
"Kenapa kakak pulang sekarang? Aku saja tadi sengaja keluar rumah agar Ignacia tidak terlalu canggung. Kulihat kakak juga mengobrol dengannya." Gafar membuka kulkas, menemukan kue coklat yang dibawakan Ignacia. "Kue darimana ini?" Aroma coklat yang kuat mengubah seluruh isi kulkas jadi toko roti. Karena tertarik, Gafar kemudian mengambil satu potong.
"Itu dari Ignacia." Sedangkan Amira duduk di salah kursi makan, meneguk air yang hanya sempat ia minum setengah. "Duduklah dan temani aku sebentar." Adik pertamanya itu tidak akan menolak. Lagipula lebih nyaman makan disini daripada di kamar. Piring yang barusan ia pakai untuk mengambil sepotong kue bisa langsung dicuci.
Kuenya enak, Gafar mencoba memakannya dengan pelan agar terasa lebih enak. "Kakak belum menjawab pertanyaan pertamaku. Kenapa kakak pulang hari ini? Kukira kakak tidak bisa datang karena Kak Qabil akan mendapatkan bonus dengan jatah cuti yang tidak diambil bulan ini." Ia tentu mendapatkan informasi dari ibunya.
Amira tidak menjawab, menulikan telinga. Merasa tidak perlu menjawab rasa penasaran adiknya. Ia teguk kembali air di dalam gelasnya. Beberapa terdengar suara hembusan nafas berat dari wanita di samping Gafar. Ibu memberitahu anak keduanya jika Amira begitu senang melihat Ignacia. Lalu sekarang ada apa? Kebahagiaannya terbawa oleh kekasih adiknya?
Qabil dan Maaz sudah berada di kamar, mungkin sudah terlelap mendengar tidak ada suara dari dalam sana sejak tadi. Gafar menatap sekeliling, seperti ada yang kurang namun entah apa. Oh ya ia belum melihat Rajendra sejak tadi. Ibunya bilang anak bontot itu pergi mengantar Ignacia pulang tiga puluh menit yang lalu. Dan sampai sekarang anak itu belum kembali.
"Kelihatannya Rajendra masih menghabiskan waktu dengan kekasihnya malam ini. Kakak tidak mengacaukan rencana Rajendra kan?" Gafar hanya ingin memastikan. Jangan sampai kepergiannya menemui pujaan hati tidak membuahkan hasil. Gafar tidak akan kecewa, toh berkat Rajendra ia bia mengajak pujaan hatinya jalan-jalan.
Amira masih tidak menjawab, ia sandarkan tubuh lelahnya pada sandaran kursi. Siapa sangka ia akan membicarakan adik kecilnya dengan calon adik ipar yang belum pernah ia kenal. Bagaimana bisa Amira membicarakan seseorang yang membuatnya selalu putus asa tanpa jeda sedikitpun? Dunia pasti sudah gila.
Tangan kiri Amira mengepal erat. Emosi yang selama ini ia pendam akhirnya didengar orang lain juga. Amira ingin melupakan semua soal adik keduanya dengan memberitahu Ignacia. Seseorang yang mungkin terbantu dengan informasi remeh yang ia sampaikan selama menit-menit kebersamaan tadi. Amira senang Ignacia mendengarkan semua ucapannya bukan hanya karena dia adalah kakak Rajendra. Gadis itu tampak nyaman berada di dekatnya juga.
"Aku hanya mencari teman. Kenapa aku harus merusak rencana orang lain?" Amira menyudahi acara duduknya bersama Gafar. Dikiranya anak itu tidak akan menyinggung namun malah sebaliknya. Amira lebih baik pergi menemui keluarga kecilnya yang sudah susah payah membawanya kemari. "Bersihkan gelasku juga setelah kau selesai," pesan Amira sebelum benar-benar pergi meninggalkan dapur.
Qabil dan Maaz sudah tidur seperti dugaan Amira. Wanita itu duduk di tepi tempat tidur, menatap sendu kedua laki-laki tangguhnya tertidur dalam keadaan damai. Amira ingin minta maaf sudah menggunakan Maaz sebagai alasan untuk datang kemari dan menyesal sudah membuat Qabil mengambil jatah cuti hingga bonus bulan ini akan dipotong sedikit. Amira sudah tidak tahan lagi, dia butuh seseorang yang nyaman bersamanya dan menerima semua cerita soal Rajendra.
"Ira," lirih suami Amira. Qabil membuka matanya sedikit, menyesuaikan pencahayaan sekitar lalu duduk di samping sang istri. "Kenapa baru datang? Aku sudah menunggu daritadi. Ayo tidurlah di samping Maaz." Kesadaran Qabil kembali sepenuhnya, ia peluk wanita mempesona itu dengan lembut. Tangannya bergerak mengelus punggung istrinya.
"Semuanya baik-baik saja kan? Jika ada masalah, katakan saja padaku. Akan kutempatkan diri sebagai teman yang baik jika kamu menginginkannya." Amira tidak lagi menangis ketika suaminya berlaku sangat lembut. Dirinya hanya merasa lebih tenang dan bahagia. Perlahan Amira membalas dekapan suaminya, ia sandarkan kepala pada bahu Qabil.
...*****...
Ignacia tidak lagi terkejut dengan hadiah kecil yang Rajendra sematkan pada bibirnya beberapa detik yang lalu. Ada yang aneh dengan tingkah kekasihnya. Memang tidak terlihat begitu jelas, Ignacia hanya merasakannya samar dalam hati. Tatapan Rajendra seolah menyimpan rahasia besar tanpa ingin diketahui siapapun. Ignacia juga seperti tidak boleh tahu.
"Masuklah, sudah malam." Rajendra tersenyum kecil, menatap lurus ke arah mata kekasihnya.
"Sebelumnya apa aku boleh bertanya sesuatu?" Laki-laki di hadapannya itu mengangguk, mempersilahkan kekasihnya menanyakan apapun. "Jika aku ingin menemui kamu, kemana aku harus pergi? Mungkin aku bisa menemui kamu lagi seperti dulu di kotamu. Aku tidak ingin membebani kamu dengan selalu datang padaku ketika merasa lenggang."
Rajendra melepas helmnya sebelum menjawab. Rajendra tidak punya jawaban, dia hanya ingin terlihat lebih santai agar Ignacia tidak menyadari sesuatu. Selang beberapa detik laki-laki itu menjawab, "Biarkan aku yang mendatangi kamu, Ignacia. Aku tidak keberatan jika harus datang padamu. Jadi jangan pergi kemana-mana agar aku tidak khawatir. Mengerti?"
Ignacia juga ingin mendatangi Rajendra lagi. Rasanya seru ketika dirinya yang berjalan ke arah kekasihnya itu di tempat yang tidak begitu ia kenal. Dengan begitu Rajendra bisa menjaganya karena ia yang paling paham kan? Juga jika Ignacia yang mendatangi Rajendra sesaat setelah kesibukannya berakhir, keduanya jadi lebih cepat bertemu.
Sekali lagi Rajendra meminta kekasihnya untuk masuk. Rajendra akan memastikan kekasihnya masuk ke dalam rumah sebelum pergi. Setelah gadisnya menghilang di balik pintu, Rajendra kembali memakai helmnya, menyalakan mesin motor lalu kembali menuju jalan raya. Di tengah perjalanan, ada sesuatu di dalam diri Rajendra yang seolah menolak untuk segera pulang.
Ibunya tidak memberikan jam khusus pada Rajendra mengingat usianya yang sudah dewasa dan mampu mengatur segalanya sendiri. Jadilah arah motornya dibelokkan ke alun-alun. Mungkin menetap sebentar sambil menenangkan diri bukan sesuatu yang salah. Rajendra akan pulang setelah merasa lebih damai.
Banyak pikiran berkecamuk di kepalanya saat itu. Kenapa kakak perempuannya harus datang ketika kunjungan Ignacia? Kenapa sangat kebetulan? Apa ibunya mengatakan sesuatu soal kedatangan Ignacia tanpa sepengetahuan Rajendra? Ia tahu jika ibunya sering menghubungi kakaknya jika tidak pulang ke rumah. Apa Ignacia juga mereka bicarakan lewat pesan?
Rasanya tidak mungkin jika Kak Amira datang hanya untuk menemui Ignacia. Rumahnya diluar kota, jaraknya tidak dekat, juga pekerjaan suaminya di kantor tidak bisa tiba-tiba ditinggalkan. Maaz mungkin punya dua hari libur setiap Minggu, berbeda dengan ayahnya.
Ponsel Rajendra bergetar sekali, tanda ada sebuah pesan yang masuk. Rupanya Ignacia yang mengirimkan pesan. Rajendra mengintip isi pesannya lewat notifikasi di layar kunci. Gadis itu bertanya apakah Rajendra sudah sampai di rumah. Apa Rajendra harus segera pulang agar tidak berbohong pada Ignacia? Tapi hatinya masih belum tenang. Rencananya tidak berjalan sempurna.
Pesan lainnya masuk, kini dari kakak laki-laki Rajendra. Pesan agar Rajendra cepat pulang dan mengunci pagar depan. Rajendra diingatkan agar tidur teratur agar tidak sakit ketika kembali keluar kota. Benar, Rajendra masih punya tanggungjawab di tempat lain. Lima menit lagi ia akan pulang dan beristirahat.
"Ignacia, baru pulang?" Mama menghampiri anak gadisnya. Duduk di salah satu sofa untuk meneguk segelas air yang dibawa. Ignacia kita semua orang sudah tidur, karena itu ia tidak menunjukkan tanda bahwa dirinya sudah di rumah. "Bagaimana kunjungannya tadi? Semuanya berjalan lancar? Kuenya bagaimana? Orang tua Rajendra menyukainya?"
Mamanya langsung menyerang dengan banyak pertanyaan setelah tenggorokannya basah lagi. Ignacia mengganti fokus pada mamanya agar bisa menjawab semuanya. Ignacia senang melihat kuenya dinikmati oleh keluarga kekasihnya. Ignacia bahkan sempat melihat Maaz dan ayahnya berdebat soal porsi kue yang boleh dimakan malam ini.
Aroma kue coklat yang Ignacia buat memang enak sekali. Karenanya Ignacia jadi buru-buru membuat kue lainnya bersama sang mama karena Arvin ingin mencobanya juga. Tidak mungkin Ignacia akan memotong kue untuk Rajendra agar adik kecilnya bisa mencoba juga. Rasanya juga tidak kalah enak.
"Omong-omong kenapa kamu belum berganti pakaian jika sudah sejak tadi pulang? Kamu menunggu apa?"
"Mama tidur saja, aku akan membersihkan diri nanti." Mamanya masih tidak ingin pergi, penasaran apa yang akan dilakukan anaknya hingga menunda jam istirahat. Memang sekarang belum larut, Ignacia bebas ingin melakukan apa karena dirinya sekarang juga sudah bukan mahasiswa lagi. "Mama tidak ingin tidur lebih awal?" Ignacia bertanya.
Bukannya menjawab, mamanya justru melayangkan tatapan aneh pada Ignacia. Seperti biasa membaca pikiran anaknya. Seperti tahu apa yang membuat anaknya menunda-nunda. Ignacia terkekeh, rasa khawatir pada Rajendra sedikit berkurang. Karenanya Ignacia menyampaikan kegundahannya pada sang mama tanpa ditanya.
"Oh soal Rajendra rupanya. Kalau begitu cepat selesaikan lalu istirahat. Sedari pagi kamu sudah melakukan banyak hal." Mama Ignacia bangkit dan berlalu pergi. Meninggalkan Ignacia bersama dengan keheningan luar biasa. Ketiga adik juga ayahnya pasti sudah tidur.
Sepuluh menit berlalu, masih belum ada kabar dari Rajendra. Kemana gerangan laki-laki tercintanya itu? Ignacia membawa ponselnya ke kamar. Dibiarkan masih menyala sementara dirinya pergi berganti baju. Rajendra masih belum muncul. Dan sudah waktunya untuk pergi tidur. Ignacia mengirimkan satu pesan lagi, "Selamat malam, terima kasih untuk hari ini."
...*****...
"Kenapa lama sekali?" Gafar menatap datar adiknya. Yang di tatap tidak menjawab, merasa tidak perlu. "Bagaimana Ignacia saat bertemu dengan Kak Amira? Kukira aura Ignacia itu lebih kalem dan dingin daripada kakak. Semuanya berjalan baik?"
Sama seperti Amira, adik kecilnya ini juga seakan enggan menjawab. Kenapa mereka kompak sekali membuat Gafar penasaran. "Kak Amira terlihat lelah. Energinya mungkin diberikan semuanya pada kekasihmu itu. Omong-omong kue Ignacia enak sekali. Katakan terima kasihku jika kau bertemu dengannya. Aku sudah makan dua potong."
Gafar meninggalkan adiknya yang akan mengambil minum dari kulkas. Acara makan sendiriannya sudah berakhir. Sudah waktunya untuk mengirimkan pesan pada pujaan hati sebelum tidur. Begitu pintu kamarnya tertutup, Rajendra tidak segan-segan menunjukkan wajah kecewanya. Ia sangat ingin mendekatkan Ignacia pada ibunya.
Selesai dengan urusan membasahi tenggorokan, Rajendra berjalan menuju kamar. Ia lihat sebuah pesan baru yang datang lima menit lalu. Rajendra segera membersihkan diri lalu berniat untuk menelfon Ignacia. Mungkin dengan begitu dirinya bisa tidur dengan tenang. Ada yang bilang jika orang akan lebih jujur ketika sedang lelah. Karenanya menyenangkan membicarakan hal berat di malam hari sebelum tidur.
Tidak biasanya akan ada nada tunggu yang lumayan lama ketika Rajendra menghubungi gadisnya. Ignacia pasti sudah tidur, pikirnya. Ketika akan mematikan panggilan yang masih belum tersambung, tiba-tiba seseorang di ujung sana membatalkan rencana Ignacia. "Halo," lirih Ignacia.
"Kamu tadi sedang tidur? Maaf sudah membangunkanmu." Rajendra seharusnya menunggu hingga besok.
"Tidak apa. Kenapa kamu menelfon? Tadi aku mengirimkan pesan, kamu tidak melihatnya?" Gadis yang hampir memasuki gerbang menuju dunia mimpi itu bergerak mendudukkan diri. "Baguslah jika kamu sudah di rumah. Aku khawatir karena kamu tidak membalas cukup lama." Kesadaran Ignacia kembali sedikit demi sedikit. Senyuman aneh mengembang di wajahnya.
Rajendra memutuskan untuk bercerita pada Ignacia soal rencananya. Soal dirinya yang berniat mendekatkan sang ibu dengan gadisnya. Entah Ignacia akan mengingat apa yang Rajendra katakan setelah bangun besok atau tidak. Yang jelas dengan bercerita, Rajendra akan merasa lebih tenang. Jadi Ignacia mendengarkan dengan seksama tanpa memotong.
"Ya, kurasa aku lebih banyak mengobrol dengan Kak Amira daripada ibumu. Tapi aku senang disambut sangat hangat oleh kakakmu, Rajendra. Maksudku ... Kakakmu baik sekali mau mengajakku bicara lebih dahulu dan menceritakan banyak hal yang seru jika kuketahui." Ignacia menahan rasa kantuknya. Ia kedipkan mata berniat tetap terjaga.
"Apa yang kalian bahas hingga seseru itu?" Rajendra bertanya iseng.
"Tentang kamu yang bekerja keras sampai saat ini. Kak Amira tahu banyak soal kamu karena kalian keluarga. Aku senang bisa di ajak berbagi cerita tentang kamu." Rajendra pasti berhalusinasi. Mana mungkin kakaknya membahas soal dirinya. Apalagi dengan hubungan keduanya yang sudah lama tidak dekat. Ignacia sedang melantur, pikirnya.
Di ujung panggilan itu Ignacia tekekeh pelan, "Aku senang kamu bisa masuk ke sekolah menengah yang sama denganku. Kita bisa bertemu karena keputusanmu yang berani." Ignacia rasanya tidak kuat. Matanya terpejam sambil berbicara.
"Kakakku tidak mengatakan apapun soal kuliahku dan sebagainya kan?" Kini Rajendra waspada. Ucapan Ignacia barusan sepertinya berhubungan dengan masa lalu yang belum pernah ia bahas dengan Ignacia. "Ignacia," panggil Rajendra beberapa kali namun tidak ada jawaban.
"Kalau begitu rencanaku yang lain masih belum gagal." Rajendra bergumam. Dibalas suara dengkuran samar yang keluar dari ponselnya. Ah Ignacia sudah berada di alam mimpi. Ponselnya masih terselip di antara bantal atau mungkin jatuh dari tempat tidur. Ada suara samar lainnya yang terdengar.