
Sekolah sepi, Rajendra dapat dengan bebas menggandeng tangan kekasihnya menuju tempat parkir. Dia bahkan tidak peduli dengan tatapan atau godaan teman-temannya. Mereka mulai bertingkah berlebihan melihat sepasang kekasih yang katanya belum pernah pergi bersama bergandengan tangan.
Ignacia menoleh pada Rajendra sebentar, pikiran aneh dalam dirinya segera dihilangkan. Rajendra tampak berbeda. Dia percaya diri dengan hubungan ini. Tidak ada keraguan atau penyesalan apapun.
"Kenapa kamu berani menggandeng aku di sekolah?" Pada akhirnya Ignacia juga bertanya. Daripada terus penasaran.
"Sekolah sudah lebih sepi. Aku juga bangga menunjukkan bahwa aku sudah memiliki kamu. Aku tidak ingin ada salah paham lagi. Kenapa bertanya? Kamu merasa tidak nyaman?"
Ignacia menggeleng, dia hanya merasa aneh.
Sampai di jalan yang lebih sepi, Rajendra mengangkat tangannya yang menggandeng Ignacia kemudian menciumnya sekilas. Tingkahnya yang terlampau percaya diri membuat Ignacia membulatkan matanya tidak percaya. Seseorang bisa saja melihat keduanya. bagaimana jika ada guru yang melihatnya dan membuat keduanya dalam masalah?
"Apa yang kamu lakukan?" panik Ignacia.
"Aku hanya senang karena bisa berjalan denganmu."
"Bagaimana jika kita ketahuan? Bagaimana jika ada yang mengadu? Kamu jangan membuatku takut."
"Kenapa takut? Toh sudah banyak yang tahu jika kita adalah pasangan. Mereka tidak perlu melakukan apapun atau mengadu seperti anak kecil. Tenang saja."
"Kamu ini ada-ada saja, Rajendra."
Tempat parkir juga sepi. Orang-orang sudah berada di rumah. Tidak ada yang menggunakan aula yang ada di dekat sana juga. Dan bahkan di ruangan yang digunakan organisasi paskibra sekitar parkiran tidak ada siapapun. Sekolah bagian Utara terkesan seperti tidak ditempati.
"Disini menyeramkan," gumam Ignacia sambil melihat sekitar. Dia jadi bersyukur karena ada Rajendra yang bisa menemani hingga sampai disini.
"Rajendra, ketika kamu pulang malam, disini semakin menyeramkan ya? Kelihatannya gelap karena tidak ada lampu di sekitar sini." Pandangannya menatap pada yang berjalan di sampingnya. Mencari-cari letak lampu taman.
"Iya, agak menyeramkan. Disini gelap dan tidak ada siapapun. Karena itu aku mengantarmu sampai disini, Ignacia. Aku takut sesuatu terjadi padamu. Aku akan memastikan kamu keluar dari sekolah dengan selamat."
Rajendra menarik tangan Ignacia agar tubuh keduanya menjadi lebih dekat. "Juga agar bisa bersamamu lebih lama."
"Kenapa kamu jadi romantis seperti ini hm?"
"Mungkin karena kemarin kamu tidak memperbolehkan aku untuk pulang?"
Ah wajah Ignacia mulai memerah. Kenapa kejadian kemarin harus dibahas? Ignacia sedang merasa kesepian kemarin. Wajar jika dia ingin ditemani seseorang yang disukainya.
"Kenapa kamu membahasnya? Salahmu sendiri karena muncul dan membuatku tidak ingin ditinggalkan sendirian. Kalau begitu tidak perlu diantar, aku bisa sendiri." Ignacia ingin melepaskan genggaman tangannya dari Rajendra, tapi laki-laki itu tidak ingin melepaskannya.
"Jangan jauh-jauh dariku. Takutnya ada sosok yang tiba-tiba menggandengmu." Rajendra mendapatkan pukulan di lengannya karena membuat Ignacia takut. Laki-laki itu tertawa, melihat wajah cemberut Ignacia yang sedang takut.
Sudah sampai. Itu sepeda motor Ignacia.
"Sudah sampai. Kamu bisa kembali ke kelas. Aku akan keluar sendirian." Rajendra menggeleng, dia ingin menunggu hingga Ignacia keluar sekolah. "Aku akan mengirimkan pesan ketika sampai di rumah. Kamu bisa meninggalkan aku sekarang."
"Tidak, aku akan menunggumu keluar. Tapi-" Rajendra menarik tangan Ignacia lagi. Mengikis jarak diantara keduanya. Membuat jarak yang dapat membuat orang yang melihatnya salah paham. Sungguh Rajendra menjadi sangat dekat.
"Sekarang aku yang tidak ingin kamu pergi. Kapan kita bisa berkencan?" Rajendra menatap gadisnya dalam. Wajahnya seperti kian mendekat.
Ignacia tersenyum geli, mundur satu langkah namun Rajendra kembali menariknya mendekat. "Kenapa kamu menjauhiku? Kamu bahkan belum menjawab," bisiknya lembut.
"Jangan lakukan hal-hal aneh, Rajendra. Kita bisa berkencan saat kamu tidak sibuk," bisik Ignacia sepelan mungkin. Sudut matanya baru saja menangkap dua sosok manusia yang mungkin akan ke parkiran juga.
"Apa yang aneh?" Rajendra tampak mencurigakan.
"Ingatlah dimana kita berada, Rajendra. Ada dua orang yang akan berjalan kemari. Mereka melihat kita."
"Oh benarkah? Lalu kenapa? Biarkan saja." Rajendra mulai melepaskan genggamannya, "pulanglah. Segera hubungi aku sesampainya di rumah. Langsung pulang, jangan pergi kemana-mana. Kamu mengerti?" Rajendra meletakkan tangannya di atas kepala Ignacia, tidak lupa memberikan oleh-oleh senyuman termanis miliknya.
...*****...
"Itu bukannya Rajendra?" Tanya seorang laki-laki bertubuh tinggi yang tengah berjalan dengan kekasihnya menuju tempat parkir. "Lalu yang di depannya itu Ignacia dari kelas Bahasa? Aku baru kali ini melihat keduanya begitu dekat," tambah si laki-laki. Tatapannya masih tertuju pada sepasang kekasih yang berduaan disana.
"Rajendra?" Sarah menajamkan pengelihatannya. Oh ya, dia melihat tetangganya tengah berpacaran dengan kekasihnya. Gadis yang membuatnya harus pulang dengan gojek online malam itu. Padahal Rajendra bisa saja mengantarnya pulang.
"Lihatlah, mereka bisa saja berciuman disini," bisik kekasih Sarah dengan kekehan kecil. Sarah menepuk lengan laki-lakinya agar tidak bicara macam-macam dan membuat kesalahpahaman antarmanusia. Sarah tidak nyaman melihat keduanya.
Langkah keduanya sejak tadi sudah terhenti saat melihat Rajendra dan Ignacia disana. Tujuannya untuk memberikan ruang bagi Rajendra dan Ignacia. Sesekali mereka mungkin membutuhkan kebersamaan.
"Kita tunggu sedikit lebih lama," saran Sarah.
...*****...
New Message from Bahri
Ignacia melirik pesan yang muncul di layar ponselnya. Kenapa laki-laki ini mengirimkan pesan setelah sekian lama? Apa Ignacia harus membukanya? Tangan Ignacia bergerak untuk meraih ponsel di atas nakas. Tapi sebuah panggilan mengalihkan perhatiannya ke arah pintu.
"Kak," Arvin memanggil dari balik pintu, "di panggil Kak Athira. Kakak diminta ke kamar Kak Athira sekarang."
Kenapa anak itu tidak datang saja kemari? Kenapa harus Ignacia yang mendatangi kamarnya? Meksipun begitu si kakak tertua ini pun tetap mendatangi Athira di kamarnya. Apa yang membuatnya bahkan harus memanggil kakaknya?
Pintu diketuk. Dibuka perlahan setelah mendapatkan izin dari pemiliknya. Athira tengah merebahkan diri di atas karpet sambil mengamati lukisan yang sepertinya baru dia selesaikan. Terbukti dari semua cat air, kuas, dan segelas air yang sudah kotor. Seniman kita mungkin sedang kelelahan.
Ignacia duduk di sebelah macam-macam cat milik Athira. Mengamati sebentar sebelum bertanya. "Jadi kenapa kau memanggilku? Sepertinya kau sibuk."
"Temanku yang rumahnya di dekat taman tengah bercerita jika Kak Bahri tidak sengaja bertemu dengan Kak Rajendra saat dia berkunjung ke kota ini. Kakak tahu, mereka sempat berbicara." Ucapan Athira menarik perhatian Ignacia, membuatnya menunggu cerita selanjutnya. Masih dengan Athira yang merebahkan diri dengan santai.
"Kak Rajendra bilang jika sebaiknya Kak Bahri menjauhi kakak dan berhenti memberikan perhatian. Kak Rajendra juga bertanya apa mungkin Kak Bahri sudah bertemu dengan Kakak setelah sampai, dan apa mungkin kakak tahu jika Kak Bahri datang ke kota ini juga."
Athira menggeser lukisannya ke samping, menatap kakaknya dengan tatapan aneh.
"Aku tidak tahu apa yang mungkin terjadi jika Kak Bahri tidak berbohong. Katanya dia baru datang dan baru menemui teman-temannya saja. Katanya dia bahkan belum mengatakan pada kakak jika dia datang. Katanya juga dia tidak akan mengatakan apapun pada kakak."
Ignacia jadi tahu ceritanya sekarang. Rajendra secara tidak sengaja bertemu dengan Bahri, mereka bicara sebentar dan kemudian Rajendra mendatangi Ignacia ke rumah. Apa yang Rajendra pikirkan tentangnya selama ini? Memangnya Ignacia terlihat akan berselingkuh dengan Bahri?
"Menurutmu Rajendra itu berlebihan?" Ignacia tidak mampu menatap adiknya. Perasannya agak tidak nyaman.
"Iya, berlebihan. Apa yang kakak lakukan hingga Kak Rajendra begitu pencemburu? Padahal kalian hanya teman."
"Hanya itu yang ingin kau katakan?"
"Kakak kehilangan teman karena Kak Rajendra."
"Ya mau bagaimana lagi? Kukira semua laki-laki yang memiliki kekasih akan posesif begitu. Rajendra dan teman-temanku juga melakukan hal yang sama jika sedang cemburu. Lupakan saja, Athira," Ignacia bangkit, ingin kembali ke kamarnya, "lagipula aku baik-baik saja. Aku tidak melakukan apapun dengan Bahri."
"Kakak sebaiknya lebih tegas. Kak Bahri terlihat kesal karena seperti dituduh oleh Kak Rajendra. Kakak tahu sendiri jika Kak Bahri tidak suka jika dituduh seperti itu. Keduanya pasti akan bertengkar jika dipertemukan lagi."
"Lupakan saja. Bereskan semuanya sebelum tidur, Athira."
New Message from Bahri
...Bahri...
| Aku belum mengatakannya padamu
| Aku bertemu dengan Rajendra
| Saat aku harus menetap di kotamu lebih lama
| Dia menuduhku menyukaimu
| Aku hanya ingin mengatakannya padamu
Ignacia menghembuskan nafas panjang membaca pesan dari Bahri. Kekasihnya terlalu berlebihan. Pada akhirnya Bahri tetap ketahuan oleh Rajendra jika dia ada di kota ini. "Seharusnya aku meminta Bahri untuk tidak menunjukkan diri jika berada di kota. Semuanya salahku sejak awal."
...Bahri...
| Kalian tidak bertengkar bukan?
| Aku khawatir dia kasar padamu
^^^Jangan khawatir |^^^
^^^Dia tidak akan bisa kasar padaku |^^^
| Aku tidak bercanda, Ignacia
^^^Lupakan saja |^^^
^^^Anggap tidak ada apa-apa |^^^
| Aku tidak akan memaafkan dia jika kau terluka
| Kau temanku, aku tidak akan membiarkannya
^^^Sudahlah, lupakan saja |^^^
^^^Jangan berlebihan |^^^
| Pada akhirnya aku ketahuan juga ya?
^^^Lupakan saja, Bahri |^^^
...*****...
Rajendra memacu sepada motornya dengan perasaan senang menuju rumah kekasihnya. Tidak sabar bertemu dengan gadis yang sudah dia rindukan. Satpam perumahan yang berjaga sudah mulai mengingat Rajendra, menyapa dengan ramah dan langsung membukakan palang menjaganya.
"Terima kasih, Pak," ucap Rajendra sebelum kembali melaju.
Rajendra harus melewati jalan utama perumahan sebelum sampai di rumah Ignacia. Dia tidak bisa melewati jalanan yang biasa dia lewati karena ada mobil yang sedang parkir. Mungkin lebih cepat jika berjalan memutar melewati taman. Lebih baik tidak membuat Ignacia menunggu lebih lama.
"Ya kau pikir aku kemari karena merindukan kalian? Aku datang karena ada urusan penting!"
Rajendra seperti mendengar suara yang familier. Suara yang datang beberapa tahun yang lalu. Laki-laki itu menghentikan sepeda motornya di sisi lain taman. Sosok laki-laki berkulit gelap di dekat beberapa pemuda disana itu sepertinya tidak asing.
"Bahri?" Tanya Rajendra pada dirinya sendiri. Pemuda disana memang tampak seperti laki-laki yang pernah membuatnya sangat marah atas apa yang dilakukannya pada Ignacia di masa lalu. Mengingatnya saja sudah menyebalkan.
"Kenapa dia harus kembali kemari?" Decih Rajendra sebal.
"Aw!" Rintihan entah darimana membuat Rajendra menoleh. Tak jauh dari tempatnya parkir ada seorang anak perempuan yang jatuh dari sepedanya. Segera saja Rajendra turun dan membantu anak kecil itu untuk bangkit. Beberapa orang yang tengah duduk-duduk pun juga ikut membantu.
Teman-teman Bahri rupanya.
Rajendra mendudukkan anak kecil ini di samping taman, menjauh dari jalan. Seseorang membantu memunguti barang-barang yang gadis ini bawa, menepikan sepedanya, dan memberikan minum untuk yang lebih muda. Kelihatannya dia benar-benar terkejut hingga tidak bisa bergerak.
"Kau Rajendra?" Suara Bahri. Laki-laki itu mengulurkan tangan, niat berteman, "sudah lama tidak bertemu. Aku pindah dari tempat ini saat kelas sembilan SMP," jelas laki-laki berkulit gelap itu tanpa diminta.
Rajendra tidak berniat untuk berteman dengannya. Lebih memilih untuk mengabaikan tangan yang terulur padanya. Orang-orang sibuk menenangkan anak kecil yang jatuh tadi. Tidak ada yang melihat kedua teman sebaya ini saling membenci karena hal remeh.
"Apa kau menemui Ignacia?" Rajendra bertanya dingin.
"Tidak, dia bahkan tidak tahu jika aku datang."
"Sebaiknya begitu. Berhentilah menganggu hubunganku dengan Ignacia. Aku tahu kau tidak bermaksud berteman dengannya. Ignacia bilang jika kau sudah punya pacar, Jadi berhentilah untuk menganggu kekasihku."
Bahri tersenyum meremehkan. Apa dia sedang dituduh sebagai penghancur hubungan?
"Apa kau masih mengira jika aku berniat buruk pada teman lamaku sendiri? Aku sudah mengenalnya sejak kecil. Aku tidak akan pernah merusak pertemananku dengannya."
"Teman? Kau menyebut dirimu teman setelah mencuri posisiku? Kau membuat Ignacia terus membelamu. Teman laki-laki bukanlah orang yang akan mencuri posisi kekasih temannya."
"Kau berlebihan. Lebih baik kau segera temui Ignacia dan berikan Thai Tea itu padanya sebelum rasanya berubah." Bahri berjalan pergi meninggalkan Rajendra. Kembali dengan teman-temannya yang sudah mengurus urusan anak kecil tadi. Harga dirinya terluka karena baru saja difitnah.
"Siapa dia?" Teman Bahri bertanya. Matanya beberapa kali melirik ke arah Rajendra hingga akhirnya tertangkap basah.
"Itu pacar Ignacia," jujur Bahri dengan nada tak acuh.
...*****...
Rasanya melelahkan sekali. Ignacia tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam karena memikirkan Bahri yang dituduh oleh Rajendra. Perasannya tidak enak karena sudah menganggu kehidupan orang lain. Ignacia cukup beruntung karena tidak ada yang tahu soal Bahri yang mengantar dia pulang. Tapi Rajendra-
Berulang kali Ignacia menyentuh tengkuknya yang terasa pegal, dipijit ringan dengan harapan agar cepat sembuh. Tapi ya tetap saja.
Langkah Ignacia berhenti saat melihat dua orang yang ada di depan kelas Rajendra. Dua orang yang sama-sama dikenal oleh Ignacia. Sepasang teman laki-laki dan perempuan.
"Sudah dulu ya, aku pergi ke kelas," pamit si perempuan, melambaikan tangan dan berjalan menjauh. Meninggalkan teman laki-lakinya masih di depan kelas. Tanpa merespon apapun, laki-laki itu melangkah masuk ke dalam kelas. Meletakkan tasnya dan duduk.
Tangannya merogoh kantong, mengambil ponselnya. Dilihatnya ada kiriman foto dari seseorang.
New Message from Ignacia🍓
Send photo
Ada perasaan terkejut dari wajah si laki-laki. Namun setelahnya dia tampak biasa saja. Toh Ignacia sudah biasa melihatnya mengobrol dengan perempuan. Hanya saja sekarang dia melihat Rajendra bersama dengan Sarah.
"Ignacia sudah datang?" Gumam Rajendra. Dia bangkit dan mencoba mencari keberadaan di gadis melalui jendela. Namun yang dia lihat di tempat gadis kesayangannya hanya ada tas yang ditinggal sendirian.
Ada sebuah dorongan dalam hati Rajendra untuk mencari kemana perginya Ignacia. Dilihatnya di kelas, gadis itu tidak ada disana. Berpindah ke taman baru, mungkin Ignacia sedang ada disana untuk melihat para kucing kecil. Dan benar saja. Dia ada disana. Berjongkok sambil mengelus kucing-kucing manis.