Beautiful Monster

Beautiful Monster
Hari Kita



Tidakkah Ignacia seharusnya tidak menunjukkan aura mempesona itu ketika masih di keramaian ini? Rajendra tidak sanggup terus melihat orang-orang dari kaum adam melirik istrinya. Mungkin karena tidak terbiasa saja, makanya Rajendra agak sensitif. Laki-laki itu juga sudah bekerja keras, tubuhnya mungkin kelelahan. Padahal akhir-akhir ini dia banyak mengabiskan waktu dengan Ignacia untuk menyusun acara sakral hari ini.


Ignacia terus menunjukkan senyum seolah tulang pipinya tidak akan lelah. Matanya lebih berbinar ketika menoleh ke arah suaminya. Perempuan mana yang tidak bahagia ketika bisa sampai di titik tertinggi dari sebuah hubungan? Ignacia tidak sabar menanti hari-hari ketika Rajendra akan pulang ke tempatnya. Ignacia yakin bisa sangat betah berada di rumah itu selagi Rajendra juga disana.


"Kamu tampak senang sekali," Rajendra membuka suara.


"Tentu saja. Bagaimana aku bisa berhenti bahagia di hari yang menakjubkan ini. Kamu tahu, semalam aku hampir tidak bisa tidur karena bersemangat." Ignacia bicara dengan semangat. Tak lupa senyuman yang sudah terpatri sempurna sejak kedatangan teman-temannya tadi. Semua ucapan selamat dan kata-kata manis lain yang didengarnya pasti sangat berpengaruh.


Berbeda sekali dengan Rajendra yang justru merasa sangat tegang alih-alih bersemangat. Dirinya takut membuat kesalahan di depan calon mertua. Bahkan tangannya bergetar ketika akan bersalaman dengan pak penghulu. Tatapan dari ayah Ignacia seolah menjadi dinding yang kokoh. Seolah meminta Rajendra untuk waspada dengan apa yang ia ingin lakukan.


Di pertemuan pertama setelah Rajendra melamar Ignacia saja suasananya sudah sangat canggung. Jika saja kekasihnya tidak ada disana dan tersenyum ada dirinya, Rajendra pasti ingin segera kabur meninggalkan situasi yang menolaknya datang. Meksipun ayah Ignacia tampak menyeramkan, Rajendra tetap merasa jika calon mertuanya ini juga sedih.


Ketika kakak pertama Rajendra menikah, ayahnya tampak terus menatap anak sulungnya dengan tatapan yang tidak Rajendra mengerti. Dirinya belum cukup umur saat itu, jadi hanya bisa mengetahui jika ayahnya hanya sedih anaknya pergi ke rumah lain. Rajendra tidak tahu jika melepaskan kepergian putri yang sudah dibesarkan selama bertahun-tahun akan terasa sesakit itu. Putrinya pergi bersama pria yang tidak ia kenal dengan baik.


Ada tradisi untuk meminta maaf dan yang mengharuskan kedua mempelai untuk berlutut di depan orang tua dari Keuda belah pihak. Sebagai tanda bakti dan hormat serta menunjukkan rasa bakti dan terima kasih karena sudah dirawat sedari lahir hingga waktu pernikahan. Rajendra bisa melihat sorot mata yang sama seperti ayahnya dulu pada mertuanya. "Saya percakapan Ignacia padamu." Kira-kira begitu katanya.


Ignacia tidak akan pernah menyadari tatapan itu karena si gadis hanya ingin menatap Rajendra. Perasaan tidak nyaman yang timbul karena sesuatu yang tidak diketahui akan menghilang jika Ignacia hanya berdekatan dengan suaminya. Pasti sebuah perasaan pencegahan agar tidak sesenggukan di acara sakral. Ignacia juga berkata pada Rajendra untuk tidak menangis di hari pernikahan mereka.


"Aku hanya tidak ingin menangis di hari bahagia." Ignacia tidak punya alasan meksipun saat itu dirinya masih saja terharu. Melirik cincin yang ada di jarinya saja sudah bisa membawa kenangan yang sudah berlalu di pantai. "Aku hanya ingin banyak tersenyum dan tertawa di hari pernikahan kita. Bukankah itu akan lebih menyenangkan?"


"Padahal menangis bukan hal yang salah."


"Aku tidak bilang jika menangis di hari pernikahan itu salah. Aku hanya tidak ingin merusak riasan yang dibuat seseorang untukku. Aku harus menahan diri untuk tidak melakukan apapun dalam waktu lama, kamu tahu? Rajendra, tolong jangan buat aku menangis. Aku ingin tampil cantik seharian itu."


Jika mengingat hari dimana Ignacia menangis di restoran bagus yang Rajendra temukan, sebaiknya Ignacia tidak menangis. Takutnya air matanya hanya akan terus menetes meksipun sudah dipaksa untuk berhenti. Hari pernikahan itu bahagia. Rajendra akan membuat istrinya terus tersenyum seperti yang diharapkan.


Tamu-tamu masih berdatangan. Entah para kenalan Ignacia atau Rajendra. Danita dan Bahri masih belum terlihat. Begitu pula dengan Nesya dan Farhan. "Rajendra, menurutmu mereka akan datang? Mereka tidak mengirimkan pesan atau apapun." Ignacia menyimpan ponselnya di sebelah tempatnya duduk. Beberapa kali ia mengecek ruang pesan namun tidak ada kabar dari keempat temannya itu.


"Mungkin masih diperjalanan. Kamu sendiri yang bilang jika Nesya mengadakan ujian di kelas-kelas yang ia ajar hari ini. Jadi santai saja, aku yakin mereka pasti datang."


Sekitar dua puluh menit dari pembicaraan tadi, akhirnya tamu yang ditunggu-tunggu datang juga. Setelah mengisi buku tamu, Danita dan Nesya seakan lupa jika mereka tadi datang dengan siapa. Kedua gadis ini berjalan menuju tempat Ignacia dan suaminya berada. Tak lama kemudian Bahri dan Farhan menyusul, mengambil tempat untuk bersalaman dengan Rajendra.


Hubungan mereka kini tak lagi dingin. Rajendra tidak lagi menyimpan perasaan negatif untuk teman lama Ignacia itu. Lagipula sekarang Ignacia sudah menjadi miliknya seutuhnya. Tidak akan ada yang bisa mengambil gadis kesayangannya itu sampai kapanpun. Senyuman lebar terpampang jelas dari wajah tegas Rajendra. Laki-laki itu puas.


Masih dengan suasana akrab dengan teman seperjuangan, ada tiga tamu lain yang menunggu untuk bisa mengucapkan selamat. Danita dan Nesya tampak masih asik mengobrol hingga tak menyadari ada yang tengah menatap. Ketika urusan dengan tamu sebelumnya selesai, barulah tiga orang ini datang untuk mengucapkan selamat.


Ignacia mengundang dua diantara mereka, tidak dengan seseorang yang datang bersama mereka. Feby dan Sarah tampak menunjukkan senyum ramah, mengucapkan selamat secara bergantian pada dua pengantin di hadapan. Feby adalah rekan kerja Ignacia, jadi wajar jika datang. Lalu untuk Sarah, Ignacia hanya ingin mengundangnya karena dia teman dari Feby. Mereka juga sudah bertemu sebelumnya.


Lalu laki-laki kurus di belakang mereka ini, Bagas, apa mereka yang mengajaknya? Bagas terdengar tulus ketika mengucapkan selamat. Tidak ada alasan untuk memendam perasaan tak nyaman juga. "Semoga pernikahan kalian menjadi awal yang menyenangkan." Ignacia tersenyum, begitu pula Rajendra. Ia menjabat tangan Bagas bersahabat.


Rajendra mengucapkan terima kasih atas kedatangan ketiga temannya ini. Dipersilahkan ketiganya untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia. Setelah kepergian mereka, Ignacia langsung mengalihkan pandangan. Tidak ingin membalas tatapan Bagas di akhir. "Aku yang mengundang Bagas. Dia temanku selama di perantauan, aku hanya tidak ingin membuatnya merasa diabaikan." Rajendra berbisik.


"Kamu merasa tidak nyaman?" Rajendra bicara lagi. Ignacia menggeleng pelan. Dia hanya penasaran siapa yang membawa laki-laki itu kemari. "Maaf aku tidak mengatakannya padamu dahulu dan langsung mengirimkan undangan."


Di suatu momen, Ignacia dan Rajendra lelah hanya duduk di atas pelaminan. Acara sudah hampir berakhir. Hanya tersisa para keluarga besar yang ingin mengucapkan salam sebelum anak-anak mereka pulang ke rumah yang baru. Acara pindahan sudah terlaksana setelah akad. Jadi pengantin baru sudah bisa menempati rumah yang belum dihuni itu.


Dua pengantin ini bercengkrama dengan sanak saudara yang ada. Ignacia mendatangi keluarganya, lalu dibawa ke nenek juga kakek yang menunggu di sisi ruangan. Mereka mengaku senang bisa melihat Ignacia sudah menikah sebelum mereka pergi. Cucu pertama mereka berhasil mengadakan acara besar bersama seseorang yang ia cintai juga.


Di tengah keramaian sekitar, Ignacia yang masih menggunakan gaun pengantinnya masih sering melirik ke arah Rajendra. Suaminya itu sibuk mengobrol dengan teman-temannya yang datang terlambat. Mereka pasti rekan kerja Rajendra karena tampak begitu akrab. Cara mereka menyapa juga berbeda dari teman-teman sebelumnya. Contohnya dengan teman yang dahulu pernah mendapati Ignacia berdua dengan Rajendra di rumah si laki-laki.


Ada banyak petuah yang disampaikan oleh nenek Ignacia. Dan dari banyaknya cerita soal rumah tangga, Ignacia masih membagi fokusnya dengan melirik Rajendra. Perasannya bilang jika akan ada hal menarik jika terus melirik ke sisi ruangan yang lain. Beruntung perempuan memiliki pandangan yang luas, jadinya Rajendra tetap terlihat meksipun agak samar dengan kemeja berwarna senada dengannya itu.


Nenek dan kakek harus pergi lebih dulu. Lelah sudah duduk lama bersama keramaian yang ada. "Ignacia, hati-hati dalam perjalanan pulang. Katakan pada suamiku untuk hati-hati ketika berkendara." Hanya itu nasihat yang Ignacia ingat dari neneknya. Ketiga ia akan mengikuti orang tuanya mengantarkan kakek dan nenek, mamanya menghalangi. Katanya lebih baik Ignacia tetap disini.


Berganti dengan Amira yang kini bersama dengan Ignacia. Dia hanya ingin datang menyapa. Tadi ia hanya sempat mengucapkan selamat singkat lalu berfoto dengan para pengantin sebelum sempat bicara banyak. Amira membawa si pengantin yang masih memakai gaun pernikahan ini untuk duduk. Bahkan Amira perhatian sekali membawakan camilan kecil untuk Ignacia. Amira dapat bergerak dengan bebas karena Qabil dan Maaz sedang mengobrol dengan pengantin laki-laki.


Melihat Amira untuk pertama kali setelah sekian lama, Ignacia jadi mengingat sesuatu yang membuatnya penasaran. Gadis itu sedang mencoba untuk mengingat kembali hal yang telah lalu itu. Sayangnya ingatan waktu itu tertimbun dengan banyaknya kejadian yang datang silih berganti. Ignacia hanya ingat Amira bergumam tentang sesuatu.


Amira menanyakan bagaimana perasaan Ignacia hari ini, mengucapkan banyak selamat karena sudah bertemu dengan orang yang tepat. Acara hari ini berjalan dengan baik, semuanya lancar tanpa hambatan. Ide untuk memakai dekorasi berwarna dominan putih dengan latar hitam itu bagus. Bebungaan dan lampu-lampu kecil yang digunakan sebagai hiasan di beberapa titik membuat tempat ini mirip negeri dongeng.


"Ruangan ini sama ajaibnya denganmu," puji Amira.


Kisah yang dilalui Ignacia dan Rajendra sudah mirip dengan cerita fiksi. Mulai dari bagaimana Rajendra mengucapkan cinta, berbagai macam emosi ketika menjalin hubungan, segala kenangan manis yang terbentuk hanya karena momen kecil, dan bagaimana mereka bisa keluar menghabiskan waktu bersama, semuanya mirip dengan cerita yang Ignacia baca dalam buku.


Ajaib. Dari semua ombak yang datang menyerang, keduanya masih tetap bersama bahkan memantapkan hubungan.


Seiring dengan obrolan yang semakin panjang, Ignacia ingat jika dahulu dirinya bisa menyalahkan Amira untuk sesuatu soal Rajendra. Jika Ignacia bertanya sekarang, apakah Amira masih ingat juga? Atau sebaiknya Ignacia lupakan saja ingatan itu dan terus merespon dengan santun ajakan mengobrol kakak iparnya. Sulit dipercaya jika Ignacia tidak lagi jadi yang tertua di keluarga. Dia punya tiga orang kakak sekarang.


"Ignacia, selamat datang di keluarga kami." Senyuman Amira membuat Ignacia ikut tersenyum. Hal lain yang tidak ia sangka adalah ucapan selamat datang dari kakak ipar. "Kamu harus betah menjadi bagian keluarga ini untuk selama-lamanya. Karena kalau tidak, aku akan menghukum Rajendra jika tidak bisa menjagamu dengan baik." Ignacia terkekeh.


Sorot mata Amira yang sering melirik ke arah rambut indah Ignacia kini teralihkan pada dua orang yang baru memasuki ruangan. Mereka dua orang terakhir yang ditunggu-tunggu kehadirannya. Gafar harus menyelesaikan pekerjaannya dahulu baru bisa mendatangi acara pernikahan adiknya. Dia tidak bisa mengambil cuti karena rekannya sudah banyak yang mengambil jatah. Berangkat terlambat adalah hal yang memungkinkan.


Gafar tidak sendiri dengan jaket yang menutupi kemeja kerjanya. Ada seorang gadis yang ia gandeng masuk ke dalam. Qabil dan Maaz menyambut keduanya bersama dengan Rajendra juga ibu mereka. Dari kejauhan, Ignacia seperti mengenal siapa gadis yang dibawa masuk. Tampak seperti ... Seseorang yang pernah Ignacia temui sekilas.


"Itu anggota baru keluarga kita. Sebentar lagi ia akan mengadakan acara yang sama dengan kamu, Ignacia. Ayo aku ajak bertemu dengan dia." Amira menggandeng tangan Ignacia menuju pintu. Rasanya lebih baik karena ada yang menuntun dirinya untuk bisa mengenal keluarga Rajendra. "Halo, kau pasti Riris. Aku kakak Gafar, namaku Amira."


Tangan yang tadi digunakan untuk menggandeng Ignacia kini bergerak untuk berjabat tangan dengan perempuan yang disebut Riris itu. Nama yang tidak asing bagi Ignacia. Rajendra mendekati istrinya, "Perempuan ini adalah kekasih kakakku. Sebentar lagi mereka juga akan menikah."


Gafar dan Riris mendekati kedua pengantin. Mengucapkan selamat seperti yang seharusnya. Ada permintaan maaf juga karena baru bisa datang. Ignacia berkenalan dengan perempuan bernama Riris ini. Ketika menyebutkan nama, keduanya sama-sama tampak mengenal satu sama lain. Karena takut salah orang, jadinya mereka hanya bertukar senyum.


Ketika hanya berdua, Rajendra diam-diam menggandeng tangan Ignacia lembut. Tidak ada perasaan takut atau malu-malu meskipun ada keluarga di sekitar. Memiliki hubungan resmi memang semenyenangkan ini. Rajendra bisa menggenggam tangan istrinya sebanyak yang ia mau, selama yang ia mau. Tidak ada yang melarang.


Ignacia melirik tangannya yang sedang bersama Rajendra, lalu berganti pada wajah tampan suaminya. Darahnya berdesir. Adrenalin menuntun jantung Ignacia agar berdetak lebih kencang. Wajah tampan itu bergerak untuk membalas tatapan Ignacia, senyuman kecil muncul memberi kode. Semakin tempat ini hening, semakin terasa kebahagiaan yang terpancar dari Rajendra. Lebih dari ketika ia berhasil melafalkan ijab kabul.


"Setelah ini kita akan pulang ke rumah kita sendiri, Ignacia." Rajendra berbisik.