
"Kalian bisa pergi sekarang," bisik Athira pada Rafka dan Arvin.
Setelah keduanya pergi, Athira melangkah masuk dengan sepiring makanan di tangannya. Menyodorkan pada sang kakak dengan tatapan memohon. "Untuk sekarang kakak harus makan malam. Apapun alasannya."
"Seharusnya aku tidak menampakkan diri saat teman-teman Rajendra datang. Atau seharusnya Rajendra tidak lupa akan janjinya untuk memberikan tugas pada teman-teman kelompoknya. Bahkan seharusnya aku tidak menyetujui ajakan belajar bersamanya!"
"Aku bahkan tidak memiliki semangat belajar hari itu. Yang kulakukan hanya tidur karena semalam tidurku tidak nyenyak dan bosan karena Rajendra hanya mengurusi tugasnya sementara aku tidak ingin melakukan apapun!"
Kini tatapan yang lebih tua tampak menakutkan. Tatapan mata yang menjelaskan bahwa dirinya sungguh kesal.
Ignacia tidak peduli dengan apapun. Yang ingin dia lakukan hanyalah meledak hingga bom waktu dalam dirinya berhenti. Meksipun jatuhnya seperti memarahi Athira tanpa alasan yang jelas. Tapi Arthira yakin jika dirinya akan membantu jika terus ada disini dan membuat kakaknya lega.
"Orang-orang akan terus mengangguku setelah ini. Mereka akan bertindak berlebihan. Orang-orang akan memperhatikan kami," nada bicaranya menurun perlahan, "aku membenci adegan ini."
Ignacia beralih menatap lantai di bawahnya, "aku benci adegan dimana orang-orang mulai masuk ke dalam hubunganku dan akhirnya mereka juga akan tahu jika hubunganku tidak baik-baik saja."
Athira memincingkan matanya, dahinya berkerut. "Apa yang kakak maksud? Kakak dan Kak Rajendra tidak baik-baik saja? Kenapa? Kalian bertengkar atau semacamnya?"
Kakaknya menggeleng lemah. "Situasi ini mengingatkan aku pada mantanku, Athira. Memang sudah lama berlalu. Tapi aku tetap saja tidak suka." Ignacia tersenyum kecil di sudut bibirnya. Meremehkan dirinya sendiri yang begitu bodoh dan naif di masa lalu.
"Ketika orang-orang tahu hubunganku dengan mantanku, suasana jadi tidak nyaman. Dan setelah lebih banyak orang yang tahu, ...aku putus dengannya. Jadi jika hubungan ini juga tidak berhasil, ini sama saja seperti mengulang masa lalu."
"Bagaimana bisa kakak membandingkan Kak Rajendra yang sudah bersama kakak bertahun-tahun dengan mantan tidak berguna itu? Mereka berdua jelas sangat berbeda!" Kenapa malah Athira yang marah sekarang?
"Aku tidak menganggap Rajendra sama seperti b*j*ng*n itu. Hanya saja aku menjadi sensitif. Takutnya aku akan merusak hubunganku dengan Rajendra."
Masih dengan tangan yang membawa sepiring makanan, Athira duduk di samping kakaknya. Rasanya dia sudah terpengaruh dengan emosi buruk kakaknya.
"Kak," panggil Athira lembut, "kakak itu hanya khawatir karena orang-orang mulai memperhatikan. Kak Rajendra tidak akan pergi hanya karena kakak bersikap sensitif selama beberapa hari. Kak Rajendra sudah terlanjur menyayangi kakak empat tahun terakhir. Mana mungkin pergi begitu saja."
"Beberapa hari itu tidak selama tahun-tahun yang kalian habiskan untuk bersama. Kalian sebentar lagi juga akan menginjak usia hubungan lima tahun 'kan? Tenang saja."
"Mudah kau mengatakannya, Athira."
"Sekarang kakak makan dan tenangkan diri saja. Aku akan kembali ke dapur untuk mencuci piring. Setelah selesai, letakkan saja piringnya di depan pintu. Aku akan mengambilnya nanti."
...*****...
Rajendra menjemput kekasihnya di depan rumah tanpa sepengetahuan Ignacia. Jadinya ketika dia mendapatkan telfon, Rajendra sudah ada disana menunggunya. Dengan senyuman hangat, laki-laki itu menyapa. Seolah menunjukkan bahwa hari ini akan secerah matahari pagi.
Di perjalanan, Ignacia hanya ingin diam dan memeluk Rajendra dari belakang. Hari menuju akhir pekan bukankah waktu-waktu yang menyenangkan dengan adanya gangguan dari beberapa teman di sekolah.
"Ignacia," kekasihnya memanggil. Namun yang di panggil hanya menatap tanpa menjawab. Mereka masih ada di tempat parkir. Ignacia baru melepas helmnya. "Kenapa kamu cemberut? Apa kamu masih lelah? Kita sedang berkencan sekarang."
Si gadis tersenyum kecil. Rajendra sepertinya berusaha agar tidak ikut merasa kesal. Diulurkannya tangan ke arah Rajendra. Kode untuk digandeng. Dan kodenya berhasil ditangkap dengan baik. Rajendra langsung menerima uluran tangan itu dan membawa si gadis memasuki mall.
"Hari ini mungkin tidak begitu buruk," batin Ignacia.
Filmnya masih akan dimulai nanti. Sekarang berjalan-jalan saja sambil makan camilan. Setelah menonton nanti baru makan siang. Meksipun sudah sarapan, keduanya merasa lapar jika melihat camilan-camilan yang ada di mall. Ya mau bagaimana lagi? Baunya enak dan kuat sekali.
Rajendra tidak melepaskan genggamannya pada Ignacia sejak pertama masuk. Katanya untuk menyalurkan energi positif agar Ignacia tidak kesal lagi. Sekalian untuk melepas rindu setelah kejadian di rumahnya juga. Ignacia jadi agak kesal dengan teman-teman Rajendra yang datang menganggu keduanya saat makan es krim itu.
"Rajendra, aku ingin es krim."
"Baiklah, kita beli es krim."
"Rajendra, ada permen kapas."
"Okey kita pergi kesana."
"Rajendra, kentang tornado."
"Ya ya ya, kita beli itu juga."
...*****...
"Kak Ignacia merasa buruk. Apa yang kakak lakukan padanya? Kakak menyakiti Kak Ignacia?" Athira melipat tangannya di depan dada. Tatapan tajam dia tujukan untuk laki-laki yang dikiranya sudah membuat kakaknya sedih.
"Teman-teman tahu jika kami kencan di rumahku hari itu. Orang-orang menggodanya ketika kami bertemu. Awalnya orang-orang di kelasku hanya menggodaku. Tapi kemudian Ignacia juga ikut diganggu. Dia merasa tidak nyaman." Rajendra bicara dengan santai. Menambah kecurigaan Athira.
"Bagaimana bisa teman-teman Kak Rajendra datang?"
Air wajah Rajendra berubah, "aku lupa jika mereka datang."
"Jadi ini salah Kak Rajendra kan? Bagaimana bisa kakak lupa jika teman-teman akan datang? Kak Ignacia itu sangat tidak suka jika ada yang menggodanya." Athira meraih kue mochi yang ada di atas meja. Memakannya perlahan sambil menatap si calon kakak ipar.
"Aku terlalu senang dengan kedatangan Ignacia sampai lupa jika teman-temanku datang. Kau tahu betapa senangnya aku setiap bertemu dengan Ignacia? Aku sangat gugup saat akan membuatkan makan siang untuknya juga."
Di hadapannya, Athira masih menatap tajam.
"Lalu bagaimana kakak akan membuat kakakku kembali normal? Kakak tahu bagaimana sikap mantannya di masa lalu kan? Kakak tentu tahu kenapa Kak Ignacia sangat ingin semua orang tidak tahu. Jangan sampai aku tahu jika kakakku sakit karena laki-laki payah lagi."
Ucapannya mungkin terlalu kasar untuk laki-laki baik yang disukai kakaknya. Tapi dirinya juga terlalu muak dengan urusan percintaan yang membuat kakak tersayangnya mengalami banyak hal tidak menyenangkan.
"Akan ku pastikan untuk membuatnya merasa lebih baik. Aku mengajaknya kencan akhir pekan ini. Akan ku pastikan kakakmu tidak akan mengingat mantannya lagi." Rajendra membulatkan tekad. Tangannya mengepal dan tatapannya tampak serius.
"Kak Ignacia melampiaskan kekesalannya dengan membaca buku," Athira merespon cepat, "kakak tidak akan melakukan ini jika tidak benar-benar kesal dan ingin membuang semua pikiran negatif yang ada."
Yang lebih tua bangkit dan meninggal Athira sendiri di meja kafe yang ramai. Biarkan saja dia menghabiskan mochi yang tadi dipesannya. Toh tujuan Rajendra datang hanya untuk memberikan penjelasan. Bukan menunggunya selesai makan.
...*****...
Rajendra harus melepaskan tangan kekasihnya sebentar saat akan masuk ke bioskop. Tangannya penuh membawa minuman dan popcorn. Ignacia memegang lengan kekasihnya sebagai ganti genggaman tangan. Yang penting tidak terpisah ketika berada di keramaian.
"Karena aku menyukaimu. Disini ada banyak orang. Bagaimana jika ada yang mengambilmu dariku hm?"
"Kamu hanya membual," balas Ignacia kemudian menyandarkan diri pada kursi bioskop, "nikmati saja filmnya. Toh kamu yang mengajakku kemari."
"Tujuan utamaku adalah agar bisa menikmati waktu berdua denganmu. Meskipun aku tidak terlalu fokus dengan film, yang penting aku masih bersamamu. Akan ku pastikan kamu tidak kesal lagi setelah filmnya selesai."
Hah, semakin aneh saja laki-laki di sebelah Ignacia ini. Jika ada orang lain yang mendengar ucapannya tadi, mungkin akan ada yang menatap Rajendra aneh. Itu juga yang akan dilakukan Ignacia, tapi sekarang dia merasa sedikit malas.
...*****...
"Wah aku sangat menyukai filmnya. Terima kasih sudah mengajakku." Ignacia tersenyum lebar.
Menonton film dengan genre kesukaannya adalah sesuatu yang dia butuhkan, mungkin. Tubuhnya terasa lebih rileks dan tidak ada rasa kesal lagi. Menikmati waktu bersama seseorang yang disukai mungkin juga membuat suasana hatinya membaik.
"Terima kasih kembali. Sekarang ayo kita makan siang. Kamu ingin makanan apa?"
"Kita lihat-lihat dahulu saja."
Tempat banyak makanan itu ada di lantai bawah bioskop. Ignacia dan Rajendra agak terkejut begitu sampai. Benar-benar penuh tempat-tempat makan yang ada disana. Padahal mereka menghindari jam makan siang karena sudah tahu jika lantai ini akan penuh. Menunggu kursi di lantai ini akan membutuhkan waktu yang lama.
"Kita berkeliling di lantai bawah saja," saran Rajendra. Mau tidak mau, Ignacia ikut saja. Toh tempat makan bukan hanya di lantai ini saja. Semoga tempat lain tidak seramai disini.
Ignacia kembali bergandengan tangan dengan Rajendra. Untuk memastikan tidak berpisah karena fokus mereka adalah pada tempat-tempat makan yang kelihatannya enak. Ada beberapa restoran baru yang dibuka. Ignacia bingung harus memilih yang mana karena semuanya terlihat enak.
"Rajendra, aku ingin makanan berkuah."
"Kalau begitu kita kesana saja."
Keduanya masuk ke sebuah restoran. Aroma kuahnya sangat harum dan enak begitu membuka pintunya. Tempatnya yang tidak begitu ramai membuat keduanya bisa menghembuskan nafas lega. Akhirnya mereka makan siang.
Rajendra meminta Ignacia untuk mencari meja sementara dia memesan makanan. Setelah menerima pesanan kekasihnya, Rajendra langsung melangkah menuju kasir. Tapi masih harus mengantri sebentar sebelum pesanannya disampaikan.
Ada tempat di sisi ruangan yang menarik perhatian Ignacia. Tempat duduknya berupa sofa yang saling berhadapan. Di depan dan belakangnya tidak ada orang, jadi memilih yang ada di tengah-tengah bukankah sesuatu yang buruk. Setidaknya Ignacia bisa sedikit mengasingkan diri disana.
"Apa aku harus membeli buku juga, mumpung ada disini."
Ignacia melihat sekitar. Pemandangan orang-orang yang berlalu lalang di depan restoran dari kaca besar disana dan beberapa pasangan yang menikmati makanan di meja-meja dalam restoran. Selanjutnya matanya menangkap sosok Rajendra yang berdiri sambil memesan.
"Jika dilihat dari sisi ini, bagaimana aku bisa marah padaku seperti hari itu? Bukan salahmu melupakan teman-teman yang akan datang. Itu tidak disengaja" Bisik Ignacia memonolog.
"Maaf sudah kasar padamu."
Dari kejauhan, Rajendra menyadari tatapan untuknya. Dia menaikkan alis seperti bertanya 'apa ada yang kamu butuhkan? Kamu mau pesan yang lainnya?'. Ignacia menggeleng kemudian mengalihkan pandangan.
"Ada apa?" Rajendra bertanya ketika sudah sampai. Duduk di hadapan Ignacia, tangannya dilipat di depan dada dan ditekankan di atas meja. "Ada yang kamu butuhkan? Kamu mau pesan yang lainnya?" Pertanyaan yang sama seperti arti dari tatapannya tadi.
"Tidak, aku hanya bosan."
"Kamu ingin pergi ke suatu tempat setelah ini?"
"Sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan, Rajendra?" Ignacia ikut melakukan hal yang sama, mencondongkan dirinya agar lebih dekat dengan Rajendra. "Kamu sangat mengikuti apa yang kukatakan, memberikan apa yang kuinginkan. Apa ada sesuatu yang terjadi? Terlepas dari rasa kesalku pada orang-orang itu?"
"Karena aku kekasihmu? Bukankah wajar laki-laki melakukan ini untuk perempuannya?"
"Tapi rasanya berbeda. Kamu tidak harus selalu menuruti apa yang aku inginkan. Seperti hanya aku yang mengambil alih disini. Apa yang sedang kamu lakukan? Pasti ada sesuatu. Apa ada alasan lain kamu bersikap sangat baik padaku?"
Rajendra mencondongkan dirinya pada Ignacia, menatap lamat-lamat mata kesukaannya. "Ya, tentu ada sesuatu. Aku sangat menyukaimu hingga tidak bisa menolak apa yang kamu inginkan. Sudahlah, jangan terlalu serius begitu. Kita disini untuk bersenang-senang. Kita bisa melakukan apapun."
"Jangan bercanda, Rajendra."
"Kenapa kamu jadi serius begini hm?"
"Karena kamu tampak berbeda."
"Apa aku tampak semakin tampan?"
"Ya itu sudah pasti. Tapi aku merasa ada yang berbeda darimu. Kamu tidak seperti Rajendra yang kukenal." Ucapan Ignacia tadi sepertinya serius. Bukan itu yang Rajendra inginkan.
"Ignacia, bukankah ini yang kamu inginkan? Kamu butuh setidaknya satu hari untuk melupakan segala emosi dan pikiran buruk selama seminggu terakhir? Aku ingin membantumu. Aku dengar dari Athira jika kamu membaca banyak buku seolah melampiaskan kekesalan."
Rajendra tidak sengaja menunjukkan kartunya. Ignacia tersenyum kecil, rupanya ada alasan di baliknya.
"Oh Rajendra."
Mendengar itu, sepasang kekasih yang masih menunggu pesanannya tadi menoleh. Mendapati teman-teman Rajendra yang waktu itu datang ke rumah ada di restoran ini. Wah kelihatannya mereka tertangkap basah lagi.
"Ini kali pertamanya kalian berkencan, benar?" Entah pertanyaan untuk Rajendra dan Ignacia atau meyakinkan dirinya sendiri tentang apa yang dilihat teman laki-laki Rajendra itu.
"Kenapa kalian ada disini?" Rajendra bertanya dengan senyuman yang di paksakan.
"Ini tempat umum. Kebetulan kami bertemu ketika berkeliling dan... kami mendapati kalian berdua disini." Yang perempuan yang menjawab.
Ignacia muak rasanya. Mereka pasti akan merusak harinya sekali lagi dengan berita yang kemudian akan menyebar. "Aku akan ke toilet sebentar," ucap Ignacia pada Rajendra dengan sangat dingin sebelum bangkit.
"Ignacia, maafkan kami," salah seorang perempuan menahan lengan Ignacia agar tidak pergi,"kami tidak akan menganggu kalian hari ini. Maaf karena sudah membuatmu tidak nyaman."
Segera Ignacia melepaskan tangan itu dari lengannya, langsung melangkah menjauh menuju toilet. Dan perempuan yang minta maaf padanya kini menatap Rajendra meminta pertolongan. Dia tidak sengaja membuat Ignacia kesal.
"Aku akan mengurusnya," ucap Rajendra.