
"Kenapa kita harus pergi kesini? Aku ingin makan pizza pedas dengan banyak paprika." Sarah kehilangan nafsu makan. Bahkan hanya dengan membayangkan nasi saja sudah membuatnya ingin muntah. Selelah itu hatinya hingga tubuhnya saja merasa enggan diisi padahal sedang lapar. Sejak tadi perutnya saja sudah mengirimkan sinyal berupa suara-suara.
Feby yang mengemudi di samping Sarah hanya bisa diam dan melaju mengikuti arah yang ditunjukkan oleh maps. Temannya ini sudah menolak makan nasi sejak siang. Jika Sarah makan pizza pedas yang ia lihat ketika melewati pusat perbelanjaan tadi, kemungkinan besar perutnya malah bermasalah.
Seharusnya Sarah tidak memanggil Feby untuk membantunya keluar dari masalah. Tapi jika bukan Feby, siapa lagi orang terdekat yang bisa membawanya pergi sejauh mungkin hingga sampai di kota ini? Gadis yang mengemudi itu saja tidak sadar jika mobilnya bisa sampai di tempat yang sekarang.
Mobil keduanya berhenti di sebuah lampu merah. Feby mengecek butuh waktu berapa lama lagi untuk bisa sampai di restoran yang ia tuju. Sementara gadis di sampingnya sibuk menghembuskan nafas panjang, mengeluh penuh amarah. Bukan salah Feby namun sedari tadi ia mengomel pada temannya itu.
Diluar, Sarah melihat beberapa orang yang seperti sedang kebingungan di dalam sebuah bus. Karenanya para gadis yang terlihat memakai seragam SMA disana sibuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Mereka memberikan beberapa lembar benda berwarna putih tipis pada seseorang di hadapan.
Lampu berubah hijau, Sarah tidak bisa lagi melihat pemandangan menarik tadi. Sekarang Feby yang menarik perhatiannya. "Kudengar disana ada nasi goreng pedas yang enak. Anggap saja itu sebagai ganti pizza pedas yang kau inginkan itu. Ayahku yang merekomendasikan tempat ini, jadi pasti enak." Sarah menurut saja, sudah lelah.
Selang beberapa menit, mobil Feby kembali berhenti. Terparkir sempurna di depan sebuah restoran yang ramai dikunjungi oleh mereka-mereka yang sudah berkeluarga. Melihat ada anak-anak di dalam sana saja Sarah sudah muak. Apalagi jika harus masuk dan mendengar suara bising yang mereka keluarkan.
Feby rupanya sudah berdiri di samping pintu Sarah. Dibukanya pintu untuk si teman agar tidak menolak. "Turunlah dan kita makan. Setelahnya kita akan melakukan apa yang kau mau, mengerti?" Baiklah, Sarah turun dari mobil lalu mengekor di belakang Feby. Ikut masuk ke restoran itu.
Di dalam, suasana hangat khas acara keluarga langsung menyambut kedatangan mereka yang baru datang. Canda tawa antara ayah, anak, dan sang ibu terasa sangat kental menambah aura positif di seluruh penjuru restoran. Tanpa basa-basi, Feby langsung membawa temannya untuk mengantri. Menurut ayahnya tempat ini biasanya ramai ketika malam, jadi harus cepat-cepat mengantri dan mencari tempat.
Sarah tidak ikut melihat menu seperti yang dilakukan Feby. Dia akan memesan nasi goreng pedas seperti kata temannya ketika di mobil. Untuk minumannya terserah pada Feby akan memesan apa. Setelah beberapa saat, ia akhirnya menemukan apa yang sedang ia cari. "Aku ingin pergi ke toilet sebentar," izin Sarah.
Feby menoleh, melihat temannya yang kemudian hilang di balik pintu toilet perempuan. Harap-harap temannya itu tidak menangis lagi. Wajahnya sudah terlihat berantakan, mungkin ia ingin menyegarkan wajah sebelum makan. Feby masih menatap ke arah toilet hingga tak sadar jika barisan di depannya sudah tersisa sedikit.
Selang beberapa lama akhirnya Sarah kembali. Wajahnya sudah kembali cerah, rambutnya ia ikat agar mudah ketika makan nanti. Aura percaya diri gadis berkulit putih itu kembali lagi. Wajah sedih dan putus asa seolah pergi terbawa air ketika si gadis membersihkan wajah.
"Sebentar lagi restoran ini akan tutup, namun pengunjungnya terlihat semakin banyak saja." Sarah mengedarkan pandangan, melihay sekitar tempatnya berdiri. Begitu pelanggan pergi, meja yang selesai dipakai langsung di bersihkan oleh pelayan disini. Mereka bekerja sangat keras.
"Selamat menikmati makanannya." Ucapan ramah seorang pelayan restoran mengalihkan perhatian Sarah. Nada bicaranya yang begitu halus, menyenangkan, dan seolah menunjukkan perasaan bahagia itu membuat yang mendengarnya tersenyum kecil. Seolah ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh pekerja laki-laki itu.
Ketika berbalik sambil membawa nampan, laki-laki itu bertemu mata dengan Sarah. Feby yang mencoba berbicara dengan temannya namun tidak mendapatkan respon jadi ikut menatap apa yang membuat temannya terdiam. "Oh Rajendra. Kau bekerja disini?" Feby langsung tahu ketika melihat apron yang di pakai oleh tetangganya itu.
Rajendra punya sedikit waktu untuk menyapa. "Ya seperti yang kau lihat. Aku harus kembali bekerja, sampai jumpa." Sarah tetap bergeming, tidak bisa ikut menyapa orang yang sudah ia kenal dari lama. Rasanya canggung karena sudah lama tidak berkomunikasi.
Sepanjang waktu makan, Sarah masih saja diam. Pikirannya kembali pada kejadian beberapa jam sebelum berakhir disini. Dia masih tidak percaya jika hubungan yang sudah lama ia bangun dengan kekasihnya harus hancur. Laki-laki itu berkata jika semuanya salah Sarah, hubungan itu berakhir karena Sarah.
Padahal awalnya Sarah sudah senang karena bisa bertemu dengan kekasihnya setelah lama sibuk dengan urusan masing-masing. Selama tiga bulan terakhir Sarah merasa kesepian dan terus meminta bertemu namun kekasihnya enggan. Masih ada banyak pekerjaan katanya. Masih ada banyak tugas kuliah alasannya.
Makan siang di restoran terbaik, pemilik pemandangan sibuk kota yang tidak ada habisnya. Sarah menyiapkan baju terbaik untuk menyambut kedatangan sang kekasih dari jauh. Langsung ia peluk tubuh laki-laki bertubuh tinggi yang sangat ia rindukan begitu menemukan keberadaannya. Senyuman tak lupa ia suguhkan, "akhirnya kamu datang."
Sarah tidak menyadari tatapan berbeda yang kekasihnya berikan saat bertemu dengannya. Perasaan bahagia membuatnya buta. Bahkan senyuman tipis yang terpatri sejak awal bertemu tidak Sarah perhatian. Kembali ia peluk kekasihnya sebelum memutuskan untuk masuk.
"Aku sangat merindukanmu. Aku berharap kita bisa lebih sering bertemu. Aku senang kamu bisa cepat datang."
Ketika mulai makan, Sarah banyak membawa bahan obrolan. Masih tidak merasa aneh ketika kekasihnya hanya merespon singkat. Seharusnya Sarah berhenti segera setelah respon hangat yang seharusnya ia dapatkan. Mencegah hatinya semakin sakit begitu kabar buruk datang.
"Di sekitar sini ada mall yang bagus. Mau bermain di arcade sebentar?" Sarah menggelayut manja di lengan kekasihnya. Lupakan soal orang-orang yang menatap keduanya aneh. Sarah hanya terlalu senang bisa bertemu dengan orang terkasih setelah tiga bulan tak bertemu.
"Sarah, ada yang ingin kukatakan padamu." Langkah keduanya berhenti, membuat Sarah menatap bingung. "Sebaiknya kita sudahi saja hubungan ini." Mendengar itu, air wajah Sarah berubah. Senyumannya memudar, kedua tangannya jatuh dari lengan sang kekasih.
"Maksud kamu apa? Jika kamu tidak ingin bermain di arcade, kita bisa menghabiskan waktu di tempat lain. Kita bisa pergi ke tempat yang kamu mau." Sekuat tenaga Sarah menyingkirkan kalimat yang sudah ia dengar dari kekasihnya. Menolak kata-kata buruk yang diterima indra pendengarannya.
"Kamu mendengarku, Sarah. Aku lelah jika harus terus menemuimu. Kamu tahu jika jarak kota yang kita tempati sekarang tidaklah dekat. Kamu tidak pernah bisa menungguku, kamu terus menuntut untuk bertemu. Maaf, mungkin aku kurang sabar dalam menghadapi sikapmu yang ini. Aku sungguh menyesal, Sarah."
Tubuh Sarah dibawa ke dalam dekapannya, ia cium aroma rambut seseorang yang sudah ia jadikan mantan kekasih. "Semoga kamu bisa bertemu dengan pria yang lebih sabar dan bisa selalu bertemu denganmu, Sarah. Kurasa kita sudah tidak cocok. Aku sedang menyiapkan masa depan kita, namun jika kamu terus mengajakku bertemu, aku jadi kesulitan."
Sayangnya Sarah tidak didengar. Kekasihnya--lebih tepatnya mantan kekasih gadis itu melepaskan pelukannya perlahan. Ia tatap mata Sarah untuk terakhir kalinya. Raganya sudah tak sanggup jika harus diminta selalu bertemu. Meksipun di dalam hati, dirinya sangat senang menikmati waktu bersama Sarah. Jiwanya lelah, pekerjaan dan tuntutan Sarah terlalu berat.
"Hati-hatilah ketika pulang. Perhatikan jalanmu. Kuharap kita bisa menjalani hidup seperti biasa setelah ini. Sampai jumpa."
Sekali lagi pipi Sarah terasa basah. Cepat-cepat Feby yang menyadari itu mengambil tissue dari atas meja dan ia berikan pada Sarah. Pantas saja ketika di ajak bicara tadi Sarah hanya diam. Dia pasti sedang memikirkan mantan kekasihnya. Feby akui Sarah orang yang kuat karena hanya menangis sebentar. Atau mungkin Sarah hanya enggan menunjukkan tangisan.
"Aku mengerti perasaanmu. Pasti sangat menyakitkan jika harus berpisah tanpa bisa kau hentikan. Untuk sekarang, kembalikan tenagamu. Habiskan makananmu, lalu kita pergi ke tempatku." Sarah tidak merespon, langsung ia lakukan apa yang Feby katakan. Nasi goreng pedas ini cocok sekali untuk hatinya yang terluka. Sedikit meredakan rasa kecewa.
Restoran mulai sepi. Tanda tutup akan dipasang segera setelah pelanggan terakhir keluar. Sebelum pergi, Sarah ingin pergi ke toilet sebentar lagi. Tidak mungkin dia akan berhadapan dengan sepupu Feby dengan wajah berantakan. Ia tinggalkan temannya di tempat yang sudah hampir kosong.
"Kalian masih disini?" Rajendra mendekati meja Feby, berniat membersihkan meja di sebelahnya. "Kau berkuliah di kota ini?"
Feby menggeleng, menyegerakan minumnya agar Rajendra bisa membawa alat makan yang sudah ia gunakan. "Aku tidak tahu kau bekerja, Rajendra. Kukira kau sedang berkuliah." Setidaknya itu yang Feby dapatkan dari ayahnya. Rajendra lalu menjelaskan jika dirinya hanya bekerja paruh waktu disini setelah selesai kuliah.
Melihat Feby dan Rajendra mengobrol, Sarah terdiam di depan pintu toilet. Si gadis memutuskan untuk mengambil tas miliknya di kursi samping Feby tanpa menatap Rajendra. Senyuman laki-laki itu mengingatkan Sarah pada mantan kekasihnya. Ketika Sarah muncul, baik Feby maupun Rajendra seolah tidak ingin menganggu aktifitasnya.
"Aku lelah, apa kita tidak bisa pergi sekarang?" ucap Sarah tajam tanpa menoleh pada Rajendra. Suasana bersahabat tadi langsung berubah drastis.
"Tentu. Tunggulah di mobil. Aku akan menemuimu nanti." Setelah kepergian Sarah ke dalam mobilnya, Feby ingin memesan sesuatu sebelum pergi. Sepupu perempuannya ingin Feby membeli makanan disana sebelum datang. Namun sebelum meninggalkan Rajendra, Feby meminta maaf untuk tingkah dingin Sarah tadi. "Dia punya masalah, jadi dirinya sensitif."
"Tidak masalah."
Karena pesanan Feby, dirinya menjadi pelanggan terakhir yang meninggalkan restoran. Beberapa pegawai lain juga sudah pergi ketika pesanan Feby datang. Rajendra yang membawakan makanan temannya dan karenanya mereka mengobrol hingga Ignacia datang. Feby buru-buru pergi karena merasa tak enak.
Di dalam mobil, Feby meletakkan makanan sepupunya di kursi belakang. Di sampingnya, Sarah tengah menatap kosong jalanan ramai di depan restoran. "Kau baik-baik saja?" Tanya si pemilik mobil. Sarah tidak memberikan respon, kembali matanya terasa panas. Lidahnya kelu untuk berbicara.
"Kita langsung pulang saja."
Feby melajukan mobil kembali ke kepadatan kota. Sepanjang perjalanan hanya ada suara kendaraan yang terdengar samar. Diam-diam bau makanan yang dibeli untuk sepupu di empunya mobil memenuhi kekosongan. Lebih berisik daripada keheningan yang terjadi diantara dua teman ini.
"Aku sangat iri dengan gadis itu. Aku tidak tahu bagaimana hubungan mereka, tapi sekarang aku iri padanya." Sarah mengusap air matanya yang turun perlahan, "mereka berkencan lebih lama dariku, berhasil melewati LDR hingga saat ini. Sementara aku--aku sungguh merasa buruk. Seharusnya aku lebih mengerti."
Si gadis segera disodorkan tissue oleh si empunya mobil. Tangannya beberapa kali menolak hingga pada akhirnya mobil itu berhenti di sisi jalan. Feby sudah tidak akan menyampaikan banyak kata-kata menenangkan. Biarkan temannya ini mengeluarkan segala kegundahannya. Mungkin tangisan panjangnya sebelum Feby menjemputnya itu belum cukup.
Tubuh gadis di sebelahnya bergetar, suara isakan kecil tanpa sengaja keluar dari mulutnya. Satu tangannya berusaha untuk mengusap air matanya gusar sementara yang lain mengepal kuat di atas paha. Beberapa butiran bening miliknya berhasil menetes hingga membasahi ujung baju. Pemandangan paling menyakitkan yang pernah Feby saksikan.
Berulang kali gadis berwajah bulat ini mengeluhkan kesalahan dirinya hingga bisa menghancurkan hubungan yang sangat ia dambakan. "Kesalahanku pasti sudah sangat merepotkan dia sampai kami berpisah. Bagaimana bisa aku menghancurkan hubungan yang sudah kami bangun bertahun-tahun. Kenapa aku sangat tidak sabaran?!"
Kesedihan, kekecewaan, amarah, semuanya bercampur menjadi satu. Di sampingnya, Feby membuka lebar kedua tangannya. Sarah membutuhkan seseorang yang bisa memeluknya untuk kembali pulih. Dia butuh kehangatan seperti yang diberikan laki-laki kesayangannya.
"Kemarilah."
Sarah yang masih terisak membuka kedua matanya, menatap Feby. Temannya sudah siap sedia, menyediakan dada untuk mengeluhkan semua perihal dunia. Melihat itu, Sarah langsung memeluk temannya, bukannya berhenti ia justru semakin terisak. Keheningan benar-benar terisi oleh isakan pilu Sarah. Membuat luka yang dua kali lebih besar di dada Feby.
"Tidak apa-apa. Semuanya bukan salahmu."
Tangisan Sarah makin menjadi, diiringi oleh lengkuhan kasar yang menandakan dirinya sangat terluka. Dalam kondisi ini, semua ucapan Feby malah membuatnya semakin merenggut. Semua kesedihan yang selama ini terpendam akibat hubungan jarak jauh ia tumpahkan dalam semalam.
"Semuanya salahku, Feb. Salahku karena menuntut banyak hal darinya. Semuanya memang salahku," lirih Sarah penuh penyesalan.