
Flashback On
Hari yang cerah, kebetulan hari itu juga hari kesukaan Ignacia. Hari dimana dia mendapatkan pelajaran bahasa Mandarin dan bahasa Jepang di kelas sore.
Umurnya masih 14 tahun, jadi semangat belajarnya akan bahasa baru sedang dalam masa baik-baiknya. Ketika orang lain pusing melihat karakter Mandarin yang sulit ditambah Hiragana Katakana yang banyak, Ignacia justru menyukainya.
Sangat suka malah.
"Hei menulis karakter itu menyenangkan. Kau bisa menulis sesuatu yang tidak banyak diketahui orang-orang di sekitar."
Meksipun menyenangkan, ada sesuatu yang membuatnya jadi tidak begitu menarik. Ignacia harus menetap lebih lama di sekolah untuk membersihkan kelas. Tidak sendiri, ada beberapa orang lagi disana. Teman-teman sekelas dan seorang teman baiknya.
"Hah, aku ingin cepat-cepat pulang," keluh Ignacia pada satu teman baik dan dengan sabar menunggu di dekat pintu. Tidak ingin menganggu Ignacia agar bisa cepat pulang bersama.
"Semangat, tinggal sedikit lagi. Toh semua orang ada disini. Setelah memindahkan sampahnya ke tempat sampah, kita bisa langsung pulang."
"Tapi tetap saja. Aku ingin segera pulang. Ada novel yang sedang menungguku untuk berkencan."
"Sesekali berkencan lah dengan manusia sungguhan, Ignacia. Yang kamu lakukan hanya bersama dengan para teman fiksimu yang baik hati itu. Aku mulai khawatir. Jika kau ingin pergi keluar atau mengobrol, jangan lupa jika kau memiliki banyak teman termasuk aku."
Ignacia yang sudah akan sampai pun menatap teman baiknya dengan tatapan jahil khasnya, "kenapa harus khawatir? Mereka menjagaku agar tetap waras selama ini. Aku tidak memiliki banyak topik, karena itu aku tiba begitu tertarik untuk mengobrol. Lebih baik berkencan dengan tokoh fiksi saja."
"Setidaknya bicaralah dengan teman lain selain aku, Maharani, dan Rananta di kelas ini."
"Aku tidak suka manusia sungguhan."
Akhirnya setelah membawa banyak sampai dari meja belakang, pekerjaan membersihkan kelas pun selesai. Ignacia berjalan dengan kaki ringan ke arah penyimpanan alat kebersihan. Teman-teman lain yang ikut piket bersamanya tiba-tiba saja sudah menghilang. Meninggalkan Ignacia sen-
Oh ada orang lain di dekat pintu.
Aneh. Teman baik Ignacia sudah tidak ada disana. Digantikan dengan seseorang bertubuh tinggi dengan alis tebal. Dia terlihat seperti teman yang duduk di dekat pintu di kelas pagi. Setiap kali Ignacia menatap pintu, anak laki-laki itu tidak sengaja bersitatap dengannya.
Ignacia tidak ingat jika laki-laki itu juga termasuk dalam kelompok petugas piket hari ini. Juga Ignacia tidak tahu jika laki-laki itu masih ada di sekolah padahal sejak tadi bel pulang sudah berbunyi. Apa yang dia lakukan disana?
Suasana kelas sejujurnya jadi agak redup karena hari sudah sore. Cerah, namun rasanya agak gelap karena hanya ada keduanya di dalam kelas.
Apa?!
Sebaiknya Ignacia cepat-cepat pulang. Melihat seseorang yang ada di dekat pintu saja sudah agak menyeramkan. Apalagi jika harus mengobrol dengannya. Tidak tahu kenapa Ignacia yakin jika ada yang diinginkan laki-laki itu.
Tapi apa? Keduanya saja tidak saling kenal. Mereka tidak dekat meksipun pernah beberapa kali bicara di kelas atau pesan.
Rak sepatu ada di dekat pintu. Pura-pura saja Ignacia tidak melihat laki-laki yang sudah berjaga disana. Begitu dia meraih sepatunya, langsung saja pintu ditutup sebelah pihak. Apa yang laki-laki ini inginkan? Ignacia tidak mengerti. Dia hanya ingin pulang dan tidak mendapatkan masalah apapun.
"Apa yang kau lakukan? Seseorang sudah menungguku," kesal Ignacia tanpa alasan. Nada bicaranya menjadi lebih sensitif karena dilanda kebingungan.
Ignacia melangkah mendekati pintu, mencoba untuk membuka pintu yang sengaja disandari orang laki-laki ini. Setidaknya dia harus bicara agar Ignacia tidak semakin panik.
"Buka pintunya, aku ingin cepat pulang," kesal Ignacia lagi.
Laki-laki itu tidak mendengarkan. Mengacuhkan Ignacia seolah tidak mendengar apapun.
"Aku menyukaimu."
Ignacia tidak salah dengar? Ada seseorang yang mengatakan bahwa dia menyukai Ignacia? Sontak gadis yang membawa sepatunya itu menoleh, mendapati sebuah tatapan tulus dari si laki-laki bertubuh tinggi. Jika tujuannya untuk menyatakan perasaan, kenapa harus di waktu seperti ini?
Dan kenapa harus Ignacia?
"Ignacia, aku menyukaimu," ulang Rajendra.
Mungkin kalimat yang pertama kali didengar Ignacia itu tetap akan terngiang hingga bertahun-tahun lamanya. Tentang aroma pengarum ruangan kelas sore itu, cuaca cerah yang perlahan mulai meredup, ditambah dengan suara detak jantung yang seolah-olah bisa didengar oleh siapapun.
Ignacia hanya berdiri mematung, lidahnya mencoba sekuat tenaga untuk bicara.
"Bisakah kau buka pintunya untukku?"
...*****...
"Seseorang mengungkapkan perasaannya padamu?!" Suara Utari terdengar melengking, sungguh terkejut dengan apa yang didengarnya.
Baru setahun Ignacia ditinggal kekasih pertama di kelas tahun pertama sekolah menengah pertama. Dan sekarang sudah ada orang yang berniat untuk menjadikannya sebagai prioritas utama? Dunia ini seperti lelucon bagi Utari.
"Apa dia Rajendra dari kelas kita?" Tebak Maharani yang duduk di sebelah Utari. Dan pertanyaan itu hanya mendapatkan anggukan dari Ignacia yang tengah gugup. Kepalanya tertunduk, rasanya di tidak sanggup memikirkan apapun.
Di sampingnya, ada Rananta yang tidak tahu harus berkata apa.
Keempatnya sedang berada di dalam kelas Utari. Kondisinya kosong, hanya ada ketiganya. Ya mau bagaimana lagi? Hari ini adalah hari bebas dimana orang-orang diperbolehkan untuk datang ke sekolah menggunakan pakaian bebas. Sedang ada peringatan hari besar. Wajar jika *** tidak berjalan.
Orang-orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing diluar kelas. Kebetulan sekali hanya empat orang ini yang menggunakan kelas Utari. Jadi dengan bebas keempatnya dapat mendegarkan cerita Ignacia tanpa diganggu siapapun.
"Dan kau menerimanya semalam?" ulang Utari dengan rasa bingung, "kau sudah diperlakukan tidak pantas oleh seorang laki-laki berengsek, Ignacia. Bukankah sebaiknya tidak ada seorangpun yang membuatmu terluka lagi? Kau belum mengenal laki-laki itu dengan baik."
"Ignacia sudah sering ditatap oleh laki-laki itu," Rananta menyela, dengan tatapannya yang tertuju pada Ignacia, dia kembali membuka mulut, "Rajendra sering menatap Ignacia ketika kami berbicara berdua. Ignacia tidak pernah tahu karena dia terlalu takut untuk melihat sekitar."
"Rajendra itu bukan laki-laki berengsek seperti mantan Ignacia. Dia memiliki perilaku baik dan etika yang memenuhi standar. Dia juga bisa mengambil alih kerja kelompok dengan baik. Dia mengagumkan, tapi tindakannya terlalu terburu-buru."
Utari sudah mengenal Ignacia sejak kelas tahun pertama. Dia menjadi saksi kesedihan Ignacia di siang hari yang panas ketika laki-laki dari kelas lain memutuskannya. Salah Ignacia karena asal menyukai karena mereka nyambung saat berbicara. Hanya laki-laki itu yang brengsek.
"Ignacia, kau akan baik-baik saja jika bersama dengan Rajendra? Tidak ada keraguan darimu?" resah Maharani, menatap dengan tatapan mencari tahu. Sebisa mungkin mengerti apa yang sedang temannya rasakan.
Ignacia mengangkat kepalanya, tersenyum kecil sambil membatasi tatapan Maharani. "Entahlah, aku hanya ingin mencobanya lagi. Dahulu aku yang menyukai laki-laki, tapi sekarang ada seseorang yang menyukaiku. Bahkan dia mengatakan perasannya langsung."
"Meksipun caranya agak menyeramkan," batin Ignacia.
"Sejujurnya aku tidak suka jika kau berkencan lagi, Ignacia," Rananti kembali bicara, "laki-laki tidak sebaik yang kau pikirkan. Kau ingat apa yang mantanmu lakukan? Dia hanya menyukai fisikmu dan kemudian mencari orang lain saat bosan." Ada nada memohon dalam kalimatnya.
"Aku hanya akan mencobanya. Soal ini akan berhasil atau tidak, aku tidak akan kecewa lagi," balas Ignacia pelan.
"Jangan menerima seseorang hanya karena ingin tahu tentang dia, Ignacia. Jangan bermain-main dengan manusia sungguhan. Seseorang bisa menyakitimu," Utari mengingatkan. Tatapannya jelas menunjukkan penolakan. Tapi semuanya bukan kendali gadis berambut panjang ini. Kendalinya ada pada Ignacia.
"Ignacia," seseorang menginterupsi pembicaraan keempat teman yang tengah mengobrol. Teman baik Ignacia dari sekolah dasar, gadis yang menyetujui rencana Rajendra untuk mengungkapkan perasaannya kemarin. Keempat gadis yang ada di salah satu meja itu menatapnya seolah bertanya 'ada apa?'.
"Keluarlah sebentar. Ada seseorang yang ingin bicara denganmu," lanjut gadis dengan potongan rambut pendek di balik daun pintu. Sepertinya Ignacia tahu siapa itu.
Di samping kelas, di gazebo kayu favorit para murid dari kelas Utari, seseorang tengah duduk sambil menunggu. Begitu Ignacia muncul, dia mendorong dirinya sendiri dari pilar gazebo dan berjalan mendekati Ignacia. Rupanya benar laki-laki ini.
"Mau berfoto denganku?"
Ignacia menoleh pada teman baiknya untuk meminta bantuan. Mantannya dahulu hanya datang selama 1 Minggu kemudian menghilang bagai angin. Hah, sungguh tragis dan memalukan sekali kisah cinta pertamanya. Dan balasan yang diberikan si teman perempuan hanya anggukan kecil.
"Disini?" Ignacia tidak langsung bicara bahwa dia setuju. Tapi respon yang diberikan dapat membuat wajah Rajendra semakin berseri-seri. Kenapa tampaknya dia tidak merasa canggung?
"Hah, seharusnya aku tidak bermain-main dengan manusia sungguhan," gumam Ignacia.
Malam hari setelah Rajendra mengungkapkan perasaannya, Ignacia masih harus meminta maaf karena malah bersikap jahat. Sikapnya yang menolak dengan kasar terlihat tidak pantas dan harus minta maaf. Pertimbangan pun datang.
"Apa aku harus menerimanya saja?" Tanyanya pada diri sendiri.
Rajendra selama ini memperlakukan dia dengan baik. Memperhatikan diam-diam, mengirimkan pesan yang membantu Ignacia dalam masalah kecil yang tidak dia bicarakan. Dan yang terpenting, Rajendra tidak mirip dengan mantannya dahulu.
Rananta tidak tahu tentang itu. Karenanya dia yang paling menolak. Dikiranya Rajendra hanya seseorang yang terus curi-curi pandang ketika Ignacia mengobrol dengannya. Rananta tidak ingin ada yang menyakiti sahabatnya karena fisik lagi.
Teman baik Ignacia yang membantu mengambil foto. Hanya satu. Rupanya bukan hanya gadis bermata coklat ini yang merasa gugup. Rajendra sama gugupnya. Bahkan tangan keduanya sempat terlihat bergetar.
Bertatapan saja Ignacia tidak sanggup. Tidak memiliki perasaan apapun, tapi merasa gugup?
"Terima kasih. A-Aku akan pergi bersama teman-temanku. Ka-Kamu akan kembali ke kelas temanmu?" Rajendra bahkan bicara terbata-bata. Ini pertama kalinya menghadapi perempuan yang dia sukai?
"Iya, aku akan kembali. Sampai jumpa."
...*****...
Beberapa hari berlalu, waktunya enam teman baik Ignacia tahu soal hubungannya dengan Rajendra. Gadis itu tidak ingin menunjukkan hubungan pribadinya pada orang lain, namun jika dengan teman dekat, sepertinya tidak apa-apa. Toh yang tahu selama ini hanya teman-teman sekelas mereka saja.
Kantin adalah tempat kesepuluh teman baik ini berkumpul, makan siang bersama sebelum menyambut kelas sore yang sebentar lagi akan berlangsung.
"Rajendra? Laki-laki tinggi yang pendiam itu?" Kemala menyipitkan kedua matanya, mengingat-ingat bagaimana rupa laki-laki yang dia maksud. Menebak-nebak apa mungkin namanya adalah Rajendra. Mana ingat dia setiap laki-laki yang ada di kelas Ignacia.
"Rajendra? Dia dari kelas Mipa satu?" Hanasta seperti tahu siapa Rajendra ini, "dia pendiam. Aku tidak menyangka jika dia bisa mengungkapkan perasaannya. Aku mengenalnya dari teman sekelas ku. Omong-omong, desas-desus soal kelasmu yang memiliki banyak pasangan sudah menyebar."
Ignacia tadinya mendengarkan dengan santai, bahkan dia masih sempat untuk menelan siomay di piringnya. Namun ucapan Hanasta yang terakhir itu agak menganggu makannya. Apa rahasia kelasnya akan segera menjadi konsumsi publik?
Sejauh ini ada tiga pasangan yang menempati kelas Ignacia. Dan ketiga laki-laki dari pasangan ini adalah sahabat yang dekat. Ignacia dan Rajendra tentu masuk dalam deretan. Hah, apa Ignacia akan menyesal menerima Rajendra?
Sekolah ini sedari awal sudah tidak menyukai hubungan romantis antar siswanya. Hanya saja siapa yang bisa mencegah para murid untuk tidak memandang berbeda pada lawan jenis?
"Di kelasku sudah membahasnya," Dianti yang ada di samping Indri mulai bersuara, "kelas Ignacia menjadi perbincangan di kelasku. Katanya di kelas orang-orang pandai rupanya ada yang berpacaran. Mereka duduk berdua sambil menonton film bersama-sama dengan yang lainnya."
Tentu saja menjadi bahan gosip. Anak SMP dianggap masih kecil, belum diperbolehkan berada di dalam hubungan romantis orang dewasa. Dari menonton film di jam kosong memang ada yang aneh. Ignacia yang awalnya duduk dengan Rananta tiba-tiba didatangi Rajendra.
Dan kemudian disusul oleh pasangan lainnya.
Apa seseorang melihat dari balik jendela? Oh benar-benar.
Ignacia seharusnya sudah tahu jika ini akan terjadi. Dia tidak akan bisa menyembunyikan apapun jika sudah berhubungan dengan manusia sungguhan.
"Seharusnya aku tetap berpegang teguh pada teman-teman fiksiku. Hah, Ignacia, manusia sungguhan sangat menyeramkan. Seharusnya kau tahu sedari awal," batin Ignacia.
"Aku tidak ingin membahasnya. Kita fokus saja dengan makanan. Setelah ini aku akan mendapatkan ujian bahasa Mandarin. Kumohon jangan membahas hal yang menyeramkan dan menurunkan selera makanku." Ignacia menjadi sensitif.
"Ignacia, kalian berdua baik-baik saja?" Utari hanya ingin memastikan. "Jika sudah tidak kondusif, lebih baik sudahi saja. Aku tidak suka laki-laki yang membuatmu menangis." Utari memperingatkan, tidak berniat jahat.
"Aku tidak ingin membahasnya. Aku tidak suka menjadi bahan pembicaraan orang-orang. Seharusnya aku bilang pada Rajendra jika aku tidak suka jadi pusat perhatian lagi," jawab Ignacia.
Air wajahnya yang tadinya lapar, sekarang berubah tidak bersemangat. Siomay sudah tidak tampak menarik.
"Dahulu banyak orang juga tahu jika aku berkencan dengan mantanku. Sekarang orang-orang pun tahu jika aku berkencan dengan Rajendra. Kenapa orang-orang harus tahu? Kenapa aku tidak bisa menyimpannya sendiri?" Ignacia bergumam, namun samar-samar dapat didengar oleh teman-temannya.
"Memangnya semua orang harus tahu apa yang orang lain lakukan? Ini menyebalkan." Dia kesal.