
Saran Bahri rupanya bekerja juga pada Rajendra. Ignacia mencoba untuk selalu memberikan respon hangat setiap kekasihnya itu mengirimkan kabar dan menelfon. Sebelum mengakhiri komunikasi, Ignacia menambahkan kata terima kasih karena sudah menghubunginya malam itu. Terima kasih sudah datang padanya meskipun sedang lelah.
Hasilnya Ignacia petik setelah sebulan berlalu. Rajendra banyak mengirimkan kabar, menanyakan keadaan Ignacia, dan bahkan menceritakan banyak hal yang terjadi selama kuliahnya. Dunia Ignacia bersama Rajendra jadi kembali hangat dan patah hatinya semakin berkurang. Ignacia menaruh perhatiannya pada tugas kuliah saja untuk sementara.
Tapi terkadang ada malam-malam dimana Ignacia ingin perhatian lebih, ingin diajak mengobrol lebih lama. Dan ketika itu terjadi, teman yang ia tanyai sarannya adalah Danita dan Bahri. Respon keduanya berbeda namun memiliki satu makna yang sama. Mereka akan ada untuk Ignacia jika dibutuhkan.
Danita bilang jika Ignacia bisa mampir ke asramanya atau mungkin memanggilnya ketika dia merasa kesepian. Nanti Danita akan membawakan makanan manis untuk membuat Ignacia kembali bahagia. Sementara Bahri menyarankan agar Ignacia terus menyibukkan diri. Bukan untuk menolak perasaan rindunya terhadap sang kekasih, anggap saja seperti obat penenang sementara.
Tapi meksipun begitu, Danita kadang datang tanpa diminta membawa jajanan yang ia beli bersama Bahri. Kekasihnya itu tidak keberatan, lagipula Ignacia juga temannya. Karena kedatangan temannya, Ignacia jadi tidak punya waktu untuk menunggu pesan yang entah kapan datangnya.
"Rasanya enak sekali, kamu harus mencobanya. Oh ya, temanku bilang jika jadwal makan siang di kantin besok pasti enak. Setelah kamu mencari referensi di perpustakaan, aku dan Nesya akan menunggu di kantin. Aku akan mengirimkan pesan juga agar kau tidak lupa." Setelah bicara panjang lebar, barulah Danita pamit dan pergi ke asramanya sendiri.
Ignacia yang masih berdiri di depan pintu merasa dirinya membeku. Danita bicara sangat cepat dan hanya dibalas anggukan oleh Ignacia. Dia masih memegang kantung plastik berisi jajanan bersaus pemberian Danita di dekat bingkai pintu. Ignacia bahkan tidak sempat mengatakan terima kasih.
...Danita...
^^^Terima kasih untuk makanannya |^^^
| Tidak masalah
Dan entah mengapa, makin kesini, kebiasaan menemani Ignacia makan menjadi tradisi yang dilakukan Danita juga Nesya agar teman mereka ini tidak sakit di tengah gempuran tugas yang bertubi-tubi. Apalagi sebentar lagi mereka akan diminta membuat skripsi. Sebelum hal yang tidak-tidak terjadi, lebih baik dihindari sebisa mungkin kebiasaan menunda makan itu.
"Ignacia!" Danita mengangkat tangannya agar Ignacia yang berdiri di pintu masuk kantin dapat melihatnya. Disana Nesya juga sudah menunggu. "Akhirnya kami datang juga. Kami sudah kelapangan," keluhnya.
Di tengah makan, Nesya bertanya apakah Ignacia menyukai jajanan yang Danita berikan semalam. Rupanya Nesya yang merekomendasikan jajanan itu pada Danita. Teman berambut pendeknya itu bertanya jajanan enak apa yang belum pernah ia coba sebelumnya. Dan Danita memberitahu Nesya jika dia membelikan Ignacia jajanan yang sama.
"Rasanya enak. Aku menyukainya," Ignacia menjawab.
...*****...
...Danita...
| Ignacia, kau ingin hadiah apa?
| Nesya bilang ulang tahunmu sebentar lagi
| Aku bingung harus memberikan apa
Rasanya Dejavu. Seperti melihat kilas balik pesan yang pernah Rajendra kirimkan kala umurnya baru delapan belas tahun. Ignacia hampir lupa jika ulang tahunnya sudah akan datang. Umurnya sudah akan bertambah? Waktu yang dia lewati kenapa jadi cepat sekali? Kalau begini sebentar lagi hari jadinya dengan Rajendra juga akan datang.
...Danita...
^^^Aku ingin berlibur denganmu juga Nesya |^^^
^^^Aku tahu pantai yang indah dengan penginapan |^^^
Ignacia tidak serius meminta. Tapi senang jika dia bisa berlibur bersama kedua temannya. Respon Danita sama seperti yang Ignacia bayangkan. Gadis itu bersemangat, dia katanya akan menjadwalkan liburan ini jika memang itu yang Ignacia inginkan. Jujur saja dia juga ingin liburan tapi terlalu takut untuk meminta kedua temannya.
Lantas Ignacia balik bertanya hadiah apa yang Danita inginkan untuk hari ulang tahunnya yang kebetulan berbeda sebulan dengan Ignacia. Barangkali Ignacia bisa menyiapkannya lebih awal agar semuanya sudah siap. Danita menjawab jika liburan yang akan ketiganya rencanakan ini akan jadi hadiah untuknya juga.
Kalau begitu waktunya untuk menghubungi Nesya dan menentukan jadwal. Urusan keuangan ketiganya akan menabung sebelum hari keberangkatan. Setelah mengobrol bertiga, ditentukan hari liburan mereka akan dilakukan sebelum semester tujuh, mengindari pengerjaan skripsi. Masih ada banyak waktu untuk menabung.
"Dan yang paling penting, kita harus mencari tempat makan enak setelah bermain di pantai!" Nesya berseru. Dia siap-siap mengetikkan nama pantai berikut dengan daftar tempat makan enak di sekitarnya. Masih lama namun dia sudah mencari tempat makan saja.
Ignacia menceritakan soal rencana liburannya dengan Danita juga Nesya pada Rajendra ketika mereka melakukan panggilan video. Rajendra katanya iri karena ingin ikut berlibur juga. Pendidikan yang ia tempuh terlalu sibuk akhir-akhir ini hingga untuk pergi bersama teman-teman saja agak susah.
"Aku juga berharap kamu bisa ikut, Rajendra. Apa kita sebaiknya merencanakan kencan bertiga dengan Nesya jika sudah menemukan pasangan yang cocok? Kita, Danita, lalu Nesya. Bagaimana menurutmu?"
Rajendra langsung memasang wajah tidak setuju. Hatinya terasa berat jika harus bertemu dengan Bahri lagi. Tapi berkencan dengan dua pasangan lain tampak seru. "Jika Bahri tidak ikut, aku setuju saja." Jika tidak ada Bahri, Danita pasti juga tidak ingin ikut.
"Kita buat liburan sendiri saja," usul Rajendra selang beberapa saat. Ignacia setuju saja. Namun keduanya harus izin pada orang tua masing-masing jika harus berlibur seharian. Ayah Ignacia pasti tidak akan suka jika anak gadisnya ketahuan pergi dengan seorang laki-laki yang tidak pernah dikenalnya.
Obrolan terhenti perlahan setelah kekehan soal rencana liburan berdua yang tidak akan jadi kenyataan jika masih dalam status ini. Sepasang kekasih ini bergeming, memandang wajah satu sama lain. Masing-masing memendam rindu yang tidak perlu lagi diungkapkan. Dengan saling menatap saja keduanya sudah tahu.
Si gadis menggeleng pelan, "Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu pikirkan soal hadiahku. Kamu fokus saja pada pendidikan yang sedang kamu jalani. Jika kita sama-sama lenggang, kita bisa bertemu kapan saja." Senyuman manis Ignacia berikan pada kekasihnya. Begitu manis hingga Rajendra merasakan kekecewaannya.
"Maaf, Ignacia."
"Tidak masalah. Aku mengerti."
...*****...
Akhir bulan lagi. Ignacia harus mengisi persediaan dan melihat-lihat apakah ada promo untuk barang yang ia butuhkan. Kali ini dia pergi sendiri. Danita yang katanya akan ikut rupanya punya tugas yang lupa ia kerjakan. Jadinya dia akan menatap di asrama dan mengerjakannya hingga tuntas. Ignacia sempat akan membantu temannya untuk membeli barang-barang juga, namun Danita menolak.
Sesampainya di tempat Ignacia biasa membeli kebutuhan bulanan. Langsung saja ia mengambil keranjang belanja dan mencari-cari barang yang ia butuhkan. Keadaan tokonya cukup ramai dengan keberadaan para mahasiswa yang Ignacia ketahui juga penghuni asramanya. Tempat ini sudah mirip tempat kedua bagi para mahasiswa di kampusnya saja.
"Hah? Kenapa tidak beli saus yang biasa saja? Di rak ini banyak sekali jenis saus." Ignacia tidak sengaja mendengar ocehan seseorang lewat telfon. Suaranya tampak familier. Ketika si gadis menoleh untuk melihat siapa itu, rupanya perasannya besar. "Apa yang kau lihat?" Ketus laki-laki yang masih menelfon itu pada Ignacia.
"Saus apa yang kau cari?" Ignacia bertanya.
"Saus untuk spaghetti. Bolo-bolo apa lah itu." Bahri menyempatkan diri untuk bicara dengan temannya lalu mengakhiri panggilan. Dia memerhatikan Ignacia yang mencari saus untuknya.
Ignacia mengedarkan pandangannya ke arah rak yang sedang dihadap oleh Bahri. Diraihnya satu dan diberikan pada temannya. "Kenapa kau ada disini? Dari banyaknya tempat belanja kenapa kau ada disini?" Ignacia balik bicara ketus.
"Aku ingin menemui Danita. Lalu temanku tadi menelfon untuk membelikan saus. Katanya di minimarket yang dia datangi tidak ada saus itu." Ah Ignacia hampir lupa jika temannya ini tidak akan bisa berpisah dengan kekasihnya barang sehari. Ketika Bahri pergi saja Danita seakan kehilangan semangat hidup.
Ignacia menganggukkan kepalanya paham lalu berlalu mencari barang untuknya. Bahri mengekor. Entah untuk apa dia mengikuti Ignacia padahal katanya dia akan menemui Danita. Ignacia lantas bertanya. Bahri menjawab jika Danita bisa ditemui setelah tugasnya selesai. Dia akan dikabari jika sudah selesai nanti.
"Daripada aku duduk-duduk di depan seperti orang bodoh, lebih baik aku berkeliling bersamamu." Bukan jawaban yang Ignacia kira, namun baiklah. Terserah apa mau laki-laki itu. Omong-omong jika Rajendra ada disini, kekasihnya itu pasti akan langsung berjaga-jaga agar Bahri tidak bisa mendekat.
Bahri bertanya soal rencana liburan Ignacia dengan kedua temannya. Dia bertanya kenapa bisa tercetus ide itu sebagai hadiah ulang tahun. Hadiah untuk dua orang pula. Ignacia diam saja mendengarkan, terlalu mengantuk dan ingin cepat-cepat pulang. Meskipun tidak ada respon, sesekali Bahri menyampaikan rasa penasarannya soal liburan itu.
Padahal hanya liburan biasa.
"Kau tidak punya pekerjaan lain?" Ignacia lelah mendengarkan temannya itu. Ignacia tahu jika Bahri hanya khawatir Danita pergi jauh tanpanya. Ignacia sangat paham bagaimana rasanya ketika kekasihmu harus pergi jauh dan tidak bisa kau gapai. Tapi ayolah, Danita akan baik-baik saja.
"Apa aku tidak bisa ikut? Aku akan mengantar kalian kesana. Aku hanya ingin membuatnya tetap aman."
Ignacia berbalik, menatap Bahri yang berdiri tepat di belakangnya. "Aku mungkin sebaiknya tidak ikut campur tentang apa yang terjadi hingga kau tidak ingin melepaskan Danita, tapi apa sebaiknya aku tahu untuk menghindari hal-hal yang tidak perlu? Aku tidak memaksa, hanya saja kau aneh sekali hingga ingin ikut di liburan para gadis."
Bahri tidak langsung menjawab. Ia meraih minuman dingin dari dalam lemari pendingin yang kebetulan ada di sebelah mereka. Mengajak Ignacia duduk sebentar untuk mendengar ceritanya dengan Danita. "Aku akan menyogokmu dengan Thai Tea agar kau tidak menolak," tambahnya. Bahri lalu membawa dua botol Thai Tea di tangannya. Mendahului menuju kasir.
Selesai dengan urusan belanja, kedua teman ini duduk di sebuah bangku taman dekat trotoar. Ignacia mendapatkan sogokan dari Bahri kemudian mendengarkan cerita yang akan laki-laki itu sampaikan. Rasanya seperti kembali di masa lalu ketika Ignacia mendapatkan minuman dingin yang serupa. Bedanya hanya Rajendra tidak akan muncul.
"Apa aku benar dengan duduk berdua bersama laki-laki lain tanpa Rajendra? Sesuatu yang buruk akan terjadi jika aku melakukan ini kan? Apa aku siap dengan konsekuensinya?" Ignacia mengutuk dirinya sendiri. Pasti salahnya karena mau-mau saja berada di situasi ini.
Bahri mulai dengan kisahnya dengan Danita. Gadisnya itu dulu memiliki rasa takut ketika bertemu dengan pria dewasa yang sangat asing untuknya. Perasaan seperti cemas yang berlebihan. Bahri tidak menjelaskan lebih lanjut alasannya, Ignacia mungkin sebaiknya tidak tahu. Laki-laki itu hanya ingin temannya ini menjaga gadisnya selama liburan.
"Mungkin terdengar berlebihan, tapi tidak ada yang bisa kulakukan selain menitipkannya padamu." Bahri menoleh pada Ignacia beberapa saat lalu kembali menatap jalan raya di hadapan. "Maaf jika aku merepotkan. Kuharap perjalanan kalian menyenangkan," ucap Bahri menambahkan.
Ignacia mulai mengerti kenapa Bahri selalu menemani Danita ketika keluar asrama. Tidakkah Bahri adalah tipe orang yang sangat sempurna untuk teman Ignacia itu? Selain pandai merespon curhatan Ignacia, dia juga pandai menjaga kekasihnya agar tetap aman dan bahkan melakukan apapun untuknya. Termasuk permintaan untuk menjemput laki-laki yang tidak begitu disukainya di stasiun.
Ignacia mengerti bagaimana rasanya memiliki rasa takut. Danita pasti kesulitan selama ini tanpa Ignacia tahu. "Menurutmu karena itu dia sangat menjagaku selama di asrama? Dia orang pertama yang akan datang padaku ketika- ah aku sekarang mengerti. Tenang saja, aku akan menjaganya sebisaku."
Ada anggukan kecil dari laki-laki yang duduk di sebelahnya. "Ah ya benar juga, sekarang aku yang curhat padamu bukan sebaiknya. Kurasa sekarang aku tahu rasa lega setelah mengungkapkan perasaan yang ditimbun sendiri."
"Kenapa kau menahannya sendiri?"
"Kukira Danita tidak akan senang jika ada orang lain yang tahu soal ini selain keluargaku dan keluarganya. Aku harus menceritakan sedikit soal Danita padamu agar kau tahu dan bisa menjaganya. Kuharap Danita tidak marah padaku setelah dia tahu aku bercerita padamu."
Jika Ignacia adalah Danita, mungkin dia akan kesal karena kekasihnya duduk berdua dengan gadis yang tidak dikenalnya dengan baik dan saling bertukar simpati. Beruntungnya Ignacia bukan Danita. Rasa bersalah menyelimuti Ignacia jika saja Danita marah pada kekasihnya karena teman masa lalu yang tidak pernah dia ketahui.
Ignacia membuka Thai Tea miliknya, akan ia teguk namun terhenti sebentar karena ucapan iseng Bahri "Rajendra tidak akan muncul sekarang kan?" Gadis itu menggeleng pelan dan melakukan aktivitasnya.
"Terima kasih untuk Thai Teanya. Akan kubayar dengan menjaga Danita hingga kembali padamu. Oh ya, mungkin kau bisa menjemput kami setelah berlibur untuk memastikan Danita baik-baik saja." Bahri berpikir cukup lama hingga Ignacia sudah akan menyudahi acara duduk-duduk disini. "Pikirkan sambil berjalan ke asrama. Temui Danita seperti rencanamu."