Beautiful Monster

Beautiful Monster
Jadi Dewasa



Flashback On


Athira yang kebetulan bangun pagi mendapati kedua orang tuanya bergotong royong mengeluarkan sebuah meja ke halaman belakang. Niatnya yang ingin mengambil minum urung dsn lebih memilih untuk bertanya apa yang tengah mereka lakukan. Tidak biasanya mereka akan mengeluarkan meja jika hanya untuk berkebun.


"Ayah ingin membuat piknik kecil. Kita semua sudah mengalami hari-hari yang berat, jadi sebaiknya kita bersenang-senang disini," jawab sang ayah masih dengan membawa meja bersama sang istri. Meja itu diletakkan di tengah-tengah tikar yang sudah digelar sebelumnya.


Ayahnya meminta Athira untuk membangunkan kedua adiknya sementara ayahnya akan mengambil balon. Awalnya Athira bingung kenapa harus membeli balon segala. Ketika akan mengambil air dingin di kulkas, barulah ia sadar alasannya. Dia baru ingat jika perayaan ulang tahun kakaknya belum dilakukan. Mungkin itu niat ayahnya.


Mama Ignacia memberitahu Athira jika ayahnya semalam memberitahu istrinya jika ingin membuat piknik. Benar-benar beberapa jam sebelum rencananya direalisasikan. Pagi-pagi ayahnya pergi ke toko yang menjual sosis yang menurutnya enak dan belajar cara membuat saus bakaran.


"Aku penasaran kenapa ayah tiba-tiba membuat rencana seperti itu. Saat kita berencana berlibur ke pantai untuk Kak Ignacia waktu itu saja ayah merencanakannya jauh-jauh hari." Mamanya juga tidak tahu, tidak bisa menjawab rasa penasaran anak keduanya itu.


"Kak Ignacia pasti akan sangat bahagia. Aku ingin merekam momen itu nanti," tekad Athira. Kapan lagi dia akan merekam kakaknya di pesta kejutan? Dia tidak ingin lupa mengabadikan momen seperti terakhir kali saat dia menyerahkan buket buku.


Mamanya terkekeh, "Kamu akan merekam kakakmu yang baru bangun tidur?" Athira ikut tekekeh, mamanya benar juga. Tapi kakaknya biasanya sudah cantik meksipun baru bangun tidur.


Semua keluarga disiapkan, bersembunyi di gudang tempat menyimpan peralatan berkebun setelah selesai menata meja. Entah ide darimana, ayahnya meletakkan sebuah speaker bluetooth di balik pohon, memutar musik klasik. Masing-masing membawa balon yang ayahnya bawa ditambah dengan party pooper untuk dirinya sendiri dan Athira. Mama Ignacia terlalu takut untuk mengoperasikannya.


Mereka menunggu Ignacia bangun hampir satu jam. Kuenya dikeluarkan begitu Athira memberikan kode kakaknya sudah bangun. Ia mengintip dari balik pintu kamar kakaknya yang tidak ditutup sempurna. Secepat kilat dia dan sang mama meletakkan kue lalu kembali ke tempat persembunyian.


Arvin dan Rafka sudah lelah berdiri. Ingin rasanya duduk tapi dilarang ayahnya karena bisa merusak rencana. Dan sampailah saat kode dari Athira datang. Semuanya bersiap untuk beraksi.


Flashback Off


Ignacia merasa gugup karena diantarkan seluruh keluarganya ke stasiun. Ayah dan mamanya rela bangun pagi agar bisa mengantarkan anak pertamanya padahal semalam sudah bekerja hingga pulang sekitar pukul setengah dua pagi. Lalu ketiga adiknya ingin ikut mengantar sebelum berangkat sekolah. Rasanya masih seperti tokoh utama bagi Ignacia.


"Tunggulah keretanya di dalam agar tidak terlambat. Sudah memastikan tidak ada barang yang tertinggal?" Ignacia menggeleng sebagai jawaban untuk ayahnya. Segera dia membuka pintu mobil, keluar dari sana lalu melambangkan tangan sebelum masuk ke stasiun.


Semua orang masih menatap ke arah mana Ignacia pergi bahan setelah menghilang diantara ramainya pengunjung. Rasanya apa yang mereka lakukan sudah terbayarkan setelah melihat senyuman ia yang pergi ke stasiun. Usaha mereka untuk mempertahankan emosi Ignacia agar tidak stress membuahkan hasil. Langkah ringan Ignacia menjawabnya dengan jelas.


"Aku ingin mencoba suasana menonton film bergenre ringan setelah matahari tenggelam. Ayah tahu, ketika langit masih bercahaya meksipun mataharinya sudah kembali ke tempat semula." Athira beralih menatap ayahnya yang ada di balik kemudi. "Mungkin sebagai masukan liburan selanjutnya."


Ide Athira tidak buruk. Kalau begitu ayahnya harus menyiapkan sebuah proyektor yang bisa di arahkan ke dinding polos. Atau pinjam pada tetangga saja jika ada. Selanjutnya memikirkan film apa yang akan ditonton bersama seluruh anggota keluarga. Yang bisa membuat Arvin juga Rafka tidak menganggu.


...*****...


Sesampainya di kota tempat Ignacia harus menuntut ilmu, si gadis berambut panjang itu berhenti sebentar di dekat sebuah tiang stasiun. Dia mendapatkan pesan dari mamanya untuk mengirimkan kabar jika sudah sampai dengan selamat. Setelah sampai di asrama Ignacia juga diminta untuk mengirimkan kabar sesegera mungkin.


Untuk memastikan Ignacia sampai dengan selamat, maksudnya.


Ignacia buru-buru menyimpan ponselnya sebelum berjalan menuju halte terdekat. Ah Ignacia sebaiknya juga membeli camilan untuk di asrama agar tidak keluar lagi. Ignacia mampir ke minimarket yang tidak jauh dari halte. Harap-harap nanti dia tidak ketinggalan bus.


"Oi!" seru seseorang entah pada siapa.


Ignacia tentu tidak menoleh, pasti bukan dia yang sedang di panggil. Langkahnya tetap di arahkan pada minimarket yang sudah hampir dekat. Lalu suara langkah cepat mendekati Ignacia, seseorang menepuk punggungnya dari belakang. Otomatis Ignacia menoleh dan ingin menepis tangan orang itu. Berani-beraninya menyentuh dirinya.


"Kau baru kembali?" Tanya orang itu, "Kau ku panggil tapi tidak denhar tadi."


"Kau tahu namaku, kenapa memanggilku begitu tadi?" Ignacia melangkah meninggalkan orang yang baru dia temui itu. Sebuah kebetulan bisa bertemu dengannya di sekitar sini. Orang yang tadi menyapa Ignacia ikut masuk ke dalam minimarket, mengekor di belakang si gadis. "Apa yang kau lakukan disini? Kau tinggal di dekat sini?"


"Ya, kosku tidak jauh dari sini. Sekedar informasi saja, waktu itu Danita memintaku menjemput kekasihmu karena aku tinggal di dekat sini. Bagaimana perjalananmu?" Bahri mengambil keranjang belanja seperti yang dilakukan Ignacia. Tampak akan membeli banyak barang juga.


"Seperti biasa. Kapak kau kembali kesini?" Ignacia pergi ke rak camilan sementara Bahri ada di rak belakangnya. Keduanya mengobrol dengan fokus yang diberikan untuk mencari barang masing-masing. Hanya sekedar basa-basi untuk menjaga pertemanan yang sudah lama tertutup debu.


Bahri beralih pergi ke tempat minuman dingin berada. "Ignacia, kau tidak ingin minum Thai Tea kemasan? Disini tertulis beli dua gratis satu." Kepala Ignacia terlihat mengangguk. Tapi dia menambah jika dia mau jika Bahri yang membelikannya. Niatnya bercanda, untuk menggoda temannya saja.


"Bahri, aku harus mengejar bus. Sampai jumpa lagi." Ignacia segera membayar di kasir sebelum bus yang dia tunggu datang. Jika tertinggal, Ignacia harus menunggu lama untuk jadwal selanjutnya. Bahri yang akan membayar melihat Ignacia sudah keluar minimarket dengan tas belanja.


Halte tampak penuh, alhasil Ignacia berdiri di samping tempat duduk halte. Bus datang tiga menit setelah Ignacia menunggu sambil mengecek belanjaannya. Dia berniat menunggu semua orang naik lebih dahulu sebelum dia. Karenanya seseorang berhasil menghentikannya dan menyodorkan sesuatu.


"Kau ambil gratisannya saja," ucap Bahri singkat lalu melenggang pergi melewati halte.


Ignacia buru-buru naik karena bus akan segera berangkat. Ia bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih pada temannya itu. Mungkin Ignacia akan mengirimkan pesan sesampainya di asrama nanti. Apa Bahri tidak mengerti leluconnya? Ignacia bersandar pada tiang dekat pintu keluar bus, memasukkan Thai Tea pemberian Bahri ke dalam belanjaannya.


...*****...


Hari sibuk di kampus kembali dimulai. Ignacia beruntung karena dia berkutat dengan tugas-tugas menumpuk, presentasi mandiri serta kelompok, dan banyak tugas memuakkan lainnya. Dia beruntung karena bisa menyelesaikan semuanya dan berhasil dalam setiap mata kuliah. Kesibukannya juga membuatnya tidak menangis meskipun Rajendra tidak ada.


Kurang beruntung apa dia?


Contohnya seperti malam ini. Ignacia tengah melakukan panggilan video bersama Nesya, ditemani Danita yang mengerjakan tugas bersama. Tetangga Ignacia itu datang karena kesepian di asramanya. Butuh teman untuk mengerjakan tugas bersama. Keduanya begitu sibuk hingga tidak bisa bertemu dengan Nesya. Jadilah panggilan ini dilakukan karena sama-sama sepi.


"Aku tidak pernah bisa bernafas lega jika ada tugas sebanyak ini. Bagaimana jika kita pergi makan makanan enak akhir bulan nanti? Sebagai self reward." Ignacia setuju saja dengan ide Nesya. Danita juga setuju, dengan syarat tidak ada tugas apapun yang perlu diselesaikan hari itu.


"Kalian tahu, karena mengerjakan tugas banyak seperti ini, aku jadi ingin berlibur ke tempat yang jauh. Aku ingin cepat-cepat lulus, mendapatkan pekerjaan, lalu berlibur." Dengan mata terpejam Danita menyampaikan imajinasinya. Berlibur memang sesuatu yang dibutuhkan oleh orang yang punya banyak pekerjaan. Mahasiswa juga salah satunya.


Karena Danita, pembahasan selanjutnya jadi membahas soal keinginan setelah semua tanggungan masa depan tercapai. Ignacia ingin membaca buku sepanjang hari tanpa merasa bersalah, mendapatkan tanda tangan untuk buku lain kedengarannya juga bagus. Sementara Nesya dia ingin berjalan-jalan dengan kakaknya ke tempat yang seru.


Malam semakin larut. Kegiatan mengobrol malam harus segera diakhiri karena besok masih ada kelas pagi. Ignacia membereskan meja dan laptopnya sebelum pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritual sebelum tidur. Sambil membawa sikat gigi keluar kamar mandi, Ignacia mengecek apakah Rajendra mengirimkan pesan.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


^^^Aku akan mengerjakan tugas dengan Danita |^^^


^^^Mungkin akan membutuhkan banyak waktu |^^^


^^^Kita mengobrol besok |^^^


^^^Jika kamu punya waktu |^^^


Ignacia belum beruntung. Rajendra mungkin masih dalam perjalanan pulang dari restoran atau sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Kemungkinan lain mungkin saja Rajendra sudah tidur tanpa membuka ponselnya. Laki-laki baiknya sudah berusaha keras selama ini. Dia pantas mendapatkan istirahat.


Baru saja Ignacia berniat untuk meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas. Layar ponselnya mati bersamaan dengan sebuah pesan masuk dari kontak Rajendra. Alhasil Ignacia harus menggeser layar kunci untuk melihat apa yang Rajendra kirimkan.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Aku baru menyelesaikan tugasku


| Sekarang kamu sudah selesai?


| Bagaimana jika besok kita melakukan panggilan?


^^^Iya, kita mengobrol besok |^^^


^^^Kami pasti lelah setelah seharian sibuk |^^^


^^^Aku juga ingin segera beristirahat |^^^


Ignacia tersenyum senang. Setidaknya dia dapat membaca pesan terakhir Rajendra sebelum pergi tidur. Ignacia sudah lebih terkendali. Mungkin hanya karena emosinya tengah stabil dan terasa baik-baik saja. Semoga Ignacia tidak bertindak kekanak-kanakan lagi kedepannya agar Rajendra tidak menyesali apapun.


Perasaan tenang Ignacia membuatnya cepat menyentuh tanggal akhir bulan. Waktunya untuk mengabiskan waktu dengan kedua teman dekatnya. Rencana awalnya hanya ingin mencari makanan enak sebagai makan malam. Namun karena sudah akhir bulan, ketiganya memutuskan untuk berbelanja juga. Mengisi stok yang kosong di tempat tinggal masing-masing.


Makan malam mereka diselingi dengan banyak obrolan. Danita membawakan cerita lucu dari temannya yang berbeda jurusan, Nesya menceritakan soal komik yang baru ia baca, sementara Ignacia berkata bahwa ia ingin membeli beberapa novel untuk dibaca kala senggang.


Satu topik obrolan memakan banyak waktu hingga ketiganya butuh sekitar dua jam untuk makan dan mengobrol. Belum lagi ketika berbelanja mencari barang yang promo lebih dahulu untuk menghemat pengeluaran. Alhasil ketiganya pulang larut malam hingga hampir ketinggalan bus.


Ignacia memainkan ponselnya sambil mempertahankan posisi kepala Danita tetap bersandar di bahunya. Temannya ini kehabisan baterai sosial hingga sangat mengantuk. Kebetulan jalan menuju rumah sedang macet karena truk yang mogok. Karenanya perjalanan pulang akan menjadi sedikit panjang.


Sebuah panggilan muncul memenuhi layar ponsel Ignacia. Panggilan dari seseorang yang belum pernah ia duga. Segera saja Ignacia angkat panggilan itu, mendekatkan layarnya pada telinga sebelah kanan agar tidak menganggu tidur Danita. "Ada apa menelfonku?" Ignacia bertanya tanpa basa-basi.


"Danita bersamamu? Aku tidak bisa menghubungi dia. katanya kalian tadi pergi bersama." Bahri terdengar khawatir. Ignacia berharap bisa mendapatkan perhatian yang sama dari Rajendra ketika dirinya tidak bisa dihubungi. Tapi tetap saja, Bahri jauh berbeda dengan Rajendra.


"Dia bersamaku," Ignacia menjawab singkat. "Berhubung kau menghubungiku, ada yang ingin kukatakan padamu. Untuk saranmu waktu itu, terima kasih sudah mengatakannya padaku. Soal hubungan yang dewasa."


"Sesuatu terjadi? Ada apa lagi dengan hubungan kalian?"


"Aku senang karena sudah tidak tergantung pada Rajendra. Aku tidak sedih ketika dia sibuk dengan dunianya. Kukira setelah hubunganku dewasa, semuanya terasa lebih mudah. Jika Rajendra tidak menghubungiku, aku tidak akan mencarinya dan fokus dengan diriku sendiri. Apa menurutmu berlebihan?"


Ada jeda panjang dari pihak Bahri. "Kurasa begitu. Hei aku punya trik untukmu. Jika Rajendra menghubungimu, berikan respon yang baik, yang hangat dan menyenangkan. Dengan begitu Rajendra akan tertarik terus menghubungimu karena merasa kehadirannya berarti untukmu."


"Bagaimana kau tahu?"


"Itu yang Danita lakukan setiap saat. Aku suka mengirimkan pesan padanya lebih dahulu karena selalu mendapatkan respon yang positif. Bahkan ketika aku sibuk, Danita akan tetap menyambutku dengan baik. Cobalah, itu pasti berhasil."


Saran Bahri terdengar menarik. Jika berhasil, Rajendra bisa saja menghubungi dirinya lebih dahulu lebih sering. Ignacia tersenyum hanya dengan memikirkannya. "Kau yang terbaik. Akan kuminta Danita menghubungimu setelah sampai di asrama. Dia tertidur di pundakku sekarang."


"Terima kasih, Ignacia. Akan kubelikan Thai Tea lagi lain kali."


"Hei kau jahat sekali. Kau mengartikan kebaikanku dengan Thai Tea. Tapi tidak apa-apa. Belikan aku yang banyak." Ignacia terkekeh mendengar reaksi sinis Bahri. Panggilan berakhir sampai disana. Ignacia harus fokus agar tidak melewati halte untuknya dan Danita turun.