
Ignacia menyandarkan tubuh pada mamanya, masih dengan posisi duduk sementara mamanya berdiri di samping. Tubuh anak gadisnya ini seperti sedang sakit. Wajahnya mulai pucat, energinya terbawa angin dari luar dapur. Suaminya berhasil membuat anaknya sangat tegang.
Memang awalannya Ignacia senang membawa Rajendra ke hadapan ayahnya agar sang ayah bisa mengerti jika anaknya kini sudah dewasa. Wajar jika sudah menyukai lawan jenis, apalagi dia adalah laki-laki yang ia sebut dengan laki-laki baik. Rajendra juga punya nyali untuk menghadap ayah dari kekasihnya untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun berkencan.
Apa ayahnya tidak bisa mengolah suasana agar tidak mencekam bagi Ignacia? Atau mungkin Ignacia saja yang penakut dan tidak siap mendapatkan pertanyaan begitu dari sang ayah? Apapun itu, Ignacia jadi takut untuk bertemu dengan Rajendra sekarang. Pertanyaan ayahnya terngiang-ngiang di kepala.
"Ayah bukannya marah padamu, Ignacia. Ayah hanya ingin memastikan jika Rajendra akan menikah dengan kamu suatu hari nanti. Kamu tahu, setiap ayah punya perasaan yang sangat spesial pada anak perempuannya. Tidak seperti anak laki-laki. Ayah ingin yang terbaik. Karena ayah tidak mengenal Rajendra dengan baik, jadinya ayah bertanya padamu."
Ignacia memperbaiki posisi duduknya, menatap mata mamanya. Wajah tanpa warna ini terlihat sempurna. "Aku yakin Rajendra akan menikah denganku suatu hari nanti. Dia bukan tipe laki-laki yang sudah bermain-main. Aku tidak berani menjawab, ayah seolah memojokkan aku."
Jika diingat-ingat, ayahnya dulu membuat Ignacia takut ketika memakan buah apel. Sekarang jus jambu merah. Apa hubungan ayahnya dengan buah-buahan ini? Mama Ignacia menarik kursi, lebih dekat dengan anak perempuannya. Katanya tidak apa-apa untuk bertanya kapan rencananya mereka akan menikah. Hanya rencana saja, tidak perlu tindakan matang dahulu.
"Tidak, akan aku biarkan Rajendra mengatakan soal pernikahan lebih dulu. Sekarang kami harus fokus pada masa depan. Rajendra saja belum mengatakan sesuatu soal wisuda sekolahnya." Ignacia meninggalkan dapur, sudah enggan meminum jus segar buatan ayahnya. "Aku ingin membaca buku di kamar." Mamanya ditinggalkan sendiri.
Buku Ignacia sudah habis, semuanya sudah ia baca sembari menunggu Rajendra. Si gadis menjatuhkan diri di atas tempat tidur, melirik ponselnya sebentar. Apa Ignacia harus membuat surat lamaran pekerjaan sekarang? Nesya menyarankan agar Ignacia segera membuatnya agar tidak kedahuluan orang lain. Ignacia mendudukkan diri, mengambil laptop di atas meja belajar lalu mulai bekerja.
Dahulu ada tugas membuat surat seperti ini di sekolah menengah atas. Ignacia hanya perlu membuka buku itu kembali dan membuatnya semakin baik. Harap-harap dirinya bisa segera masuk ke sekolah ini. Bergelut dengan tugas di universitas, sekarang Ignacia mengincar sekolah menengah pertama. Kapan Ignacia bisa memberitahu Rajendra soal ini? Mungkin di pertemuan selanjutnya.
Malam harinya Ignacia makan terlambat. Ia menemukan sebuah buku daring menarik setelah membuat surat lamaran pekerjaan. Jadinya ia melewatkan banyak waktu hanya duduk di depan laptop. Dia hanya mengistirahatkan mata ketika harus pergi melakukan ritual sore. Setelahnya kembali menatap layar, menekan tombol untuk membalik halaman.
Suara ketukan membuat Ignacia menoleh cepat. Rafka memanggil untuk makan malam. Buru-buru si gadis mengisi daya laptop sebelum pergi. Ignacia tidak makan banyak. Pikirannya terus kembali pada selanjutan cerita. Sudah sekitar seratus halaman yang Ignacia habiskan hingga jam makan ini. Jika masih ia lanjutkan hingga malam, mungkin setengah buku bisa habis dalam waktu singkat.
Ignacia meletakkan ponselnya dalam keadaan menyala baik data dan suara notifikasi yang masuk. Tidak ada pesan dari Rajendra sejak Ignacia menemukan buku ini. Jadi kesannya tidak sibuk sendiri hingga sengaja tidak merespon kabar dari sang kekasih. Mengingat mencari kabar Rajendra di masa lalu begitu sulit. Bahkan Ignacia harus membaca banyak buku agar bisa melupakan pesan yang ia tunggu.
Gadis berambut panjang ini sudah kembali seperti semula. Sudah ia tetapkan untuk hanya membahas soal pernikahan jika Rajendra yang memulai. Tidak ada perasaan takut karena pertanyaan ayahnya. Perasaan takutnya sudah jauh berkurang. Rajendra pasti akan membahasnya, Ignacia sangat yakin.
Sebelum kembali ke kamar setelah makan, Ignacia mendekati kulkas. Ia ambil segelas jus yang masih tersisa untuk menemani membaca. Semoga ayahnya tidak menganggu Ignacia lagi dengan pertanyaan menyeramkan. Ignacia merasa tidak punya kuasa jika harus membahas pernikahan di waktu seperti ini.
"Jangan terlalu lama menatap laptop," tegur mama Ignacia. Wanita itu tahu apa yang menahan anaknya cukup lama di dalam kamar. Dari cela pintu yang tidak ditutup sempurna, mamanya bisa melihat Ignacia tengah membaca sesuatu. Lama mamanya berdiri disana, tidak ada yang bisa mengalihkan perhatian anaknya. Kecuali ketukan Rafka tadi.
Omong-omong Ignacia ingin tahu bagaimana anak itu tahu jika yang ia lihat adalah kakaknya dan Rajendra. Ignacia datangi dahulu kamar adiknya. Keduanya tengah bermain Lego ketika ia datang. Keduanya mengabaikan keberadaan Ignacia. Fokus membuat mobil-mobilan yang katanya akan mereka tandingkan.
"Kau benar melihatku di depan kedai es krim?" Kedua adiknya menoleh, Rafka mengangguk setelahnya. Arvin lalu menoleh pada kakaknya yang lain, diam mendengarkan sambil terus menatap kedua belah pihak. "Bagaimana kau bisa tahu jika itu aku dan Rajendra? Bagaimana kau bisa mengingatnya? Kau juga tidak tahu baju apa yang kupakai tadi."
"Untuk mengenali kakak itu sangat mudah. Kakak tidak pernah mengikat rambut selain jika ada Kak Athira. Lalu jika Kak Rajendra itu aku ingat karena ... entahlah aku hanya tiba-tiba teringat kakak itu." Rafka kembali bermain dengan legonya. Memamerkan mobil besar miliknya yang hampir selesai. Membuat si bungsu merasa iri saja.
Ignacia tidak akan marah pada adiknya. Pertanyaan ayahnya membuktikan jika sang ayah masih ingat dengan Rajendra. Dan dapat menangkap maksud kenapa Ignacia mengenalkan teman laki-laki pada beliau. Ayahnya cukup perhatian sampai menanyakan pertanyaan tadi. Rajendra apakah akan keberatan jika Ignacia bertanya lebih dulu?
...*****...
"Jadi apa saja yang kalian lakukan tadi?" Rajendra tersenyum kecil ketika ibunya bertanya. Wanita ini sudah tidak sabar menunggu cerita kencan anaknya. Meskipun rasanya membosankan, ibunya akan tetap senang. "Kalian makan es krim apa lagi kali ini? Selama bertahun-tahun kalian selalu makan es krim setiap bertemu." Ibunya bahkan hafal kebiasaan berpacaran kedua anak muda ini.
Rajendra bercerita sedikit sesuai apa yang ia lakukan dengan Ignacia. Kencan hari ini tidak akan bisa Rajendra lupakan. Apalagi setelah mendapatkan hadiah kecil dari kekasihnya kembali. Rajendra bersyukur Ignacia tidak marah atau kecewa. Rajendra tidak mampir mengontrol emosinya. Hatinya terlampau bahagia.
Sang ibu ikut tersenyum. Selain bahagia menjadi teman ternyaman anaknya untuk bercerita, sampai saat ini Rajendra masih mau membahas hal-hal pribadi dengan dirinya. Wanita di hadapan Rajendra ini meneguk segelas teh hangat miliknya, masih dengan tatapan yang mengarah pada anak bungsunya. Lihatlah wajah yang tidak ingin menatap balik mata ibunya.
Ibunya berhasil membuat Rajendra malu-malu. Senyuman salah tingkahnya semakin terlihat jelas. Hanya ada keduanya di dapur malam ini. Ayah dan Gafar sudah lebih dulu menyambut malam bersama dengkuran. Jadi anak dan ibu ini bisa leluasa bercerita tanpa takut ada yang mendengarkan.
"Ibu tenang saja, aku ini laki-laki sejati. Tapi kurasa aku tidak bisa membicarakannya dengan Ignacia terlalu cepat. Sebelum itu aku ingin melihat apakah Ignacia juga siap. Untuk mencegah hal-hal yang tidak tidak-tidak." Rajendra ikut menyeruput teh buatan ibunya. Dari balik gelas ia melihat anggukan ibunya. Wanita ini paham apa yang Rajendra maksud. Ajakan untuk ke jenjang lebih serius juga harus memperhatikan orang lain.
Apapun itu, ibunya berharap Rajendra berhasil dengan rencananya. Semoga tidak ada kesulitan apapun setelah pasang surut yang anaknya hadapi. Rajendra berhak mendapatkan masa depan yang lebih cerah dari siapapun. Untuk beberapa saat ruangan menjadi hening. Masing-masing bergelut dengan pikiran yang bermacam-macam.
"Omong-omong, Bu," Rajendra bersuara pelan setelah beberapa menit, "Aku sudah mengatakan semua yang ingin kukatakan pada Ibu setiap kita mengobrol. Apakah itu masih belum bisa membuat Ibu juga melakukan hal yang sama? Contohnya bilang jika Ibu memberikan nomor Ignacia pada Kak Amira."
Tatapan Rajendra berubah aneh. Ada niat menelisik lebih jauh lewat manik mata sang ibu. Wanita di hadapannya gugup, bingung bagaimana anaknya bisa tahu. Tidak ada orang yang dirinya beri tahu selain Amira. Sesuai permintaan anak pertamanya itu juga, sang ibu tidak mengatakan apapun pada Rajendra. "Kenapa kamu berpikir begitu?"
Rajendra sudah tahu semuanya dari Gafar juga Ignacia sendiri. Nomor kekasihnya ini tidak sembarang Rajendra bagikan pada keluarganya. Hanya pada ibunya seorang untuk acara ketika dia masih duduk di bangku SMP. Siapa lagi yang bisa membagikan nomor penting itu pada orang lain?
"Kenapa Ibu menyembunyikannya dariku? Ignacia itu orang spesialku, Bu. Tidakkah aku perlu tahu jika nomornya bisa disimpan di ponsel orang lain?" Rajendra menyandarkan diri pada sandaran kursi, masih menatap tajam hingga yang ditatap jadi gugup. Rajendra mungkin berlebihan soal nomor telepon ini. Hanya saja Rajendra tidak ingin ada hal buruk terjadi pada kekasihnya karena nomor berharganya sampai di orang lain.
Hening, ibunya bingung harus menjawab apa. Jika bicara soal Amira, anak gadisnya bisa kecewa karena ibunya melanggar janji. Lalu jika berbohong, Rajendra bisa saja berhenti terbuka padanya. Satu-satunya cara untuk menyelesaikan ini adalah meminta maaf. Ibunya tidak berniat merahasiakan, hanya saja setelah urusannya selesai, semuanya akan beres.
Yang lebih muda menghembuskan nafas panjang, "Sudah aku katakan untuk menjauhkan Ignacia dari kakak. Aku tidak begitu menyukai wanita itu. Ibu yang paling tahu alasannya kan? Terakhir kali kakak membuat Ignacia jauh dari Ibu. Padahal tujuanku adalah mendekatkan kalian berdua." Rajendra kesal, tatapannya dia alihkan pada sekitar.
Harapannya Ignacia tidak akan di ganggu lagi oleh wanita yang statusnya adalah anak pertama dari keluarga ini. Sudah cukup adegan tidak menyenangkan yang Rajendra saksikan selama wanita itu tinggal disini. Memikirkannya saja Rajendra sudah muak. Dia bukan tipe pendendam, hanya saja jika bahaya bisa diauhi, ia akan berlari sejauh mungkin dan tidak akan pernah kembali.
"Tidak bisakah kamu berbaikan dengan kakakmu, Rajendra? Kalian ini saudara. Jika ayah dan ibu sudah semakin tua, kalian bertiga harus bekerja sama untuk merawat kami. Tidakkah kamu selalu senang membuat bangga ayah dan ibu?" Wanita ini mencoba untuk menyentuh tangan anaknya di atas meja. Membuat yang di sentuh merasa sedikit luluh.
Setiap anak pasti menyayangi orang tuanya dengan sepenuh hati. Membuat bangga kedua manusia yang ditakdirkan menjadi orang tuanya pasti adalah hal yang sangat dicita-citakan. Rajendra bisa membawa segalanya untuk kedua orangtuanya terutama ibu. Rajendra sudah mendapatkan apa yang ia inginkan dengan kerja keras, dan itu semua hanya untuk ibunya. Namun tidak dengan berdekatan dengan wanita kurang ajar itu.
Di dalam kamar, Rajendra memikirkan wajah memohon ibunya. Setiap orang tua pasti senang melihat anaknya akur dan saling menjaga satu sama lain. Permintaan ibunya tidak begitu berat, namun berdampak sangat besar pada hati Rajendra. Wanita itu hanya akan merusak segalanya. Rencana pertemuan orang tuanya dengan Ignacia saja bisa rusak, apalagi rencana di masa depan. Rajendra belum siap.
Rajendra melirik ponselnya, berpikir untuk menghubungi Ignacia. Mungkin gadisnya bisa membuatnya sedikit lebih tenang. Lagipula malam belum begitu larut. Ignacia mungkin masih terjaga. Diraihnya ponsel itu lalu membuka ruang obrolan kekasihnya. Panggilannya langsung tersambung tanpa nada tunggu lama.
"Rajendra, semuanya baik-baik saja? Kenapa kamu menelpon malam-malam begini? Sesuatu terjadi?" Rajendra bahkan belum mengatakan apapun tapi Ignacia seolah sudah tahu semuanya. Kekhawatiran kekasihnya membawa kehangatan bagi Rajendra. Ia tidak perlu khawatir dengan apapun selagi masih bisa mendengar suara Ignacia.
"Aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu. Aku sangat senang kita bisa bertemu hari ini." Rajendra berbohong. Tidak mungkin ia katakan rahasianya dengan sang ibu. "Apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Apakah aku menganggu malammu, Ignacia?"
Si gadis mengaku jika ia masih membaca sebuah buku daring. Ia berjanji akan berhenti membaca setelah bab ini selesai. Ignacia bisa membaca beberapa kalimat terakhir sambil mengobrol. Sebaiknya dia segera berhenti lalu bersiap-siap tidur. "Wah ceritanya bagus sekali. Aku menyukainya."
"Sudah berapa halaman yang kamu habiskan hm?" Rajendra yakin jika gadisnya tidak mungkin hanya membaca di awal bab saja. Apalagi jika ceritanya menarik. Begitu mendengar kata 'kira-kira setengah buku', Rajendra sungguh percaya. "Kamu pasti lelah, sekarang bereskan laptopnya dah pergi ke tempat tidur. Matamu pasti sudah lelah."
Tentu saja Rajendra benar. Selain lelah menatap laptop, Ignacia juga lelah dengan pertanyaan ayahnya yang masih terngiang. Malam itu pasangan kekasih ini sama-sama mengalami malam yang berat tanpa mengatakannya satu sama lain. Ignacia harus menunggu kekasihnya sementara Rajendra punya keinginan untuk mengabulkan permintaan sederhana sang ibu.
"Rajendra, aku ingin kita mengobrol hingga terlelap."
"Tentu, ayo kita lakukan itu. Aku tidak keberatan."