Beautiful Monster

Beautiful Monster
Aku Cemburu



"Ignacia," sebuah panggilan terdengar.


Arahnya dari pintu depan. Datang dikala Ignacia tengah mendengarkan penjelasan dari wali kelas yang kebetulan juga adalah guru bahasa Inggris. Yang memanggil dari arah luar juga salah satu guru bahasa Inggris perempuan yang menjadi favorit banyak orang karena sikapnya yang sangat friendly.


Ignacia yang terkejut pun awalnya mematung sebelum akhirnya mengerti kode untuk diminta keluar sebentar. Dengan langkah kikuk, gadis yang di panggil tadi pun meminta izin pada sang wali kelas dan melangkah keluar kelas. Barulah diluar itu dia bisa mengambil nafas setelah menjadi pusat perhatian.


"Ada apa Ma'am?" Tanya Ignacia.


Ada senyuman menarik dari sang guru. "Saya ingin menjadikan kamu tokoh utama di drama untuk acara ulang tahun sekolah bulan depan. Bagaimana? Saya membuat drama dengan judul Cinderella. Dan menurut saya, kamu yang sangat cocok untuk peran itu. Oh ya, panggil Nanda juga."


Ignacia menjadi lebih gugup jika diminta untuk memanggil teman baiknya yang ada di dalam kelas. Buru-buru dia masuk ke dalam kelas, menganggu pelajaran dan memanggil Nanda keluar kelas untuk menemui Ma'am Nur diluar.


Naskah mulai dibagikan. Untuk sementara hanya tokoh utama, perwakilan saudara tiri, juga pangerannya nanti.


Nanda diminta menjadi keluarga tiri Cinderella bersama dengan dua teman lainnya. Lalu yang menjadi pangeran belum datang. Katanya dia harus menyelesaikan ujiannya sebentar dan menunjukkan diri nanti. Diam-diam Ignacia berharap agar yang menjadi pangeran bukanlah-


"Itu dia muncul." Suara Ma'am Nur menginterupsi Ignacia dan Nanda yang sedang membaca naskah. Keduanya saling panjang, mendapati mantan Ignacia yang rupanya akan menjadi pangeran dalam drama bahasa Inggris mereka.


"Aku bisa melihat perang," gumam Ignacia yang di angguki oleh Nanda. "Kenapa aku harus menjadi pasangannya?"


"Entahlah. Tapi tidak ada yang cocok untuk menjadi Cinderella selain kau. Pelafalan bahasa Inggris dan ingatanmu tentang teks lebih baik dari kami." Nanda menepuk bahu Ignacia untuk menguatkan, "tidak apa-apa. Kau tidak harus berdamai dengan laki-laki ini. Kita bisa profesional."


"Baru saja aku memulai hubungan dengan Rajendra dan tiba-tiba ada-" Ignacia tidak sanggup meneruskan kalimatnya.


Setelah mengobrol ringan tentang drama yang akan mereka mainkan, akhirnya diputuskan untuk melakukan latihan pertama sepulang sekolah besok. Dan untuk latihan selanjutnya, biar itu dilakukan di waktu senggang. Sekolah akan sibuk untuk acara ini hingga mungkin ada banyak jam kosong.


Begitu kembali ke dalam kelas dengan membawa naskah, Ignacia langsung mendapatkan tatapan tidak enak dari Rajendra. Pasti dia sudah melihat keberadaan mantan Ignacia dari jendela. Rajendra tentu tahu laki-laki mana yang pernah menyakiti kekasih pertamanya. Tatapannya tajam sekali.


Ada beberapa orang yang berbisik-bisik setelah melihat keberadaan kertas di tangan Ignacia juga Nanda. Mereka mungkin sudah bisa menebak bagaimana alur ceritanya.


...*****...


"Kau tidak ikut ke kantin?"


Rananta masih setia di tempatnya, menatap Ignacia yang moodnya sedang sangat terganggu. Hari merahnya datang, wajar jika moodnya sedang tidak bagus. Ignacia hanya menggeleng ringan sebagai respon. Membiarkan Rananta dan Maharani pergi meninggalkan dia sendirian.


Sementara itu Nanda duduk di sampingnya, mencoba untuk meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja. Toh jika Ignacia tidak mengatakan sesuatu yang bisa membuat Rajendra marah, hubungan mereka akan berjalan seperti biasa. Tapi bagaimana pun juga, Rajendra sebentar lagi akan bertanya begitu banyak orang yang meninggalkan kelas di jam istirahat pertama.


Pernyataan tidak menyakitkan apa yang bisa dia buat?


"Sepertinya Rajendra melihat mantanku tadi," gumam Ignacia namun dapat didengar oleh Nanda. Gadis berambut pendek itu hanya menatap ke arah Ignacia yang menenggelamkan wajahnya pada tumpukan tangan di atas meja.


"Dia menatapku tajam seolah aku melakukan kejahatan."


"Mungkin dia hanya butuh penjelasan," balas Nanda.


"Kalau begitu aku harus mengatakan semuanya."


"Tidak," potong Nanda cepat, "lakukan saja seperti biasa, Ignacia. Jika dia bertanya, jawab saja. Jika dia tidak bertanya, jangan menjelaskannya."


Bersamaan dengan penjelasan Nanda, seseorang memanggilnya dari luar kelas. Kekasih gadis rambut pendek di samping Ignacia sedang memanggilnya. Nanda sebaiknya segera mendatangi laki-lakinya dan membiarkan Ignacia dengan posisinya yang tidak begitu nyaman.


Dia butuh sendiri.


"Jadi, untuk apa Ma'am Nur memanggilmu?"


Ignacia tahu betul suara siapa itu. Suara yang sengaja diberatkan dengan nada bicara rendah agar terkesan serius. Tapi Ignacia masih belum siap, berpura-pura tidak mendengarkan.


Rajendra memilih untuk duduk di samping kekasihnya, memposisikan diri lebih mencondongkan agar bisa lebih dekat. Bertujuan agar Ignacia juga tidak mengacuhkan keberadaannya seperti hari-hari sebelumnya.


"Ma'am Nur memintamu untuk bermain drama dengan mantanmu?"


Pertanyaan bernada rendah dari Rajendra berhasil memancing reaksi berarti dari Ignacia. Gadis itu memperbaiki posisi duduknya, kepalanya di tundukkan agar tidak bertemu tatap dengan Rajendra yang terlihat jelas memberikan seluruh atensinya para Ignacia.


Dia tidak boleh berbohong. Tapi tidak memberikan penjelasan yang jelas apa juga benar?


"Ini hanya drama biasa. Jadi tidak akan ada sesuatu yang terjadi. Lagipula aku sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan dia. Semuanya akan baik-baik saja."


Rajendra tersenyum kecil di sudut bibirnya, "siapa yang bisa menjamin itu? Kalian dahulu pernah bersama."


Laki-laki tinggi itu mengangkat dagu Ignacia agar bisa menatapnya dengan benar. Mencari sesuatu yang mungkin bisa membantunya agar bisa lebih percaya. Jarak keduanya sungguh tipis. Perasaan canggung menyelimuti hati Ignacia.


"Siapa yang bisa menjamin jika tidak ada sesuatu yang terjadi? Aku yakin akan ada bagian dimana kamu akan berdansa bersama dengan laki-laki itu. Mungkin kalian memang bisa menjadi profesional, tapi kalian tetap akan bersentuhan. Aku akan melihat kalian bersama di atas panggung."


Ignacia memilih untuk menjauhkan wajahnya dari Rajendra. Laki-laki itu terlalu mengintimidasi.


"Boleh aku melihat naskahnya?"


Rajendra sudah mengambilnya sebelum Ignacia memberikan izin. Beberapa lembaran kertas itu sudah dibuka-buka oleh Rajendra, mencari sesuatu yang membuktikan kalimatnya.


"Disini terlihat jika narator akan mengatakan bahwa kalian akan berdansa di acara sebelum sepatumu tertinggal, Cinderella."


Ada tatapan meremehkan dari Rajendra. Dia sebenarnya bisa saja marah dan menentang keputusan Ma'am Nur untuk menjadikan Ignacia sebagai tokoh utama yang harus bersentuhan dengan laki-laki lain.


Tapi dia siapa? Ignacia juga hanya sebatas kekasih baginya. Dia tidak bisa membuat gadis ini terkekang saat bersamanya.


"Hanya drama. Apa yang bisa terjadi?"


Ignacia tampak sangat meremehkan rasa khawatir Rajendra. Dia menatap sepasang mata hitam yang selalu menatapnya dari kejauhan. Tapi memang hanya drama. Bukan hal yang dapat membuat Ignacia kembali jatuh cinta pada mantannya.


...*****...


Apa Ignacia sebaiknya berhenti saja? Ini baru seminggu dia berlatih dengan teman-teman tentang drama. Tapi Rajendra selalu menghindarinya ketika akan pergi untuk berlatih di lab bahasa. Laki-laki itu akan membuang muka, menetap tajam, atau mungkin berusaha untuk pura-pura tidak melihat sama sekali. Sungguh Rajendra marah padanya.


"Kenapa kamu tidak bersemangat?" Nanda bertanya. Padahal setiap harinya Ignacia begitu menyukai menjadi sibuk untuk dramanya. Kapan lagi dia bisa menjadi tokoh utama dan pusat perhatian orang-orang di ulang tahun sekolah?


"Jika soal Rajendra, yang jelas kau sudah berusaha untuk menjadi profesional, Ignacia. Rajendra harus belajar untuk percaya denganmu. Mungkin ini ujian untuk hubungan kalian."


Kalimat menenangkan dari Nanda tidak banyak membantu. Ignacia masih saja duduk di lantai dengan memeluk lututnya. Memandangi orang-orang yang menikmati waktu istirahat singkat sebelum memulai latihan kembali. Hari ini Ignacia bahkan tidak mendapatkan sapaan apapun dari Rajendra karena drama.


Ada satu hal yang belum pernah Ignacia katakan soal latihannya selama ini pada sang kekasih. Dia tidak akan pernah memberitahu jika pada bagian dimana saat Cinderella berdansa dengan si pangeran, ada waktu dimana sang pangeran meletakkan tangannya di pinggang Ignacia.


"Jika Rajendra menonton dramanya, dia pasti akan sangat marah padaku," gumam Ignacia sambil menatap Nanda dengan tatapan sayu.


"Aku menjadi Upik abu di drama, lalu di dunia nyata, aku akan menjadi kekasih yang sangat buruk karena membiarkan seseorang yang sudah membuatku sakit hati menyentuhku di hadapannya."


"Tenanglah. Rajendra akan mengerti."


...*****...


Hari demi hari berlalu. Yang dirasakan Ignacia hanya kehampaan dan rasa gugup. Mungkin sekarang tatapan orang-orang yang akan dia dapatkan ketika sudah berada di atas panggung tidak semenakutkan pandangan Rajendra padanya. Laki-laki itu sangat anti jika seseorang sudah mengajak Ignacia untuk pergi berlatih dan meninggalkan kelas ketika jam kosong.


"Kak," suara Athira dari luar kamar Ignacia.


Si pemilik kamar malas menjawab, moodnya sungguh buruk setelah mendapat banyak tatapan tidak suka dari Rajendra. Dia berlatih hanya agar semuanya jadi sempurna. Bukan karena Ignacia ingin sekali bertemu dengan mantan pacarnya dahulu.


"Kak Ignacia," panggil Athira lagi.


Namun setelah panggilan yang kesekian pun Ignacia masih malas menjawab hingga akhir si adik pertama membuka pintunya tanpa izin. "Ayo makan. Kenapa kakak mengurung diri dan menolak makan? Kakak bisa sakit jika tidak makan dengan teratur," mulailah Athira mengomel.


"Bisa bawakan saja kemari? Aku malas pergi," Ignacia berbisik.


"Dasar manja. Kalau kakak tidak suka sikap Kak Rajendra, lebih baik putuskan saja." Athira langsung pergi setelah bicara. Dia sangat kesal karena kakaknya terlihat tidak bersemangat karena ada seorang laki-laki yang mengintimidasinya setiap akan latihan drama.


"Memangnya apa salahnya drama?" Geram Athira sambil membawakan makam malam untuk kakaknya. "Kakak itu dari jurusan bahasa, wajar jika ikut dalam drama. Apalagi kakak menjadi tokoh utamanya. Seharusnya Kak Rajendra bersemangat karena kakak hebat!"


...*****...


"Hari ini aku akan melihatmu tampil menjadi Cinderella. Kamu terlihat cantik, Ignacia."


Rajendra menghampiri Ignacia sebelum si gadis tampil. Keduanya ada di lab bahasa, duduk dan mengobrol ringan. Ignacia membutuhkan dukungan dan hanya ingin memastikan bahwa Rajendra tidak meninggalkannya.


Hubungan keduanya sudah berjalan. Bagaimana bisa Ignacia membiarkan Rajendra pergi begitu saja setelah mengambil beberapa pecahan hatinya? Ignacia akan benar-benar menghindari laki-laki jika saja kebodohannya di masa lalu terulang kembali.


"Kamu tidak harus datang dan menonton. Aku tahu jika tidak nyaman melihat seseorang yang kamu sukai sedang bersama dengan orang lain." Ignacia duduk memeluk lututnya, tidak peduli jika pakaiannya mungkin akan kusut karenanya.


"Aku ingin bertemu denganmu setelah dramamu selesai, Ignacia. Apa kamu ada waktu sebentar setelah penampilan? Ada sesuatu yang ingin kukatakan." Rajendra bicara tanpa menatap Ignacia. Mungkin tidak sanggup untuk melihat kekasihnya tampil dengan orang lain sebentar lagi.


"Tentu. Mari bertemu setelah aku berganti pakaian. Kita bisa mengobrol setelahnya."


...*****...


Pertunjukan hari itu tentu berjalan dengan lancar. Penampilan Ignacia yang sungguh cocok menjadi Cinderella membuat orang-orang tidak bisa berhenti menatap. Dan suasananya jadi agak memanas saat sampai di adegan pesta dansa.


Rajendra ada di sebuah titik yang membuatnya dapat melihat keseluruhan panggung drama. Melipat tangan di depan dada, tatapan matanya tampak geram dan menahan amarah. Jaraknya yang jauh bahkan bisa membuat Ignacia sangat tidak nyaman. Karenanya Ignacia sampai lupa tersenyum saat bertemu mata dengan mantan kekasihnya yang menjadi pangeran.


Saat drama selesai, para pemain akan kembali ke atas panggung dan berpegangan tangan untuk melakukan penutupan bersama. Tepat sekali saat itu Ignacia masih ada di samping si pengeran. Karena adegan terakhir dilakukan Ignacia bersama dengan laki-laki itu.


Sebuah tangan terulur untuk membantu sang Cinderella turun dari panggung. Rajendra. Laki-laki itu tersenyum dan seolah menyambut kedatangan Ignacia dengan sangat bahagia. Tidak ada yang dapat mengambil Ignacia lagi darinya.


"Sudah kubilang untuk tidak melihatku tampil," bisik Ignacia sangat pelan pada Rajendra.


"Mana mungkin aku akan melewatkan drama kekasihku yang memiliki adegan pesta dansa. Sudahlah. Cepatlah berganti pakaian. Aku tidak suka gaun yang membuatku ingat bahwa kamu adalah Cinderella."


Ignacia jadi lebih nyaman setelah berganti pakaian. Dia akan kembali ke lab bahasa, tempat teman-temannya berkumpul setelah drama. Namun rupanya hanya tersisa Nanda dengan barang-barang teman-temannya disana. Yang lain tengah menikmati bazar acara ulang tahun sekolah.


Baru saja Ignacia akan menyentuh ponselnya dan menghubungi Rajendra jika dirinya sudah selesai berganti pakaian. Tapi rupanya Rajendra sudah sampai lebih dahulu. Dia meminta Nanda meninggalkan mereka berdua, ada yang ingin laki-laki beralis tebal itu katakan pada kekasihnya.


"Rajendra, aku-"


Laki-laki itu lebih dahulu memeluk Ignacia sebelum si gadis sempat menyelesaikan kalimatnya. Detak jantung Ignacia berdetak sangat cepat seolah akan segera berhenti karena terkejutnya. Rajendra memeluknya tanpa meminta izin apapun. Mengeratkan kedua tangannya para tubuh Ignacia yang lebih pendek darinya.


"Aku sangat tidak menikmati dramanya. Aku tidak pernah menyukai orang yang menyentuhmu," jelas Rajendra kecewa. Nada bicaranya sungguh rendah seakan memohon agar Ignacia tidak pernah bermain dengan laki-laki lagi.


Perlahan Rajendra mengendurkan pelukannya, menatap wajah Ignacia yang memerah. "Kamu milikku. Aku tidak suka jika ada yang menyentuh wanitaku seenaknya."


Rajendra beralih menyentuh kedua pipi Ignacia dengan lembut, menikmati bertatap mata dalam waktu lama. Mungkin dia sengaja ingin membuat jantung Ignacia berdetak sangat kencang dengan aktivitasnya selanjutnya.


"Aku cemburu melihatmu bersama dengan mantanmu, Ignacia."


Cup!


Rajendra berhasil mencuri ciuman pertama yang selama ini disimpan Ignacia. Bibir keduanya hanya bertemu, namun efeknya jauh sampai ke jantung.


Flashback Off