
Ignacia cukup puas dengan hasil karyanya bersama Rajendra. Laki-laki di sampingnya pun merasa jika dirinya handal salam membantu Ignacia menghias kue dengan beri. Dengan selesainya kue itu, artinya kelas mereka resmi selesai. Kue yang mereka baut bisa dibungkus lalu dibawa pulang. Menyenangkan sekali.
Selesai berberes-beres, sepasang kekasih dengan kue hasil karya mereka ini pergi ke satu tempat terakhir. Hari sudah akan sore, Rajendra berencana membawa Ignacia untuk makan malam. Entah dimana tempatnya, laki-laki ini ingin merahasiakannya lagi. Biar jadi kejutan lainnya.
Karena membawa kue, Ignacia tidak bisa memeluk Rajendra. Melihat jarak diantara keduanya membuat Ignacia ingin sekali memeluk kekasihnya itu. Apalagi suasana sore yang hangat membuatnya ingin lebih dekat dengan Rajendra. Di depannya, Rajendra juga merasa aneh karena Ignacia tidak bisa memeluknya seperti biasa.
Berhenti di sebuah lampu merah, Ignacia bertanya apakah tempat yang akan mereka tuju masih jauh. Yang di depan itu menggeleng, sudah hampir sampai katanya. Ignacia mengamati sekitar, dirinya belum pernah datang ke sisi kota ini. Bahkan saat berjalan-jalan dengan Rajendra waktu itu sepertinya tidak melewati jalan ini.
Sepeda motor Rajendra berbelok ke sebuah gedung perkantoran yang ada di sisi kiri jalan. Ignacia semakin bingung dibuatnya. Keduanya memasuki area parkir. Ada cukup banyak yang datang ke gedung ini meksipun kesannya agak sepi di bagian depan. Ignacia mengamati bagian gedung yang terlihat oleh matanya.
"Kenapa kita ada disini?" tanya Ignacia. Karena rasa penasarannya, Ignacia sampai belum melepaskan helm yang ia gunakan. Ditambah dengan dirinya menggendong kue hingga keduanya tangannya tidak bisa melakukan hal lain.
Rajendra yang gemas melihat wajah penasaran Ignacia pun bergerak untuk melepaskan helm si gadis tampak menjawab pertanyaan yang diajukan tadi. Selanjutnya Ignacia digandeng masuk ke dalam gedung besar itu. Begitu memasuki lobi, barulah terlihat kegiatan orang-orang di dalamnya.
Ada beberapa orang yang tengah berbicara dengan seseorang dari balik meja informasi, para pegawai kantor yang kemudian besar akan pulang, beberapa pasangan yang tampak baru masuk dan keluar gedung, ditambah dengan para penjaga keamanan yang tengah mondar-mandir melakukan sesuatu sambil berbicara dengan walkie talkie.
"Tujian kita ada di lantai enam," bisik Rajendra.
Langkah keduanya mendekati lift yang tak jatuh dari lobi. Dalam waktu kurang tadi satu menit, keduanya langsung sampai ke tempat yang dituju. Begitu pintu lift terbuka, keduanya mendapati lorong dengan keberadaan banyak orang masuk dan keluar lagi. Ignacia menebak-nebak apakah mereka semua juga akan masuk ke tempat yang dirinya tuju dengan Rajendra.
Rajendra membawa Ignacia ke asal orang-orang tadi berasal. Disana, Maya Ignacia langsung dimanjakan dengan pemandangan nyaman yang hangat. Sebuah restoran bertema rooftop. Baru menginjakkan kaki disana saja sudah seperti rumah meskipun tempatnya tidak besar. Kelihatan cocok untuk makan malam sambil mengobrol.
Ditambah dengan vibes outdoor mirip taman di rumah, rasanya pasti ingin berlama-lama tinggal. Konsepnya hampir sama seperti kafe yang pernah Ignacia datangi bersama kesembilan temannya waktu itu. Ada banyak tanaman yang dipajang di pembatas gedung.
Langit yang semakin meredup membuat lampu-lampu gantung yang diikat melintang membuat pemandangan restoran ini semakin manis. Dengan tangan yang masih di genggam, Ignacia tidak menyadari jika dirinya kini sudah dibawa ke sebuah meja. Dari sini Ignacia bisa mengamati sekitar dengan leluasa.
"Rajendra, tempat ini cantik sekali," senang Ignacia. Manik matanya semakin berbinar karena pantulan lampu restoran. Senyumannya mengembang sempurna, menambah kecantikan wajah yang selalu membuat Rajendra jatuh cinta. Bungkusan kue di tangan Ignacia diambil alih oleh Rajendra. Ia letakkan di atas meja, berganti menarik kursi untuk gadisnya duduk.
Ignacia yang mengetahui maksud Rajendra pun duduk, masih dengan memasang senyuman sempurnanya. Ignacia belum pernah memikirkan momen seperti ini. Mendatangi tempat yang sangat sesuai dengan kepribadiannya. Tenang, damai, nyaman. Komposisi sempurna kesukaan si gadis.
"Ignacia, akan akan menitipkan kue kita pada pegawainya dulu. Kamu tidak keberatan kan?" Ignacia mengangguk, mempersilahkan kekasihnya pergi. Tubuh Rajendra tidak lagi terlihat ketika berbelok ke tempat meja kasir berada. Terhalang sebuah rak penuh tanaman hias yang cantik.
Sambil menunggu, si gadis mengeluarkan ponselnya, memotret pemandangan sekitar untuk dikirimkan pada Athira. Mungkin adiknya bisa melukiskan satu gambar untuk dirinya sebagai kenang-kenangan. Sebelum Rajendra kembali, Ignacia iseng mengarahkan kameranya pada arah hilangnya Rajendra. Menyalakannya dalam mode pengambilan video untuk menangkap jalannya Rajendra ke arahnya.
Dalam tiga menit, Rajendra akhirnya muncul. Berjalan ke arah kekasihnya yang sedang mengambil video dirinya sambil tersenyum iseng. "Kamu sedang apa?" tanya si laki-laki lalu menarik kursi untuk duduk. Arah pandangnya mengikuti gerak Ignacia menyimpan ponselnya ke dalam tas.
Si gadis meletakkan kedua sikunya di atas meja, menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan kepala menatap Rajendra. "Kamu tahu, hari ini kamu banyak datang kepadaku. Jadi aku ingin mengabadikannya," jujurnya. Ignacia terlalu jujur hingga kekasihnya tidak bisa menahan kekehan. Merasa aneh mendengar kejujuran Ignacia.
...*****...
"Mama, coba lihat apa yang kakak kirimkan padaku." Athira bangkit dari duduknya, menunjukkan layar ponselnya pada mamanya yang tengah mengambil air dari galon. Tak lupa ia menggeser foto agar mamanya bisa melihat total lima foto yang dikirimkan Ignacia.
"Wah tempatnya bagus. Cocok untuk kalian yang masih muda. Tanyakan kapan kakakmu pulang." Mama Athira membawa segelas airnya ke meja makan. Duduk dengan nyaman lalu mulai meneguknya hingga habis. Athira ikut duduk di samping mamanya. Mengetikkan pesan seperti yang diperintahkan.
Melihat foto-foto yang Athira tunjukkan tadi membuat sang mama tersenyum kecil. Mamanya lalu ingat sesuatu yang mulai bercerita soal masa lalu. Ketika Ignacia masih duduk di bangku sekolah dasar, ayah pernah ingin membuat rumah kaca berisi banyak tanaman dan meletakkan beberapa kursi taman di dalamnya untuk bersantai.
Namun karena tidak memiliki waktu yang cukup dan tukang yang bagus, pada akhirnya keinginan itu hanya mengambang di kepala sayng ayah. Karenanya sekarang yang ada hanya taman di belakang rumah dekat dapur itu. Semua tanamannya ayah dan mama Ignacia yang mencari sendiri tanpa membawa anak-anak mereka agar lebih fokus.
...*****...
"Rajendra, kamu harus mencobanya." Ignacia menyodorkan sesuap pasta Linguine Carbonara yang ia pesan. Melihat Rajendra yang menerima suapan darinya, Ignacia dua kali lebih senang. Selain rasa makanan yang enak, Rajendra pun bisa merasakannya sekarang.
Rajendra mengangguk-angguk setuju, rasanya benar enak. Selanjutnya Rajendra memilin pasta Classic Aglio Olio miliknya, meminta Ignacia juga mencobanya. Hanya mencoba pasta satu sama lain saja sudah membuat emosi positif Ignacia semakin meningkat. "Rasanya enak," ucapnya.
Sesuatu kemudian tercetus di kepala Ignacia. Ingin tahu bagaimana Rajendra bisa tahu tempat ini dan soal kelas memasak. Tingkahnya hari ini tidak terlihat seperti Rajendra sibuk yang Ignacia kenal. Dikiranya mana tau Rajendra soal kelas memasak. Jika soal tempat romantis begini mungkin Rajendra tahu dari media sosial.
Rajendra menelan suapan pastanya lebih dahulu sebelum menjawab. "Aku mendapatkan informasi dari seseorang. Aku dibantu menemukan ide untuk kencan kita." Ucapan Rajendra yang tidak terdengar terus terang menarik perhatian Ignacia.
"Siapa orang itu? Temanmu?" Rajendra mengangguk tanpa berniat menjawab lagi. Ignacia jadi penasaran siapa orang yang memiliki ide bagus ini. Selanjutnya terjadi keheningan namun masih dengan atmosfer menyenangkan. Ignacia menikmati makanannya begitu pula dengan Rajendra.
Di tengah keheningan makan, Rajendra mengatakan penyesalannya karena tidak bisa datang tepat di hari jadi mereka yang keenam. Maaf juga karena tidak bisa menyiapkan kupon hadiah untuk ulang tahun kekasihnya ini karena ada banyak hal yang harus dia lakukan. Kencan hari ini Rajendra agendakan dengan matang untuk menebus dua hari spesial Ignacia. Agar gadisnya tidak merasa tersisihkan.
Rajendra juga menambahkan bahwa dirinya tidak bermaksud untuk membuat Ignacia kesepian setahun belakangan. Benar-benar tidak ada niat untuk menggeluti dunianya sendiri dan menyerah memberikan waktu selain untuk pesan singkat yang sangat jarang datang. Rajendra sungguh menyesali tindakannya setahun belakangan.
Soal pendidikan, pekerjaan paruh waktu, juga waktu istirahatnya belum bisa ia kendalikan. Rajendra berjanji akan mengirimkan kabar lebih sering jika sempat memegang ponsel. Jika dia mendapatkan waktu istirahat yang cukup untuk menggunakan ponsel lebih sering, Rajendra akan mengirimkan kabar dan menjawab semua pesan Ignacia.
Mendengar penyesalan panjang Rajendra malah membuat Ignacia merasa bersalah. Seharusnya dirinya ada untuk memberikan semua dukungan yang Rajendra butuhkan dan bukannya malah menjadi beban. Tampaknya kesendirian Ignacia kala Rajendra tidak berada di sekitarnya malah memberatkan hati Rajendra.
Di sisi lain, Ignacia senang karena kekasihnya masih memikirkan dirinya yang seorang diri di kota asing. Rasanya menenangkan ketika tahu bukan hanya dirinya yang memikirkan soal Rajendra. Laki-laki tampan di hadapannya ini juga merasakan hal yang sama. Bahkan menyesali sesuatu yang bukan salahnya.
Ignacia menggenggam lembut tangan Rajendra yang ada di atas meja menggunakan kedua tangannya, menatap laki-laki kesayangannya untuk meyakinkan bahwa dirinya sudah tidak apa-apa dengan semua kesibukannya. Ignacia sudah bisa menerima semuanya, Ignacia sudah berubah sekarang.
"Jangan merasa bersalah, semuanya akan baik-baik saja. Jika kita hanya bisa bertemu satu atau dua kali setiap tahunnya, aku tidak keberatan dengan itu. Aku akan menunggu kamu datang, atau aku yang akan mendatangi kamu. Sambil menunggu waktu temu yang tepat, aku akan tetap bersamamu."
Mata Ignacia terasa panas, pandangannya memburam. Segera si gadis mendongakkan kepalanya sedikit, mencoba menghilangkan perasaan aneh yang tiba-tiba datang. Diaturnya nafas agar kembali ke emosi semula. Usaha Ignacia rupanya masih belum cukup keras. Butiran bening jatuh dari sudut matanya bergantian.
"Maafkan aku, Rajendra. Sepertinya aku terlalu senang hingga kehilangan kendali." Genggaman tangan tadi segera diakhiri oleh Ignacia. Diambilnya tisu, membersihkan wajahnya dari air yang tidak ia inginkan itu. "Maafkan aku, sungguh," bisiknya.
Melihat perubahan emosi gadisnya yang begitu cepat, Rajendra hanya bisa terdiam. Hatinya terluka melihat Ignacia yang sekitar tenaga menahan agar air matanya tidak jatuh. Dengan cepatnya air wajah sedih tadi berubah seperti semula. Ignacia menyingkirkan tisu yang ia gunakan lalu kembali mengembangkan senyuman.
Menyadari tatapan Rajendra, Ignacia jadi gugup. "Kenapa menatapku seperti itu? Jangan berpikiran buruk, Rajendra. Aku hanya terlalu senang karena akhirnya kita bisa bertemu dan mengobrol. Aku tadi benar-benar hanya terlalu senang. Aku bukan sedang sedih, aku sungguh-sungguh."
"Aku percaya padamu. Aku selalu percaya padamu, Ignacia," sahut Rajendra cepat. "Kita lanjutkan makan kita lalu aku akan mengantar kamu pulang."
Suasana yang seharusnya hangat berubah agak dingin. Ignacia menyesal karena sudah menunjukkan perubahan emosi yang tidak dibutuhkan. Seharusnya Ignacia bisa menyimpannya untuk di rumah, untuk dirinya sendiri. Rajendra jadi berpikir yang tidak-tidak karena dirinya, batin si gadis.
Sehabis mengambil kembali kue yang di titipkan, keduanya bergandengan tangan menuju lift. Tanpa obrolan turun dan kembali ke tempat sepeda motor Rajendra berada. Genggaman tangan itu dieratkan ketika keduanya sudah hampir sampai di tempat parkir. Berat bagi Rajendra melepaskan gadisnya.
"Rajendra, bagaimana dengan kuenya? Kamu ingin mampir ke rumahku sebentar dan membaginya?"
Rajendra menghentikan langkahnya. Tangannya yang kebetulan kosong mengambil alih kotak kue yang Ignacia bawa. Ia letakkan di atas motornya lalu menatap Ignacia sebentar. Si gadis merasa jika tangannya di genggam makin kuat. Ditambah dengan tatapan yang sulit diartikan itu membuat Ignacia agak takut.
Sedetik kemudian, Rajendra menarik tubuh gadisnya ke dalam rengkuhannya. Ucapannya ketika makan malam tadi pasti menyakiti hati Ignacia. Rajendra ingin meminta maaf, tapi takut membuat gadisnya kembali menangis.
Perlahan Ignacia membalas pelukan Rajendra. Sesuatu di dalam diri laki-laki ini membuatnya merasakan sakit. Seolah perasaan keduanya terhubung, tanpa berbicara pun masing-masing tahu jika lawan mereka tengah tidak baik-baik saja. Ignacia menyalahkan dirinya, begitu pula Rajendra.
Pelukan Rajendra terasa semakin erat di sekitar pinggang Ignacia. Hal menyakitkan apa yang tengah laki-laki ini rasakan? Sebesar apa kesalahan yang Ignacia lakukan? Karenanya tangan Ignacia perlahan mengelus punggung Rajendra selembut mungkin. Menepuknya pelan untuk mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Maaf karena aku masih belum bisa mengatur waktuku, Ignacia. Dan terima kasih karena tidak menyerah padaku," bisik Rajendra dengan suara serak. Suara yang belum pernah Ignacia dengar keluar dari mulut kekasihnya.
Ignacia mencoba untuk melepaskan pelukan Rajendra, menangkup wajah sendu kekasihnya dengan keduantangan. Di tatapnya kedua manik mata si laki-laki yang kehilangan ketegasan. "Mana mungkin aku akan menyerah dengan laki-laki setangguh kamu, Rajendra? Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyerah padamu."
Kedua tangan Ignacia ditepis pelan oleh Rajendra. Laki-laki bertubuh jangkung ini lebih memilih untuk kembali memeluk tubuh Ignacia, bahkan tak segan-segan meletakkan kepalanya di bahu si gadis. Rajendra melihat kesungguhan di mata Ignacia, dirinya amat bersyukur karenanya.
"Aku tidak akan menyerah dengan hubungan ini. Kumohon padamu juga tidak mengarah padaku, Rajendra."