Beautiful Monster

Beautiful Monster
Sebelum Bertemu



Di tengah keheningan, Ignacia seolah beberapa kali melihat layar ponsel Nesya menyala. Meksipun layarnya tengah menghadap ke meja, tetap saja Ignacia dapat merasakan getaran kecilnya. Apalagi tangannya berada di atas meja, terasa sedikit geli saat getaran itu datang.


"Sepertinya kamu mendapatkan banyak sekali pesan," ucap Ignacia memberitahu. Si gadis mengangkat makanannya sedikit agar segera dingin tanpa mencoba untuk menjadi penasaran dengan kegiatan di ponsel temannya.


Nesya menyelesaikan makannya, meraih ponselnya untuk mengecek apa yang datang. "Aku baru saja masuk ke obrolan grup tentang komik yang kubaca. Penulisnya kini menjual barang-barang yang berkaitan dengan komik, jadi aku sedang mencari informasi."


Ignacia menganggukkan kepalanya paham. Kembali pada kegiatan makannya. Getarannya sudah hilang karena Nesya sudah mengubahnya menjadi mode diam. Mungkin sudah ada ribuan pesan ketika Nesya membukanya di kos.


Mata Ignacia menatap ke langit-langit kota, mendapati banyaknya bintang yang bertaburan bagai debu. "Aku lupa bagaimana langit bisa seindah ini. Apa karena sudah lama sekali aku mengurung diri di kamar untuk belajar dan lupa untuk sesekali mendongak ke atas?"


Nesya mengangkat bahu tidak tahu. Dirinya sendiri juga lupa bagaimana. Dirinya juga melakukan apa yang normalnya dilakukan mahasiswi baru seperti Ignacia. Belajar untuk mendapatkan nilai bagus meksipun rasanya menyiksa dan seolah terkurung dalam perangkap yang bernama pendidikan.


"Kelihatannya ada berita bagus hingga auramu terasa hangat seperti Danita," si berkacamata meraih minumannya, diteguk sekali kemudian menoleh pada temannya, "apa Rajendra mungkin akan menemuimu? Karena kalian sudah lama tidak bertemu sejak lulus."


Tebakan yang sangat tepat sasaran. Bagaimana bisa Nesya bahkan menyadari hal yang tidak ingin dikatanya dengan begitu sempurna? Ignacia hampir tersedak.


"Haha aku hanya menebaknya saja. Tapi harus kuakui jika uramu hari ini mirip dengan Danita. Mungkin karena kalian tinggal bersebelahan, jadinya bisa tertular aura," canda Nesya kemudian terkekeh kecil, "aku melihat Danita dengan seorang laki-laki sebelum kemari tadi."


"Aku pernah dengar jika Danita memiliki kekasih, jadi aku yakin laki-laki itu adalah kekasihnya. Aku bisa melihat Danita sangat bahagia, mirip dengan auramu sekarang. Jadi aku menebak apa Rajendra juga akan datang."


Nesya menambah jika dirinya juga ingin mengajak Danita untuk makan bersama, namun kemunculan teman berambut pendek itu mengurungkan niatnya. Kemunculannya juga sangat tepat karena saat itu Nesya akan mengetikkan pesan yang sama pada Danita.


Ignacia terkekeh mendekat penjelasan temannya yang tidak dia mengerti mana benang merahnya. Nesya mungkin menangkap gelombang kebahagiaan dari kepala Ignacia hingga imajinasinya mengubahnya menjadi sebuah cerita.


Jadi Danita sudah kembali bertemu dengan kekasihnya? Apa tetangganya itu sudah kembali ke asrama? Jika diingat-ingat, Ignacia tidak mendengar suara apapun ketika keadaan asramanya benar-benar hening. Danita bukan orang yang betah berdiam diri terlalu lama. Jadinya biasanya ada suara kecil dari sebelah ruangan.


Selesai dengan camilan larut malam, Ignacia dan Nesya masih duduk-duduk di depan minimarket. Sekarang Ignacia yang traktir makanan ringan. Belum 10 menit setelah keduanya makan, tapi sudah mengunyah makanan lain saja.


Keduanya tidak menetap hingga hampir larut malam. Nesya khawatir pada temannya jika harus kembali terlalu malam. Asrama memang tidak memiliki jam malam, tapi berjalan sendirian bukanlah ide yang bagus.


"Sampai jumpa, terima kasih untuk camilan larut malamnya. Berhati-hatilah," salam Ignacia kemudian pergi ke arah yang berbeda. Nesya mengangguk, menunggu temannya pergi lebih dahulu untuk memastikan.


Beruntung bus terakhir masih beroperasi. Sudah hampir larut namun masih ada beberapa orang disana selain Ignacia. Setidaknya bus tidak hanya berjalan untuknya. Orang-orang terlihat kelelahan. Mungkin baru selesai dengan rutinitas yang memuakkan.


...*****...


"Masuklah. Terima kasih untuk hari ini, Tata. Kita bertemu lagi besok. Aku akan menjemputmu, mengerti?" Laki-laki yang baru kembali dari kota seberang sudah beberapa kali memberikan pengertian, tapi Danita rasanya tidak ingin kembali melepaskan. Padahal besok keduanya bisa berkencan sesuai rencana.


Si gadis sejak tadi engga melepaskan genggaman tangannya, berharap waktu masih belum tengah malam agar masih bisa bersama. "Seharusnya keretanya membawamu lebih cepat agar aku bisa berlama-lama denganmu," desah Danita tak nyaman.


"Hei, besok aku akan datang pagi-pagi sekali agar kita bisa bersama lebih lama," bisik si laki-laki tepat di telinga si gadis berambut pendek, mencium singkat pipi kekasihnya untuk meyakinkan, "sekarang masuklah dah istirahat."


Danita tersenyum, refleks memeluk kekasihnya singkat, "terima kasih kamu sudah datang, aku akan masuk. Berhati-hatilah di jalan, sampai jumpa besok pagi." Danita melambaikan tangan sambil berjalan memasuki area asrama. Pipinya terasa panas karena salah tingkah.


"Dia benar-benar tipeku," bisik Danita.


"Eh?" Jauh di depan Danita, ada seseorang yang berjalan menuju tangga. Awalnya si gadis berambut pendek berpikir bahwa ada hantu yang muncul karena dia pulang terlalu malam, tapi jika dilihat dari bentuk badan dan potongan rambutnya, Danita pasti tahu siapa itu.


Buru-buru si gadis berambut pendek itu berlari kecil tanpa suara dengan maksud mengejutkan temannya. Tapi sebelum dia sampai di belakang, seseorang itu sudah menoleh, menemukannya dengan tatapan bingung, "kau pulang sangat terlambat, Danita."


"Ya itu," Danita gugup, "aku menjemput kekasihku dan kami berjalan-jalan sebentar. Kurasa bukan hanya aku yang pulang terlambat. Kau habis darimana?" Keduanya berjalan bersama-sama menaiki tangga, Danita menggandeng lengan Ignacia iseng.


"Nesya menghubungi aku untuk menemaninya makan camilan larut malam," terang Ignacia, "dia juga akan menghubungimu, tapi rupanya kau sedang berkencan."


Danita terkekeh kaku, "Nesya pasti syok karena aku menggandeng laki-laki. Aku memiliki teman di jurusan yang sama dengan Nesya, dan katanya Nesya itu tipe yang tidak menyukai sesuatu yang romantis. Dia tidak terlihat tertarik dengan laki-laki di sekitarnya dan hanya fokus pada kuliahnya."


"Jadi Nesya masih belum berubah dari pertama kukenal. Dia juga begitu ketika kami masih SMA. Dia hanya ingin menjadi yang terbaik di pendidikannya," timpal Ignacia.


Senyuman kecil muncul di wajah Ignacia, teman lamanya ternyata masih sama. Belum ada laki-laki di dunia nyata yang berhasil menarik perhatiannya. Mungkin lebih baik jika Nesya tetap menyukai pria-pria yang ada di komiknya daripada pria di dunia nyata.


Sampai di depan kamar Ignacia, Danita melepaskan gandengannya, mengucapkan perpisahan dan semoga mimpi indah pada tetangganya itu sebelum pergi ke kamarnya. Ignacia mengangguk, dirinya sudah mengantuk hingga tidak bisa membalas ucapan Danita.


Ignacia menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur, meraih ponselnya dari dalam kantong jaket dan meletakkannya susah payah ke atas nakas. Karena Danita baru membahas soal sikap Nesya, Ignacia jadi memikirkannya.


"Aku penasaran, laki-laki seperti apa yang akan dikencani Nesya di masa depan?" tanya Ignacia sambil menutup mata perlahan.


...*****...


Rajendra terbangun, tiba-tiba saja tubuhnya merasakan gejala aneh dan harus segera dituntaskan. Matanya terbuka secara terpaksa, butuh beberapa detik hingga Rajendra bisa terbangun dan mendapati lampu utama kamarnya masih menyala. Dan di samping itu, Bagas baru saja akan meletakkan ponselnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Bagas pada yang baru bangun. Bukankah seharusnya Rajendra yang bertanya demikian? Apa yang dilakukan teman sekamarnya ini hingga baru tidur di tengah malam?


Bagas hanya diam, mengurungkan niat untuk mematikan lampu. Beranggapan jika Rajendra yang akan melakukannya karena dia yang akan paling dekat dengan saklar yang ada di samping pintu daripada dia. Sedikit curang namun tidak apa-apa.


Baru saja Bagas akan memejamkan mata ketika dia mendengar suara dari ponsel. Rupanya seseorang yang ditunggunya membalas sejak tadi baru saja mengirimkan pesan. Tidakkah sudah waktunya untuk tidur? Sudahlah Bagas akan membalasnya besok pagi agar masih bisa melanjutkan percakapan.


Mungkin karena efek menahan kantuk, jadinya Bagas malah tidak bisa tidur hingga teman sekamarnya datang. Rajendra melihat dengan jelas jika Bagas berulang kali memperbaiki posisi tidur agar lebih nyaman dan lebih mudah tidur. Namun usahanya justru terlihat agak aneh.


"Kau berkencan dengan seorang gadis?" tanya Rajendra asal, "kau seperti orang yang sedang jatuh cinta."


Rajendra pernah ada di posisi orang yang jatuh cinta, namun tidak tampak seperti Bagas. Ignacia bukan tipe orang yang akan tidur terlambat. Di sekolah saja dia sering mengantuk meskipun tidur tepat waktu.


"Akan ku ceritakan kapan-kapan," balas Bagas, memunggungi Rajendra agar tidak ditanya.


"Jadi benar," Rajendra membuat kesimpulan. Diraihnya guling yang sempat terjatuh kemudian kembali tidur dengan lampu yang sudah dimatikan.


...*****...


"Saya akan menunggu pekerjaan kalian sebelum tengah malam. Tolong kumpulkan ke nomor yang sudah saya kirim di grup. Terima kasih untuk hari ini, sampai bertemu lagi di kelas berikutnya."


Ignacia mengucapkan terima kasih layaknya teman-teman lain, hanya saja dia mengucapkannya hampir berbisik. Dia tidak ada keinginan untuk mengerjakan apapun malam ini agar bisa bersiap-siap bertemu dengan Rajendra. Besok keduanya akan bertemu padahal.


Begitu Dosen wanita tadi sudah meninggalkan ruangan, Ignacia langsung menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Setelah ini adalah jam makan siang, jadinya dia tidak perlu terburu-buru untuk pergi. Jam makan siang juga waktunya banyak sekali.


"Kau baik-baik saja?" Danita bertanya khawatir karena suara benturan yang didengarnya dari si teman. Juga teman lain di samping Ignacia juga dmsa khawatirnya.


Danita dan orang itu saling pandang hingga Danita bicara padanya jika Ignacia mungkin hanya lelah. Sejak kemarin mereka mendapatkan tugas yang harus segera diselesaikan sebelum tengah malam


Danita masih duduk di tempatnya, memasukkan pensil Ignacia ke dalam tempatnya dan menutup buku tebal milik si teman agar bisa langsung dimasukkan ke dalam tas. Sepertinya emosi temannya tengah campur aduk, antara bahagia dan malas mengerjakan tugas kuliah.


Si gadis berambut pendek meletakkan kepalanya di atas meja, menghadapkannya pada Ignacia. "Aku akan membantumu agar cepat selesai dan bisa bersiap-siap," tawar Danita, "aku mungkin bisa membantu memilihkan pakaian atau sesuatu."


Ucapan Danita membuat Ignacia terduduk. Katanya dia baik-baik saja dan akan melakukan semua yang harus dilakukannya sendiri. Dirinya merasa jika sudah terlalu banyak merepotkan Danita. Mulai dari ajakan double date lusa dan semua jadwalnya.


Danita mengikuti Ignacia keluar kelas. Dibawanya teman berambut panjangnya pergi ke kantin karena dia mendengar suara gemuruh dari perut Ignacia ketika bejalan keluar ruangan tadi. Bahasa tubuh Ignacia mengirimkan kode.


"Besok Rajendra akan datang kan? Bersemangatlah, Ignacia. Setelah ini kalian bisa bertemu lagi," ingat Danita. Ignacia mengangguk saja, menurut ketika tangannya bahkan ditarik lembut hingga sampai di pintu kantin.


Rajendra-nya akan datang besok, sebaiknya Ignacia membuat hari kekasihnya sangat berwarna sebelum harus kembali berpisah. Ignacia harus bisa memberikan apa yang diinginkan bahasa cinta Rajendra tanpa diminta.


Sore harinya, Ignacia langsung mengejar tugas-tugas yang datang hari itu. Kebetulan tegatnya juga sama, sebelum tengah malam. Jadinya ada rasa sedikit terburu-buru agar cepat selesai. Tentu saja dengan teman beberapa Fitbar agar tidak mengantuk.


Di tengah kegugupan, sebuah panggilan tiba-tiba masuk. Saking sibuknya dengan laptop, Ignacia sampai tidak menyadari beberapa pesan yang datang dari Rajendra. Laki-laki itu mengkonfirmasikan beberapa hal yang harus diketahui Ignacia selama dirinya berada di kota si gadis.


Ignacia menggeser tombol hijau di layar tanpa melihat bahwa panggilan yang datang bukanlah panggilan suara seperti biasa. Jadinya Rajendra bisa langsung melihat wajah tegang dan kesal Ignacia melalui kamera depan. Apalagi ponselnya sedang disandarkan pada dinding mengharap si gadis.


"Sepertinya kamu sibuk," ucap Rajendra.


Ignacia langsung menoleh pada ponsel yang di sandarkan di samping laptopnya, matanya hampir membulat karena kurang memperhatikan. Dia mengangguk gugup kemudian melanjutkan mengerjakan tugas. Rasanya memalukan ketika Rajendra harus melihat wajah tidak bahagia Ignacia.


"Apa ada yang bisa kubantu? Mungkin bisa kucarikan referensi atau apapun yang kamu butuhkan," tawar Rajendra.


Ignacia menggeleng, "tidak perlu. Aku sudah mendapatkan semua yang aku butuhkan. Kini aku sedang mengubahnya sesuai dengan kebutuhan tugasku. Ada apa menelfon?"


"Karena kamu tidak kunjung membalas pesanku. Kukira terjadi sesuatu, jadinya aku melakukan panggilan video ini. Apa aku menganggumu? Apa aku harus mematikannya?"


Cepat-cepat Ignacia menggeleng kuat, membuat tanda X besar dengan kedua tangannya, "aku justru senang karena kamu datang. Aku seperti memiliki teman untuk mengerjakan tugas. Jika kamu tidak keberatan, apa kamu bisa menemaniku hingga selesai? Tegatnya tengah malam."


"Kurasa kamu bisa menyelesaikannya sebelum tegat. Kalau begitu aku akan menemanimu sambil melakukan tugasku juga."


Si gadis berambut panjang yang ada di ujung panggilan mengangguk sambil menunjukkan senyuman. Ditemani saja sudah menyenangkan, apalagi jika Rajendra seolah memberikan kode jika akan menemani Ignacia hingga selesai.


Baik Ignacia maupun Rajendra tidak ada yang berbicara. Rajendra hanya perlu melengkapi tugasnya, jadinya dia cepat selesai. Sementara itu Ignacia masih bergelut dengan suara ketikan cepat. Rajendra tidak berani menganggu.


Melihat jam, tiba-tiba sudah waktunya makan siang. Padahal keduanya mulai berbicara sore hari. Melihat langit sudah gelap saja. Sekarang waktunya makan malam.


"Ignacia, apa kamu masih memiliki banyak pekerjaan?" Rajendra mengumpulkan banyak keberanian untuk bertanya.


"Kurasa begitu. Apa kamu memiliki urusan lain, Rajendra? Kalau begitu kita akhiri saja. Tidak apa-apa."


"Bukan begitu. Aku akan tetap menemani kamu hingga selesai. Aku bebas malam ini."