Beautiful Monster

Beautiful Monster
Persiapan Kejutan



"Bagaimana kabar ibu?" Amira akhirnya berhasil menyelesaikan tugas rumah tangganya. Duduk dan menelfon ibunya seperti biasa. Baru saja menyalakan kipas angin dan menghempas diri ke sofa empuk ruang tamu. "Aku baru saja bersantai. Kuharap bisa makan kue manis lagi. Omong-omong kenapa ibu menelfonku tadi?"


"Apa Ibu harus punya alasan untuk menelfon anak Ibu sendiri?" Amira mengalihkan pandangan setelah mendengar ucapan Ibunya. "Ibu hanya penasaran apa yang sedang kamu lakukan. Rajendra dan Gafar sedang tidak di rumah. Ayahmu juga sekarang sedang keluar untuk membeli sesuatu. Jadi Ibu sendirian di rumah."


Amira juga tengah sendirian. Maaz pergi ke sekolah, Qabil tentu sedang bekerja. Masih ada waktu tiga jam sebelum Amira harus menjemput anak sematawayangnya pulang. "Ibu, setelah ini Maaz akan ulang tahun. Apa boleh aku merayakannya di rumah Ibu? Rencananya aku akan membuat kue dan kita makan bersama."


Ada jeda beberapa detik sebelum ibunya setuju. Amira ingin ibunya merahasiakan soal ini dari ayah dan lainnya. Biar menjadi kejutan lain selain kepulangannya beberapa waktu lalu. Ibu Amira bertanya, "Kenapa kamu sekarang lebih sering pulang? Biasanya kamu enggan untuk datang jika ibu tidak meminta sampai putus asa."


Kekehan terdengar dari Amira. Ia hanya ingin berhenti menatap dinding putih di rumahnya yang penuh coretan Maaz. Amira juga mengaku jika menjadi ibu rumah tangga itu lebih menyenangkan saat bisa menghabiskan waktu dengan keluarga keluar rumah. Amira berjanji untuk datang di akhir pekan agar tidak menganggu kegiatan kedua laki-laki hebatnya.


"Oh ya apa aku boleh tahu nomor ponsel Ignacia, Bu? Jangan beritahu Rajendra jika aku yang memintanya."


...*****...


Rajendra hampir tidak percaya jika Nesya benar-benar berkencan dengan seseorang. Ignacia awalnya juga tidak percaya, namun setelah melihat kedekatan Nesya dengan Farhan, Ignacia akhirnya percaya. Nama Farhan itu seperti pernah Rajendra dengar sebelumnya entah dimana. Mungkin benar di SMA seperti yang Ignacia sampaikan.


Ignacia ingin menunjukkan foto Farhan karena Rajendra penasaran bagaimana laki-laki ini. Mungkin Rajendra juga pernah melihatnya karena kekasihnya ini pernah menemui banyak orang ketika berada di organisasi. Mungkin ia juga merasa familier nantinya. Sayangnya Ignacia tidak memilikinya. Juga media sosialnya Ignacia tidak tahu.


Mereka mulai menebak-nebak apakah Farhan mungkin laki-laki yang memenangkan kontes dan tampil di acara malam sebelum wisuda SMA. Ignacia rasa itu bukan Farhan. Suara dan penampilannya jauh berbeda. Siapa lagi orang asing yang bisa mereka kenal? Sepertinya sudah tidak ada.


"Kira-kira kapan kita bisa mengadakan kencan bertiga?" Ignacia berhasil membuat Rajendra mendengus sebal mendengar pertanyannya. "Kenapa? Bukankah seru kita bermain bertiga? Mereka berdua adalah teman baikku selama kuliah. Kamu bisa bertemu dengan Farhan secara langsung nanti."


"Tidak, aku tidak mau melakukannya. Aku lebih suka berkencan denganmu saja, Ignacia. Rasanya aneh berkencan dengan orang lain. Memang menyenangkan karena kita melakukannya bersama-sama, tapi aku sekarang kurang menyukainya. Kita rencanakan kencan kita selanjutnya saja."


Ignacia hampir kelepasan tertawa malam-malam. Rajendra yang kesal langsung berubah di kalimat terakhir tadi. "Baiklah rencanakan saja kita harus kemana untuk kencan selanjutnya. Omong-omong Minggu depan kita merayakan hari jadi. Apa kita bisa bertemu?" Ada keheningan lama dari pihak Rajendra. Sebuah isyarat jika mereka akan menunda pertemuan di hari penting itu lagi.


"Tidak terasa sekarang kita sudah hampir sepuluh tahun bersama. Bagaimana menurutmu hubungan kita, Rajendra? Mungkin kita bisa membicarakannya saat bertemu entah kapan." Senyuman kecil muncul di sudut bibir Ignacia. Yang penting mereka bisa bertemu meskipun bukan di hari jadi.


Rajendra berjanji akan menemui Ignacia jika mendapatkan hari libur lagi. "Terima kasih sudah mau mengerti, Ignacia. Aku juga ingin membicarakan soal hubungan kita saat bertemu nanti. Akan aku usahakan untuk menemui kamu awal bulan depan. Kurasa akhir bulan ini aku akan sangat sibuk. Tidak masalah untukmu kan?"


Kalau balasannya adalah bertemu dengan Rajendra, mana mungkin Ignacia menolak. Rajendra bilang akan membawa kekasihnya ke suatu tempat yang bagus dan membicarakan hubungan. Ada sesuatu yang menarik dari nada bicara Rajendra, membuat Ignacia penasaran apa yang akan ia sampaikan.


Panggilan Rajendra harus segera berakhir karena ada sesuatu yang harus ia lakukan. Kebetulan Ignacia juga mendapatkan pesan dari seseorang yang membawa getaran ketika telinganya masih berdekatan dengan ponsel. "Terima kasih sudah meluangkan waktu untukku malam ini, Rajendra."


Pesan tadi berasal dari Rananta. Dianti sudah kembali ke kota perantauan untuk kembali bekerja. Sudah waktunya untuk membahas soal rencana mereka mendatangi tempat kerja Dianti. Rananta menjadwalkan pertemuan tiga hari sebelum pergi ke tempat Dianti. Ignacia sudah memutuskan jika ia pasti akan datang, jadi Rananta tidak perlu khawatir.


Beberapa orang belum memberikan keputusan. Jadinya Rananta agak cemas. Jika banyak yang tidak bisa ikut, mungkin jadwalnya bisa disesuaikan dengan mereka. Atau hanya mereka yang bisa saja yang akan datang.


...*****...


Kini Amira sudah berdiri di depan sekolah anaknya. Di tangan kiri terdapat sebuah kantong plastik berisi bahan untuk kue ulang tahun. Maaz pasti senang jika tahun ini ibunya membuatkan dirinya kue di hari istimewa. Tidak ada senyuman di wajahnya seperti biasa. Orang-orang yang melihatnya tidak mampu menyapa karena takut dengan tatapan datar si wanita.


Lima menit lagi Maaz akan keluar dari kelas, karenanya Amira berdiri tepat di samping pagar sekolah agar Maaz bisa langsung melihatnya. Beberapa bisik-bisik terdengar dari beberapa orang tua yang juga tengah menunggu anaknya. Selalu membahas soal wanita yang mereka anggap gila karena bisa meledak sewaktu-waktu. Tidakkah mereka kasihan pada Amira yang selalu mendengar kisah menyedihkan itu?


Sebuah panggilan masuk ke ponsel Amira, segera ia lihat siapa yang ingin bicara dengannya itu. Rupanya si suami. "Ira, hari ini aku akan pulang sedikit terlambat, seorang rekanku tiba-tiba sakit dan aku ingin membantu pekerjaannya." Selalu Qabil dengan kebaikan hatinya. Amira tidak akan nenyeluh, dia bisa menunggu jika balasannya adalah Qabil.


"Bagaimana jika aku belikan makanan dari luar agar kamu tidak perlu repot-repot membuat makan malam?" Qabil ingin membalas keterlambatan pulang dengan makanan. Barangkali Amira bisa lebih memaafkan. Makannya juga akan tetap hangat setelah ia sampai di rumah.


Amira tidak akan menentang keinginan suaminya juga. Lagipula sekarang ia tidak punya ide untuk masakan nanti malam. Semoga Qabil tidak pulang sangat terlambat. "Terima kasih sudah mau mengerti, Ira. Kamu sudah ada di sekolah Maaz? Sekarang sudah waktunya dia pulang." Meskipun sibuk bekerja, Qabil masih tetap perhatian pada anaknya.


Tipe ayah yang sulit ditemukan.


Langkah bocah laki-laki itu semakin cepat, ingin segera memeluk ibunya. Amira hampir terhuyung ke belakang karena pelukan setelah lari kencang anaknya. "Apa Ibu sudah lama menungguku?" Wajah berseri-seri Maaz memancarkan cahaya yang hanya bisa dilihat oleh Amira. Jadi kegiatannya sedari pagi hingga siang di sekolah seolah sirna kala melihat sang ibu.


"Ayah menelpon, katakan sesuatu padanya." Wanita yang masih dipeluk oleh anaknya ini menurunkan ponselnya agar bisa langsung mendekati telinga anaknya.


Maaz mendengar soal apa yang Amira dengar tadi. Soal pulang terlambat dan makan malam. Maaz selalu suka ketika ayahnya membawa nasi goreng yang dijual di dekat tempat kerja ayahnya. Dengan bersemangat Maaz langsung memesan makanan itu tanpa menunggu ayahnya bertanya menu. Interaksi Qabil dan anaknya selalu saja membuat Amira bahagia. Terlebih Maaz masih memeluk dirinya.


...*****...


Di hari pertemuan, Rananta mengundang teman-teman ke rumahnya. Semua orang datang, hanya saja yang kosong di akhir bulan kurang dari setengah. Hanya Rananta, Hanasta, dan Ignacia yang tersisa. Lantas si empunya ide bertanya apa kedua temannya tetap ingin ikut. Mungkin jika ragu, mereka bisa jadwalkan ulang.


"Tidak apa-apa, kita dulu saja yang berkunjung. Dianti pasti senang melihat kita datang," saran Ignacia. Rencana yang ini ternyata tidak berjalan sempurna. Yang penting Ignacia tidak akan sendirian pergi ke tempat itu lagi. Dianti nanti mungkin bisa memberikan informasi soal keberadaan Rajendra juga. "Oh ya apa yang harus kita siapkan?"


"Rencananya aku akan memberikan camilan kecil untuk Dianti agar bisa ia makan saat istirahat. Bagaimana menurutmu, Hanasta?" Kini fokus kedua teman ini beralih pada dia yang duduk di sebelah kiri.


"Kita membawa camilan saja untuk Dianti dan teman-temannya di kafe." Ide Hanasta bagus. Kalau begitu mereka harus memastikan ada berapa orang yang ada di kafe saat itu. Karena Dianti tidak membahas soal itu, Hanasta menyarankan untuk dua orang dari mereka berkunjung dahulu lalu teman lainnya membawa camilan yang sesuai. "Agar semuanya dapat saja."


Ignacia menawarkan diri untuk datang terakhir. Nanti Rananta agar bisa bersama Hanasta mampir lebih dulu. Siapa tahu Ignacia bisa berkeliling sebentar di kota. Mengenang jalan yang pernah Ignacia lewati untuk bertemu dengan kekasihnya. Semoga Dianti punya sesuatu yang dicari oleh Ignacia.


Malam harinya Rajendra menelfon kekasihnya. Bertanya apa yang gadis itu lakukan seharian ini. Karena mengobrol dengan teman-teman di rumah Rananta, Ignacia jadi tidak memegang ponsel kecuali untuk menelfon ayahnya. Rajendra yang mengirimkan pesan di siang hari baru dibalas sore harinya. Tidak biasanya Ignacia begitu, jadi Rajendra penasaran.


Si gadis jujur saja soal pertemuan para gadis di rumah Rananta tanpa menyinggung soal kejutan Dianti. Sebisa mungkin Ignacia menahan diri untuk menyampaikan rencana pentingnya akhir bulan ini. Ignacia menyimpan buku yang tadinya ia gunakan untuk menunggu Rajendra. Omong-omong senang rasanya Rajendra mencarinya.


"Bagaimana harimu, Rajendra?"


"Sama seperti hari sebelumnya. Aku lelah dan ingin mendengar suaramu." Rajendra terdengar berbeda malam ini. Nada bicaranya seperti dibuat-buat. "Ignacia, bagaimana jika seandainya kita bertemu di waktu yang tidak kita rencanakan? Seperti sebuah takdir tanpa bisa kita prediksi."


"Kedengarannya pasti menyenangkan." Sangat sesuai dengan apa yang ingin Ignacia lakukan akhir bulan ini. Bertemu tanpa sengaja di kota yang akan gadis itu datangi. Ignacia balik bertanya, "Kenapa kamu berpikir demikian? Apa ada hal menarik yang baru saja terjadi?"


Rajendra hanya merasa penasaran setelah mengingat soal kedatangan Ignacia yang tiba-tiba di restoran. Laki-laki itu sudah kelewat rindu sampai mengingat hal yang sudah lalu. Setidaknya sekarang Ignacia tahu jika Rajendra masih ingat hari dimana ia mengumpulkan keberanian untuk mendatangi si laki-laki malam itu.


Senyuman kecil mengembang di wajah si laki-laki, menambah pesona. Sementara matanya menatap langit-langit tempatnya bermalam, pikiran Rajendra tidak henti-hentinya memutar saat dimana ia terakhir bertemu dengan Ignacia. "Kuharap awal bulan datang lebih cepat dan berlangsung sangat lama saat kita mengabiskan waktu bersama."


Panggilan dari kekasihnya tidak bisa berlangsung lama. Ignacia ingin membiarkan kekasihnya beristirahat. Ignacia mengucapkan terima kasih seperti biasa, berharap lain kali Rajendra juga akan memperhatikan seperti hari ini. Begitu panggilan terputus, keheningan langsung menyapa dengan ramah. Semua orang berada di ruangan belakang, ayah dan mama berusaha untuk meningkatkan nilai kedua anaknya di tahun ajaran baru.


Gadis yang akan meraih novelnya kembali dari atas nakas tersentak kaget mengetahui ponselnya bergetar sekali. Ada sebuah pesan yang baru masuk. Siapa orang ini? Nomornya berasal dari kontak yang tidak Ignacia simpan. Jika dilihat dari foto profil yang muncul, Ignacia tidak mengenal siapa perempuan yang sudah berkeluarga ini.


Pesannya berbunyi menyapa, menanyakan kabar Ignacia juga. Siapa teman yang baru mengubah nomornya baru-baru ini? Kesembilan teman dekat Ignacia masih menggunakan nomor yang sama, begitu pula dengan mereka yang Ignacia kenal semasa kuliah. Tidak mungkin Rajendra karena dari foto yang terpampang jelas--foto yang diambil dari belakang ini bukanlah kekasihnya.


Nomor itu mengirimkan pesan lagi, menyebut dirinya sebagai seseorang bernama Amira. Namanya mirip dengan kakak pertama Rajendra. Ignacia memberanikan diri untuk membuka pesan yang sedari tadi ia amati dari layar kunci. Jika dipikir-pikir, kakak perempuan Rajendra ini punya anggota keluarga yang sama seperti dalam profil.


Ignacia berpikir sebentar, jika ini penipuan, semoga Ignacia bisa langsung mengetahuinya. Dibalasnya pesan yang masuk itu, bertanya ada keperluan apa Amira menghubungi dirinya. Keduanya memang belum sempat betukar nomor jadi Ignacia tidak begitu yakin. Seseorang bernama Amira ini lalu meminta izin agar bisa menelpon Ignacia.


Apa sebaiknya Ignacia bertanya pada Rajendra lebih dulu untuk memastikan? Hanya itu nomor yang Ignacia ketahui. Omong-omong bagaimana bisa ibu Rajendra menyimpan nomornya? Mereka berdua belum pernah berkomunikasi lewat ponsel sebelumnya.


Kembali si gadis berpikir-pikir sebentar. Begitu pesan dari Ignacia terkirim, sebuah panggilan memenuhi layar ponselnya. Suara yang muncul melegakan jantung Ignacia. "Hai, Ignacia. Aku mendapatkan nomormu dari Ibu. Ada yang ingin kutanyakan padamu. Apa kamu bisa membantuku membuat kue coklat waktu itu? Maaz akan berulang tahun akhir bulan ini."


Sebuah kejutan. Seseorang menghubungi dirinya untuk bertanya soal hal yang kebetulan ia tahu.