Beautiful Monster

Beautiful Monster
Situasi Aneh



Bukannya menjadi bebas dan memiliki banyak waktu bersama dengan Ignacia, Rajendra justru banyak diambil perhatiannya oleh para teman di sekolah. Entah urusan bermain atau mungkin beberapa hal yang tidak diketahui Ignacia. Bukannya memiliki momen bersama, Rajendra malah sibuk sendiri.


Wajar, Rajendra tidak akan membuang-buang masa mudanya hanya untuk berpacaran. Dia tentu ingin dunianya menjadi lebih menarik dengan keberadaan teman-temannya.


Laki-laki yang disukai Ignacia menjadi memiliki banyak rahasia setelah diperhatikan cukup lama. Ada banyak hal yang baru Rajendra katakan setelah sesuatu itu selesai dikerjakan atau sudah berlangsung selama beberapa hari. Seolah tidak ingin mengatakannya pada Ignacia di awal.


Situasinya tidak menyenangkan bagi Ignacia.


Harapannya adalah memiliki banyak waktu dengan Rajendra, berkirim pesan konyol dan singkat tanpa konteks. Tapi rupanya Rajendra terlalu sibuk untuk menemaninya. Banyak membiarkan Ignacia sendiri hingga merasa selalu sendirian. Padahal Nesya ada di dekatnya, padahal orang-orang ada untuknya.


"Ignacia, ayo keluar. Aku ingin membeli minum," ajak Nesya.


Mood Ignacia tengah melayang akhir-akhir ini. Sudah tidak ada keinginan untuk melakukan apapun. Hanya mengalir begitu saja. Dan ajakan Nesya itu dipertimbangkan cukup lama hingga yang mengajak mengulangi tawarannya.


"Ya, baiklah ayo." Butuh sekitar dua menit hingga Ignacia setuju. Pasalnya emosinya tengah tidak baik-baik saja sekarang.


"Ada apa lagi sekarang hm? Kalian tidak mungkin bertengkar. Tapi sepertinya ada sesuatu yang lebih rumit daripada itu. Sesuatu yang buruk terjadi?" Nesya bertanya panjang lebar sambil memperhatikan seseorang yang berjalan di sampingnya menuju luar kelas. Ignacia tampak lesu.


"Mantan Ketua MPK sedang sibuk. Aku merasa agak kesepian. Ya meksipun biasanya juga begitu."


"Bukumu sudah habis?"


"Tidak, belum. Aku masih memiliki beberapa buku versi online yang belum kubaca. Tapi rasanya aku tetap membutuhkan seseorang yang sukai."


"Tumben sekali," bingung Nesya. Tidak biasanya Ignacia seperti ini. Dia hanya menyukai buku pada awalnya.


Di pertengahan jalan, Ignacia tidak sengaja melihat sesosok laki-laki yang tampak familier. Laki-laki tinggi dengan alis tebal dan suara bernada serius. Sedang bicara dengan seorang perempuan yang- entahlah Ignacia tidak mengenalnya. Mungkin seseorang dari kelas lain.


"Sudahlah, jangan menatapnya begitu," tegur Nesya sambil menarik lengan Ignacia untuk berjalan lebih cepat.


"Kenapa teman-temannya selalu punya alasan untuk bicara dengan Rajendra sementara aku tidak? Maksudku mereka selalu memiliki sesuatu untuk di tanyakan, dikatakan, dan benar-benar hanya pada Rajendra saja. Sementara aku-" Ignacia berhenti bicara secara mendadak. Tidak mampu berkata-kata lagi.


"Hei, kamu ini bagaimana? Kamu selalu punya alasan untuk melakukan apapun dengan Rajendra. Bahkan jika kamu menganggunya, Rajendra tidak akan marah." Nesya menimpali.


Sekarang keduanya sudah ada di depan kantin. Jauh dari tempat Rajendra dan temannya bicara tadi. "Kamu mau permen? Akan kubelikan untuk memperbaiki moodmu." Tawaran itu tidak mendapatkan penolakan. Ignacia tampak cenderung pasrah. Emosi perempuan memang sangat aneh.


Nesya memberikan beberapa permen, padahal dikiranya hanya akan mendapatkan satu. "Ambil saja, kau membutuhkan gula untuk kembali bersinar. Rajendra mungkin akan lebih suka bersamamu jika kau juga memiliki energi positif hari ini."


Rasanya aneh saat Nesya mengatakannya.


"Terima kasih untuk permennya."


...*****...


"Aku pulang."


Pintu masuk terbuka lebar. Ignacia berjalan dengan langkah kaki berat menuju sofa. Tubuhnya begitu lelah dengan tas yang lumayan berat. Harinya menjadi buruk karena ujian bahasa Indonesia di jam terakhir. Belum lagi kelas sore yang lebih baik diambil dengan mata pelajaran sosiologi.


"Kak, aku akan pergi membeli sesuatu," pamit Rafka tanpa menunggu respon kakaknya. Tak lama kemudian Arvin berlari mengikuti dengan membawa selembar uang. Pasti ini ide Rafka jika bukan Athira yang memintanya.


"Oh sudah pulang? Mau?"


Athira muncul dan menawarkan keripik kentang yang baru dibeli mamanya kemarin. Athira biasanya tidak berbagi camilan karena kakaknya hanya menyukai Fitbar dan es krim. Melihat kakaknya yang lemas, mungkin kakaknya membutuhkan sedikit keripik, pikirannya.


"Tidak," tolak Ignacia.


"Hm, baiklah kalau begitu. Oh ya, mama juga membeli Fitbar kesukaan kakak. Ada di kamarku, mau kuambilkan?"


"Tidak." Respon itu membuat Athira bertanya-tanya.


"Ada hal buruk yang terjadi?"


"Suasana hatiku sedang buruk. Jangan bertanya, aku lelah. Aku malas berbicara." Sikap Ignacia menjadi semakin aneh saja.


Athira duduk di single sofa dekat tempat kakaknya duduk. Masih dengan membawa keripik kentang di tangannya. "Apa kakak mendapatkan ujian di mata pelajaran terakhir? Atau mungkin Kak Rajendra melakukan sesuatu yang membuat kakak merasa tidak nyaman?"


Tebakan Athira benar. Tapi Ignacia malas membahasnya. Yang lebih tua dengan surai panjang itu bangkit menuju kamarnya. Tidak menjawab satu pun pertanyaan yang diajukan Athira setelah kepergiannya. Pintunya ditutup rapat dan mungkin akan dibuka lagi ketika Ignacia lapar.


"Hah, hari ini sangat aneh. Padahal biasanya aku bersemangat untuk pulang karena bisa membaca novel. Kenapa aku merasa sangat lemah hanya karena melihat Rajendra dengan perempuan? Padahal aku sudah biasa melihatnya," gusar Ignacia sambil menatap dirinya sendiri di cermin.


"Kakak," seseorang memanggil. Tentu saja Athira. "Aku akan memasak mie instan untuk makan malam. Setelah Rafka dan Arvin kembali, aku akan segera memanggil kakak untuk makan. Kakak masih berselera untuk makan, bukan?"


Hah, sedang dalam mood yang buruk, ditanya makan malam.


"Bawakan saja ke kamarku. Aku malas keluar."


"Baiklah kalau begitu. Mama berpesan bahwa kakak harus tetap makan apapun yang terjadi. Mama bilang begitu karena Kak Rajendra melihat kakak yang terlihat lemas dan mengatakannya pada mama."


Athira tersenyum kecil saat membahas soal Rajendra. Calon kakak iparnya baik sekali mau memperhatikan kakaknya di sekolah.


Situasi Aneh macam apa lagi ini? Rajendra melihatnya? Tapi hanya melihat saja? Wah mengesankan sekali.


"Ya, bawakan padaku nanti. Aku ingin membersihkan diri."


Malam harinya Ignacia tidak bisa tidur. Tubuhnya lelah, tapi matanya menolak untuk menutup. Bahkan setelah tubuhnya sudah memiliki posisi paling nyaman di atas tempat tidur. Makanan yang dibawakan Athira tadi masih tersisa banyak. Ignacia sudah memakannya selama tiga jam namun belum kunjung habis seolah ditambahkan lagi.


Membaca buku dan mengerjakan tugas membosankan tidak membawa pengaruh apapun. Yang ada Ignacia menjadi semakin lelah dari sebelumnya.


Diam-diam, di tengah malam, Ignacia kembali memakan makan malamnya tanpa suara. Melangkah dengan perlahan menuju dapur untuk meletakkan alat makan kotor. Tidak dilihatnya siapapun kecuali lampu-lampu yang sengaja dibiarkan menyala.


"Kak," dan dintengah kesunyian muncul suara yang memanggil Ignacia. Refleks Ignacia sangat terkejut hingga hampir saja terbentur rak atas dapur. Rupanya Athira dengan membawa boneka tidurnya. "Kakak baru menghabiskan makanannya? Apa rasanya masih enak?"


"Kenapa kau mengejutkan aku begitu hah?!" Marah Ignacia, menajamkan nada bicaranya dengan wajah kesal.


"Kakak sendiri kenapa bisa muncul di tengah malam? Kakak tidak pernah terbangun di tengah malam. Sekarang apa yang sedang terjadi?" Athira berhasil mempertahankan rasa penasarannya tentang sikap kakaknya.


"Kenapa kau sangat ingin tahu hah?" Ketus Ignacia kemudian berjalan meninggalkan dapur.


Sorot matanya masih menatap pada tempat terakhir melihat Ignacia tadi.


"Kakak masih mengingat kenangan buruk dengan mantan kakak hingga perasaan kakak selaku campur aduk. Kakak takut setiap kali Kak Rajendra melakukan sesuatu yang mengingatkan kakak pada laki-laki berengsek yang kakak kencani duhulu. Tidakkah kakak lihat jika Kak Rajendra tidak akan pergi seperti pengecut yang sudah membuat kakak sakit hati?"


Athira bergumam, memeluk boneka miliknya dan berjalan mendekati kulkas untuk mengambil air dingin.


...*****...


"Ignacia, lihat siapa yang ada disana," goda seorang teman laki-laki yang dulunya adalah anak buah Rajendra. Teman sekelas Ignacia yang pernah menjabat sebagai anggota MPK sebelum akhirnya pensiun.


Ignacia tidak akan tertipu dengan apapun yang laki-laki berkacamata itu katakan. Yang dia katakan hanyalah kebohongan yang sudah menjebak Ignacia setiap kali menaruh percaya. Yang Ignacia dapatkan pasti hanya dinding kosong atau halaman tanpa seorangpun disana.


"Hei coba lihatlah disana," terus teman laki-laki itu. Ignacia menyerah saja meksipun sudah tahu apa yang akan terjadi. Laki-laki itu memang jahil.


Gadis dengan energi yang masih kosong itu pun menoleh, melihat ke arah luar kelas yang langsung menunjukkan posisi kelas Rajendra. Oh laki-laki kesayangannya ada disana. Tengah mencuci tangannya dengan air mengalir juga sabun. Mungkin selesai makan siang.


"Aku akan kembali memerhatikan dia dari kejauhan? Jika begini rasanya sama seperti saat Rajendra masih menjabat sebagai ketua MPK. Memuakkan," batin Ignacia kesal.


Lalu sebelum masuk ke kelas, seorang teman Ignacia mendekati laki-laki itu untuk mengatakan sesuatu. Sekarang apa lagi? Rajendra sudah bukan lagi ketuanya. Kenapa gadis itu malah bicara dengan Rajendra? Mereka memiliki sesuatu di belakang Ignacia?


Ignacia menghembuskan nafas panjang, menjatuhkan kepalanya ke atas meja hingga mengejutkan Nesya yang asik membaca komik. "Hei kepalamu baik-baik saja?" Khawatir temannya.


"Hah kenapa aku aneh sekali hari ini? Aku tidak punya banyak energi, moodku sangat buruk, dan sekarang aku menjadi sangat sensitif hanya dengan melihat Rajendra bicara dengan seorang gadis. Apa yang salah denganku?" Ignacia mengeluh.


"Rajendra membuatmu tidak nyaman?"


Nesya meletakkan ponselnya, memberikan perhatian pada Ignacia yang masih berada di posisi kepala di atas meja. Meskipun Nesya tidak memiliki pengalaman apapun, atau bahkan tertarik dengan pembicaraan ini, dia tetap saja mendengarkan. Tujuannya hanya untuk membuat Ignacia kembali bersinar.


"Dunia mengambil Rajendra dariku akhir-akhir ini."


"Kalau begitu kirim pesan saja. Rajendra akan tetap ada disana. Tapi menurutku cukup aneh jika Rajendra menjadi sibuk padahal sudah bukan ketua MPK lagi."


Ignacia membenarkan posisi duduknya dengan cepat, menatap Nesya dengan harapan. "Benar kan? Seharusnya dia punya sedikit waktu denganku. Setelah ini kita akan memiliki banyak penilaian dan ujian yang harus dilakukan. Tapi Rajendra seolah tidak peduli dan hanya menjadi sibuk."


"Dia tidak mengatakan padamu jika ada sesuatu?"


Ignacia menggeleng, "Rajendra selalu menyembunyikan semuanya, Nesya. Mana mungkin aku tahu jika bukan alam sendiri yang menunjukkannya padaku?" Disandarkannya tubuh yang lemas ke sandaran kursi.


"Tidakkah seharusnya kamu bisa sedikit memaksa Rajendra untuk memberikan semua kabarnya padamu? Toh kalian setelah ini akan sibuk dengan sekolah. Memberikan pesan bukanlah hal yang berat. Beberapa detik saja bisa."


Nesya tentu memposisikan diri di posisi Ignacia. Seseorang yang sedang butuh seseorang untuk menceritakan semua tentang apa yang dia rasakan soal Rajendra. Nesya tahu jika Ignacia tidak banyak bicara pada siapapun soal Rajendra. Bahkan ke mamanya sendiri. Tentu alasannya karena mamanya sangat menyukai Rajendra. Ignacia agak muak dengan itu.


Mamanya pasti hanya akan mengatakan jika Ignacia harus menjaga kekasihnya dengan baik. Kapan ada seseorang yang bilang jika Rajendra juga harus menjaga Ignacia dengan baik? Seorang gadis yang sensitif hanya ingin memiliki seseorang di sampingnya, memberikan dukungan dan sebagainya.


"Bagaimana jika memfokuskan diri pada hal lain? Aku bisa memberikan beberapa rekomendasi buku yang kutahu atau mungkin komik yang menarik," tawar Nesya.


"Tidak, aku juga tidak bisa fokus dengan novelku akhir-akhir ini karena Rajendra. Padahal biasanya aku bisa melupakan banyak hal hanya dengan membaca novel-novel itu."


"Bagaimana dengan camilan? Mungkin bisa kubawakan beberapa camilan untukmu."


Ignacia menolak lagi, "aku tidak berselera untuk itu."


"Jika sudah masalah mood, kamu menjadi sangat sulit, Ignacia."


...*****...


Kelas sudah hampir sepi. Ignacia masih menunggu Nesya yang bertugas piket dengan membaca beberapa lembar novel online yang dia punya. Hanya itu yang bisa dilakukan selain menatap Nesya yang sibuk di dalam dengan petugas piket lainnya. Tidak akan memakan waktu lama. Tidak masalah untuk Ignacia.


Tapi masalahnya datang ketika sebuah pesan masuk.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Apa kamu sudah pulang?


Sudah lama sekali Ignacia tidak mendapatkan pesan seperti ini dari Rajendra. Apalagi sekarang tanpa Ignacia yang memulainya. Tanpa Ignacia yang mengirimkan pesan konyol hanya untuk mendapatkan perhatian Rajendra.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


^^^Belum, aku ada di depan kelas |^^^


Ignacia menatap aneh layar ponselnya sendiri. Hatinya berdegup kencang seolah akan mendapatkan sesuatu yang besar. Padahal Ignacia tahu sendiri jika hal-hal yang dia bayangkan tidak akan terjadi secara ajaib layaknya sulap.


Tidak ada balasan dari Rajendra.


Ignacia kembali pada novel online yang sempat disingkirkan untuk membalas pesan Rajendra. Tapi kenapa sekarang jantungnya berdetak lebih kencang? Membuat Ignacia tidak dapat fokus dengan apa yang dibacanya.


"Ignacia, sudah selesai."


Nesya menunggunya di pintu depan kelas. Mereka akan melewati lorong panjang di sebelah kelas mereka menuju tempat parkir. Berjalan beriringan sambil diam menatap ke jalanan di depan. Keduanya sama-sama lelah karena sekolah yang melelahkan.


"Ignacia, lihat siapa itu," bisik Nesya.


Ignacia menoleh ke sembarang arah, matanya menemukan sosok yang dimaksud Nesya. Buru-buru gadis yang ada di sampingnya mempercepat langkah. Memberikan ruang bagi Rajendra untuk bicara dengan Ignacia. Laki-laki itu pasti memiliki sesuatu jika sampai mendatangi Ignacia seperti itu.


"Kukira kamu sudah pulang," suara Ignacia.


"Belum. Aku masih memiliki urusan kecil disini."


"Lalu kenapa sekarang datang kemari? Urusannya ada di dekat sini? Sebaiknya segera selesaikan agar bisa cepat pulang."


"Aku kemari untuk menemuimu. Aku ingin mengantarmu hingga sampai di tempat parkir."


Ini alasan kenapa jantung Ignacia berdetak sangat kencang? Tubuhnya sudah tahu hal ini akan terjadi sebelumnya?