
"Jika ikut makan, cuci sendiri piringmu, Ignacia. Sebagai bentuk terima kasih juga untuk makanannya."
Ignacia berterima kasih pada ibu Rajendra karena sudah mengundangnya datang. Semua makanannya enak dan Ignacia sungguh menikamnya. Ibu kekasihnya juga berterima kasih karena sudah mau datang. Sekali lagi semburat merah muncul di pipi Ignacia. Wajah putihnya perlahan berubah merah. Apakah ia terlalu bahagia hingga tak bisa mengontrol raut wajahnya?
Sesuai saran Kemala, Ignacia akan mencuci piring kotor miliknya. Hitung-hitung sebagai cara kesekian untuk menarik hati orang tua sang kekasih. Belum juga Ignacia membantu membereskan meja, kakak perempuan Rajendra sudah memanggilnya saja. Mengajak tamunya ke ruang tamu untuk mengobrol.
Perasaan bingung mendatangi Ignacia, Rajendra kemudian datang untuk meyakinkan gadisnya agar mengikuti sang kakak. Katanya anggap saja keluarganya sudah menyukai Ignacia hingga tidak perlu mencuci piring sendiri. Ignacia merasa tidak enak, dirasa kurang sopan. Di sisi lain Amira memaksa agar bisa cepat-cepat mengobrol dengan Ignacia.
"Lebih baik kamu bersama Amira saja. Kamu tamu kami. Rajendra, kamu juga temani Ignacia. Biar ibu dan kakak iparmu yang mengurus sisanya. Terima kasih sudah membantu membersihkan mejanya, Ignacia." Ignacia bertambah tidak enak. Merasa merepotkan keluarga yang baru ia kenal. Amira yang tadinya menunggu di pintu dapur kini menghampiri Ignacia, membawa di gadis dengan sedikit paksaan.
Setelah kepergian Ignacia, ibu Rajendra masih menjaga senyumannya. Amira seperti bersaudara dengan Ignacia. Perlakuannya yang kelewat ingin akrab mengubah suasana rumah dari bertahun-tahun lalu. Untuk pertama kalinya anak pertamanya itu juga bersemangat terhadap orang lain.
Qabil menatap istrinya yang pergi bersama Ignacia beserta Rajendra di belakangnya. "Aku penasaran kenapa Amira begitu bersemangat. Tidak biasanya dia begitu. Apa karena yang datang itu kekasih adiknya?" Beberapa piring yang sudah dicuci ia susun di tempatnya. Tidak lupa untuk mengembalikan alat makan lain yang sudah dicuci.
Ibunya tidak menjawab, rasa penasarannya sama dengan si menantu pertama. Bagus kalau Amira sudah lebih bersemangat. Hubungannya dengan Rajendra mungkin bisa segera sembuh jika ia mendekati Ignacia seperti itu. Kran dimatikan, semua piring sudah bersih, tinggal menunggu Qabil menyimpannya saja. Si ibu mengelap tangan basahnya lalu berlalu.
Di waktu yang lain, Ignacia ingin mengatakan sesuatu pada Rajendra, hanya saja lidahnya tiba-tiba kelu. Minta maaf karena mungkin dia kurang baik ketika bertamu. Ada sesuatu di wajah kekasihnya yang tidak bisa Ignacia mengerti. Air wajahnya sungguh berbeda dari saat membawa Ignacia menjauh dari dapur. Langkah kakinya juga terlihat agak berat meskipun cepat.
"Rajendra, kamu baik-baik saja?" Pertanyaan itu lolos dari bibir si gadis tanpa sengaja. Menarik perhatian laki-laki yang menggandengnya lembut.
Beruntung Rajendra tidak mendengar suara kecil yang Ignacia keluarkan tadi. Fokusnya terbagi pada sesuatu yang tidak ingin ia bagikan dengan kekasihnya. Cepat-cepat Ignacia menggeleng, mengatakan bahwa kekasihnya sepertinya salah dengar. Sebaiknya Ignacia tidak bicara macam-macam.
Di ruang tamu, kakak Rajendra sudah menunggu dengan tidak sabar. Maaz dibiarkan main di teras dengan bola sendiri agar ibunya bisa menemui tamu adiknya. Amira mempersilahkan Ignacia duduk di sebelahnya. Rasanya berubah canggung ketika Rajendra duduk di sebelah kekasihnya. Ignacia berada di tengah-tengah kakak beradik.
Tidak sampai lima menit Maaz mendatangi pamannya, "Om Rajendra temani aku bermain." Tangan yang lebih tua ditarik-tarik, ingin dibawa keluar rumah. Rajendra tidak bisa menolak apalagi Ignacia ada di sebelahnya. Mau tidak mau ia mengikuti permintaan keponakannya. Sebelumnya Rajendra minta izin pada Ignacia untuk keluar, menitipkan kekasih pada sang kakak lewat kode mata.
Amina menaruh perhatiannya pada Ignacia, ingin tahu bagaimana Ignacia bertemu dengan Rajendra dulu. Kebetulan adiknya sedang tidak ada. "Jadi apa aku boleh bertanya soal masa lalu kalian? Rajendra belum pernah membawa gadis ke rumah." Ada senyuman aneh menggoda dari Amira. Sorot matanya seperti penasaran sekali.
Ignacia tidak akan membongkar semua masa lalu keduanya. Hanya soal mereka satu kelas ketika masih kelas dua SMP dan kemudian berkencan hingga saat ini. Amira menganggukkan kepala paham, rupanya adiknya mengalami cinta lokasi. Melihat wajah Ignacia yang menurutnya sangat cantik mana mungkin Rajendra bisa melepaskan kesempatan untuk mendekatinya.
Obrolan terus berlanjut dengan cerita-cerita lain. Membangun kedekatan singkat di pertemuan pertama. Kebanyakan Ignacia hanya menjawab dan Amira bertanya. Misalnya soal kue yang Ignacia bawakan tadi dibuat pukul berapa dan bagaimana bisa Ignacia membuatnya seenak itu? Amira diam-diam mengambil potongan kecil kuenya sebelum Ignacia dan yang lainnya muncul.
"Saya pernah-"
"Pakai bahasa santai saja jika denganku." Amira memotong ucapan Ignacia dengan cepat. Membekukan tubuh Ignacia sesaat. Bagaimana tidak? Wanita yang lebih tua beberapa tahun darinya sedang mengajak berbicara santai.
"Aku pernah membuat kue untuk Rajendra di awal ulang tahunnya. Aku memajukan tangalnya agar tidak menganggu kesibukan Rajendra waktu itu." Ingatan Ignacia kembali pada hari itu. Kue pertamanya diterima dengan baik oleh kekasihnya. Ia juga mendapatkan hadiah kecil yang manis waktu itu.
Mata Ignacia tidak mampu lagi membalas tatapan Amira. Ingatannya di masa lalu takut terbongkar. Keputusan yang diambil Ignacia membawa reaksi berbeda ketika diterima oleh Amira. Ekspresi yang Amira dapatkan seperti gadis yang merasa sedih akan sesuatu. Mungkin ada hubungannya dengan penjelasan terakhirnya mengenai kue ulang tahun Rajendra.
"Rajendra memperlakukan kamu dengan baik?" Amira membuat kontak mata lagi dengan dia yang lebih muda. "Aku paham setiap hubungan pasti punya pertengkaran masing-masing. Di samping itu Rajendra tidak pernah membentak atau menyakiti kamu? Tidak saling menyakiti?"
"Tentu saja tidak. Kami sering berdebat dulu, sekarang semuanya lebih terkendali. Kenapa Kak Amira bertanya seperti itu?" Wanita di hadapan Ignacia menggeleng. Jelas ada yang sedang disembunyikan. "Rajendra itu laki-laki terbaik yang pernah aku temui, Kak. Mungkin berlebihan jika kuucapkan, Rajendra itu sempurna untukku."
Amira tersenyum samar, anak muda jatuh cinta memang begini. Tidak tahu sudah berapa lama adiknya ini berkencan dengan gadis di hadapannya. Yang jelas jika seorang gadis sudah bicara soal kekasihnya tanya hal positif disertai energi yang sama, berarti Ignacia jujur. Rumit memang, hanya Amira yang bisa menggunakan cara itu.
"Rajendra itu pekerja keras ya?" Kini giliran Amira yang memutus kontak mata. "Sebelum aku menikah, Rajendra senang sekali ketika mengikuti perlombaan atau kegiatan di sekolahnya. Waktu itu dia masih di sekolah dasar, kemampuannya bahkan mendapatkan pengakuan dari pihak sekolah dan direkomendasikan ke sekolah menengah pertama diluar kota agar bisa mengikuti program percepatan."
"Anak itu ingin sekali menerimanya, menggapai mimpinya dengan cepat dan mendapatkan nilai terbaik seangkatan. Dulu aku ingat sekali Rajendra pernah menangis karena mendapatkan berita baik ini dari kepala sekolahnya. Hanya saja seminggu kemudian keinginannya urung. Dirinya merasa kurang mampu dan akhirnya melepaskan kesempatan itu."
"Aku sekarang mengerti kenapa tiba-tiba hatinya bergerak untuk mundur dan memberikan kesempatan pada orang lain. Mungkin dia memang merasa kurang mampu, dan beruntung sekali dia bertemu denganmu di tahun kedua sekolah menengah pertama. Pasti ada kebaikan dari semua keputusan, kan?"
Amira akan membongkar rahasia yang tidak pernah Rajendra ungkapkan pada siapapun. Waktu itu Amira pulang ke rumah untuk pertama kalinya setelah menikah. Sebelum masuk, Amira sempat melihat Rajendra tengah mengobrol dengan ibunya di rumah tamu. Pemandangan yang biasa, selalu saja Rajendra dan ibunya. Posisi yang sangat diinginkan Amira sedari kecil.
Sebuah percakapan soal seorang gadis yang Rajendra sukai dan acara yang membuat keduanya bersanding memakai baju adat yang sama. Amira tidak bisa melupakan hari itu. Sudah lama ia tidak melihat Rajendra tersenyum setulus itu di depan ibunya. Sorot matanya menunjukkan perasaan yang kelewat bahagia.
"Lalu di SMA dia menjadi ketua MPK. Aku hanya dengar soal itu dari ibu, aku tidak bisa berkunjung lagi. Kudengar Rajendra sangat sibuk menjadi ketua. Bagaimana perasaanmu waktu itu, Ignacia?" Ignacia masih menatap Amira. Wanita itu masih menaruh perhatian pada mereka yang diluar. Ignacia tidak bisa menjawab, rasanya kesal mengingat masa-masa itu.
Amira kembali bicara karena tidak kunjung mendapat jawaban. Pandangannya dikembalikan pada Ignacia sembari tersenyum penuh arti. "Jika Rajendra sangat sibuk dengan dunianya tanpa bisa membagi waktu denganmu, kamu harusnya menyalahkan aku." Kata terakhir yang Amira sampaikan terdengar samar seolah menyimpan sesuatu yang berat.
Suara di belakang Ignacia mengalihkan perhatian dua wanita yang tengah mengobrol ini. Ibu Rajendra datang membawa nampan berisi beberapa potong kue yang diletakkan di atas beberapa piring kecil. Ditambah dengan seorang laki-laki yang wajahnya mirip dengan Rajendra. Ignacia yakin jika itu kakak kekasihnya lantas langsung bangkit.
Nampan sang ibu buru-buru diambil alih oleh Amira hingga Ignacia bisa segera berkenalan dengan anggota keluarga lainnya. Gafar tersenyum kaku, segera membalas jabat tangan yang gadis di hadapannya. "Senang bertemu denganmu. Silahkan mengobrol dengan ibuku, aku akan ke belakang. Sampai jumpa lagi." Perkenalan itu terjadi begitu singkat.
Rajendra akhirnya muncul, dia berbisik jika barusan kelopak matanya terasa berkedut. Laki-laki ini tidak tahu saja jika kakak perempuannya surau bercerita banyak soal dirinya. Dengan bergabungnya Rajendra disini, Ignacia jadi punya teman untuk mempertimbangkan jawaban dari pertanyaan sang ibu.
Energi Amira mungkin sudah habis, kini tersisa senyuman ramah tanpa suara. Soal cerita yang Amira sampaikan tadi, Ignacia masih belum tahu apa maksudnya. Khususnya untuk ungkapan terakhir sebelum atensi keduanya terganggum Maaz juga bergabung dengan mereka, jadi beberapa kali Amira hanya memperhatikan anaknya agar tidak mengacak-acak kuenya.
"Kamu harus memperhatikan waktu ketika bertamu, Ignacia. Jangan menetap terlalu lama dan sesuai waktunya."
Di perjalanan pulang, Ignacia merasa lelah. Untuk pertama kalinya ia banyak bercerita dan mengobrol dengan orang lain selama hidupnya. Energinya terkuras hingga dirinya hanya bisa menyandarkan diri pada punggung kekasihnya. Rajendra berterima kasih karena Ignacia mau datang dan bersikap sebaik mungkin. Rajendra sangat menghargainya.
Tentu, tidak ada alasan untuk menolak.
"Omong-omong aku ingin tahu apa yang Kak Amira katakan padamu sebelum aku masuk. Kalian sepertinya mengobrol banyak." Rajendra menoleh sedikit, mengecek keadaan Ignacia yang tanpa suara. "Kakakku tidak bicara macam-macam kan? Kulihat atmosfer ketika masuk agak berbeda."
Ignacia masih tidak menjawab. Tangan yang melingkar di pinggang Rajendra mulai semakin erat. Ada yang mencoba untuk mengembalikan energi dengan bantuan kekasihnya. Karena menggunakan dress, Ignacia jadi duduk miring di atas jok. Ignacia mendongak sebentar, mengamati wajah Rajendra dari samping. Perlahan energinya kembali.
"Jika tadi kamu merasa tidak nyaman karena ada banyak orang, aku minta maaf. Aku tidak tahu jika kakakku berkunjung. Ibu juga bilang jika kakak datang tanpa pemberitahuan." Rajendra menghentikan sepeda motornya di tepi jalan, mengubah spion agar dapat melihat wajah kekasihnya di belakang. "Aku minta maaf jika itu membuatmu lelah seperti ini."
Si gadis melepaskan dekapannya, ikut menatap ke arah spion yang memantulkan wajah tampan Rajendra. Siapa yang lelah karena mengobrol dengan Amira? Ignacia sudah terbiasa dengan segala kebisingan setelah hidup bertahun-tahun dengan ketiga adiknya. Bukan itu alasan Ignacia kelelahan.
Senang rasanya seperti memiliki kakak perempuan meskipun belum begitu akrab. Cerita yang Amira sampaikan pada Ignacia seolah menunjukkan pendekatan yang berbeda. Selama ini ia hanya mengobrol dengan teman-teman atau Athira. Entah kapan terakhir kali mengobrol dengan seseorang yang lebih tua seperti tadi.
"Jangan minta maaf," Ignacia meletakkan dagunya pada bahu Rajendra, "Aku senang bisa datang dan mengobrol dengan keluargamu. Jangan merasa bersalah. Lagipula setiap bertemu dengan saudara akan selalu ada momen untuk mengobrol panjang kan? Anggap saja sekarang latihan."
Ignacia berhasil mengumpulkan setengah energi. Kembali mendekap kekasihnya lebih erat. Sudah malam, sebaiknya keduanya tidak berlama-lama di jalan. Rajendra juga kedatangan tamu dari jauh. Sebaiknya ia segera pulang dan berkumpul kembali dengan keluarganya.
Motor Rajendra kembali melaju, ikut berada dalam aliran padat kendaraan. Hening, tidak ada pembicaraan. Ignacia menikmati momen bersama kekasihnya sementara yang sedang ia peluk memikirkan hal lain. Sesuatu yang tidak termasuk dalam rencananya hari ini dirasa sedikit menganggu. Karenanya Rajendra tidak punya banyak waktu untuk menemani Ignacia mengobrol dengan ibunya.
Padahal yang Rajendra tunggu-tunggu adalah obrolan kekasihnya dengan wanita pertama yang Rajendra cintai sepanjang hidup. Tapi mau bagaimana lagi? Ignacia bilang dia senang menemui Amira. Rajendra menyesal tidak bisa memaksimalkan waktu dengan kekasihnya, menemani serta membantunya lebih dekat dengan keluarga.
Sampai di depan rumah si gadis, Ignacia tidak segera masuk setelah melepas helmnya. "Kamu sudah bekerja keras selama ini, Rajendra. Terima kasih untuk semua kerja kerasmu." Satu tambahan lagi, sebuah kecupan singkat Ignacia berikan pada pipi dingin kekasihnya. Ditatapnya wajah itu beberapa detik. "Aku senang kita bisa mempertahankan hubungan hingga saat ini."
"Aku senang hari ini, karenamu."
Rajendra tidak mau kalah, ia siapkan hadiahnya juga untuk Ignacia. Hanya saja yang ini tempatnya sedikit berbeda dari hadiahnya tadi.