
"Terima kasih untuk jalan-jalan hari ini, Rajendra. Kamu tidak ingin masuk sebentar? Kita bisa membagi kuenya di dalam." Entah sudah berapa kali Ignacia ingin agar kekasihnya masuk dan membagi kue yang mereka buat tadi. Kebetulan kedua orang tua Ignacia tengah pergi keluar untuk membeli pot sebelum tokonya tutup.
Sekeras apapun Ignacia memohon, Rajendra tetap tidak mau membagi kuenya. "Ini kan kue ulang tahunmu, jadi untuk kamu saja. Makanlah bersama keluargamu. Anggap saja ini sebagai kado dariku." Kalimat Rajendra yang terlampau lembut menggetarkan hati Ignacia. Sebuah kode untuk dirinya berhenti memaksa laki-lakinya.
"Terima kasih atas semua yang kamu lakukan untukku hari ini, Rajendra. Aku sangat menyukainya." Sebuah hadiah diberikan Ignacia lewat kecupan singkat di pipi dingin Rajendra, "Hubungi aku setelah kamu sampai di rumah. Berhati-hatilah di jalan."
Rajendra mengangguk patuh. Masih dengan posisinya yang berada di atas sepeda motor, laki-laki bertubuh jangkung itu melenggang pergi meninggalkan rumah kekasihnya. Menghilang di tikungan hingga suara mesin motornya tidak lagi terdengar.
Sementara Ignacia masih setia berdiri di tempatnya tadi berbicara dengan Rajendra, menatap nanar kepergian Rajendra yang terasa agak menyesakkan. Keduanya baru saja berpisah, namun rasa sakitnya sudah datang pada Ignacia saja. Hatinya terluka padahal tahu Rajendra tidak akan meninggalkannya.
"Ada apa denganku?" gusar si gadis. Dia bergerak menuju pagar lalu masuk ke dalam rumah yang terkesan kosong. Athira dan kedua adiknya pasti tengah sibuk dengan aktifitas masing-masing di ruangan lain. Tidak ada yang menyambut kedatangan Ignacia dengan membawa kue ulang tahun di tangannya.
Di dalam keheningan, Ignacia melangkah masuk ke dapur, niat meletakkan kue agar bisa dimakan besok bersama anggota keluarga lainnya. Dalam perjalannya meninggalkan dapur, sesuatu seakan menusuk dada Ignacia membuatnya sulit bernafas. Kegilaan apa lagi yang mendatangi Ignacia malam ini? Tidakkah sudah cukup bersikap kekanak-kanakan?
Ignacia mencoba untuk mengatur nafas. Menarik dan mengeluarkan udara lewat hidung juga mulut demi pernafasan yang lebih baik. Air mata tiba-tiba turun dengan deras melewati pipi mulus si gadis. Kakinya melemas, Ignacia terduduk di lantai dapur yang dingin. Tatapan kosongnya ia layangkan pada lantai di hadapannya masih dengan air mata yang terus mengaburkan pandangannya.
Tubuh gadis itu bergetar, tangannya bahkan tidak mampu mempertahankan kepalan. "Apa yang salah denganku?" Butiran bening yang turun dari kedua kelopak mata Ignacia membasahi lantai di bawahnya. Semakin Ignacia berusaha menahan, semakin mereka jatuh tanpa bisa dikendalikan.
Dengan sisa-sisa tenaga, Ignacia mencoba untuk mengusap air matanya dengan lembut. Berharap derainya segera terhenti sebelum ayah dan mamanya kembali. Dia juga harus segera pergi ke kamar untuk membersihkan diri. Jangan sampai ketiga adiknya melihat dirinya begitu menyedihkan disini.
"Ignacia, kau sudah dewasa, tidak seharusnya kau terus ingin menjadi pusat perhatian Rajendra. Kau seharusnya bisa menemukan kesenanganmu sendiri. Apa tidak cukup satu rak penuh buku untuk membuatmu melupakan fakta? Kau sudah dewasa, Ignacia. Kau tidak seharusnya kecewa saat ditinggalkan untuk beraktivitas. Kau sudah-"
Ignacia tidak mampu melanjutkan kalimatnya. "Jika aku sudah dewasa, kenapa aku tidak boleh kecewa ketika tahu akan kembali ditinggalkan dalam waktu lama? Dunianya bukan hanya tentangku, kenapa dia membuatku kesepian? Kenapa sosoknya seolah pergi ketika kami tidak bersama?"
Suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar oleh Ignacia. Keberadaan ketahuan oleh seseorang itu, disusul dengan langkah kaki kecil lainnya. Ignacia merasa sangat menyedihkan karena tampil buruk di hadapan mereka. "Menurutmu kenapa, Athira? Orang yang selalu ingin mendapatkan sosok pendamping di hidupnya tidak berhak merasa kecewa ketika ditinggalkan?"
Adik tertua Ignacia tampak panik ketika bertemu mata dengan sang kakak. Wajah cantik kakaknya berubah basah, air wajah bersemangat pagi tadi lenyap tak berbekas. Segala macam pertanyaan Athira tujukan karena Ignacia tidak menjawab sedikitpun. Lidah Ignacia kelu, pikirannya terbang. Rafka dan Arvin kebingungan. Tidak tahu harus melakukan apa.
Athira meminta kedua adiknya untuk membukakan pintu kamar kakaknya dan mengambilkan segelas air untuk dibawa kesana. Setelah kepergian keduanya, hanya ada Athira dan Ignacia dalam keheningan panjang.
Ignacia tertunduk, air matanya sudah berhenti tanpa diminta. Hatinya terasa lebih tenang. Perasaan buruknya sirna dalam sekejap seperti sulap. Bersamaan dengan itu tubuhnya yang bergetar terasa lelah. Athira melihat perubahan pada bahu kakaknya dan segera membawa kakaknya ke dalam pelukannya. Athira menepuk-nepuk pelan punggung kakaknya niat menenangkan sambil membisikkan kalimat penenang.
"Apa yang terjadi? Kenapa kakak duduk di lantai? Kakak bisa menceritakan semuanya padaku."
"Aku merasa bersalah pada Rajendra. Kasihan dia karena tidak bisa menyelesaikan dunianya sendiri karena merasa bersalah. Tadi dia berkata jika dia menyesal sudah membuatku tertinggal di belakang. Aku belum mampu menjadi perempuan yang baik."
Athira menggeleng, "Kakak adalah perempuan paling hebat. Setiap bertengkar, kakak tidak pernah meminta putus dari Kak Rajendra dan terus berjuang bersama. Rajendra tidak bermaksud membuat kakak merasa buruk. Kak Rajendra pasti hanya meminta maaf pada kakak."
Tidak ada niatan apapun dalam diri Ignacia untuk membalas pelukan adiknya. Dirinya sibuk mencoba untuk memahami apa yang coba Athira sampaikan. "Menurutmu aku masih belum dewasa, Athira? Aku bahkan tidak bisa mengendalikan emosi dan kecewa seperti anak kecil."
Athira tidak mampu menjawab. Kakaknya tidak akan dengar jika dirinya mengatakan sesuatu yang berlawanan dengan ucapannya. Yang penting sekarang mengembalikan kesadaran kakaknya dan menganggap semua ini tidak pernah terjadi.
"Rajendra tadi mengatakan sesuatu padaku," ucap Ignacia di sela-sela papahan adiknya. "Dia bilang bahwa kami akan jarang berkomunikasi setelah ini. Katanya pendidikannya akan jadi padat. Dan jika dia mendapatkan pekerjaan tetap dalam waktu dekat, Rajendra khawatir tidak bisa sering menemuiku."
Si adik yang memapah sang kakak mencoba untuk mencerna semuanya yang baru terjadi. Jika apa yang kakaknya sampaikan tadi sesuai dengan kalimat dari Kak Rajendra, berarti kebencian kakaknya soal ditinggalkan sendirian pasti muncul karenanya. Kak Rajendra tanpa sadar telah menyulut sumbu kesabaran kakaknya hingga meledak.
...*****...
"Bagaimana kencannya tadi?" Ibu Rajendra sudah menunggu di dekat pintu. Melipat tangan di depan dada dan melihat anak laki-lakinya yang sedang kasmaran memarkirkan sepeda motornya. "Kenapa terlihat sedih begitu? Apa sesuatu terjadi pada Ignacia? Hubungam kalian baik-baik saja kan?" Rajendra menatap ibunya beberapa detik tanpa bicara. Tidak tahu apakah dia harus bercerita atau tidak.
Sampai di dalam rumah pun Rajendra masih enggan bicara. Sang Ibu mengikuti anak bungsunya hingga ke kamarnya. Rajendra masih tidak ingin mengatakan apapun. Ibunya menyerah, mungkin sebaiknya dia tidak tahu masalah antara Rajendra dan anak perempuan yang sudah merebut hati anaknya itu. Atau mungkin Rajendra belum siap mengatakannya.
Ibu Rajendra beralih pergi ke dapur. Melanjutkan kegiatan mengupas bawang untuk membuat makanan yang bisa dihangatkan sebagai sarapan besok. Barulah ketika wanita itu bangkit dari duduk dan akan membuang sampah kulit bawang tadi, Rajendra muncul dengan wajah serius.
Ibunya yang mendengar pertanyaan tidak jelas itu pun berhenti dari aktifitasnya. Ditatapnya wajah sang anak, menanyakan maksud dari pertanyaannya. Dari sorot mata Rajendra, wanita ini merasa ada yang tidak beres dengan anak laki-lakinya.
"Duduklah, kita bicarakan," pinta sang ibu tenang.
...*****...
Athira tak sengaja bertemu dengan ayah dan mamanya ketika keluar dari kamar kakaknya. Ditutupnya pintu kamar sang kakak sebelum menjawab pertanyaan mamanya. "Iya, kakak sekarang sedang istirahat. Lebih baik mama jangan menemuinya malam ini. Kakak tidak sedang baik-baik saja." Mamanya tentu bingung dengan apa yang baru saja anaknya katakan.
Melihat mamanya membutuhkan informasi lebih, Athira pun mengajak mamanya duduk di halaman depan. Ayahnya yang sedang memindahkan pot baru ke belakang tidak perlu mendengarkan. Sebelum bicara, Athira memastikan agar ayahnya tidak akan tanpa sengaja mendengar.
"Kak Ignacia sedang sedih karena katanya Kak Rajendra akan sulit mengirimkan kabar atau menemuinya. Aku tidak tahu apa yang Kak Rajendra lakukan selama ini, namun kurasa Kak Rajendra sudah membuat kakak merasa kesepian lagi, Ma." Sang mama mengerutkan dahi, mencoba menerjemahkan ucapan Athira ke bahasa yang lebih mudah di mengerti.
"Aku melihat kakak duduk di lantai dapur sambil menangis karena takut Kak Rajendra akan sibuk dan tidak punya waktu untuknya. Kakak takut tidak terlihat lagi." Darisana mamanya mulai paham. Anak perempuannya khawatir jika orang yang ia sayangi harus pergi mengarungi dunia sendirian dan meninggalkan dia di belakang.
Ingatan mama Ignacia kembali pada saat anak pertama mereka menangis ketika kedua orang tuanya baru pulang kerja. Saat itu Ignacia kecil masih berusia lima tahun. Kedua orang tuanya harus bekerja sementara Ignacia tinggal di rumah bersama seorang tetangga mereka untuk dijaga.
Ignacia kecil berlari ke arah orang tuanya sambil menangis, dia berkata bahwa dia takut karena mama dan ayahnya tidak ada di rumah untuknya. Kedua orang tuanya tidak mengatakan apapun pada Ignacia selain ketika dia bangun dan akan tidur malam. Waktu orang tuanya terlalu sedikit hingga Ignacia takut orang tuanya tidak kembali.
Tangisan Ignacia kecil membuat mama ayahnya sedih. Mereka tidak punya pilihan selain bekerja dan mengejar lembur demi uanh tambahan. Kondisi perekonomian yang belum stabil membuat keduanya harus terus mengulang hari dengan berangkat pagi lalu pulang malam.
Umur Ignacia kecil bertambah setahun. Ignacia kecil masih saja menangis karena orang tuanya pergi bekerja. Athira kecil sudah bisa menemani Ignacia yang dijaga oleh tetangga mereka. Namun yang Ignacia inginkan bukan keberadaan seorang adik. Setiap pulang sekolah, Ignacia akan menunggu kehadiran orang tua mereka di depan pintu.
Lambat laun Ignacia sudah menyerah untuk menunggu orang tuanya kembali. Ignacia kecil tidak lagi menangis saat kedua orang tuanya tidak bisa pulang sebelum dia tidur. Kehadiran Athira, Rafka, juga Arvin tidak membawa pengaruh apapun untuk Ignacia. Dia masih saja merasa sendirian.
Lalu ketika Arvin mengalami kecelakaan hingga patah tulang, barulah sang mama melihat perubahan dari anak gadisnya. Ignacia yang sulit mengekspresikan perasaan terhadap orang-orang di sekitarnya mulai melunak. Ditambah dengan kehadiran Rajendra, anak gadisnya jadi merasa lebih dicintai.
Athira menghembuskan nafas panjang, menyudahi kilas balik ingatan sang mama. "Menurut mama kenapa kakak merasa sangat sedih ketika ditinggalkan? Aku mengirimkan pesan dengan Kak Nesya beberapa kali. Kak Nesya bilang jika ada satu teman yang baik sekali pada kakak. Bahkan teman ini selalu ada untuk kakak meskipun tidak terlalu dibutuhkan."
"Menurut mama kenapa hanya Kak Rajendra yang bisa membuat kakak merasa tidak dicintai padahal masih ada orang baik di sampingnya?" Athira tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Hanya saja dirinya merasa tidak berguna lagi karena membiarkan kakaknya tidak bahagia.
"Di rumah ada aku, di asrama ada temannya, lalu kenapa kakak masih saja sedih jika Kak Rajendra tidak punya cukup waktu untuk memberikan perhatian? Maksudku kakak bisa saja mencari pelarian selain semua novel yang ia baca."
Mamanya mecoba untuk meraih bahu si anak kedua, seolah menyalurkan kekuatan. "Kamu tahu bagaimana kakakmu begitu menyukai Kak Rajendra? Dia laki-laki yang baik juga perhatian. Mereka mungkin memiliki kesukaan yang berbeda, tapi perbedaan itu yang membuat kakakmu tetap bersamanya. Kak Rajendra menyayangi kakakmu dengan caranya sendiri."
"Kak Rajendra pasti adalah orang yang diinginkan kakakmu. Jadi dia selalu ingin Kak Rajendra ada di sampingnya. Kakakmu akan merasa kehilangan ketika orang yang dia inginkan ada tidak bisa hadir. Sudah, jangan berpikiran negatif soal kakakmu."
Di tengah obrolan, ada pendatang yang kebetulan bergabung tanpa diundang. Yang orang itu dapati hanya keheningan panjang antara istri juga anak keduanya. Setelah mendapati tidak ada yang perlu dia ketahui, ayah Ignacia berjalan meninggalkan bingkai pintu.
Ayah Ignacia harus melewati kamar anak pertamanya untuk bisa pergi ke kamarnya sendiri. Tidak ada suara apapun dari kamar yang katanya pemiliknya sudah pulang itu. Hati sang ayah terasa berat untuk berlalu pergi. Menganggu anaknya yang baru pulang dari bermain dengan temannya juga bukan ide bagus.
Sebelum pergi ke kamar, ada air dingin yang ingin beliau ambil dari kulkas. Dan satu hal yang menarik perhatiannya adalah sebuah kue berukuran sedang yang memiliki warna dominan hitam putih. Perasaan kue ini tidak ada sebelum dirinya pergi dengan sang istri mencari pot tadi.
"Ignacia yang membawa ini?" gumam ayah Ignacia. Sekarang beliau penasaran kegiatan apa yang dilakukan anak gadisnya seharian dengan seseorang. Kenapa bisa ada kue dengan hiasan beri di atasnya ini?
Athira dan mamanya mendapati ayah mereka yang berdiri di depan kulkas yang pintunya terbuka tanpa melakukan apapun. Hanya menatap nanar sesuatu di dalamnya. Tanpa bersuara, keduanya berjalan mendekati kulkas. Netra keduanya langsung menangkap keberadaan kue yang kemungkinan besar memang dibawa Ignacia.
Athira penasaran bagaimana kakaknya bisa mendapatkan kue ini, apakah dari kekasihnya atau bukan. Sementara Mamanya berpikir jika mungkin Ignacia sengaja membeli kue dengan uangnya sendiri karena ulang tahunnya kemarin tidak dirayakan dengan makan bersama.
"Kalian sedang apa?" Arvin yang kebetulan lewat jadi penasaran dengan kegiatan keluarganya di depan kulkas. Segera dia memanggil Rafka setelah melihat ada kue di kulkas.