Beautiful Monster

Beautiful Monster
Inti Liburan



Ignacia dan Rajendra turun dengan bergandengan tangan. Senyuman merekah di wajah keduanya sekaan baru saja menikmati waktu yang telat ditunggu-tunggu. Jaket yang tadinya dipakai Rajendra juga sekarang sudah dipakai dengan nyaman oleh Ignacia. Bahri senang teman lamanya tidak kecewa lagi. Harap saja semuanya terus berlangsung damai setelahnya.


Danita dan Bahri sudah menunggu di depan restoran, mereka membawa kembang api untuk memeriahkan malam ini dan tak lupa membuat foto dan video kenangan lagi. Ignacia dan Rajendra berdiri di dekat mobil, menunggu Nesya yang katanya masih berada di toilet. Pasangan kekasih ini hanya bertatapan mata lalu bicara dengan berbisik.


"Kelihatannya mereka sedang senang," Danita jadi ikut berbisik pada Bahri. "Aku takut jika mereka sampai bertengkar."


Kembali ke penginapan, Rajendra meminta agar Ignacia tetap memakai jaketnya untuk saat ini. Malam akan menjadi semakin dingin. "Kamu tidak kedinginan? Bajumu tidak tebal." Rajendra tidak menjawab dan hanya ingin memastikan Ignacia tetap hangat. Tidak peduli dengan dirinya yang melipat tangan di depan dada kala angin berhembus.


Kembang api kecil yang pertama dinyalakan. Untuk yang ini Nesya hanya akan meletakkan kameranya dan tempat yang dia inginkan dan membiarkan orang-orang bermain sesuka hati. Konsep video seperti itu kadang tampak lebih bermakna daripada yang sudah ditentukan alurnya. Mungkin akan ada kejutan sementara mereka bermain dengan riang.


Bahri menyalakan api, biar yang lainnya bergantian menyalurkan bara satu sama lain. Danita mengabadikan momen pertama untuk malam ini dengan ponselnya. "Aku sangat suka momen ini." Senang gadis berambut pendek itu. Senyuman tak bisa berhenti mengembang seakan telah diberikan baking powder.


Kini giliran Ignacia yang mengeluarkan ponselnya, meminta teman lain berkumpul sebentar untuk mengabadikan momen. Mereka membentuk oval hingga wajah juga kembang api di tangan bisa tampak di dalam layar. Beberapa foto diambil. Hanya berbeda posisi kembang api yang tampak semakin disempurnakan.


Rajendra memposisikan tangannya lebih mendekat ke tangan Ignacia. Si gadis melirik sekilas lalu tersenyum kecil. "Apa kita perlu membuat video juga?" Ignacia bertanya. Melihat anggukan teman-temannya, Ignacia mengubah pengaturan kameranya menjadi mode rekam. "Nanti kalian bisa menyebar setelah menggerakkan kembang apinya.


Momen ini juga akan diabadikan dalam bentuk video. Begitu selesai berlari, membuat bentuk acak, dan berfoto, giliran kembang api utama yang dinyalakan. Rajendra ingin mencoba untuk menyalakan. Mereka mengubur sebagian tubuh tiga kembang api di tanah lalu menyalakannya satu persatu. Nantinya mereka bisa menikmati pemandangan langit buatan tanpa perlu memeganginya hingga pegal.


"Dejavu," lirih Ignacia pelan. Kali ini rasanya lebih meriah dari terakhir kali. Tangan senggang Ignacia tiba-tiba digenggam oleh tangan yang lebih dingin dari miliknya. Lengan keduanya berdempetan, lama-lama Ignacia jadi menyandarkan kepalanya juga pada laki-laki tinggi yang berdiri di sampingnya. "Kamu tidak kedinginan? Aku bisa masuk dan mengambil jaket lain."


Ignacia bisa melihat gelengan kecil dari kekasihnya. Rajendra enggan membiarkan gadisnya pergi. Seolah berkata 'tetaplah disini bersamaku, jangan pergi kemana-mana'. Genggaman tangannya semakin erat terasa. Rajendra melihat tangannya digenggam oleh erat oleh Ignacia seakan ingin menyalurkan kehangatan. Tanpa jaket pun Rajendra sudah merasa jauh lebih hangat.


"Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk datang, Rajendra. Aku sangat berterima kasih sekali." Rajendra membalas dengan memberikan hadiah kecil pada puncak kepala gadisnya. Dengan langit yang masih bersinar sebab perbuatan mereka, sepasang kekasih yang berdiri di tengah-tengah antara dia pasangan lain bertatapan penuh arti.


Tidak ada yang mereka katakan. Kebahagiaan sudah terpancar jelas di mata masing-masing tanpa perlu diungkapkan. Perasaan ganjil sedari pagi sudah tidak menganggu hati Ignacia. Cukup dengan keberadaan Rajendra yang kembali normal saja dirinya sudah merasa lebih baik. Dan di sisi lain, Rajendra tidak perlu merasa canggung untuk berada di tengah. Ada Ignacia yang bisa membuatnya selalu diterima.


Di samping mereka juga ada pasangan yang menikmati waktu bersama. Farhan merapikan rambut kekasihnya juga membenarkan letak kacamata agar kembali rapi. Senang rasanya bisa bertemu di tempat berisi udara segar selain di sekolah. Farhan berterima kasih pada Nesya karena sudah membuatnya sampai disini.


Bahri juga tentu melakukan hal romantis dengan Danita. Tangan kanannya berada di bahu si gadis berambut pendek itu, membiarkan kepalanya bersandar pada dirinya seakan tidak akan lelah. Rasa lelah Bahri setelah mengemudi lama terbayarkan hanya dengan keberadaan Danita yang terus tersenyum. Imbalannya jauh lebih besar dari lelahnya tadi.


"Aku ingin berlibur lagi," bisik Danita iseng.


"Nanti kita rencanakan liburan berdua saja. Oh ya, apa kita harus memberitahu yang lainnya sekarang?" Danita berpikir sebentar. Sekarang memang momen yang bagus, apalagi setelah ini kembang api yang menyilaukan mata juga memekakkan telinga sudah akan berakhir. Mereka bisa bicara dengan leluasa tanpa perlu menaikkan intonasi.


Begitu kembang api terakhir meledak di udara, Danita dan Bahri muncul di hadapan keempat temannya. Keduanya bingung harus mengatakan apa, jadi langsung pada topiknya saja. Danita mengangkat tangan kirinya, menampakkan benda berkilau yang ada di hari manisnya. Jari yang dianggap tepat untuk cincin pertunangan dan pernikahan oleh banyak budaya.


"Kami sudah bertunangan," ucap Danita santai.


Ignacia dan Nesya otomatis menutup mulut dengan tangan akibat terkejut. Mata keduanya berkaca-kaca hingga membuat Danita juga merasa terlampau senang. Mata ketiganya berkaca-kaca padahal tidak ada hal sedih yang ditunjukkan. Para pria menunjukkan dukungan berupa ucapan selamat pada Bahri karena sudah berani mengambil langkah yang lebih serius.


Berbeda dengan para gadis yang masih bertatapan seolah kehabisan kata-kata. Semua yang mereka curahkan lewat kontak mata sudah mendeskripsikan segalanya. "Selamat untuk pertunangan kalian", "bagaimana bisa kalian menyembunyikan ini?", "kami tidak sabar untuk datang ke pernikahanmu", "kami sangat senang dengan kabar ini", dan banyak hal lainnya.


Farhan bertanya bagaimana bisa Bahri tidak mengatakan ini lebih cepat padahal katanya mereka sudah bertunangan cukup lama. Bahri bilang jika dirinya ingin memberitahu saat rencana liburan sebelumnya, tapi karena ada penundaan, keduanya juga menunda kabar ini. Bahri hanya melakukan apa yang Danita inginkan. Gadis itu ingin memberitahu kedua temannya secara langsung.


Merasa duduk melingkar, mengobrol--menginterogasi lebih tepatnya pasangan yang sudah bertunangan lama ini. Memang lebih seru dan berkesan jika mengatakan kabar baik secara langsung. Danita menikmati wajah terkejut keempat temannya ketika melihat cincin yang tersemat pada salah satu jarinya.


Bahri sudah memiliki pekerjaan, mereka sudah bersama cukup lama, mereka sudah saling mengenal satu sama lain layaknya keluarga. Juga mereka sudah diterima oleh keluarga masing-masing. Danita tidak punya alasan untuk menerima lamaran Bahri waktu itu. Hanya saja mereka belum bisa melangsungkan pernikahan karena rencananya memang bukan di waktu yang dekat setelah pertunangan.


"Tidak mudah mengatakan ini agar kalian tidak hampir menangis seperti tadi. Aku juga hampir menangis saat dilamar," Danita memberitahu kedua teman gadisnya. Biar para pria mengobrol dengan topik yang berbeda. "Aku senang, itu tangisan bahagia. Ibuku juga ikut senang lalu beliau menangis hingga aku juga ikut menangis. Setelah masa sulitku, rupanya aku masih punya kesempatan untuk memiliki keluarga."


Ignacia menggeleng kecil untuk menghilangkan ingatan soal cerita masa lalu Danita. Gadis ini tentu berhak bertemu dengan laki-laki baik di kehidupan yang sekarang. Danita pasti jauh lebih aman setelah menikah dengan Bahri. Mereka sudah sama-sama punya kegiatan dan prioritas yang sama sekarang.


"Kalian harus datang ke pernikahanku nanti," tegas Danita dengan air wajah yang dibuat-buat. Mana mungkin kedua temannya tidak datang ke hari spesial Danita. Gadis ini sudah membantu mereka hingga bisa di titik bahagia ini. Pasti menyenangkan bisa datang ke pernikahan mereka satu persatu.


Sesuai janji, Rajendra menemani Ignacia untuk mengerjakan sedikit pekerjaan sampingannya. Mereka berpindah ke tempat yang lebih sedikit memiliki angin. Tidak tahu kenapa anginnya jadi lebih kencang dari sebelumnya. Tidak ada pengunjung yang berani keluar karena kemari bukan untuk mencari angin malam. Di ruangan yang mirip ruang tamu di dekat lobi yang sepi, Rajendra membawakan coklat hangat untuk kekasihnya.


Jaket yang Rajendra berikan tadi juga sudah disimpan dengan baik oleh si gadis di sampingnya. "Minumlah selagi hangat. Kita banyak berkegiatan diluar hari ini." Segelas coklat tadi diterima Ignacia tanpa pikir panjang. Ia teguk sekali dan membuat tubuhnya kembali hangat. "Jika kamu ingin lagi, aku bisa buatkan segelas lagi," ucap Rajendra lalu mengambil tempat di sebelah kekasihnya.


Rajendra tidak berniat membaca apa yang tengah coba diperbaiki oleh kekasihnya. Melihat banyak tulisan disana saja sudah membuatnya mengantuk. Tidak ada yang bisa dibicarakan, tugas Rajendra hanya untuk menemani Ignacia saja. Berdiam di beberapa lama hingga si gadis berhasil menyelesaikan satu bab koreksi. "Tidak banyak yang bisa aku perbaiki, jadi tidak memakan banyak waktu," ucap Ignacia memberitahu.


Ignacia masih ingin mengoreksi bab selanjutnya, jadi Rajendra dipersilahkan jika ingin kembali ke kamar. Tentu saja laki-laki itu menolak, mana mungkin dia bisa membiarkan gadis ini sendirian hanya bersama resepsionis yang bersiap-siap untuk pergi berganti shift. Rajendra masih bisa bertahan lebih lama lagi jika terus menyadari ada seseorang yang dia temani.


Karena bosan hanya duduk diam tanpa mengobrol, Rajendra mengambil ponsel dari atas meja. Benda itu jadi dingin karena lama tidak digunakan. Begitu datanya kembali menyala, banyak notifikasi dan pesan yang datang. Mereka tidak enak, Rajendra membalas pesan dari beberapa orang yang menghubungi. Fokuslah mereka dengan hal masing-masing.


"Ignacia, aku izin mengangkat panggilan sebentar." Rajendra bangkit setelah melihat anggukan dari Ignacia. Laki-laki itu pergi keluar ruangan setelah berkata 'halo' pada seseorang di ujung panggilan. Siapapun itu, Ignacia juga sedang sibuk jadi tidak bisa menghentikan Rajendra. Mungkin soal kuliah atau orang tua yang sedang rindu.


Selang beberapa menit, Rajendra kembali. Masih dengan panggilan yang tersambung, ia berikan ponselnya pada si gadis. Perasaan bingung menyelimuti Ignacia untuk sesaat hingga sebuah suara membuatnya tersadar. Rupanya mamanya yang menelpon. Ponsel Ignacia memang sengaja tidak aktif demi liburan yang berkualitas. Ignacia lupa memberitahu orang tuanya. Laki-laki di sampingnya tidak punya hal lain selain duduk dan memperhatikan Ignacia sesekali.


Tak lupa mereka tetap meminum coklat hangat yang dibuat Rajendra perlahan. Rasanya tidak akan sama enaknya ketika masih hangat. Tulisan di laptop Ignacia masih digulirkan ke atas. Ignacia mengobrol sambil sedikit membaca naskah seperti orang sibuk. Ignacia tampak keren di mata Rajendra.


Selesai mengobrol singkat, akhirnya ponsel Rajendra kembali. Si gadis meminta maaf karena mamanya menganggu dengan menelpon malam-malam. Padahal Rajendra senang bisa menjadi laki-laki yang diandalkan oleh orang tua kekasihnya. "Kamu tidak lelah, Ignacia? Kamu sudah membaca banyak hari ini. Ayo berhenti sebentar dan kembali ke kamar."


Rajendra saja yang tidak tahu jika Ignacia senang membaca cerita yang akan diterbitkan. Cerita-cerita yang kadang belum diketahui oleh banyak orang atau sebaliknya adalah pekerjaan yang menyenangkan. Tapi untuk hari ini rasanya sudah cukup. Mata Ignacia lelah ingin terpejam. Coklat hangatnya juga sudah habis. Waktu bekerja malam ini cukup sampai disini.


Besok pagi Rajendra akan menelpon, membangunkan Ignacia diam-diam untuk menikmati hari jadi yang kesepuluh. Senyuman di wajah mengangguk Ignacia tampak lucu. Rajendra menangkup wajah putih Ignacia dengan kedua tangan. Ia berikan hadiah kecil di dahi kekasihnya sebelum diminta masuk dan beristirahat. Bukannya menurut, Ignacia justru memeluk Rajendra.


Ada sesuatu di dalam hati Ignacia yang terasa tidak nyaman seolah hal besar akan terjadi. "Aku merasa seakan ingin meledak. Apa karena aku mendengar kabar baik dari Danita? Atau karena besok kita akan merayakan hari besar bersama? Menurutmu bagaimana, Rajendra?" Si gadis berbisik. Pasti sudah kelelahan hingga tak bisa menggunakan intonasi yang biasa.


"Mungkin iya. Kemungkinan lain kamu bersemangat karena berhasil menyicil pekerjaanmu dengan baik malam ini. Tidurlah yang nyenyak, Ignacia." Pelukan hangat itu mengendur perlahan, menyisakan jarak kecil sebelum Ignacia melepaskan tangannya dari pinggang kekasihnya. "Masuklah, sudah larut. Pastikan untuk bangun ketika mendengar suara nada deringmu."


Di dalam kamar, Danita dan Nesya sudah tidur pulas. Ignacia mencoba untuk tidak membuat banyak suara agar tidak menganggu. Setelah membersihkan diri dan berganti dengan pakaian yang lebih nyaman, Ignacia membuka ponselnya untuk melihat ada pesan apa dari orang-orang. Kebanyakan dari teman-teman lama Ignacia. Katanya mereka ingin membuat reuni lagi kapan-kapan.


Lalu di bawah ada pesan dari mama juga ayah Ignacia. Memperingatkan agar anak perempuan mereka ini makan dengan teratur, tidur tepat waktu, dan tidak melakukan hal yang berbahaya contohnya seperti berenang hingga menjauhi area pantai yang aman. Membaca pesan perhatian dari orang-orang masih tidak menenangkan perasaan aneh Ignacia. Ada yang salah dengan dirinya yang tidak bis dijelaskan dengan lebih rinci.


"Kurasa aku butuh tidur."