
"Jika ingin ayah jemput, telfon saja."
"Baiklah, aku mengerti." Ignacia memberikan helm yang dipakainya pada sang ayah, "Athira pulang pukul berapa? Mungkin aku bisa dijemput olehnya saja." Athira membawa motor kakaknya untuk pergi ke sekolah. Ada kegiatan Pramuka. Karenanya Ignacia diantar ayahnya untuk datang ke undangan temannya.
"Nanti hubungi saja dia. Ayah pulang dulu ya." Sepeda motor hitam milik ayahnya kembali melaju ke jalanan ramai. Menghilang dengan cepat akibat terhalang banyak kendaraan di belakang. Ignacia masih disisi jalan, memandangi ayahnya hingga benar-benar tidak terlihat.
Setelahnya Ignacia berjalan ke arah sebuah kafe yang ada di belakang tempatnya berdiri tadi. Dilihatnya jam tangan yang melingkar di tangan kiri untuk memastikan jika dia tidak terlambat. Sepuluh menit lagi seharusnya teman-temannya akan datang.
Sebelum masuk, Ignacia disambut dengan pemandangan khas toko bunga di bagian depan kafe. Ada banyak bunga-bunga segar dan bunga kering yang membuat orang-orang ingin mengintip bagaimana suasana di dalam.
Bel di pintu kafe berbunyi, tanda seseorang telah masuk. Bahkan ketika Ignacia baru menginjakkan kaki di dalam, tanaman hijau dan bunga-bunga masih tampak mengisi sudut-sudut Kafe. Temanya yang ala rumahan dihiasi oleh bunga-bunga cantik nan menawan, juga dekorasi bergaya rustic makin membuat orang betah berlama-lama.
Selain memanjangkan indra pengelihatan, indra-indra lain seperti penciuman dan pendengaran ikut merasa bahagia. Aroma bunga yang netral tidak menganggu aroma masakan yang disajikan, juga adanya musik bertipe klasik mengalun lembut menemani semua pengunjung.
Tempat yang sempurna untuk berkumpul dengan orang-orang terdekat dan menghabiskan waktu bersama.
Rananta berkata jika acaranya ada di lantai dua. Siapa lagi yang bisa merencanakan kegiatan seperti ini selain dia yang berwajah awet muda itu? Langsung saja Ignacia mencari keberadaan tangga. Dan di tengah pencarian singkat, seseorang menepuk punggungnya singkat.
"Ignacia, kamu datang awal sekali," tegurnya.
"Aku tidak ingin terlambat untuk bertemu dengan kalian. Kamu juga datang awal, Utari." Teman bermata bulat Ignacia ini tersenyum tipis, kebetulan dia sejak pagi ada di sekitar daerah ini. Jadinya bisa datang lebih cepat. "Kita langsung naik saja, menunggu yang lainnya datang," ajak Utari kemudian.
Sesampainya di lantai atas, dua gadis yang datang rajin ini mendapati seluruh lantai kosong tanpa pengunjung. Rananta tidak bermaksud untuk menyewa seluruh lantai seperti acara ulang tahunnya terakhir kali kan? Ignacia menoleh pada Utari, dan pada saat yang sama teman bermata bulatnya juga beralih menatapnya seolah memiliki pemikiran yang sama.
"Teman kita tidak pernah ragu untuk membuat acara kita menjadi sangat spesial," ucap Utari. Di sampingnya Ignacia mengangguk setuju. Mereka sebuah meja besar yang sepertinya akan menjadi tempat sepuluh sahabat ini duduk dan berbincang. Terbukti dengan adanya tulisan reservasi di tengahnya.
"Utari," panggil dia yang ada di dekat dinding kaca yang menghadap ke samping kafe. Si gadis berambut panjang itu memberikan kode untuk Utari agar melihat ke arah yang di tunjuknya. "Diluar kebetulan sedang mendung," lanjutnya ketika Utari sudah ada di sampingnya.
Bagian indoor kafe di bawah sana nampak penuh namun tertata cantik, ada area outdoor agak ke samping yang tertutup kaca di bagian atapnya. Meskipun terkena matahari langsung, disana tidak akan begitu panas. Bahkan ruangannya juga mendapatkan sirkulasi udara yang baik.
"Tapi lihatlah disana," Utari menunjuk ke suatu sisi tempat indoor, "disana tempat untuk berkumpul dengan orang banyak tidak begitu banyak. Kita mungkin bisa mendapatkan meja disana jika tidak datang dengan kelompok yang anggotanya lebih dari empat orang."
"Ignacia, Utari?" Seseorang seperti memanggil namun dengan suara berbisik. Mereka yang ada di dekat sisi lain ruangan menoleh. Suaranya yang kecil bisa terdengar karena tidak ada siapapun di lantai ini selain keduanya. "Oh syukurlah kalian sudah datang. Kukira aku datang pertama."
Indri tersenyum lebar, berjalan cepat ke arah kedua temannya. Dia pasti gugup karena tidak melihat siapapun ketika masuk. Dia langsung menggandeng tangan Ignacia saking senangnya, "tadi ada yang mengarahkan aku kesini. Kupikir orang itu salah orang, tapi ternyata benar di lantai dua."
"Kau tidak melihat pesan yang dikirimkan Rananta kemarin malam? Dia bilang di lantai dua," Utari menyahut.
"Pesan kalian banyak sekali. Aku hanya sempat membuka lokasi yang Rananta kirimkan."
Satu persatu teman Ignacia datang. Anehnya Rananta belum datang juga setelah teman-teman lain datang. Sudah dihubungi, namun tidak ada balasan dari pesan-pesan. Hanya ada nada tunggu panjang dan panggilan berujung tidak terjawab.
Kesembilan teman sudah menunggu, duduk di meja yang sudah di reservasi. Saling lempar pandang karena tidak tahu harus berkata apa. "Apa kita salah tempat?" Ucapan Aruna membuat semuanya ragu. Dengan cepat Maharani membuka ponselnya, menunjukkan pada yang lain jika mereka datang ke tempat yang benar.
"Apa mungkin Rananta lupa dia punya janji dengan kita?" Widia meletakkan ponselnya di atas meja, kalimatnya terdengar cemas dan tidak nyaman. Rananta bukan orang yang akan melupakan janji dengan mudah. Pagi-pagi sekali saja Rananta mengingatkan soal apa yang harus dibawa.
Lalu kemunculan seseorang menarik perhatian semua yang duduk berhadapan. "Maaf sudah membuat kalian menunggu. Ada sesuatu yang harus kulakukan tadi," yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Si empunya acara.
"Aku hampir saja pulang karena kau tidak ada." Utari pura-pura mengambil tasnya dan bertindak seolah akan pergi. Rananta buru-buru mendekatinya dan bertindak pura-pura panik. Drama awal sebelum acara dimulai.
Tidak ada yang spesial, hanya reuni kecil. Membahas sesuatu yang masing-masing lakukan, kegiatan membingungkan saat baru masuk universitas, dan bagaimana orang di sekitar kos-kosan. Hanya Ignacia yang tinggal di asrama ternyata. Tidak ada yang heran kenapa Ignacia mampu tinggal di asrama. Pada dasarnya anak ini memang sangat suka di rumah.
Di tengah pembicaraan, beberapa pelayan membawa datang camilan manis. Rananta bangkit untuk mengatakan sesuatu pada seorang pelayan kemudian membiarkannya pergi. Ignacia tidak sengaja mengikuti gerak temannya itu ketika teman lainnya memperhatikan betapa enaknya camilan yang datang.
"Kau menyiapkan sesuatu lagi?" Ignacia bertanya. Rananta mengangguk, tersenyum singkat lalu duduk di tempatnya.
Hanasta selesai memakan suapan pertamanya lalu bertanya pada dia yang ada di ujung lain meja, "kenapa memilih tempat ini dari banyaknya tempat? Kau pandai mencari tempat bagus dan makanan enak."
Alasan Rananta sangat sederhana. Karena selain tempat dan makanan enak, pelayannya ramah, instagramable, sesuai dengan kepribadian kesepuluh sahabat ini, harganya sepadan dengan rasa. Dan juga kebetulan Rananta mengenal pemilik kafenya.
Mendengar alasan yang terakhir, sontak teman-teman menoleh. Bahkan yang akan memakan Panna cotta nya seperti yang dilakukan Ignacia ikut terhenti. Tanpa aba-aba mereka melayangkan tatapan menggoda pada Rananta. Seolah satu pemikiran mereka langsung berkata, "ciee."
"Teman kampusku adalah anak dari pemilik kafe ini. Dia perempuan, kalian jangan salah paham." Jawaban Rananta membuat teman-temannya berhenti dari kegiatan beku. Rananta tidak pernah membicarakan soal lawan jenis. Bisa jadi dia sekarang tengah menyukai seseorang.
"Teman kita ini masih polos, teman-teman. Kalian hanya bisa berharap dia mendapatkan laki-laki yang baik." Widia masih melayang tatapan maut menggodanya pada dia yang duduk di sebelahnya. "Bagaimana laki-laki yang ada di kampusmu? Apa ada yang menarik perhatianmu?"
Bukan hanya Ignacia yang berdunia sempit sekarang. Rananta dan Hanasta juga mendapatkan dunia yang sama. Mereka tanpa sengaja bertemu di kampus yang sama meskipun berbeda jurusan. Karenanya Hanasta tahu tentang kebiasaan baru si empunya acara.
"Tapi bukan hanya kalian yang dunianya sempit," Widia kembali berbicara, "Kemala rupanya juga dari universitas yang sama dengan pacarnya tanpa sengaja." Lagi-lagi Widia melayangkan tatapan menggodanya hingga yang ditatap hampir tersedak makanan. Ya bagaimana tidak? Mata Widia yang khas membuat orang-orang ingin tertawa melihat ekspresi ini.
Kemala memberikan peringatan pada temannya itu, berkata jika dia menggoda kekasihnya juga, Kemala akan berpura-pura tidak mengenalnya. Sebanyak apapun rahasia yang ada, semuanya tidak akan berarti jika memiliki teman seperti Widia. Mungkin nanti yang ada Widia mengambil foto Kemala yang sedang kasmaran dan mengirimkannya ke grup.
Utari dan Indri saling lempar pandang di tengah perdebatan Widia dan Kemala. Mereka juga kebetulan masuk ke universitas yang sama. Keduanya juga kaget ketika melihat daftar orang yang diterima perguruan tinggi yang mereka masuki.
"Dianti, bagaimana denganmu?" Ignacia menoleh pada yang duduk di sebelahnya, "kau bekerja dimana?" Hanya temannya ini yang memutuskan untuk bekerja.
"Di kota yang sama dengan Rananta juga Hanasta. Aku bekerja sebagai Resepsionis hotel dan paruh waktu di cafe ketika libur. Kudengar Rajendra juga ada di kota itu, aku mendengarnya dari ibu Rajendra ketika aku pulang kemarin."
Wah dunia semakin sempit saja.
"Teman-teman," Rananta menarik antensi teman-temannya, "apa kalian mau bermain truth or dare? Setelahnya kita akan lanjut ke acara selanjutnya." Wow menyebut kegiatan mereka dengan sebutan 'acara' membuat yang lainnya bersorak pelan.
Permainan truth or dare.
Entah darimana asalnya, di tangan Rananta sudah ada botol kaca. Rencananya botolnya akan diputar di tengah meja. Siapapun yang ditunjuk akan memiliki mengatakan kejujuran atau melakukan tantangan yang akan dilakukan di dalam kafe.
Putaran pertama dimulai. Keberuntungan seseorang telah habis. seorang gadis bermata bulat melirik teman-temannya, karena botol itu mengarah padanya. Dia akan pasrah saja dan memilih mengatakan kejujuran. "Siapa orang terakhir yang kamu kepoin di media sosial?" Widia bersemangat bertanya.
Utari berpikir keras, bertanya-tanya pada diri sendiri apa dia harus mengatakan kejujuran yang sebenar-benarnya pada kesembilan temannya. Inginnya Utari hanya akan bercerita pada Indri, seseorang yang satu kampus dengannya. Tapi karena dia harus jujur, jadi dia akan coba saja.
"Aku tidak sengaja bertemu dengan laki-laki dari jurusan lain. Dia tinggi, lucu, dan kami tidak sengaja berkenalan karena memainkan game yang sama." Wajah Utari sedikit memerah, dia pasti merasa malu. Apalagi Widia terus menatapnya niat menggoda.
Teman-teman lainnya berseru, kaget jika pada akhirnya salah satu dari mereka akhirnya menemukan seorang laki-laki yang menarik perhatiannya. "Mungkin sebentar lagi Indri juga akan melakukan hal yang sama. Indri juga bermain game," celetuk Aruna. Teman-teman lainnya akan menunggu berita selanjutnya.
Di putaran kedua, kini Ignacia yang harus berkorban. Dia memilih mengatakan kejujuran seperti Utari agar tidak perlu melakukan tantangan yang aneh. Aruna dan Hanasta berebut untuk bertanya. Siapapun yang menang, semoga bukan pertanyaan yang aneh.
"Kalau kamu bisa jadi tidak terlihat, apa hal pertama yang akan kamu lakukan?" Sela Maharani. Ignacia dan yang tengah berdebat menoleh pada yang baru bicara. Aruna dan Hanasta akan protes, namun tidak jadi karena teman lainnya masih banyak yang belum.
"Mengambil buku, camilan tanpa membayar, lalu berjalan-jalan keliling dunia naik kapal dan pesawat." Jawaban yang tidak mengherankan dari si kutu buku. Orang lain mungkin akan melakukan hal yang sama jika memiliki kekuatan super.
"Kukira kau akan pergi menemui Rajendra semaumu," ucap Hanasta tampak kecewa. Bagaimana bisa menemuk Rajendra jika dirinya saja tidak terlihat?
Selanjutnya Maharani yang kena. Mungkin kesalahannya karena menyela niat kedua temannya tadi. Dia ditanyai Utari apakah dia pernah bicara sendiri di tempat umum. Maharani mengangguk. Siapapun pernah berbicara sendiri. Utari kelihatan salah bicara karena Widia ingin bertanya juga.
"Kalau kamu punya kesempatan untuk bertukar tubuh dengan salah satu orang di antara kita, siapa yang kamu pilih?" Widia bertanya pada Hanasta yang mendapatkan giliran selanjutnya.
Tanpa ragu Hanasta menunjuk Aruna dan Dianti. "Aku ingin melihat sesuatu dari tinggi yang sama seperti mereka. Menjadi tidak tinggi itu tidak selalu enak." Indri yang ada di sebelahnya menepuk bahu Hanasta menguatkan.
Kemala adalah orang pertama yang memilih tantangan. "Kirim gebetanmu selfie yang memalukan." Ide Rananta membuat yang lainnya bersemangat. Mereka memperhatikan Kemala yang tanpa ragu berpose memalukan lalu mengirimkannya pada sang pacar. Setelah sudah, Kemala menunjukkan layar ponselnya.
"Jangan hapus hingga dia membalas," ingat Aruna.
Selanjutnya Aruna juga memilih tantangan. "Chat gebetanmu dan katakan 'Aku tahu rahasiamu selama ini'." Lagi-lagi Widia yang meminta. Sepertinya dia sangat ingin melihat teman-temannya berkencan. Aruna tidak memiliki gebetan, jadi dia mengirimkannya pada kakaknya.
"Apa hal dalam histori pencarianmu di internet yang membuatmu malu jika diketahui seseorang?" Giliran Indri. Dianti bertanya karena temannya ini memilih mengatakan kejujuran. Indri mengangkat bahu tidak tahu. Dia hanya melakukan pencarian normal.
"Siapa teman yang diam-diam kamu perhatikan di kelas?" Widia berganti menyerang Dianti ketika sudah gilirannya. Dia bahkan bangkit dari kursinya sambil menunjuk ke arah Dianti agar lebih mendalami peran. Suasananya semakin pecah karena tingkahnya.
Untuk membalas pertanyaan-pertanyaan Widia, teman-teman yang lain setuju meminta Widia untuk melakukan tantangan. Mereka berkumpul, meninggalkan Widia sendirian di tempatnya agar bisa merencanakan sesuatu. Dan keputusannya berbunyi, Ungkapkan perasaanmu kepada gebetanmu.
Widia selama ini hanya bisa menyukai seseorang dalam diam karena ternyata orang yang disukainya memilik pacar. Tantangan ini tentu akan ditentangnya karena takut merusak hubungan orang lain. Jadinya diganti mengungkapkan perasaan pada mantan. Kebetulan Widia punya.
Ketika botolnya kembali diputar setelah Widia menyelesaikan tantangannya, botol itu kembali mengarah ke arah Widia. Namun aturannya hanya ada satu kesempatan untuk melakukan tantangan dan menjawab pertanyaan dengan kejujuran. Di putaran selanjutnya juga Widia lagi hingga dia protes.
"Rananta, botolmu rusak," kesalnya sambil terkekeh di akhir. Disertai teman-teman lain.
"Rananta, turunlah ke lantai satu dan berfoto dengan perempuan cantik yang sedang bersama pacarnya." Putus teman-temannya sepihak. Membuat si empunya acara kaget namun terlihat lucu.