukul berapa pengumumannya?" Aruna bertanya hati-hati.


"Li-lima belas menit lagi," jawab Indri lemas. Layar ponsel Indri sudah menunjukkan sebuah website resmi universitas. Hanasta dan Maharani melihat dengan jelas getaran dari tangan Indri. "Wah bisakah kalian yang melihatnya untukku? Aku terlalu takut. Aku akan bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk."


Hanasta menerima ponsel Indri dengan kedua tangan, tanpa sengaja bersentuhan dengan tangan dingin Indri. Di sampingnya Ignacia juga Utari merapalkan doa guna melancarkan proses pengumuman. Sementara di hadapan Indri ada Dianti dan Aruna yang saling bertukar pandang.


Sepuluh menit berlalu dengan kesunyian. Maharani membiarkan Indri bersandar pada bahunya sementara. Menggenggam tangan temannya guna menyalurkan kehangatan. Hanasta hanya perlu merefresh halaman itu untuk melihat pengumuman. Tangannya jadi ikut merasa dingin.


"Sudah saatnya," bisik Utari.


Dengan jari bergetar Hanasta kembali merefresh halaman, muncullah disana pengumuman yang ditunggu-tunggu. "Indri, maaf jika aku harus jujur padamu." Hanasta menoleh, menutup layar dengan sebelah tangan sebelum melanjutkan ucapannya. Indri mulai ketakutan.


"Mana mungkin aku tidak lulus?! Lihatlah hasilnya sempurna!"